Pendahuluan
Setelah menjelaskan tujuan penulisan
Tahafut al-Falasifah, Imam Al-Ghazali memulai mukadimah kitabnya dengan
menjelaskan metode yang akan beliau gunakan. Beliau menyadari bahwa membahas
seluruh perbedaan pendapat para filsuf akan sangat panjang karena pemikiran
mereka beragam, saling bertentangan, dan berkembang dalam banyak aliran.
Oleh sebab itu, Al-Ghazali memilih
pendekatan yang lebih sistematis. Beliau memusatkan kritiknya kepada
Aristoteles sebagai tokoh yang dianggap para filsuf sebagai guru utama (al-Mu'allim
al-Awwal). Selain itu, beliau menjadikan penjelasan Al-Farabi dan Ibnu Sina
sebagai rujukan utama karena keduanya dianggap sebagai penerjemah dan
pengembang filsafat Aristoteles yang paling berpengaruh dalam dunia Islam.
Dengan demikian, pembahasan beliau menjadi lebih fokus sekaligus lebih mudah
dipahami.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Bagian: Muqaddimah – Metode Pembahasan dan Fokus Kritik terhadap
Aristoteles
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Mukadimah
Ketahuilah bahwa membahas seluruh
perbedaan pendapat para filsuf akan membuat pembahasan menjadi sangat panjang.
Sebab, kekacauan pemikiran mereka sangat luas, perselisihan mereka sangat
banyak, pendapat-pendapat mereka beragam, dan jalan-jalan pemikiran mereka
saling berjauhan bahkan saling bertentangan.
Karena itu, kami akan membatasi
pembahasan dengan memperlihatkan kontradiksi dalam pendapat pemimpin mereka,
yaitu filsuf yang mereka anggap sebagai filsuf mutlak dan Guru Pertama
(al-Mu'allim al-Awwal), yakni Aristoteles.
Menurut anggapan mereka, Aristoteles
telah menyusun, merapikan, dan menyempurnakan berbagai ilmu mereka. Ia juga
menghilangkan berbagai pendapat yang dianggap tidak perlu serta memilih ajaran
yang dinilai paling sesuai dengan prinsip-prinsip mazhab mereka.
Bahkan, Aristoteles sendiri
membantah seluruh filsuf sebelumnya, termasuk gurunya yang mereka juluki Plato
Sang Ilahi. Ketika ia berbeda pendapat dengan gurunya, ia memberikan alasan
dengan mengatakan:
"Plato adalah sahabatku, dan
kebenaran juga sahabatku. Namun, kebenaran lebih layak untuk diikuti daripada
Plato."
Kami menyebutkan kisah ini agar
diketahui bahwa di kalangan mereka sendiri tidak terdapat ketetapan dan
kepastian dalam mazhab yang mereka anut. Mereka lebih banyak menetapkan
pendapat berdasarkan dugaan dan perkiraan, bukan atas dasar penelitian yang
pasti dan keyakinan yang kokoh.
Mereka berusaha membuktikan
kebenaran pembahasan ketuhanan mereka dengan menunjukkan keberhasilan mereka
dalam ilmu hitung, logika, dan matematika. Dengan cara itu mereka menarik
orang-orang yang lemah akalnya agar menerima seluruh pemikiran mereka.
Padahal, seandainya pembahasan
mereka tentang persoalan ketuhanan benar-benar memiliki dalil yang kokoh dan
bebas dari dugaan sebagaimana ilmu matematika mereka, tentu mereka tidak akan
berselisih di dalamnya, sebagaimana mereka tidak berselisih dalam ilmu hitung.
Selain itu, para penerjemah
karya-karya Aristoteles pun tidak luput dari kesalahan berupa perubahan dan
penyimpangan makna, sehingga ucapan-ucapannya memerlukan penjelasan dan
penafsiran. Hal ini juga menjadi sebab munculnya perselisihan di antara mereka
sendiri.
Di antara para filsuf Islam, orang
yang paling baik dalam menukil ajaran Aristoteles adalah Abu Nashr al-Farabi
dan Ibnu Sina.
Oleh karena itu, kami akan membatasi
bantahan terhadap pendapat yang mereka berdua pilih dan anggap sebagai ajaran
yang benar dari para pemimpin mereka dalam kesesatan.
