٦٢ - تَصْنِيفُ الْمُصْطَلَحَاتِ الْفِقْهِيَّةِ
62 – Klasifikasi
Istilah-Istilah Fikih
وَلِزِيَادَةِ إِيضَاحِ الْمَقْصُودِ بِالْمُصْطَلَحَاتِ نُشِيرُ إِلَى
أَنَّهَا تِلْكَ الأَْلْفَاظُ الْعُنْوَانِيَّةُ الَّتِي اسْتَعْمَلَهَا
الْفُقَهَاءُ لِمَعْنًى خَاصٍّ زَائِدٍ عَنْ الْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ
الأَْصْلِيِّ، أَوْ قَصَرُوهَا عَلَى أَحَدِ الْمَعَانِي الْمُرَادَةِ مِنْ
اللَّفْظِ الْمُشْتَرَكِ، أَوِ اعْتَبَرُوهَا لَقَبًا لِلْمَسْأَلَةِ. وَمِنْهَا
جَمِيعُ الْعَنَاوِينِ التَّبْوِيبِيَّةِ الْمُلاَزِمَةِ لِمَوْضُوعٍ كُلِّيٍّ
أَوْ جُزْئِيٍّ لَهُ أَحْكَامٌ شَرْعِيَّةٌ.
Untuk memperjelas maksud dari istilah-istilah fikih, perlu
dijelaskan bahwa yang dimaksud adalah kata-kata yang digunakan sebagai judul
atau istilah khusus oleh para fuqaha untuk menunjukkan suatu makna
tertentu yang melebihi makna bahasa asalnya, atau mereka membatasi
penggunaannya pada salah satu makna yang dimaksud dari suatu lafaz yang
memiliki beberapa makna, atau mereka menjadikannya sebagai nama khusus
bagi suatu persoalan fikih.
Termasuk di dalamnya adalah seluruh judul-judul pembahasan
yang berkaitan dengan suatu tema, baik yang bersifat umum maupun khusus, yang
memiliki hukum-hukum syariat.
وَلَيْسَ مِنْ هَذَا
الْقَبِيل مَا خَلاَ عَنْ أَحَدِ هَذِهِ الصِّفَاتِ فَتَرَدَّدَ عَلَى أَلْسِنَةِ الْفُقَهَاءِ
عَلَى سَبِيل التَّعْبِيرَاتِ الَّتِي تَتَعَاقَبُ لِبَيَانِ الْمَعَانِي، فَإِذَا
حَل أَحَدُهَا مَحَل الآْخَرِ لَمْ يَخْتَل الْقَصْدُ الْعِلْمِيُّ الْخَاصُّ مِنْ
اخْتِيَارِ اللَّفْظِ.
Yang tidak termasuk dalam kategori ini adalah kata-kata yang tidak memiliki
salah satu dari sifat-sifat tersebut, tetapi hanya berulang digunakan oleh para
fuqaha sebagai ungkapan-ungkapan yang silih berganti untuk menjelaskan
suatu makna. Apabila salah satu ungkapan tersebut ditempatkan
menggantikan ungkapan yang lain, maka maksud ilmiah khusus
yang hendak disampaikan melalui pemilihan lafaz tersebut tidak berubah.
وَالْمُصْطَلَحَاتُ لَهَا
تَرْتِيبٌ وَاحِدٌ يَنْتَظِمُهَا مَهْمَا كَانَتْ صِيغَتُهَا وَمِقْدَارُ
بَيَانِهَا، فَوَحْدَةُ التَّرْتِيبِ هِيَ الْمُحَقِّقَةُ لِلسُّهُولَةِ
وَالْيُسْرِ، إِلاَّ أَنَّ ذَلِكَ لَمْ يَمْنَعْ مِنْ تَصْنِيفِ الْمُصْطَلَحَاتِ
فِيمَا بَيْنَهَا - لِنَاحِيَةٍ تَنْظِيمِيَّةٍ - تَبَعًا لِمِقْدَارِ بَيَانِهَا
وَارْتِكَازِ بَعْضِهَا عَلَى بَعْضٍ، فَهِيَ ثَلاَثَةُ أَنْوَاعٍ: مُصْطَلَحَاتٌ
أَصْلِيَّةٌ، وَمُصْطَلَحَاتُ إِحَالَةٍ، وَمُصْطَلَحَاتُ دَلاَلَةٍ، وَإِلَيْكَ
إِيضَاحُهَا:
Istilah-istilah tersebut memiliki satu
sistem penyusunan yang mengaturnya, apa pun bentuk dan tingkat keluasan
penjelasannya. Keseragaman sistem penyusunan inilah yang mewujudkan kemudahan
dan kelancaran dalam penggunaannya.
Namun demikian, hal tersebut tidak
menghalangi adanya pengelompokan istilah-istilah secara internal, dari
sisi pengorganisasian, berdasarkan tingkat keluasan penjelasannya dan
keterkaitan sebagian istilah dengan sebagian lainnya.
Istilah-istilah tersebut terbagi
menjadi tiga jenis, yaitu:
- Istilah pokok (مُصْطَلَحَاتٌ
أَصْلِيَّةٌ)
- Istilah rujukan (مُصْطَلَحَاتُ
إِحَالَةٍ)
- Istilah penunjuk (مُصْطَلَحَاتُ
دَلاَلَةٍ)
Berikut penjelasannya.
أ - الْمُصْطَلَحَاتُ الأَصْلِيَّةُ:
A. Istilah-Istilah Pokok:
٦٣ - وَهِيَ
الَّتِي يُسْتَوْفَى بَيَانُهَا بِالتَّفْصِيل بِمُجَرَّدِ أَنْ تُذْكَرَ
(وَيُسْتَعَانُ لِتَفْصِيل أَحْكَامِهَا بِذِكْرِهَا ضِمْنَ عَنَاوِينَ عَدِيدَةٍ
مُرَتَّبَةٍ مَوْضُوعِيًّا) وَذَلِكَ لِكَوْنِ اللَّفْظِ هُوَ الْمَظِنَّةُ
الْوَحِيدَةُ - أَوِ الْغَالِبَةُ - لاِسْتِخْرَاجِ بَيَانَاتِ الْمَوْضُوعِ
حَيْثُ لاَ يَنْدَرِجُ تَحْتَ غَيْرِهِ كَجُزْءٍ تَابِعٍ لاَ يَحْسُنُ إِفْرَادُهُ
عَنْهُ.
63
– Yaitu istilah-istilah yang penjelasannya dapat diuraikan secara
lengkap dan terperinci hanya dengan menyebutkannya. Untuk merinci hukum-hukumnya,
istilah tersebut juga dibantu dengan mencantumkannya di bawah berbagai judul
yang disusun secara tematis.
Hal itu karena lafaz tersebut merupakan satu-satunya atau sumber
utama untuk memperoleh penjelasan mengenai suatu pembahasan. Sebab, pembahasan
tersebut tidak termasuk di bawah istilah lain sebagai bagian yang bersifat
mengikuti, yang tidak layak dipisahkan darinya.
وَالأَْصْل فِي اعْتِبَارِ
الْمُصْطَلَحِ أَصْلِيًّا أَنْ يَكُونَ جَدِيرًا بِالاِسْتِقْلاَل وَاسْتِجْمَاعِ
بَيَانَاتِهِ فِي مَوْطِنٍ وَاحِدٍ لَيْسَ لَهُ مُنَازِعٌ، وَلاَ عَلاَقَةَ
لِذَلِكَ بِالْكَمِّيَّةِ بَل الْعِبْرَةُ بِأَنْ لاَ يَكُونَ لَهُ مَوْطِنٌ
أَلْيَقُ بِانْدِرَاجِهِ ضِمْنَهُ وَتَفْصِيلِهِ فِيهِ.
Dasar dalam mengategorikan suatu istilah sebagai istilah pokok
adalah bahwa istilah tersebut layak untuk berdiri sendiri dan seluruh
penjelasannya dihimpun dalam satu tempat tertentu yang tidak memiliki tempat
lain yang lebih tepat untuknya.
Hal tersebut tidak berkaitan dengan kuantitas atau banyaknya
pembahasan, melainkan yang menjadi pertimbangan adalah bahwa istilah
tersebut tidak memiliki tempat lain yang lebih sesuai untuk dimasukkan
ke dalamnya dan dijelaskan secara terperinci.
أَمَّا إِيثَارُ لَفْظٍ مِنْ
أَلْفَاظِ الْمَوْضُوعِ الْمُتَعَدِّدَةِ لِتُرْبَطَ بِهِ الْبَيَانَاتُ
الْمُفَصَّلَةُ فَمَرَدُّهُ أَنْ يَكُونَ مَصْدَرًا مُفْرَدًا (كَالْحَجِّ،
وَالْبَيْعِ، وَالشَّرِكَةِ) سَوَاءٌ أَكَانَ لِلدَّلاَلَةِ عَلَى تَصَرُّفٍ أَمْ
وَاقِعَةٍ عِبَادِيَّةٍ أَوْ تَعَامُلِيَّةٍ، وَقَدْ يَكُونُ الْمُصْطَلَحُ مِنْ
أَسْمَاءِ الأَْشْيَاءِ وَالذَّوَاتِ، وَلاَ يُعْدَل عَنْ الْمَصْدَرِ أَوِ
الْمُفْرَدِ إِلَى غَيْرِهِ مِنْ وَصْفٍ أَوْ جَمْعٍ إِلاَّ إِذَا كَانَ ذَلِكَ
هُوَ الْغَالِبَ فِي اسْتِعْمَالاَتِ الْفُقَهَاءِ، أَوْ كَانَ لَهُ دَلاَلَةٌ
خَاصَّةٌ مُرَادَةٌ لاَ تَحْصُل بِالْمَصْدَرِ أَوِ الْمُفْرَدِ (كَالشَّهِيدِ،
وَالأَْيْمَانِ) .
Adapun memilih salah satu lafaz dari beberapa lafaz yang digunakan untuk
suatu pembahasan agar dijadikan tempat untuk menghimpun penjelasan-penjelasan
yang terperinci, maka acuannya adalah bahwa lafaz tersebut berbentuk kata
dasar tunggal (maṣdar), seperti haji (الحج), jual beli (البيع),
dan syirkah (الشركة), baik
digunakan untuk menunjukkan suatu perbuatan hukum maupun suatu peristiwa yang
berkaitan dengan ibadah atau muamalah.
Terkadang istilah tersebut juga berupa nama benda atau sesuatu yang
berwujud. Lafaz yang berbentuk kata dasar atau bentuk tunggal tidak
dialihkan kepada bentuk lain, seperti bentuk sifat atau bentuk jamak, kecuali
apabila bentuk tersebut merupakan bentuk yang lebih umum digunakan oleh
para fuqaha, atau memiliki makna khusus yang memang
dimaksudkan, yang tidak dapat diperoleh melalui bentuk kata dasar atau
bentuk tunggal, seperti asy-syahīd (الشَّهِيد)
dan al-aymān (الأَيْمَان).
وَالاِلْتِزَامُ بِتَفْصِيل
مَا يَتَّصِل بِالْمُصْطَلَحِ الأَْصْلِيِّ لاَ يَمْنَعُ مِنْ إِحَالَةِ
التَّفْصِيل لِبَعْضِ بَيَانَاتِهِ إِلَى مُصْطَلَحٍ أَصْلِيٍّ آخَرَ فِيمَا
يَتَكَرَّرُ اعْتِبَارُهُ فِيهِمَا، كَشُرُوطِ التَّعَاقُدِ مَثَلاً وَأَهْلِيَّةِ
التَّكْلِيفِ. وَكَذَلِكَ إِذَا كَانَ لِعَدَدٍ مِنْ الْمُصْطَلَحَاتِ الأَْصْلِيَّةِ
مُصْطَلَحٌ يَشْمَلُهَا كُلَّهَا كَمُصْطَلَحِ عَقْدٍ، أَوْ مُعَاوَضَةٍ،
وَنَحْوِهَا.
Berpegang pada prinsip untuk merinci segala hal yang berkaitan dengan istilah
pokok tidak menghalangi adanya rujukan kepada istilah pokok lainnya
untuk penjelasan sebagian keterangannya, dalam hal-hal yang pembahasannya
berulang pada kedua istilah tersebut, seperti syarat-syarat akad
dan kecakapan untuk menerima beban hukum (taklif), misalnya.
Demikian pula apabila terdapat suatu istilah yang mencakup sejumlah istilah
pokok sekaligus, seperti istilah akad (عقد),
mu‘āwaḍah (معاوضة), dan yang
semisal dengannya.
وَكِتَابَةُ الْمُصْطَلَحَاتِ
الأَْصْلِيَّةِ يَسْبِقُهَا التَّخْطِيطُ التَّفْصِيلِيُّ لِلْمُصْطَلَحِ
بِالصُّورَةِ الَّتِي يُؤْمَنُ مَعَهَا مِنْ التَّكْرَارِ الْمَحْضِ وَالتَّدَاخُل
إِلاَّ بِالْقَدْرِ الَّذِي لاَ يَحْرِمُ الْمُسْتَفِيدَ مِنْ الإِْلْمَامِ
الضَّرُورِيِّ بِمَا يَتَّصِل بِالْمَوْضُوعِ، كَمَا يُضْمَنُ مَعَهُ عَدَمُ
الإِْخْلاَل بِمَسَائِل الْفِقْهِ الأَْسَاسِيَّةِ الَّتِي تَتْبَعُ ذَلِكَ
الْمُصْطَلَحَ. . وَعَنَاصِرُ هَذِهِ الْمُخَطَّطَاتِ تَتَحَوَّل بَعْدَ
الإِْنْجَازِ إِلَى عَنَاوِينَ تَأْخُذُ مَوْطِنَهَا فِي فِهْرِسِ الْمُجَلَّدِ.
Penulisan istilah-istilah pokok didahului oleh perencanaan
terperinci terhadap setiap istilah, dengan cara yang dapat menghindarkan dari
pengulangan semata-mata dan tumpang tindih, kecuali sebatas yang tidak
menghalangi pembaca untuk memperoleh pemahaman yang diperlukan mengenai hal-hal
yang berkaitan dengan pembahasan tersebut.
Dengan demikian, juga dapat dipastikan bahwa persoalan-persoalan
fikih yang mendasar yang berkaitan dengan istilah tersebut tidak
terabaikan.
Unsur-unsur dari rancangan tersebut, setelah selesai dikerjakan, kemudian
diubah menjadi judul-judul pembahasan yang ditempatkan dalam daftar
isi setiap jilid.
ب - الْمُصْطَلَحَاتُ
الْفَرْعِيَّةُ (الإِْحَالاَتُ) :
B. Istilah-istilah cabang (rujukan
silang):
٦٤ - وَهِيَ
الْمُصْطَلَحَاتُ الَّتِي أُجْمِل بَيَانُهَا فِي صُورَةِ (عُجَالاَتٍ)
تَتَضَمَّنُ: " التَّعْرِيفَ " بِالْمُصْطَلَحِ لُغَةً وَشَرْعًا
وَتَمْيِيزَهُ عَنْ الأَْلْفَاظِ ذَاتِ الصِّلَةِ بِهِ، ثُمَّ بَيَانَ "
الْحُكْمِ الإِْجْمَالِيِّ " لَهُ، وَقَدْ يَتَضَمَّنُ الإِْشَارَةَ إِلَى
الْقَاعِدَةِ الْعَامَّةِ الَّتِي يَتَّبِعُهَا دُونَ التَّوَسُّعِ فِي
الأَْدِلَّةِ أَوِ الْمَرَاجِعِ، وَأَخِيرًا الإِْرْشَادَ إِلَى " مَوَاطِنِ
الْبَحْثِ " التَّفْصِيلِيِّ لَهُ، بِحَسَبِ الْمَعْهُودِ مِنْ الْفُقَهَاءِ
فِي الْمَرَاجِعِ الأَْصْلِيَّةِ (وَهُوَ الْغَالِبُ حِينَ يَكُونُ الْمُصْطَلَحُ
الْوَاجِبُ الإِْحَالَةُ إِلَيْهِ لَمْ تَتِمَّ مَرَاحِل إِنْجَازِهِ، أَوْ لاَ يُجْزَمُ
بِاشْتِمَالِهِ عَلَى الْبَيَانِ الْمَوْعُودِ بِهِ لاِحْتِمَال أَنْ يَقْتَضِيَ
التَّنْسِيقُ خِلاَفَهُ) عَلَى أَنَّ ذَلِكَ الْمَوْطِنَ الْمَعْهُودَ
لِلْفُقَهَاءِ لاَ بُدَّ أَنْ يُؤْخَذَ بِالاِعْتِبَارِ فِي مُصْطَلَحَاتِ
الْمَوْسُوعَةِ. وَيُشَارُ أَيْضًا إِلَى مَوْطِنِ بَحْثِهِ فِي الْمَوْسُوعَةِ
كُلَّمَا أَمْكَنَ ذَلِكَ.
64
– Yaitu istilah-istilah yang penjelasannya diringkas dalam bentuk uraian
singkat, yang mencakup: “definisi” istilah tersebut
secara bahasa dan syariat, serta pembedaan istilah tersebut dari lafaz-lafaz
yang berkaitan dengannya. Kemudian dijelaskan “hukum globalnya”,
yang terkadang disertai dengan isyarat kepada kaidah umum yang menjadi pedoman
dalam masalah tersebut, tanpa memperluas pembahasan mengenai dalil-dalil atau
referensi.
Terakhir, diberikan petunjuk mengenai “tempat pembahasan”
secara terperinci mengenai istilah tersebut, sesuai dengan kebiasaan para
fuqaha dalam referensi-referensi pokok. Hal ini terutama berlaku ketika istilah
yang seharusnya menjadi tempat rujukan belum selesai tahap penyusunannya, atau
belum dapat dipastikan bahwa istilah tersebut akan memuat penjelasan yang telah
direncanakan, karena pengaturan dan penyelarasan materi dapat menyebabkan
adanya perubahan.
Meskipun demikian, tempat pembahasan yang lazim digunakan oleh para
fuqaha tersebut harus tetap diperhatikan dalam penyusunan
istilah-istilah ensiklopedia. Selain itu, tempat pembahasan istilah tersebut
dalam ensiklopedia juga akan ditunjukkan setiap kali memungkinkan.
وَاسْتِخْدَامُ طَرِيقَةِ
(الإِْحَالاَتِ) لَمْ يَكُنْ مِنْهُ بُدٌّ لِتَحْقِيقِ أَمْرَيْنِ:
Penggunaan metode rujukan silang (الإحالات)
tidak dapat dihindari demi mewujudkan dua hal:
(١) تَحَاشِي التَّكْرَارِ لِلْبَيَانَاتِ الْوَاحِدَةِ عَنْ الْمُصْطَلَحِ،
مَرَّةً مُسْتَقِلًّا وَمَرَّةً مُنْدَرِجًا ضِمْنَ أَصْلِهِ مَعَ أَشْبَاهِهِ
وَنَظَائِرِهِ. . فَاخْتِيرَ التَّعْجِيل فِي أَحَدِ الْمَوْطِنَيْنِ بِبَيَانَاتٍ
إِجْمَالِيَّةٍ: إِمَّا أَنْ يُكْتَفَى بِهَا وَإِمَّا أَنْ تُمَهِّدَ
لِلتَّفْصِيل الْوَارِدِ فِي الْمَوْطِنِ الآْخَرِ (الأَْوْلَى بِذَلِكَ) .
(1)
Menghindari pengulangan penjelasan yang sama mengenai suatu istilah, yaitu
sekali dibahas secara mandiri dan sekali lagi dimasukkan dalam pembahasan
pokoknya bersama istilah-istilah yang serupa dan sejenis.
Oleh karena itu, dipilih cara untuk memberikan penjelasan secara ringkas
pada salah satu dari dua tempat tersebut: adakalanya penjelasan ringkas
itu dianggap sudah mencukupi, atau menjadi pengantar bagi penjelasan terperinci
yang terdapat di tempat lainnya—dan tempat yang terakhir inilah yang
lebih utama untuk dijadikan tempat penjelasan terperinci.
(٢) مُرَاعَاةُ حَاجَةِ
غَيْرِ الْمُخْتَصِّ فِي إِسْعَافِهِ بِمَطْلَبِهِ سَوَاءٌ اتَّجَهَ إِلَيْهِ مِنْ
جِهَةِ الأَْصْل أَوِ الْفَرْعِ بَدَلاً مِنْ إِهْدَارِ بَعْضِ الاِحْتِمَالاَتِ
الَّتِي قَدْ تَتَكَافَأُ فَيُعْذَرُ فِي انْصِرَافِ ذِهْنِهِ إِلَى أَحَدِهَا.
