Mengapa Umat Islam Terpecah Menjadi 73 Golongan? Penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang Golongan yang Selamat

Penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang pentingnya mengenal kebenaran, menjauhi kesesatan, dan makna hadis 73 golongan dalam Islam

Pendahuluan

Setelah menjelaskan bahwa iman yang benar harus dibangun di atas pengetahuan yang benar tentang Allah serta kemampuan membedakan antara hak dan batil, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini melanjutkan pembahasannya dengan menjelaskan pentingnya mengenal berbagai bentuk kesesatan. Menurut beliau, seseorang tidak cukup hanya mengetahui kebenaran, tetapi juga harus memahami jalan-jalan kebatilan agar mampu menghindarinya.

Prinsip ini bukanlah hasil pemikiran manusia semata, melainkan teladan yang diwariskan oleh para sahabat Nabi . Mereka bukan hanya bertanya tentang amal-amal baik, tetapi juga menanyakan berbagai bentuk keburukan agar tidak terjerumus ke dalamnya. Dari sinilah Imam Al-Isfarayini mengawali pembahasan mengenai munculnya berbagai kelompok dalam umat Islam dan pentingnya berpegang teguh kepada jalan Rasulullah serta para sahabatnya.

Sumber Rujukan

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini merupakan salah satu ulama besar mazhab Syafi'i pada abad ke-5 Hijriah yang terkenal dalam bidang akidah dan ilmu kalam. Beliau menulis kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn untuk menjelaskan prinsip-prinsip akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah sekaligus menerangkan berbagai kelompok yang muncul dalam sejarah Islam beserta penyimpangan yang terdapat pada masing-masing kelompok menurut pandangan Ahlus Sunnah.

Tema

Pentingnya Mengenal Jalan Kebenaran dan Jalan Kesesatan serta Penjelasan Hadis tentang Tujuh Puluh Tiga Golongan

Terjemahan Lengkap

Imam Al-Isfarayini berkata:

Para sahabat Rasulullah senantiasa bertanya kepada beliau tentang perkara-perkara yang benar agar keyakinan dan pengetahuan mereka semakin sempurna. Mereka juga bertanya mengenai berbagai bentuk kebatilan dan kejahatan agar mampu menjauhinya.

Sampai-sampai Hudzaifah bin Al-Yaman رضي الله عنه berkata:

"Orang-orang biasa bertanya kepada Rasulullah mengenai berbagai kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau mengenai berbagai keburukan."

Beliau melakukan hal itu agar dapat menghindarinya dengan benar. Sebab, siapa yang tidak mengenal keburukan sangat mungkin akan terjerumus ke dalamnya.

Sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:

Aku mempelajari keburukan bukan untuk melakukannya, tetapi agar dapat menghindarinya. Barang siapa tidak mengenal keburukan, niscaya ia akan terjatuh ke dalamnya.

Rasulullah juga telah mengabarkan bahwa pada umat Islam akan muncul berbagai kelompok sebagaimana umat-umat sebelum Islam juga mengalami perpecahan.

Beliau bersabda:

"Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan. Kaum Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya berada di neraka kecuali satu golongan."

Para sahabat bertanya:

"Wahai Rasulullah, siapakah golongan yang selamat itu?"

Beliau menjawab:

"Yaitu mereka yang berada di atas jalan yang aku tempuh bersama para sahabatku."

Dalam riwayat lain beliau bersabda:

"Mereka adalah al-Jamā'ah."

Artikel Pengembangan

Bagian kitab ini menunjukkan metode pendidikan Islam yang sangat seimbang. Seseorang tidak cukup hanya mengetahui kebaikan, tetapi juga harus memahami bentuk-bentuk penyimpangan agar dapat menjaga dirinya dari kesalahan. Inilah sebabnya Hudzaifah bin Al-Yaman dikenal sebagai sahabat yang paling banyak bertanya kepada Rasulullah mengenai fitnah, kemunafikan, dan berbagai bentuk penyimpangan yang akan muncul di masa mendatang.

Hudzaifah memahami bahwa seseorang yang hanya mengenal kebaikan, tetapi tidak mengetahui jalan menuju keburukan, sangat mudah tertipu. Ibarat seorang musafir yang mengetahui tujuan perjalanan, tetapi tidak mengetahui jurang, jalan buntu, ataupun daerah berbahaya di sepanjang perjalanannya.

Oleh karena itu para ulama Ahlus Sunnah sejak masa awal tidak hanya menyusun kitab-kitab tentang tauhid, tetapi juga menjelaskan berbagai penyimpangan akidah. Tujuannya bukan untuk menimbulkan permusuhan, melainkan agar umat Islam memiliki kemampuan membedakan mana ajaran yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah, dan mana yang merupakan penyimpangan yang muncul kemudian.

Dalam konteks inilah Imam Al-Isfarayini mengutip hadis tentang tujuh puluh tiga golongan. Hadis tersebut mengandung peringatan bahwa perpecahan dalam umat merupakan kenyataan yang telah diberitakan oleh Rasulullah . Namun, hadis ini juga memberikan harapan karena Nabi menjelaskan bahwa akan selalu ada sekelompok orang yang tetap berpegang teguh kepada jalan yang benar.

Jawaban Rasulullah sangat menarik. Ketika ditanya siapa golongan yang selamat, beliau tidak menyebut nama organisasi, suku, wilayah, atau kelompok tertentu. Beliau justru menjadikan manhaj atau metode beragama sebagai ukuran, yaitu mengikuti ajaran beliau dan para sahabatnya. Dalam riwayat lain beliau menyebut mereka sebagai al-Jamā'ah, yaitu kaum muslimin yang bersatu di atas kebenaran dan berpegang teguh kepada Al-Qur'an, Sunnah, serta pemahaman generasi awal umat Islam.

Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini tidak boleh dijadikan alasan untuk mudah menghakimi atau mengklaim keselamatan hanya bagi kelompok tertentu tanpa dasar ilmu. Sebaliknya, hadis ini mendorong setiap muslim untuk terus mengoreksi dirinya: apakah keyakinan, ibadah, dan akhlaknya benar-benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah dan para sahabatnya.

Dengan demikian, inti pesan Imam Al-Isfarayini bukanlah memperbesar perbedaan, tetapi mengajak umat agar menjadikan ilmu sebagai standar dalam membedakan antara petunjuk dan penyimpangan. Semakin luas ilmu seseorang tentang Al-Qur'an, Sunnah, dan pemahaman para ulama yang terpercaya, semakin besar pula peluangnya untuk tetap istiqamah di atas jalan yang lurus.

Hikmah

  • Mengenal kebatilan merupakan bagian dari upaya menjaga diri agar tetap berada di atas kebenaran.
  • Para sahabat Nabi tidak hanya mempelajari kebaikan, tetapi juga memahami berbagai bentuk fitnah agar dapat menghindarinya.
  • Ilmu menjadi benteng utama dalam menghadapi penyimpangan akidah dan pemikiran.
  • Hadis tentang tujuh puluh tiga golongan mengingatkan bahwa perpecahan merupakan ujian yang telah diberitakan oleh Rasulullah .
  • Ukuran keselamatan bukanlah nama kelompok, melainkan kesesuaian dengan Al-Qur'an, Sunnah, dan jalan Rasulullah bersama para sahabatnya.
  • Seorang muslim hendaknya lebih sibuk memperbaiki akidah dan amalnya daripada mudah menghakimi orang lain.

Penutup

Imam Al-Isfarayini menegaskan bahwa mengenal jalan kebatilan bukanlah untuk mengikutinya, melainkan agar mampu menjauhinya. Sebagaimana seseorang mempelajari racun bukan untuk meminumnya, tetapi agar dapat menghindarinya, demikian pula seorang mukmin perlu memahami berbagai bentuk penyimpangan akidah sebagai langkah menjaga kemurnian imannya. Dengan berpegang teguh kepada Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah , serta pemahaman para sahabat, seorang muslim memiliki pedoman yang kokoh untuk tetap istiqamah di tengah beragam pemikiran dan perpecahan yang muncul sepanjang sejarah umat Islam.

Teks Arab :

وَقد كَانَ أَصْحَاب رَسُول الله ﷺ يسألونه عَن الْحق لصِحَّة الإعتقاد والمعرفة وَعَن الْبَاطِل وَالشَّر للتمكن من المجانبة حَتَّى قَالَ حُذَيْفَة بن الْيَمَان كَانَ النَّاس يسْأَلُون رَسُول الله ﷺ عَن الْخَيْر وَكنت أسأله عَن الشَّرّ وَإِنَّمَا كَانَ يَفْعَله لتصح لَهُ مجانبته لِأَن من لم يعرف الشَّرّ يُوشك أَن يَقع فِيهِ كَمَا قَالَ الشَّاعِر

(عرفت الشَّرّ لَا للشر لَكِن لتوقيه ... وَمن لَا يعرف الشَّرّ من النَّاس يَقع فِيهِ)

وَقد أخبر رَسُول الله ﷺ أَنه سَيظْهر فِي زمن الْإِسْلَام من الْفرق الْمُخْتَلفَة مَا ظهر فِي الْأَدْيَان قبله فَقَالَ افْتَرَقت الْيَهُود إِحْدَى وَسبعين فرقة وافترقت النَّصَارَى اثْنَتَيْنِ وَسبعين فرقة وتفترق أمتِي ثَلَاثًا وَسبعين فرقة كلهم فِي النَّار إِلَّا وَاحِدَة فَقيل يَا رَسُول الله من النَّاجِية فَقَالَ مَا أَنا عَلَيْهِ وأصحابي وَفِي خبر آخر أَنه قَالَ الْجَمَاعَة

Baca juga:

Hakikat Mengenal Allah Menurut Imam Al-Isfarayini:Pondasi Iman Melalui Penafian dan Penetapan Sifat-Sifat Kesempurnaan

Penjelasan Agama dan Pembedaantara Golongan yang Selamat dengan Berbagai Golongan yang Menyimpang

Mengapa Akidah yang Benar Sangat Penting? Penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang Bahaya Bid'ah dan Ahlul Ahwa'

Penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang pentingnya mengenal kebenaran, menjauhi kesesatan, dan makna hadis 73 golongan dalam Islam

Pendahuluan

Setelah menjelaskan bahwa iman yang benar harus dibangun di atas pengetahuan yang benar tentang Allah serta kemampuan membedakan antara hak dan batil, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini melanjutkan pembahasannya dengan menjelaskan pentingnya mengenal berbagai bentuk kesesatan. Menurut beliau, seseorang tidak cukup hanya mengetahui kebenaran, tetapi juga harus memahami jalan-jalan kebatilan agar mampu menghindarinya.

Prinsip ini bukanlah hasil pemikiran manusia semata, melainkan teladan yang diwariskan oleh para sahabat Nabi . Mereka bukan hanya bertanya tentang amal-amal baik, tetapi juga menanyakan berbagai bentuk keburukan agar tidak terjerumus ke dalamnya. Dari sinilah Imam Al-Isfarayini mengawali pembahasan mengenai munculnya berbagai kelompok dalam umat Islam dan pentingnya berpegang teguh kepada jalan Rasulullah serta para sahabatnya.

Sumber Rujukan

Kitab:

At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn (التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق الهالكين)

Penulis:

Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)

Penulis

Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini merupakan salah satu ulama besar mazhab Syafi'i pada abad ke-5 Hijriah yang terkenal dalam bidang akidah dan ilmu kalam. Beliau menulis kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn untuk menjelaskan prinsip-prinsip akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah sekaligus menerangkan berbagai kelompok yang muncul dalam sejarah Islam beserta penyimpangan yang terdapat pada masing-masing kelompok menurut pandangan Ahlus Sunnah.

Tema

Pentingnya Mengenal Jalan Kebenaran dan Jalan Kesesatan serta Penjelasan Hadis tentang Tujuh Puluh Tiga Golongan

Terjemahan Lengkap

Imam Al-Isfarayini berkata:

Para sahabat Rasulullah senantiasa bertanya kepada beliau tentang perkara-perkara yang benar agar keyakinan dan pengetahuan mereka semakin sempurna. Mereka juga bertanya mengenai berbagai bentuk kebatilan dan kejahatan agar mampu menjauhinya.

Sampai-sampai Hudzaifah bin Al-Yaman رضي الله عنه berkata:

"Orang-orang biasa bertanya kepada Rasulullah mengenai berbagai kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau mengenai berbagai keburukan."

Beliau melakukan hal itu agar dapat menghindarinya dengan benar. Sebab, siapa yang tidak mengenal keburukan sangat mungkin akan terjerumus ke dalamnya.

Sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair:

Aku mempelajari keburukan bukan untuk melakukannya, tetapi agar dapat menghindarinya. Barang siapa tidak mengenal keburukan, niscaya ia akan terjatuh ke dalamnya.

Rasulullah juga telah mengabarkan bahwa pada umat Islam akan muncul berbagai kelompok sebagaimana umat-umat sebelum Islam juga mengalami perpecahan.

Beliau bersabda:

"Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan. Kaum Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya berada di neraka kecuali satu golongan."

Para sahabat bertanya:

"Wahai Rasulullah, siapakah golongan yang selamat itu?"

Beliau menjawab:

"Yaitu mereka yang berada di atas jalan yang aku tempuh bersama para sahabatku."

Dalam riwayat lain beliau bersabda:

"Mereka adalah al-Jamā'ah."

Artikel Pengembangan

Bagian kitab ini menunjukkan metode pendidikan Islam yang sangat seimbang. Seseorang tidak cukup hanya mengetahui kebaikan, tetapi juga harus memahami bentuk-bentuk penyimpangan agar dapat menjaga dirinya dari kesalahan. Inilah sebabnya Hudzaifah bin Al-Yaman dikenal sebagai sahabat yang paling banyak bertanya kepada Rasulullah mengenai fitnah, kemunafikan, dan berbagai bentuk penyimpangan yang akan muncul di masa mendatang.

Hudzaifah memahami bahwa seseorang yang hanya mengenal kebaikan, tetapi tidak mengetahui jalan menuju keburukan, sangat mudah tertipu. Ibarat seorang musafir yang mengetahui tujuan perjalanan, tetapi tidak mengetahui jurang, jalan buntu, ataupun daerah berbahaya di sepanjang perjalanannya.

Oleh karena itu para ulama Ahlus Sunnah sejak masa awal tidak hanya menyusun kitab-kitab tentang tauhid, tetapi juga menjelaskan berbagai penyimpangan akidah. Tujuannya bukan untuk menimbulkan permusuhan, melainkan agar umat Islam memiliki kemampuan membedakan mana ajaran yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah, dan mana yang merupakan penyimpangan yang muncul kemudian.

Dalam konteks inilah Imam Al-Isfarayini mengutip hadis tentang tujuh puluh tiga golongan. Hadis tersebut mengandung peringatan bahwa perpecahan dalam umat merupakan kenyataan yang telah diberitakan oleh Rasulullah . Namun, hadis ini juga memberikan harapan karena Nabi menjelaskan bahwa akan selalu ada sekelompok orang yang tetap berpegang teguh kepada jalan yang benar.

Jawaban Rasulullah sangat menarik. Ketika ditanya siapa golongan yang selamat, beliau tidak menyebut nama organisasi, suku, wilayah, atau kelompok tertentu. Beliau justru menjadikan manhaj atau metode beragama sebagai ukuran, yaitu mengikuti ajaran beliau dan para sahabatnya. Dalam riwayat lain beliau menyebut mereka sebagai al-Jamā'ah, yaitu kaum muslimin yang bersatu di atas kebenaran dan berpegang teguh kepada Al-Qur'an, Sunnah, serta pemahaman generasi awal umat Islam.

Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini tidak boleh dijadikan alasan untuk mudah menghakimi atau mengklaim keselamatan hanya bagi kelompok tertentu tanpa dasar ilmu. Sebaliknya, hadis ini mendorong setiap muslim untuk terus mengoreksi dirinya: apakah keyakinan, ibadah, dan akhlaknya benar-benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah dan para sahabatnya.

Dengan demikian, inti pesan Imam Al-Isfarayini bukanlah memperbesar perbedaan, tetapi mengajak umat agar menjadikan ilmu sebagai standar dalam membedakan antara petunjuk dan penyimpangan. Semakin luas ilmu seseorang tentang Al-Qur'an, Sunnah, dan pemahaman para ulama yang terpercaya, semakin besar pula peluangnya untuk tetap istiqamah di atas jalan yang lurus.

Hikmah

  • Mengenal kebatilan merupakan bagian dari upaya menjaga diri agar tetap berada di atas kebenaran.
  • Para sahabat Nabi tidak hanya mempelajari kebaikan, tetapi juga memahami berbagai bentuk fitnah agar dapat menghindarinya.
  • Ilmu menjadi benteng utama dalam menghadapi penyimpangan akidah dan pemikiran.
  • Hadis tentang tujuh puluh tiga golongan mengingatkan bahwa perpecahan merupakan ujian yang telah diberitakan oleh Rasulullah .
  • Ukuran keselamatan bukanlah nama kelompok, melainkan kesesuaian dengan Al-Qur'an, Sunnah, dan jalan Rasulullah bersama para sahabatnya.
  • Seorang muslim hendaknya lebih sibuk memperbaiki akidah dan amalnya daripada mudah menghakimi orang lain.

Penutup

Imam Al-Isfarayini menegaskan bahwa mengenal jalan kebatilan bukanlah untuk mengikutinya, melainkan agar mampu menjauhinya. Sebagaimana seseorang mempelajari racun bukan untuk meminumnya, tetapi agar dapat menghindarinya, demikian pula seorang mukmin perlu memahami berbagai bentuk penyimpangan akidah sebagai langkah menjaga kemurnian imannya. Dengan berpegang teguh kepada Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah , serta pemahaman para sahabat, seorang muslim memiliki pedoman yang kokoh untuk tetap istiqamah di tengah beragam pemikiran dan perpecahan yang muncul sepanjang sejarah umat Islam.

Teks Arab :

وَقد كَانَ أَصْحَاب رَسُول الله ﷺ يسألونه عَن الْحق لصِحَّة الإعتقاد والمعرفة وَعَن الْبَاطِل وَالشَّر للتمكن من المجانبة حَتَّى قَالَ حُذَيْفَة بن الْيَمَان كَانَ النَّاس يسْأَلُون رَسُول الله ﷺ عَن الْخَيْر وَكنت أسأله عَن الشَّرّ وَإِنَّمَا كَانَ يَفْعَله لتصح لَهُ مجانبته لِأَن من لم يعرف الشَّرّ يُوشك أَن يَقع فِيهِ كَمَا قَالَ الشَّاعِر

(عرفت الشَّرّ لَا للشر لَكِن لتوقيه ... وَمن لَا يعرف الشَّرّ من النَّاس يَقع فِيهِ)

وَقد أخبر رَسُول الله ﷺ أَنه سَيظْهر فِي زمن الْإِسْلَام من الْفرق الْمُخْتَلفَة مَا ظهر فِي الْأَدْيَان قبله فَقَالَ افْتَرَقت الْيَهُود إِحْدَى وَسبعين فرقة وافترقت النَّصَارَى اثْنَتَيْنِ وَسبعين فرقة وتفترق أمتِي ثَلَاثًا وَسبعين فرقة كلهم فِي النَّار إِلَّا وَاحِدَة فَقيل يَا رَسُول الله من النَّاجِية فَقَالَ مَا أَنا عَلَيْهِ وأصحابي وَفِي خبر آخر أَنه قَالَ الْجَمَاعَة

Baca juga:

Hakikat Mengenal Allah Menurut Imam Al-Isfarayini:Pondasi Iman Melalui Penafian dan Penetapan Sifat-Sifat Kesempurnaan

Penjelasan Agama dan Pembedaantara Golongan yang Selamat dengan Berbagai Golongan yang Menyimpang

Mengapa Akidah yang Benar Sangat Penting? Penjelasan Imam Al-Isfarayini tentang Bahaya Bid'ah dan Ahlul Ahwa'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Akumulasi Syubhat dalam Muamalah dan Kaitannya dengan Sikap Wara’

الأصل السابع أنه يقضي دين الخباز والقصاب والبقال من ريع الواقفين فإن وفى ما أخذ من حقهم بقيمة ما أطعمهم فقد صح الأمر وإن قصر عنه فرضي القص...