Pendahuluan
Setelah menjelaskan bahwa iman yang
benar harus dibangun di atas pengetahuan yang benar tentang Allah serta
kemampuan membedakan antara hak dan batil, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini
melanjutkan pembahasannya dengan menjelaskan pentingnya mengenal berbagai
bentuk kesesatan. Menurut beliau, seseorang tidak cukup hanya mengetahui
kebenaran, tetapi juga harus memahami jalan-jalan kebatilan agar mampu
menghindarinya.
Prinsip ini bukanlah hasil pemikiran
manusia semata, melainkan teladan yang diwariskan oleh para sahabat Nabi ﷺ. Mereka bukan hanya bertanya tentang
amal-amal baik, tetapi juga menanyakan berbagai bentuk keburukan agar tidak
terjerumus ke dalamnya. Dari sinilah Imam Al-Isfarayini mengawali pembahasan
mengenai munculnya berbagai kelompok dalam umat Islam dan pentingnya berpegang
teguh kepada jalan Rasulullah ﷺ serta para
sahabatnya.
Sumber Rujukan
Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz
al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn
(التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق
الهالكين)
Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin
Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)
Penulis
Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini
merupakan salah satu ulama besar mazhab Syafi'i pada abad ke-5 Hijriah yang
terkenal dalam bidang akidah dan ilmu kalam. Beliau menulis kitab At-Tabṣīr
fī ad-Dīn untuk menjelaskan prinsip-prinsip akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah
sekaligus menerangkan berbagai kelompok yang muncul dalam sejarah Islam beserta
penyimpangan yang terdapat pada masing-masing kelompok menurut pandangan Ahlus
Sunnah.
Tema
Pentingnya Mengenal Jalan Kebenaran
dan Jalan Kesesatan serta Penjelasan Hadis tentang Tujuh Puluh Tiga Golongan
Terjemahan Lengkap
Imam Al-Isfarayini berkata:
Para sahabat Rasulullah ﷺ senantiasa bertanya kepada beliau tentang
perkara-perkara yang benar agar keyakinan dan pengetahuan mereka semakin
sempurna. Mereka juga bertanya mengenai berbagai bentuk kebatilan dan kejahatan
agar mampu menjauhinya.
Sampai-sampai Hudzaifah bin Al-Yaman
رضي الله عنه berkata:
"Orang-orang biasa bertanya
kepada Rasulullah ﷺ mengenai berbagai
kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau mengenai berbagai
keburukan."
Beliau melakukan hal itu agar dapat
menghindarinya dengan benar. Sebab, siapa yang tidak mengenal keburukan sangat
mungkin akan terjerumus ke dalamnya.
Sebagaimana dikatakan oleh seorang
penyair:
Aku mempelajari keburukan bukan
untuk melakukannya, tetapi agar dapat menghindarinya. Barang siapa tidak
mengenal keburukan, niscaya ia akan terjatuh ke dalamnya.
Rasulullah ﷺ
juga telah mengabarkan bahwa pada umat Islam akan muncul berbagai kelompok
sebagaimana umat-umat sebelum Islam juga mengalami perpecahan.
Beliau bersabda:
"Kaum Yahudi telah terpecah
menjadi tujuh puluh satu golongan. Kaum Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh
dua golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan.
Semuanya berada di neraka kecuali satu golongan."
Para sahabat bertanya:
"Wahai Rasulullah, siapakah
golongan yang selamat itu?"
Beliau menjawab:
"Yaitu mereka yang berada di atas
jalan yang aku tempuh bersama para sahabatku."
Dalam riwayat lain beliau bersabda:
"Mereka adalah
al-Jamā'ah."
Artikel Pengembangan
Bagian kitab ini menunjukkan metode
pendidikan Islam yang sangat seimbang. Seseorang tidak cukup hanya mengetahui
kebaikan, tetapi juga harus memahami bentuk-bentuk penyimpangan agar dapat
menjaga dirinya dari kesalahan. Inilah sebabnya Hudzaifah bin Al-Yaman dikenal
sebagai sahabat yang paling banyak bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai fitnah, kemunafikan, dan berbagai bentuk penyimpangan
yang akan muncul di masa mendatang.
Hudzaifah memahami bahwa seseorang
yang hanya mengenal kebaikan, tetapi tidak mengetahui jalan menuju keburukan,
sangat mudah tertipu. Ibarat seorang musafir yang mengetahui tujuan perjalanan,
tetapi tidak mengetahui jurang, jalan buntu, ataupun daerah berbahaya di
sepanjang perjalanannya.
Oleh karena itu para ulama Ahlus
Sunnah sejak masa awal tidak hanya menyusun kitab-kitab tentang tauhid, tetapi
juga menjelaskan berbagai penyimpangan akidah. Tujuannya bukan untuk
menimbulkan permusuhan, melainkan agar umat Islam memiliki kemampuan membedakan
mana ajaran yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah, dan mana yang merupakan
penyimpangan yang muncul kemudian.
Dalam konteks inilah Imam
Al-Isfarayini mengutip hadis tentang tujuh puluh tiga golongan. Hadis tersebut
mengandung peringatan bahwa perpecahan dalam umat merupakan kenyataan yang
telah diberitakan oleh Rasulullah ﷺ.
Namun, hadis ini juga memberikan harapan karena Nabi ﷺ
menjelaskan bahwa akan selalu ada sekelompok orang yang tetap berpegang teguh
kepada jalan yang benar.
Jawaban Rasulullah ﷺ sangat menarik. Ketika ditanya siapa golongan yang selamat,
beliau tidak menyebut nama organisasi, suku, wilayah, atau kelompok tertentu.
Beliau justru menjadikan manhaj atau metode beragama sebagai ukuran,
yaitu mengikuti ajaran beliau dan para sahabatnya. Dalam riwayat lain beliau
menyebut mereka sebagai al-Jamā'ah, yaitu kaum muslimin yang bersatu di
atas kebenaran dan berpegang teguh kepada Al-Qur'an, Sunnah, serta pemahaman
generasi awal umat Islam.
Para ulama menjelaskan bahwa hadis
ini tidak boleh dijadikan alasan untuk mudah menghakimi atau mengklaim
keselamatan hanya bagi kelompok tertentu tanpa dasar ilmu. Sebaliknya, hadis
ini mendorong setiap muslim untuk terus mengoreksi dirinya: apakah keyakinan,
ibadah, dan akhlaknya benar-benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.
Dengan demikian, inti pesan Imam
Al-Isfarayini bukanlah memperbesar perbedaan, tetapi mengajak umat agar
menjadikan ilmu sebagai standar dalam membedakan antara petunjuk dan
penyimpangan. Semakin luas ilmu seseorang tentang Al-Qur'an, Sunnah, dan
pemahaman para ulama yang terpercaya, semakin besar pula peluangnya untuk tetap
istiqamah di atas jalan yang lurus.
Hikmah
- Mengenal kebatilan merupakan bagian dari upaya menjaga
diri agar tetap berada di atas kebenaran.
- Para sahabat Nabi ﷺ
tidak hanya mempelajari kebaikan, tetapi juga memahami berbagai bentuk
fitnah agar dapat menghindarinya.
- Ilmu menjadi benteng utama dalam menghadapi
penyimpangan akidah dan pemikiran.
- Hadis tentang tujuh puluh tiga golongan mengingatkan
bahwa perpecahan merupakan ujian yang telah diberitakan oleh Rasulullah ﷺ.
- Ukuran keselamatan bukanlah nama kelompok, melainkan
kesesuaian dengan Al-Qur'an, Sunnah, dan jalan Rasulullah ﷺ bersama para sahabatnya.
- Seorang muslim hendaknya lebih sibuk memperbaiki akidah
dan amalnya daripada mudah menghakimi orang lain.
Penutup
Imam Al-Isfarayini menegaskan bahwa
mengenal jalan kebatilan bukanlah untuk mengikutinya, melainkan agar mampu
menjauhinya. Sebagaimana seseorang mempelajari racun bukan untuk meminumnya,
tetapi agar dapat menghindarinya, demikian pula seorang mukmin perlu memahami
berbagai bentuk penyimpangan akidah sebagai langkah menjaga kemurnian imannya.
Dengan berpegang teguh kepada Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah ﷺ, serta pemahaman para sahabat, seorang muslim memiliki pedoman
yang kokoh untuk tetap istiqamah di tengah beragam pemikiran dan perpecahan
yang muncul sepanjang sejarah umat Islam.
Teks Arab :
وَقد كَانَ أَصْحَاب رَسُول الله ﷺ يسألونه عَن الْحق
لصِحَّة الإعتقاد والمعرفة وَعَن الْبَاطِل وَالشَّر للتمكن من المجانبة حَتَّى
قَالَ حُذَيْفَة بن الْيَمَان كَانَ النَّاس يسْأَلُون رَسُول الله ﷺ عَن الْخَيْر
وَكنت أسأله عَن الشَّرّ وَإِنَّمَا كَانَ يَفْعَله لتصح لَهُ مجانبته لِأَن من لم
يعرف الشَّرّ يُوشك أَن يَقع فِيهِ كَمَا قَالَ الشَّاعِر
(عرفت الشَّرّ لَا
للشر لَكِن لتوقيه ... وَمن لَا يعرف الشَّرّ من النَّاس يَقع فِيهِ)
وَقد أخبر رَسُول الله ﷺ أَنه سَيظْهر فِي زمن
الْإِسْلَام من الْفرق الْمُخْتَلفَة مَا ظهر فِي الْأَدْيَان قبله فَقَالَ
افْتَرَقت الْيَهُود إِحْدَى وَسبعين فرقة وافترقت النَّصَارَى اثْنَتَيْنِ
وَسبعين فرقة وتفترق أمتِي ثَلَاثًا وَسبعين فرقة كلهم فِي النَّار إِلَّا
وَاحِدَة فَقيل يَا رَسُول الله من النَّاجِية فَقَالَ مَا أَنا عَلَيْهِ وأصحابي
وَفِي خبر آخر أَنه قَالَ الْجَمَاعَة
Baca juga:
Penjelasan Agama dan Pembedaantara Golongan yang Selamat dengan Berbagai Golongan yang Menyimpang
Mengapa Akidah yang Benar Sangat Penting? Penjelasan Imam
Al-Isfarayini tentang Bahaya Bid'ah dan Ahlul Ahwa'
Pendahuluan
Setelah menjelaskan bahwa iman yang
benar harus dibangun di atas pengetahuan yang benar tentang Allah serta
kemampuan membedakan antara hak dan batil, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini
melanjutkan pembahasannya dengan menjelaskan pentingnya mengenal berbagai
bentuk kesesatan. Menurut beliau, seseorang tidak cukup hanya mengetahui
kebenaran, tetapi juga harus memahami jalan-jalan kebatilan agar mampu
menghindarinya.
Prinsip ini bukanlah hasil pemikiran
manusia semata, melainkan teladan yang diwariskan oleh para sahabat Nabi ﷺ. Mereka bukan hanya bertanya tentang
amal-amal baik, tetapi juga menanyakan berbagai bentuk keburukan agar tidak
terjerumus ke dalamnya. Dari sinilah Imam Al-Isfarayini mengawali pembahasan
mengenai munculnya berbagai kelompok dalam umat Islam dan pentingnya berpegang
teguh kepada jalan Rasulullah ﷺ serta para
sahabatnya.
Sumber Rujukan
Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz
al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn
(التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق
الهالكين)
Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin
Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)
Penulis
Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini
merupakan salah satu ulama besar mazhab Syafi'i pada abad ke-5 Hijriah yang
terkenal dalam bidang akidah dan ilmu kalam. Beliau menulis kitab At-Tabṣīr
fī ad-Dīn untuk menjelaskan prinsip-prinsip akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah
sekaligus menerangkan berbagai kelompok yang muncul dalam sejarah Islam beserta
penyimpangan yang terdapat pada masing-masing kelompok menurut pandangan Ahlus
Sunnah.
Tema
Pentingnya Mengenal Jalan Kebenaran
dan Jalan Kesesatan serta Penjelasan Hadis tentang Tujuh Puluh Tiga Golongan
Terjemahan Lengkap
Imam Al-Isfarayini berkata:
Para sahabat Rasulullah ﷺ senantiasa bertanya kepada beliau tentang
perkara-perkara yang benar agar keyakinan dan pengetahuan mereka semakin
sempurna. Mereka juga bertanya mengenai berbagai bentuk kebatilan dan kejahatan
agar mampu menjauhinya.
Sampai-sampai Hudzaifah bin Al-Yaman
رضي الله عنه berkata:
"Orang-orang biasa bertanya
kepada Rasulullah ﷺ mengenai berbagai
kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau mengenai berbagai
keburukan."
Beliau melakukan hal itu agar dapat
menghindarinya dengan benar. Sebab, siapa yang tidak mengenal keburukan sangat
mungkin akan terjerumus ke dalamnya.
Sebagaimana dikatakan oleh seorang
penyair:
Aku mempelajari keburukan bukan
untuk melakukannya, tetapi agar dapat menghindarinya. Barang siapa tidak
mengenal keburukan, niscaya ia akan terjatuh ke dalamnya.
Rasulullah ﷺ
juga telah mengabarkan bahwa pada umat Islam akan muncul berbagai kelompok
sebagaimana umat-umat sebelum Islam juga mengalami perpecahan.
Beliau bersabda:
"Kaum Yahudi telah terpecah
menjadi tujuh puluh satu golongan. Kaum Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh
dua golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan.
Semuanya berada di neraka kecuali satu golongan."
Para sahabat bertanya:
"Wahai Rasulullah, siapakah
golongan yang selamat itu?"
Beliau menjawab:
"Yaitu mereka yang berada di atas
jalan yang aku tempuh bersama para sahabatku."
Dalam riwayat lain beliau bersabda:
"Mereka adalah
al-Jamā'ah."
Artikel Pengembangan
Bagian kitab ini menunjukkan metode
pendidikan Islam yang sangat seimbang. Seseorang tidak cukup hanya mengetahui
kebaikan, tetapi juga harus memahami bentuk-bentuk penyimpangan agar dapat
menjaga dirinya dari kesalahan. Inilah sebabnya Hudzaifah bin Al-Yaman dikenal
sebagai sahabat yang paling banyak bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai fitnah, kemunafikan, dan berbagai bentuk penyimpangan
yang akan muncul di masa mendatang.
Hudzaifah memahami bahwa seseorang
yang hanya mengenal kebaikan, tetapi tidak mengetahui jalan menuju keburukan,
sangat mudah tertipu. Ibarat seorang musafir yang mengetahui tujuan perjalanan,
tetapi tidak mengetahui jurang, jalan buntu, ataupun daerah berbahaya di
sepanjang perjalanannya.
Oleh karena itu para ulama Ahlus
Sunnah sejak masa awal tidak hanya menyusun kitab-kitab tentang tauhid, tetapi
juga menjelaskan berbagai penyimpangan akidah. Tujuannya bukan untuk
menimbulkan permusuhan, melainkan agar umat Islam memiliki kemampuan membedakan
mana ajaran yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah, dan mana yang merupakan
penyimpangan yang muncul kemudian.
Dalam konteks inilah Imam
Al-Isfarayini mengutip hadis tentang tujuh puluh tiga golongan. Hadis tersebut
mengandung peringatan bahwa perpecahan dalam umat merupakan kenyataan yang
telah diberitakan oleh Rasulullah ﷺ.
Namun, hadis ini juga memberikan harapan karena Nabi ﷺ
menjelaskan bahwa akan selalu ada sekelompok orang yang tetap berpegang teguh
kepada jalan yang benar.
Jawaban Rasulullah ﷺ sangat menarik. Ketika ditanya siapa golongan yang selamat,
beliau tidak menyebut nama organisasi, suku, wilayah, atau kelompok tertentu.
Beliau justru menjadikan manhaj atau metode beragama sebagai ukuran,
yaitu mengikuti ajaran beliau dan para sahabatnya. Dalam riwayat lain beliau
menyebut mereka sebagai al-Jamā'ah, yaitu kaum muslimin yang bersatu di
atas kebenaran dan berpegang teguh kepada Al-Qur'an, Sunnah, serta pemahaman
generasi awal umat Islam.
Para ulama menjelaskan bahwa hadis
ini tidak boleh dijadikan alasan untuk mudah menghakimi atau mengklaim
keselamatan hanya bagi kelompok tertentu tanpa dasar ilmu. Sebaliknya, hadis
ini mendorong setiap muslim untuk terus mengoreksi dirinya: apakah keyakinan,
ibadah, dan akhlaknya benar-benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.
Dengan demikian, inti pesan Imam
Al-Isfarayini bukanlah memperbesar perbedaan, tetapi mengajak umat agar
menjadikan ilmu sebagai standar dalam membedakan antara petunjuk dan
penyimpangan. Semakin luas ilmu seseorang tentang Al-Qur'an, Sunnah, dan
pemahaman para ulama yang terpercaya, semakin besar pula peluangnya untuk tetap
istiqamah di atas jalan yang lurus.
Hikmah
- Mengenal kebatilan merupakan bagian dari upaya menjaga
diri agar tetap berada di atas kebenaran.
- Para sahabat Nabi ﷺ
tidak hanya mempelajari kebaikan, tetapi juga memahami berbagai bentuk
fitnah agar dapat menghindarinya.
- Ilmu menjadi benteng utama dalam menghadapi
penyimpangan akidah dan pemikiran.
- Hadis tentang tujuh puluh tiga golongan mengingatkan
bahwa perpecahan merupakan ujian yang telah diberitakan oleh Rasulullah ﷺ.
- Ukuran keselamatan bukanlah nama kelompok, melainkan
kesesuaian dengan Al-Qur'an, Sunnah, dan jalan Rasulullah ﷺ bersama para sahabatnya.
- Seorang muslim hendaknya lebih sibuk memperbaiki akidah
dan amalnya daripada mudah menghakimi orang lain.
Penutup
Imam Al-Isfarayini menegaskan bahwa
mengenal jalan kebatilan bukanlah untuk mengikutinya, melainkan agar mampu
menjauhinya. Sebagaimana seseorang mempelajari racun bukan untuk meminumnya,
tetapi agar dapat menghindarinya, demikian pula seorang mukmin perlu memahami
berbagai bentuk penyimpangan akidah sebagai langkah menjaga kemurnian imannya.
Dengan berpegang teguh kepada Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah ﷺ, serta pemahaman para sahabat, seorang muslim memiliki pedoman
yang kokoh untuk tetap istiqamah di tengah beragam pemikiran dan perpecahan
yang muncul sepanjang sejarah umat Islam.
Teks Arab :
وَقد كَانَ أَصْحَاب رَسُول الله ﷺ يسألونه عَن الْحق
لصِحَّة الإعتقاد والمعرفة وَعَن الْبَاطِل وَالشَّر للتمكن من المجانبة حَتَّى
قَالَ حُذَيْفَة بن الْيَمَان كَانَ النَّاس يسْأَلُون رَسُول الله ﷺ عَن الْخَيْر
وَكنت أسأله عَن الشَّرّ وَإِنَّمَا كَانَ يَفْعَله لتصح لَهُ مجانبته لِأَن من لم
يعرف الشَّرّ يُوشك أَن يَقع فِيهِ كَمَا قَالَ الشَّاعِر
(عرفت الشَّرّ لَا
للشر لَكِن لتوقيه ... وَمن لَا يعرف الشَّرّ من النَّاس يَقع فِيهِ)
وَقد أخبر رَسُول الله ﷺ أَنه سَيظْهر فِي زمن
الْإِسْلَام من الْفرق الْمُخْتَلفَة مَا ظهر فِي الْأَدْيَان قبله فَقَالَ
افْتَرَقت الْيَهُود إِحْدَى وَسبعين فرقة وافترقت النَّصَارَى اثْنَتَيْنِ
وَسبعين فرقة وتفترق أمتِي ثَلَاثًا وَسبعين فرقة كلهم فِي النَّار إِلَّا
وَاحِدَة فَقيل يَا رَسُول الله من النَّاجِية فَقَالَ مَا أَنا عَلَيْهِ وأصحابي
وَفِي خبر آخر أَنه قَالَ الْجَمَاعَة
Baca juga:
Penjelasan Agama dan Pembedaantara Golongan yang Selamat dengan Berbagai Golongan yang Menyimpang
Mengapa Akidah yang Benar Sangat Penting? Penjelasan Imam
Al-Isfarayini tentang Bahaya Bid'ah dan Ahlul Ahwa'

Tidak ada komentar:
Posting Komentar