(2)
Memperhatikan kebutuhan orang yang bukan ahli, dengan membantunya memperoleh
informasi yang dicarinya, baik ia mencarinya melalui istilah pokok
maupun istilah cabang, daripada mengabaikan sebagian kemungkinan yang
mungkin sama kuatnya, sehingga dapat dimaklumi apabila pikirannya tertuju
kepada salah satunya.
ج - مُصْطَلَحَاتُ
الدَّلاَلَةِ:
C. Istilah-istilah penunjuk (petunjuk
silang):
٦٥ - وَهِيَ
الْمُصْطَلَحَاتُ الَّتِي جِيءَ بِهَا لِمُجَرَّدِ الإِْرْشَادِ إِلَى الْمَوْطِنِ
الَّذِي اخْتِيرَ لِبَحْثِ الْمَوْضُوعِ، فَهِيَ بَدَائِل عَنْ أَحَدِ
الأَْلْفَاظِ الأَْصْلِيَّةِ أَوِ الْمُحَالَةِ، مِنْ قَبِيل الْمُرَادِفَاتِ
(كَالْقِرَاضِ مَعَ الْمُضَارَبَةِ، وَالْكِرَاءِ مَعَ الإِْجَارَةِ) أَوْ
بَقِيَّةِ الْمُشْتَقَّاتِ الَّتِي جُعِل أَحَدُهَا مُرْتَكَزًا لِلْمَوْضُوعِ.
65
– Yaitu istilah-istilah yang dicantumkan semata-mata untuk menunjukkan
tempat pembahasan yang telah dipilih sebagai tempat mengkaji suatu
tema. Istilah-istilah tersebut merupakan alternatif dari salah satu istilah
pokok atau istilah rujukan, seperti sinonim, misalnya القراض bersama
المضاربة (qirāḍ dengan muḍārabah), dan الكراء bersama الإجارة (kirā’ dengan ijārah), atau bentuk-bentuk
turunan lainnya yang salah satunya telah dijadikan sebagai dasar pembahasan.
فَهَذِهِ الْمُصْطَلَحَاتُ
يُقْتَصَرُ فِيهَا عَلَى بَيَانِ مَكَانِ بَحْثِهَا بَيْنَ مُصْطَلَحَاتِ
الْمَوْسُوعَةِ مِثْل (قِرَاضٍ، انْظُرْ: مُضَارَبَةً) دُونَ الْحَاجَةِ إِلَى
أَيِّ بَيَانٍ آخَرَ سَيَكُونُ مِنْ التَّكْرَارِ الْحَرْفِيِّ. وَلاَ مُعَدَّى
عَنْ الاِهْتِمَامِ بِمِثْل هَذِهِ الأَْلْفَاظِ بَعْدَ أَنْ اسْتَعْمَلَهَا
الْفُقَهَاءُ وَتَدَاوَلُوهَا بَيْنَ مُصْطَلَحَاتِهِمُ الثَّابِتَةِ لاَ عَلَى
أَنَّهَا تَعْبِيرٌ مُتَقَلِّبٌ (وَلاَ مُشَاحَّةَ فِي الاِصْطِلاَحِ) .
Istilah-istilah ini cukup dijelaskan dengan menunjukkan tempat
pembahasannya di antara istilah-istilah dalam ensiklopedia, seperti: «قِرَاضٌ، انْظُرْ: مُضَارَبَةً» — “Qirāḍ,
lihat: Muḍārabah”—tanpa perlu memberikan penjelasan lainnya, karena hal itu
hanya akan menjadi pengulangan secara harfiah.
Perhatian terhadap lafaz-lafaz semacam ini tidak dapat diabaikan, karena
para fuqaha telah menggunakannya dan menjadikannya sebagai bagian dari
istilah-istilah mereka yang baku, bukan sekadar ungkapan yang penggunaannya
berubah-ubah. (Dalam istilah, tidak ada alasan untuk mempermasalahkan
perbedaan penggunaan lafaz.)
وَبَعْدُ، فَإِنَّ
مُصْطَلَحَاتِ الدَّلاَلَةِ هَذِهِ، وَمُصْطَلَحَاتِ الإِْحَالَةِ أَيْضًا - لِمَا
هِيَ عَلَيْهِ مِنْ الإِْجْمَال - هُمَا مِنْ نَافِلَةِ الْبَحْثِ فِي هَذِهِ
الْمَوْسُوعَةِ، فَإِنَّ الْمُصْطَلَحَاتِ الأَْصْلِيَّةَ هِيَ قِوَامُهَا، وَهِيَ
الَّتِي يَحْصُل مِنْ تَكَامُلِهَا - بِالضَّرُورَةِ - اسْتِيفَاءُ جَمِيعِ
مَوْضُوعَاتِ الْفِقْهِ (مُفَصَّلَةً مُلْتَزَمًا فِيهَا بِجَمِيعِ عَنَاصِرِ
الْخُطَّةِ) وَهِيَ الْمُسْتَهْدَى إِلَيْهَا بِمُصْطَلَحَاتِ الدَّلاَلَةِ ذَاتِ
الْغَرَضِ التَّكْمِيلِيِّ وَالْمُمَهَّدِ لَهَا بِالْبَيَانَاتِ
الإِْجْمَالِيَّةِ فِي (الإِْحَالاَتِ) الَّتِي يَقْتَصِرُ هَدَفُهَا عَلَى سَدِّ
الْحَاجَةِ الْمُشَارِ إِلَيْهَا.
Selanjutnya, istilah-istilah penunjuk ini, demikian pula istilah-istilah
rujukan, karena sifatnya yang ringkas, merupakan bagian pelengkap
dalam pembahasan ensiklopedia ini. Sebab, istilah-istilah pokok
merupakan fondasi utama ensiklopedia. Melalui keterpaduan istilah-istilah pokok
tersebut, secara pasti akan tercakup seluruh pembahasan fikih secara lengkap
dan terperinci, dengan tetap berpegang pada seluruh unsur yang telah ditetapkan
dalam rencana penyusunannya.
Istilah-istilah pokok inilah yang menjadi tujuan yang diarahkan oleh istilah-istilah
penunjuk, yang berfungsi sebagai pelengkap. Sementara itu,
istilah-istilah pokok tersebut telah didahului oleh penjelasan ringkas dalam istilah-istilah
rujukan (الإحالات), yang
tujuannya terbatas pada memenuhi kebutuhan sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
Baca juga :
Rencana Penulisan EnsiklopediaFikih : Penyusunan Ensiklopedia Berdasarkan Urutan Alfabetis
Metode Pemaparan Berbagai Pendapat Atau Aliran Dalam Fikih:
٦٢ - تَصْنِيفُ الْمُصْطَلَحَاتِ الْفِقْهِيَّةِ
62 – Klasifikasi
Istilah-Istilah Fikih
وَلِزِيَادَةِ إِيضَاحِ الْمَقْصُودِ بِالْمُصْطَلَحَاتِ نُشِيرُ إِلَى
أَنَّهَا تِلْكَ الأَْلْفَاظُ الْعُنْوَانِيَّةُ الَّتِي اسْتَعْمَلَهَا
الْفُقَهَاءُ لِمَعْنًى خَاصٍّ زَائِدٍ عَنْ الْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ
الأَْصْلِيِّ، أَوْ قَصَرُوهَا عَلَى أَحَدِ الْمَعَانِي الْمُرَادَةِ مِنْ
اللَّفْظِ الْمُشْتَرَكِ، أَوِ اعْتَبَرُوهَا لَقَبًا لِلْمَسْأَلَةِ. وَمِنْهَا
جَمِيعُ الْعَنَاوِينِ التَّبْوِيبِيَّةِ الْمُلاَزِمَةِ لِمَوْضُوعٍ كُلِّيٍّ
أَوْ جُزْئِيٍّ لَهُ أَحْكَامٌ شَرْعِيَّةٌ.
Untuk memperjelas maksud dari istilah-istilah fikih, perlu
dijelaskan bahwa yang dimaksud adalah kata-kata yang digunakan sebagai judul
atau istilah khusus oleh para fuqaha untuk menunjukkan suatu makna
tertentu yang melebihi makna bahasa asalnya, atau mereka membatasi
penggunaannya pada salah satu makna yang dimaksud dari suatu lafaz yang
memiliki beberapa makna, atau mereka menjadikannya sebagai nama khusus
bagi suatu persoalan fikih.
Termasuk di dalamnya adalah seluruh judul-judul pembahasan
yang berkaitan dengan suatu tema, baik yang bersifat umum maupun khusus, yang
memiliki hukum-hukum syariat.
وَلَيْسَ مِنْ هَذَا
الْقَبِيل مَا خَلاَ عَنْ أَحَدِ هَذِهِ الصِّفَاتِ فَتَرَدَّدَ عَلَى أَلْسِنَةِ الْفُقَهَاءِ
عَلَى سَبِيل التَّعْبِيرَاتِ الَّتِي تَتَعَاقَبُ لِبَيَانِ الْمَعَانِي، فَإِذَا
حَل أَحَدُهَا مَحَل الآْخَرِ لَمْ يَخْتَل الْقَصْدُ الْعِلْمِيُّ الْخَاصُّ مِنْ
اخْتِيَارِ اللَّفْظِ.
Yang tidak termasuk dalam kategori ini adalah kata-kata yang tidak memiliki
salah satu dari sifat-sifat tersebut, tetapi hanya berulang digunakan oleh para
fuqaha sebagai ungkapan-ungkapan yang silih berganti untuk menjelaskan
suatu makna. Apabila salah satu ungkapan tersebut ditempatkan
menggantikan ungkapan yang lain, maka maksud ilmiah khusus
yang hendak disampaikan melalui pemilihan lafaz tersebut tidak berubah.
وَالْمُصْطَلَحَاتُ لَهَا
تَرْتِيبٌ وَاحِدٌ يَنْتَظِمُهَا مَهْمَا كَانَتْ صِيغَتُهَا وَمِقْدَارُ
بَيَانِهَا، فَوَحْدَةُ التَّرْتِيبِ هِيَ الْمُحَقِّقَةُ لِلسُّهُولَةِ
وَالْيُسْرِ، إِلاَّ أَنَّ ذَلِكَ لَمْ يَمْنَعْ مِنْ تَصْنِيفِ الْمُصْطَلَحَاتِ
فِيمَا بَيْنَهَا - لِنَاحِيَةٍ تَنْظِيمِيَّةٍ - تَبَعًا لِمِقْدَارِ بَيَانِهَا
وَارْتِكَازِ بَعْضِهَا عَلَى بَعْضٍ، فَهِيَ ثَلاَثَةُ أَنْوَاعٍ: مُصْطَلَحَاتٌ
أَصْلِيَّةٌ، وَمُصْطَلَحَاتُ إِحَالَةٍ، وَمُصْطَلَحَاتُ دَلاَلَةٍ، وَإِلَيْكَ
إِيضَاحُهَا:
Istilah-istilah tersebut memiliki satu
sistem penyusunan yang mengaturnya, apa pun bentuk dan tingkat keluasan
penjelasannya. Keseragaman sistem penyusunan inilah yang mewujudkan kemudahan
dan kelancaran dalam penggunaannya.
Namun demikian, hal tersebut tidak
menghalangi adanya pengelompokan istilah-istilah secara internal, dari
sisi pengorganisasian, berdasarkan tingkat keluasan penjelasannya dan
keterkaitan sebagian istilah dengan sebagian lainnya.
Istilah-istilah tersebut terbagi
menjadi tiga jenis, yaitu:
- Istilah pokok (مُصْطَلَحَاتٌ
أَصْلِيَّةٌ)
- Istilah rujukan (مُصْطَلَحَاتُ
إِحَالَةٍ)
- Istilah penunjuk (مُصْطَلَحَاتُ
دَلاَلَةٍ)
Berikut penjelasannya.
أ - الْمُصْطَلَحَاتُ الأَصْلِيَّةُ:
A. Istilah-Istilah Pokok:
٦٣ - وَهِيَ
الَّتِي يُسْتَوْفَى بَيَانُهَا بِالتَّفْصِيل بِمُجَرَّدِ أَنْ تُذْكَرَ
(وَيُسْتَعَانُ لِتَفْصِيل أَحْكَامِهَا بِذِكْرِهَا ضِمْنَ عَنَاوِينَ عَدِيدَةٍ
مُرَتَّبَةٍ مَوْضُوعِيًّا) وَذَلِكَ لِكَوْنِ اللَّفْظِ هُوَ الْمَظِنَّةُ
الْوَحِيدَةُ - أَوِ الْغَالِبَةُ - لاِسْتِخْرَاجِ بَيَانَاتِ الْمَوْضُوعِ
حَيْثُ لاَ يَنْدَرِجُ تَحْتَ غَيْرِهِ كَجُزْءٍ تَابِعٍ لاَ يَحْسُنُ إِفْرَادُهُ
عَنْهُ.
63
– Yaitu istilah-istilah yang penjelasannya dapat diuraikan secara
lengkap dan terperinci hanya dengan menyebutkannya. Untuk merinci hukum-hukumnya,
istilah tersebut juga dibantu dengan mencantumkannya di bawah berbagai judul
yang disusun secara tematis.
Hal itu karena lafaz tersebut merupakan satu-satunya atau sumber
utama untuk memperoleh penjelasan mengenai suatu pembahasan. Sebab, pembahasan
tersebut tidak termasuk di bawah istilah lain sebagai bagian yang bersifat
mengikuti, yang tidak layak dipisahkan darinya.
وَالأَْصْل فِي اعْتِبَارِ
الْمُصْطَلَحِ أَصْلِيًّا أَنْ يَكُونَ جَدِيرًا بِالاِسْتِقْلاَل وَاسْتِجْمَاعِ
بَيَانَاتِهِ فِي مَوْطِنٍ وَاحِدٍ لَيْسَ لَهُ مُنَازِعٌ، وَلاَ عَلاَقَةَ
لِذَلِكَ بِالْكَمِّيَّةِ بَل الْعِبْرَةُ بِأَنْ لاَ يَكُونَ لَهُ مَوْطِنٌ
أَلْيَقُ بِانْدِرَاجِهِ ضِمْنَهُ وَتَفْصِيلِهِ فِيهِ.
Dasar dalam mengategorikan suatu istilah sebagai istilah pokok
adalah bahwa istilah tersebut layak untuk berdiri sendiri dan seluruh
penjelasannya dihimpun dalam satu tempat tertentu yang tidak memiliki tempat
lain yang lebih tepat untuknya.
Hal tersebut tidak berkaitan dengan kuantitas atau banyaknya
pembahasan, melainkan yang menjadi pertimbangan adalah bahwa istilah
tersebut tidak memiliki tempat lain yang lebih sesuai untuk dimasukkan
ke dalamnya dan dijelaskan secara terperinci.
أَمَّا إِيثَارُ لَفْظٍ مِنْ
أَلْفَاظِ الْمَوْضُوعِ الْمُتَعَدِّدَةِ لِتُرْبَطَ بِهِ الْبَيَانَاتُ
الْمُفَصَّلَةُ فَمَرَدُّهُ أَنْ يَكُونَ مَصْدَرًا مُفْرَدًا (كَالْحَجِّ،
وَالْبَيْعِ، وَالشَّرِكَةِ) سَوَاءٌ أَكَانَ لِلدَّلاَلَةِ عَلَى تَصَرُّفٍ أَمْ
وَاقِعَةٍ عِبَادِيَّةٍ أَوْ تَعَامُلِيَّةٍ، وَقَدْ يَكُونُ الْمُصْطَلَحُ مِنْ
أَسْمَاءِ الأَْشْيَاءِ وَالذَّوَاتِ، وَلاَ يُعْدَل عَنْ الْمَصْدَرِ أَوِ
الْمُفْرَدِ إِلَى غَيْرِهِ مِنْ وَصْفٍ أَوْ جَمْعٍ إِلاَّ إِذَا كَانَ ذَلِكَ
هُوَ الْغَالِبَ فِي اسْتِعْمَالاَتِ الْفُقَهَاءِ، أَوْ كَانَ لَهُ دَلاَلَةٌ
خَاصَّةٌ مُرَادَةٌ لاَ تَحْصُل بِالْمَصْدَرِ أَوِ الْمُفْرَدِ (كَالشَّهِيدِ،
وَالأَْيْمَانِ) .
Adapun memilih salah satu lafaz dari beberapa lafaz yang digunakan untuk
suatu pembahasan agar dijadikan tempat untuk menghimpun penjelasan-penjelasan
yang terperinci, maka acuannya adalah bahwa lafaz tersebut berbentuk kata
dasar tunggal (maṣdar), seperti haji (الحج), jual beli (البيع),
dan syirkah (الشركة), baik
digunakan untuk menunjukkan suatu perbuatan hukum maupun suatu peristiwa yang
berkaitan dengan ibadah atau muamalah.
Terkadang istilah tersebut juga berupa nama benda atau sesuatu yang
berwujud. Lafaz yang berbentuk kata dasar atau bentuk tunggal tidak
dialihkan kepada bentuk lain, seperti bentuk sifat atau bentuk jamak, kecuali
apabila bentuk tersebut merupakan bentuk yang lebih umum digunakan oleh
para fuqaha, atau memiliki makna khusus yang memang
dimaksudkan, yang tidak dapat diperoleh melalui bentuk kata dasar atau
bentuk tunggal, seperti asy-syahīd (الشَّهِيد)
dan al-aymān (الأَيْمَان).
وَالاِلْتِزَامُ بِتَفْصِيل
مَا يَتَّصِل بِالْمُصْطَلَحِ الأَْصْلِيِّ لاَ يَمْنَعُ مِنْ إِحَالَةِ
التَّفْصِيل لِبَعْضِ بَيَانَاتِهِ إِلَى مُصْطَلَحٍ أَصْلِيٍّ آخَرَ فِيمَا
يَتَكَرَّرُ اعْتِبَارُهُ فِيهِمَا، كَشُرُوطِ التَّعَاقُدِ مَثَلاً وَأَهْلِيَّةِ
التَّكْلِيفِ. وَكَذَلِكَ إِذَا كَانَ لِعَدَدٍ مِنْ الْمُصْطَلَحَاتِ الأَْصْلِيَّةِ
مُصْطَلَحٌ يَشْمَلُهَا كُلَّهَا كَمُصْطَلَحِ عَقْدٍ، أَوْ مُعَاوَضَةٍ،
وَنَحْوِهَا.
Berpegang pada prinsip untuk merinci segala hal yang berkaitan dengan istilah
pokok tidak menghalangi adanya rujukan kepada istilah pokok lainnya
untuk penjelasan sebagian keterangannya, dalam hal-hal yang pembahasannya
berulang pada kedua istilah tersebut, seperti syarat-syarat akad
dan kecakapan untuk menerima beban hukum (taklif), misalnya.
Demikian pula apabila terdapat suatu istilah yang mencakup sejumlah istilah
pokok sekaligus, seperti istilah akad (عقد),
mu‘āwaḍah (معاوضة), dan yang
semisal dengannya.
وَكِتَابَةُ الْمُصْطَلَحَاتِ
الأَْصْلِيَّةِ يَسْبِقُهَا التَّخْطِيطُ التَّفْصِيلِيُّ لِلْمُصْطَلَحِ
بِالصُّورَةِ الَّتِي يُؤْمَنُ مَعَهَا مِنْ التَّكْرَارِ الْمَحْضِ وَالتَّدَاخُل
إِلاَّ بِالْقَدْرِ الَّذِي لاَ يَحْرِمُ الْمُسْتَفِيدَ مِنْ الإِْلْمَامِ
الضَّرُورِيِّ بِمَا يَتَّصِل بِالْمَوْضُوعِ، كَمَا يُضْمَنُ مَعَهُ عَدَمُ
الإِْخْلاَل بِمَسَائِل الْفِقْهِ الأَْسَاسِيَّةِ الَّتِي تَتْبَعُ ذَلِكَ
الْمُصْطَلَحَ. . وَعَنَاصِرُ هَذِهِ الْمُخَطَّطَاتِ تَتَحَوَّل بَعْدَ
الإِْنْجَازِ إِلَى عَنَاوِينَ تَأْخُذُ مَوْطِنَهَا فِي فِهْرِسِ الْمُجَلَّدِ.
Penulisan istilah-istilah pokok didahului oleh perencanaan
terperinci terhadap setiap istilah, dengan cara yang dapat menghindarkan dari
pengulangan semata-mata dan tumpang tindih, kecuali sebatas yang tidak
menghalangi pembaca untuk memperoleh pemahaman yang diperlukan mengenai hal-hal
yang berkaitan dengan pembahasan tersebut.
Dengan demikian, juga dapat dipastikan bahwa persoalan-persoalan
fikih yang mendasar yang berkaitan dengan istilah tersebut tidak
terabaikan.
Unsur-unsur dari rancangan tersebut, setelah selesai dikerjakan, kemudian
diubah menjadi judul-judul pembahasan yang ditempatkan dalam daftar
isi setiap jilid.
ب - الْمُصْطَلَحَاتُ
الْفَرْعِيَّةُ (الإِْحَالاَتُ) :
B. Istilah-istilah cabang (rujukan
silang):
٦٤ - وَهِيَ
الْمُصْطَلَحَاتُ الَّتِي أُجْمِل بَيَانُهَا فِي صُورَةِ (عُجَالاَتٍ)
تَتَضَمَّنُ: " التَّعْرِيفَ " بِالْمُصْطَلَحِ لُغَةً وَشَرْعًا
وَتَمْيِيزَهُ عَنْ الأَْلْفَاظِ ذَاتِ الصِّلَةِ بِهِ، ثُمَّ بَيَانَ "
الْحُكْمِ الإِْجْمَالِيِّ " لَهُ، وَقَدْ يَتَضَمَّنُ الإِْشَارَةَ إِلَى
الْقَاعِدَةِ الْعَامَّةِ الَّتِي يَتَّبِعُهَا دُونَ التَّوَسُّعِ فِي
الأَْدِلَّةِ أَوِ الْمَرَاجِعِ، وَأَخِيرًا الإِْرْشَادَ إِلَى " مَوَاطِنِ
الْبَحْثِ " التَّفْصِيلِيِّ لَهُ، بِحَسَبِ الْمَعْهُودِ مِنْ الْفُقَهَاءِ
فِي الْمَرَاجِعِ الأَْصْلِيَّةِ (وَهُوَ الْغَالِبُ حِينَ يَكُونُ الْمُصْطَلَحُ
الْوَاجِبُ الإِْحَالَةُ إِلَيْهِ لَمْ تَتِمَّ مَرَاحِل إِنْجَازِهِ، أَوْ لاَ يُجْزَمُ
بِاشْتِمَالِهِ عَلَى الْبَيَانِ الْمَوْعُودِ بِهِ لاِحْتِمَال أَنْ يَقْتَضِيَ
التَّنْسِيقُ خِلاَفَهُ) عَلَى أَنَّ ذَلِكَ الْمَوْطِنَ الْمَعْهُودَ
لِلْفُقَهَاءِ لاَ بُدَّ أَنْ يُؤْخَذَ بِالاِعْتِبَارِ فِي مُصْطَلَحَاتِ
الْمَوْسُوعَةِ. وَيُشَارُ أَيْضًا إِلَى مَوْطِنِ بَحْثِهِ فِي الْمَوْسُوعَةِ
كُلَّمَا أَمْكَنَ ذَلِكَ.
64
– Yaitu istilah-istilah yang penjelasannya diringkas dalam bentuk uraian
singkat, yang mencakup: “definisi” istilah tersebut
secara bahasa dan syariat, serta pembedaan istilah tersebut dari lafaz-lafaz
yang berkaitan dengannya. Kemudian dijelaskan “hukum globalnya”,
yang terkadang disertai dengan isyarat kepada kaidah umum yang menjadi pedoman
dalam masalah tersebut, tanpa memperluas pembahasan mengenai dalil-dalil atau
referensi.
Terakhir, diberikan petunjuk mengenai “tempat pembahasan”
secara terperinci mengenai istilah tersebut, sesuai dengan kebiasaan para
fuqaha dalam referensi-referensi pokok. Hal ini terutama berlaku ketika istilah
yang seharusnya menjadi tempat rujukan belum selesai tahap penyusunannya, atau
belum dapat dipastikan bahwa istilah tersebut akan memuat penjelasan yang telah
direncanakan, karena pengaturan dan penyelarasan materi dapat menyebabkan
adanya perubahan.
Meskipun demikian, tempat pembahasan yang lazim digunakan oleh para
fuqaha tersebut harus tetap diperhatikan dalam penyusunan
istilah-istilah ensiklopedia. Selain itu, tempat pembahasan istilah tersebut
dalam ensiklopedia juga akan ditunjukkan setiap kali memungkinkan.
وَاسْتِخْدَامُ طَرِيقَةِ
(الإِْحَالاَتِ) لَمْ يَكُنْ مِنْهُ بُدٌّ لِتَحْقِيقِ أَمْرَيْنِ:
Penggunaan metode rujukan silang (الإحالات)
tidak dapat dihindari demi mewujudkan dua hal:
(١) تَحَاشِي التَّكْرَارِ لِلْبَيَانَاتِ الْوَاحِدَةِ عَنْ الْمُصْطَلَحِ،
مَرَّةً مُسْتَقِلًّا وَمَرَّةً مُنْدَرِجًا ضِمْنَ أَصْلِهِ مَعَ أَشْبَاهِهِ
وَنَظَائِرِهِ. . فَاخْتِيرَ التَّعْجِيل فِي أَحَدِ الْمَوْطِنَيْنِ بِبَيَانَاتٍ
إِجْمَالِيَّةٍ: إِمَّا أَنْ يُكْتَفَى بِهَا وَإِمَّا أَنْ تُمَهِّدَ
لِلتَّفْصِيل الْوَارِدِ فِي الْمَوْطِنِ الآْخَرِ (الأَْوْلَى بِذَلِكَ) .
(1)
Menghindari pengulangan penjelasan yang sama mengenai suatu istilah, yaitu
sekali dibahas secara mandiri dan sekali lagi dimasukkan dalam pembahasan
pokoknya bersama istilah-istilah yang serupa dan sejenis.
Oleh karena itu, dipilih cara untuk memberikan penjelasan secara ringkas
pada salah satu dari dua tempat tersebut: adakalanya penjelasan ringkas
itu dianggap sudah mencukupi, atau menjadi pengantar bagi penjelasan terperinci
yang terdapat di tempat lainnya—dan tempat yang terakhir inilah yang
lebih utama untuk dijadikan tempat penjelasan terperinci.
