Mengapa Akidah yang Benar Sangat Penting? Penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang Bahaya Bid'ah dan Ahlul Ahwa'

Imam Al-Isfarayini menjelaskan pentingnya akidah yang benar, bahaya bid'ah, dan alasan seorang muslim harus mengenal penyimpangan akidah

Pendahuluan

Keimanan yang benar bukan hanya diukur dari pengakuan lisan atau banyaknya amal ibadah, tetapi juga dari kemurnian keyakinan yang tertanam di dalam hati. Karena itulah para ulama Ahlus Sunnah sejak generasi awal selalu menaruh perhatian besar terhadap pembahasan akidah. Mereka menjelaskan bukan hanya prinsip-prinsip keimanan, tetapi juga berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merusak kemurnian tauhid.

Dalam bagian kitab ini, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini memperkuat pembahasan sebelumnya dengan mengutip beberapa hadis Rasulullah yang menjelaskan ciri-ciri golongan yang lurus, pentingnya menjauhi hawa nafsu dalam beragama, serta keharusan mengenal berbagai bentuk bid'ah agar seorang mukmin tidak terjerumus ke dalamnya. Beliau juga menegaskan bahwa munculnya kelompok-kelompok sesat di tengah umat Islam merupakan kenyataan yang telah diberitakan oleh Rasulullah .

Sumber Rujukan

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini adalah salah seorang imam besar Ahlus Sunnah wal Jamaah dari kalangan mazhab Syafi'i yang hidup pada abad ke-5 Hijriah. Beliau dikenal sebagai ahli ilmu kalam, ushuluddin, dan pembela akidah Ahlus Sunnah. Karyanya At-Tabṣīr fī ad-Dīn menjadi salah satu kitab klasik yang membahas prinsip-prinsip akidah Islam sekaligus menguraikan berbagai kelompok yang muncul dalam sejarah umat Islam beserta pandangan mereka.

Tema

Kemurnian Akidah sebagai Syarat Kesempurnaan Iman dan Pentingnya Mengenal Bid'ah serta Kelompok-Kelompok Penyimpang

Terjemahan Lengkap

Imam Al-Isfarayini berkata:

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar رضي الله عنه bahwa Nabi menjelaskan firman Allah Ta'ala:

"Pada hari ketika ada wajah-wajah yang menjadi putih berseri dan ada wajah-wajah yang menjadi hitam muram. Adapun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: 'Apakah kalian kafir setelah beriman? Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiran yang dahulu kalian lakukan.'" (QS. Ali 'Imran: 106)

Beliau bersabda:

"Orang-orang yang wajahnya putih berseri adalah al-Jamā'ah, sedangkan orang-orang yang wajahnya hitam adalah para pengikut hawa nafsu (ahlul ahwa')."

Dengan demikian Rasulullah menjelaskan bahwa di dalam umat ini akan terdapat banyak pengikut hawa nafsu yang secara lahiriah dinisbatkan kepada umat Islam. Akan tetapi, pada hakikat keimanan mereka berbeda dengan kaum mukminin yang lurus, meskipun secara lahir mereka tampak sebagai bagian dari kaum muslimin.

Karena itu setiap mukmin harus mengetahui keadaan mereka agar dapat membedakan dirinya dari mereka serta menjaga akidahnya dari berbagai bid'ah yang mereka anut.

Janganlah ia menjadi seperti orang yang digambarkan Allah dalam firman-Nya:

"Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah melainkan mereka masih mempersekutukan-Nya." (QS. Yusuf: 106)

Rasulullah juga bersabda:

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji zarrah. Dan tidak akan kekal di dalam neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman walaupun sebesar biji zarrah."

Keimanan sebesar biji zarrah itu hanya dapat diperoleh melalui keyakinan yang benar dan bersih dari seluruh campuran bid'ah, penyimpangan, berbagai bentuk kekafiran, dan kesesatan.

Selama seseorang belum memahami berbagai bentuk bid'ah beserta para pengikutnya, maka ia belum memiliki pemahaman yang sempurna mengenai hakikat iman yang murni dan terbebas dari seluruh penyimpangan tersebut.

Sabda Rasulullah adalah benar, dan janji beliau pasti akan terjadi.

Apa yang beliau beritakan mengenai munculnya berbagai kelompok sesat di tengah kaum muslimin pasti akan menjadi kenyataan.

Artikel Pengembangan

Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini menegaskan kembali bahwa menjaga akidah bukan sekadar mempertahankan identitas sebagai seorang muslim, tetapi menjaga kemurnian keyakinan yang menjadi dasar diterimanya seluruh amal ibadah. Oleh karena itu beliau menghubungkan pembahasan tentang firqah-firqah dengan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis Nabi .

Hadis yang menjelaskan tentang wajah-wajah yang putih dan wajah-wajah yang hitam dipahami oleh Imam Al-Isfarayini sebagai penegasan bahwa keselamatan pada hari kiamat berkaitan erat dengan keteguhan seseorang dalam mengikuti jalan yang benar. Beliau mengutip riwayat yang menafsirkan bahwa wajah yang putih adalah milik al-Jamā'ah, yakni kaum yang tetap berpegang teguh kepada ajaran Rasulullah dan para sahabatnya, sedangkan wajah yang hitam adalah milik para pengikut hawa nafsu yang menyimpang dari petunjuk tersebut.

Selanjutnya, Imam Al-Isfarayini mengingatkan bahwa penyimpangan tidak selalu tampak secara lahiriah. Seseorang dapat mengaku sebagai muslim, melaksanakan ibadah, bahkan berada di tengah masyarakat Islam, tetapi memiliki keyakinan yang bertentangan dengan ajaran yang dibawa Rasulullah . Karena itulah beliau menekankan pentingnya ilmu agar seorang mukmin mampu membedakan antara ajaran yang benar dan ajaran yang menyimpang.

Beliau juga menghubungkan pembahasan ini dengan hadis mengenai iman dan kesombongan. Hadis tersebut menunjukkan bahwa iman, meskipun hanya sebesar biji zarrah, memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah. Akan tetapi, menurut penjelasan Imam Al-Isfarayini, iman tersebut harus dibangun di atas akidah yang benar dan bersih dari berbagai bentuk penyimpangan. Bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan keyakinan yang sesuai dengan tuntunan wahyu.

Ungkapan beliau bahwa "iman sebesar zarrah hanya diperoleh dengan keyakinan yang benar" menunjukkan bahwa kualitas iman tidak hanya ditentukan oleh banyaknya amal, tetapi juga oleh kemurnian akidah. Amal yang banyak tidak akan bernilai sebagaimana mestinya apabila dibangun di atas keyakinan yang rusak.

Pada akhir pembahasan ini beliau kembali mengingatkan bahwa berita Rasulullah mengenai munculnya kelompok-kelompok sesat merupakan kabar yang pasti terjadi. Karena itu, umat Islam tidak seharusnya terkejut ketika melihat munculnya berbagai pemikiran yang menyimpang dari Al-Qur'an dan Sunnah. Yang menjadi kewajiban adalah mempersiapkan diri dengan ilmu, memperdalam pemahaman agama, serta senantiasa mengembalikan seluruh persoalan kepada Al-Qur'an, Sunnah, dan penjelasan para ulama Ahlus Sunnah yang terpercaya.

Hikmah

  • Kemurnian akidah merupakan syarat utama kesempurnaan iman.
  • Tidak semua orang yang mengaku muslim memiliki keyakinan yang sesuai dengan ajaran Rasulullah .
  • Mengenal penyimpangan merupakan bagian dari menjaga kemurnian agama.
  • Ilmu akidah menjadi benteng yang melindungi seorang mukmin dari berbagai bentuk bid'ah dan hawa nafsu.
  • Iman yang benar harus bersih dari syirik, kekufuran, dan keyakinan yang bertentangan dengan Al-Qur'an serta Sunnah.
  • Kabar Rasulullah tentang munculnya kelompok-kelompok yang menyimpang menjadi peringatan agar setiap muslim senantiasa berpegang teguh pada petunjuk beliau dan para sahabat.

Penutup

Imam Al-Isfarayini mengajarkan bahwa menjaga iman tidak cukup dengan memperbanyak amal saleh, tetapi juga harus disertai dengan menjaga kemurnian akidah. Seorang mukmin dituntut mengenal jalan kebenaran sekaligus memahami berbagai bentuk penyimpangan agar tidak terjerumus ke dalamnya. Dengan berbekal ilmu yang benar, seseorang akan mampu membedakan antara petunjuk dan hawa nafsu, sehingga tetap teguh di atas jalan yang ditempuh Rasulullah beserta para sahabatnya. Inilah jalan yang menjadi sebab keselamatan di dunia dan kebahagiaan pada hari ketika wajah-wajah orang beriman dipenuhi cahaya karena keteguhan mereka dalam memegang kebenaran.

Teks Arab :

وروى عبد الله بن عمر بن الْخطاب أَن النَّبِي ﷺ قَالَ فِي تَفْسِير قَوْله تَعَالَى يَوْم تبيض وُجُوه وَتسود وُجُوه فَأَما الَّذين اسودت وُجُوههم أكفرتم بعد إيمَانكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَاب بِمَا كُنْتُم تكفرون إِن الَّذين ابْيَضَّتْ وُجُوههم هم الْجَمَاعَة وَالَّذين اسودت وُجُوههم أهل الْأَهْوَاء فَبين رَسُول الله ﷺ أَن هَذِه الْأمة يلبس بهَا وينسب إِلَى جُمْلَتهَا كثير من أهل الْأَهْوَاء يفارقونهم فِي حَقِيقَة الْإِيمَان وَإِن كَانُوا يلتبسون بهم فِي ظَاهر الْحَال فَلَا بُد لِلْمُؤمنِ من أَن يعرف حَالهم حَتَّى يتَمَيَّز عَنْهُم ويصون عقيدته عَمَّا هم عَلَيْهِ من الْبدع وَلَا يكون كمن وَصفه الله حَيْثُ قَالَ ﴿وَمَا يُؤمن أَكْثَرهم بِاللَّه إِلَّا وهم مشركون﴾ وَقد قَالَ رَسُول الله ﷺ لَا يدْخل الْجنَّة من كَانَ فِي قلبه مِثْقَال ذرة من الْكبر وَلَا يبْقى فِي النَّار من كَانَ فِي قلبه مِثْقَال ذرة من الْإِيمَان وَإِنَّمَا يحصل مِثْقَال ذرة من الْإِيمَان بإعتقاد صَحِيح سليم عَن جَمِيع شوائب الْبدع والإلحاد وأنواع الْكفْر وَمَا لم يتَبَيَّن الْعَاقِل أَوْصَاف الْبدع وَأَهْلهَا لم يَتَقَرَّر لَهُ حَقِيقَة الْإِيمَان المستخلص عَن جَمِيعهَا وَكَلَام النَّبِي ﷺ صدق ووعده حق وَهَذَا الَّذِي أخبر عَن وجود فرق الضلال فِيمَا بَين الْمُسلمين لَا محَالة كَائِن

Baca juga:

Mengapa Umat Islam Terpecah Menjadi 73 Golongan?Penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang Golongan yang Selamat

Hakikat Mengenal Allah Menurut Imam Al-Isfarayini:Pondasi Iman Melalui Penafian dan Penetapan Sifat-Sifat Kesempurnaan

Tujuan Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn: Mengapa Imam Al-Isfarayini Menulis tentang Akidah dan Kelompok-Kelompok Menyimpang?

Imam Al-Isfarayini menjelaskan pentingnya akidah yang benar, bahaya bid'ah, dan alasan seorang muslim harus mengenal penyimpangan akidah

Pendahuluan

Keimanan yang benar bukan hanya diukur dari pengakuan lisan atau banyaknya amal ibadah, tetapi juga dari kemurnian keyakinan yang tertanam di dalam hati. Karena itulah para ulama Ahlus Sunnah sejak generasi awal selalu menaruh perhatian besar terhadap pembahasan akidah. Mereka menjelaskan bukan hanya prinsip-prinsip keimanan, tetapi juga berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merusak kemurnian tauhid.

Dalam bagian kitab ini, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini memperkuat pembahasan sebelumnya dengan mengutip beberapa hadis Rasulullah yang menjelaskan ciri-ciri golongan yang lurus, pentingnya menjauhi hawa nafsu dalam beragama, serta keharusan mengenal berbagai bentuk bid'ah agar seorang mukmin tidak terjerumus ke dalamnya. Beliau juga menegaskan bahwa munculnya kelompok-kelompok sesat di tengah umat Islam merupakan kenyataan yang telah diberitakan oleh Rasulullah .

Sumber Rujukan

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini adalah salah seorang imam besar Ahlus Sunnah wal Jamaah dari kalangan mazhab Syafi'i yang hidup pada abad ke-5 Hijriah. Beliau dikenal sebagai ahli ilmu kalam, ushuluddin, dan pembela akidah Ahlus Sunnah. Karyanya At-Tabṣīr fī ad-Dīn menjadi salah satu kitab klasik yang membahas prinsip-prinsip akidah Islam sekaligus menguraikan berbagai kelompok yang muncul dalam sejarah umat Islam beserta pandangan mereka.

Tema

Kemurnian Akidah sebagai Syarat Kesempurnaan Iman dan Pentingnya Mengenal Bid'ah serta Kelompok-Kelompok Penyimpang

Terjemahan Lengkap

Imam Al-Isfarayini berkata:

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar رضي الله عنه bahwa Nabi menjelaskan firman Allah Ta'ala:

"Pada hari ketika ada wajah-wajah yang menjadi putih berseri dan ada wajah-wajah yang menjadi hitam muram. Adapun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: 'Apakah kalian kafir setelah beriman? Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiran yang dahulu kalian lakukan.'" (QS. Ali 'Imran: 106)

Beliau bersabda:

"Orang-orang yang wajahnya putih berseri adalah al-Jamā'ah, sedangkan orang-orang yang wajahnya hitam adalah para pengikut hawa nafsu (ahlul ahwa')."

Dengan demikian Rasulullah menjelaskan bahwa di dalam umat ini akan terdapat banyak pengikut hawa nafsu yang secara lahiriah dinisbatkan kepada umat Islam. Akan tetapi, pada hakikat keimanan mereka berbeda dengan kaum mukminin yang lurus, meskipun secara lahir mereka tampak sebagai bagian dari kaum muslimin.

Karena itu setiap mukmin harus mengetahui keadaan mereka agar dapat membedakan dirinya dari mereka serta menjaga akidahnya dari berbagai bid'ah yang mereka anut.

Janganlah ia menjadi seperti orang yang digambarkan Allah dalam firman-Nya:

"Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah melainkan mereka masih mempersekutukan-Nya." (QS. Yusuf: 106)

Rasulullah juga bersabda:

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji zarrah. Dan tidak akan kekal di dalam neraka orang yang di dalam hatinya terdapat iman walaupun sebesar biji zarrah."

Keimanan sebesar biji zarrah itu hanya dapat diperoleh melalui keyakinan yang benar dan bersih dari seluruh campuran bid'ah, penyimpangan, berbagai bentuk kekafiran, dan kesesatan.

Selama seseorang belum memahami berbagai bentuk bid'ah beserta para pengikutnya, maka ia belum memiliki pemahaman yang sempurna mengenai hakikat iman yang murni dan terbebas dari seluruh penyimpangan tersebut.

Sabda Rasulullah adalah benar, dan janji beliau pasti akan terjadi.

Apa yang beliau beritakan mengenai munculnya berbagai kelompok sesat di tengah kaum muslimin pasti akan menjadi kenyataan.

Artikel Pengembangan

Pada bagian ini Imam Al-Isfarayini menegaskan kembali bahwa menjaga akidah bukan sekadar mempertahankan identitas sebagai seorang muslim, tetapi menjaga kemurnian keyakinan yang menjadi dasar diterimanya seluruh amal ibadah. Oleh karena itu beliau menghubungkan pembahasan tentang firqah-firqah dengan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis Nabi .

Hadis yang menjelaskan tentang wajah-wajah yang putih dan wajah-wajah yang hitam dipahami oleh Imam Al-Isfarayini sebagai penegasan bahwa keselamatan pada hari kiamat berkaitan erat dengan keteguhan seseorang dalam mengikuti jalan yang benar. Beliau mengutip riwayat yang menafsirkan bahwa wajah yang putih adalah milik al-Jamā'ah, yakni kaum yang tetap berpegang teguh kepada ajaran Rasulullah dan para sahabatnya, sedangkan wajah yang hitam adalah milik para pengikut hawa nafsu yang menyimpang dari petunjuk tersebut.

Selanjutnya, Imam Al-Isfarayini mengingatkan bahwa penyimpangan tidak selalu tampak secara lahiriah. Seseorang dapat mengaku sebagai muslim, melaksanakan ibadah, bahkan berada di tengah masyarakat Islam, tetapi memiliki keyakinan yang bertentangan dengan ajaran yang dibawa Rasulullah . Karena itulah beliau menekankan pentingnya ilmu agar seorang mukmin mampu membedakan antara ajaran yang benar dan ajaran yang menyimpang.

Beliau juga menghubungkan pembahasan ini dengan hadis mengenai iman dan kesombongan. Hadis tersebut menunjukkan bahwa iman, meskipun hanya sebesar biji zarrah, memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah. Akan tetapi, menurut penjelasan Imam Al-Isfarayini, iman tersebut harus dibangun di atas akidah yang benar dan bersih dari berbagai bentuk penyimpangan. Bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan keyakinan yang sesuai dengan tuntunan wahyu.

Ungkapan beliau bahwa "iman sebesar zarrah hanya diperoleh dengan keyakinan yang benar" menunjukkan bahwa kualitas iman tidak hanya ditentukan oleh banyaknya amal, tetapi juga oleh kemurnian akidah. Amal yang banyak tidak akan bernilai sebagaimana mestinya apabila dibangun di atas keyakinan yang rusak.

Pada akhir pembahasan ini beliau kembali mengingatkan bahwa berita Rasulullah mengenai munculnya kelompok-kelompok sesat merupakan kabar yang pasti terjadi. Karena itu, umat Islam tidak seharusnya terkejut ketika melihat munculnya berbagai pemikiran yang menyimpang dari Al-Qur'an dan Sunnah. Yang menjadi kewajiban adalah mempersiapkan diri dengan ilmu, memperdalam pemahaman agama, serta senantiasa mengembalikan seluruh persoalan kepada Al-Qur'an, Sunnah, dan penjelasan para ulama Ahlus Sunnah yang terpercaya.

Hikmah

  • Kemurnian akidah merupakan syarat utama kesempurnaan iman.
  • Tidak semua orang yang mengaku muslim memiliki keyakinan yang sesuai dengan ajaran Rasulullah .
  • Mengenal penyimpangan merupakan bagian dari menjaga kemurnian agama.
  • Ilmu akidah menjadi benteng yang melindungi seorang mukmin dari berbagai bentuk bid'ah dan hawa nafsu.
  • Iman yang benar harus bersih dari syirik, kekufuran, dan keyakinan yang bertentangan dengan Al-Qur'an serta Sunnah.
  • Kabar Rasulullah tentang munculnya kelompok-kelompok yang menyimpang menjadi peringatan agar setiap muslim senantiasa berpegang teguh pada petunjuk beliau dan para sahabat.

Penutup

Imam Al-Isfarayini mengajarkan bahwa menjaga iman tidak cukup dengan memperbanyak amal saleh, tetapi juga harus disertai dengan menjaga kemurnian akidah. Seorang mukmin dituntut mengenal jalan kebenaran sekaligus memahami berbagai bentuk penyimpangan agar tidak terjerumus ke dalamnya. Dengan berbekal ilmu yang benar, seseorang akan mampu membedakan antara petunjuk dan hawa nafsu, sehingga tetap teguh di atas jalan yang ditempuh Rasulullah beserta para sahabatnya. Inilah jalan yang menjadi sebab keselamatan di dunia dan kebahagiaan pada hari ketika wajah-wajah orang beriman dipenuhi cahaya karena keteguhan mereka dalam memegang kebenaran.

Teks Arab :

وروى عبد الله بن عمر بن الْخطاب أَن النَّبِي ﷺ قَالَ فِي تَفْسِير قَوْله تَعَالَى يَوْم تبيض وُجُوه وَتسود وُجُوه فَأَما الَّذين اسودت وُجُوههم أكفرتم بعد إيمَانكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَاب بِمَا كُنْتُم تكفرون إِن الَّذين ابْيَضَّتْ وُجُوههم هم الْجَمَاعَة وَالَّذين اسودت وُجُوههم أهل الْأَهْوَاء فَبين رَسُول الله ﷺ أَن هَذِه الْأمة يلبس بهَا وينسب إِلَى جُمْلَتهَا كثير من أهل الْأَهْوَاء يفارقونهم فِي حَقِيقَة الْإِيمَان وَإِن كَانُوا يلتبسون بهم فِي ظَاهر الْحَال فَلَا بُد لِلْمُؤمنِ من أَن يعرف حَالهم حَتَّى يتَمَيَّز عَنْهُم ويصون عقيدته عَمَّا هم عَلَيْهِ من الْبدع وَلَا يكون كمن وَصفه الله حَيْثُ قَالَ ﴿وَمَا يُؤمن أَكْثَرهم بِاللَّه إِلَّا وهم مشركون﴾ وَقد قَالَ رَسُول الله ﷺ لَا يدْخل الْجنَّة من كَانَ فِي قلبه مِثْقَال ذرة من الْكبر وَلَا يبْقى فِي النَّار من كَانَ فِي قلبه مِثْقَال ذرة من الْإِيمَان وَإِنَّمَا يحصل مِثْقَال ذرة من الْإِيمَان بإعتقاد صَحِيح سليم عَن جَمِيع شوائب الْبدع والإلحاد وأنواع الْكفْر وَمَا لم يتَبَيَّن الْعَاقِل أَوْصَاف الْبدع وَأَهْلهَا لم يَتَقَرَّر لَهُ حَقِيقَة الْإِيمَان المستخلص عَن جَمِيعهَا وَكَلَام النَّبِي ﷺ صدق ووعده حق وَهَذَا الَّذِي أخبر عَن وجود فرق الضلال فِيمَا بَين الْمُسلمين لَا محَالة كَائِن

Baca juga:

Mengapa Umat Islam Terpecah Menjadi 73 Golongan?Penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang Golongan yang Selamat

Hakikat Mengenal Allah Menurut Imam Al-Isfarayini:Pondasi Iman Melalui Penafian dan Penetapan Sifat-Sifat Kesempurnaan

Tujuan Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn: Mengapa Imam Al-Isfarayini Menulis tentang Akidah dan Kelompok-Kelompok Menyimpang?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Mengapa Imam Al-Ghazali Menulis Tahafut al-Falasifah? Tujuan Membantah Kekeliruan Para Filsuf

Pendahuluan Setelah menjelaskan sebab-sebab sebagian orang terpengaruh oleh filsafat, Imam Al-Ghazali mengungkapkan tujuan utama penulis...