Mengapa Kita Mencintai Seseorang? Penjelasan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin (02/05/17)

Terjemahan Ihya Ulumuddin tentang hakikat cinta kepada seseorang, keindahan lahir batin, dan kesesuaian hati menurut Imam Al-Ghazali

Pendahuluan

Mengapa seseorang mencintai orang lain? Apakah karena wajah yang tampan, akhlak yang mulia, kecerdasan, atau ada sebab lain yang lebih dalam? Pertanyaan ini telah dijawab oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin melalui pembahasan tentang hakikat cinta (mahabbah).

Beliau menjelaskan bahwa cinta tidak selalu lahir karena adanya manfaat atau kepentingan. Ada cinta yang muncul semata-mata karena seseorang memiliki keindahan yang dapat dinikmati oleh hati dan akal. Bahkan, terkadang dua hati saling mencintai tanpa mengetahui sebab yang tampak. Semua itu berkaitan dengan keserasian fitrah dan kesesuaian tabiat yang Allah tanamkan dalam diri manusia.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), yang dikenal dengan gelar Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang akhlak, tasawuf, fikih, dan filsafat Islam.

Tema : Hakikat cinta kepada seseorang karena dirinya sendiri, keindahan lahir dan batin, serta keserasian hati menurut Imam Al-Ghazali.

Teks Arab

أما ؛ القسم الأول وهو حبك الإنسان لذاته  فذلك ممكن ، وهو أن يكون في ذاته محبوبا عندك على معنى أنك تلتذ برؤيته ومعرفته ومشاهدة أخلاقه لاستحسانك له فإن كل جميل لذيذ في حق من أدرك جماله وكل لذيذ محبوب .

واللذة تتبع الاستحسان والاستحسان يتبع المناسبة والملاءمة والموافقة بين الطباع ثم ذلك المستحسن إما أن يكون هو الصورة الظاهرة ، أعني حسن الخلقة وإما أن يكون هو الصورة الباطنة أعني كمال العقل وحسن الأخلاق ويتبع حسن الأخلاق حسن الأفعال  لا محالة ويتبع كمال العقل غزارة العلم ، وكل ذلك مستحسن عند الطبع السليم والعقل المستقيم وكل مستحسن فمستلذ به ومحبوب ، بل في ائتلاف القلوب أمر أغمض من هذا فإنه قد تستحكم المودة بين شخصين من غير ملاحة في صورة ولا حسن في خلق وخلق ولكن لمناسبة توجب الألفة والموافقة ، فإن شبه الشيء ينجذب إليه بالطبع .

Terjemahan Lengkap

Adapun jenis pertama, yaitu seseorang mencintai orang lain karena dirinya sendiri, maka hal itu sangat mungkin terjadi.

Maksudnya ialah seseorang menjadi dicintai karena dirinya memang menghadirkan kenikmatan ketika dilihat, dikenal, atau diperhatikan akhlaknya, sebab orang yang mencintainya memandang dirinya indah dan baik.

Segala sesuatu yang indah akan terasa nikmat bagi orang yang mampu menangkap keindahannya, dan setiap sesuatu yang memberikan kenikmatan tentu akan dicintai.

Kenikmatan muncul karena adanya rasa kagum terhadap keindahan. Rasa kagum itu lahir dari adanya kesesuaian, kecocokan, dan keharmonisan antara tabiat seseorang dengan sesuatu yang dicintainya.

Keindahan yang dikagumi itu ada dua macam.

Pertama, keindahan lahir, yaitu keelokan rupa dan bentuk fisik.

Kedua, keindahan batin, yaitu kesempurnaan akal dan kemuliaan akhlak.

Dari akhlak yang baik akan lahir perbuatan-perbuatan yang baik.

Sedangkan dari kesempurnaan akal akan lahir keluasan ilmu pengetahuan.

Semua itu merupakan sesuatu yang dipandang indah oleh fitrah yang sehat dan akal yang lurus.

Segala sesuatu yang dipandang indah akan memberikan kenikmatan, dan sesuatu yang memberikan kenikmatan akan dicintai.

Bahkan, dalam pertautan hati terdapat rahasia yang lebih dalam daripada itu.

Terkadang terjalin kasih sayang yang sangat kuat antara dua orang, padahal salah satunya tidak memiliki ketampanan wajah, tidak pula keistimewaan fisik ataupun akhlak yang menonjol. Hal itu terjadi karena adanya kecocokan batin yang melahirkan keakraban dan keserasian.

Sebab, sesuatu yang memiliki kesamaan tabiat akan cenderung saling tertarik secara alami.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cinta merupakan bagian dari fitrah manusia. Seseorang dapat mencintai orang lain bukan semata-mata karena manfaat yang diperoleh darinya, tetapi karena ia melihat adanya keindahan yang membuat hati merasa tenteram.

Keindahan menurut beliau tidak terbatas pada penampilan fisik. Bahkan, keindahan batin berupa akhlak yang mulia, kecerdasan, kebijaksanaan, ilmu, dan kepribadian jauh lebih bernilai daripada sekadar keelokan rupa.

Di akhir pembahasan, Imam Al-Ghazali mengungkap adanya rahasia lain dalam hubungan antarmanusia, yaitu munāsabah (kesesuaian batin). Ada orang yang baru bertemu, tetapi langsung merasa akrab. Sebaliknya, ada pula yang sering bertemu namun tetap merasa jauh. Hal ini merupakan bagian dari tabiat yang Allah ciptakan pada jiwa manusia.

Artikel Pengembangan

Keindahan Tidak Selalu Berarti Wajah yang Menarik

Dalam kehidupan modern, banyak orang menganggap bahwa daya tarik seseorang hanya ditentukan oleh penampilan fisik. Padahal, Imam Al-Ghazali telah menjelaskan berabad-abad yang lalu bahwa keindahan memiliki dimensi yang jauh lebih luas.

Seseorang mungkin tidak memiliki wajah yang sangat tampan atau cantik, tetapi tutur katanya lembut, ilmunya luas, akhlaknya mulia, dan sikapnya penuh kasih. Keindahan seperti ini justru lebih kuat mengikat hati dan lebih lama bertahan daripada kecantikan fisik.

Akhlak Adalah Magnet Persahabatan

Akhlak yang baik melahirkan perbuatan baik. Orang yang jujur, amanah, rendah hati, dan suka menolong biasanya lebih mudah dicintai banyak orang.

Sebaliknya, seseorang yang memiliki rupa menarik tetapi kasar, sombong, dan suka menyakiti orang lain akan kehilangan daya tariknya dalam jangka panjang.

Inilah sebabnya Rasulullah sangat menekankan penyempurnaan akhlak sebagai bagian utama dari kesempurnaan iman.

Mengapa Ada Orang yang Langsung Cocok?

Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi dua orang baru bertemu tetapi langsung merasa akrab. Sebaliknya, ada pula hubungan yang terasa kaku meskipun sudah lama saling mengenal.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu sebabnya adalah adanya kesesuaian tabiat atau kecocokan jiwa. Kesamaan nilai, cara berpikir, tujuan hidup, dan karakter membuat hati lebih mudah menyatu.

Namun, kesesuaian ini hendaknya tetap diarahkan kepada kebaikan. Jangan sampai seseorang merasa cocok dengan lingkungan yang mengajak kepada kemaksiatan. Kecocokan yang paling mulia adalah kecocokan dalam iman, ilmu, dan amal saleh.

Penjelasan

Hakikat cinta menurut Imam Al-Ghazali menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk mencintai keindahan. Akan tetapi, Islam mengarahkan agar keindahan yang dicari tidak berhenti pada fisik semata, melainkan juga keindahan hati, ilmu, akhlak, dan kedekatan kepada Allah. Dengan demikian, hubungan antarmanusia menjadi lebih kokoh dan bernilai ibadah.

Contoh

Seorang guru di sekolah tidak memiliki penampilan yang mencolok. Namun, karena kelembutan tutur katanya, keluasan ilmunya, kesabarannya dalam mengajar, dan kejujurannya, para murid sangat menghormati dan mencintainya. Kecintaan itu lahir dari keindahan batin yang terpancar melalui akhlaknya.

Contoh lain, dua orang bertemu dalam sebuah majelis ilmu. Mereka memiliki semangat yang sama untuk belajar agama dan memperbaiki diri. Meskipun baru saling mengenal, keduanya segera akrab karena memiliki tujuan hidup dan nilai yang sejalan.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cinta kepada seseorang dapat muncul karena dirinya sendiri, bukan semata-mata karena manfaat yang diberikannya. Keindahan lahir memang dapat menarik perhatian, tetapi keindahan batin berupa akhlak, ilmu, dan kebijaksanaan jauh lebih kuat memikat hati. Selain itu, kesesuaian tabiat dan nilai hidup juga menjadi sebab lahirnya persahabatan yang erat.

Hikmah

  • Cinta merupakan fitrah yang Allah tanamkan dalam hati manusia.
  • Keindahan batin lebih bernilai daripada keindahan fisik semata.
  • Akhlak mulia menjadi sebab seseorang dicintai banyak orang.
  • Ilmu dan kebijaksanaan termasuk bentuk keindahan yang memikat hati.
  • Persahabatan yang kuat sering lahir dari kesamaan nilai dan tujuan hidup.
  • Kesesuaian hati hendaknya diarahkan kepada kebaikan dan ketakwaan.
  • Ukhuwah yang dibangun di atas akhlak dan iman akan lebih langgeng daripada hubungan yang didasarkan pada kepentingan dunia.

Penutup

Melalui penjelasan yang mendalam, Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa cinta sejati tidak dibangun di atas penampilan lahir semata, melainkan pada keindahan jiwa yang memancarkan ilmu, akhlak, dan ketakwaan. Ketika hati bertemu dalam nilai-nilai kebaikan dan tujuan mencari ridha Allah, lahirlah persaudaraan yang kokoh, saling menguatkan, dan menjadi bekal menuju kebahagiaan dunia serta akhirat. Oleh karena itu, hendaknya kita memperindah hati dan akhlak, karena itulah keindahan yang paling abadi dan paling dicintai manusia maupun Allah.

Baca Juga :

Makna Persaudaraankarena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin Lengkap

KeutamaanMengunjungi Saudara Seiman: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Ukhuwah dan Tawadu’

Hakikat Pertemuan Ruh Menurut Imam Al-Ghazali: Mengapa Ada Orang yang Langsung Cocok?

Terjemahan Ihya Ulumuddin tentang hakikat cinta kepada seseorang, keindahan lahir batin, dan kesesuaian hati menurut Imam Al-Ghazali

Pendahuluan

Mengapa seseorang mencintai orang lain? Apakah karena wajah yang tampan, akhlak yang mulia, kecerdasan, atau ada sebab lain yang lebih dalam? Pertanyaan ini telah dijawab oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin melalui pembahasan tentang hakikat cinta (mahabbah).

Beliau menjelaskan bahwa cinta tidak selalu lahir karena adanya manfaat atau kepentingan. Ada cinta yang muncul semata-mata karena seseorang memiliki keindahan yang dapat dinikmati oleh hati dan akal. Bahkan, terkadang dua hati saling mencintai tanpa mengetahui sebab yang tampak. Semua itu berkaitan dengan keserasian fitrah dan kesesuaian tabiat yang Allah tanamkan dalam diri manusia.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), yang dikenal dengan gelar Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang akhlak, tasawuf, fikih, dan filsafat Islam.

Tema : Hakikat cinta kepada seseorang karena dirinya sendiri, keindahan lahir dan batin, serta keserasian hati menurut Imam Al-Ghazali.

Teks Arab

أما ؛ القسم الأول وهو حبك الإنسان لذاته  فذلك ممكن ، وهو أن يكون في ذاته محبوبا عندك على معنى أنك تلتذ برؤيته ومعرفته ومشاهدة أخلاقه لاستحسانك له فإن كل جميل لذيذ في حق من أدرك جماله وكل لذيذ محبوب .

واللذة تتبع الاستحسان والاستحسان يتبع المناسبة والملاءمة والموافقة بين الطباع ثم ذلك المستحسن إما أن يكون هو الصورة الظاهرة ، أعني حسن الخلقة وإما أن يكون هو الصورة الباطنة أعني كمال العقل وحسن الأخلاق ويتبع حسن الأخلاق حسن الأفعال  لا محالة ويتبع كمال العقل غزارة العلم ، وكل ذلك مستحسن عند الطبع السليم والعقل المستقيم وكل مستحسن فمستلذ به ومحبوب ، بل في ائتلاف القلوب أمر أغمض من هذا فإنه قد تستحكم المودة بين شخصين من غير ملاحة في صورة ولا حسن في خلق وخلق ولكن لمناسبة توجب الألفة والموافقة ، فإن شبه الشيء ينجذب إليه بالطبع .

Terjemahan Lengkap

Adapun jenis pertama, yaitu seseorang mencintai orang lain karena dirinya sendiri, maka hal itu sangat mungkin terjadi.

Maksudnya ialah seseorang menjadi dicintai karena dirinya memang menghadirkan kenikmatan ketika dilihat, dikenal, atau diperhatikan akhlaknya, sebab orang yang mencintainya memandang dirinya indah dan baik.

Segala sesuatu yang indah akan terasa nikmat bagi orang yang mampu menangkap keindahannya, dan setiap sesuatu yang memberikan kenikmatan tentu akan dicintai.

Kenikmatan muncul karena adanya rasa kagum terhadap keindahan. Rasa kagum itu lahir dari adanya kesesuaian, kecocokan, dan keharmonisan antara tabiat seseorang dengan sesuatu yang dicintainya.

Keindahan yang dikagumi itu ada dua macam.

Pertama, keindahan lahir, yaitu keelokan rupa dan bentuk fisik.

Kedua, keindahan batin, yaitu kesempurnaan akal dan kemuliaan akhlak.

Dari akhlak yang baik akan lahir perbuatan-perbuatan yang baik.

Sedangkan dari kesempurnaan akal akan lahir keluasan ilmu pengetahuan.

Semua itu merupakan sesuatu yang dipandang indah oleh fitrah yang sehat dan akal yang lurus.

Segala sesuatu yang dipandang indah akan memberikan kenikmatan, dan sesuatu yang memberikan kenikmatan akan dicintai.

Bahkan, dalam pertautan hati terdapat rahasia yang lebih dalam daripada itu.

Terkadang terjalin kasih sayang yang sangat kuat antara dua orang, padahal salah satunya tidak memiliki ketampanan wajah, tidak pula keistimewaan fisik ataupun akhlak yang menonjol. Hal itu terjadi karena adanya kecocokan batin yang melahirkan keakraban dan keserasian.

Sebab, sesuatu yang memiliki kesamaan tabiat akan cenderung saling tertarik secara alami.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cinta merupakan bagian dari fitrah manusia. Seseorang dapat mencintai orang lain bukan semata-mata karena manfaat yang diperoleh darinya, tetapi karena ia melihat adanya keindahan yang membuat hati merasa tenteram.

Keindahan menurut beliau tidak terbatas pada penampilan fisik. Bahkan, keindahan batin berupa akhlak yang mulia, kecerdasan, kebijaksanaan, ilmu, dan kepribadian jauh lebih bernilai daripada sekadar keelokan rupa.

Di akhir pembahasan, Imam Al-Ghazali mengungkap adanya rahasia lain dalam hubungan antarmanusia, yaitu munāsabah (kesesuaian batin). Ada orang yang baru bertemu, tetapi langsung merasa akrab. Sebaliknya, ada pula yang sering bertemu namun tetap merasa jauh. Hal ini merupakan bagian dari tabiat yang Allah ciptakan pada jiwa manusia.

Artikel Pengembangan

Keindahan Tidak Selalu Berarti Wajah yang Menarik

Dalam kehidupan modern, banyak orang menganggap bahwa daya tarik seseorang hanya ditentukan oleh penampilan fisik. Padahal, Imam Al-Ghazali telah menjelaskan berabad-abad yang lalu bahwa keindahan memiliki dimensi yang jauh lebih luas.

Seseorang mungkin tidak memiliki wajah yang sangat tampan atau cantik, tetapi tutur katanya lembut, ilmunya luas, akhlaknya mulia, dan sikapnya penuh kasih. Keindahan seperti ini justru lebih kuat mengikat hati dan lebih lama bertahan daripada kecantikan fisik.

Akhlak Adalah Magnet Persahabatan

Akhlak yang baik melahirkan perbuatan baik. Orang yang jujur, amanah, rendah hati, dan suka menolong biasanya lebih mudah dicintai banyak orang.

Sebaliknya, seseorang yang memiliki rupa menarik tetapi kasar, sombong, dan suka menyakiti orang lain akan kehilangan daya tariknya dalam jangka panjang.

Inilah sebabnya Rasulullah sangat menekankan penyempurnaan akhlak sebagai bagian utama dari kesempurnaan iman.

Mengapa Ada Orang yang Langsung Cocok?

Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi dua orang baru bertemu tetapi langsung merasa akrab. Sebaliknya, ada pula hubungan yang terasa kaku meskipun sudah lama saling mengenal.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu sebabnya adalah adanya kesesuaian tabiat atau kecocokan jiwa. Kesamaan nilai, cara berpikir, tujuan hidup, dan karakter membuat hati lebih mudah menyatu.

Namun, kesesuaian ini hendaknya tetap diarahkan kepada kebaikan. Jangan sampai seseorang merasa cocok dengan lingkungan yang mengajak kepada kemaksiatan. Kecocokan yang paling mulia adalah kecocokan dalam iman, ilmu, dan amal saleh.

Penjelasan

Hakikat cinta menurut Imam Al-Ghazali menunjukkan bahwa manusia diciptakan untuk mencintai keindahan. Akan tetapi, Islam mengarahkan agar keindahan yang dicari tidak berhenti pada fisik semata, melainkan juga keindahan hati, ilmu, akhlak, dan kedekatan kepada Allah. Dengan demikian, hubungan antarmanusia menjadi lebih kokoh dan bernilai ibadah.

Contoh

Seorang guru di sekolah tidak memiliki penampilan yang mencolok. Namun, karena kelembutan tutur katanya, keluasan ilmunya, kesabarannya dalam mengajar, dan kejujurannya, para murid sangat menghormati dan mencintainya. Kecintaan itu lahir dari keindahan batin yang terpancar melalui akhlaknya.

Contoh lain, dua orang bertemu dalam sebuah majelis ilmu. Mereka memiliki semangat yang sama untuk belajar agama dan memperbaiki diri. Meskipun baru saling mengenal, keduanya segera akrab karena memiliki tujuan hidup dan nilai yang sejalan.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cinta kepada seseorang dapat muncul karena dirinya sendiri, bukan semata-mata karena manfaat yang diberikannya. Keindahan lahir memang dapat menarik perhatian, tetapi keindahan batin berupa akhlak, ilmu, dan kebijaksanaan jauh lebih kuat memikat hati. Selain itu, kesesuaian tabiat dan nilai hidup juga menjadi sebab lahirnya persahabatan yang erat.

Hikmah

  • Cinta merupakan fitrah yang Allah tanamkan dalam hati manusia.
  • Keindahan batin lebih bernilai daripada keindahan fisik semata.
  • Akhlak mulia menjadi sebab seseorang dicintai banyak orang.
  • Ilmu dan kebijaksanaan termasuk bentuk keindahan yang memikat hati.
  • Persahabatan yang kuat sering lahir dari kesamaan nilai dan tujuan hidup.
  • Kesesuaian hati hendaknya diarahkan kepada kebaikan dan ketakwaan.
  • Ukhuwah yang dibangun di atas akhlak dan iman akan lebih langgeng daripada hubungan yang didasarkan pada kepentingan dunia.

Penutup

Melalui penjelasan yang mendalam, Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa cinta sejati tidak dibangun di atas penampilan lahir semata, melainkan pada keindahan jiwa yang memancarkan ilmu, akhlak, dan ketakwaan. Ketika hati bertemu dalam nilai-nilai kebaikan dan tujuan mencari ridha Allah, lahirlah persaudaraan yang kokoh, saling menguatkan, dan menjadi bekal menuju kebahagiaan dunia serta akhirat. Oleh karena itu, hendaknya kita memperindah hati dan akhlak, karena itulah keindahan yang paling abadi dan paling dicintai manusia maupun Allah.

Baca Juga :

Makna Persaudaraankarena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin Lengkap

KeutamaanMengunjungi Saudara Seiman: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Ukhuwah dan Tawadu’

Hakikat Pertemuan Ruh Menurut Imam Al-Ghazali: Mengapa Ada Orang yang Langsung Cocok?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Akumulasi Syubhat dalam Muamalah dan Kaitannya dengan Sikap Wara’

الأصل السابع أنه يقضي دين الخباز والقصاب والبقال من ريع الواقفين فإن وفى ما أخذ من حقهم بقيمة ما أطعمهم فقد صح الأمر وإن قصر عنه فرضي القص...