Adapun berbagai pendapat yang telah
mereka tinggalkan dan tidak lagi mereka ikuti, maka kerusakannya sudah sangat
jelas sehingga tidak memerlukan pembahasan panjang untuk membantahnya.
Karena itu, hendaknya diketahui
bahwa kami membatasi pembahasan pada pendapat-pendapat mereka berdasarkan
riwayat Al-Farabi dan Ibnu Sina agar pembicaraan tidak menjadi terlalu luas
seiring banyaknya ragam mazhab mereka.
Artikel Pengembangan
Metode
Ilmiah Imam Al-Ghazali
Dalam mukadimah ini, Imam Al-Ghazali
memperlihatkan metode penelitian yang sangat sistematis. Beliau tidak berusaha
membantah seluruh pemikiran filsafat sekaligus, melainkan menentukan objek
kajian yang jelas. Langkah ini penting agar pembahasan tetap fokus dan
argumentasi dapat diuji secara mendalam.
Pendekatan seperti ini merupakan
ciri karya ilmiah yang baik: ruang lingkup ditentukan sejak awal sehingga
pembaca mengetahui apa yang akan dibahas dan apa yang tidak menjadi fokus
penelitian.
Mengapa
Aristoteles Menjadi Fokus?
Al-Ghazali memilih Aristoteles
karena pada masanya ia dipandang sebagai otoritas tertinggi dalam filsafat.
Hampir seluruh filsafat yang berkembang di dunia Islam ketika itu dipengaruhi
oleh penafsiran terhadap karya-karya Aristoteles, terutama melalui Al-Farabi
dan Ibnu Sina.
Dengan mengkritisi fondasi pemikiran
Aristoteles, Al-Ghazali bermaksud menguji dasar yang menopang keseluruhan
bangunan metafisika para filsuf yang menjadi sasaran kritiknya.
Kebenaran
Lebih Tinggi daripada Tokoh
Kutipan terkenal, "Plato
adalah sahabatku, tetapi kebenaran lebih layak diikuti," digunakan
Al-Ghazali untuk menunjukkan bahwa bahkan Aristoteles tidak menerima seluruh
pendapat gurunya tanpa kritik.
Pesan yang ingin disampaikan sangat
penting: dalam tradisi ilmu, penghormatan kepada guru tidak boleh mengalahkan
komitmen terhadap kebenaran. Prinsip ini juga menjadi dasar sikap Al-Ghazali
ketika mengkritik Aristoteles. Beliau tidak menyerang pribadi tokohnya,
melainkan menguji argumentasinya.
Perbedaan
antara Matematika dan Metafisika
Al-Ghazali membuat pembedaan yang
tajam antara ilmu-ilmu demonstratif seperti matematika dan pembahasan
metafisika.
Menurut beliau, kesepakatan para
ahli dalam matematika menunjukkan kuatnya metode pembuktiannya. Sebaliknya,
banyaknya perselisihan dalam persoalan ketuhanan menunjukkan bahwa bidang
tersebut tidak dapat disamakan dengan ilmu hitung. Oleh karena itu,
keberhasilan seorang filsuf dalam matematika tidak otomatis membuktikan bahwa
seluruh pandangannya tentang Tuhan juga benar.
Pentingnya
Memeriksa Sumber
Al-Ghazali juga mengingatkan bahwa
karya-karya Aristoteles sampai kepada dunia Islam melalui proses penerjemahan.
Dalam proses tersebut dapat terjadi perubahan istilah, penambahan penafsiran,
atau kekeliruan makna.
Karena itu, seorang peneliti harus
memperhatikan kualitas sumber dan transmisi ilmu sebelum membangun kesimpulan.
Sikap kritis terhadap sumber merupakan bagian penting dari metodologi ilmiah.
Al-Farabi
dan Ibnu Sina sebagai Representasi
Al-Ghazali memilih Al-Farabi dan
Ibnu Sina bukan karena mereka satu-satunya filsuf, melainkan karena keduanya
dianggap paling berhasil menyusun dan menjelaskan filsafat Aristoteles dalam
tradisi Islam.
Dengan membatasi pembahasan pada dua
tokoh tersebut, beliau berharap kritiknya dapat mewakili inti pemikiran
filsafat yang berkembang pada zamannya tanpa harus membahas seluruh cabang dan
variasinya.
Hikmah
- Pembahasan ilmiah yang baik memerlukan ruang lingkup
yang jelas dan terukur.
- Kebenaran harus lebih diutamakan daripada loyalitas
kepada tokoh atau guru.
- Keahlian dalam satu bidang ilmu tidak otomatis
membuktikan kebenaran dalam bidang lain.
- Banyaknya perselisihan dalam suatu teori menjadi alasan
untuk mengujinya kembali secara kritis.
- Memeriksa keakuratan sumber merupakan bagian penting
dari penelitian ilmiah.
- Kritik yang adil harus didasarkan pada pemahaman yang
benar terhadap pendapat lawan.
- Tradisi keilmuan Islam mengajarkan keseimbangan antara
penggunaan akal, penelitian yang teliti, dan komitmen terhadap kebenaran.
Penutup
Mukadimah ini memperlihatkan bahwa Tahafut
al-Falasifah disusun dengan metodologi yang matang dan terarah. Imam
Al-Ghazali tidak membahas seluruh ragam pemikiran filsafat secara acak, tetapi
memusatkan perhatian pada Aristoteles sebagai tokoh sentral, melalui penjelasan
Al-Farabi dan Ibnu Sina yang paling berpengaruh di dunia Islam. Di samping itu,
beliau mengingatkan bahwa keberhasilan dalam ilmu logika atau matematika tidak
dapat dijadikan bukti otomatis bagi kebenaran pandangan metafisika. Dengan
pendekatan yang sistematis, objektif, dan berbasis argumentasi, Al-Ghazali
mengajak pembaca untuk menilai setiap pemikiran berdasarkan kekuatan dalilnya,
bukan semata-mata berdasarkan nama besar tokohnya.
Teks Arab :
مقدمة
ليعلم أن الخوض في حكاية اختلاف الفلاسفة تطويل، فإن
خبطهم طويل، ونزاعهم كثير، وأراءهم منتشرة وطرقهم متباعدة متدابرة ، فلنقتصر على
إظهار التناقض في رأي مقدمهم الذي هو الفليسوف المطلق، والمعلم الأول، فإنه رتب
علومهم وهذبها بزعمهم، وحذف الحشو من أرائهم، وانتقى ما هو الأقرب إلى أصول أهوائهم
وهو ((أرسطاطاليس))؛ وقد رد على كل من قبله حتى على أستاذه الملقب عندهم بأفلاطون
الإلهى، ثم اعتذر عن مخالفته استاذه بأن قال: (( أفلاطن صديق والحق صديق ولكن الحق
أصدق منه.
وإنما نقلنا هذه الحكاية ليعلم أنه لا تثبت ولا إتقان
لمذهبهم عندهم، وأنهم يحكمون بظن و تخمين، من غير تحقيق ويقين، ويستدلون على صدق
علومهم الإلهية بظهور العلوم الحسابية، والمنطقية ، ويستدرجون به ضعفاء العقول،
ولو كانت علومهم الإلهية متقنة البراهين، نقية عن التخمين، كعلومهم الحسابية، لما
اختلفوا فيها، كما لم يختلفوا في الحسابية. ثم المترجمون لكلام أرسطو لم ينفك
كلامهم عن تحريف وتبديل، محوج إلى تفسير وتأويل، حتى أثار ذلك أيضاً نزاعاً بينهم،
وأقومهم بالنقل من المتفلسفة الإسلامية: أبو نصر الفارابي، وابن سينا. فنقتصر على
إبطال ما اختاروه، ورأياه الصحيح من مذهب رؤسائهما في الضلال، فإن ما هجراه واستنكفا
من المتابعة فيه لا يتمارى في اختلاله، ولا يفتقر إلى نظر طويل في إبطاله، فليعلم
أنا مقتصرون على رد مذاهبهم بحسب نقل هذين الرجلين، كي لا ينتشر الكلام بحسب
انتشار المذهب.
Baca juga:
Imam Al-Ghazali: Filsuf Besar Pun Mengakui Adanya Allah, Lalu Di ManaLetak Kekeliruannya?
Tiga Jenis Perbedaan dengan Para Filsuf Menurut Imam Al-Ghazali: Mana
yang Perlu Dibantah dan Mana yang Tidak?
Pendahuluan
Setelah menjelaskan tujuan penulisan
Tahafut al-Falasifah, Imam Al-Ghazali memulai mukadimah kitabnya dengan
menjelaskan metode yang akan beliau gunakan. Beliau menyadari bahwa membahas
seluruh perbedaan pendapat para filsuf akan sangat panjang karena pemikiran
mereka beragam, saling bertentangan, dan berkembang dalam banyak aliran.
Oleh sebab itu, Al-Ghazali memilih
pendekatan yang lebih sistematis. Beliau memusatkan kritiknya kepada
Aristoteles sebagai tokoh yang dianggap para filsuf sebagai guru utama (al-Mu'allim
al-Awwal). Selain itu, beliau menjadikan penjelasan Al-Farabi dan Ibnu Sina
sebagai rujukan utama karena keduanya dianggap sebagai penerjemah dan
pengembang filsafat Aristoteles yang paling berpengaruh dalam dunia Islam.
Dengan demikian, pembahasan beliau menjadi lebih fokus sekaligus lebih mudah
dipahami.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Bagian: Muqaddimah – Metode Pembahasan dan Fokus Kritik terhadap
Aristoteles
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Mukadimah
Ketahuilah bahwa membahas seluruh
perbedaan pendapat para filsuf akan membuat pembahasan menjadi sangat panjang.
Sebab, kekacauan pemikiran mereka sangat luas, perselisihan mereka sangat
banyak, pendapat-pendapat mereka beragam, dan jalan-jalan pemikiran mereka
saling berjauhan bahkan saling bertentangan.
Karena itu, kami akan membatasi
pembahasan dengan memperlihatkan kontradiksi dalam pendapat pemimpin mereka,
yaitu filsuf yang mereka anggap sebagai filsuf mutlak dan Guru Pertama
(al-Mu'allim al-Awwal), yakni Aristoteles.
Menurut anggapan mereka, Aristoteles
telah menyusun, merapikan, dan menyempurnakan berbagai ilmu mereka. Ia juga
menghilangkan berbagai pendapat yang dianggap tidak perlu serta memilih ajaran
yang dinilai paling sesuai dengan prinsip-prinsip mazhab mereka.
Bahkan, Aristoteles sendiri
membantah seluruh filsuf sebelumnya, termasuk gurunya yang mereka juluki Plato
Sang Ilahi. Ketika ia berbeda pendapat dengan gurunya, ia memberikan alasan
dengan mengatakan:
"Plato adalah sahabatku, dan
kebenaran juga sahabatku. Namun, kebenaran lebih layak untuk diikuti daripada
Plato."
Kami menyebutkan kisah ini agar
diketahui bahwa di kalangan mereka sendiri tidak terdapat ketetapan dan
kepastian dalam mazhab yang mereka anut. Mereka lebih banyak menetapkan
pendapat berdasarkan dugaan dan perkiraan, bukan atas dasar penelitian yang
pasti dan keyakinan yang kokoh.
Mereka berusaha membuktikan
kebenaran pembahasan ketuhanan mereka dengan menunjukkan keberhasilan mereka
dalam ilmu hitung, logika, dan matematika. Dengan cara itu mereka menarik
orang-orang yang lemah akalnya agar menerima seluruh pemikiran mereka.
Padahal, seandainya pembahasan
mereka tentang persoalan ketuhanan benar-benar memiliki dalil yang kokoh dan
bebas dari dugaan sebagaimana ilmu matematika mereka, tentu mereka tidak akan
berselisih di dalamnya, sebagaimana mereka tidak berselisih dalam ilmu hitung.
Selain itu, para penerjemah
karya-karya Aristoteles pun tidak luput dari kesalahan berupa perubahan dan
penyimpangan makna, sehingga ucapan-ucapannya memerlukan penjelasan dan
penafsiran. Hal ini juga menjadi sebab munculnya perselisihan di antara mereka
sendiri.
Di antara para filsuf Islam, orang
yang paling baik dalam menukil ajaran Aristoteles adalah Abu Nashr al-Farabi
dan Ibnu Sina.
Oleh karena itu, kami akan membatasi
bantahan terhadap pendapat yang mereka berdua pilih dan anggap sebagai ajaran
yang benar dari para pemimpin mereka dalam kesesatan.
Adapun berbagai pendapat yang telah
mereka tinggalkan dan tidak lagi mereka ikuti, maka kerusakannya sudah sangat
jelas sehingga tidak memerlukan pembahasan panjang untuk membantahnya.
Karena itu, hendaknya diketahui
bahwa kami membatasi pembahasan pada pendapat-pendapat mereka berdasarkan
riwayat Al-Farabi dan Ibnu Sina agar pembicaraan tidak menjadi terlalu luas
seiring banyaknya ragam mazhab mereka.
Artikel Pengembangan
Metode
Ilmiah Imam Al-Ghazali
Dalam mukadimah ini, Imam Al-Ghazali
memperlihatkan metode penelitian yang sangat sistematis. Beliau tidak berusaha
membantah seluruh pemikiran filsafat sekaligus, melainkan menentukan objek
kajian yang jelas. Langkah ini penting agar pembahasan tetap fokus dan
argumentasi dapat diuji secara mendalam.
Pendekatan seperti ini merupakan
ciri karya ilmiah yang baik: ruang lingkup ditentukan sejak awal sehingga
pembaca mengetahui apa yang akan dibahas dan apa yang tidak menjadi fokus
penelitian.
Mengapa
Aristoteles Menjadi Fokus?
Al-Ghazali memilih Aristoteles
karena pada masanya ia dipandang sebagai otoritas tertinggi dalam filsafat.
Hampir seluruh filsafat yang berkembang di dunia Islam ketika itu dipengaruhi
oleh penafsiran terhadap karya-karya Aristoteles, terutama melalui Al-Farabi
dan Ibnu Sina.
Dengan mengkritisi fondasi pemikiran
Aristoteles, Al-Ghazali bermaksud menguji dasar yang menopang keseluruhan
bangunan metafisika para filsuf yang menjadi sasaran kritiknya.
Kebenaran
Lebih Tinggi daripada Tokoh
Kutipan terkenal, "Plato
adalah sahabatku, tetapi kebenaran lebih layak diikuti," digunakan
Al-Ghazali untuk menunjukkan bahwa bahkan Aristoteles tidak menerima seluruh
pendapat gurunya tanpa kritik.
Pesan yang ingin disampaikan sangat
penting: dalam tradisi ilmu, penghormatan kepada guru tidak boleh mengalahkan
komitmen terhadap kebenaran. Prinsip ini juga menjadi dasar sikap Al-Ghazali
ketika mengkritik Aristoteles. Beliau tidak menyerang pribadi tokohnya,
melainkan menguji argumentasinya.
Perbedaan
antara Matematika dan Metafisika
Al-Ghazali membuat pembedaan yang
tajam antara ilmu-ilmu demonstratif seperti matematika dan pembahasan
metafisika.
Menurut beliau, kesepakatan para
ahli dalam matematika menunjukkan kuatnya metode pembuktiannya. Sebaliknya,
banyaknya perselisihan dalam persoalan ketuhanan menunjukkan bahwa bidang
tersebut tidak dapat disamakan dengan ilmu hitung. Oleh karena itu,
keberhasilan seorang filsuf dalam matematika tidak otomatis membuktikan bahwa
seluruh pandangannya tentang Tuhan juga benar.
Pentingnya
Memeriksa Sumber
Al-Ghazali juga mengingatkan bahwa
karya-karya Aristoteles sampai kepada dunia Islam melalui proses penerjemahan.
Dalam proses tersebut dapat terjadi perubahan istilah, penambahan penafsiran,
atau kekeliruan makna.
Karena itu, seorang peneliti harus
memperhatikan kualitas sumber dan transmisi ilmu sebelum membangun kesimpulan.
Sikap kritis terhadap sumber merupakan bagian penting dari metodologi ilmiah.
Al-Farabi
dan Ibnu Sina sebagai Representasi
Al-Ghazali memilih Al-Farabi dan
Ibnu Sina bukan karena mereka satu-satunya filsuf, melainkan karena keduanya
dianggap paling berhasil menyusun dan menjelaskan filsafat Aristoteles dalam
tradisi Islam.
Dengan membatasi pembahasan pada dua
tokoh tersebut, beliau berharap kritiknya dapat mewakili inti pemikiran
filsafat yang berkembang pada zamannya tanpa harus membahas seluruh cabang dan
variasinya.
Hikmah
- Pembahasan ilmiah yang baik memerlukan ruang lingkup
yang jelas dan terukur.
- Kebenaran harus lebih diutamakan daripada loyalitas
kepada tokoh atau guru.
- Keahlian dalam satu bidang ilmu tidak otomatis
membuktikan kebenaran dalam bidang lain.
- Banyaknya perselisihan dalam suatu teori menjadi alasan
untuk mengujinya kembali secara kritis.
- Memeriksa keakuratan sumber merupakan bagian penting
dari penelitian ilmiah.
- Kritik yang adil harus didasarkan pada pemahaman yang
benar terhadap pendapat lawan.
- Tradisi keilmuan Islam mengajarkan keseimbangan antara
penggunaan akal, penelitian yang teliti, dan komitmen terhadap kebenaran.
Penutup
Mukadimah ini memperlihatkan bahwa Tahafut
al-Falasifah disusun dengan metodologi yang matang dan terarah. Imam
Al-Ghazali tidak membahas seluruh ragam pemikiran filsafat secara acak, tetapi
memusatkan perhatian pada Aristoteles sebagai tokoh sentral, melalui penjelasan
Al-Farabi dan Ibnu Sina yang paling berpengaruh di dunia Islam. Di samping itu,
beliau mengingatkan bahwa keberhasilan dalam ilmu logika atau matematika tidak
dapat dijadikan bukti otomatis bagi kebenaran pandangan metafisika. Dengan
pendekatan yang sistematis, objektif, dan berbasis argumentasi, Al-Ghazali
mengajak pembaca untuk menilai setiap pemikiran berdasarkan kekuatan dalilnya,
bukan semata-mata berdasarkan nama besar tokohnya.
Teks Arab :
مقدمة
ليعلم أن الخوض في حكاية اختلاف الفلاسفة تطويل، فإن
خبطهم طويل، ونزاعهم كثير، وأراءهم منتشرة وطرقهم متباعدة متدابرة ، فلنقتصر على
إظهار التناقض في رأي مقدمهم الذي هو الفليسوف المطلق، والمعلم الأول، فإنه رتب
علومهم وهذبها بزعمهم، وحذف الحشو من أرائهم، وانتقى ما هو الأقرب إلى أصول أهوائهم
وهو ((أرسطاطاليس))؛ وقد رد على كل من قبله حتى على أستاذه الملقب عندهم بأفلاطون
الإلهى، ثم اعتذر عن مخالفته استاذه بأن قال: (( أفلاطن صديق والحق صديق ولكن الحق
أصدق منه.
وإنما نقلنا هذه الحكاية ليعلم أنه لا تثبت ولا إتقان
لمذهبهم عندهم، وأنهم يحكمون بظن و تخمين، من غير تحقيق ويقين، ويستدلون على صدق
علومهم الإلهية بظهور العلوم الحسابية، والمنطقية ، ويستدرجون به ضعفاء العقول،
ولو كانت علومهم الإلهية متقنة البراهين، نقية عن التخمين، كعلومهم الحسابية، لما
اختلفوا فيها، كما لم يختلفوا في الحسابية. ثم المترجمون لكلام أرسطو لم ينفك
كلامهم عن تحريف وتبديل، محوج إلى تفسير وتأويل، حتى أثار ذلك أيضاً نزاعاً بينهم،
وأقومهم بالنقل من المتفلسفة الإسلامية: أبو نصر الفارابي، وابن سينا. فنقتصر على
إبطال ما اختاروه، ورأياه الصحيح من مذهب رؤسائهما في الضلال، فإن ما هجراه واستنكفا
من المتابعة فيه لا يتمارى في اختلاله، ولا يفتقر إلى نظر طويل في إبطاله، فليعلم
أنا مقتصرون على رد مذاهبهم بحسب نقل هذين الرجلين، كي لا ينتشر الكلام بحسب
انتشار المذهب.
Baca juga:
Imam Al-Ghazali: Filsuf Besar Pun Mengakui Adanya Allah, Lalu Di ManaLetak Kekeliruannya?
Tiga Jenis Perbedaan dengan Para Filsuf Menurut Imam Al-Ghazali: Mana
yang Perlu Dibantah dan Mana yang Tidak?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar