قوله تعالى : {لا رَيْبَ} نفي عام ، ولذلك نصب
الريب به. وفي الريب ثلاثة معان :
أحدها : الشك ، قال عبد الله بن الزبعرى :
ليس في الحق يا أميمة ريب
# إنما الريب ما يقول الجهول
وثانيها : التهمة ، قال جميل :
بثينة قالت يا جميل أربتني
# فقلت كلانا يا بثين مريب
وثالثها : الحاجة ، قال :
قضينا من تهامة كل ريب
# وخيبر ثم أجمعنا السيوفا
Firman Allah: “لا ريب” adalah penafian umum (meniadakan secara menyeluruh),
karena itu kata “ريب” dinashabkan
olehnya (لا).
Dan kata “ريب” memiliki tiga makna:
- Keraguan (syak),
sebagaimana dikatakan Abdullah bin az-Ziba'ra:
“Tidak ada keraguan dalam kebenaran, wahai Umaimah,
sesungguhnya keraguan itu hanyalah apa yang dikatakan oleh orang bodoh.” - Tuduhan
(kecurigaan), sebagaimana perkataan Jamil Buthayna:
“Buthainah berkata: ‘Wahai Jamil, engkau telah membuatku curiga,’
maka aku berkata: ‘Kita berdua, wahai Buthainah, saling mencurigai.’” - Kebutuhan
(hajat),
sebagaimana dalam syair:
“Kami telah menyelesaikan seluruh keperluan di Tihamah,
lalu (ke) Khaibar, kemudian kami menghunus pedang-pedang.”
فكتاب الله تعالى لا شك فيه ولا ارتياب ، والمعنى
: أنه في ذاته حق وأنه منزل من عند الله ، وصفة من صفاته ، غير مخلوق ولا محدث ، وإن
وقع ريب للكفار.
Maka Kitab Allah Ta‘ala tidak ada keraguan dan tidak ada kebimbangan di
dalamnya.
Maknanya adalah: Bahwa
Al-Qur’an itu pada hakikatnya adalah kebenaran, dan ia diturunkan
dari sisi Allah, merupakan sifat dari sifat-sifat-Nya,
bukan makhluk dan bukan sesuatu yang baru diciptakan.
Meskipun orang-orang kafir mungkin meragukannya.
وقيل : هو خبر ومعناه النهي ، أي لا ترتابوا
، وتم الكلام كأنه قال ذلك الكتاب حقا.
وتقول : رابني هذا الأمر إذا أدخل عليك شكا وخوفا.
وأراب : صار ذا ريبة ، فهو مريب. ورابني أمره. وريب الدهر : صروفه.
Dan dikatakan: Itu adalah
kalimat berita, tetapi maknanya adalah larangan, yaitu: janganlah kalian
meragukan.
Maka kalimatnya sudah sempurna, seakan-akan maksudnya: ‘Kitab itu adalah
kebenaran.’
Dan engkau berkata: رابني هذا الأمر rābanī hādhā al-amr (perkara ini membuatku
ragu), yaitu jika suatu perkara memasukkan keraguan dan ketakutan ke dalam
dirimu.
Dan أراب “arāba” artinya: menjadi sesuatu yang
mengandung keraguan, maka ia menjadi مريب “murīb”
(yang menimbulkan kecurigaan).
Dan رابني أمره “rābanī amruhu” artinya: urusannya membuatku
ragu.
Dan ريب الدهر “rīb ad-dahr” artinya:
perubahan-perubahan zaman.
Lima Macam Qira’ah Serta Enam Pembahasan
Tentang Firman Allah: “فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ” Dan Maknanya
قوله تعالى : {فِيهِ هُدىً لِلْمُتَّقِينَ} فيه
ست مسائل :
الأولي- قوله تعالى : {فيه} الهاء في "فيه"
في موضع خفض بفي ، وفيه خمسة أوجه ، أجودها : فيهِ هدى.
ويليه فيهُ هدى "بضم الهاء بغير واو"
وهي قراءة الزهري وسلام أبي المنذر.
ويليه فيهي هدى "بإثبات الياء" وهي
قراءة ابن كثير.
ويجوز فيهو هدى "بالواو".
ويجوز فيه هدى "مدغما" وارتفع
"هدى" على الابتداء والخبر "فيه".
والهدى في كلام العرب معناه الرشد والبيان ،
أي فيه كشف لأهل المعرفة ورشد وزيادة بيان وهدى.
Firman Allah: “فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ” terdapat enam
pembahasan di dalamnya.
Pertama:
Firman-Nya “فيه” — huruf ha pada “فيه” berada dalam kedudukan majrūr karena huruf “fi” (في).
Dan terdapat lima cara bacaan
(qirā’ah) yang baik:
- Yang paling baik: “fīhi hudā” (فيهِ هدى)
- “fīhu hudā”
(فيهُ هدى) dengan dhammah
pada ha tanpa wawu, ini
adalah bacaan Az-Zuhri dan Salam Abu al-Mundhir
- “fīhi yā hudā”
(فيهي هدى) dengan tambahan
huruf ya, ini bacaan Ibnu Katsir
- “fīhu wa hudā”
(فيهو هدى) dengan wawu
- “fīhi hudā”
(dengan idgham/peleburan bacaan tertentu), dan kata “hudā” dibaca rafa‘
sebagai mubtada’, sedangkan khabarnya adalah “fīhi”
Makna “hudā”:
Dalam bahasa Arab, hudā berarti petunjuk, kebenaran, dan penjelasan.
Artinya: di dalam Al-Qur’an terdapat
pembukaan jalan kebenaran, petunjuk bagi orang yang berilmu, serta tambahan
penjelasan dan bimbingan.
الثانية - الهدى هُديان : هدى دلالة ، وهو الذي
تقدر عليه الرسل وأتباعهم ، قال الله تعالى : {وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ} [الرعد :
7]. وقال : {وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ} [الشورى : 52] فأثبت لهم
الهدى الذي معناه الدلالة والدعوة والتنبيه ، وتفرد هو سبحانه بالهدى الذي معناه التأييد
والتوفيق ، فقال لنبيه صلى الله عليه وسلم : {إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ}
[القصص : 56] فالهدى على هذا يجيء بمعنى خلق الإيمان في القلب ، ومنه قوله تعالى :
{أُولَئِكَ عَلَى هُدىً مِنْ رَبِّهِمْ} [البقرة : 5] وقوله : {وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ}
[فاطر : 8] والهدى : الاهتداء ، ومعناه راجع إلى معنى الإرشاد كيفما تصرفت.
Kedua:
Petunjuk (al-hudā) itu ada
dua macam:
- Petunjuk berupa penjelasan (dalālah), yaitu yang mampu dilakukan oleh para rasul dan para
pengikut mereka.
Allah Ta‘ala berfirman:
{وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ}
“Dan
setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk”
(Ar-Ra‘d: 7).
Dan
Allah berfirman:
{وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}
“Sesungguhnya
engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (Asy-Syūrā: 52).
Maka
Allah menetapkan bagi para nabi petunjuk dalam arti menyampaikan, mengajak,
dan memberi peringatan.
- Petunjuk berupa taufik (pertolongan Allah), yaitu yang hanya dimiliki oleh Allah sendiri, berupa:
- memasukkan iman ke dalam hati
- memberi taufik dan hidayah
Maka
Allah berfirman kepada Nabi ﷺ:
{إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ}
“Sesungguhnya
engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai” (Al-Qashash: 56).
Dalam
makna ini, hidayah berarti menciptakan iman dalam hati.
Dan
termasuk firman Allah:
{أُولَئِكَ عَلَى هُدىً مِنْ رَبِّهِمْ}
“Mereka
itu berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka” (Al-Baqarah: 5).
Serta
firman-Nya:
{وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ}
“Dan
Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki” (Fathir: 8).
Maka
hidayah juga berarti mendapatkan petunjuk (keberhasilan mengikuti
kebenaran), dan maknanya kembali kepada bimbingan dan pengarahan dalam
semua bentuknya.
قال أبو المعالي : وقد ترد الهداية والمراد بها
إرشاد المؤمنين إلى مسالك الجنان والطرق المفضية إليها ، من ذلك قوله تعالى في صفة
المجاهدين : {فَلَنْ يُضِلَّ أعمالهم. سَيَهْدِيهِمْ} [محمد : 4 - 5] ومنه قوله تعالى
: {فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ} [الصافات : 23] معناه فاسلكوهم إليها.
Berkata Abu al-Ma‘ali:
Terkadang kata hidayah juga datang dengan makna membimbing
orang-orang beriman menuju jalan-jalan surga dan jalan yang mengantarkan ke
sana.
Di antaranya firman Allah Ta‘ala tentang sifat para mujahidin:
{فَلَنْ
يُضِلَّ أعمالهم. سَيَهْدِيهِمْ}
“Maka Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Dia akan memberi
mereka petunjuk.” (Muhammad: 4–5)
Dan termasuk firman-Nya:
{فَاهْدُوهُمْ
إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ}
“Maka tuntunlah mereka ke jalan neraka Jahim.” (As-Saffat: 23),
maksudnya: masukkanlah mereka ke dalamnya (neraka).
الثالثه - الهدى لفظ مؤنث.
قال الفراء : بعض بني أسد تؤنث الهدى
فتقول : هذه هدى حسنة.
Ketiga:
kata “al-hudā” (petunjuk)
adalah lafaz yang berjenis feminin (mu’annats).
Berkata Al-Farra:
Sebagian kabilah Bani Asad menjadikan kata al-hudā
sebagai mu’annats, sehingga mereka berkata:
“Ini adalah petunjuk (hidayah) yang baik.”
وقال اللحياني : هو مذكر ، ولم يعرب لأنه مقصور
والألف لا تتحرك ، ويتعدى بحرف وبغير حرف وقد مضى في "الفاتحة" ، تقول :
هديته الطريق وإلى الطريق والدار وإلى الدار ، أي عرفته.
الأولى لغة أهل الحجاز ، والثانية حكاها الأخفش.
Dan Al-Lihyani berkata:
“(kata al-hudā) adalah mudzakkar (maskulin), dan
tidak di-i‘rab (tidak berubah harakat akhirnya) karena ia adalah isim
maqshūr (kata yang berakhiran alif), sedangkan huruf alif tidak bisa
berubah (tidak menerima harakat).
Dan kata ini bisa menjadi fi‘il transitif dengan huruf jar atau
tanpa huruf jar.
Hal ini telah dijelaskan pada
surah Al-Fatihah.
Engkau berkata: هديته الطريق ‘hadytuhu
al-tharīq’ (aku
membimbingnya ke jalan) dan: إلى الطريق ‘ilā al-tharīq’ (ke jalan), serta: الدار ‘ad-dār’ dan: إلى الدار ‘ilā ad-dār’, maksudnya: aku mengenalkannya / menunjukkan
kepadanya jalan atau rumah.
Bentuk pertama (هديته الطريق إلى الطريق) adalah bahasa penduduk Hijaz,
sedangkan bentuk kedua (هديته الدار إلى الدار) diriwayatkan oleh Al-Akhfash
al-Awsath.
وفي التنزيل : {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}
و {الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا} [الأعراف : 43] وقيل : إن الهدى اسم
من أسماء النهار ، لأن الناس يهتدون فيه لمعايشهم وجميع مأربهم ، ومنه قول ابن مُقبل
:
حتى استبنت الهدى والبيد
هاجمة # يخشعن في الآل غلفا أو
يصلينا
Dan dalam Al-Qur’an terdapat firman Allah:
{اهْدِنَا
الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}
“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (Al-Fatihah: 6),
Dan firman-Nya:
{الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا}
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami petunjuk kepada ini”
(Al-A‘raf: 43).
Dan dikatakan pula: bahwa “al-hudā” adalah salah satu nama untuk siang
hari, karena manusia mendapatkan petunjuk pada siang hari untuk
mencari penghidupan mereka dan berbagai kebutuhan mereka.
Dan di antaranya perkataan Ibnu Muqbil:
Sehingga aku melihat jelas petunjuk
(siang), sementara padang pasir tampak luas dan menakutkan, yang membuat sesuatu tampak samar di
kejauhan atau panas teriknya membakar kami
Penjelasan Tentang Firman Allah
Ta’ala: لِلْمُتَّقِينَ Dan Makna التقوى
الرابعة- قوله تعالى : {لِلْمُتَّقِينَ} خص الله
تعالى المتقين بهدايته وإن كان هدى للخلق أجمعين تشريفا لهم ، لأنهم آمنوا وصدقوا بما
فيه.
وروي عن أبى رَوق أنه قال : {هُدىً لِلْمُتَّقِينَ}
أي كرامة لهم ، يعني إنما أضاف إليهم إجلالا لهم وكرامة لهم وبيانا لفضلهم.
Keempat:
Firman Allah Ta‘ala: “لِلْمُتَّقِينَ” (bagi
orang-orang yang bertakwa).
Allah mengkhususkan petunjuk-Nya
kepada orang-orang yang bertakwa, meskipun Al-Qur’an itu sebenarnya adalah
petunjuk bagi seluruh manusia, sebagai bentuk kemuliaan (tasyrīf)
bagi mereka, karena mereka beriman dan membenarkan apa yang ada di dalamnya.
Dan diriwayatkan dari Abu Rauq bahwa ia berkata:
“هُدىً لِلْمُتَّقِينَ” artinya: kemuliaan bagi mereka.
Maksudnya: Allah menisbatkan
petunjuk itu kepada mereka sebagai bentuk pengagungan, penghormatan,
dan penjelasan keutamaan mereka.
وأصل "للمتقين" : للموتقيين بياءين
مخففتين ، حذفت الكسرة من الياء الأولى لثقلها ثم حذفت الياء لالتقاء الساكنين وأبدلت
الواو تاء على أصلهم في اجتماع الواو والتاء وأدغمت التاء في التاء فصار للمتقين.
Asal kata ‘للمتقين’ adalah ‘للموتقيين’ dengan dua huruf ya’ yang
ringan (tanpa tasydid).
Lalu harakat kasrah pada ya’ pertama dihapus karena terasa berat, kemudian
huruf ya’ dihilangkan karena bertemunya dua huruf sukun (sukun bertemu sukun).
Kemudian huruf wawu
diganti menjadi ta’ sesuai kaidah mereka ketika huruf wawu dan ta’ berkumpul.
Lalu huruf ta’ dileburkan ke dalam ta’ (idgham), sehingga
menjadi bentuk ‘للمتقين’.”
الخامسة : التقوى يقال أصلها في اللغة قلة الكلام
، حكاه ابن فارس. قلت ومنه الحديث "التقي مُلْجَم والمتقي فوق المؤمن والطائع"
وهو الذي يتقي بصالح عمله وخالص دعائه عذاب الله تعالى ، مأخوذ من اتقاء المكروه بما
تجعله حاجزا بينك وبينه ، كما قال النابغة :
سقط النصيف ولم ترد إسقاطه
# فتناولته واتقتنا باليد
Kelima:
kata takwa dikatakan
bahwa asalnya dalam bahasa Arab adalah sedikit berbicara, sebagaimana
diriwayatkan oleh Ibnu Faris.
Aku (penulis) berkata: dan dari makna ini terdapat hadis: “Orang yang
bertakwa itu seperti orang yang terikat (terkendali), dan orang yang bertakwa
berada di atas mukmin dan orang yang taat.”
Yaitu orang yang menjaga dirinya dengan amal saleh dan doa yang ikhlas dari
azab Allah Ta‘ala.
Kata takwa diambil dari makna menjaga diri dari sesuatu
yang dibenci dengan menjadikan penghalang antara dirimu dan hal itu.
Sebagaimana perkataan An-Nabighah:
Penutup wajah itu jatuh, dan ia tidak
ingin jatuhnya,
lalu ia mengambilnya, dan ia menutupi dirinya dengan tangan kami
وقال آخر :
فألقت قناعا دونه الشمس
واتقت # بأحسن موصولين كف ومعصم
Dan penyair lain berkata:
Dia pun menjulurkan cadar, sehingga
matahari tertutup olehnya,
dan ia melindungi dirinya dengan dua bagian tubuh yang paling indah yang
tersambung: telapak tangan dan pergelangan tangan
وخرج أبو محمد عبد الغني الحافظ من حديث سعيد
بن زَربي أبي عبيدة عن عاصم بن بهدلة عن زر بن حبيش عن ابن مسعود قال قال يوما لابن
أخيه : يا ابن أخي ترى الناس ما أكثرهم ؟
قال : نعم ، قال : لا خير فيهم إلا تائب أو تقي
ثم قال : يا ابن أخي ترى الناس ما أكثرهم ؟
قلت : بلى ، قال : لا خير فيهم إلا عالم أو متعلم.
Dan Abu Muhammad Abdul Ghani al-Hafiz mengeluarkan dari
hadits Sa'id
bin Zarbi Abu Ubaidah, dari Ashim bin
Bahdalah, dari Zirr bin Hubaisy,
dari Abdullah bin Mas'ud, beliau berkata:
Pada suatu hari Ibnu Mas‘ud
berkata kepada keponakannya:
“Wahai keponakanku, apakah engkau melihat manusia, betapa banyaknya mereka?”
Ia menjawab: “Ya.”
Ibnu Mas‘ud berkata: “Tidak ada kebaikan pada mereka kecuali orang yang
bertaubat atau orang yang bertakwa.”
Kemudian beliau berkata lagi:
“Wahai keponakanku, apakah engkau melihat manusia, betapa banyaknya mereka?”
Aku menjawab: “Ya.”
Beliau berkata: “Tidak ada kebaikan pada mereka kecuali orang yang berilmu atau
orang yang sedang belajar.”
وقال أبو يزيد البسطامي : المتقي من إذا قال
قال لله ، ومن إذا عمل عمل لله.
وقال أبو سليمان الداراني : المتقون الذين نزع
الله عن قلوبهم حب الشهوات.
Berkata Abu Yazid al-Busthami:
“Orang yang bertakwa adalah orang yang apabila berbicara, ia berbicara karena
Allah, dan apabila beramal, ia beramal karena Allah.”
Dan berkata Abu Sulaiman ad-Darani:
“Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang Allah cabut dari hati mereka
kecintaan terhadap syahwat (hawa nafsu).”
وقيل : المتقي الذي اتقى الشرك وبرئ من النفاق.
قال ابن عطية : وهذا فاسد ، لأنه قد يكون كذلك وهو فاسق.
Dan dikatakan: orang yang bertakwa adalah orang yang menjauhi syirik dan
berlepas diri dari kemunafikan.
Berkata Ibnu ‘Athiyyah:
“Pendapat ini lemah, karena
seseorang bisa saja seperti itu (tidak melakukan syirik dan nifaq) namun masih
menjadi orang fasik.”
وسأل عمر بن الخطاب رضي الله عنه أُبيا عن التقوى
، فقال : هل أخذت طريقا ذا شوك ؟
قال : نعم :
قال فما عملت فيه ؟
قال : تشمرت وحذرت ، قال : فذاك التقوى. وأخذ
هذا المعنى ابن المعتز فنظمه :
خل الذنوب صغيرها #
وكبيرها
ذاك التقى
واصنع كماش فوق أر #
ض
الشوك يحذر ما يرى
لا تحقرن صغيرة #
إن
الجبال من الحصى
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab
pernah bertanya kepada Ubay bin Kaab
tentang makna takwa.
Ubay menjawab: “Apakah engkau pernah melewati jalan yang penuh duri?”
Umar menjawab: “Ya.”
Ubay berkata: “Lalu apa yang engkau lakukan?”
Umar menjawab: “Aku berhati-hati dan bersiap-siap.”
Ubay berkata: “Itulah takwa.”
Dan makna ini kemudian diungkapkan oleh Ibn
al-Mu'tazz dalam syairnya:
Tinggalkanlah dosa-dosa, yang kecil
maupun yang besar, itulah takwa.
Bertindaklah seperti orang yang
berjalan di atas jalan penuh duri, ia sangat waspada terhadap apa yang
dilihatnya
Jangan meremehkan dosa kecil, karena
gunung itu berasal dari batu-batu kecil
السادسة : التقوى فيها جماع الخير كله ، وهي
وصية الله في الأولين والآخرين ، وهي خير ما يستفيده الإنسان ، كما قال أبو الدرداء
وقد قيل له : إن أصحابك يقولون الشعر وأنت ما حفظ عنك شيء ، فقال :
يريد المرء أن يؤتى مناه
# ويأبى الله إلا ما أرادا
يقول المرء فائدتي ومالي
# وتقوى الله أفضل ما استفادا
Keenam:
Takwa itu mencakup seluruh
kebaikan, dan ia adalah wasiat Allah kepada generasi الأولين dan الآخرين
(orang-orang terdahulu dan kemudian). Ia adalah sebaik-baik sesuatu yang dapat
diperoleh manusia.
Sebagaimana dikatakan oleh Abu Darda’ ketika dikatakan kepadanya:
“Sesungguhnya teman-temanmu meriwayatkan syair, sedangkan darimu tidak ada yang
dihafal.”
Maka beliau menjawab dengan syair:
Seseorang menginginkan agar semua
keinginannya terpenuhi,
padahal Allah hanya menghendaki apa yang Dia kehendaki
Seseorang berkata: ‘Ini manfaatku dan
hartaku,’
padahal takwa kepada Allah adalah sebaik-baik apa yang diperoleh
وروى ابن ماجة في سننه عن أبى أمامة عن النبي
صلى الله عليه وسلم أنه كان يقول : "ما استفاد المؤمن بعد تقوى الله خير له من
زوجة صالحة إن أمرها أطاعته وإن نظر إليها سرته وإن أقسم عليها أبرته وإن غاب عنها
نصحته في نفسها وماله" .
Diriwayatkan oleh Abu Umamah bahwa Ibnu
Majah dalam kitab Sunan-nya meriwayatkan, dari Nabi ﷺ
bahwa beliau bersabda:
“Tidaklah seorang mukmin
mendapatkan manfaat setelah ketakwaan kepada Allah yang lebih baik baginya
daripada seorang istri yang salehah.
Jika ia memerintahnya, ia taat
kepadanya;
jika ia memandangnya, ia menyenangkannya;
jika ia bersumpah atasnya, ia memenuhinya;
dan jika ia tidak berada di sisinya, ia menjaga dirinya serta harta suaminya
dengan baik.”
والأصل في التقوى : وَقْوَى على وزن فعلى فقلبت
الواو تاء من وقيته أقيه أي منعته ، ورجل تقي أي خائف ، أصله وقي ، وكذلك تقاة كانت
في الأصل وقاة ، كما قالوا : تجاه وتراث ، والأصل وجاه ووراث.
Dan asal kata takwa adalah waqwā dengan وزن (pola) fa‘lā, lalu huruf waw diganti menjadi ta’
dari kata waqaytuhu aqīhi yang berarti: aku melindunginya atau
mencegahnya.
Dan rajulun taqī (orang bertakwa) berarti orang yang takut (kepada
Allah). Asalnya adalah waqī.
Demikian pula kata tuqāt pada asalnya adalah waqāt,
sebagaimana mereka mengatakan tijāh dan turāth, padahal
asalnya wijāh dan wirāth.”
Penutup
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 2:
Ayat “ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ” menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang
berasal dari Allah, sempurna dalam kebenarannya, dan tidak mengandung sedikit
pun keraguan. Ia menjadi sumber petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,
yaitu mereka yang menjaga diri dari murka Allah dengan iman, amal saleh, dan
menjauhi segala bentuk maksiat.
Berbagai penjelasan ulama menunjukkan bahwa makna “ذلك
الكتاب” mencakup kemuliaan Al-Qur’an, kesaksian kitab-kitab
sebelumnya, janji Allah kepada Nabi ﷺ,
hingga keberadaannya di Lauh Mahfuz. Semua ini mengarah pada satu hakikat:
bahwa Al-Qur’an adalah wahyu ilahi yang terjaga, sempurna, dan menjadi hujjah
bagi seluruh manusia.
Demikian pula penjelasan tentang “لا ريب فيه”
menunjukkan kepastian mutlak bahwa Al-Qur’an adalah kebenaran, meskipun
orang-orang kafir meragukannya. Sedangkan “هدى للمتقين”
menegaskan bahwa hidayah sejati hanya akan diterima oleh hati yang bersih, yang
siap menerima kebenaran dan tunduk kepada petunjuk Allah.
Dengan demikian, ayat ini menjadi fondasi utama dalam memahami kedudukan
Al-Qur’an: sebagai petunjuk, cahaya, dan pembeda antara kebenaran dan
kebatilan. Maka sudah sepantasnya seorang Muslim menjadikannya sebagai pedoman
hidup, membacanya dengan iman, memahami dengan hati yang tunduk, serta
mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Baca juga:
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 1 Tentang Perbedaan Pendapat I’rob Dan Tata Bahasa Ayat {الم}
قوله تعالى : {لا رَيْبَ} نفي عام ، ولذلك نصب
الريب به. وفي الريب ثلاثة معان :
أحدها : الشك ، قال عبد الله بن الزبعرى :
ليس في الحق يا أميمة ريب
# إنما الريب ما يقول الجهول
وثانيها : التهمة ، قال جميل :
بثينة قالت يا جميل أربتني
# فقلت كلانا يا بثين مريب
وثالثها : الحاجة ، قال :
قضينا من تهامة كل ريب
# وخيبر ثم أجمعنا السيوفا
Firman Allah: “لا ريب” adalah penafian umum (meniadakan secara menyeluruh),
karena itu kata “ريب” dinashabkan
olehnya (لا).
Dan kata “ريب” memiliki tiga makna:
- Keraguan (syak),
sebagaimana dikatakan Abdullah bin az-Ziba'ra:
“Tidak ada keraguan dalam kebenaran, wahai Umaimah,
sesungguhnya keraguan itu hanyalah apa yang dikatakan oleh orang bodoh.” - Tuduhan
(kecurigaan), sebagaimana perkataan Jamil Buthayna:
“Buthainah berkata: ‘Wahai Jamil, engkau telah membuatku curiga,’
maka aku berkata: ‘Kita berdua, wahai Buthainah, saling mencurigai.’” - Kebutuhan
(hajat),
sebagaimana dalam syair:
“Kami telah menyelesaikan seluruh keperluan di Tihamah,
lalu (ke) Khaibar, kemudian kami menghunus pedang-pedang.”
فكتاب الله تعالى لا شك فيه ولا ارتياب ، والمعنى
: أنه في ذاته حق وأنه منزل من عند الله ، وصفة من صفاته ، غير مخلوق ولا محدث ، وإن
وقع ريب للكفار.
Maka Kitab Allah Ta‘ala tidak ada keraguan dan tidak ada kebimbangan di
dalamnya.
Maknanya adalah: Bahwa
Al-Qur’an itu pada hakikatnya adalah kebenaran, dan ia diturunkan
dari sisi Allah, merupakan sifat dari sifat-sifat-Nya,
bukan makhluk dan bukan sesuatu yang baru diciptakan.
Meskipun orang-orang kafir mungkin meragukannya.
وقيل : هو خبر ومعناه النهي ، أي لا ترتابوا
، وتم الكلام كأنه قال ذلك الكتاب حقا.
وتقول : رابني هذا الأمر إذا أدخل عليك شكا وخوفا.
وأراب : صار ذا ريبة ، فهو مريب. ورابني أمره. وريب الدهر : صروفه.
Dan dikatakan: Itu adalah
kalimat berita, tetapi maknanya adalah larangan, yaitu: janganlah kalian
meragukan.
Maka kalimatnya sudah sempurna, seakan-akan maksudnya: ‘Kitab itu adalah
kebenaran.’
Dan engkau berkata: رابني هذا الأمر rābanī hādhā al-amr (perkara ini membuatku
ragu), yaitu jika suatu perkara memasukkan keraguan dan ketakutan ke dalam
dirimu.
Dan أراب “arāba” artinya: menjadi sesuatu yang
mengandung keraguan, maka ia menjadi مريب “murīb”
(yang menimbulkan kecurigaan).
Dan رابني أمره “rābanī amruhu” artinya: urusannya membuatku
ragu.
Dan ريب الدهر “rīb ad-dahr” artinya:
perubahan-perubahan zaman.
Lima Macam Qira’ah Serta Enam Pembahasan
Tentang Firman Allah: “فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ” Dan Maknanya
قوله تعالى : {فِيهِ هُدىً لِلْمُتَّقِينَ} فيه
ست مسائل :
الأولي- قوله تعالى : {فيه} الهاء في "فيه"
في موضع خفض بفي ، وفيه خمسة أوجه ، أجودها : فيهِ هدى.
ويليه فيهُ هدى "بضم الهاء بغير واو"
وهي قراءة الزهري وسلام أبي المنذر.
ويليه فيهي هدى "بإثبات الياء" وهي
قراءة ابن كثير.
ويجوز فيهو هدى "بالواو".
ويجوز فيه هدى "مدغما" وارتفع
"هدى" على الابتداء والخبر "فيه".
والهدى في كلام العرب معناه الرشد والبيان ،
أي فيه كشف لأهل المعرفة ورشد وزيادة بيان وهدى.
Firman Allah: “فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ” terdapat enam
pembahasan di dalamnya.
Pertama:
Firman-Nya “فيه” — huruf ha pada “فيه” berada dalam kedudukan majrūr karena huruf “fi” (في).
Dan terdapat lima cara bacaan
(qirā’ah) yang baik:
- Yang paling baik: “fīhi hudā” (فيهِ هدى)
- “fīhu hudā”
(فيهُ هدى) dengan dhammah
pada ha tanpa wawu, ini
adalah bacaan Az-Zuhri dan Salam Abu al-Mundhir
- “fīhi yā hudā”
(فيهي هدى) dengan tambahan
huruf ya, ini bacaan Ibnu Katsir
- “fīhu wa hudā”
(فيهو هدى) dengan wawu
- “fīhi hudā”
(dengan idgham/peleburan bacaan tertentu), dan kata “hudā” dibaca rafa‘
sebagai mubtada’, sedangkan khabarnya adalah “fīhi”
Makna “hudā”:
Dalam bahasa Arab, hudā berarti petunjuk, kebenaran, dan penjelasan.
Artinya: di dalam Al-Qur’an terdapat
pembukaan jalan kebenaran, petunjuk bagi orang yang berilmu, serta tambahan
penjelasan dan bimbingan.
الثانية - الهدى هُديان : هدى دلالة ، وهو الذي
تقدر عليه الرسل وأتباعهم ، قال الله تعالى : {وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ} [الرعد :
7]. وقال : {وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ} [الشورى : 52] فأثبت لهم
الهدى الذي معناه الدلالة والدعوة والتنبيه ، وتفرد هو سبحانه بالهدى الذي معناه التأييد
والتوفيق ، فقال لنبيه صلى الله عليه وسلم : {إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ}
[القصص : 56] فالهدى على هذا يجيء بمعنى خلق الإيمان في القلب ، ومنه قوله تعالى :
{أُولَئِكَ عَلَى هُدىً مِنْ رَبِّهِمْ} [البقرة : 5] وقوله : {وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ}
[فاطر : 8] والهدى : الاهتداء ، ومعناه راجع إلى معنى الإرشاد كيفما تصرفت.
Kedua:
Petunjuk (al-hudā) itu ada
dua macam:
- Petunjuk berupa penjelasan (dalālah), yaitu yang mampu dilakukan oleh para rasul dan para
pengikut mereka.
Allah Ta‘ala berfirman:
{وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ}
“Dan
setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk”
(Ar-Ra‘d: 7).
Dan
Allah berfirman:
{وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ}
“Sesungguhnya
engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (Asy-Syūrā: 52).
Maka
Allah menetapkan bagi para nabi petunjuk dalam arti menyampaikan, mengajak,
dan memberi peringatan.
- Petunjuk berupa taufik (pertolongan Allah), yaitu yang hanya dimiliki oleh Allah sendiri, berupa:
- memasukkan iman ke dalam hati
- memberi taufik dan hidayah
Maka
Allah berfirman kepada Nabi ﷺ:
{إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ}
“Sesungguhnya
engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai” (Al-Qashash: 56).
Dalam
makna ini, hidayah berarti menciptakan iman dalam hati.
Dan
termasuk firman Allah:
{أُولَئِكَ عَلَى هُدىً مِنْ رَبِّهِمْ}
“Mereka
itu berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka” (Al-Baqarah: 5).
Serta
firman-Nya:
{وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ}
“Dan
Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki” (Fathir: 8).
Maka
hidayah juga berarti mendapatkan petunjuk (keberhasilan mengikuti
kebenaran), dan maknanya kembali kepada bimbingan dan pengarahan dalam
semua bentuknya.
قال أبو المعالي : وقد ترد الهداية والمراد بها
إرشاد المؤمنين إلى مسالك الجنان والطرق المفضية إليها ، من ذلك قوله تعالى في صفة
المجاهدين : {فَلَنْ يُضِلَّ أعمالهم. سَيَهْدِيهِمْ} [محمد : 4 - 5] ومنه قوله تعالى
: {فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ} [الصافات : 23] معناه فاسلكوهم إليها.
Berkata Abu al-Ma‘ali:
Terkadang kata hidayah juga datang dengan makna membimbing
orang-orang beriman menuju jalan-jalan surga dan jalan yang mengantarkan ke
sana.
Di antaranya firman Allah Ta‘ala tentang sifat para mujahidin:
{فَلَنْ
يُضِلَّ أعمالهم. سَيَهْدِيهِمْ}
“Maka Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Dia akan memberi
mereka petunjuk.” (Muhammad: 4–5)
Dan termasuk firman-Nya:
{فَاهْدُوهُمْ
إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ}
“Maka tuntunlah mereka ke jalan neraka Jahim.” (As-Saffat: 23),
maksudnya: masukkanlah mereka ke dalamnya (neraka).
الثالثه - الهدى لفظ مؤنث.
قال الفراء : بعض بني أسد تؤنث الهدى
فتقول : هذه هدى حسنة.
Ketiga:
kata “al-hudā” (petunjuk)
adalah lafaz yang berjenis feminin (mu’annats).
Berkata Al-Farra:
Sebagian kabilah Bani Asad menjadikan kata al-hudā
sebagai mu’annats, sehingga mereka berkata:
“Ini adalah petunjuk (hidayah) yang baik.”
وقال اللحياني : هو مذكر ، ولم يعرب لأنه مقصور
والألف لا تتحرك ، ويتعدى بحرف وبغير حرف وقد مضى في "الفاتحة" ، تقول :
هديته الطريق وإلى الطريق والدار وإلى الدار ، أي عرفته.
الأولى لغة أهل الحجاز ، والثانية حكاها الأخفش.
Dan Al-Lihyani berkata:
“(kata al-hudā) adalah mudzakkar (maskulin), dan
tidak di-i‘rab (tidak berubah harakat akhirnya) karena ia adalah isim
maqshūr (kata yang berakhiran alif), sedangkan huruf alif tidak bisa
berubah (tidak menerima harakat).
Dan kata ini bisa menjadi fi‘il transitif dengan huruf jar atau
tanpa huruf jar.
Hal ini telah dijelaskan pada
surah Al-Fatihah.
Engkau berkata: هديته الطريق ‘hadytuhu
al-tharīq’ (aku
membimbingnya ke jalan) dan: إلى الطريق ‘ilā al-tharīq’ (ke jalan), serta: الدار ‘ad-dār’ dan: إلى الدار ‘ilā ad-dār’, maksudnya: aku mengenalkannya / menunjukkan
kepadanya jalan atau rumah.
Bentuk pertama (هديته الطريق إلى الطريق) adalah bahasa penduduk Hijaz,
sedangkan bentuk kedua (هديته الدار إلى الدار) diriwayatkan oleh Al-Akhfash
al-Awsath.
وفي التنزيل : {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}
و {الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا} [الأعراف : 43] وقيل : إن الهدى اسم
من أسماء النهار ، لأن الناس يهتدون فيه لمعايشهم وجميع مأربهم ، ومنه قول ابن مُقبل
:
حتى استبنت الهدى والبيد
هاجمة # يخشعن في الآل غلفا أو
يصلينا
Dan dalam Al-Qur’an terdapat firman Allah:
{اهْدِنَا
الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ}
“Tunjukilah kami jalan yang lurus” (Al-Fatihah: 6),
Dan firman-Nya:
{الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا}
“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami petunjuk kepada ini”
(Al-A‘raf: 43).
Dan dikatakan pula: bahwa “al-hudā” adalah salah satu nama untuk siang
hari, karena manusia mendapatkan petunjuk pada siang hari untuk
mencari penghidupan mereka dan berbagai kebutuhan mereka.
Dan di antaranya perkataan Ibnu Muqbil:
Sehingga aku melihat jelas petunjuk
(siang), sementara padang pasir tampak luas dan menakutkan, yang membuat sesuatu tampak samar di
kejauhan atau panas teriknya membakar kami
Penjelasan Tentang Firman Allah
Ta’ala: لِلْمُتَّقِينَ Dan Makna التقوى
الرابعة- قوله تعالى : {لِلْمُتَّقِينَ} خص الله
تعالى المتقين بهدايته وإن كان هدى للخلق أجمعين تشريفا لهم ، لأنهم آمنوا وصدقوا بما
فيه.
وروي عن أبى رَوق أنه قال : {هُدىً لِلْمُتَّقِينَ}
أي كرامة لهم ، يعني إنما أضاف إليهم إجلالا لهم وكرامة لهم وبيانا لفضلهم.
Keempat:
Firman Allah Ta‘ala: “لِلْمُتَّقِينَ” (bagi
orang-orang yang bertakwa).
Allah mengkhususkan petunjuk-Nya
kepada orang-orang yang bertakwa, meskipun Al-Qur’an itu sebenarnya adalah
petunjuk bagi seluruh manusia, sebagai bentuk kemuliaan (tasyrīf)
bagi mereka, karena mereka beriman dan membenarkan apa yang ada di dalamnya.
Dan diriwayatkan dari Abu Rauq bahwa ia berkata:
“هُدىً لِلْمُتَّقِينَ” artinya: kemuliaan bagi mereka.
Maksudnya: Allah menisbatkan
petunjuk itu kepada mereka sebagai bentuk pengagungan, penghormatan,
dan penjelasan keutamaan mereka.
وأصل "للمتقين" : للموتقيين بياءين
مخففتين ، حذفت الكسرة من الياء الأولى لثقلها ثم حذفت الياء لالتقاء الساكنين وأبدلت
الواو تاء على أصلهم في اجتماع الواو والتاء وأدغمت التاء في التاء فصار للمتقين.
Asal kata ‘للمتقين’ adalah ‘للموتقيين’ dengan dua huruf ya’ yang
ringan (tanpa tasydid).
Lalu harakat kasrah pada ya’ pertama dihapus karena terasa berat, kemudian
huruf ya’ dihilangkan karena bertemunya dua huruf sukun (sukun bertemu sukun).
Kemudian huruf wawu
diganti menjadi ta’ sesuai kaidah mereka ketika huruf wawu dan ta’ berkumpul.
Lalu huruf ta’ dileburkan ke dalam ta’ (idgham), sehingga
menjadi bentuk ‘للمتقين’.”
الخامسة : التقوى يقال أصلها في اللغة قلة الكلام
، حكاه ابن فارس. قلت ومنه الحديث "التقي مُلْجَم والمتقي فوق المؤمن والطائع"
وهو الذي يتقي بصالح عمله وخالص دعائه عذاب الله تعالى ، مأخوذ من اتقاء المكروه بما
تجعله حاجزا بينك وبينه ، كما قال النابغة :
سقط النصيف ولم ترد إسقاطه
# فتناولته واتقتنا باليد
Kelima:
kata takwa dikatakan
bahwa asalnya dalam bahasa Arab adalah sedikit berbicara, sebagaimana
diriwayatkan oleh Ibnu Faris.
Aku (penulis) berkata: dan dari makna ini terdapat hadis: “Orang yang
bertakwa itu seperti orang yang terikat (terkendali), dan orang yang bertakwa
berada di atas mukmin dan orang yang taat.”
Yaitu orang yang menjaga dirinya dengan amal saleh dan doa yang ikhlas dari
azab Allah Ta‘ala.
Kata takwa diambil dari makna menjaga diri dari sesuatu
yang dibenci dengan menjadikan penghalang antara dirimu dan hal itu.
Sebagaimana perkataan An-Nabighah:
Penutup wajah itu jatuh, dan ia tidak
ingin jatuhnya,
lalu ia mengambilnya, dan ia menutupi dirinya dengan tangan kami
وقال آخر :
فألقت قناعا دونه الشمس
واتقت # بأحسن موصولين كف ومعصم
Dan penyair lain berkata:
Dia pun menjulurkan cadar, sehingga
matahari tertutup olehnya,
dan ia melindungi dirinya dengan dua bagian tubuh yang paling indah yang
tersambung: telapak tangan dan pergelangan tangan
وخرج أبو محمد عبد الغني الحافظ من حديث سعيد
بن زَربي أبي عبيدة عن عاصم بن بهدلة عن زر بن حبيش عن ابن مسعود قال قال يوما لابن
أخيه : يا ابن أخي ترى الناس ما أكثرهم ؟
قال : نعم ، قال : لا خير فيهم إلا تائب أو تقي
ثم قال : يا ابن أخي ترى الناس ما أكثرهم ؟
قلت : بلى ، قال : لا خير فيهم إلا عالم أو متعلم.
Dan Abu Muhammad Abdul Ghani al-Hafiz mengeluarkan dari
hadits Sa'id
bin Zarbi Abu Ubaidah, dari Ashim bin
Bahdalah, dari Zirr bin Hubaisy,
dari Abdullah bin Mas'ud, beliau berkata:
Pada suatu hari Ibnu Mas‘ud
berkata kepada keponakannya:
“Wahai keponakanku, apakah engkau melihat manusia, betapa banyaknya mereka?”
Ia menjawab: “Ya.”
Ibnu Mas‘ud berkata: “Tidak ada kebaikan pada mereka kecuali orang yang
bertaubat atau orang yang bertakwa.”
Kemudian beliau berkata lagi:
“Wahai keponakanku, apakah engkau melihat manusia, betapa banyaknya mereka?”
Aku menjawab: “Ya.”
Beliau berkata: “Tidak ada kebaikan pada mereka kecuali orang yang berilmu atau
orang yang sedang belajar.”
وقال أبو يزيد البسطامي : المتقي من إذا قال
قال لله ، ومن إذا عمل عمل لله.
وقال أبو سليمان الداراني : المتقون الذين نزع
الله عن قلوبهم حب الشهوات.
Berkata Abu Yazid al-Busthami:
“Orang yang bertakwa adalah orang yang apabila berbicara, ia berbicara karena
Allah, dan apabila beramal, ia beramal karena Allah.”
Dan berkata Abu Sulaiman ad-Darani:
“Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang Allah cabut dari hati mereka
kecintaan terhadap syahwat (hawa nafsu).”
وقيل : المتقي الذي اتقى الشرك وبرئ من النفاق.
قال ابن عطية : وهذا فاسد ، لأنه قد يكون كذلك وهو فاسق.
Dan dikatakan: orang yang bertakwa adalah orang yang menjauhi syirik dan
berlepas diri dari kemunafikan.
Berkata Ibnu ‘Athiyyah:
“Pendapat ini lemah, karena
seseorang bisa saja seperti itu (tidak melakukan syirik dan nifaq) namun masih
menjadi orang fasik.”
وسأل عمر بن الخطاب رضي الله عنه أُبيا عن التقوى
، فقال : هل أخذت طريقا ذا شوك ؟
قال : نعم :
قال فما عملت فيه ؟
قال : تشمرت وحذرت ، قال : فذاك التقوى. وأخذ
هذا المعنى ابن المعتز فنظمه :
خل الذنوب صغيرها #
وكبيرها
ذاك التقى
واصنع كماش فوق أر #
ض
الشوك يحذر ما يرى
لا تحقرن صغيرة #
إن
الجبال من الحصى
Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab
pernah bertanya kepada Ubay bin Kaab
tentang makna takwa.
Ubay menjawab: “Apakah engkau pernah melewati jalan yang penuh duri?”
Umar menjawab: “Ya.”
Ubay berkata: “Lalu apa yang engkau lakukan?”
Umar menjawab: “Aku berhati-hati dan bersiap-siap.”
Ubay berkata: “Itulah takwa.”
Dan makna ini kemudian diungkapkan oleh Ibn
al-Mu'tazz dalam syairnya:
Tinggalkanlah dosa-dosa, yang kecil
maupun yang besar, itulah takwa.
Bertindaklah seperti orang yang
berjalan di atas jalan penuh duri, ia sangat waspada terhadap apa yang
dilihatnya
Jangan meremehkan dosa kecil, karena
gunung itu berasal dari batu-batu kecil
السادسة : التقوى فيها جماع الخير كله ، وهي
وصية الله في الأولين والآخرين ، وهي خير ما يستفيده الإنسان ، كما قال أبو الدرداء
وقد قيل له : إن أصحابك يقولون الشعر وأنت ما حفظ عنك شيء ، فقال :
يريد المرء أن يؤتى مناه
# ويأبى الله إلا ما أرادا
يقول المرء فائدتي ومالي
# وتقوى الله أفضل ما استفادا
Keenam:
Takwa itu mencakup seluruh
kebaikan, dan ia adalah wasiat Allah kepada generasi الأولين dan الآخرين
(orang-orang terdahulu dan kemudian). Ia adalah sebaik-baik sesuatu yang dapat
diperoleh manusia.
Sebagaimana dikatakan oleh Abu Darda’ ketika dikatakan kepadanya:
“Sesungguhnya teman-temanmu meriwayatkan syair, sedangkan darimu tidak ada yang
dihafal.”
Maka beliau menjawab dengan syair:
Seseorang menginginkan agar semua
keinginannya terpenuhi,
padahal Allah hanya menghendaki apa yang Dia kehendaki
Seseorang berkata: ‘Ini manfaatku dan
hartaku,’
padahal takwa kepada Allah adalah sebaik-baik apa yang diperoleh
وروى ابن ماجة في سننه عن أبى أمامة عن النبي
صلى الله عليه وسلم أنه كان يقول : "ما استفاد المؤمن بعد تقوى الله خير له من
زوجة صالحة إن أمرها أطاعته وإن نظر إليها سرته وإن أقسم عليها أبرته وإن غاب عنها
نصحته في نفسها وماله" .
Diriwayatkan oleh Abu Umamah bahwa Ibnu
Majah dalam kitab Sunan-nya meriwayatkan, dari Nabi ﷺ
bahwa beliau bersabda:
“Tidaklah seorang mukmin
mendapatkan manfaat setelah ketakwaan kepada Allah yang lebih baik baginya
daripada seorang istri yang salehah.
Jika ia memerintahnya, ia taat
kepadanya;
jika ia memandangnya, ia menyenangkannya;
jika ia bersumpah atasnya, ia memenuhinya;
dan jika ia tidak berada di sisinya, ia menjaga dirinya serta harta suaminya
dengan baik.”
والأصل في التقوى : وَقْوَى على وزن فعلى فقلبت
الواو تاء من وقيته أقيه أي منعته ، ورجل تقي أي خائف ، أصله وقي ، وكذلك تقاة كانت
في الأصل وقاة ، كما قالوا : تجاه وتراث ، والأصل وجاه ووراث.
Dan asal kata takwa adalah waqwā dengan وزن (pola) fa‘lā, lalu huruf waw diganti menjadi ta’
dari kata waqaytuhu aqīhi yang berarti: aku melindunginya atau
mencegahnya.
Dan rajulun taqī (orang bertakwa) berarti orang yang takut (kepada
Allah). Asalnya adalah waqī.
Demikian pula kata tuqāt pada asalnya adalah waqāt,
sebagaimana mereka mengatakan tijāh dan turāth, padahal
asalnya wijāh dan wirāth.”
Penutup
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 2:
Ayat “ذَٰلِكَ ٱلْكِتَٰبُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ” menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang
berasal dari Allah, sempurna dalam kebenarannya, dan tidak mengandung sedikit
pun keraguan. Ia menjadi sumber petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,
yaitu mereka yang menjaga diri dari murka Allah dengan iman, amal saleh, dan
menjauhi segala bentuk maksiat.
Berbagai penjelasan ulama menunjukkan bahwa makna “ذلك
الكتاب” mencakup kemuliaan Al-Qur’an, kesaksian kitab-kitab
sebelumnya, janji Allah kepada Nabi ﷺ,
hingga keberadaannya di Lauh Mahfuz. Semua ini mengarah pada satu hakikat:
bahwa Al-Qur’an adalah wahyu ilahi yang terjaga, sempurna, dan menjadi hujjah
bagi seluruh manusia.
Demikian pula penjelasan tentang “لا ريب فيه”
menunjukkan kepastian mutlak bahwa Al-Qur’an adalah kebenaran, meskipun
orang-orang kafir meragukannya. Sedangkan “هدى للمتقين”
menegaskan bahwa hidayah sejati hanya akan diterima oleh hati yang bersih, yang
siap menerima kebenaran dan tunduk kepada petunjuk Allah.
Dengan demikian, ayat ini menjadi fondasi utama dalam memahami kedudukan
Al-Qur’an: sebagai petunjuk, cahaya, dan pembeda antara kebenaran dan
kebatilan. Maka sudah sepantasnya seorang Muslim menjadikannya sebagai pedoman
hidup, membacanya dengan iman, memahami dengan hati yang tunduk, serta
mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Baca juga:
Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 1 Tentang Perbedaan Pendapat I’rob Dan Tata Bahasa Ayat {الم}

Tidak ada komentar:
Posting Komentar