Makna Persaudaraan karena Allah Menurut Imam Al-Ghazali: Terjemah Ihya Ulumuddin Lengkap (02/05/16)

Terjemahan Ihya Ulumuddin tentang makna ukhuwah karena Allah, perbedaan persahabatan dunia dan akhirat, serta hakikat cinta sejati

Pendahuluan

Tidak semua persahabatan memiliki nilai yang sama di sisi Allah. Ada persahabatan yang lahir karena kebetulan, kepentingan, pekerjaan, atau hubungan duniawi. Ada pula persahabatan yang dibangun atas dasar iman dan kecintaan kepada Allah. Persahabatan jenis inilah yang disebut ukhuwah fillah (persaudaraan karena Allah), yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam.

Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali mulai menjelaskan hakikat cinta dan persaudaraan karena Allah. Beliau menguraikan bahwa tidak setiap hubungan antarmanusia bernilai ibadah. Nilai suatu persahabatan bergantung pada tujuan dan niat yang melandasinya.

Sumber

Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء علوم الدين) Juz : 2

Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H), bergelar Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang akhlak, tasawuf, fikih, dan pendidikan Islam.

Tema : Hakikat persaudaraan karena Allah, perbedaan persahabatan duniawi dan ukhuwah Islamiyah, serta tujuan manusia dalam menjalin hubungan dengan sesama.

Teks Arab

بيان معنى الأخوة في الله وتمييزها من الأخوة في الدنيا .

اعلم أن الحب في الله والبغض في الله غامض وينكشف الغطاء عنه بما نذكره ، وهو أن الصحبة تنقسم إلى ما يقع بالاتفاق كالصحبة بسبب الجوار أو بسبب الاجتماع في المكتب أو في المدرسة أو في السوق أو على باب السلطان أو في الأسفار وإلى ما ينشأ اختيارا ويقصد وهو الذي نريد بيانه إذ الأخوة في الدين واقعة في هذا القسم لا محالة ، إذ لا ثواب إلا على الأفعال الاختيارية ولا ، ترغيب إلا فيها .

والصحبة عبارة عن المجالسة والمجاورة  

وهذه الأمور لا يقصد الإنسان بها غيره إلا إذا أحبه ، فإن غير المحبوب يجتنب ويباعد ولا تقصد مخالطته ، والذي يحب فإما أن يحب لذاته لا ليتوصل به إلى محبوب ومقصود وراءه ، وإما أن يحب للتوصل به إلى مقصود ، وذلك المقصود إما أن يكون مقصورا على الدنيا وحظوظها ، وإما أن يكون متعلقا بالآخرة ، وإما أن يكون متعلقا بالله تعالى ، فهذه أربعة أقسام .

Terjemahan Lengkap

Penjelasan Makna Persaudaraan karena Allah dan Perbedaannya dengan Persaudaraan Dunia

Ketahuilah bahwa mencintai karena Allah dan membenci karena Allah merupakan perkara yang halus dan mendalam. Hakikatnya akan menjadi jelas melalui penjelasan berikut.

Persahabatan (shuhbah) terbagi menjadi dua macam.

Pertama, persahabatan yang terjadi karena keadaan atau kebetulan, seperti bertetangga, belajar bersama di tempat mengaji atau sekolah, berdagang di pasar yang sama, berada di lingkungan penguasa, atau melakukan perjalanan bersama.

Kedua, persahabatan yang lahir karena pilihan dan kesengajaan. Inilah jenis persahabatan yang menjadi pembahasan kita.

Persaudaraan dalam agama tentu termasuk ke dalam jenis kedua ini, karena pahala hanya diberikan atas perbuatan yang dilakukan dengan pilihan dan kehendak sendiri. Demikian pula anjuran syariat hanya berkaitan dengan perbuatan yang dilakukan secara sadar dan sengaja.

Hakikat persahabatan adalah duduk bersama, hidup berdampingan, dan bergaul dengan seseorang.

Semua itu tidak akan dilakukan seseorang kepada orang lain kecuali apabila ia mencintainya. Sebab, orang yang tidak dicintai biasanya akan dijauhi dan dihindari.

Orang yang dicintai terbagi menjadi dua.

Pertama, dicintai karena dirinya sendiri, bukan sebagai sarana untuk memperoleh tujuan lain.

Kedua, dicintai karena menjadi jalan untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.

Tujuan tersebut terbagi menjadi tiga macam:

  • tujuan duniawi beserta berbagai kenikmatannya,
  • tujuan akhirat,
  • atau tujuan yang semata-mata karena Allah Ta'ala.

Dengan demikian, terdapat empat macam bentuk kecintaan.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali mengawali pembahasan ini dengan mengajak pembaca memahami bahwa semua hubungan antarmanusia lahir karena adanya rasa cinta atau ketertarikan. Namun, penyebab cinta itu berbeda-beda.

Beliau membedakan antara hubungan yang terjadi secara alami—misalnya karena bertetangga atau bekerja bersama—dengan hubungan yang sengaja dipilih. Persaudaraan karena Allah termasuk hubungan yang dipilih secara sadar berdasarkan keimanan, bukan karena keuntungan dunia.

Inilah sebabnya ukhuwah Islamiyah memiliki nilai ibadah. Seseorang memilih sahabat bukan karena harta, jabatan, atau popularitas, tetapi karena berharap semakin dekat kepada Allah.

Artikel Pengembangan

Tidak Semua Persahabatan Bernilai Ibadah

Setiap hari manusia berinteraksi dengan banyak orang. Ada teman sekolah, rekan kerja, tetangga, atau mitra bisnis. Semua hubungan tersebut merupakan bagian dari kehidupan sosial yang wajar.

Namun, menurut Imam Al-Ghazali, hubungan seperti itu belum tentu disebut persaudaraan karena Allah. Nilainya bergantung pada niat yang melatarbelakanginya.

Jika hubungan dibangun hanya demi keuntungan pribadi, maka nilainya sebatas urusan dunia. Sebaliknya, apabila persahabatan bertujuan saling membantu dalam ketaatan, mengingatkan kepada Allah, dan memperbaiki akhlak, maka hubungan tersebut berubah menjadi ibadah.

Empat Tingkatan Cinta

Imam Al-Ghazali membagi kecintaan menjadi empat bentuk.

1. Mencintai karena Pribadinya

Seseorang mencintai orang lain karena sifat-sifat baik yang ada pada dirinya tanpa mengharapkan keuntungan tertentu.

2. Mencintai demi Kepentingan Dunia

Hubungan dibangun untuk memperoleh manfaat seperti pekerjaan, harta, jabatan, atau keuntungan bisnis.

Hubungan seperti ini tidak selalu tercela. Namun, nilainya bergantung pada tujuan dan cara yang ditempuh.

3. Mencintai demi Kepentingan Akhirat

Seseorang mencintai gurunya karena ingin memperoleh ilmu agama, mencintai sahabat salehnya karena dapat saling mengingatkan dalam ibadah, atau menjalin persahabatan agar sama-sama istiqamah.

Jenis persahabatan ini memiliki nilai ibadah yang besar.

4. Mencintai Semata-Mata karena Allah

Ini adalah tingkatan tertinggi.

Seseorang mencintai saudaranya bukan karena manfaat dunia atau bahkan manfaat pribadi di akhirat, melainkan karena melihat orang tersebut taat kepada Allah dan berharap memperoleh ridha-Nya.

Cinta seperti inilah yang banyak dipuji dalam Al-Qur'an dan hadis.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali ingin mengarahkan hati seorang mukmin agar terus meningkatkan kualitas niatnya. Persahabatan yang awalnya hanya karena lingkungan atau kepentingan dapat berubah menjadi ibadah apabila dibangun atas dasar saling menolong dalam ketakwaan dan mencari keridhaan Allah.

Dengan demikian, hubungan sosial tidak sekadar memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Contoh

Dua mahasiswa berada di kelas yang sama. Pada awalnya mereka berteman karena sering mengerjakan tugas bersama. Setelah saling mengenal, mereka mulai mengajak satu sama lain menghadiri kajian, salat berjamaah, membaca Al-Qur'an, dan saling mengingatkan ketika lalai. Persahabatan yang semula bersifat duniawi berubah menjadi ukhuwah karena Allah.

Contoh lain, seorang pedagang menjalin hubungan baik dengan sesama pedagang hanya demi memperluas jaringan usaha. Hubungan ini termasuk hubungan duniawi yang dibolehkan. Namun apabila mereka juga saling mengingatkan agar jujur, menjauhi riba, dan menjaga amanah dalam berdagang, maka persahabatan tersebut memperoleh nilai ibadah.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa persaudaraan karena Allah merupakan hubungan yang dipilih secara sadar dengan tujuan mendekatkan diri kepada-Nya. Berbeda dengan persahabatan yang sekadar lahir karena keadaan atau kepentingan dunia, ukhuwah Islamiyah dibangun di atas iman, keikhlasan, dan keinginan untuk saling membantu dalam kebaikan. Semakin tinggi tujuan sebuah persahabatan, semakin besar pula nilainya di sisi Allah.

Hikmah

  • Tidak semua persahabatan memiliki nilai yang sama di sisi Allah.
  • Ukhuwah karena Allah adalah persahabatan yang dibangun dengan niat yang ikhlas.
  • Niat menentukan nilai setiap hubungan sosial.
  • Persahabatan yang menguatkan iman merupakan investasi akhirat.
  • Hubungan duniawi dapat berubah menjadi ibadah apabila diarahkan kepada kebaikan.
  • Memilih sahabat adalah bagian dari menjaga agama dan hati.
  • Persaudaraan karena Allah merupakan salah satu bentuk cinta yang paling mulia.

Penutup

Melalui penjelasan ini, Imam Al-Ghazali mengajak setiap muslim untuk mengevaluasi kembali alasan di balik hubungan yang dijalin dengan orang lain. Persahabatan yang dilandasi iman akan melahirkan nasihat, kasih sayang, dan saling menguatkan dalam ketaatan. Inilah ukhuwah yang tidak hanya membawa kebahagiaan di dunia, tetapi juga menjadi sebab berkumpul bersama orang-orang saleh di akhirat. Oleh karena itu, jadikanlah setiap hubungan sebagai jalan menuju ridha Allah, sehingga persaudaraan yang kita bangun memiliki nilai yang kekal dan penuh keberkahan.

Baca Juga :

KeutamaanMengunjungi Saudara Seiman: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Ukhuwah dan Tawadu’

Amalan TerbaikMenurut Imam Al-Ghazali: Cinta karena Allah dalam Ihya Ulumuddin

Mengapa Kita Mencintai Seseorang? Penjelasan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Ukuran Balasan dalam Hibah dan Pengaruh Kerelaan Pemberi

الأصل السادس أن الثواب الذي يلزم فيه خلاف فقيل إنه أقل متمول وقيل قدر القيمة وقيل ما يرضى به الواهب حتى له أن لا يرضى بأضعاف القيمة والصحي...