Mengapa Kita Mencintai Ulama dan Orang Saleh? Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Cinta karena Allah (02/05/32)

Mengapa hati mencintai ulama, orang saleh, dan para nabi? Imam Al-Ghazali menjelaskan hakikat cinta karena Allah dalam Islam

Pendahuluan

Mengapa seorang muslim merasa hormat kepada para ulama, mencintai orang-orang saleh, dan membela kehormatan para nabi, padahal belum pernah bertemu dengan mereka?

Perasaan ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan hubungan darah, kepentingan dunia, atau manfaat pribadi. Imam Al-Ghazali menerangkan bahwa kecenderungan tersebut merupakan salah satu bukti adanya mahabbah fillah (cinta karena Allah).

Dalam pembahasan ini, beliau menjelaskan bahwa hati seorang mukmin secara fitrah akan condong kepada orang yang taat kepada Allah dan menjauh dari kefasikan. Kekuatan kecenderungan tersebut berbeda-beda sesuai dengan tingkat keimanan dan kecintaan seseorang kepada Allah.

Sumber

Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2

Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali

Tema : Cinta kepada Orang Saleh sebagai Buah Cinta kepada Allah

Teks Arab

وما من محب للآخرة ومحب لله إلا إذا أخبر عن حال رجلين أحدهما عالم عابد والآخرة جاهل فاسق إلا وجد في نفسه ميلا إلى العالم العابد ، ثم يضعف ذلك الميل ويقوى بحسب ضعف إيمانه وقوته ، وبحسب ضعف حبه لله وقوته ، وهذا الميل حاصل وإن كانا غائبين عنه بحيث يعلم إنه لا يصيبه منهما خير ولا شر في الدنيا ولا في الآخرة ، فذلك الميل هو حب في الله ولله من غير حظ فإنه إنما يحبه ؛ لأن الله يحبه ، ولأنه مرضي عند الله تعالى ، ولأنه يحب الله تعالى ، ولأنه مشغول بعبادة الله تعالى إلا أنه إذا ضعف لم يظهر أثر ولا ، يظهر به ثواب ولا أجر فإذا ، قوي حمل على الموالاة والنصرة والذب بالنفس والمال واللسان وتتفاوت ، الناس فيه بحسب تفاوتهم في حب الله عز وجل ولو كان الحب مقصورا على حظ ينال من المحبوب في الحال أو المآل لما تصور حب الموتى من العلماء والعباد ومن الصحابة والتابعين بل من الأنبياء المنقرضين صلوات الله عليهم وسلامه ، وحب جميعهم مكنون في قلب كل مسلم متدين ويتبين ذلك بغضبه عند طعن أعدائهم في واحد منهم ويفرحه عند الثناء عليهم وذكر محاسنهم وكل ذلك حب لله لأنهم خواص عباد الله .

Terjemahan Lengkap

Tidak ada seorang pun yang mencintai akhirat dan mencintai Allah, kecuali apabila diberitakan kepadanya tentang dua orang: yang satu adalah seorang alim lagi tekun beribadah, sedangkan yang lain adalah orang yang bodoh dan fasik, niscaya ia akan merasakan kecenderungan hati kepada orang alim yang ahli ibadah.

Kecenderungan itu dapat melemah atau menguat sesuai dengan kuat atau lemahnya iman serta cinta seseorang kepada Allah.

Kecenderungan tersebut tetap ada meskipun kedua orang itu berada jauh darinya, sehingga ia mengetahui bahwa keduanya tidak akan memberikan manfaat maupun mudarat baginya, baik di dunia maupun di akhirat.

Kecenderungan hati itulah yang disebut cinta karena Allah dan demi Allah, tanpa adanya kepentingan pribadi.

Ia mencintainya karena Allah mencintainya, karena orang tersebut diridhai oleh Allah, karena ia mencintai Allah, dan karena ia sibuk beribadah kepada Allah.

Namun apabila cinta itu lemah, pengaruhnya tidak tampak sehingga tidak menghasilkan pahala yang besar.

Sebaliknya, apabila cinta itu kuat, maka akan mendorong seseorang untuk menjalin loyalitas, memberikan pertolongan, membela dengan jiwa, harta, dan lisannya.

Manusia berbeda-beda dalam hal ini sesuai dengan kadar cinta mereka kepada Allah.

Seandainya cinta hanya muncul karena adanya manfaat yang diperoleh dari orang yang dicintai, baik sekarang maupun nanti, tentu tidak mungkin seseorang mencintai para ulama dan ahli ibadah yang telah wafat, para sahabat, para tabi'in, bahkan para nabi yang telah lama tiada.

Padahal kecintaan kepada mereka tersimpan di dalam hati setiap muslim yang taat.

Hal itu tampak ketika seseorang marah jika ada musuh yang menghina salah seorang dari mereka, dan merasa gembira apabila mendengar pujian serta penyebutan keutamaan mereka.

Semua itu merupakan bentuk cinta karena Allah, sebab mereka adalah hamba-hamba pilihan Allah.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali memberikan salah satu ukuran yang sangat jelas tentang cinta karena Allah.

Apabila seseorang mencintai seorang alim atau hamba yang saleh padahal ia tidak memperoleh manfaat dunia apa pun darinya, maka cinta tersebut menunjukkan adanya hubungan hati yang dibangun di atas keimanan.

Semakin kuat iman seseorang, semakin besar pula kecenderungannya kepada orang-orang yang taat kepada Allah.

Sebaliknya, apabila kecintaan kepada orang saleh mulai memudar dan hati justru lebih tertarik kepada pelaku maksiat, hal itu menjadi bahan muhasabah bagi setiap muslim.

Artikel Pengembangan

1. Hati Mukmin Cenderung kepada Ketaatan

Menurut Imam Al-Ghazali, hati memiliki kecenderungan yang dipengaruhi oleh iman.

Ketika mendengar ada seorang yang tekun beribadah, jujur, dan berilmu, hati seorang mukmin akan merasa hormat kepadanya meskipun belum pernah bertemu.

Sebaliknya, ketika mengetahui ada seseorang yang gemar melakukan kefasikan dan meremehkan agama, hati akan merasa tidak nyaman terhadap perilakunya, tanpa harus membenci pribadi orang tersebut sebagai sesama manusia.

Perbedaan ini lahir dari kecintaan kepada nilai-nilai yang diridhai Allah.

2. Kuat dan Lemahnya Cinta Mengikuti Kuatnya Iman

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa kadar cinta karena Allah tidak sama pada setiap orang.

Semakin dalam seseorang mengenal Allah, semakin besar pula penghormatannya kepada para ulama, ahli ibadah, dan orang-orang berakhlak mulia.

Sebaliknya, apabila iman melemah, kecintaan kepada nilai-nilai agama juga akan berkurang.

Karena itu, memperkuat iman berarti sekaligus memperkuat kecintaan kepada kebaikan.

3. Mengapa Kita Mencintai Para Nabi dan Sahabat?

Mayoritas kaum muslimin tidak pernah bertemu langsung dengan para nabi, para sahabat, maupun ulama besar yang telah wafat.

Namun nama-nama mereka tetap hidup di hati umat.

Ketika mendengar kisah pengorbanan mereka, hati merasa haru.

Ketika kehormatan mereka dihina, hati merasa sedih dan marah.

Semua itu tidak dapat dijelaskan oleh kepentingan dunia, tetapi merupakan buah dari iman kepada Allah.

4. Cinta yang Mendorong Pembelaan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa apabila cinta kepada Allah semakin kuat, ia tidak berhenti pada rasa kagum di dalam hati.

Cinta itu akan melahirkan tindakan nyata, seperti:

  • membela kehormatan agama,
  • membantu para penuntut ilmu,
  • mendukung dakwah,
  • menjaga nama baik orang-orang saleh,
  • serta menggunakan lisan, tenaga, dan harta untuk menolong kebenaran.

Inilah buah cinta yang aktif, bukan sekadar perasaan pasif.

5. Menghormati Orang Saleh Bukan Berarti Mengkultuskan

Islam mengajarkan untuk mencintai orang-orang yang taat kepada Allah karena ketakwaan mereka, bukan karena menganggap mereka memiliki sifat ketuhanan.

Penghormatan kepada ulama, para nabi, dan orang saleh merupakan bentuk penghargaan terhadap ilmu, amal, dan ketakwaan yang mereka miliki.

Semua itu pada akhirnya kembali kepada kecintaan kepada Allah yang telah memuliakan mereka.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali ingin menunjukkan bahwa salah satu tanda hidupnya iman adalah adanya kecenderungan hati kepada orang-orang yang dicintai Allah.

Perasaan ini sering muncul secara alami ketika seseorang mendengar kisah para nabi, sahabat, ulama, dan orang-orang saleh. Hati merasa tenang, hormat, dan terdorong untuk meneladani mereka.

Sebaliknya, seorang mukmin juga perlu berhati-hati agar kecintaannya kepada seseorang tidak berubah menjadi sikap berlebihan yang melampaui batas-batas syariat. Kecintaan kepada makhluk tetap harus berada dalam bingkai tauhid dan ketaatan kepada Allah.

Contoh

Seorang muslim membaca biografi seorang ulama besar yang telah wafat ratusan tahun lalu. Ia tidak pernah bertemu dengan ulama tersebut dan tidak memperoleh keuntungan dunia darinya. Namun ia merasa hormat, mendoakannya, serta berusaha mengikuti akhlak dan ilmunya. Perasaan itu merupakan salah satu bentuk cinta karena Allah.

Contoh lain, ketika mendengar ada orang yang menghina para nabi atau mencela para sahabat, hati seorang mukmin merasa sedih dan tidak rela. Sebaliknya, ketika mendengar kisah perjuangan mereka dalam menegakkan agama, ia merasa bahagia dan semakin termotivasi untuk beramal saleh. Reaksi hati seperti ini menunjukkan adanya kecintaan kepada orang-orang yang dimuliakan Allah.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cinta kepada orang-orang saleh merupakan salah satu buah dari cinta kepada Allah. Kecenderungan hati kepada para ulama, ahli ibadah, sahabat, dan para nabi tidak lahir karena kepentingan dunia, tetapi karena mereka adalah hamba-hamba yang dicintai dan diridhai Allah.

Semakin kuat iman seseorang, semakin besar pula rasa hormat, kasih sayang, dan keinginannya untuk mengikuti jejak mereka dalam ilmu, ibadah, dan akhlak.

Hikmah

  • Hati seorang mukmin secara fitrah mencintai orang-orang yang taat kepada Allah.
  • Kadar cinta kepada orang saleh mengikuti kuat atau lemahnya iman.
  • Mencintai para nabi, sahabat, dan ulama merupakan bagian dari cinta karena Allah.
  • Cinta yang kuat melahirkan pembelaan terhadap agama dan orang-orang yang menegakkannya.
  • Menghormati orang saleh harus tetap berada dalam batas-batas syariat.
  • Meneladani akhlak dan amal orang-orang saleh merupakan salah satu buah cinta kepada Allah.

Penutup

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa cinta kepada Allah tidak hanya tampak dalam banyaknya ibadah pribadi, tetapi juga dalam siapa yang kita hormati dan teladani. Hati yang dipenuhi iman akan condong kepada orang-orang yang menghidupkan ilmu, memperindah akhlak, dan mengabdikan hidupnya untuk Allah. Semoga Allah menjadikan hati kita termasuk hati yang mencintai para nabi, para sahabat, ulama, dan seluruh hamba-Nya yang saleh, sehingga kecintaan tersebut menjadi jalan untuk semakin dekat kepada-Nya serta mengumpulkan kita bersama mereka di akhirat kelak.

Baca Juga :

Buah Cinta kepadaAllah Menurut Imam Al-Ghazali: Mencintai Orang Saleh dan Ridha atas TakdirAllah (02/05/31)

Tiga TingkatanCinta kepada Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Mana yang Paling Mulia? (02/05/30)

Bagaimana Mengukur Kadar Cinta karena Allah? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Tanda dan Buktinya (02/05/33)

Mengapa hati mencintai ulama, orang saleh, dan para nabi? Imam Al-Ghazali menjelaskan hakikat cinta karena Allah dalam Islam

Pendahuluan

Mengapa seorang muslim merasa hormat kepada para ulama, mencintai orang-orang saleh, dan membela kehormatan para nabi, padahal belum pernah bertemu dengan mereka?

Perasaan ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan hubungan darah, kepentingan dunia, atau manfaat pribadi. Imam Al-Ghazali menerangkan bahwa kecenderungan tersebut merupakan salah satu bukti adanya mahabbah fillah (cinta karena Allah).

Dalam pembahasan ini, beliau menjelaskan bahwa hati seorang mukmin secara fitrah akan condong kepada orang yang taat kepada Allah dan menjauh dari kefasikan. Kekuatan kecenderungan tersebut berbeda-beda sesuai dengan tingkat keimanan dan kecintaan seseorang kepada Allah.

Sumber

Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2

Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali

Tema : Cinta kepada Orang Saleh sebagai Buah Cinta kepada Allah

Teks Arab

وما من محب للآخرة ومحب لله إلا إذا أخبر عن حال رجلين أحدهما عالم عابد والآخرة جاهل فاسق إلا وجد في نفسه ميلا إلى العالم العابد ، ثم يضعف ذلك الميل ويقوى بحسب ضعف إيمانه وقوته ، وبحسب ضعف حبه لله وقوته ، وهذا الميل حاصل وإن كانا غائبين عنه بحيث يعلم إنه لا يصيبه منهما خير ولا شر في الدنيا ولا في الآخرة ، فذلك الميل هو حب في الله ولله من غير حظ فإنه إنما يحبه ؛ لأن الله يحبه ، ولأنه مرضي عند الله تعالى ، ولأنه يحب الله تعالى ، ولأنه مشغول بعبادة الله تعالى إلا أنه إذا ضعف لم يظهر أثر ولا ، يظهر به ثواب ولا أجر فإذا ، قوي حمل على الموالاة والنصرة والذب بالنفس والمال واللسان وتتفاوت ، الناس فيه بحسب تفاوتهم في حب الله عز وجل ولو كان الحب مقصورا على حظ ينال من المحبوب في الحال أو المآل لما تصور حب الموتى من العلماء والعباد ومن الصحابة والتابعين بل من الأنبياء المنقرضين صلوات الله عليهم وسلامه ، وحب جميعهم مكنون في قلب كل مسلم متدين ويتبين ذلك بغضبه عند طعن أعدائهم في واحد منهم ويفرحه عند الثناء عليهم وذكر محاسنهم وكل ذلك حب لله لأنهم خواص عباد الله .

Terjemahan Lengkap

Tidak ada seorang pun yang mencintai akhirat dan mencintai Allah, kecuali apabila diberitakan kepadanya tentang dua orang: yang satu adalah seorang alim lagi tekun beribadah, sedangkan yang lain adalah orang yang bodoh dan fasik, niscaya ia akan merasakan kecenderungan hati kepada orang alim yang ahli ibadah.

Kecenderungan itu dapat melemah atau menguat sesuai dengan kuat atau lemahnya iman serta cinta seseorang kepada Allah.

Kecenderungan tersebut tetap ada meskipun kedua orang itu berada jauh darinya, sehingga ia mengetahui bahwa keduanya tidak akan memberikan manfaat maupun mudarat baginya, baik di dunia maupun di akhirat.

Kecenderungan hati itulah yang disebut cinta karena Allah dan demi Allah, tanpa adanya kepentingan pribadi.

Ia mencintainya karena Allah mencintainya, karena orang tersebut diridhai oleh Allah, karena ia mencintai Allah, dan karena ia sibuk beribadah kepada Allah.

Namun apabila cinta itu lemah, pengaruhnya tidak tampak sehingga tidak menghasilkan pahala yang besar.

Sebaliknya, apabila cinta itu kuat, maka akan mendorong seseorang untuk menjalin loyalitas, memberikan pertolongan, membela dengan jiwa, harta, dan lisannya.

Manusia berbeda-beda dalam hal ini sesuai dengan kadar cinta mereka kepada Allah.

Seandainya cinta hanya muncul karena adanya manfaat yang diperoleh dari orang yang dicintai, baik sekarang maupun nanti, tentu tidak mungkin seseorang mencintai para ulama dan ahli ibadah yang telah wafat, para sahabat, para tabi'in, bahkan para nabi yang telah lama tiada.

Padahal kecintaan kepada mereka tersimpan di dalam hati setiap muslim yang taat.

Hal itu tampak ketika seseorang marah jika ada musuh yang menghina salah seorang dari mereka, dan merasa gembira apabila mendengar pujian serta penyebutan keutamaan mereka.

Semua itu merupakan bentuk cinta karena Allah, sebab mereka adalah hamba-hamba pilihan Allah.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali memberikan salah satu ukuran yang sangat jelas tentang cinta karena Allah.

Apabila seseorang mencintai seorang alim atau hamba yang saleh padahal ia tidak memperoleh manfaat dunia apa pun darinya, maka cinta tersebut menunjukkan adanya hubungan hati yang dibangun di atas keimanan.

Semakin kuat iman seseorang, semakin besar pula kecenderungannya kepada orang-orang yang taat kepada Allah.

Sebaliknya, apabila kecintaan kepada orang saleh mulai memudar dan hati justru lebih tertarik kepada pelaku maksiat, hal itu menjadi bahan muhasabah bagi setiap muslim.

Artikel Pengembangan

1. Hati Mukmin Cenderung kepada Ketaatan

Menurut Imam Al-Ghazali, hati memiliki kecenderungan yang dipengaruhi oleh iman.

Ketika mendengar ada seorang yang tekun beribadah, jujur, dan berilmu, hati seorang mukmin akan merasa hormat kepadanya meskipun belum pernah bertemu.

Sebaliknya, ketika mengetahui ada seseorang yang gemar melakukan kefasikan dan meremehkan agama, hati akan merasa tidak nyaman terhadap perilakunya, tanpa harus membenci pribadi orang tersebut sebagai sesama manusia.

Perbedaan ini lahir dari kecintaan kepada nilai-nilai yang diridhai Allah.

2. Kuat dan Lemahnya Cinta Mengikuti Kuatnya Iman

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa kadar cinta karena Allah tidak sama pada setiap orang.

Semakin dalam seseorang mengenal Allah, semakin besar pula penghormatannya kepada para ulama, ahli ibadah, dan orang-orang berakhlak mulia.

Sebaliknya, apabila iman melemah, kecintaan kepada nilai-nilai agama juga akan berkurang.

Karena itu, memperkuat iman berarti sekaligus memperkuat kecintaan kepada kebaikan.

3. Mengapa Kita Mencintai Para Nabi dan Sahabat?

Mayoritas kaum muslimin tidak pernah bertemu langsung dengan para nabi, para sahabat, maupun ulama besar yang telah wafat.

Namun nama-nama mereka tetap hidup di hati umat.

Ketika mendengar kisah pengorbanan mereka, hati merasa haru.

Ketika kehormatan mereka dihina, hati merasa sedih dan marah.

Semua itu tidak dapat dijelaskan oleh kepentingan dunia, tetapi merupakan buah dari iman kepada Allah.

4. Cinta yang Mendorong Pembelaan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa apabila cinta kepada Allah semakin kuat, ia tidak berhenti pada rasa kagum di dalam hati.

Cinta itu akan melahirkan tindakan nyata, seperti:

  • membela kehormatan agama,
  • membantu para penuntut ilmu,
  • mendukung dakwah,
  • menjaga nama baik orang-orang saleh,
  • serta menggunakan lisan, tenaga, dan harta untuk menolong kebenaran.

Inilah buah cinta yang aktif, bukan sekadar perasaan pasif.

5. Menghormati Orang Saleh Bukan Berarti Mengkultuskan

Islam mengajarkan untuk mencintai orang-orang yang taat kepada Allah karena ketakwaan mereka, bukan karena menganggap mereka memiliki sifat ketuhanan.

Penghormatan kepada ulama, para nabi, dan orang saleh merupakan bentuk penghargaan terhadap ilmu, amal, dan ketakwaan yang mereka miliki.

Semua itu pada akhirnya kembali kepada kecintaan kepada Allah yang telah memuliakan mereka.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali ingin menunjukkan bahwa salah satu tanda hidupnya iman adalah adanya kecenderungan hati kepada orang-orang yang dicintai Allah.

Perasaan ini sering muncul secara alami ketika seseorang mendengar kisah para nabi, sahabat, ulama, dan orang-orang saleh. Hati merasa tenang, hormat, dan terdorong untuk meneladani mereka.

Sebaliknya, seorang mukmin juga perlu berhati-hati agar kecintaannya kepada seseorang tidak berubah menjadi sikap berlebihan yang melampaui batas-batas syariat. Kecintaan kepada makhluk tetap harus berada dalam bingkai tauhid dan ketaatan kepada Allah.

Contoh

Seorang muslim membaca biografi seorang ulama besar yang telah wafat ratusan tahun lalu. Ia tidak pernah bertemu dengan ulama tersebut dan tidak memperoleh keuntungan dunia darinya. Namun ia merasa hormat, mendoakannya, serta berusaha mengikuti akhlak dan ilmunya. Perasaan itu merupakan salah satu bentuk cinta karena Allah.

Contoh lain, ketika mendengar ada orang yang menghina para nabi atau mencela para sahabat, hati seorang mukmin merasa sedih dan tidak rela. Sebaliknya, ketika mendengar kisah perjuangan mereka dalam menegakkan agama, ia merasa bahagia dan semakin termotivasi untuk beramal saleh. Reaksi hati seperti ini menunjukkan adanya kecintaan kepada orang-orang yang dimuliakan Allah.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cinta kepada orang-orang saleh merupakan salah satu buah dari cinta kepada Allah. Kecenderungan hati kepada para ulama, ahli ibadah, sahabat, dan para nabi tidak lahir karena kepentingan dunia, tetapi karena mereka adalah hamba-hamba yang dicintai dan diridhai Allah.

Semakin kuat iman seseorang, semakin besar pula rasa hormat, kasih sayang, dan keinginannya untuk mengikuti jejak mereka dalam ilmu, ibadah, dan akhlak.

Hikmah

  • Hati seorang mukmin secara fitrah mencintai orang-orang yang taat kepada Allah.
  • Kadar cinta kepada orang saleh mengikuti kuat atau lemahnya iman.
  • Mencintai para nabi, sahabat, dan ulama merupakan bagian dari cinta karena Allah.
  • Cinta yang kuat melahirkan pembelaan terhadap agama dan orang-orang yang menegakkannya.
  • Menghormati orang saleh harus tetap berada dalam batas-batas syariat.
  • Meneladani akhlak dan amal orang-orang saleh merupakan salah satu buah cinta kepada Allah.

Penutup

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa cinta kepada Allah tidak hanya tampak dalam banyaknya ibadah pribadi, tetapi juga dalam siapa yang kita hormati dan teladani. Hati yang dipenuhi iman akan condong kepada orang-orang yang menghidupkan ilmu, memperindah akhlak, dan mengabdikan hidupnya untuk Allah. Semoga Allah menjadikan hati kita termasuk hati yang mencintai para nabi, para sahabat, ulama, dan seluruh hamba-Nya yang saleh, sehingga kecintaan tersebut menjadi jalan untuk semakin dekat kepada-Nya serta mengumpulkan kita bersama mereka di akhirat kelak.

Baca Juga :

Buah Cinta kepadaAllah Menurut Imam Al-Ghazali: Mencintai Orang Saleh dan Ridha atas TakdirAllah (02/05/31)

Tiga TingkatanCinta kepada Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Mana yang Paling Mulia? (02/05/30)

Bagaimana Mengukur Kadar Cinta karena Allah? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Tanda dan Buktinya (02/05/33)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Imam dalam Islam: Hukum Mengikuti Ijtihad Madzhab, Imamah, Talfiq, dan Hadits Mursal

الْحُكْمُ الإِجْمَالِيُّ : Hukum Secara Global: ٣ - اجْتِهَادَاتُ أَحَدِ أَئِمَّةِ الْمَذَاهِبِ الْفِقْهِيَّةِ الْمُعْتَبَرَةِ (الَّت...