Pendahuluan
Tidak semua persahabatan memiliki
nilai yang sama di sisi Allah. Ada persahabatan yang lahir karena kebetulan,
kepentingan, pekerjaan, atau hubungan duniawi. Ada pula persahabatan yang
dibangun atas dasar iman dan kecintaan kepada Allah. Persahabatan jenis inilah
yang disebut ukhuwah fillah (persaudaraan karena Allah), yang memiliki
kedudukan istimewa dalam Islam.
Dalam bagian ini, Imam Al-Ghazali
mulai menjelaskan hakikat cinta dan persaudaraan karena Allah. Beliau
menguraikan bahwa tidak setiap hubungan antarmanusia bernilai ibadah. Nilai
suatu persahabatan bergantung pada tujuan dan niat yang melandasinya.
Sumber
Kitab : Ihya' 'Ulumuddin (إحياء
علوم الدين) Juz : 2
Pengarang : Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (450–505 H),
bergelar Hujjatul Islam, seorang ulama besar dalam bidang akhlak,
tasawuf, fikih, dan pendidikan Islam.
Tema : Hakikat persaudaraan karena Allah, perbedaan persahabatan
duniawi dan ukhuwah Islamiyah, serta tujuan manusia dalam menjalin hubungan
dengan sesama.
Teks Arab
بيان معنى الأخوة في الله وتمييزها من الأخوة في
الدنيا .
اعلم أن الحب في الله والبغض في الله غامض وينكشف الغطاء
عنه بما نذكره ، وهو أن الصحبة تنقسم إلى ما يقع بالاتفاق كالصحبة بسبب الجوار أو
بسبب الاجتماع في المكتب أو في المدرسة أو في السوق أو على باب السلطان أو في
الأسفار وإلى ما ينشأ اختيارا ويقصد وهو الذي نريد بيانه إذ الأخوة في الدين واقعة
في هذا القسم لا محالة ، إذ لا ثواب إلا على الأفعال الاختيارية ولا ، ترغيب إلا
فيها .
والصحبة عبارة عن المجالسة والمجاورة
وهذه الأمور لا يقصد الإنسان بها غيره إلا إذا أحبه ، فإن
غير المحبوب يجتنب ويباعد ولا تقصد مخالطته ، والذي يحب فإما أن يحب لذاته لا
ليتوصل به إلى محبوب ومقصود وراءه ، وإما أن يحب للتوصل به إلى مقصود ، وذلك
المقصود إما أن يكون مقصورا على الدنيا وحظوظها ، وإما أن يكون متعلقا بالآخرة ،
وإما أن يكون متعلقا بالله تعالى ، فهذه أربعة أقسام .
Terjemahan Lengkap
Penjelasan Makna Persaudaraan karena Allah dan Perbedaannya
dengan Persaudaraan Dunia
Ketahuilah bahwa mencintai karena
Allah dan membenci karena Allah merupakan perkara yang halus dan mendalam.
Hakikatnya akan menjadi jelas melalui penjelasan berikut.
Persahabatan (shuhbah)
terbagi menjadi dua macam.
Pertama, persahabatan yang terjadi
karena keadaan atau kebetulan, seperti bertetangga, belajar bersama di tempat
mengaji atau sekolah, berdagang di pasar yang sama, berada di lingkungan
penguasa, atau melakukan perjalanan bersama.
Kedua, persahabatan yang lahir
karena pilihan dan kesengajaan. Inilah jenis persahabatan yang menjadi
pembahasan kita.
Persaudaraan dalam agama tentu
termasuk ke dalam jenis kedua ini, karena pahala hanya diberikan atas perbuatan
yang dilakukan dengan pilihan dan kehendak sendiri. Demikian pula anjuran
syariat hanya berkaitan dengan perbuatan yang dilakukan secara sadar dan
sengaja.
Hakikat persahabatan adalah duduk
bersama, hidup berdampingan, dan bergaul dengan seseorang.
Semua itu tidak akan dilakukan
seseorang kepada orang lain kecuali apabila ia mencintainya. Sebab, orang yang
tidak dicintai biasanya akan dijauhi dan dihindari.
Orang yang dicintai terbagi menjadi
dua.
Pertama, dicintai karena dirinya
sendiri, bukan sebagai sarana untuk memperoleh tujuan lain.
Kedua, dicintai karena menjadi jalan
untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.
Tujuan tersebut terbagi menjadi tiga
macam:
- tujuan duniawi beserta berbagai kenikmatannya,
- tujuan akhirat,
- atau tujuan yang semata-mata karena Allah Ta'ala.
Dengan demikian, terdapat empat
macam bentuk kecintaan.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali mengawali pembahasan
ini dengan mengajak pembaca memahami bahwa semua hubungan antarmanusia lahir
karena adanya rasa cinta atau ketertarikan. Namun, penyebab cinta itu
berbeda-beda.
Beliau membedakan antara hubungan
yang terjadi secara alami—misalnya karena bertetangga atau bekerja
bersama—dengan hubungan yang sengaja dipilih. Persaudaraan karena Allah
termasuk hubungan yang dipilih secara sadar berdasarkan keimanan, bukan karena
keuntungan dunia.
Inilah sebabnya ukhuwah Islamiyah
memiliki nilai ibadah. Seseorang memilih sahabat bukan karena harta, jabatan,
atau popularitas, tetapi karena berharap semakin dekat kepada Allah.
Artikel Pengembangan
Tidak Semua Persahabatan Bernilai Ibadah
Setiap hari manusia berinteraksi
dengan banyak orang. Ada teman sekolah, rekan kerja, tetangga, atau mitra
bisnis. Semua hubungan tersebut merupakan bagian dari kehidupan sosial yang
wajar.
Namun, menurut Imam Al-Ghazali,
hubungan seperti itu belum tentu disebut persaudaraan karena Allah. Nilainya
bergantung pada niat yang melatarbelakanginya.
Jika hubungan dibangun hanya demi
keuntungan pribadi, maka nilainya sebatas urusan dunia. Sebaliknya, apabila
persahabatan bertujuan saling membantu dalam ketaatan, mengingatkan kepada
Allah, dan memperbaiki akhlak, maka hubungan tersebut berubah menjadi ibadah.
Empat Tingkatan Cinta
Imam Al-Ghazali membagi kecintaan
menjadi empat bentuk.
1.
Mencintai karena Pribadinya
Seseorang mencintai orang lain
karena sifat-sifat baik yang ada pada dirinya tanpa mengharapkan keuntungan
tertentu.
2.
Mencintai demi Kepentingan Dunia
Hubungan dibangun untuk memperoleh
manfaat seperti pekerjaan, harta, jabatan, atau keuntungan bisnis.
Hubungan seperti ini tidak selalu
tercela. Namun, nilainya bergantung pada tujuan dan cara yang ditempuh.
3.
Mencintai demi Kepentingan Akhirat
Seseorang mencintai gurunya karena
ingin memperoleh ilmu agama, mencintai sahabat salehnya karena dapat saling
mengingatkan dalam ibadah, atau menjalin persahabatan agar sama-sama istiqamah.
Jenis persahabatan ini memiliki
nilai ibadah yang besar.
4.
Mencintai Semata-Mata karena Allah
Ini adalah tingkatan tertinggi.
Seseorang mencintai saudaranya bukan
karena manfaat dunia atau bahkan manfaat pribadi di akhirat, melainkan karena
melihat orang tersebut taat kepada Allah dan berharap memperoleh ridha-Nya.
Cinta seperti inilah yang banyak
dipuji dalam Al-Qur'an dan hadis.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali ingin mengarahkan
hati seorang mukmin agar terus meningkatkan kualitas niatnya. Persahabatan yang
awalnya hanya karena lingkungan atau kepentingan dapat berubah menjadi ibadah
apabila dibangun atas dasar saling menolong dalam ketakwaan dan mencari
keridhaan Allah.
Dengan demikian, hubungan sosial
tidak sekadar memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga menjadi sarana mendekatkan
diri kepada Allah.
Contoh
Dua mahasiswa berada di kelas yang
sama. Pada awalnya mereka berteman karena sering mengerjakan tugas bersama.
Setelah saling mengenal, mereka mulai mengajak satu sama lain menghadiri
kajian, salat berjamaah, membaca Al-Qur'an, dan saling mengingatkan ketika
lalai. Persahabatan yang semula bersifat duniawi berubah menjadi ukhuwah karena
Allah.
Contoh lain, seorang pedagang
menjalin hubungan baik dengan sesama pedagang hanya demi memperluas jaringan
usaha. Hubungan ini termasuk hubungan duniawi yang dibolehkan. Namun apabila
mereka juga saling mengingatkan agar jujur, menjauhi riba, dan menjaga amanah
dalam berdagang, maka persahabatan tersebut memperoleh nilai ibadah.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
persaudaraan karena Allah merupakan hubungan yang dipilih secara sadar dengan
tujuan mendekatkan diri kepada-Nya. Berbeda dengan persahabatan yang sekadar
lahir karena keadaan atau kepentingan dunia, ukhuwah Islamiyah dibangun di atas
iman, keikhlasan, dan keinginan untuk saling membantu dalam kebaikan. Semakin
tinggi tujuan sebuah persahabatan, semakin besar pula nilainya di sisi Allah.
Hikmah
- Tidak semua persahabatan memiliki nilai yang sama di
sisi Allah.
- Ukhuwah karena Allah adalah persahabatan yang dibangun
dengan niat yang ikhlas.
- Niat menentukan nilai setiap hubungan sosial.
- Persahabatan yang menguatkan iman merupakan investasi
akhirat.
- Hubungan duniawi dapat berubah menjadi ibadah apabila
diarahkan kepada kebaikan.
- Memilih sahabat adalah bagian dari menjaga agama dan
hati.
- Persaudaraan karena Allah merupakan salah satu bentuk
cinta yang paling mulia.
Penutup
Melalui penjelasan ini, Imam
Al-Ghazali mengajak setiap muslim untuk mengevaluasi kembali alasan di balik
hubungan yang dijalin dengan orang lain. Persahabatan yang dilandasi iman akan
melahirkan nasihat, kasih sayang, dan saling menguatkan dalam ketaatan. Inilah
ukhuwah yang tidak hanya membawa kebahagiaan di dunia, tetapi juga menjadi
sebab berkumpul bersama orang-orang saleh di akhirat. Oleh karena itu,
jadikanlah setiap hubungan sebagai jalan menuju ridha Allah, sehingga
persaudaraan yang kita bangun memiliki nilai yang kekal dan penuh keberkahan.
Baca Juga :
KeutamaanMengunjungi Saudara Seiman: Terjemah Ihya Ulumuddin tentang Ukhuwah dan Tawadu’
Amalan TerbaikMenurut Imam Al-Ghazali: Cinta karena Allah dalam Ihya Ulumuddin
Mengapa Kita
Mencintai Seseorang? Penjelasan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar