تفسير سورة البقرة
وأول مبدوء به الكلام في نزولها وفضلها وما جاء
فيها ، وهكذا كل سورة إن وجدنا لها ذلك ، فنقول : سورة البقرة مدنية ، نزلت في مُدَدٍ
شتى.
Tafsir
Surah Al-Baqarah Ayat 1-2
Pendahuluan:
Hal pertama yang dibicarakan adalah tentang turunnya (waktu dan sebab
turunnya), keutamaannya, dan apa saja yang berkaitan dengannya.
Demikian pula pada setiap surah, jika kami mendapatkan keterangan tentang
hal itu, maka akan kami sebutkan.
Kami katakan: “Surah Al-Baqarah adalah surah Madaniyah, yang diturunkan
dalam beberapa masa (secara bertahap).”
وقيل : هي أول سورة نزلت بالمدينة ، إلا قوله
تعالى : {وأتَّقُوا يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إلى اللهِ} [البقرة : 281] فإنه آخر
آية نزلت من السماء ، ونزلت يوم النحر في حجة الوداع بمنى ، وآيات الربا أيضا من أواخر
ما نزل من القرآن.
Turunnya Surah Al-Baqarah
Dan dikatakan: Surah Al-Baqarah
adalah surah pertama yang diturunkan di Madinah, kecuali firman Allah تعالى:
‘Dan takutlah kalian pada suatu hari yang pada hari itu kalian dikembalikan
kepada Allah’ (Al-Baqarah: 281).
Sesungguhnya ayat tersebut adalah ayat terakhir yang diturunkan dari langit,
dan diturunkan pada hari Nahr (Idul Adha) dalam Haji Wada’, di Mina.
Dan ayat-ayat tentang riba juga termasuk di antara ayat-ayat terakhir yang
diturunkan dari Al-Qur’an.”
Penjelasan
singkat:
- Ada pendapat bahwa Surah Al-Baqarah adalah surah
pertama yang turun di Madinah.
- Namun, ayat 281 dari surah ini justru turun
paling akhir, menjelang wafat Nabi ﷺ.
- Ayat itu turun saat Haji Wada’ di Mina (hari
raya kurban).
- Selain itu, ayat-ayat riba juga termasuk bagian akhir
yang diturunkan dalam Al-Qur’an.
وهذه السورة فضلها عظيم وثوابها جسيم. ويقال
لها : فسطاط القرآن ، قاله خالد بن معدان. وذلك لعظمها وبهائها ، وكثرة أحكامها ومواعظها.
وتعلمها عمر رضي الله عنه بفقهها وما تحتوي عليه في اثنتي عشرة سنة ، وابنه عبد الله
في ثماني سنين كما تقدم.
Keutamaan
Surat Al-Baqarah
Surah ini memiliki keutamaan yang besar dan pahala yang agung.
Dan disebut juga sebagai ‘Fusthāṭ al-Qur’an’ (kemah besar
Al-Qur’an), sebagaimana dikatakan oleh Khalid bin
Ma'dan.
Hal itu karena kebesarannya, keindahannya, serta banyaknya hukum dan nasihat
yang terkandung di dalamnya.
Dan Umar bin Khattab mempelajarinya
dengan memahami kandungannya selama dua belas tahun, sedangkan putranya Abdullah bin Umar selama delapan tahun,
sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
قال ابن العربي : سمعت بعض أشياخي يقول : فيها
ألف أمر وألف نهي وألف حكم وألف خبر.
Berkata Ibnu Arabi:
Aku mendengar sebagian guru-guruku berkata:
“Di dalam Surah Al-Baqarah terdapat seribu perintah, seribu larangan, seribu
hukum, dan seribu kabar.”
وبعث رسول الله صلى الله عليه وسلم بعثا وهم
ذوو عدد وقدم عليهم أحدثهم سنا لحفظه سورة البقرة ، وقال له : "اذهب فأنت أميرهم"
أخرجه الترمذي عن أبي هريرة وصححه.
Rasulullah ﷺ pernah mengirim
sebuah pasukan yang jumlahnya cukup banyak.
Lalu beliau mengangkat sebagai pemimpin mereka orang yang paling muda
usianya di antara mereka, karena ia hafal Surah Al-Baqarah.
Beliau bersabda kepadanya: “Pergilah, engkau adalah pemimpin mereka.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah
dan dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi, dan
beliau mensahihkannya.
وروى مسلم عن أبي أمامة الباهلي قال سمعت رسول
الله صلى الله عليه وسلم يقول : "اقرؤوا سورة البقرة فإن أخذها بركة وتركها حسرة
ولا يستطيعها البطلة" ، قال معاوية : بلغني أن البطلة : السحرة.
Dan Abu Umamah al-Bahili meriwayatkan
bahwa ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Bacalah Surah Al-Baqarah, karena mengambilnya (membacanya dan
mengamalkannya) adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan, dan tidak
mampu (menghadapinya) para bathalah (orang-orang batil).”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Berkata Muawiyah bin Abi Sufyan: “Telah
sampai kepadaku bahwa yang dimaksud al-bathalah adalah para penyihir.”
وروي أيضا عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله
عليه وسلم قال : "لا تجعلوا بيوتكم مقابر إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ
فيه سورة البقرة" .
Dan juga diriwayatkan dari Abu Hurairah
bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan.
Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya Surah
Al-Baqarah.”
وروى الدارمي عن عبد الله قال : ما من بيت يقرأ
فيه سورة البقرة إلا خرج منه الشيطان وله صراط. وقال : إن لكل شيء سناما وإن سنام القرآن
سورة البقرة ، وإن لكل شيء لباباً وإن لباب القرآن المفصل.
Diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi dari Abdullah bin Masud, ia berkata:
“Tidaklah ada sebuah rumah yang dibacakan di dalamnya Surah Al-Baqarah
kecuali setan keluar darinya sambil memiliki suara/jeritan (atau dalam keadaan
terusir).”
Dan ia juga berkata:
“Sesungguhnya setiap sesuatu memiliki puncak (kemuliaan), dan puncak
Al-Qur’an adalah Surah Al-Baqarah. Dan setiap sesuatu memiliki inti, dan inti
Al-Qur’an adalah surah-surah Al-Mufashshal (surat-surat pendek).”
قال أبو محمد الدارمي. اللباب : الخالص. وفي
صحيح البستي عن سهل بن سعد قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "إن لكل شيء
سناما وإن سنام القرآن سورة البقرة ومن قرأها في بيته ليلا لم يدخل الشيطان بيته ثلاث
ليال ومن قرأها نهارا لم يدخل الشيطان بيته ثلاثة أيام" .
Berkata Abu Muhammad ad-Darimi:
“Al-lubāb artinya adalah sesuatu yang murni (inti yang bersih).”
Dan dalam Shahih Al-Busti (yakni karya Ibnu
Hibban), dari Sahl bin Saad, ia
berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya setiap sesuatu memiliki puncak, dan puncak Al-Qur’an adalah
Surah Al-Baqarah.
Barang siapa membacanya di rumahnya pada malam hari, maka setan tidak akan
masuk ke rumahnya selama tiga malam.
Dan barang siapa membacanya pada siang hari, maka setan tidak akan masuk ke
rumahnya selama tiga hari.”
قال أبو حاتم البستي : قوله صلى الله عليه وسلم
: "لم يدخل الشيطان بيته ثلاثة أيام" أراد : مردة الشياطين.
Berkata Abu Hatim al-Busti:
“Sabda Nabi ﷺ: ‘setan tidak
masuk ke rumahnya selama tiga hari’, yang dimaksud adalah setan-setan
yang durhaka (yang sangat jahat).”
وروى الدارمي في مسنده عن الشعبي قال قال عبد
الله : من قرأ عشر آيات من سورة البقرة في ليلة لم يدخل ذلك البيت شيطان تلك الليلة
حتى يصبح ، أربعا من أولها وآية الكرسي وآيتين بعدها وثلاثا خواتيمها ، أولها : {لِلَّهِ
مَا فِي السَّمَاوَاتِ} [البقرة : 284].
Diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi dalam Musnad-nya,
dari Asy-Sya'bi, ia berkata: Berkata Abdullah bin Masud:
“Barang siapa membaca sepuluh ayat dari Surah Al-Baqarah pada suatu malam,
maka setan tidak akan masuk ke rumah itu pada malam tersebut hingga pagi.
Yaitu: empat ayat dari awalnya, Ayat Kursi, dua ayat setelahnya, dan tiga
ayat terakhirnya.
Yang pertama dari tiga ayat terakhir itu adalah: {لِلَّهِ
مَا فِي السَّمَاوَاتِ} “Kepunyaan
Allah apa yang ada di langit…” (Al-Baqarah: 284).”
وعن الشعبي عنه : لم يقربه ولا أهله يومئذ شيطان
ولا شيء يكرهه ، ولا يقرأن على مجنون إلا أفاق.
وقال المغيرة بن سبيع - وكان من أصحاب عبد الله
- : لم ينس القرآن.
وقال إسحاق بن عيسى : لم ينس ما قد حفظ. قال
أبو محمد الدارمي : منهم من يقول : المغيرة بن سميع.
Dan dari Asy-Sya'bi, dari beliau (yakni
Abdullah bin Masud):
“Pada hari itu, setan tidak akan mendekatinya dan keluarganya, dan tidak
pula sesuatu yang ia benci.
Dan tidaklah ayat-ayat itu dibacakan kepada orang gila kecuali ia akan sadar
(sembuh).”
Dan berkata Al-Mughirah bin Subai — dan
ia termasuk sahabat (murid) Abdullah:
“(Orang yang membacanya) tidak akan lupa Al-Qur’an.”
Dan berkata Ishaq bin Isa:
“Tidak akan lupa apa yang telah ia hafal.”
Berkata Abu Muhammad ad-Darimi:
“Sebagian mereka mengatakan: (namanya) Al-Mughirah bin Sumi’.”
وفي كتاب الاستيعاب لابن عبد البر : وكان لبيد
بن ربيعة بن عام بن مالك بن جعفر بن كلاب بن ربيعة بن عامر بن صعصعة من شعراء الجاهلية
، أدرك الإسلام فحسن إسلامه وترك قول الشعر في الإسلام ، سأل عمر في خلافته عن شعره
واستنشده ، فقرأ سورة البقرة ، فقال : إنما سألتك عن شعرك ، فقال : ما كنت لأقول بيتا
من الشعر بعد إذ علمني الله البقرة وآل عمران ، فأعجب عمر قوله ، وكان عطاؤه ألفين
فزاده خمسمائة.
وقد قال كثير من أهل الأخبار : إن لبيدا لم يقل
شعرا منذ أسلم.
Dalam kitab Al-Isti‘āb karya Ibnu Abdil-Barr
disebutkan:
Bahwa Labid bin Rabi'ah adalah salah satu
penyair pada masa jahiliyah.
Ia kemudian masuk Islam dan bagus keislamannya, serta meninggalkan syair
setelah masuk Islam.
Umar bin Khattab pernah bertanya
kepadanya pada masa kekhalifahannya tentang syairnya dan memintanya untuk
membacakan syair.
Lalu ia membaca Surah Al-Baqarah.
Umar berkata: “Aku hanya memintamu tentang syairmu.”
Ia menjawab: “Aku tidak akan lagi mengucapkan satu bait syair pun setelah
Allah mengajarkan kepadaku Surah Al-Baqarah dan Ali ‘Imran.”
Maka Umar kagum dengan ucapannya. Saat itu jatah pemberiannya adalah dua
ribu, lalu Umar menambahnya lima ratus.
Dan banyak ahli sejarah mengatakan bahwa Labid tidak pernah lagi membuat
syair sejak ia masuk Islam.
وقال بعضهم : لم يقل في الإسلام إلا قوله :
الحمد لله إذ لم يأتني
أجلي # حتى اكتسيت من الإسلام سربالا
قال ابن عبد البر : وقد قيل إن هذا البيت لقردة
بن نفاثة السلولي ، وهو أصح عندي.
وقال غيره : بل البيت الذي قال في الإسلام :
ما عاتب المرء الكريم كنفسه
# والمرء يصلحه القرين الصالح
وسيأتي ما ورد في آية الكرسي وخواتيم البقرة
، ويأتي في أول سورة آل عمران زيادة بيان لفضل هذه السورة ، إن شاء الله تعالى.
Dan sebagian ulama’ berkata:
(Labid) tidak mengatakan syair di masa Islam kecuali ucapannya:
الحمد
لله إذ لم يأتني أجلي #
حتى
اكتسيت من الإسلام سربالا
Segala puji bagi Allah, karena ajalku
belum datang # hingga aku
mengenakan pakaian Islam
Berkata Ibnu Abdil Barr:
“Dan telah dikatakan bahwa bait
ini milik Qirdah bin Nufathah as-Sululi,
dan menurutku ini lebih benar.”
Dan yang lain berkata: bahkan bait yang ia ucapkan di masa Islam adalah:
ما
عاتب المرء الكريم كنفسه #
والمرء
يصلحه القرين الصالح
Tidak ada yang lebih menasihati seseorang yang mulia selain dirinya sendiri
# dan seseorang akan menjadi baik karena teman yang صالح (baik)
Dan akan disebutkan nanti penjelasan tentang apa yang datang mengenai Ayat
Kursi dan penutup Surah Al-Baqarah.
Juga akan datang di awal Surah Ali ‘Imran tambahan penjelasan tentang
keutamaan surah ini, insya Allah Ta‘ala.
Baca selengkapnya:
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 1
Tentang Perbedaan Pendapat I’rob Dan Tata Bahasa Ayat {الم}
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 1,
Tentang Turunnya, Keutamaannya, Dan Apa Saja Yang Berkaitan Dengannya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar