Perselisihan Pertama dalam Islam Setelah Wafatnya Rasulullah ﷺ: Kisah Abu Bakar Menenangkan Umat

Pendahuluan

Setelah menyelesaikan mukadimah kitabnya, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini memulai pembahasan pertama dengan mengulas sejarah awal munculnya perselisihan di tengah umat Islam. Beliau tidak langsung membahas kelompok-kelompok yang berkembang kemudian, melainkan mengawali dengan peristiwa yang terjadi segera setelah wafatnya Rasulullah .

Pembahasan ini menunjukkan bahwa sejarah umat Islam harus dipahami secara objektif. Imam Al-Isfarayini menjelaskan bahwa selama Rasulullah masih hidup, kaum muslimin berada di atas satu jalan yang sama. Kalaupun ada orang-orang munafik yang menyimpan penentangan, mereka tidak berani menampakkannya secara terang-terangan. Perselisihan yang pertama kali muncul justru berkaitan dengan wafatnya Rasulullah , dan Allah menyatukan kembali hati kaum muslimin melalui kebijaksanaan Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini merupakan ulama besar Ahlus Sunnah wal Jamaah dari mazhab Syafi'i yang hidup pada abad ke-5 Hijriah. Beliau dikenal sebagai ahli ushuluddin dan ilmu kalam yang menyusun At-Tabṣīr fī ad-Dīn untuk menjelaskan akidah Ahlus Sunnah sekaligus menguraikan sejarah munculnya berbagai kelompok dalam Islam berdasarkan riwayat dan argumentasi ilmiah.

Tema

Perselisihan Pertama Setelah Wafat Rasulullah dan Peran Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Menyatukan Kembali Kaum Muslimin

Terjemahan Lengkap

Bab Pertama

Penjelasan tentang perselisihan pertama yang muncul setelah wafat Rasulullah serta berbagai perselisihan yang terjadi pada masa para sahabat atau tidak lama setelah mereka.

Ketahuilah bahwa kaum muslimin pada masa Rasulullah dan sesudah beliau wafat pada awalnya berada di atas satu jalan yang sama. Tidak ada perselisihan yang tampak di antara mereka.

Adapun orang-orang munafik yang berada di tengah kaum muslimin, mereka tidak memiliki kesempatan untuk menampakkan apa yang sebenarnya mereka sembunyikan di dalam hati.

Perselisihan pertama yang muncul di kalangan kaum muslimin adalah mengenai wafatnya Rasulullah .

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa Rasulullah tidak wafat, melainkan diangkat oleh Allah sebagaimana Nabi Isa putra Maryam diangkat kepada-Nya.

Perselisihan tersebut kemudian berakhir berkat keberkahan Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه.

Beliau naik ke mimbar lalu menyampaikan khutbah kepada kaum muslimin. Dalam khutbah itu beliau membacakan firman Allah Ta'ala:

"Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan meninggal dunia dan sesungguhnya mereka pun akan meninggal dunia."
(QS. Az-Zumar: 30)

Kemudian Abu Bakar berkata:

"Barang siapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barang siapa menyembah Tuhan Muhammad, maka sesungguhnya Dia Mahahidup dan tidak akan pernah mati."

Maka hati kaum muslimin menjadi tenang.

Jiwa mereka kembali tenteram.

Mereka tunduk menerima kebenaran yang disampaikan Abu Bakar.

Seluruh kaum muslimin pun mengakui kenyataan yang telah jelas tersebut, sehingga perselisihan itu pun berakhir.

Artikel Pengembangan

Imam Al-Isfarayini mengawali pembahasan sejarah perpecahan umat dengan peristiwa yang sangat penting, yaitu wafatnya Rasulullah . Pemilihan peristiwa ini menunjukkan bahwa beliau ingin menjelaskan bahwa pada masa Nabi umat Islam berada dalam persatuan yang kokoh. Selama wahyu masih turun dan Rasulullah masih membimbing para sahabat secara langsung, setiap persoalan dapat diselesaikan dengan segera.

Ketika Rasulullah wafat, guncangan yang dirasakan para sahabat sangat besar. Kecintaan mereka kepada Nabi membuat sebagian di antara mereka sulit menerima kenyataan tersebut. Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه pada awalnya sangat terpukul hingga menyatakan bahwa Rasulullah tidak wafat. Reaksi ini bukan karena mengingkari ayat Al-Qur'an, melainkan karena besarnya rasa cinta dan kesedihan yang menyelimuti hati para sahabat.

Dalam situasi yang sangat emosional itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه tampil sebagai pemimpin yang tenang dan bijaksana. Beliau tidak menyampaikan pidato yang panjang ataupun mengandalkan logika semata. Sebaliknya, beliau mengembalikan umat kepada firman Allah dalam Surah Az-Zumar ayat 30, kemudian menegaskan bahwa yang disembah oleh kaum muslimin adalah Allah Yang Mahahidup, bukan Rasulullah sebagai manusia.

Perkataan Abu Bakar yang sangat terkenal—"Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Barang siapa menyembah Allah, maka Allah Mahahidup dan tidak akan mati"—menjadi pelajaran besar dalam akidah Islam. Kalimat tersebut menegaskan bahwa inti tauhid adalah mengarahkan seluruh bentuk ibadah hanya kepada Allah. Rasulullah adalah utusan Allah yang wajib dicintai dan ditaati, tetapi beliau tetap seorang manusia yang mengalami kematian sebagaimana para nabi sebelumnya.

Imam Al-Isfarayini juga ingin menunjukkan bahwa perselisihan pertama di kalangan umat Islam dapat diselesaikan dengan kembali kepada Al-Qur'an dan kepemimpinan yang berlandaskan ilmu. Hal ini menjadi contoh bagi generasi berikutnya bahwa setiap fitnah dan perbedaan hendaknya diselesaikan dengan dalil yang sahih, bukan dengan emosi atau fanatisme.

Selain itu, kisah ini memperlihatkan kedudukan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai sosok yang memiliki keteguhan iman, keluasan ilmu, dan kemampuan memimpin pada saat-saat paling genting dalam sejarah Islam. Ketenangan beliau menjadi sebab Allah menyatukan kembali hati kaum muslimin setelah wafatnya Rasulullah .

Hikmah

  • Persatuan umat Islam pada masa Rasulullah dibangun di atas wahyu dan bimbingan beliau.
  • Kesedihan yang mendalam tidak boleh menghalangi seseorang menerima kebenaran yang telah dijelaskan oleh Allah.
  • Al-Qur'an merupakan rujukan utama dalam menyelesaikan perselisihan.
  • Kepemimpinan yang berlandaskan ilmu dan ketenangan mampu meredakan fitnah yang besar.
  • Tauhid mengajarkan bahwa ibadah hanya ditujukan kepada Allah Yang Mahahidup, sedangkan para nabi adalah hamba dan utusan-Nya.
  • Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه menunjukkan teladan keberanian, kebijaksanaan, dan keteguhan dalam menjaga persatuan umat.

Penutup

Bab pertama At-Tabṣīr fī ad-Dīn diawali dengan pelajaran berharga dari sejarah awal Islam. Imam Al-Isfarayini menunjukkan bahwa perselisihan pertama setelah wafat Rasulullah bukanlah perselisihan akidah yang disengaja, melainkan guncangan emosional akibat kehilangan manusia yang paling dicintai. Dengan berpegang kepada Al-Qur'an dan kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه, Allah mengembalikan ketenangan hati kaum muslimin dan mempersatukan mereka di atas kebenaran. Peristiwa ini menjadi teladan sepanjang zaman bahwa setiap perselisihan hendaknya diselesaikan dengan ilmu, dalil, dan ketundukan kepada petunjuk Allah, bukan dengan hawa nafsu atau emosi.

Teks Arab :

الْبَاب الأول فِي بَيَان أول خلاف ظهر بعد الْمُصْطَفى ﷺ وَفِي أَيَّام الصَّحَابَة أَو قَرِيبا من عَهدهم

أعلم أَن الْمُسلمين وَقت النَّبِي ﷺ وَبعد وَفَاته كَانُوا على طَرِيق وَاحِدَة لم يكن بَينهم خلاف ظَاهر وَمن كَانَ بَينهم من الْمُخَالفين الْمُنَافِقين مَا كَانَ يتَمَكَّن من إِظْهَار مَا كَانَ يستسره من أخباره فَكَانَ أول خلاف ظهر بَين الْمُسلمين اخْتلَافهمْ فِي وَفَاة رَسُول الله ﷺ حَتَّى قَالَ قوم مِنْهُم أَنه لم يمت وَلكنه رفع كَمَا رفع عِيسَى بن مَرْيَم وارتفع هَذَا الْخلاف ببركات أبي بكر الصّديق رضي الله عنه حِين صعد الْمِنْبَر وخطب خطْبَة وتلا عَلَيْهِم قَوْله تَعَالَى ﴿إِنَّك ميت وَإِنَّهُم ميتون﴾ ثمَّ قَالَ من كَانَ يعبد مُحَمَّدًا فَإِن مُحَمَّدًا قد مَاتَ وَمن كَانَ يعبد رب مُحَمَّد فَإِنَّهُ حَيّ لَا يَمُوت فسكنت النُّفُوس وإطمأنت الْقُلُوب واذعنت لَهُ الرّقاب وَاعْتَرَفت الكافة بِمَا ظهر من الْأَمر وَزَالَ الْخلاف

Baca juga:

15 Bab Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn: Peta Lengkap Akidah AhlusSunnah dan Sejarah Kelompok-Kelompok dalam Islam

Tujuan Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn: Mengapa ImamAl-Isfarayini Menulis tentang Akidah dan Kelompok-Kelompok Menyimpang?

Mengapa Rasulullah Dimakamkan di Madinah? Penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang Perselisihan Kedua Setelah Wafat Nabi

Pendahuluan

Setelah menyelesaikan mukadimah kitabnya, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini memulai pembahasan pertama dengan mengulas sejarah awal munculnya perselisihan di tengah umat Islam. Beliau tidak langsung membahas kelompok-kelompok yang berkembang kemudian, melainkan mengawali dengan peristiwa yang terjadi segera setelah wafatnya Rasulullah .

Pembahasan ini menunjukkan bahwa sejarah umat Islam harus dipahami secara objektif. Imam Al-Isfarayini menjelaskan bahwa selama Rasulullah masih hidup, kaum muslimin berada di atas satu jalan yang sama. Kalaupun ada orang-orang munafik yang menyimpan penentangan, mereka tidak berani menampakkannya secara terang-terangan. Perselisihan yang pertama kali muncul justru berkaitan dengan wafatnya Rasulullah , dan Allah menyatukan kembali hati kaum muslimin melalui kebijaksanaan Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه.

Sumber

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini merupakan ulama besar Ahlus Sunnah wal Jamaah dari mazhab Syafi'i yang hidup pada abad ke-5 Hijriah. Beliau dikenal sebagai ahli ushuluddin dan ilmu kalam yang menyusun At-Tabṣīr fī ad-Dīn untuk menjelaskan akidah Ahlus Sunnah sekaligus menguraikan sejarah munculnya berbagai kelompok dalam Islam berdasarkan riwayat dan argumentasi ilmiah.

Tema

Perselisihan Pertama Setelah Wafat Rasulullah dan Peran Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam Menyatukan Kembali Kaum Muslimin

Terjemahan Lengkap

Bab Pertama

Penjelasan tentang perselisihan pertama yang muncul setelah wafat Rasulullah serta berbagai perselisihan yang terjadi pada masa para sahabat atau tidak lama setelah mereka.

Ketahuilah bahwa kaum muslimin pada masa Rasulullah dan sesudah beliau wafat pada awalnya berada di atas satu jalan yang sama. Tidak ada perselisihan yang tampak di antara mereka.

Adapun orang-orang munafik yang berada di tengah kaum muslimin, mereka tidak memiliki kesempatan untuk menampakkan apa yang sebenarnya mereka sembunyikan di dalam hati.

Perselisihan pertama yang muncul di kalangan kaum muslimin adalah mengenai wafatnya Rasulullah .

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa Rasulullah tidak wafat, melainkan diangkat oleh Allah sebagaimana Nabi Isa putra Maryam diangkat kepada-Nya.

Perselisihan tersebut kemudian berakhir berkat keberkahan Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه.

Beliau naik ke mimbar lalu menyampaikan khutbah kepada kaum muslimin. Dalam khutbah itu beliau membacakan firman Allah Ta'ala:

"Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan meninggal dunia dan sesungguhnya mereka pun akan meninggal dunia."
(QS. Az-Zumar: 30)

Kemudian Abu Bakar berkata:

"Barang siapa menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barang siapa menyembah Tuhan Muhammad, maka sesungguhnya Dia Mahahidup dan tidak akan pernah mati."

Maka hati kaum muslimin menjadi tenang.

Jiwa mereka kembali tenteram.

Mereka tunduk menerima kebenaran yang disampaikan Abu Bakar.

Seluruh kaum muslimin pun mengakui kenyataan yang telah jelas tersebut, sehingga perselisihan itu pun berakhir.

Artikel Pengembangan

Imam Al-Isfarayini mengawali pembahasan sejarah perpecahan umat dengan peristiwa yang sangat penting, yaitu wafatnya Rasulullah . Pemilihan peristiwa ini menunjukkan bahwa beliau ingin menjelaskan bahwa pada masa Nabi umat Islam berada dalam persatuan yang kokoh. Selama wahyu masih turun dan Rasulullah masih membimbing para sahabat secara langsung, setiap persoalan dapat diselesaikan dengan segera.

Ketika Rasulullah wafat, guncangan yang dirasakan para sahabat sangat besar. Kecintaan mereka kepada Nabi membuat sebagian di antara mereka sulit menerima kenyataan tersebut. Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه pada awalnya sangat terpukul hingga menyatakan bahwa Rasulullah tidak wafat. Reaksi ini bukan karena mengingkari ayat Al-Qur'an, melainkan karena besarnya rasa cinta dan kesedihan yang menyelimuti hati para sahabat.

Dalam situasi yang sangat emosional itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه tampil sebagai pemimpin yang tenang dan bijaksana. Beliau tidak menyampaikan pidato yang panjang ataupun mengandalkan logika semata. Sebaliknya, beliau mengembalikan umat kepada firman Allah dalam Surah Az-Zumar ayat 30, kemudian menegaskan bahwa yang disembah oleh kaum muslimin adalah Allah Yang Mahahidup, bukan Rasulullah sebagai manusia.

Perkataan Abu Bakar yang sangat terkenal—"Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Barang siapa menyembah Allah, maka Allah Mahahidup dan tidak akan mati"—menjadi pelajaran besar dalam akidah Islam. Kalimat tersebut menegaskan bahwa inti tauhid adalah mengarahkan seluruh bentuk ibadah hanya kepada Allah. Rasulullah adalah utusan Allah yang wajib dicintai dan ditaati, tetapi beliau tetap seorang manusia yang mengalami kematian sebagaimana para nabi sebelumnya.

Imam Al-Isfarayini juga ingin menunjukkan bahwa perselisihan pertama di kalangan umat Islam dapat diselesaikan dengan kembali kepada Al-Qur'an dan kepemimpinan yang berlandaskan ilmu. Hal ini menjadi contoh bagi generasi berikutnya bahwa setiap fitnah dan perbedaan hendaknya diselesaikan dengan dalil yang sahih, bukan dengan emosi atau fanatisme.

Selain itu, kisah ini memperlihatkan kedudukan Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai sosok yang memiliki keteguhan iman, keluasan ilmu, dan kemampuan memimpin pada saat-saat paling genting dalam sejarah Islam. Ketenangan beliau menjadi sebab Allah menyatukan kembali hati kaum muslimin setelah wafatnya Rasulullah .

Hikmah

  • Persatuan umat Islam pada masa Rasulullah dibangun di atas wahyu dan bimbingan beliau.
  • Kesedihan yang mendalam tidak boleh menghalangi seseorang menerima kebenaran yang telah dijelaskan oleh Allah.
  • Al-Qur'an merupakan rujukan utama dalam menyelesaikan perselisihan.
  • Kepemimpinan yang berlandaskan ilmu dan ketenangan mampu meredakan fitnah yang besar.
  • Tauhid mengajarkan bahwa ibadah hanya ditujukan kepada Allah Yang Mahahidup, sedangkan para nabi adalah hamba dan utusan-Nya.
  • Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه menunjukkan teladan keberanian, kebijaksanaan, dan keteguhan dalam menjaga persatuan umat.

Penutup

Bab pertama At-Tabṣīr fī ad-Dīn diawali dengan pelajaran berharga dari sejarah awal Islam. Imam Al-Isfarayini menunjukkan bahwa perselisihan pertama setelah wafat Rasulullah bukanlah perselisihan akidah yang disengaja, melainkan guncangan emosional akibat kehilangan manusia yang paling dicintai. Dengan berpegang kepada Al-Qur'an dan kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه, Allah mengembalikan ketenangan hati kaum muslimin dan mempersatukan mereka di atas kebenaran. Peristiwa ini menjadi teladan sepanjang zaman bahwa setiap perselisihan hendaknya diselesaikan dengan ilmu, dalil, dan ketundukan kepada petunjuk Allah, bukan dengan hawa nafsu atau emosi.

Teks Arab :

الْبَاب الأول فِي بَيَان أول خلاف ظهر بعد الْمُصْطَفى ﷺ وَفِي أَيَّام الصَّحَابَة أَو قَرِيبا من عَهدهم

أعلم أَن الْمُسلمين وَقت النَّبِي ﷺ وَبعد وَفَاته كَانُوا على طَرِيق وَاحِدَة لم يكن بَينهم خلاف ظَاهر وَمن كَانَ بَينهم من الْمُخَالفين الْمُنَافِقين مَا كَانَ يتَمَكَّن من إِظْهَار مَا كَانَ يستسره من أخباره فَكَانَ أول خلاف ظهر بَين الْمُسلمين اخْتلَافهمْ فِي وَفَاة رَسُول الله ﷺ حَتَّى قَالَ قوم مِنْهُم أَنه لم يمت وَلكنه رفع كَمَا رفع عِيسَى بن مَرْيَم وارتفع هَذَا الْخلاف ببركات أبي بكر الصّديق رضي الله عنه حِين صعد الْمِنْبَر وخطب خطْبَة وتلا عَلَيْهِم قَوْله تَعَالَى ﴿إِنَّك ميت وَإِنَّهُم ميتون﴾ ثمَّ قَالَ من كَانَ يعبد مُحَمَّدًا فَإِن مُحَمَّدًا قد مَاتَ وَمن كَانَ يعبد رب مُحَمَّد فَإِنَّهُ حَيّ لَا يَمُوت فسكنت النُّفُوس وإطمأنت الْقُلُوب واذعنت لَهُ الرّقاب وَاعْتَرَفت الكافة بِمَا ظهر من الْأَمر وَزَالَ الْخلاف

Baca juga:

15 Bab Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn: Peta Lengkap Akidah AhlusSunnah dan Sejarah Kelompok-Kelompok dalam Islam

Tujuan Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn: Mengapa ImamAl-Isfarayini Menulis tentang Akidah dan Kelompok-Kelompok Menyimpang?

Mengapa Rasulullah Dimakamkan di Madinah? Penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang Perselisihan Kedua Setelah Wafat Nabi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Harta dari Penguasa Zalim: Dikembalikan, Disedekahkan, atau Ditinggalkan?

مسألة: إذا وقع في يده مال من يد سلطان قال قوم يرد إلى السلطان فهو أعلم بما تولاه فيقلده ما تقلده وهو خير من أن يتصدق به واختار المحاسبي ...

Interstisial : Kotak Cahaya : Pop : Dorongan Asli :