Pendalaman Al-Fatihah Bab 4: Makna, Qirā’āt, I‘rāb, Keutamaan Orang yang Memuji Allah dan 36 Pembahasan Penting. Bagian: 09 (selesai)

الحادية والثلاثون- في هذه الآية رد على القدرية والمعتزلة والإمامية ، لأنهم يعتقدون أن إرادة الإنسان كافية في صدور أفعال منه طاعة كانت أو معصية ، لأن الإنسان عندهم خالق لأفعاله فهو غير محتاج في صدورها عنه إلى ربه ، وقد أكذبهم الله تعالى في هذه الآية إذ سألوه الهداية إلى الصراط المستقيم فلو كان الأمر إليهم والاختيار بيدهم دون ربهم لما سألوه الهداية ، ولا كرروا السؤال في كل صلاة وكذلك تضرعهم إليه في دفع المكروه وهو ما يناقض الهداية حيث قالوا : {صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ} [الفاتحة : الآية].

فكما سألوه أن يهديهم سألوه ألا يضلهم ، وكذلك يدعون فيقولون : {رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا} [آل عمران : 8] الآية.

Masalah ketiga puluh satu:

Dalam ayat ini terdapat bantahan terhadap kaum Qadariyah, Mu‘tazilah, dan Imamiyah, karena mereka berkeyakinan bahwa kehendak manusia sudah cukup untuk melahirkan perbuatannya, baik ketaatan maupun maksiat.

Menurut mereka, manusia adalah pencipta perbuatannya sendiri, sehingga tidak membutuhkan Tuhannya dalam terjadinya perbuatan tersebut.

Padahal Allah telah mendustakan mereka dalam ayat ini, karena manusia meminta kepada-Nya hidayah menuju jalan yang lurus.

Seandainya urusan itu sepenuhnya berada di tangan mereka dan pilihan ada pada diri mereka tanpa Tuhan mereka, tentu mereka tidak akan meminta hidayah kepada-Nya, dan tidak akan mengulanginya dalam setiap shalat.

Demikian pula mereka merendahkan diri kepada-Nya untuk menolak keburukan, yaitu sesuatu yang bertentangan dengan hidayah, sebagaimana firman-Nya:

{صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} (Al-Fatihah).

Sebagaimana mereka meminta agar diberi petunjuk, mereka juga meminta agar tidak disesatkan.

Dan mereka juga berdoa:
{رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا} (QS. Ali ‘Imran: 8).”

الثانية والثلاثون- قوله تعالى : {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ}

اختلف في "المغضوب عليهم" و"الضالين" من هم ؟ فالجمهور أن المغضوب عليهم اليهود والضالين النصارى ، وجاء ذلك مفسرا عن النبي صلى الله عليه وسلم في حديث عدي بن حاتم وقصة إسلامه ، أخرجه أبو داود الطيالسي في مسنده والترمذي في جامعه.

Masalah ketiga puluh dua:

Firman Allah {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} — terdapat perbedaan pendapat tentang siapa yang dimaksud dengan ‘orang-orang yang dimurkai’ dan ‘orang-orang yang sesat’.

Maka mayoritas ulama berpendapat bahwa:

  • المغضوب عليهم  adalah orang-orang Yahudi
  • الضالين  adalah orang-orang Nasrani

Dan hal ini dijelaskan dari Nabi dalam hadis Adi ibn Hatim dan kisah keislamannya.

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud al-Tayalisi dalam Musnad-nya dan Al-Tirmidhi dalam Jāmi‘-nya.”

وشهد لهذا التفسير أيضا قوله سبحانه في اليهود : {وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ} [البقرة : 61 وآل عمران : 112]. وقال : { وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ} [الفتح : 6] وقال في النصارى : {قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيراً وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ} [المائدة : 77].

Dan tafsir ini (bahwa المغضوب عليهم  adalah Yahudi dan الضالين  adalah Nasrani) juga dikuatkan oleh firman Allah tentang orang-orang Yahudi:

  • {وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ} (QS. Al-Baqarah: 61 dan Ali ‘Imran: 112)
    Dan mereka kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah.
  • {وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ} (QS. Al-Fath: 6)
    Dan Allah murka kepada mereka.

Dan Allah berfirman tentang orang-orang Nasrani:

{قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيراً وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ} (QS. Al-Ma’idah: 77)

Sungguh mereka telah sesat sebelumnya, dan telah menyesatkan banyak orang, serta tersesat dari jalan yang lurus.

وقيل : "المغضوب عليهم" المشركون. و"الضالين" المنافقون. وقيل : "المغضوب عليهم" هو من أسقط فرض هذه السورة في الصلاة و"الضالين" عن بركة قراءتها. حكاه السلمي في حقائقه والماوردي في تفسيره وليس بشيء.

Dan ada yang mengatakan: المغضوب عليهم adalah orang-orang musyrik, dan الضالين adalah orang-orang munafik.

Dan ada pula yang mengatakan: المغضوب عليهم adalah orang yang meninggalkan kewajiban membaca surah ini dalam shalat, dan الضالين adalah orang yang tidak mendapatkan keberkahan dari bacaannya.

Pendapat ini diriwayatkan oleh Al-Sulami dalam Haqā’iq at-Tafsīr dan Al-Mawardi dalam tafsirnya, namun pendapat ini tidak kuat (tidak معتبر).”

قال الماوردي : وهذا وجه مردود ، لأن ما تعارضت فيه الأخبار وتقابلت فيه الآثار وانتشر فيه الخلاف لم يجز أن يطلق عليه هذا الحكم.

Al-Mawardi berkata: Pendapat ini tertolak, karena perkara yang terdapat perbedaan riwayat, saling bertentangan atsar, dan tersebar perselisihan di dalamnya, tidak boleh dipastikan dengan satu hukum seperti itu.

وقيل : "المغضوب عليهم" باتباع البدع و"الضالين" عن سنن الهدى.

Dan dikatakan pula:

  • المغضوب عليهم adalah orang-orang yang mengikuti bid‘ah
  • dan الضالين adalah orang-orang yang menyimpang dari sunnah petunjuk.”

قلت : وهذا حسن ، وتفسير النبي صلى الله عليه وسلم أولى وأعلى وأحسن. و"عليهم" في موضع رفع لأن المعنى غضب عليهم.

والغضب في اللغة الشدة. ورجل غضوب أي شديد الخلق. والغضوب : الحية الخبيثة لشدتها.

والغضبة : الدرقة من جلد البعير ، يطوى بعضها على بعض ، سميت بذلك لشدتها.

Penulis berkata: Pendapat ini bagus, namun tafsir Nabi lebih utama, lebih tinggi, dan lebih baik.

Dan kata عليهم berada pada posisi rafa‘ (marfū‘), karena maknanya: غضب عليهم (Allah murka atas mereka).

Dan kata الغضب dalam bahasa berarti kekerasan (شدّة).

Dikatakan: رجل غضوب  yaitu orang yang keras tabiatnya.

Dan الغضوب  juga berarti ular yang ganas, karena keras (berbahaya).

Dan الغضبة  adalah perisai dari kulit unta yang dilipat sebagian di atas sebagian, dinamakan demikian karena kuat/kerasnya.”

ومعنى الغضب في صفة الله تعالى إرادة العقوبة ، فهو صفة ذات وإرادة الله تعالى من صفات ذاته أو نفس العقوبة ومنه الحديث : "إن الصدقة لتطفئ غضب الرب " فهو صفة فعل.

Dan makna الغضب dalam sifat Allah Ta‘ala adalah kehendak untuk memberi hukuman (إرادة العقوبة).

Maka ia termasuk sifat ذات  (sifat dzat), karena إرادة (kehendak) Allah termasuk sifat dzat-Nya.

Atau maknanya adalah hukuman itu sendiri, dan dari makna ini terdapat hadis:
Sesungguhnya sedekah itu dapat memadamkan murka Tuhan.

Maka dalam hal ini ia termasuk sifat فعل  (sifat perbuatan).

الثالثة والثلاثون- قوله تعالى : {وَلا الضَّالِّينَ} الضلال في كلام العرب هو الذهاب عن سنن القصد وطريق الحق ،

ومنه : ضل اللبن في الماء أي غاب.

ومنه : {أَإِذَا ضَلَلْنَا فِي الأَرْضِ} [السجدة : 10] أي غبنا بالموت وصرنا ترابا ، قال :

ألم تسأل فتخبرك الديار # عن الحي المضلَّل أين ساروا

والضُّلَضِلَة : حجر أملس يردده الماء في الوادي. وكذلك الغضبة : صخرة في الجبل مخالفة لونه قال : أو غضبة في هضبة ما أمنعا

Masalah ketiga puluh tiga:

Firman Allah {وَلَا الضَّالِّينَ} — kata الضلال dalam bahasa Arab berarti menyimpang dari jalan yang lurus dan jalan kebenaran.

Di antaranya ungkapan: ضلّ اللبن في الماء yaitu susu hilang (larut) dalam air.

Dan juga firman Allah:

{أَإِذَا ضَلَلْنَا فِي الأَرْضِ} (QS. As-Sajdah: 10), artinya:
Apakah ketika kami telah hilang (mati) di dalam bumi dan menjadi tanah…

Dan (penyair) berkata:

ألم تسأل فتخبرك الديار # عن الحي المضلَّل أين ساروا

Tidakkah engkau bertanya sehingga tempat-tempat itu memberitahumu, ke mana perginya kaum yang telah hilang (lenyap)?

Dan الضُّلَضِلَة  adalah batu licin yang digerakkan oleh air di lembah.

Sebagaimana juga الغضبة  yaitu batu besar di gunung yang berbeda warnanya.

Dan (dalam syair):

أو غضبة في هضبة ما أمنعا

…atau seperti batu besar di atas bukit yang sangat kokoh

الرابعة والثلاثون- قرأ عمر بن الخطاب وأبي بن كعب "غير المغضوب عليهم وغير الضالين" وروي عنهما في الراء النصب والخفض في الحرفين ، فالخفض على البدل من "الذين" أو من الهاء والميم في "عليهم" أو صفة للذين والذين معرفة ولا توصف المعارف بالنكرات ولا النكرات بالمعارف ، إلا أن الذين ليس بمقصود قصدهم فهو عام فالكلام بمنزلة قولك : إني لأمر بمثلك فأكرمه أو لأن "غير" تعرفت لكونها بين شيئين لا وسط بينهما كما تقول : الحي غير الميت والساكن غير المتحرك والقائم غير القاعد ، قولان : الأول للفارسي والثاني للزمخشري.

Masalah ketiga puluh empat:

Umar ibn al-Khattab dan Ubayy ibn Ka'b membaca:

غير المغضوب عليهم وغير الضالين (dengan pengulangan kata غير).

Dan diriwayatkan dari keduanya bahwa huruf rā’ pada غير  dibaca dengan naṣab dan juga khafadh (jar) pada kedua kata tersebut.

Adapun bacaan jar (khafadh) maka bisa karena:

  • sebagai badal dari الذين
  • atau dari dhamir pada عليهم
  • atau sebagai sifat (na‘at) bagi الذين

Padahal الذين  adalah ma‘rifah (kata tertentu), dan biasanya ma‘rifah tidak disifati dengan nakirah, dan nakirah tidak disifati dengan ma‘rifah.

Namun hal itu dibolehkan karena:

  • الذين  di sini tidak dimaksudkan secara khusus, tapi bersifat umum, sehingga seperti ucapan:
    Aku melewati orang sepertimu, maka aku memuliakannya.

Atau karena kata غير  menjadi ma‘rifah karena berada di antara dua hal yang tidak ada perantara di antara keduanya, seperti:

  • yang hidup ≠ yang mati
  • yang diam ≠ yang bergerak
  • yang berdiri ≠ yang duduk

Ini ada dua pendapat:

  • Pendapat pertama dari Abu Ali al-Farisi
  • Pendapat kedua dari Al-Zamakhshari.”

Penjelasan Maksud:

  1. Variasi bacaan:
    • Ada bacaan dengan pengulangan:
      👉 غير المغضوب عليهم وغير الضالين
  2. I‘rab “غير”:
    • Bisa:
      • naṣab
      • atau jar (khafadh)
    • Tergantung kedudukannya:
      • badal
      • sifat (na‘at)
  3. Masalah nahwu:
    • Biasanya:
      • ma‘rifah ↔ ma‘rifah
      • nakirah ↔ nakirah
    • Tapi di sini ada pengecualian
  4. Alasan pengecualian:
    • Karena makna umum
    • atau karena “غير” menjadi seperti ma‘rifah dalam konteks tertentu

Kesimpulan:

  • Ayat ini memiliki:
    • variasi bacaan
    • pembahasan nahwu yang dalam
  • Menunjukkan:
    👉 kekayaan bahasa Al-Qur’an
    👉 dan ketelitian ulama dalam i‘rab dan makna

والنصب في الراء على وجهين : على الحال من الذين أو من الهاء والميم في عليهم كأنك قلت : أنعمت عليهم لا مغضوبا عليهم. أو على الاستثناء كأنك قلت : إلا المغضوب عليهم. ويجوز النصب بأعني ، وحكي عن الخليل.

Dan bacaan naṣab pada huruf rā’ (غيرَ) memiliki dua kemungkinan:

  1. Sebagai ḥāl (keterangan keadaan) dari الذين  atau dari dhamir pada عليهم, seakan-akan engkau berkata:
    Engkau telah memberi nikmat kepada mereka dalam keadaan tidak dimurkai.
  2. Atau sebagai istitsnā’ (pengecualian), seakan-akan engkau berkata:
    kecuali orang-orang yang dimurkai.

Dan boleh juga dibaca naṣab dengan تقدير (perkiraan kata):
أعني
 (‘yang aku maksud adalah’), dan ini diriwayatkan dari Al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi.”

Penjelasan Maksud:

  1. Naṣab pada “غيرَ”:
    • Bisa berfungsi sebagai:
      • ḥāl (keadaan)
      • istitsnā’ (pengecualian)
  2. Makna ḥāl:
    • Menjelaskan keadaan:
      👉 orang yang diberi nikmat = bukan yang dimurkai
  3. Makna istitsnā’:
    • Seperti:
      👉 mengecualikan golongan yang dimurkai
  4. Pendapat Al-Khalil:
    • Bisa juga dipahami dengan تقدير:
      👉 “maksudku adalah…” (أعني)

Kesimpulan:

  • I‘rab غير sangat fleksibel:
    • bisa jadi ḥāl
    • bisa jadi istitsnā’
    • bisa juga تقدير “أعني
  • Semua ini menunjukkan kedalaman analisis nahwu dalam Al-Qur’an

الخامسة والثلاثون - قوله تعالى : "لا" في {وَلا الضَّالِّينَ}

اختلف فيها فقيل هي زائدة ، قاله الطبري.

ومنه قوله تعالى : {مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ} [الأعراف : 12]. وقيل : هي تأكيد دخلت لئلا يتوهم أن الضالين معطوف على الذين ، حكاه مكي والمهدوي.

وقال الكوفيون : "لا" بمعنى غير وهي قراءة عمر وأبي وقد تقدم.

Masalah ketiga puluh lima

Firman Allah لا dalam ayat {وَلَا الضَّالِّينَ} diperselisihkan maknanya.

  • Dikatakan bahwa ia adalah tambahan (zā’idah).

Ini pendapat Al-Tabari.

Di antaranya contoh firman Allah:
{مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ} (QS. Al-A‘raf: 12).

  • Dan dikatakan: ia adalah penegas (ta’kīd), dimasukkan agar tidak disangka bahwa الضالين  di-‘athaf-kan kepada الذين.

Ini diriwayatkan oleh Makki ibn Abi Talib dan Al-Mahdawi.

  • Dan ulama Kufah berkata: لا bermakna غير’ (bukan), dan ini sesuai dengan bacaan Umar ibn al-Khattab dan Ubayy ibn Ka'b, dan hal ini telah disebutkan sebelumnya.”

السادسة والثلاثون- الأصل في "الضالين" : الضاللين حذفت حركة اللام الأولى ثم أدغمت اللام في اللام فاجتمع ساكنان مدة الألف واللام المدغمة. وقرأ أيوب السختياني : "ولا الضالين" بهمزة غير ممدودة كأنه فر من التقاء الساكنين ، وهي لغة.

Masalah ketiga puluh enam:

Asal kata الضالين adalah الضالِلِين.

Kemudian dihilangkan harakat pada lām pertama, lalu dimasukkan (diidghamkan) lām ke dalam lām, sehingga berkumpul dua sukun: panjang alif dan lām yang diidghamkan.

Dan Ayyub al-Sakhtiyani membaca: ولا الضالين dengan hamzah yang tidak dipanjangkan, seakan-akan ia menghindari pertemuan dua sukun, dan itu merupakan salah satu bahasa (dialek).”

حكى أبو زيد قال : سمعت عمرو بن عبيد - يقرأ : {فَيَوْمَئِذٍ لا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ إِنْسٌ وَلا جَانٌّ} [الرحمن : 39] فظننته قد لحن حتى سمعت من العرب : دأبة وشأبة.

قال أبو الفتح : وعلى هذه اللغة قول كُثَيّر :

إذا ما العوالي بالعبيط احمأرت

نُجز تفسير سورة الحمد ، ولله الحمد والمنة.

Abu Zayd al-Ansari berkata: Aku mendengar Amr ibn Ubayd membaca:

{فَيَوْمَئِذٍ لَا يُسْأَلُ عَنْ ذَنْبِهِ إِنْسٌ وَلَا جَانٌّ} (QS. Ar-Rahman: 39).

Maka aku mengira ia telah melakukan kesalahan bahasa, sampai aku mendengar dari orang Arab (asli) ungkapan: دأبة  dan شأبة.

Berkata Abu al-Fath ibn Jinni: Dan dalam bahasa seperti ini terdapat juga perkataan Kuthayyir:

إذا ما العوالي بالعبيط احمأرت
Apabila tombak-tombak tinggi di lembah ‘Abīṭ menjadi merah (karena darah).

Penjelasan Maksud:

  1. Masalah bahasa (lahjah Arab):
    • Awalnya dianggap salah (lahn)
    • Tapi ternyata:
      👉 itu adalah dialek Arab yang sah
  2. Contoh kata:
    • دأبة، شأبة → menunjukkan adanya pola bunyi tertentu dalam dialek Arab
  3. Penguatan dari syair:
    • Syair Arab digunakan sebagai bukti keabsahan bahasa

Kesimpulan:

  • Tidak semua yang terdengar “aneh” dalam bahasa Arab itu salah
  • Bisa jadi itu:
    👉 bagian dari dialek Arab klasik

Penutup:

Telah selesai penafsiran Surah Al-Hamd (Al-Fatihah), ولله الحمد والمنة

Segala puji serta karunia hanya milik Allah.

Baca juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Ukuran Balasan dalam Hibah dan Pengaruh Kerelaan Pemberi

الأصل السادس أن الثواب الذي يلزم فيه خلاف فقيل إنه أقل متمول وقيل قدر القيمة وقيل ما يرضى به الواهب حتى له أن لا يرضى بأضعاف القيمة والصحي...