(٢) مُرَاعَاةُ حَاجَةِ
غَيْرِ الْمُخْتَصِّ فِي إِسْعَافِهِ بِمَطْلَبِهِ سَوَاءٌ اتَّجَهَ إِلَيْهِ مِنْ
جِهَةِ الأَْصْل أَوِ الْفَرْعِ بَدَلاً مِنْ إِهْدَارِ بَعْضِ الاِحْتِمَالاَتِ
الَّتِي قَدْ تَتَكَافَأُ فَيُعْذَرُ فِي انْصِرَافِ ذِهْنِهِ إِلَى أَحَدِهَا.
(2)
Memperhatikan kebutuhan orang yang bukan ahli, dengan membantunya memperoleh
informasi yang dicarinya, baik ia mencarinya melalui istilah pokok
maupun istilah cabang, daripada mengabaikan sebagian kemungkinan yang
mungkin sama kuatnya, sehingga dapat dimaklumi apabila pikirannya tertuju
kepada salah satunya.
ج - مُصْطَلَحَاتُ
الدَّلاَلَةِ:
C. Istilah-istilah penunjuk (petunjuk
silang):
٦٥ - وَهِيَ
الْمُصْطَلَحَاتُ الَّتِي جِيءَ بِهَا لِمُجَرَّدِ الإِْرْشَادِ إِلَى الْمَوْطِنِ
الَّذِي اخْتِيرَ لِبَحْثِ الْمَوْضُوعِ، فَهِيَ بَدَائِل عَنْ أَحَدِ
الأَْلْفَاظِ الأَْصْلِيَّةِ أَوِ الْمُحَالَةِ، مِنْ قَبِيل الْمُرَادِفَاتِ
(كَالْقِرَاضِ مَعَ الْمُضَارَبَةِ، وَالْكِرَاءِ مَعَ الإِْجَارَةِ) أَوْ
بَقِيَّةِ الْمُشْتَقَّاتِ الَّتِي جُعِل أَحَدُهَا مُرْتَكَزًا لِلْمَوْضُوعِ.
65
– Yaitu istilah-istilah yang dicantumkan semata-mata untuk menunjukkan
tempat pembahasan yang telah dipilih sebagai tempat mengkaji suatu
tema. Istilah-istilah tersebut merupakan alternatif dari salah satu istilah
pokok atau istilah rujukan, seperti sinonim, misalnya القراض bersama
المضاربة (qirāḍ dengan muḍārabah), dan الكراء bersama الإجارة (kirā’ dengan ijārah), atau bentuk-bentuk
turunan lainnya yang salah satunya telah dijadikan sebagai dasar pembahasan.
فَهَذِهِ الْمُصْطَلَحَاتُ
يُقْتَصَرُ فِيهَا عَلَى بَيَانِ مَكَانِ بَحْثِهَا بَيْنَ مُصْطَلَحَاتِ
الْمَوْسُوعَةِ مِثْل (قِرَاضٍ، انْظُرْ: مُضَارَبَةً) دُونَ الْحَاجَةِ إِلَى
أَيِّ بَيَانٍ آخَرَ سَيَكُونُ مِنْ التَّكْرَارِ الْحَرْفِيِّ. وَلاَ مُعَدَّى
عَنْ الاِهْتِمَامِ بِمِثْل هَذِهِ الأَْلْفَاظِ بَعْدَ أَنْ اسْتَعْمَلَهَا
الْفُقَهَاءُ وَتَدَاوَلُوهَا بَيْنَ مُصْطَلَحَاتِهِمُ الثَّابِتَةِ لاَ عَلَى
أَنَّهَا تَعْبِيرٌ مُتَقَلِّبٌ (وَلاَ مُشَاحَّةَ فِي الاِصْطِلاَحِ) .
Istilah-istilah ini cukup dijelaskan dengan menunjukkan tempat
pembahasannya di antara istilah-istilah dalam ensiklopedia, seperti: «قِرَاضٌ، انْظُرْ: مُضَارَبَةً» — “Qirāḍ,
lihat: Muḍārabah”—tanpa perlu memberikan penjelasan lainnya, karena hal itu
hanya akan menjadi pengulangan secara harfiah.
Perhatian terhadap lafaz-lafaz semacam ini tidak dapat diabaikan, karena
para fuqaha telah menggunakannya dan menjadikannya sebagai bagian dari
istilah-istilah mereka yang baku, bukan sekadar ungkapan yang penggunaannya
berubah-ubah. (Dalam istilah, tidak ada alasan untuk mempermasalahkan
perbedaan penggunaan lafaz.)
وَبَعْدُ، فَإِنَّ
مُصْطَلَحَاتِ الدَّلاَلَةِ هَذِهِ، وَمُصْطَلَحَاتِ الإِْحَالَةِ أَيْضًا - لِمَا
هِيَ عَلَيْهِ مِنْ الإِْجْمَال - هُمَا مِنْ نَافِلَةِ الْبَحْثِ فِي هَذِهِ
الْمَوْسُوعَةِ، فَإِنَّ الْمُصْطَلَحَاتِ الأَْصْلِيَّةَ هِيَ قِوَامُهَا، وَهِيَ
الَّتِي يَحْصُل مِنْ تَكَامُلِهَا - بِالضَّرُورَةِ - اسْتِيفَاءُ جَمِيعِ
مَوْضُوعَاتِ الْفِقْهِ (مُفَصَّلَةً مُلْتَزَمًا فِيهَا بِجَمِيعِ عَنَاصِرِ
الْخُطَّةِ) وَهِيَ الْمُسْتَهْدَى إِلَيْهَا بِمُصْطَلَحَاتِ الدَّلاَلَةِ ذَاتِ
الْغَرَضِ التَّكْمِيلِيِّ وَالْمُمَهَّدِ لَهَا بِالْبَيَانَاتِ
الإِْجْمَالِيَّةِ فِي (الإِْحَالاَتِ) الَّتِي يَقْتَصِرُ هَدَفُهَا عَلَى سَدِّ
الْحَاجَةِ الْمُشَارِ إِلَيْهَا.
Selanjutnya, istilah-istilah penunjuk ini, demikian pula istilah-istilah
rujukan, karena sifatnya yang ringkas, merupakan bagian pelengkap
dalam pembahasan ensiklopedia ini. Sebab, istilah-istilah pokok
merupakan fondasi utama ensiklopedia. Melalui keterpaduan istilah-istilah pokok
tersebut, secara pasti akan tercakup seluruh pembahasan fikih secara lengkap
dan terperinci, dengan tetap berpegang pada seluruh unsur yang telah ditetapkan
dalam rencana penyusunannya.
Istilah-istilah pokok inilah yang menjadi tujuan yang diarahkan oleh istilah-istilah
penunjuk, yang berfungsi sebagai pelengkap. Sementara itu,
istilah-istilah pokok tersebut telah didahului oleh penjelasan ringkas dalam istilah-istilah
rujukan (الإحالات), yang
tujuannya terbatas pada memenuhi kebutuhan sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
Baca juga :
Rencana Penulisan EnsiklopediaFikih : Penyusunan Ensiklopedia Berdasarkan Urutan Alfabetis
%20%20Istilah%20Penunjuk%20(petunjuk%20silang).png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar