Hakikat Mengenal Allah Menurut Imam Al-Isfarayini: Pondasi Iman Melalui Penafian dan Penetapan Sifat-Sifat Kesempurnaan

Pelajari penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang hakikat mengenal Allah melalui penafian kekurangan dan penetapan sifat-sifat kesempurnaan

Pendahuluan

Mengenal Allah (ma'rifatullah) merupakan kewajiban pertama yang menjadi dasar seluruh ajaran Islam. Keimanan yang benar tidak cukup hanya dengan mengucapkan syahadat, tetapi harus dibangun di atas pengetahuan yang benar tentang Allah, sifat-sifat-Nya, keagungan-Nya, keadilan-Nya, kekuasaan-Nya, dan kesempurnaan kerajaan-Nya.

Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah memberikan perhatian besar terhadap masalah ini. Salah satu tokoh yang menjelaskan prinsip tersebut secara mendalam adalah Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn. Pada mukadimah kitabnya, beliau menegaskan bahwa kesempurnaan iman hanya dapat diraih apabila seorang muslim mampu menggabungkan dua prinsip besar: menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allah dan menafikan seluruh sifat kekurangan yang tidak layak bagi-Nya.

Mukadimah ini sekaligus menjadi fondasi penting dalam memahami akidah Ahlus Sunnah, karena menjelaskan bahwa mengenal kebenaran harus disertai kemampuan membedakannya dari kebatilan.

Sumber Rujukan

Kitab :
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis :
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini merupakan salah seorang ulama besar mazhab Syafi'i sekaligus tokoh ilmu kalam Ahlus Sunnah pada abad ke-5 Hijriah. Beliau dikenal sebagai ahli akidah yang membela ajaran Ahlus Sunnah melalui argumentasi Al-Qur'an, hadis, dan pendekatan rasional yang kokoh.

Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn termasuk karya monumentalnya yang membahas dasar-dasar akidah Islam serta menjelaskan berbagai kelompok yang muncul dalam sejarah Islam beserta penyimpangannya menurut perspektif Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Terjemahan Lengkap

Imam besar, hujjah para ahli ilmu kalam, Abu al-Muzaffar al-Isfarayini berkata:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji hanya milik Allah, Tuhan seluruh alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad, seluruh keluarga beliau, serta para sahabat beliau yang mulia, suci, dan penuh kebajikan.

Ketahuilah—semoga Allah membahagiakan kalian—bahwa Allah Tabaraka wa Ta'ala memerintahkan hamba-hamba-Nya agar mengenal-Nya; mengenal Zat-Nya, sifat-sifat-Nya, keadilan-Nya, hikmah-Nya, kesempurnaan sifat-sifat-Nya, terlaksananya kehendak-Nya, kesempurnaan kerajaan-Nya, dan keluasan kekuasaan-Nya.

Pengenalan terhadap seluruh hal tersebut tidak akan sempurna kecuali dengan menafikan segala bentuk kekurangan dari Allah serta menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi-Nya, tanpa sedikit pun dicampuri oleh berbagai bid'ah orang-orang yang mengada-adakan ajaran baru maupun penyimpangan orang-orang yang sesat.

Perintah Allah itu mengandung dua kewajiban besar.

Pertama, mengenal seluruh perkara yang diwajibkan untuk diketahui tentang Allah.

Kedua, mengetahui seluruh perkara yang wajib dijauhi karena bertentangan dengan hakikat pengenalan kepada-Nya.

Apabila kedua sifat ini telah berkumpul dalam diri seseorang, maka sempurnalah imannya dengan keyakinan yang kokoh dan pengetahuan yang mendalam. Ia akan terbebas dari berbagai syubhat yang menyesatkan serta tipu daya setan yang menjerumuskan banyak manusia.

Keimanannya pun menjadi sebagaimana yang Allah ceritakan tentang Nabi Ibrahim 'alaihissalam ketika beliau berkata:

"Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik."

Allah memuji Nabi Ibrahim karena beliau berhasil menghimpun dua perkara sekaligus, yaitu mengenal kesempurnaan sifat-sifat Allah dan berpaling dari seluruh sesembahan yang bertentangan dengan sifat-sifat-Nya.

Oleh sebab itu Allah menyebut beliau sebagai seorang hanif, yaitu orang yang condong meninggalkan penyembahan berhala, menjauhi tipu daya setan, serta meninggalkan seluruh jalan dan agama yang menyelisihi kebenaran.

Demikian pula Rasulullah menegaskan:

"Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi beberapa golongan, engkau (Muhammad) tidak termasuk golongan mereka sedikit pun. Urusan mereka diserahkan kepada Allah, kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan."

Allah juga berfirman:

"Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah."

Ayat ini memerintahkan manusia agar mengenal Allah sekaligus meninggalkan seluruh keyakinan yang bertentangan dengan hakikat tauhid.

Allah juga memerintahkan Nabi Muhammad agar mengumumkan keyakinannya dengan ungkapan yang mencakup dua sisi sekaligus, yaitu penafian dan penetapan; mengetahui apa yang wajib diketahui serta menjauhi apa yang wajib dijauhi.

Karena itu Allah berfirman:

"Katakanlah, sesungguhnya Tuhanku telah memberi petunjuk kepadaku menuju jalan yang lurus, yaitu agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang-orang musyrik."

Allah juga memerintahkan seluruh manusia mengucapkan kalimat iman:

Lā ilāha illallāh.

Dalam kalimat tersebut Allah menggabungkan penafian dan penetapan.

Penafian didahulukan sebelum penetapan agar dipahami bahwa penetapan tauhid tidak akan sempurna kecuali setelah membersihkan diri dari seluruh keyakinan yang bertentangan dengannya.

Demikian pula dalam Surah Al-Ikhlas Allah menggabungkan penetapan dan penafian.

Allah menetapkan sifat-sifat kesempurnaan melalui firman-Nya:

"Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu."

Kemudian Allah menafikan segala bentuk kekurangan melalui firman-Nya:

"Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan-Nya."

Para ahli makrifat menjelaskan bahwa makna Ash-Shamad mencakup penetapan seluruh sifat kesempurnaan yang menjadi sebab sempurnanya seluruh makhluk bergantung kepada-Nya, sekaligus menafikan seluruh sifat yang tidak layak disandarkan kepada Allah.

Secara bahasa, Ash-Shamad berarti Dzat Yang menjadi tempat kembali seluruh makhluk dalam memenuhi segala kebutuhan mereka.

Makna ini mengharuskan adanya seluruh sifat kesempurnaan yang menjadikan seluruh perbuatan-Nya berlangsung dengan sempurna.

Sebagian ahli bahasa juga menjelaskan bahwa Ash-Shamad adalah Dzat yang tidak memiliki rongga.

Makna tersebut menunjukkan penafian terhadap batas, arah, bentuk jasmani, maupun hakikat sebagai benda atau substansi. Sebab siapa saja yang memiliki sifat-sifat tersebut pasti tersusun dari bagian-bagian dan memiliki ruang kosong dalam dirinya.

Melalui penjelasan ini menjadi jelas bahwa mengenal Allah harus dibangun di atas dua landasan, yaitu penafian dan penetapan, serta kemampuan membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Barang siapa belum mampu menafikan sifat-sifat yang batil, maka ia belum mencapai kesempurnaan dalam menetapkan sifat-sifat yang benar bagi Allah Ta'ala.

Artikel Pengembangan

Mukadimah Imam Al-Isfarayini ini merupakan salah satu penjelasan paling sistematis mengenai konsep tauhid dalam tradisi Ahlus Sunnah. Beliau tidak memulai pembahasannya dengan perdebatan mengenai berbagai kelompok atau aliran, melainkan dengan pondasi yang paling mendasar: mengenal Allah secara benar.

Hal ini menunjukkan bahwa akar seluruh penyimpangan akidah bukanlah semata-mata perbedaan pendapat, melainkan kesalahan dalam mengenal Allah. Seseorang dapat saja rajin beribadah, tetapi apabila ia memiliki keyakinan yang keliru tentang sifat-sifat Allah, maka pondasi keimanannya menjadi rapuh.

Imam Al-Isfarayini menjelaskan bahwa mengenal Allah memiliki dua sisi yang tidak dapat dipisahkan.

Pertama adalah itsbat (penetapan), yaitu menetapkan seluruh sifat kesempurnaan yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam Al-Qur'an dan yang dijelaskan Rasulullah dalam sunnahnya.

Kedua adalah nafy (penafian), yakni menafikan segala sifat kekurangan, kelemahan, kebutuhan, perubahan, keserupaan dengan makhluk, dan seluruh sifat yang tidak layak bagi Allah.

Inilah makna yang terkandung dalam kalimat tauhid Lā ilāha illallāh.

Bagian pertama, "Lā ilāha", merupakan penolakan terhadap seluruh sesembahan selain Allah.

Sedangkan "illallāh" merupakan penetapan bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah.

Prinsip ini juga tampak dalam Surah Al-Ikhlas yang menjadi ringkasan seluruh akidah Islam. Allah menetapkan keesaan-Nya, kemudian menolak seluruh anggapan yang menunjukkan kekurangan seperti memiliki anak, dilahirkan, atau memiliki tandingan.

Pelajaran lainnya adalah pentingnya memahami makna nama-nama Allah. Salah satunya adalah nama Ash-Shamad yang bukan sekadar berarti tempat meminta, tetapi menunjukkan kesempurnaan mutlak sehingga seluruh makhluk bergantung kepada-Nya, sementara Dia tidak bergantung kepada siapa pun.

Mukadimah ini juga mengingatkan bahwa iman yang benar tidak hanya dibangun dengan semangat beragama, melainkan dengan ilmu. Karena itulah Allah berfirman, "Fa'lam annahu lā ilāha illallāh""Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah." Ayat ini mendahulukan ilmu sebelum pengakuan dan amal.

Dengan demikian, seorang muslim hendaknya terus memperdalam ilmu akidah dari Al-Qur'an, Sunnah, dan penjelasan para ulama yang lurus agar terhindar dari syubhat, bid'ah, dan berbagai bentuk penyimpangan yang dapat merusak kemurnian tauhid.

Hikmah

  • Mengenal Allah merupakan kewajiban pertama bagi setiap mukallaf.
  • Tauhid dibangun di atas dua prinsip: menafikan segala kekurangan dari Allah dan menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi-Nya.
  • Kalimat Lā ilāha illallāh mengandung metode pendidikan akidah yang sangat mendalam melalui penafian dan penetapan.
  • Surah Al-Ikhlas merupakan ringkasan akidah Islam yang memadukan penetapan sifat-sifat Allah dan penolakan terhadap segala bentuk kekurangan.
  • Ilmu adalah benteng utama untuk menghadapi syubhat dan penyimpangan akidah.
  • Semakin benar seseorang mengenal Allah, semakin kuat pula keimanan, ketakwaan, dan ketenangan hatinya.

Penutup

Mukadimah At-Tabṣīr fī ad-Dīn mengajarkan bahwa keimanan yang kokoh tidak lahir dari sekadar tradisi atau semangat beragama, tetapi dari pengenalan yang benar terhadap Allah Ta'ala. Seorang mukmin tidak hanya dituntut menetapkan seluruh sifat kesempurnaan bagi Allah, tetapi juga wajib menafikan segala sifat yang tidak layak bagi-Nya. Dengan memadukan kedua prinsip tersebut, seseorang akan memiliki tauhid yang murni, terbebas dari syubhat, serta mampu membedakan dengan jelas antara jalan kebenaran dan jalan kebatilan. Inilah fondasi yang menjadi dasar seluruh pembahasan Imam Al-Isfarayini dalam kitabnya dan menjadi bekal utama bagi setiap muslim yang ingin menjaga kemurnian akidahnya.

Teks Arab:

مقدمة

قَالَ الإِمَام الْكَبِير حجَّة الْمُتَكَلِّمين أَبُو المظفر الإِسْفِرَايِينِيّ

بِسم الله الرَّحْمَن الرَّحِيم

الْحَمد لله رب الْعَالمين وَالصَّلَاة وَالسَّلَام على رَسُوله مُحَمَّد وَآله أَجْمَعِينَ وَأَصْحَابه البررة الطاهرين

اعلموا أسعدكم الله إِن الله تبارك وتعالى أَمر عَبده بمعرفته فِي ذَاته وَصِفَاته وعدله وحكمته وكماله فِي صفته ونفوذ مَشِيئَته وَكَمَال مَمْلَكَته وَعُمُوم قدرته وَلَا تتكامل الْمعرفَة بذلك كُله إِلَّا بِنَفْي النقائص عَنهُ وبإثبات أَوْصَاف الْكَمَال لَهُ من غير أَن يشوبه شَيْء من بدع المبتدعين وإلحاد الْمُلْحِدِينَ وَكَانَ أمره تَعَالَى متضمنا لأمرين الْمعرفَة بِمَا أوجب مَعْرفَته والإحاطة بِمَا أوجب عَلَيْهِ مجانبته حَتَّى إِذا اجْتمع لَهُ الوصفان تحقق لَهُ وصف الْإِيمَان على سَبِيل الإتقان والإيقان والمفارقة لما يوسوس لكثير مِنْهُم من الشّبَه وحبائل الشَّيْطَان فَيكون إيمَانه كَمَا أخبر الله تَعَالَى بِهِ عَن إِيمَان خَلِيل الرَّحْمَن حِين قَالَ ﴿إِنِّي وجهت وَجْهي للَّذي فطر السَّمَاوَات وَالْأَرْض حَنِيفا وَمَا أَنا من الْمُشْركين﴾ أثنى عَلَيْهِ لهَذِهِ الْمعرفَة لجمعه بَين الْمعرفَة بِكَمَال أَوْصَافه وميله عَن كل معبود يُخَالِفهُ فِي وَصفه فوصفه أَي الله تَعَالَى الْخَلِيل بِكَوْنِهِ حَنِيفا أَي مائلا عَن عبَادَة الْأَوْثَان وحبائل الشَّيْطَان وَمَا يُخَالِفهُ من الطّرق والأديان وبمثله أقرّ رَسُوله الْمُصْطَفى عليه السلام حِين قَالَ إِن الَّذين فرقوا دينهم وَكَانُوا شيعًا لست مِنْهُم فِي شَيْء إِنَّمَا أَمرهم إِلَى الله ثمَّ ينبئهم بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ) وَقَالَ ﴿فَاعْلَم أَنه لَا إِلَه إِلَّا الله﴾ فَأمره بالمعرفة ومغادرة كل دين يُخَالِفهُ فِي حَقِيقَته وَأمره أَن يخبر عَن نَفسه بِصفة مَعْرفَته الجامعة لوصفي النَّفْي وَالْإِثْبَات وَمَعْرِفَة مَا يجب مَعْرفَته ومجانبة مَا تجب مجانبته فَقَالَ ﴿قل إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاط مُسْتَقِيم دينا قيمًا مِلَّة إِبْرَاهِيم حَنِيفا وَمَا كَانَ من الْمُشْركين﴾ وَأمر سُبْحَانَهُ الكافة بِكَلِمَة الْإِيمَان لَا إِلَه إِلَّا الله جمع فِيهَا بَين النَّفْي وَالْإِثْبَات وَقدم النَّفْي على الْإِثْبَات ليعلم أَن الْإِثْبَات لَا يحصل إِلَّا بصيانته عَن كل مَا يتَضَمَّن مُخَالفَته وَهَكَذَا جمع فِي سُورَة الْإِخْلَاص بَين النَّفْي وَالْإِثْبَات فوصف نَفسه بأوصاف الْكَمَال فِي قَوْله ﴿قل هُوَ الله أحد الله الصَّمد﴾ وَنفي عَن نَفسه النُّقْصَان بقوله ﴿لم يلد وَلم يُولد وَلم يكن لَهُ كفوا أحد﴾ حَتَّى قَالَ أهل المعارف فِي تَحْقِيق صفة الصَّمد أَنه يتَضَمَّن إِثْبَات كل صفة لَا يتم الْخلق إِلَّا بهَا وَنفي كل صفة لَا يجوز وَصفه بهَا لِأَن الصَّمد فِي اللُّغَة هُوَ السَّيِّد الَّذِي يرجع إِلَيْهِ فِي الْحَوَائِج وَهَذَا يُوجب لَهُ إِثْبَات صِفَات الْكَمَال الَّتِي يتم بهَا إتساق الْأَفْعَال وَقد جَاءَ إِيضَاح اللُّغَة فِي تَفْسِيره أَن الصَّمد هُوَ الَّذِي لَا جَوف لَهُ وَهَذَا يتَضَمَّن نفي النِّهَايَة وَنفي الْحَد والجهة وَنفي كَونه جسما أَو جوهرا لِأَن من اتّصف بِشَيْء من تِلْكَ الْأَوْصَاف لم يسْتَحل اتصافه بالتركيب وَوُجُود الْجوف لَهُ وتقرر بِهَذِهِ الْجُمْلَة وجوب الْمعرفَة بِالنَّفْيِ وَالْإِثْبَات والتمييز بَين الْحق وَالْبَاطِل وَمن لم يتَحَقَّق لَهُ معرفَة نفي صفة الْبَاطِل لم يتَحَقَّق لَهُ معرفَة إِثْبَات صفة الْمعرفَة بِالْحَقِّ

Baca juga:

Penjelasan Agama dan Pembedaantara Golongan yang Selamat dengan Berbagai Golongan yang Menyimpang

Mengapa Umat Islam Terpecah Menjadi 73 Golongan? Penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang Golongan yang Selamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Ukuran Balasan dalam Hibah dan Pengaruh Kerelaan Pemberi

الأصل السادس أن الثواب الذي يلزم فيه خلاف فقيل إنه أقل متمول وقيل قدر القيمة وقيل ما يرضى به الواهب حتى له أن لا يرضى بأضعاف القيمة والصحي...