Pendahuluan
Mengapa seorang muslim merasa hormat
kepada para ulama, mencintai orang-orang saleh, dan membela kehormatan para
nabi, padahal belum pernah bertemu dengan mereka?
Perasaan ini tidak dapat dijelaskan
hanya dengan hubungan darah, kepentingan dunia, atau manfaat pribadi. Imam
Al-Ghazali menerangkan bahwa kecenderungan tersebut merupakan salah satu bukti
adanya mahabbah fillah (cinta karena Allah).
Dalam pembahasan ini, beliau
menjelaskan bahwa hati seorang mukmin secara fitrah akan condong kepada orang yang
taat kepada Allah dan menjauh dari kefasikan. Kekuatan kecenderungan tersebut
berbeda-beda sesuai dengan tingkat keimanan dan kecintaan seseorang kepada
Allah.
Sumber
Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Tema : Cinta kepada Orang Saleh sebagai Buah Cinta kepada Allah
Teks Arab
وما
من محب للآخرة ومحب لله إلا إذا أخبر عن حال رجلين أحدهما عالم عابد والآخرة جاهل
فاسق إلا وجد في نفسه ميلا إلى العالم العابد ، ثم يضعف ذلك الميل ويقوى بحسب ضعف
إيمانه وقوته ، وبحسب ضعف حبه لله وقوته ، وهذا الميل حاصل وإن كانا غائبين عنه
بحيث يعلم إنه لا يصيبه منهما خير ولا شر في الدنيا ولا في الآخرة ، فذلك الميل هو
حب في الله ولله من غير حظ فإنه إنما يحبه ؛ لأن الله يحبه ، ولأنه مرضي عند الله
تعالى ، ولأنه يحب الله تعالى ، ولأنه مشغول بعبادة الله تعالى إلا أنه إذا ضعف لم
يظهر أثر ولا ، يظهر به ثواب ولا أجر فإذا ، قوي حمل على الموالاة والنصرة والذب
بالنفس والمال واللسان وتتفاوت ، الناس فيه بحسب تفاوتهم في حب الله عز وجل ولو
كان الحب مقصورا على حظ ينال من المحبوب في الحال أو المآل لما تصور حب الموتى من
العلماء والعباد ومن الصحابة والتابعين بل من الأنبياء المنقرضين صلوات الله عليهم
وسلامه ، وحب جميعهم مكنون في قلب كل مسلم متدين ويتبين ذلك بغضبه عند طعن أعدائهم
في واحد منهم ويفرحه عند الثناء عليهم وذكر محاسنهم وكل ذلك حب لله لأنهم خواص
عباد الله
.
Terjemahan Lengkap
Tidak ada
seorang pun yang mencintai akhirat dan mencintai Allah, kecuali apabila
diberitakan kepadanya tentang dua orang: yang satu adalah seorang alim lagi
tekun beribadah, sedangkan yang lain adalah orang yang bodoh dan fasik, niscaya
ia akan merasakan kecenderungan hati kepada orang alim yang ahli ibadah.
Kecenderungan itu dapat melemah atau
menguat sesuai dengan kuat atau lemahnya iman serta cinta seseorang kepada
Allah.
Kecenderungan tersebut tetap ada
meskipun kedua orang itu berada jauh darinya, sehingga ia mengetahui bahwa
keduanya tidak akan memberikan manfaat maupun mudarat baginya, baik di dunia
maupun di akhirat.
Kecenderungan hati itulah yang
disebut cinta karena Allah dan demi Allah, tanpa adanya kepentingan pribadi.
Ia mencintainya karena Allah
mencintainya, karena orang tersebut diridhai oleh Allah, karena ia mencintai
Allah, dan karena ia sibuk beribadah kepada Allah.
Namun apabila cinta itu lemah,
pengaruhnya tidak tampak sehingga tidak menghasilkan pahala yang besar.
Sebaliknya, apabila cinta itu kuat,
maka akan mendorong seseorang untuk menjalin loyalitas, memberikan pertolongan,
membela dengan jiwa, harta, dan lisannya.
Manusia berbeda-beda dalam hal ini
sesuai dengan kadar cinta mereka kepada Allah.
Seandainya cinta hanya muncul karena
adanya manfaat yang diperoleh dari orang yang dicintai, baik sekarang maupun
nanti, tentu tidak mungkin seseorang mencintai para ulama dan ahli ibadah yang
telah wafat, para sahabat, para tabi'in, bahkan para nabi yang telah lama
tiada.
Padahal kecintaan kepada mereka
tersimpan di dalam hati setiap muslim yang taat.
Hal itu tampak ketika seseorang
marah jika ada musuh yang menghina salah seorang dari mereka, dan merasa
gembira apabila mendengar pujian serta penyebutan keutamaan mereka.
Semua itu merupakan bentuk cinta
karena Allah, sebab mereka adalah hamba-hamba pilihan Allah.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali memberikan salah
satu ukuran yang sangat jelas tentang cinta karena Allah.
Apabila seseorang mencintai seorang
alim atau hamba yang saleh padahal ia tidak memperoleh manfaat dunia apa pun
darinya, maka cinta tersebut menunjukkan adanya hubungan hati yang dibangun di
atas keimanan.
Semakin kuat iman seseorang, semakin
besar pula kecenderungannya kepada orang-orang yang taat kepada Allah.
Sebaliknya, apabila kecintaan kepada
orang saleh mulai memudar dan hati justru lebih tertarik kepada pelaku maksiat,
hal itu menjadi bahan muhasabah bagi setiap muslim.
Artikel Pengembangan
1.
Hati Mukmin Cenderung kepada Ketaatan
Menurut Imam Al-Ghazali, hati
memiliki kecenderungan yang dipengaruhi oleh iman.
Ketika mendengar ada seorang yang
tekun beribadah, jujur, dan berilmu, hati seorang mukmin akan merasa hormat
kepadanya meskipun belum pernah bertemu.
Sebaliknya, ketika mengetahui ada
seseorang yang gemar melakukan kefasikan dan meremehkan agama, hati akan merasa
tidak nyaman terhadap perilakunya, tanpa harus membenci pribadi orang tersebut
sebagai sesama manusia.
Perbedaan ini lahir dari kecintaan
kepada nilai-nilai yang diridhai Allah.
2.
Kuat dan Lemahnya Cinta Mengikuti Kuatnya Iman
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa
kadar cinta karena Allah tidak sama pada setiap orang.
Semakin dalam seseorang mengenal
Allah, semakin besar pula penghormatannya kepada para ulama, ahli ibadah, dan
orang-orang berakhlak mulia.
Sebaliknya, apabila iman melemah,
kecintaan kepada nilai-nilai agama juga akan berkurang.
Karena itu, memperkuat iman berarti
sekaligus memperkuat kecintaan kepada kebaikan.
3.
Mengapa Kita Mencintai Para Nabi dan Sahabat?
Mayoritas kaum muslimin tidak pernah
bertemu langsung dengan para nabi, para sahabat, maupun ulama besar yang telah
wafat.
Namun nama-nama mereka tetap hidup
di hati umat.
Ketika mendengar kisah pengorbanan
mereka, hati merasa haru.
Ketika kehormatan mereka dihina,
hati merasa sedih dan marah.
Semua itu tidak dapat dijelaskan
oleh kepentingan dunia, tetapi merupakan buah dari iman kepada Allah.
4.
Cinta yang Mendorong Pembelaan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
apabila cinta kepada Allah semakin kuat, ia tidak berhenti pada rasa kagum di
dalam hati.
Cinta itu akan melahirkan tindakan
nyata, seperti:
- membela kehormatan agama,
- membantu para penuntut ilmu,
- mendukung dakwah,
- menjaga nama baik orang-orang saleh,
- serta menggunakan lisan, tenaga, dan harta untuk
menolong kebenaran.
Inilah buah cinta yang aktif, bukan
sekadar perasaan pasif.
5.
Menghormati Orang Saleh Bukan Berarti Mengkultuskan
Islam mengajarkan untuk mencintai
orang-orang yang taat kepada Allah karena ketakwaan mereka, bukan karena
menganggap mereka memiliki sifat ketuhanan.
Penghormatan kepada ulama, para
nabi, dan orang saleh merupakan bentuk penghargaan terhadap ilmu, amal, dan
ketakwaan yang mereka miliki.
Semua itu pada akhirnya kembali
kepada kecintaan kepada Allah yang telah memuliakan mereka.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali ingin menunjukkan
bahwa salah satu tanda hidupnya iman adalah adanya kecenderungan hati kepada
orang-orang yang dicintai Allah.
Perasaan ini sering muncul secara
alami ketika seseorang mendengar kisah para nabi, sahabat, ulama, dan
orang-orang saleh. Hati merasa tenang, hormat, dan terdorong untuk meneladani
mereka.
Sebaliknya, seorang mukmin juga
perlu berhati-hati agar kecintaannya kepada seseorang tidak berubah menjadi
sikap berlebihan yang melampaui batas-batas syariat. Kecintaan kepada makhluk
tetap harus berada dalam bingkai tauhid dan ketaatan kepada Allah.
Contoh
Seorang muslim membaca biografi
seorang ulama besar yang telah wafat ratusan tahun lalu. Ia tidak pernah
bertemu dengan ulama tersebut dan tidak memperoleh keuntungan dunia darinya.
Namun ia merasa hormat, mendoakannya, serta berusaha mengikuti akhlak dan
ilmunya. Perasaan itu merupakan salah satu bentuk cinta karena Allah.
Contoh lain, ketika mendengar ada
orang yang menghina para nabi atau mencela para sahabat, hati seorang mukmin
merasa sedih dan tidak rela. Sebaliknya, ketika mendengar kisah perjuangan
mereka dalam menegakkan agama, ia merasa bahagia dan semakin termotivasi untuk
beramal saleh. Reaksi hati seperti ini menunjukkan adanya kecintaan kepada
orang-orang yang dimuliakan Allah.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
cinta kepada orang-orang saleh merupakan salah satu buah dari cinta kepada
Allah. Kecenderungan hati kepada para ulama, ahli ibadah, sahabat, dan para
nabi tidak lahir karena kepentingan dunia, tetapi karena mereka adalah
hamba-hamba yang dicintai dan diridhai Allah.
Semakin kuat iman seseorang, semakin
besar pula rasa hormat, kasih sayang, dan keinginannya untuk mengikuti jejak
mereka dalam ilmu, ibadah, dan akhlak.
Hikmah
- Hati seorang mukmin secara fitrah mencintai orang-orang
yang taat kepada Allah.
- Kadar cinta kepada orang saleh mengikuti kuat atau
lemahnya iman.
- Mencintai para nabi, sahabat, dan ulama merupakan
bagian dari cinta karena Allah.
- Cinta yang kuat melahirkan pembelaan terhadap agama dan
orang-orang yang menegakkannya.
- Menghormati orang saleh harus tetap berada dalam
batas-batas syariat.
- Meneladani akhlak dan amal orang-orang saleh merupakan
salah satu buah cinta kepada Allah.
Penutup
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
cinta kepada Allah tidak hanya tampak dalam banyaknya ibadah pribadi, tetapi
juga dalam siapa yang kita hormati dan teladani. Hati yang dipenuhi iman akan
condong kepada orang-orang yang menghidupkan ilmu, memperindah akhlak, dan
mengabdikan hidupnya untuk Allah. Semoga Allah menjadikan hati kita termasuk
hati yang mencintai para nabi, para sahabat, ulama, dan seluruh hamba-Nya yang
saleh, sehingga kecintaan tersebut menjadi jalan untuk semakin dekat kepada-Nya
serta mengumpulkan kita bersama mereka di akhirat kelak.
Baca Juga :
Tiga TingkatanCinta kepada Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Mana yang Paling Mulia? (02/05/30)
Bagaimana Mengukur
Kadar Cinta karena Allah? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Tanda dan Buktinya (02/05/33)
Pendahuluan
Mengapa seorang muslim merasa hormat
kepada para ulama, mencintai orang-orang saleh, dan membela kehormatan para
nabi, padahal belum pernah bertemu dengan mereka?
Perasaan ini tidak dapat dijelaskan
hanya dengan hubungan darah, kepentingan dunia, atau manfaat pribadi. Imam
Al-Ghazali menerangkan bahwa kecenderungan tersebut merupakan salah satu bukti
adanya mahabbah fillah (cinta karena Allah).
Dalam pembahasan ini, beliau
menjelaskan bahwa hati seorang mukmin secara fitrah akan condong kepada orang yang
taat kepada Allah dan menjauh dari kefasikan. Kekuatan kecenderungan tersebut
berbeda-beda sesuai dengan tingkat keimanan dan kecintaan seseorang kepada
Allah.
Sumber
Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Tema : Cinta kepada Orang Saleh sebagai Buah Cinta kepada Allah
Teks Arab
وما
من محب للآخرة ومحب لله إلا إذا أخبر عن حال رجلين أحدهما عالم عابد والآخرة جاهل
فاسق إلا وجد في نفسه ميلا إلى العالم العابد ، ثم يضعف ذلك الميل ويقوى بحسب ضعف
إيمانه وقوته ، وبحسب ضعف حبه لله وقوته ، وهذا الميل حاصل وإن كانا غائبين عنه
بحيث يعلم إنه لا يصيبه منهما خير ولا شر في الدنيا ولا في الآخرة ، فذلك الميل هو
حب في الله ولله من غير حظ فإنه إنما يحبه ؛ لأن الله يحبه ، ولأنه مرضي عند الله
تعالى ، ولأنه يحب الله تعالى ، ولأنه مشغول بعبادة الله تعالى إلا أنه إذا ضعف لم
يظهر أثر ولا ، يظهر به ثواب ولا أجر فإذا ، قوي حمل على الموالاة والنصرة والذب
بالنفس والمال واللسان وتتفاوت ، الناس فيه بحسب تفاوتهم في حب الله عز وجل ولو
كان الحب مقصورا على حظ ينال من المحبوب في الحال أو المآل لما تصور حب الموتى من
العلماء والعباد ومن الصحابة والتابعين بل من الأنبياء المنقرضين صلوات الله عليهم
وسلامه ، وحب جميعهم مكنون في قلب كل مسلم متدين ويتبين ذلك بغضبه عند طعن أعدائهم
في واحد منهم ويفرحه عند الثناء عليهم وذكر محاسنهم وكل ذلك حب لله لأنهم خواص
عباد الله
.
Terjemahan Lengkap
Tidak ada
seorang pun yang mencintai akhirat dan mencintai Allah, kecuali apabila
diberitakan kepadanya tentang dua orang: yang satu adalah seorang alim lagi
tekun beribadah, sedangkan yang lain adalah orang yang bodoh dan fasik, niscaya
ia akan merasakan kecenderungan hati kepada orang alim yang ahli ibadah.
Kecenderungan itu dapat melemah atau
menguat sesuai dengan kuat atau lemahnya iman serta cinta seseorang kepada
Allah.
Kecenderungan tersebut tetap ada
meskipun kedua orang itu berada jauh darinya, sehingga ia mengetahui bahwa
keduanya tidak akan memberikan manfaat maupun mudarat baginya, baik di dunia
maupun di akhirat.
Kecenderungan hati itulah yang
disebut cinta karena Allah dan demi Allah, tanpa adanya kepentingan pribadi.
Ia mencintainya karena Allah
mencintainya, karena orang tersebut diridhai oleh Allah, karena ia mencintai
Allah, dan karena ia sibuk beribadah kepada Allah.
Namun apabila cinta itu lemah,
pengaruhnya tidak tampak sehingga tidak menghasilkan pahala yang besar.
Sebaliknya, apabila cinta itu kuat,
maka akan mendorong seseorang untuk menjalin loyalitas, memberikan pertolongan,
membela dengan jiwa, harta, dan lisannya.
Manusia berbeda-beda dalam hal ini
sesuai dengan kadar cinta mereka kepada Allah.
Seandainya cinta hanya muncul karena
adanya manfaat yang diperoleh dari orang yang dicintai, baik sekarang maupun
nanti, tentu tidak mungkin seseorang mencintai para ulama dan ahli ibadah yang
telah wafat, para sahabat, para tabi'in, bahkan para nabi yang telah lama
tiada.
Padahal kecintaan kepada mereka
tersimpan di dalam hati setiap muslim yang taat.
Hal itu tampak ketika seseorang
marah jika ada musuh yang menghina salah seorang dari mereka, dan merasa
gembira apabila mendengar pujian serta penyebutan keutamaan mereka.
Semua itu merupakan bentuk cinta
karena Allah, sebab mereka adalah hamba-hamba pilihan Allah.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali memberikan salah
satu ukuran yang sangat jelas tentang cinta karena Allah.
Apabila seseorang mencintai seorang
alim atau hamba yang saleh padahal ia tidak memperoleh manfaat dunia apa pun
darinya, maka cinta tersebut menunjukkan adanya hubungan hati yang dibangun di
atas keimanan.
Semakin kuat iman seseorang, semakin
besar pula kecenderungannya kepada orang-orang yang taat kepada Allah.
Sebaliknya, apabila kecintaan kepada
orang saleh mulai memudar dan hati justru lebih tertarik kepada pelaku maksiat,
hal itu menjadi bahan muhasabah bagi setiap muslim.
Artikel Pengembangan
1.
Hati Mukmin Cenderung kepada Ketaatan
Menurut Imam Al-Ghazali, hati
memiliki kecenderungan yang dipengaruhi oleh iman.
Ketika mendengar ada seorang yang
tekun beribadah, jujur, dan berilmu, hati seorang mukmin akan merasa hormat
kepadanya meskipun belum pernah bertemu.
Sebaliknya, ketika mengetahui ada
seseorang yang gemar melakukan kefasikan dan meremehkan agama, hati akan merasa
tidak nyaman terhadap perilakunya, tanpa harus membenci pribadi orang tersebut
sebagai sesama manusia.
Perbedaan ini lahir dari kecintaan
kepada nilai-nilai yang diridhai Allah.
2.
Kuat dan Lemahnya Cinta Mengikuti Kuatnya Iman
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa
kadar cinta karena Allah tidak sama pada setiap orang.
Semakin dalam seseorang mengenal
Allah, semakin besar pula penghormatannya kepada para ulama, ahli ibadah, dan
orang-orang berakhlak mulia.
Sebaliknya, apabila iman melemah,
kecintaan kepada nilai-nilai agama juga akan berkurang.
Karena itu, memperkuat iman berarti
sekaligus memperkuat kecintaan kepada kebaikan.
3.
Mengapa Kita Mencintai Para Nabi dan Sahabat?
Mayoritas kaum muslimin tidak pernah
bertemu langsung dengan para nabi, para sahabat, maupun ulama besar yang telah
wafat.
Namun nama-nama mereka tetap hidup
di hati umat.
Ketika mendengar kisah pengorbanan
mereka, hati merasa haru.
Ketika kehormatan mereka dihina,
hati merasa sedih dan marah.
Semua itu tidak dapat dijelaskan
oleh kepentingan dunia, tetapi merupakan buah dari iman kepada Allah.
4.
Cinta yang Mendorong Pembelaan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
apabila cinta kepada Allah semakin kuat, ia tidak berhenti pada rasa kagum di
dalam hati.
Cinta itu akan melahirkan tindakan
nyata, seperti:
- membela kehormatan agama,
- membantu para penuntut ilmu,
- mendukung dakwah,
- menjaga nama baik orang-orang saleh,
- serta menggunakan lisan, tenaga, dan harta untuk
menolong kebenaran.
Inilah buah cinta yang aktif, bukan
sekadar perasaan pasif.
5.
Menghormati Orang Saleh Bukan Berarti Mengkultuskan
Islam mengajarkan untuk mencintai
orang-orang yang taat kepada Allah karena ketakwaan mereka, bukan karena
menganggap mereka memiliki sifat ketuhanan.
Penghormatan kepada ulama, para
nabi, dan orang saleh merupakan bentuk penghargaan terhadap ilmu, amal, dan
ketakwaan yang mereka miliki.
Semua itu pada akhirnya kembali
kepada kecintaan kepada Allah yang telah memuliakan mereka.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali ingin menunjukkan
bahwa salah satu tanda hidupnya iman adalah adanya kecenderungan hati kepada
orang-orang yang dicintai Allah.
Perasaan ini sering muncul secara
alami ketika seseorang mendengar kisah para nabi, sahabat, ulama, dan
orang-orang saleh. Hati merasa tenang, hormat, dan terdorong untuk meneladani
mereka.
Sebaliknya, seorang mukmin juga
perlu berhati-hati agar kecintaannya kepada seseorang tidak berubah menjadi
sikap berlebihan yang melampaui batas-batas syariat. Kecintaan kepada makhluk
tetap harus berada dalam bingkai tauhid dan ketaatan kepada Allah.
Contoh
Seorang muslim membaca biografi
seorang ulama besar yang telah wafat ratusan tahun lalu. Ia tidak pernah
bertemu dengan ulama tersebut dan tidak memperoleh keuntungan dunia darinya.
Namun ia merasa hormat, mendoakannya, serta berusaha mengikuti akhlak dan
ilmunya. Perasaan itu merupakan salah satu bentuk cinta karena Allah.
Contoh lain, ketika mendengar ada
orang yang menghina para nabi atau mencela para sahabat, hati seorang mukmin
merasa sedih dan tidak rela. Sebaliknya, ketika mendengar kisah perjuangan
mereka dalam menegakkan agama, ia merasa bahagia dan semakin termotivasi untuk
beramal saleh. Reaksi hati seperti ini menunjukkan adanya kecintaan kepada
orang-orang yang dimuliakan Allah.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
cinta kepada orang-orang saleh merupakan salah satu buah dari cinta kepada
Allah. Kecenderungan hati kepada para ulama, ahli ibadah, sahabat, dan para
nabi tidak lahir karena kepentingan dunia, tetapi karena mereka adalah
hamba-hamba yang dicintai dan diridhai Allah.
Semakin kuat iman seseorang, semakin
besar pula rasa hormat, kasih sayang, dan keinginannya untuk mengikuti jejak
mereka dalam ilmu, ibadah, dan akhlak.
Hikmah
- Hati seorang mukmin secara fitrah mencintai orang-orang
yang taat kepada Allah.
- Kadar cinta kepada orang saleh mengikuti kuat atau
lemahnya iman.
- Mencintai para nabi, sahabat, dan ulama merupakan
bagian dari cinta karena Allah.
- Cinta yang kuat melahirkan pembelaan terhadap agama dan
orang-orang yang menegakkannya.
- Menghormati orang saleh harus tetap berada dalam
batas-batas syariat.
- Meneladani akhlak dan amal orang-orang saleh merupakan
salah satu buah cinta kepada Allah.
Penutup
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
cinta kepada Allah tidak hanya tampak dalam banyaknya ibadah pribadi, tetapi
juga dalam siapa yang kita hormati dan teladani. Hati yang dipenuhi iman akan
condong kepada orang-orang yang menghidupkan ilmu, memperindah akhlak, dan
mengabdikan hidupnya untuk Allah. Semoga Allah menjadikan hati kita termasuk
hati yang mencintai para nabi, para sahabat, ulama, dan seluruh hamba-Nya yang
saleh, sehingga kecintaan tersebut menjadi jalan untuk semakin dekat kepada-Nya
serta mengumpulkan kita bersama mereka di akhirat kelak.
Baca Juga :
Tiga TingkatanCinta kepada Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Mana yang Paling Mulia? (02/05/30)
Bagaimana Mengukur
Kadar Cinta karena Allah? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Tanda dan Buktinya (02/05/33)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar