Pendahuluan
Pernahkah Anda bertemu seseorang
yang baru dikenal, tetapi hati langsung merasa nyaman seolah sudah lama
bersahabat? Sebaliknya, ada pula orang yang belum pernah berbuat salah, namun
hati terasa enggan mendekatinya.
Fenomena ini telah lama menjadi
perhatian para ulama. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa adanya kecenderungan
hati tersebut merupakan bagian dari rahasia Allah dalam menciptakan manusia.
Ada kesesuaian jiwa yang tidak selalu dapat dijelaskan dengan logika ataupun
sebab-sebab lahiriah.
Dalam pembahasan berikut, Imam
Al-Ghazali mengulas mengapa manusia bisa saling mencintai atau saling membenci
tanpa sebab yang tampak, sekaligus mengingatkan agar tidak terjebak dalam
spekulasi yang tidak memiliki dasar ilmu.
Sumber
Kitab : Ihya' 'Ulumiddin Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Tema : Rahasia Kesesuaian Jiwa dan Sebab Munculnya Rasa Cinta atau
Benci dalam Islam
Teks Arab
وأما
الأسباب التي أوجبت تلك المناسبة ، فليس في قوة البشر الاطلاع عليها ، وغاية هذيان
المنجم أن يقول : إذا كان طالعه على تسديس طالع غيره أو تثليثه ، فهذا نظر
الموافقة والمودة فتقتضي التناسب والتواد
، وإذا كان على مقابلته أو تربيعه اقتضى التباغض والعداوة .
فهذا
لو صدق بكونه كذلك في مجاري سنة الله في خلق السموات والأرض لكن الإشكال فيه أكثر
من الإشكال في أصل التناسب فلا ، معنى للخوض فيما لم يكشف سره للبشر ، فما أوتينا
من العلم إلا قليلا ويكفينا في التصديق بذلك التجربة والمشاهدة فقد ورد الخبر به ،
قال صلى الله عليه وسلم : لو أن مؤمنا دخل إلى مجلس فيه مائة منافق واحد لجاء حتى
يجلس إليه ، ولو أن منافقا دخل إلى مجلس فيه مائة مؤمن ومنافق واحد لجاء حتى يجلس
إليه
.
Terjemahan Lengkap
Adapun
sebab-sebab yang melahirkan kesesuaian (antara dua jiwa) itu, maka kemampuan
manusia tidak sanggup mengetahui hakikatnya.
Puncak dugaan para ahli nujum
hanyalah mengatakan:
"Apabila posisi bintang
kelahiran seseorang membentuk sudut enam puluh derajat (tasdis) atau seratus
dua puluh derajat (tatslits) dengan posisi bintang orang lain, maka itu
merupakan pertanda adanya kesesuaian, kasih sayang, dan kecocokan. Sebaliknya,
apabila keduanya saling berhadapan (muqabalah) atau membentuk sudut sembilan
puluh derajat (tarbi'), maka akan melahirkan permusuhan dan kebencian."
Sekalipun anggapan itu benar sebagai
bagian dari sunnatullah dalam perjalanan langit dan bumi, tetap saja
persoalannya lebih rumit daripada sekadar membahas asal-usul kesesuaian
tersebut.
Karena itu, tidak ada manfaat
memperdebatkan sesuatu yang rahasianya belum dibukakan Allah kepada manusia.
Bukankah Allah telah berfirman bahwa manusia tidak diberi ilmu kecuali sedikit?
Cukuplah bagi kita mempercayai
adanya kesesuaian jiwa berdasarkan pengalaman nyata dan pengamatan langsung.
Hal ini juga ditegaskan dalam sebuah
riwayat, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Seandainya seorang mukmin
memasuki suatu majelis yang di dalamnya terdapat seratus orang munafik dan
hanya seorang mukmin, niscaya ia akan datang hingga duduk di samping mukmin
tersebut. Dan seandainya seorang munafik memasuki suatu majelis yang di
dalamnya terdapat seratus orang mukmin dan hanya seorang munafik, niscaya ia
akan datang hingga duduk di samping orang munafik itu."
Penjelasan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
kesesuaian hati merupakan kenyataan yang dapat dirasakan oleh setiap manusia.
Ada orang yang baru pertama kali ditemui tetapi terasa dekat, sementara ada
pula yang sulit akrab meski sering bertemu.
Beliau tidak menolak adanya
sebab-sebab alam yang Allah ciptakan, tetapi beliau menolak sikap berlebihan
dalam mengaku mengetahui rahasia-rahasia yang tidak dijelaskan oleh wahyu.
Dalam pandangan Islam, banyak
perkara termasuk urusan gaib yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia
secara sempurna. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh menggantungkan
keyakinannya kepada ramalan, astrologi, ataupun ilmu nujum.
Yang lebih penting adalah menerima
kenyataan bahwa Allah menciptakan kecenderungan hati sesuai hikmah-Nya.
Artikel Pengembangan
1.
Kesesuaian Jiwa Adalah Fitrah
Islam mengakui adanya kecenderungan
alami dalam hati manusia. Tidak semua orang memiliki tingkat kecocokan yang
sama.
Sebagaimana besi dapat saling
tarik-menarik karena medan magnet, demikian pula hati manusia memiliki
kecenderungan yang hanya Allah mengetahui hakikatnya.
Karena itu, tidak semua hubungan
persahabatan harus dipaksakan. Selama tidak melanggar syariat, seseorang boleh
merasa lebih nyaman bersama sebagian orang dibandingkan yang lain.
2.
Islam Melarang Bersandar kepada Ramalan Bintang
Pada masa dahulu, para ahli nujum
berusaha menjelaskan hubungan manusia melalui posisi bintang.
Imam Al-Ghazali menyebut pendapat
tersebut sekadar dugaan yang tidak dapat dijadikan landasan keyakinan.
Islam memerintahkan agar umatnya
menjauhi keyakinan bahwa bintang menentukan nasib, jodoh, rezeki, ataupun
hubungan antarmanusia.
Semua itu berada di bawah kehendak
Allah semata.
3.
Pengalaman Nyata Lebih Dapat Dipercaya
Imam Al-Ghazali mengarahkan
perhatian kepada pengalaman manusia.
Semua orang pernah merasakan:
- langsung akrab dengan orang yang baru dikenal,
- merasa nyaman berada di dekat orang saleh,
- merasa tidak tenang ketika berada bersama orang yang
buruk akhlaknya.
Ini merupakan bukti nyata bahwa jiwa
memiliki kecenderungan tertentu yang Allah ciptakan.
4.
Orang Saleh Akan Cenderung Menyukai Orang Saleh
Hadis yang disebutkan Imam
Al-Ghazali mengandung pelajaran penting.
Seorang mukmin akan lebih merasa
tenteram bersama orang-orang yang memiliki iman.
Sebaliknya, orang yang dipenuhi
kemunafikan akan lebih nyaman bersama orang yang sama sifatnya.
Hal ini menunjukkan bahwa hati akan
mencari lingkungan yang sesuai dengan kondisi batinnya.
5.
Memilih Lingkungan Sangat Menentukan
Karena hati memiliki sifat saling
memengaruhi, Islam menganjurkan agar seorang muslim memilih teman yang saleh.
Persahabatan bukan hanya soal
kesamaan hobi, tetapi juga kesamaan nilai, keimanan, dan tujuan hidup.
Lingkungan yang baik akan memperkuat
iman, sedangkan lingkungan yang buruk perlahan-lahan dapat melemahkannya.
Penjelasan
Pelajaran terbesar dari pembahasan
ini adalah pentingnya bersikap rendah hati terhadap keterbatasan ilmu manusia.
Tidak semua fenomena harus
dijelaskan secara rinci. Ada rahasia penciptaan yang hanya diketahui Allah.
Imam Al-Ghazali mengajarkan
keseimbangan antara menggunakan akal dan tunduk kepada wahyu. Ketika ilmu
manusia berhenti, keimanan tetap berjalan.
Contoh
Misalnya seseorang menghadiri
seminar yang diikuti ratusan peserta.
Ia tidak mengenal siapa pun.
Namun tanpa disadari, ia duduk di
samping seseorang yang kemudian menjadi sahabat dekat selama bertahun-tahun
karena memiliki visi, akhlak, dan semangat ibadah yang sama.
Sebaliknya, ada orang yang telah
lama dikenal tetapi hubungan terasa hambar karena perbedaan prinsip hidup.
Fenomena seperti ini merupakan
contoh sederhana dari adanya kesesuaian jiwa yang dijelaskan Imam Al-Ghazali.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
kesesuaian hati adalah bagian dari rahasia ciptaan Allah yang tidak sepenuhnya
dapat dipahami manusia.
Daripada sibuk mencari penjelasan
melalui ramalan atau astrologi, Islam mengajarkan agar kita memperkuat iman,
memperbaiki akhlak, dan memilih lingkungan yang baik.
Hati yang bersih akan lebih mudah
menemukan sahabat yang juga memiliki hati yang bersih.
Hikmah
- Tidak semua rahasia kehidupan dapat dijelaskan oleh
akal manusia.
- Hindari mempercayai ramalan bintang dan astrologi
sebagai penentu hubungan antarmanusia.
- Orang beriman cenderung mencintai sesama orang beriman.
- Lingkungan yang baik akan memperkuat kualitas iman.
- Hati yang bersih akan tertarik kepada hati yang bersih.
- Tawaduk dalam ilmu merupakan salah satu tanda
kebijaksanaan seorang mukmin.
Penutup
Setiap hati berada dalam genggaman
Allah. Dia yang menanamkan rasa cinta, kasih sayang, maupun ketidaksukaan
sesuai hikmah yang hanya diketahui-Nya. Tugas seorang muslim bukanlah
membongkar rahasia yang tidak diwahyukan, melainkan memperbaiki hati agar
dipenuhi keimanan, keikhlasan, dan akhlak yang mulia. Dengan hati yang bersih,
seseorang akan lebih mudah menemukan lingkungan yang baik, sahabat yang saleh,
serta kehidupan yang penuh keberkahan di dunia dan akhirat.
Baca Juga :
Mengapa KitaMencintai Seseorang? Penjelasan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin
Mengapa Kita Mudah
Nyaman dengan Orang Tertentu? Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Kesesuaian
Jiwa dan Akhlak
Pendahuluan
Pernahkah Anda bertemu seseorang
yang baru dikenal, tetapi hati langsung merasa nyaman seolah sudah lama
bersahabat? Sebaliknya, ada pula orang yang belum pernah berbuat salah, namun
hati terasa enggan mendekatinya.
Fenomena ini telah lama menjadi
perhatian para ulama. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa adanya kecenderungan
hati tersebut merupakan bagian dari rahasia Allah dalam menciptakan manusia.
Ada kesesuaian jiwa yang tidak selalu dapat dijelaskan dengan logika ataupun
sebab-sebab lahiriah.
Dalam pembahasan berikut, Imam
Al-Ghazali mengulas mengapa manusia bisa saling mencintai atau saling membenci
tanpa sebab yang tampak, sekaligus mengingatkan agar tidak terjebak dalam
spekulasi yang tidak memiliki dasar ilmu.
Sumber
Kitab : Ihya' 'Ulumiddin Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Tema : Rahasia Kesesuaian Jiwa dan Sebab Munculnya Rasa Cinta atau
Benci dalam Islam
Teks Arab
وأما
الأسباب التي أوجبت تلك المناسبة ، فليس في قوة البشر الاطلاع عليها ، وغاية هذيان
المنجم أن يقول : إذا كان طالعه على تسديس طالع غيره أو تثليثه ، فهذا نظر
الموافقة والمودة فتقتضي التناسب والتواد
، وإذا كان على مقابلته أو تربيعه اقتضى التباغض والعداوة .
فهذا
لو صدق بكونه كذلك في مجاري سنة الله في خلق السموات والأرض لكن الإشكال فيه أكثر
من الإشكال في أصل التناسب فلا ، معنى للخوض فيما لم يكشف سره للبشر ، فما أوتينا
من العلم إلا قليلا ويكفينا في التصديق بذلك التجربة والمشاهدة فقد ورد الخبر به ،
قال صلى الله عليه وسلم : لو أن مؤمنا دخل إلى مجلس فيه مائة منافق واحد لجاء حتى
يجلس إليه ، ولو أن منافقا دخل إلى مجلس فيه مائة مؤمن ومنافق واحد لجاء حتى يجلس
إليه
.
Terjemahan Lengkap
Adapun
sebab-sebab yang melahirkan kesesuaian (antara dua jiwa) itu, maka kemampuan
manusia tidak sanggup mengetahui hakikatnya.
Puncak dugaan para ahli nujum
hanyalah mengatakan:
"Apabila posisi bintang
kelahiran seseorang membentuk sudut enam puluh derajat (tasdis) atau seratus
dua puluh derajat (tatslits) dengan posisi bintang orang lain, maka itu
merupakan pertanda adanya kesesuaian, kasih sayang, dan kecocokan. Sebaliknya,
apabila keduanya saling berhadapan (muqabalah) atau membentuk sudut sembilan
puluh derajat (tarbi'), maka akan melahirkan permusuhan dan kebencian."
Sekalipun anggapan itu benar sebagai
bagian dari sunnatullah dalam perjalanan langit dan bumi, tetap saja
persoalannya lebih rumit daripada sekadar membahas asal-usul kesesuaian
tersebut.
Karena itu, tidak ada manfaat
memperdebatkan sesuatu yang rahasianya belum dibukakan Allah kepada manusia.
Bukankah Allah telah berfirman bahwa manusia tidak diberi ilmu kecuali sedikit?
Cukuplah bagi kita mempercayai
adanya kesesuaian jiwa berdasarkan pengalaman nyata dan pengamatan langsung.
Hal ini juga ditegaskan dalam sebuah
riwayat, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Seandainya seorang mukmin
memasuki suatu majelis yang di dalamnya terdapat seratus orang munafik dan
hanya seorang mukmin, niscaya ia akan datang hingga duduk di samping mukmin
tersebut. Dan seandainya seorang munafik memasuki suatu majelis yang di
dalamnya terdapat seratus orang mukmin dan hanya seorang munafik, niscaya ia
akan datang hingga duduk di samping orang munafik itu."
Penjelasan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
kesesuaian hati merupakan kenyataan yang dapat dirasakan oleh setiap manusia.
Ada orang yang baru pertama kali ditemui tetapi terasa dekat, sementara ada
pula yang sulit akrab meski sering bertemu.
Beliau tidak menolak adanya
sebab-sebab alam yang Allah ciptakan, tetapi beliau menolak sikap berlebihan
dalam mengaku mengetahui rahasia-rahasia yang tidak dijelaskan oleh wahyu.
Dalam pandangan Islam, banyak
perkara termasuk urusan gaib yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia
secara sempurna. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh menggantungkan
keyakinannya kepada ramalan, astrologi, ataupun ilmu nujum.
Yang lebih penting adalah menerima
kenyataan bahwa Allah menciptakan kecenderungan hati sesuai hikmah-Nya.
Artikel Pengembangan
1.
Kesesuaian Jiwa Adalah Fitrah
Islam mengakui adanya kecenderungan
alami dalam hati manusia. Tidak semua orang memiliki tingkat kecocokan yang
sama.
Sebagaimana besi dapat saling
tarik-menarik karena medan magnet, demikian pula hati manusia memiliki
kecenderungan yang hanya Allah mengetahui hakikatnya.
Karena itu, tidak semua hubungan
persahabatan harus dipaksakan. Selama tidak melanggar syariat, seseorang boleh
merasa lebih nyaman bersama sebagian orang dibandingkan yang lain.
2.
Islam Melarang Bersandar kepada Ramalan Bintang
Pada masa dahulu, para ahli nujum
berusaha menjelaskan hubungan manusia melalui posisi bintang.
Imam Al-Ghazali menyebut pendapat
tersebut sekadar dugaan yang tidak dapat dijadikan landasan keyakinan.
Islam memerintahkan agar umatnya
menjauhi keyakinan bahwa bintang menentukan nasib, jodoh, rezeki, ataupun
hubungan antarmanusia.
Semua itu berada di bawah kehendak
Allah semata.
3.
Pengalaman Nyata Lebih Dapat Dipercaya
Imam Al-Ghazali mengarahkan
perhatian kepada pengalaman manusia.
Semua orang pernah merasakan:
- langsung akrab dengan orang yang baru dikenal,
- merasa nyaman berada di dekat orang saleh,
- merasa tidak tenang ketika berada bersama orang yang
buruk akhlaknya.
Ini merupakan bukti nyata bahwa jiwa
memiliki kecenderungan tertentu yang Allah ciptakan.
4.
Orang Saleh Akan Cenderung Menyukai Orang Saleh
Hadis yang disebutkan Imam
Al-Ghazali mengandung pelajaran penting.
Seorang mukmin akan lebih merasa
tenteram bersama orang-orang yang memiliki iman.
Sebaliknya, orang yang dipenuhi
kemunafikan akan lebih nyaman bersama orang yang sama sifatnya.
Hal ini menunjukkan bahwa hati akan
mencari lingkungan yang sesuai dengan kondisi batinnya.
5.
Memilih Lingkungan Sangat Menentukan
Karena hati memiliki sifat saling
memengaruhi, Islam menganjurkan agar seorang muslim memilih teman yang saleh.
Persahabatan bukan hanya soal
kesamaan hobi, tetapi juga kesamaan nilai, keimanan, dan tujuan hidup.
Lingkungan yang baik akan memperkuat
iman, sedangkan lingkungan yang buruk perlahan-lahan dapat melemahkannya.
Penjelasan
Pelajaran terbesar dari pembahasan
ini adalah pentingnya bersikap rendah hati terhadap keterbatasan ilmu manusia.
Tidak semua fenomena harus
dijelaskan secara rinci. Ada rahasia penciptaan yang hanya diketahui Allah.
Imam Al-Ghazali mengajarkan
keseimbangan antara menggunakan akal dan tunduk kepada wahyu. Ketika ilmu
manusia berhenti, keimanan tetap berjalan.
Contoh
Misalnya seseorang menghadiri
seminar yang diikuti ratusan peserta.
Ia tidak mengenal siapa pun.
Namun tanpa disadari, ia duduk di
samping seseorang yang kemudian menjadi sahabat dekat selama bertahun-tahun
karena memiliki visi, akhlak, dan semangat ibadah yang sama.
Sebaliknya, ada orang yang telah
lama dikenal tetapi hubungan terasa hambar karena perbedaan prinsip hidup.
Fenomena seperti ini merupakan
contoh sederhana dari adanya kesesuaian jiwa yang dijelaskan Imam Al-Ghazali.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
kesesuaian hati adalah bagian dari rahasia ciptaan Allah yang tidak sepenuhnya
dapat dipahami manusia.
Daripada sibuk mencari penjelasan
melalui ramalan atau astrologi, Islam mengajarkan agar kita memperkuat iman,
memperbaiki akhlak, dan memilih lingkungan yang baik.
Hati yang bersih akan lebih mudah
menemukan sahabat yang juga memiliki hati yang bersih.
Hikmah
- Tidak semua rahasia kehidupan dapat dijelaskan oleh
akal manusia.
- Hindari mempercayai ramalan bintang dan astrologi
sebagai penentu hubungan antarmanusia.
- Orang beriman cenderung mencintai sesama orang beriman.
- Lingkungan yang baik akan memperkuat kualitas iman.
- Hati yang bersih akan tertarik kepada hati yang bersih.
- Tawaduk dalam ilmu merupakan salah satu tanda
kebijaksanaan seorang mukmin.
Penutup
Setiap hati berada dalam genggaman
Allah. Dia yang menanamkan rasa cinta, kasih sayang, maupun ketidaksukaan
sesuai hikmah yang hanya diketahui-Nya. Tugas seorang muslim bukanlah
membongkar rahasia yang tidak diwahyukan, melainkan memperbaiki hati agar
dipenuhi keimanan, keikhlasan, dan akhlak yang mulia. Dengan hati yang bersih,
seseorang akan lebih mudah menemukan lingkungan yang baik, sahabat yang saleh,
serta kehidupan yang penuh keberkahan di dunia dan akhirat.
Baca Juga :
Mengapa KitaMencintai Seseorang? Penjelasan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin
Mengapa Kita Mudah
Nyaman dengan Orang Tertentu? Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Kesesuaian
Jiwa dan Akhlak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar