Pendahuluan
Setelah menjelaskan pentingnya
mengenal kebenaran dan memahami berbagai bentuk penyimpangan akidah, Imam Abu
al-Muzaffar al-Isfarayini mengakhiri mukadimah kitabnya dengan menerangkan
alasan utama penulisan At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Menurut beliau, munculnya
berbagai kelompok yang mengaku sebagai bagian dari Islam menuntut adanya
penjelasan yang sistematis mengenai akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah beserta
bantahan terhadap keyakinan-keyakinan yang menyimpang.
Mukadimah ini tidak sekadar menjadi
pengantar sebuah kitab, tetapi juga menjelaskan metodologi ilmiah yang ditempuh
penulis. Beliau ingin menghadirkan karya yang dapat menjadi pedoman bagi kaum
muslimin agar mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan berdasarkan
dalil, bukan sekadar mengikuti klaim suatu kelompok atau tokoh.
Sumber Rujukan
Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz
al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn
(التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق
الهالكين)
Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin
Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)
Penulis
Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini adalah
seorang ulama besar mazhab Syafi'i yang hidup pada abad ke-5 Hijriah. Beliau
dikenal sebagai ahli ushuluddin dan ilmu kalam yang banyak membela akidah Ahlus
Sunnah wal Jamaah melalui karya-karya ilmiah yang sistematis. Kitab At-Tabṣīr
fī ad-Dīn merupakan salah satu karya terpenting beliau dalam menjelaskan
pokok-pokok akidah Islam sekaligus menguraikan berbagai kelompok yang muncul
dalam sejarah umat Islam.
Tema
Latar Belakang Penulisan Kitab
At-Tabṣīr fī ad-Dīn dan Pentingnya Membedakan Akidah yang Benar dari
Penyimpangan
Terjemahan Lengkap
Imam Al-Isfarayini berkata:
Para ulama ahli tahqiq dari kalangan
kaum muslimin berbeda pendapat mengenai waktu kemunculan seluruh kelompok yang
menyimpang.
Sebagian di antara mereka
berpendapat bahwa belum seluruh kelompok bid'ah yang diberitakan Rasulullah ﷺ muncul pada masa mereka. Menurut mereka,
baru sebagian kelompok yang telah muncul, sedangkan sisanya akan muncul
menjelang Hari Kiamat. Sebab, apa yang telah diberitakan oleh Rasulullah ﷺ pasti akan terjadi tanpa keraguan sedikit
pun.
Sementara itu, kelompok ulama yang
lain—yaitu mereka yang meneliti sejarah serta menelusuri berbagai pendapat yang
dinisbatkan kepada kelompok-kelompok yang mengaku sebagai bagian dari
Islam—berpendapat bahwa seluruh kelompok sesat tersebut telah muncul di
tengah-tengah umat Islam.
Oleh karena itu, setiap orang yang
mencari kebenaran wajib membedakan akidahnya dari akidah mereka yang rusak,
serta membedakan agamanya dari keyakinan mereka yang sesat.
Telah muncul di berbagai negeri
Islam sekelompok ahli bid'ah yang menipu masyarakat awam. Mereka
mencampuradukkan ajaran agama sehingga membingungkan orang-orang yang kurang
memahami ilmu agama.
Mereka bahkan menisbatkan diri
kepada dua kelompok besar Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu para ahli hadis dan
para ahli fikih yang menggunakan ra'yu (ijtihad). Mereka berlindung di balik
nama-nama tokoh yang dihormati di kalangan kaum muslimin, padahal hakikat
keadaan mereka tidak diketahui oleh kebanyakan orang.
Dengan cara itu mereka memperoleh
kekuatan untuk menipu orang-orang yang masih polos dalam memahami agama. Mereka
ingin menampakkan kepada masyarakat awam bahwa mereka memiliki kedudukan yang
kuat dan mendapat dukungan yang besar.
Orang-orang yang tidak mengetahui
hakikat keadaan mereka mengira bahwa kebatilan akan selalu berjaya. Padahal
kenyataannya tidak demikian.
Sebab telah menjadi ungkapan yang
dikenal luas:
"Kebatilan hanya memperoleh
kemenangan sesaat, kemudian ia akan lenyap."
Sebagaimana juga dikatakan:
"Kebenaran itu terang dan
jelas, sedangkan kebatilan selalu dipenuhi keraguan dan kebingungan."
Allah Ta'ala berfirman:
"Allah meneguhkan orang-orang
yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Dan
Allah menyesatkan orang-orang yang zalim. Allah berbuat apa saja yang Dia
kehendaki."
(QS. Ibrahim: 27)
Karena itulah aku ingin menyusun
sebuah kitab yang dapat membedakan secara jelas antara kedua golongan tersebut.
Kitab ini akan menghimpun penjelasan
mengenai sifat-sifat kebenaran beserta dalil-dalil yang menguatkannya,
sekaligus menjelaskan hakikat kebatilan dan berbagai syubhat yang menjadi
sandarannya.
Dengan demikian, orang yang
membacanya akan semakin mantap dalam agamanya, semakin kuat keyakinannya, tidak
mudah tertipu oleh tipu daya para pembela kebatilan, serta tidak mudah
diperdaya oleh berbagai bentuk penyamaran yang dilakukan oleh orang-orang yang
menyelisihi agama.
Artikel Pengembangan
Pada bagian penutup mukadimah ini,
Imam Al-Isfarayini memperlihatkan metode ilmiah yang menjadi ciri khas para
ulama klasik. Beliau tidak langsung menyalahkan semua pihak yang berbeda
pendapat, tetapi terlebih dahulu menyampaikan adanya perbedaan pandangan di
kalangan ulama mengenai apakah seluruh kelompok yang disebutkan dalam hadis
tujuh puluh tiga golongan sudah muncul atau masih akan terus bermunculan hingga
akhir zaman.
Hal ini menunjukkan bahwa para ulama
tidak selalu memiliki kesimpulan yang sama dalam persoalan sejarah. Sebagian
berpandangan bahwa berbagai kelompok sesat akan terus bermunculan secara
bertahap, sedangkan sebagian lainnya menilai bahwa seluruh pokok penyimpangan
tersebut telah tampak dalam berbagai aliran yang sudah ada pada masa mereka.
Meskipun berbeda dalam penilaian sejarah, kedua pendapat sepakat bahwa sabda
Rasulullah ﷺ pasti benar dan akan terwujud.
Imam Al-Isfarayini kemudian mengingatkan
bahaya lain yang tidak kalah besar, yaitu adanya kelompok-kelompok yang
mengatasnamakan Ahlus Sunnah demi memperoleh kepercayaan masyarakat. Mereka
menggunakan nama ulama, mazhab, atau tokoh yang dihormati sehingga orang awam
mengira bahwa ajaran mereka adalah bagian dari Islam yang lurus. Menurut
beliau, keadaan seperti ini menuntut umat Islam untuk tidak mudah menerima
setiap klaim, tetapi mengukurnya dengan ilmu, dalil Al-Qur'an, Sunnah, dan
penjelasan para ulama yang terpercaya.
Ungkapan beliau bahwa "kebatilan
hanya berputar sesaat kemudian lenyap" mengandung pesan optimisme.
Dalam sejarah Islam, banyak pemikiran yang sempat tampak kuat dan berpengaruh,
namun kemudian memudar karena tidak memiliki landasan yang kokoh. Sebaliknya,
kebenaran tetap bertahan karena bersumber dari wahyu Allah yang tidak berubah.
Ayat yang beliau kutip dari Surah
Ibrahim mempertegas bahwa keteguhan iman merupakan anugerah Allah kepada
orang-orang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keteguhan tersebut tidak hanya
dibutuhkan dalam kehidupan dunia ketika menghadapi syubhat dan fitnah, tetapi
juga pada kehidupan akhirat.
Akhirnya, Imam Al-Isfarayini
menjelaskan tujuan utama penulisan At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Kitab ini bukan
sekadar daftar kelompok-kelompok yang muncul dalam sejarah Islam, melainkan
sebuah panduan untuk mengenali ciri-ciri akidah yang benar, memahami
dalil-dalilnya, mengenali berbagai syubhat yang berkembang, dan memperkuat
keyakinan seorang muslim agar tidak mudah tertipu oleh penyimpangan yang
dibungkus dengan nama agama.
Hikmah
- Perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah
sejarah tidak mengurangi kesepakatan mereka terhadap kebenaran sabda
Rasulullah ﷺ.
- Seorang muslim wajib mengukur setiap ajaran dengan
dalil, bukan sekadar melihat nama kelompok atau tokoh yang mengusungnya.
- Penyimpangan sering kali tampil dengan menggunakan
simbol-simbol agama untuk memperoleh kepercayaan masyarakat.
- Kebatilan mungkin tampak kuat dalam waktu tertentu,
tetapi pada akhirnya akan sirna karena tidak memiliki dasar yang benar.
- Keteguhan dalam iman merupakan karunia Allah yang harus
dijaga melalui ilmu dan amal saleh.
- Tujuan mempelajari akidah bukan untuk mencari
permusuhan, melainkan agar mampu membedakan antara petunjuk dan
penyimpangan berdasarkan ilmu.
Penutup
Mukadimah At-Tabṣīr fī ad-Dīn
ditutup oleh Imam Al-Isfarayini dengan menjelaskan misi besar kitabnya, yaitu
menjadi pembeda antara jalan kebenaran dan jalan kebatilan. Beliau berharap
setiap pembaca memperoleh keyakinan yang lebih kokoh, memahami dalil-dalil
akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, serta mampu mengenali berbagai syubhat yang
dapat merusak iman. Dengan demikian, kitab ini bukan hanya menjadi karya ilmiah
tentang sejarah aliran-aliran dalam Islam, tetapi juga menjadi pedoman bagi
setiap muslim untuk menjaga kemurnian akidah dan tetap teguh di atas jalan yang
diridhai Allah Ta'ala.
Teks Arab :
وَقد اخْتلف مَشَايِخ أهل التَّحْقِيق من عُلَمَاء
الْمُسلمين فِيهِ فَقَالَ بَعضهم لم يتكامل وجود هَذِه الْفرق من أهل الْبدع بَين
الْمُسلمين بعد وَإِنَّمَا وجد بَعضهم وسيوجد بعدهمْ قبل يَوْم الْقِيَامَة
جَمِيعهم فَإِن مَا أخبر الرَّسُول ﷺ كَائِن لَا محَالة وَقَالَ الْبَاقُونَ وهم
الَّذين يتتبعون التواريخ ويفتشون عَن المقالات المنقولة من أَرْبَاب الْمذَاهب
المتسمة بسمة الْإِسْلَام أَن تَمام هَذِه الْفرق الضَّالة قد وجدت فِي زمرة
الاسلام وَوَجَب على الْمَرْء المحصل أَن يُمَيّز عقيدته عَن عقائدهم الْفَاسِدَة
وَدينه عَن أديانهم الضَّالة وَقد ظهر فِي بِلَاد الْإِسْلَام أَقوام من أهل
الْبدع يخدعون الْعَوام وَيلبسُونَ عَلَيْهِم الْأَدْيَان وينتسبون إِلَى فريقي
أهل السّنة وَالْجَمَاعَة أَصْحَاب الحَدِيث والرأي ويستظهرون بصدور لَا يعرف
حَالهم من صُدُور أهل الْإِسْلَام ليتقوى بهم على خداع أهل الْغرَّة من الْمُسلمين
ويظهرون بِهِ للأغمار أَن لَهُم الْغَلَبَة وَالْقُوَّة وَلَا يعرف الْجَاهِل
بأحوالهم إِن الْبَاطِل قد يكون لَهُ جَوْلَة ثمَّ يسْقط كَمَا سَارَتْ بِهِ
الامثال على لِسَان الكافة أَن الْبَاطِل يجول جَوْلَة ثمَّ يضمحل وكما يُقَال
الْحق أَبْلَج وَالْبَاطِل لجلج وَقَالَ تَعَالَى ﴿يثبت الله الَّذين آمنُوا
بالْقَوْل الثَّابِت فِي الْحَيَاة الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَة ويضل الله
الظَّالِمين وَيفْعل الله مَا يَشَاء﴾
فَأَرَدْت أَن أجمع كتابا فارقا بَين الْفَرِيقَيْنِ
جَامعا بَين وصف الْحق وخاصيته وَالْإِشَارَة إِلَى حججه وَوصف الْبَاطِل وحد شبهه
لِيَزْدَادَ المطلع عَلَيْهِ استيقانا فِي دينه وتحقيقا فِي يقينه فَلَا ينفذ
عَلَيْهِ تلبيس المبطلين وَلَا تَدْلِيس الْمُخَالفين للدّين
فَأَرَدْت أَن أجمع كتابا فارقا بَين الْفَرِيقَيْنِ
جَامعا بَين وصف الْحق وخاصيته وَالْإِشَارَة إِلَى حججه وَوصف الْبَاطِل وحد شبهه
لِيَزْدَادَ المطلع عَلَيْهِ استيقانا فِي دينه وتحقيقا فِي يقينه فَلَا ينفذ
عَلَيْهِ تلبيس المبطلين وَلَا تَدْلِيس الْمُخَالفين للدّين
Baca juga:
15 Bab Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn: Peta Lengkap Akidah
Ahlus Sunnah dan Sejarah Kelompok-Kelompok dalam Islam
Pendahuluan
Setelah menjelaskan pentingnya
mengenal kebenaran dan memahami berbagai bentuk penyimpangan akidah, Imam Abu
al-Muzaffar al-Isfarayini mengakhiri mukadimah kitabnya dengan menerangkan
alasan utama penulisan At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Menurut beliau, munculnya
berbagai kelompok yang mengaku sebagai bagian dari Islam menuntut adanya
penjelasan yang sistematis mengenai akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah beserta
bantahan terhadap keyakinan-keyakinan yang menyimpang.
Mukadimah ini tidak sekadar menjadi
pengantar sebuah kitab, tetapi juga menjelaskan metodologi ilmiah yang ditempuh
penulis. Beliau ingin menghadirkan karya yang dapat menjadi pedoman bagi kaum
muslimin agar mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan berdasarkan
dalil, bukan sekadar mengikuti klaim suatu kelompok atau tokoh.
Sumber Rujukan
Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz
al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn
(التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق
الهالكين)
Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin
Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)
Penulis
Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini adalah
seorang ulama besar mazhab Syafi'i yang hidup pada abad ke-5 Hijriah. Beliau
dikenal sebagai ahli ushuluddin dan ilmu kalam yang banyak membela akidah Ahlus
Sunnah wal Jamaah melalui karya-karya ilmiah yang sistematis. Kitab At-Tabṣīr
fī ad-Dīn merupakan salah satu karya terpenting beliau dalam menjelaskan
pokok-pokok akidah Islam sekaligus menguraikan berbagai kelompok yang muncul
dalam sejarah umat Islam.
Tema
Latar Belakang Penulisan Kitab
At-Tabṣīr fī ad-Dīn dan Pentingnya Membedakan Akidah yang Benar dari
Penyimpangan
Terjemahan Lengkap
Imam Al-Isfarayini berkata:
Para ulama ahli tahqiq dari kalangan
kaum muslimin berbeda pendapat mengenai waktu kemunculan seluruh kelompok yang
menyimpang.
Sebagian di antara mereka
berpendapat bahwa belum seluruh kelompok bid'ah yang diberitakan Rasulullah ﷺ muncul pada masa mereka. Menurut mereka,
baru sebagian kelompok yang telah muncul, sedangkan sisanya akan muncul
menjelang Hari Kiamat. Sebab, apa yang telah diberitakan oleh Rasulullah ﷺ pasti akan terjadi tanpa keraguan sedikit
pun.
Sementara itu, kelompok ulama yang
lain—yaitu mereka yang meneliti sejarah serta menelusuri berbagai pendapat yang
dinisbatkan kepada kelompok-kelompok yang mengaku sebagai bagian dari
Islam—berpendapat bahwa seluruh kelompok sesat tersebut telah muncul di
tengah-tengah umat Islam.
Oleh karena itu, setiap orang yang
mencari kebenaran wajib membedakan akidahnya dari akidah mereka yang rusak,
serta membedakan agamanya dari keyakinan mereka yang sesat.
Telah muncul di berbagai negeri
Islam sekelompok ahli bid'ah yang menipu masyarakat awam. Mereka
mencampuradukkan ajaran agama sehingga membingungkan orang-orang yang kurang
memahami ilmu agama.
Mereka bahkan menisbatkan diri
kepada dua kelompok besar Ahlus Sunnah wal Jamaah, yaitu para ahli hadis dan
para ahli fikih yang menggunakan ra'yu (ijtihad). Mereka berlindung di balik
nama-nama tokoh yang dihormati di kalangan kaum muslimin, padahal hakikat
keadaan mereka tidak diketahui oleh kebanyakan orang.
Dengan cara itu mereka memperoleh
kekuatan untuk menipu orang-orang yang masih polos dalam memahami agama. Mereka
ingin menampakkan kepada masyarakat awam bahwa mereka memiliki kedudukan yang
kuat dan mendapat dukungan yang besar.
Orang-orang yang tidak mengetahui
hakikat keadaan mereka mengira bahwa kebatilan akan selalu berjaya. Padahal
kenyataannya tidak demikian.
Sebab telah menjadi ungkapan yang
dikenal luas:
"Kebatilan hanya memperoleh
kemenangan sesaat, kemudian ia akan lenyap."
Sebagaimana juga dikatakan:
"Kebenaran itu terang dan
jelas, sedangkan kebatilan selalu dipenuhi keraguan dan kebingungan."
Allah Ta'ala berfirman:
"Allah meneguhkan orang-orang
yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Dan
Allah menyesatkan orang-orang yang zalim. Allah berbuat apa saja yang Dia
kehendaki."
(QS. Ibrahim: 27)
Karena itulah aku ingin menyusun
sebuah kitab yang dapat membedakan secara jelas antara kedua golongan tersebut.
Kitab ini akan menghimpun penjelasan
mengenai sifat-sifat kebenaran beserta dalil-dalil yang menguatkannya,
sekaligus menjelaskan hakikat kebatilan dan berbagai syubhat yang menjadi
sandarannya.
Dengan demikian, orang yang
membacanya akan semakin mantap dalam agamanya, semakin kuat keyakinannya, tidak
mudah tertipu oleh tipu daya para pembela kebatilan, serta tidak mudah
diperdaya oleh berbagai bentuk penyamaran yang dilakukan oleh orang-orang yang
menyelisihi agama.
Artikel Pengembangan
Pada bagian penutup mukadimah ini,
Imam Al-Isfarayini memperlihatkan metode ilmiah yang menjadi ciri khas para
ulama klasik. Beliau tidak langsung menyalahkan semua pihak yang berbeda
pendapat, tetapi terlebih dahulu menyampaikan adanya perbedaan pandangan di
kalangan ulama mengenai apakah seluruh kelompok yang disebutkan dalam hadis
tujuh puluh tiga golongan sudah muncul atau masih akan terus bermunculan hingga
akhir zaman.
Hal ini menunjukkan bahwa para ulama
tidak selalu memiliki kesimpulan yang sama dalam persoalan sejarah. Sebagian
berpandangan bahwa berbagai kelompok sesat akan terus bermunculan secara
bertahap, sedangkan sebagian lainnya menilai bahwa seluruh pokok penyimpangan
tersebut telah tampak dalam berbagai aliran yang sudah ada pada masa mereka.
Meskipun berbeda dalam penilaian sejarah, kedua pendapat sepakat bahwa sabda
Rasulullah ﷺ pasti benar dan akan terwujud.
Imam Al-Isfarayini kemudian mengingatkan
bahaya lain yang tidak kalah besar, yaitu adanya kelompok-kelompok yang
mengatasnamakan Ahlus Sunnah demi memperoleh kepercayaan masyarakat. Mereka
menggunakan nama ulama, mazhab, atau tokoh yang dihormati sehingga orang awam
mengira bahwa ajaran mereka adalah bagian dari Islam yang lurus. Menurut
beliau, keadaan seperti ini menuntut umat Islam untuk tidak mudah menerima
setiap klaim, tetapi mengukurnya dengan ilmu, dalil Al-Qur'an, Sunnah, dan
penjelasan para ulama yang terpercaya.
Ungkapan beliau bahwa "kebatilan
hanya berputar sesaat kemudian lenyap" mengandung pesan optimisme.
Dalam sejarah Islam, banyak pemikiran yang sempat tampak kuat dan berpengaruh,
namun kemudian memudar karena tidak memiliki landasan yang kokoh. Sebaliknya,
kebenaran tetap bertahan karena bersumber dari wahyu Allah yang tidak berubah.
Ayat yang beliau kutip dari Surah
Ibrahim mempertegas bahwa keteguhan iman merupakan anugerah Allah kepada
orang-orang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keteguhan tersebut tidak hanya
dibutuhkan dalam kehidupan dunia ketika menghadapi syubhat dan fitnah, tetapi
juga pada kehidupan akhirat.
Akhirnya, Imam Al-Isfarayini
menjelaskan tujuan utama penulisan At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Kitab ini bukan
sekadar daftar kelompok-kelompok yang muncul dalam sejarah Islam, melainkan
sebuah panduan untuk mengenali ciri-ciri akidah yang benar, memahami
dalil-dalilnya, mengenali berbagai syubhat yang berkembang, dan memperkuat
keyakinan seorang muslim agar tidak mudah tertipu oleh penyimpangan yang
dibungkus dengan nama agama.
Hikmah
- Perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah
sejarah tidak mengurangi kesepakatan mereka terhadap kebenaran sabda
Rasulullah ﷺ.
- Seorang muslim wajib mengukur setiap ajaran dengan
dalil, bukan sekadar melihat nama kelompok atau tokoh yang mengusungnya.
- Penyimpangan sering kali tampil dengan menggunakan
simbol-simbol agama untuk memperoleh kepercayaan masyarakat.
- Kebatilan mungkin tampak kuat dalam waktu tertentu,
tetapi pada akhirnya akan sirna karena tidak memiliki dasar yang benar.
- Keteguhan dalam iman merupakan karunia Allah yang harus
dijaga melalui ilmu dan amal saleh.
- Tujuan mempelajari akidah bukan untuk mencari
permusuhan, melainkan agar mampu membedakan antara petunjuk dan
penyimpangan berdasarkan ilmu.
Penutup
Mukadimah At-Tabṣīr fī ad-Dīn
ditutup oleh Imam Al-Isfarayini dengan menjelaskan misi besar kitabnya, yaitu
menjadi pembeda antara jalan kebenaran dan jalan kebatilan. Beliau berharap
setiap pembaca memperoleh keyakinan yang lebih kokoh, memahami dalil-dalil
akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, serta mampu mengenali berbagai syubhat yang
dapat merusak iman. Dengan demikian, kitab ini bukan hanya menjadi karya ilmiah
tentang sejarah aliran-aliran dalam Islam, tetapi juga menjadi pedoman bagi
setiap muslim untuk menjaga kemurnian akidah dan tetap teguh di atas jalan yang
diridhai Allah Ta'ala.
Teks Arab :
وَقد اخْتلف مَشَايِخ أهل التَّحْقِيق من عُلَمَاء
الْمُسلمين فِيهِ فَقَالَ بَعضهم لم يتكامل وجود هَذِه الْفرق من أهل الْبدع بَين
الْمُسلمين بعد وَإِنَّمَا وجد بَعضهم وسيوجد بعدهمْ قبل يَوْم الْقِيَامَة
جَمِيعهم فَإِن مَا أخبر الرَّسُول ﷺ كَائِن لَا محَالة وَقَالَ الْبَاقُونَ وهم
الَّذين يتتبعون التواريخ ويفتشون عَن المقالات المنقولة من أَرْبَاب الْمذَاهب
المتسمة بسمة الْإِسْلَام أَن تَمام هَذِه الْفرق الضَّالة قد وجدت فِي زمرة
الاسلام وَوَجَب على الْمَرْء المحصل أَن يُمَيّز عقيدته عَن عقائدهم الْفَاسِدَة
وَدينه عَن أديانهم الضَّالة وَقد ظهر فِي بِلَاد الْإِسْلَام أَقوام من أهل
الْبدع يخدعون الْعَوام وَيلبسُونَ عَلَيْهِم الْأَدْيَان وينتسبون إِلَى فريقي
أهل السّنة وَالْجَمَاعَة أَصْحَاب الحَدِيث والرأي ويستظهرون بصدور لَا يعرف
حَالهم من صُدُور أهل الْإِسْلَام ليتقوى بهم على خداع أهل الْغرَّة من الْمُسلمين
ويظهرون بِهِ للأغمار أَن لَهُم الْغَلَبَة وَالْقُوَّة وَلَا يعرف الْجَاهِل
بأحوالهم إِن الْبَاطِل قد يكون لَهُ جَوْلَة ثمَّ يسْقط كَمَا سَارَتْ بِهِ
الامثال على لِسَان الكافة أَن الْبَاطِل يجول جَوْلَة ثمَّ يضمحل وكما يُقَال
الْحق أَبْلَج وَالْبَاطِل لجلج وَقَالَ تَعَالَى ﴿يثبت الله الَّذين آمنُوا
بالْقَوْل الثَّابِت فِي الْحَيَاة الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَة ويضل الله
الظَّالِمين وَيفْعل الله مَا يَشَاء﴾
فَأَرَدْت أَن أجمع كتابا فارقا بَين الْفَرِيقَيْنِ
جَامعا بَين وصف الْحق وخاصيته وَالْإِشَارَة إِلَى حججه وَوصف الْبَاطِل وحد شبهه
لِيَزْدَادَ المطلع عَلَيْهِ استيقانا فِي دينه وتحقيقا فِي يقينه فَلَا ينفذ
عَلَيْهِ تلبيس المبطلين وَلَا تَدْلِيس الْمُخَالفين للدّين
فَأَرَدْت أَن أجمع كتابا فارقا بَين الْفَرِيقَيْنِ
جَامعا بَين وصف الْحق وخاصيته وَالْإِشَارَة إِلَى حججه وَوصف الْبَاطِل وحد شبهه
لِيَزْدَادَ المطلع عَلَيْهِ استيقانا فِي دينه وتحقيقا فِي يقينه فَلَا ينفذ
عَلَيْهِ تلبيس المبطلين وَلَا تَدْلِيس الْمُخَالفين للدّين
Baca juga:
15 Bab Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn: Peta Lengkap Akidah
Ahlus Sunnah dan Sejarah Kelompok-Kelompok dalam Islam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar