Batas Air Banyak dan Dampak Bercampurnya dengan Benda Suci atau Najis Menurut Empat Mazhab: Apakah Air Sumur Menjadi Najis Jika Dimasuki Manusia atau Tercampur Najis?

الْمَبْحَثُ الثَّالِثُ

Pembahasan Ketiga

حَدُّ الْكَثْرَةِ فِي مَاءِ الْبِئْرِ وَأَثَرُ اخْتِلاَطِهِ بِطَاهِرٍ

Batas Air Sumur yang Banyak dan Dampak Bercampurnya dengan Benda Suci

وَانْغِمَاسُ آدَمِيٍّ فِيهِ طَاهِرٍ أَوْ بِهِ نَجَاسَةٌ

Masuknya Manusia ke Dalamnya dalam Keadaan Suci atau Membawa Najis

٦ - اتَّفَقَ فُقَهَاءُ الْمَذَاهِبِ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ الْكَثِيرَ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ مَا لَمْ يَتَغَيَّرْ لَوْنُهُ أَوْ طَعْمُهُ أَوْ رِيحُهُ. وَيَخْتَلِفُونَ فِي حَدِّ الْكَثْرَةِ، فَيُقَدِّرُهَا الْحَنَفِيَّةُ بِمَا يُوَازِي عَشْرَ أَذْرُعٍ فِي عَشْرٍ دُونَ اعْتِبَارٍ لِلْعُمْقِ مَا دَامَ الْقَاعُ لاَ يَظْهَرُ بِالاِغْتِرَافِ. وَالذِّرَاعُ سَبْعُ قَبَضَاتٍ؛ لأَِنَّهَا لَوْ كَانَتْ عَشْرًا فِي عَشْرٍ فَإِنَّ الْمَاءَ لاَ يَتَنَجَّسُ بِشَيْءٍ مَا لَمْ يَتَغَيَّرْ لَوْنُهُ أَوْ طَعْمُهُ أَوْ رِيحُهُ، اعْتِبَارًا بِالْمَاءِ الْجَارِي. وَالْقِيَاسُ أَنْ لاَ تَطْهُرَ، لَكِنْ تُرِكَ الْقِيَاسُ لِلآْثَارِ، وَمَسَائِل الآْبَارِ مَبْنِيَّةٌ عَلَى الآْثَارِ. (٢) وَالْمُفْتَى بِهِ الْقَوْل بِالْعَشْرِ وَلَوْ حُكْمًا لِيَعُمَّ مَا لَهُ طُولٌ بِلاَ عَرْضٍ فِي الأَْصَحِّ. وَقِيل: الْمُعْتَبَرُ فِي الْقَدْرِ الْكَثِيرِ رَأْيُ الْمُبْتَلَى بِهِ، بِنَاءً عَلَى عَدَمِ صِحَّةِ ثُبُوتِ تَقْدِيرٍ شَرْعًا. (٣)

6. Para fuqaha dari berbagai mazhab sepakat bahwa air yang banyak tidak menjadi najis karena terkena sesuatu, selama warna, rasa, atau baunya tidak berubah.

Namun, mereka berbeda pendapat mengenai batas ukuran air yang dianggap banyak. Ulama Hanafiyah memperkirakannya dengan ukuran sepuluh hasta kali sepuluh hasta, tanpa memperhitungkan kedalamannya, selama dasar sumur tidak tampak ketika air diambil.

Satu hasta adalah tujuh genggaman, karena apabila ukuran air mencapai sepuluh kali sepuluh hasta, air tersebut tidak menjadi najis karena sesuatu selama warna, rasa, atau baunya tidak berubah, dengan mengqiyaskannya kepada air yang mengalir.

Secara qiyas, seharusnya air tersebut tidak dihukumi suci, tetapi qiyas tersebut ditinggalkan karena adanya atsar. Oleh karena itu, pembahasan mengenai air sumur banyak didasarkan pada atsar.

Pendapat yang difatwakan adalah ukuran sepuluh hasta, meskipun secara hukum ukuran tersebut diperkirakan secara konseptual, sehingga mencakup pula air yang memiliki panjang tanpa lebar, menurut pendapat yang lebih sahih.

Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa ukuran air yang banyak dikembalikan kepada penilaian orang yang mengalami kondisi tersebut, karena tidak terdapat ketetapan syariat yang sahih mengenai ukuran tertentu.

وَيَرَى الْمَالِكِيَّةُ أَنَّ الْكَثِيرَ مَا زَادَ قَدْرُهُ عَنْ آنِيَةِ الْغُسْل، وَكَذَا مَا زَادَ عَنْ قَدْرِ آنِيَةِ الْوُضُوءِ، عَلَى الرَّاجِحِ. (٤) وَيَتَّفِقُ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ فِي ظَاهِرِ الْمَذْهَبِ، عَلَى أَنَّ الْكَثِيرَ مَا بَلَغَ قُلَّتَيْنِ فَأَكْثَرَ، (١) لِحَدِيثِ إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَيْءٌ وَفِي رِوَايَةٍ: لَمْ يَحْمِل الْخَبَثَ (٢) . وَإِنْ نَقَصَ عَنْ الْقُلَّتَيْنِ بِرِطْلٍ أَوْ رِطْلَيْنِ فَهُوَ فِي حُكْمِ الْقُلَّتَيْنِ. (٣)

Mazhab Maliki berpendapat bahwa air yang tergolong banyak adalah air yang jumlahnya melebihi kapasitas wadah yang biasa digunakan untuk mandi. Demikian pula, menurut pendapat yang lebih kuat, air yang melebihi kapasitas wadah yang digunakan untuk berwudu juga termasuk air yang banyak. (4)

Adapun mazhab Syafi‘i dan Hanbali, menurut pendapat yang tampak kuat dalam masing-masing mazhab, sepakat bahwa air yang banyak adalah air yang mencapai dua qullah atau lebih. (1) Hal ini berdasarkan hadis:

“Apabila air telah mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatu pun yang menajiskannya.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Ia tidak membawa kotoran (najis).” (2)

Apabila jumlah air kurang dari dua qullah sebanyak satu atau dua ritl, maka air tersebut tetap dihukumi seperti air yang mencapai dua qullah. (3)

٧ - إِذَا اخْتَلَطَ بِمَاءِ الْبِئْرِ طَاهِرٌ، مَائِعًا كَانَ أَوْ جَامِدًا، وَكَانَتْ الْبِئْرُ مِمَّا يُعْتَبَرُ مَاؤُهَا قَلِيلاً، تَجْرِي عَلَيْهِ أَحْكَامُ الْمَاءِ الْقَلِيل الْمُخْتَلِطِ بِطَاهِرٍ، وَيُرْجَعُ فِي تَحْدِيدِ الْكَثْرَةِ وَالْقِلَّةِ إِلَى تَفْصِيلاَتِ الْمَذَاهِبِ فِي مُصْطَلَحِ (مِيَاه) .

7. Apabila benda suci bercampur dengan air sumur, baik benda tersebut berupa cairan maupun benda padat, dan sumur tersebut termasuk sumur yang airnya dihukumi sedikit, maka berlaku atasnya hukum air sedikit yang bercampur dengan benda suci.

Adapun untuk menentukan batas antara air yang banyak dan air yang sedikit, acuannya dikembalikan kepada rincian pendapat masing-masing mazhab sebagaimana dibahas dalam istilah “Air (مياه)”.

انْغِمَاسُ الآْدَمِيِّ فِي مَاءِ الْبِئْرِ:

Masuknya Manusia ke Dalam Air Sumur:

٨ - اتَّفَقَ فُقَهَاءُ الْمَذَاهِبِ عَلَى أَنَّ الآْدَمِيَّ إِذَا انْغَمَسَ فِي الْبِئْرِ، وَكَانَ طَاهِرًا مِنَ الْحَدَثِ وَالْخَبَثِ، وَكَانَ الْمَاءُ كَثِيرًا، فَإِنَّ الْمَاءَ لاَ يُعْتَبَرُ مُسْتَعْمَلاً، وَيَبْقَى عَلَى أَصْل طَهُورِيَّتِهِ. وَرَوَى الْحَسَنُ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهُ يُنْزَحُ مِنْهُ عِشْرُونَ دَلْوًا. (١)

8. Para fuqaha dari berbagai mazhab sepakat bahwa apabila seseorang masuk atau menyelam ke dalam sumur, sedangkan ia dalam keadaan suci dari hadas dan najis, serta air sumur tersebut termasuk air yang banyak, maka air itu tidak dihukumi sebagai air musta‘mal (air yang telah digunakan untuk bersuci) dan tetap pada hukum asalnya, yaitu suci lagi menyucikan.

Namun, al-Hasan meriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa air sumur tersebut hendaknya diambil darinya sebanyak dua puluh timba. (1)

وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ، وَالصَّحِيحُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَنَّ الآْدَمِيَّ طَاهِرٌ حَيًّا وَمَيِّتًا، وَأَنَّ مَوْتَ الآْدَمِيِّ فِي الْمَاءِ لاَ يُنَجِّسُهُ إِلاَّ إِنْ تَغَيَّرَ أَحَدُ أَوْصَافِ الْمَاءِ تَغَيُّرًا فَاحِشًا؛ لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ لاَ يَنْجُسُ. (٢) وَلأَِنَّهُ لاَ يَنْجُسُ بِالْمَوْتِ، كَالشَّهِيدِ؛ لأَِنَّهُ لَوْ نَجُسَ بِالْمَوْتِ لَمْ يَطْهُرْ بِالْغُسْل. وَلاَ فَرْقَ بَيْنَ الْمُسْلِمِ وَالْكَافِرِ لاِسْتِوَائِهِمَا فِي الآْدَمِيَّةِ. (٣)

Mazhab Syafi‘iyah, dan pendapat yang sahih dalam mazhab Hanabilah menyatakan bahwa manusia adalah suci, baik ketika masih hidup maupun setelah meninggal dunia. Kematian seseorang di dalam air tidak menyebabkan air menjadi najis, kecuali apabila kematian tersebut menyebabkan salah satu sifat air berubah secara nyata, yaitu perubahan warna, rasa, atau baunya.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi :

«الْمُؤْمِنُ لاَ يَنْجُسُ»
“Sesungguhnya orang mukmin tidaklah najis.” (2)

Selain itu, manusia tidak menjadi najis karena kematian, sebagaimana orang yang mati syahid. Sebab, seandainya manusia menjadi najis karena kematian, tentu ia tidak akan menjadi suci kembali dengan mandi jenazah.

Dalam masalah ini tidak ada perbedaan antara Muslim dan kafir, karena keduanya sama-sama termasuk manusia (آدمي). (3)

وَيَرَى الْحَنَفِيَّةُ نَزْحَ كُل مَاءِ الْبِئْرِ بِمَوْتِ الآْدَمِيِّ فِيهِ، إِذْ نَصُّوا عَلَى أَنَّهُ يُنْزَحُ مَاءُ الْبِئْرِ كُلُّهُ بِمَوْتِ سِنَّوْرَيْنِ أَوْ كَلْبٍ أَوْ شَاةٍ أَوْ آدَمِيٍّ. وَمَوْتُ الْكَلْبِ لَيْسَ بِشَرْطٍ حَتَّى لَوْ انْغَمَسَ وَأُخْرِجَ حَيًّا يُنْزَحُ جَمِيعُ الْمَاءِ. (٤)

Adapun ulama Hanafiyah berpendapat bahwa seluruh air sumur harus dikuras apabila seorang manusia meninggal di dalamnya. Mereka menegaskan bahwa seluruh air sumur harus dikuras apabila di dalam sumur mati dua ekor kucing, seekor anjing, seekor kambing, atau seorang manusia.

Kematian anjing bukan merupakan syarat. Bahkan, apabila seekor anjing masuk atau menyelam ke dalam sumur lalu dikeluarkan dalam keadaan masih hidup, seluruh air sumur tetap harus dikuras. (4)

٩ - وَيَقُول ابْنُ قُدَامَةَ الْحَنْبَلِيُّ: وَيُحْتَمَل أَنْ يُنَجِّسَ الْكَافِرُ الْمَاءَ بِانْغِمَاسِهِ؛ لأَِنَّ الْخَبَرَ وَرَدَ فِي الْمُسْلِمِ. (٥)

9. Ibnu Qudamah al-Hanbali berkata: “Ada kemungkinan bahwa orang kafir dapat menyebabkan air menjadi najis apabila ia menyelam ke dalamnya, karena riwayat yang ada berkaitan dengan orang Muslim.” (5)

وَإِذَا انْغَمَسَ فِي الْبِئْرِ مَنْ بِهِ نَجَاسَةٌ حُكْمِيَّةٌ، بِأَنْ كَانَ جُنُبًا أَوْ مُحْدِثًا، فَإِنَّهُ يُنْظَرُ: إِمَّا أَنْ يَكُونَ مَاءُ الْبِئْرِ كَثِيرًا أَوْ قَلِيلاً، وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ قَدْ نَوَى بِالاِنْغِمَاسِ رَفْعَ الْحَدَثِ، وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ بِقَصْدِ التَّبَرُّدِ أَوْ إِحْضَارِ الدَّلْوِ.

Apabila seseorang yang memiliki hadas yang bersifat hukmi masuk atau menyelam ke dalam sumur—misalnya karena dalam keadaan junub atau berhadas—maka hukumnya perlu diperinci.

Keadaannya dapat dibedakan berdasarkan beberapa hal:

  • Apakah air sumur tersebut banyak atau sedikit.
  • Apakah orang tersebut ketika masuk ke dalam sumur berniat menghilangkan hadas.
  • Ataukah ia masuk ke dalamnya dengan tujuan mendinginkan badan atau mengambil timba.

فَإِنْ كَانَ الْبِئْرُ مَعِينًا - أَيْ مَاؤُهُ جَارٍ - فَإِنَّ انْغِمَاسَ الْجُنُبِ وَمَنْ فِي حُكْمِهِ لاَ يُنَجِّسُهُ عِنْدَ ابْنِ الْقَاسِمِ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ، وَهُوَ رِوَايَةُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكٍ. (١) وَهُوَ مَذْهَبُ الْحَنَابِلَةِ إِنْ لَمْ يَنْوِ رَفْعَ الْحَدَثِ. (٢) وَهُوَ اتِّجَاهُ مَنْ قَال مِنَ الْحَنَفِيَّةِ: إِنَّ الْمَاءَ الْمُسْتَعْمَل طَاهِرٌ لِغَلَبَةِ غَيْرِ الْمُسْتَعْمَل، أَوْ لأَِنَّ الاِنْغِمَاسَ لاَ يُصَيِّرُهُ مُسْتَعْمَلاً، وَعَلَى هَذَا فَلاَ يُنْزَحُ مِنْهُ شَيْءٌ. (٣)

Apabila sumur tersebut merupakan sumur ma‘in, yaitu sumur yang airnya mengalir, maka masuk atau menyelamnya orang junub dan orang yang memiliki keadaan serupa tidak menyebabkan airnya menjadi najis, menurut pendapat Ibnu al-Qasim dari kalangan Malikiyah. Pendapat ini juga merupakan salah satu riwayat Yahya bin Sa‘id dari Imam Malik. (1)

Pendapat tersebut juga merupakan mazhab Hanabilah, apabila orang yang masuk ke dalam sumur tidak berniat menghilangkan hadas. (2)

Pendapat ini juga sejalan dengan sebagian ulama Hanafiyah yang berpendapat bahwa air musta‘mal tetap suci, karena jumlah air yang belum digunakan lebih dominan, atau karena sekadar menyelam ke dalam air tidak menjadikannya sebagai air musta‘mal.

Berdasarkan pendapat ini, tidak ada bagian air sumur yang perlu dikuras. (3)

١٠ - وَيَرَى الشَّافِعِيَّةُ كَرَاهَةَ انْغِمَاسِ الْجُنُبِ وَمَنْ فِي حُكْمِهِ فِي الْبِئْرِ، وَإِنْ كَانَ مَعِينًا، لِخَبَرِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: لاَ يَغْتَسِل أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ. (٤) وَهُوَ رِوَايَةُ عَلِيِّ بْنِ زِيَادٍ عَنْ مَالِكٍ، (٥) وَهُوَ مَذْهَبُ الْحَنَابِلَةِ إِنْ نَوَى رَفْعَ الْحَدَثِ. (٦) وَإِلَى هَذَا يَتَّجِهُ مَنْ يَرَى مِنَ الْحَنَفِيَّةِ أَنَّ الْمَاءَ بِالاِنْغِمَاسِ يَصِيرُ مُسْتَعْمَلاً، وَيَرَى أَنَّ الْمَاءَ الْمُسْتَعْمَل نَجِسٌ يُنْزَحُ كُلُّهُ، وَعَنْ أَبِي حَنِيفَةَ يُنْزَحُ أَرْبَعُونَ دَلْوًا لَوْ كَانَ مُحْدِثًا، وَيُنْزَحُ جَمِيعُهُ لَوْ كَانَ جُنُبًا أَوْ كَافِرًا؛ لأَِنَّ بَدَنَ الْكَافِرِ لاَ يَخْلُو مِنْ نَجَاسَةٍ حَقِيقِيَّةٍ أَوْ حُكْمِيَّةٍ، إِلاَّ إِذَا تَثَبَّتْنَا مِنْ طَهَارَتِهِ وَقْتَ انْغِمَاسِهِ. (١)

10. Ulama Syafi‘iyah memandang makruh seseorang yang sedang junub atau orang yang memiliki keadaan yang sama dengannya untuk masuk atau menyelam ke dalam sumur, meskipun sumur tersebut merupakan sumur ma‘in (airnya mengalir). Hal ini berdasarkan riwayat Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda:

«لاَ يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ»
“Janganlah salah seorang di antara kalian mandi di dalam air yang tergenang ketika ia dalam keadaan junub.” (4)

Pendapat ini juga merupakan salah satu riwayat Ali bin Ziyad dari Imam Malik. (5)

Pendapat tersebut juga merupakan mazhab Hanabilah apabila orang yang masuk atau menyelam ke dalam sumur berniat menghilangkan hadas. (6)

Pendapat ini sejalan dengan sebagian ulama Hanafiyah yang berpandangan bahwa air menjadi air musta‘mal karena seseorang menyelam ke dalamnya, dan mereka yang berpendapat bahwa air musta‘mal adalah najis mengharuskan seluruh air sumur dikuras.

Adapun dari Abu Hanifah diriwayatkan bahwa apabila orang tersebut hanya dalam keadaan hadas, maka dikuras empat puluh timba. Namun, apabila ia dalam keadaan junub atau kafir, maka seluruh air sumur dikuras. Hal ini karena tubuh orang kafir dianggap tidak terlepas dari najis hakiki ataupun najis hukmi, kecuali apabila telah dipastikan bahwa tubuhnya dalam keadaan suci ketika ia masuk atau menyelam ke dalam sumur. (1)

١١ - وَإِذَا كَانَ مَاءُ الْبِئْرِ قَلِيلاً وَانْغَمَسَ فِيهِ بِغَيْرِ نِيَّةِ رَفْعِ الْحَدَثِ، فَالْمَالِكِيَّةُ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ الْمُجَاوِرَ فَقَطْ يَصِيرُ مُسْتَعْمَلاً (٢) وَعِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ الْمَاءُ عَلَى طَهُورِيَّتِهِ. (٣) وَاخْتَلَفَ الْحَنَفِيَّةُ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْوَالٍ تَرْمِزُ لَهَا كُتُبُهُمْ " مَسْأَلَةُ الْبِئْرِ جحط " وَيَرْمِزُونَ بِالْجِيمِ إِلَى مَا قَالَهُ الإِْمَامُ مِنْ أَنَّ الْمَاءَ نَجِسٌ بِإِسْقَاطِ الْفَرْضِ عَنْ الْبَعْضِ بِأَوَّل الْمُلاَقَاةِ، وَالرَّجُل نَجِسٌ لِبَقَاءِ الْحَدَثِ فِي بَقِيَّةِ الأَْعْضَاءِ، أَوْ لِنَجَاسَةِ الْمَاءِ الْمُسْتَعْمَل، وَيَرْمِزُونَ بِالْحَاءِ لِرَأْيِ أَبِي يُوسُفَ مِنْ أَنَّ الرَّجُل عَلَى حَالِهِ مِنَ الْحَدَثِ، لِعَدَمِ الصَّبِّ، وَهُوَ شَرْطٌ عِنْدَهُ، وَالْمَاءُ عَلَى حَالِهِ لِعَدَمِ نِيَّةِ الْقُرْبَةِ، وَعَدَمِ إِزَالَةِ الْحَدَثِ. وَيَرْمِزُونَ بِالطَّاءِ لِرَأْيِ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ مِنْ أَنَّ الرَّجُل طَاهِرٌ لِعَدَمِ اشْتِرَاطِ الصَّبِّ، وَكَذَا الْمَاءُ، لِعَدَمِ نِيَّةِ الْقُرْبَةِ. (٤)

11. Apabila air sumur tersebut sedikit, kemudian seseorang yang berhadas menyelam ke dalamnya tanpa berniat menghilangkan hadas, maka menurut Malikiyah, hanya air yang berada di sekitar tubuh orang tersebut yang menjadi air musta‘mal. (2)

Menurut Syafi‘iyah dan Hanabilah, air tersebut tetap berada pada hukum asalnya sebagai air yang suci lagi menyucikan. (3)

Adapun Hanafiyah berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi tiga pendapat yang dalam kitab-kitab mereka diringkas dengan istilah مسألة البئر جحط” (Mas’alat al-Bi’r Jihath).

  • Huruf ج (jim) menunjukkan pendapat Imam Abu Hanifah, yaitu bahwa air menjadi najis, karena dengan pertemuan pertama antara air dan anggota tubuh, kewajiban bersuci telah gugur dari sebagian anggota tubuh. Sementara orang tersebut masih dianggap najis karena hadas masih terdapat pada anggota tubuh lainnya, atau karena air musta‘mal dianggap najis.
  • Huruf ح (ha) menunjukkan pendapat Abu Yusuf, yaitu bahwa orang tersebut tetap berada dalam keadaan hadas, karena tidak terjadi proses penyiraman atau penuangan air (ṣabb), yang menurut Abu Yusuf merupakan salah satu syarat. Adapun air tetap pada keadaan semula karena tidak adanya niat ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah (qurbah) dan tidak adanya niat menghilangkan hadas.
  • Huruf ط (tha) menunjukkan pendapat Muhammad bin al-Hasan, yaitu bahwa orang tersebut tetap suci, karena ṣabb tidak disyaratkan. Demikian pula air tetap pada keadaan semula karena tidak adanya niat qurbah. (4)

١٢ - أَمَّا إِذَا انْغَمَسَ فِي الْمَاءِ الْقَلِيل بِنِيَّةِ رَفْعِ الْحَدَثِ، كَانَ الْمَاءُ كُلُّهُ مُسْتَعْمَلاً عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ، لَكِنْ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ يَبْقَى الْمَاءُ عَلَى طَهُورِيَّتِهِ وَلاَ يُرْفَعُ الْحَدَثُ. وَكَذَلِكَ يَكُونُ الْمَاءُ مُسْتَعْمَلاً عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ لَوْ تَدَلَّكَ وَلَوْ لَمْ يَنْوِ رَفْعَ الْحَدَثِ؛ لأَِنَّ التَّدَلُّكَ فِعْلٌ مِنْهُ يَقُومُ مَقَامَ نِيَّةِ رَفْعِ الْحَدَثِ. (٥)

12. Adapun apabila seseorang menyelam ke dalam air yang sedikit dengan niat menghilangkan hadas, maka menurut Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi‘iyah, seluruh air tersebut dihukumi sebagai air musta‘mal.

Namun, menurut Hanabilah, air tersebut tetap berada pada hukum asalnya sebagai air suci lagi menyucikan, sedangkan hadasnya tidak menjadi terangkat.

Demikian pula menurut Hanafiyah, air menjadi musta‘mal apabila seseorang menggosok-gosok tubuhnya (tadalluk), meskipun ia tidak berniat menghilangkan hadas. Hal itu karena tindakan menggosok tubuh tersebut dianggap sebagai suatu perbuatan yang dilakukannya dan menempati kedudukan niat menghilangkan hadas. (5)

١٣ - أَمَّا إِذَا انْغَمَسَ إِنْسَانٌ فِي مَاءِ الْبِئْرِ وَعَلَى بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ حَقِيقِيَّةٌ، أَوْ أُلْقِيَ فِيهِ شَيْءٌ نَجِسٌ، فَمِنَ الْمُتَّفَقِ عَلَيْهِ أَنَّ الْمَاءَ الْكَثِيرَ لاَ يَتَنَجَّسُ بِشَيْءٍ، مَا لَمْ يَتَغَيَّرْ لَوْنُهُ أَوْ طَعْمُهُ أَوْ رِيحُهُ، عَلَى مَا سَبَقَ. (١)

13. Adapun apabila seseorang menyelam ke dalam air sumur, sementara pada tubuhnya terdapat najis hakiki, atau ada sesuatu yang najis dilemparkan ke dalam sumur tersebut, maka telah disepakati bahwa air yang banyak tidak menjadi najis karena sesuatu tersebut, selama warna, rasa, atau baunya tidak mengalami perubahan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. (1)

غَيْرَ أَنَّ الْحَنَابِلَةَ فِي أَشْهَرِ رِوَايَتَيْنِ عِنْدَهُمْ يَرَوْنَ أَنَّ مَا يُمْكِنُ نَزْحُهُ، إِذَا بَلَغَ قُلَّتَيْنِ فَلاَ يَتَنَجَّسُ بِشَيْءٍ مِنَ النَّجَاسَاتِ، إِلاَّ بِبَوْل الآْدَمِيِّينَ أَوْ عَذِرَتِهِمُ الْمَائِعَةِ. (٢) وَجْهُ ذَلِكَ مَا رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لاَ يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِل فِيهِ. (٣) وَكَذَلِكَ إِذَا مَا سَقَطَ فِيهِ شَيْءٌ نَجِسٌ، وَفِي مُقَابِل الْمَشْهُورِ فِي مَذْهَبِ أَحْمَدَ أَنَّ الْمَاءَ لاَ يَنْجُسُ إِلاَّ بِالتَّغَيُّرِ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ. (٤)

Namun, Hanabilah, berdasarkan salah satu dari dua riwayat yang paling masyhur dalam mazhab mereka, berpendapat bahwa air yang dapat dikuras, apabila jumlahnya mencapai dua qullah, tidak menjadi najis karena berbagai jenis najis, kecuali karena air kencing manusia atau kotoran manusia yang berbentuk cair. (2)

Dasar pendapat tersebut adalah riwayat dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda:

«لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لاَ يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِلْ فِيهِ»
“Janganlah salah seorang di antara kalian kencing di dalam air tergenang yang tidak mengalir, kemudian ia mandi di dalamnya.” (3)

Demikian pula apabila terdapat sesuatu yang najis yang jatuh ke dalam air tersebut.

Adapun pendapat yang menjadi riwayat lain yang berhadapan dengan pendapat masyhur dalam mazhab Imam Ahmad, menyatakan bahwa air tidak menjadi najis kecuali apabila terjadi perubahan pada sifatnya, baik air tersebut sedikit maupun banyak. (4)

١٤ - وَقَدْ فَصَّل الْحَنَفِيَّةُ هَذَا بِمَا لَمْ يُفَصِّلْهُ غَيْرُهُمْ، وَنَصُّوا عَلَى أَنَّ الْمَاءَ لاَ يَنْجُسُ بِخُرْءِ الْحَمَامِ وَالْعُصْفُورِ، وَلَوْ كَانَ كَثِيرًا؛ لأَِنَّهُ طَاهِرٌ اسْتِحْسَانًا، بِدَلاَلَةِ الإِْجْمَاعِ، فَإِنَّ الصَّدْرَ الأَْوَّل وَمَنْ بَعْدَهُمْ أَجْمَعُوا عَلَى جَوَازِ اقْتِنَاءِ الْحَمَامِ فِي الْمَسَاجِدِ، حَتَّى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، مَعَ وُرُودِ الأَْمْرِ بِتَطْهِيرِهَا. وَفِي ذَلِكَ دَلاَلَةٌ ظَاهِرَةٌ عَلَى عَدَمِ نَجَاسَتِهِ. وَخُرْءُ الْعُصْفُورِ كَخُرْءِ الْحَمَامَةِ، فَمَا يَدُل عَلَى طَهَارَةِ هَذَا يَدُل عَلَى طَهَارَةِ ذَاكَ. وَكَذَلِكَ خُرْءُ جَمِيعِ مَا يُؤْكَل لَحْمُهُ مِنَ الطُّيُورِ عَلَى الأَْرْجَحِ. (١)

14. Ulama Hanafiyah memberikan perincian dalam masalah ini yang tidak dijelaskan secara khusus oleh mazhab-mazhab lainnya. Mereka menegaskan bahwa air tidak menjadi najis karena kotoran burung merpati dan burung pipit, meskipun jumlahnya banyak. Hal itu karena kotoran tersebut dihukumi suci berdasarkan istihsan, yang didukung oleh adanya ijma‘.

Sebab, generasi awal umat Islam dan generasi setelah mereka telah bersepakat tentang bolehnya memelihara burung merpati di masjid, bahkan di Masjidil Haram, padahal terdapat perintah untuk menjaga dan menyucikan masjid. Hal tersebut menjadi petunjuk yang jelas bahwa kotoran burung merpati tidak dihukumi najis.

Kotoran burung pipit juga dihukumi seperti kotoran burung merpati. Dengan demikian, dalil yang menunjukkan kesucian kotoran burung merpati juga menunjukkan kesucian kotoran burung pipit.

Demikian pula, menurut pendapat yang lebih kuat, kotoran seluruh burung yang halal dimakan dagingnya juga dihukumi suci. (1)

Baca juga:

Hukum Menggali Sumur di Tanah Mati dan Hak Masyarakat atas Air SumurMenurut Fikih Islam

Lafadz Ābār (آبار): Pengertian Sumur dan Hukum Air Sumur dalam Fikih Islam

Apakah Jatuhnya Hewan yangTidak Memiliki Darah Mengalir ke Dalam Sumur Menyebabkan Air Menjadi Najis?

الْمَبْحَثُ الثَّالِثُ

Pembahasan Ketiga

حَدُّ الْكَثْرَةِ فِي مَاءِ الْبِئْرِ وَأَثَرُ اخْتِلاَطِهِ بِطَاهِرٍ

Batas Air Sumur yang Banyak dan Dampak Bercampurnya dengan Benda Suci

وَانْغِمَاسُ آدَمِيٍّ فِيهِ طَاهِرٍ أَوْ بِهِ نَجَاسَةٌ

Masuknya Manusia ke Dalamnya dalam Keadaan Suci atau Membawa Najis

٦ - اتَّفَقَ فُقَهَاءُ الْمَذَاهِبِ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ الْكَثِيرَ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ مَا لَمْ يَتَغَيَّرْ لَوْنُهُ أَوْ طَعْمُهُ أَوْ رِيحُهُ. وَيَخْتَلِفُونَ فِي حَدِّ الْكَثْرَةِ، فَيُقَدِّرُهَا الْحَنَفِيَّةُ بِمَا يُوَازِي عَشْرَ أَذْرُعٍ فِي عَشْرٍ دُونَ اعْتِبَارٍ لِلْعُمْقِ مَا دَامَ الْقَاعُ لاَ يَظْهَرُ بِالاِغْتِرَافِ. وَالذِّرَاعُ سَبْعُ قَبَضَاتٍ؛ لأَِنَّهَا لَوْ كَانَتْ عَشْرًا فِي عَشْرٍ فَإِنَّ الْمَاءَ لاَ يَتَنَجَّسُ بِشَيْءٍ مَا لَمْ يَتَغَيَّرْ لَوْنُهُ أَوْ طَعْمُهُ أَوْ رِيحُهُ، اعْتِبَارًا بِالْمَاءِ الْجَارِي. وَالْقِيَاسُ أَنْ لاَ تَطْهُرَ، لَكِنْ تُرِكَ الْقِيَاسُ لِلآْثَارِ، وَمَسَائِل الآْبَارِ مَبْنِيَّةٌ عَلَى الآْثَارِ. (٢) وَالْمُفْتَى بِهِ الْقَوْل بِالْعَشْرِ وَلَوْ حُكْمًا لِيَعُمَّ مَا لَهُ طُولٌ بِلاَ عَرْضٍ فِي الأَْصَحِّ. وَقِيل: الْمُعْتَبَرُ فِي الْقَدْرِ الْكَثِيرِ رَأْيُ الْمُبْتَلَى بِهِ، بِنَاءً عَلَى عَدَمِ صِحَّةِ ثُبُوتِ تَقْدِيرٍ شَرْعًا. (٣)

6. Para fuqaha dari berbagai mazhab sepakat bahwa air yang banyak tidak menjadi najis karena terkena sesuatu, selama warna, rasa, atau baunya tidak berubah.

Namun, mereka berbeda pendapat mengenai batas ukuran air yang dianggap banyak. Ulama Hanafiyah memperkirakannya dengan ukuran sepuluh hasta kali sepuluh hasta, tanpa memperhitungkan kedalamannya, selama dasar sumur tidak tampak ketika air diambil.

Satu hasta adalah tujuh genggaman, karena apabila ukuran air mencapai sepuluh kali sepuluh hasta, air tersebut tidak menjadi najis karena sesuatu selama warna, rasa, atau baunya tidak berubah, dengan mengqiyaskannya kepada air yang mengalir.

Secara qiyas, seharusnya air tersebut tidak dihukumi suci, tetapi qiyas tersebut ditinggalkan karena adanya atsar. Oleh karena itu, pembahasan mengenai air sumur banyak didasarkan pada atsar.

Pendapat yang difatwakan adalah ukuran sepuluh hasta, meskipun secara hukum ukuran tersebut diperkirakan secara konseptual, sehingga mencakup pula air yang memiliki panjang tanpa lebar, menurut pendapat yang lebih sahih.

Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa ukuran air yang banyak dikembalikan kepada penilaian orang yang mengalami kondisi tersebut, karena tidak terdapat ketetapan syariat yang sahih mengenai ukuran tertentu.

وَيَرَى الْمَالِكِيَّةُ أَنَّ الْكَثِيرَ مَا زَادَ قَدْرُهُ عَنْ آنِيَةِ الْغُسْل، وَكَذَا مَا زَادَ عَنْ قَدْرِ آنِيَةِ الْوُضُوءِ، عَلَى الرَّاجِحِ. (٤) وَيَتَّفِقُ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ فِي ظَاهِرِ الْمَذْهَبِ، عَلَى أَنَّ الْكَثِيرَ مَا بَلَغَ قُلَّتَيْنِ فَأَكْثَرَ، (١) لِحَدِيثِ إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَيْءٌ وَفِي رِوَايَةٍ: لَمْ يَحْمِل الْخَبَثَ (٢) . وَإِنْ نَقَصَ عَنْ الْقُلَّتَيْنِ بِرِطْلٍ أَوْ رِطْلَيْنِ فَهُوَ فِي حُكْمِ الْقُلَّتَيْنِ. (٣)

Mazhab Maliki berpendapat bahwa air yang tergolong banyak adalah air yang jumlahnya melebihi kapasitas wadah yang biasa digunakan untuk mandi. Demikian pula, menurut pendapat yang lebih kuat, air yang melebihi kapasitas wadah yang digunakan untuk berwudu juga termasuk air yang banyak. (4)

Adapun mazhab Syafi‘i dan Hanbali, menurut pendapat yang tampak kuat dalam masing-masing mazhab, sepakat bahwa air yang banyak adalah air yang mencapai dua qullah atau lebih. (1) Hal ini berdasarkan hadis:

“Apabila air telah mencapai dua qullah, maka tidak ada sesuatu pun yang menajiskannya.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Ia tidak membawa kotoran (najis).” (2)

Apabila jumlah air kurang dari dua qullah sebanyak satu atau dua ritl, maka air tersebut tetap dihukumi seperti air yang mencapai dua qullah. (3)

٧ - إِذَا اخْتَلَطَ بِمَاءِ الْبِئْرِ طَاهِرٌ، مَائِعًا كَانَ أَوْ جَامِدًا، وَكَانَتْ الْبِئْرُ مِمَّا يُعْتَبَرُ مَاؤُهَا قَلِيلاً، تَجْرِي عَلَيْهِ أَحْكَامُ الْمَاءِ الْقَلِيل الْمُخْتَلِطِ بِطَاهِرٍ، وَيُرْجَعُ فِي تَحْدِيدِ الْكَثْرَةِ وَالْقِلَّةِ إِلَى تَفْصِيلاَتِ الْمَذَاهِبِ فِي مُصْطَلَحِ (مِيَاه) .

7. Apabila benda suci bercampur dengan air sumur, baik benda tersebut berupa cairan maupun benda padat, dan sumur tersebut termasuk sumur yang airnya dihukumi sedikit, maka berlaku atasnya hukum air sedikit yang bercampur dengan benda suci.

Adapun untuk menentukan batas antara air yang banyak dan air yang sedikit, acuannya dikembalikan kepada rincian pendapat masing-masing mazhab sebagaimana dibahas dalam istilah “Air (مياه)”.

انْغِمَاسُ الآْدَمِيِّ فِي مَاءِ الْبِئْرِ:

Masuknya Manusia ke Dalam Air Sumur:

٨ - اتَّفَقَ فُقَهَاءُ الْمَذَاهِبِ عَلَى أَنَّ الآْدَمِيَّ إِذَا انْغَمَسَ فِي الْبِئْرِ، وَكَانَ طَاهِرًا مِنَ الْحَدَثِ وَالْخَبَثِ، وَكَانَ الْمَاءُ كَثِيرًا، فَإِنَّ الْمَاءَ لاَ يُعْتَبَرُ مُسْتَعْمَلاً، وَيَبْقَى عَلَى أَصْل طَهُورِيَّتِهِ. وَرَوَى الْحَسَنُ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهُ يُنْزَحُ مِنْهُ عِشْرُونَ دَلْوًا. (١)

8. Para fuqaha dari berbagai mazhab sepakat bahwa apabila seseorang masuk atau menyelam ke dalam sumur, sedangkan ia dalam keadaan suci dari hadas dan najis, serta air sumur tersebut termasuk air yang banyak, maka air itu tidak dihukumi sebagai air musta‘mal (air yang telah digunakan untuk bersuci) dan tetap pada hukum asalnya, yaitu suci lagi menyucikan.

Namun, al-Hasan meriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa air sumur tersebut hendaknya diambil darinya sebanyak dua puluh timba. (1)

وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ، وَالصَّحِيحُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَنَّ الآْدَمِيَّ طَاهِرٌ حَيًّا وَمَيِّتًا، وَأَنَّ مَوْتَ الآْدَمِيِّ فِي الْمَاءِ لاَ يُنَجِّسُهُ إِلاَّ إِنْ تَغَيَّرَ أَحَدُ أَوْصَافِ الْمَاءِ تَغَيُّرًا فَاحِشًا؛ لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ لاَ يَنْجُسُ. (٢) وَلأَِنَّهُ لاَ يَنْجُسُ بِالْمَوْتِ، كَالشَّهِيدِ؛ لأَِنَّهُ لَوْ نَجُسَ بِالْمَوْتِ لَمْ يَطْهُرْ بِالْغُسْل. وَلاَ فَرْقَ بَيْنَ الْمُسْلِمِ وَالْكَافِرِ لاِسْتِوَائِهِمَا فِي الآْدَمِيَّةِ. (٣)

Mazhab Syafi‘iyah, dan pendapat yang sahih dalam mazhab Hanabilah menyatakan bahwa manusia adalah suci, baik ketika masih hidup maupun setelah meninggal dunia. Kematian seseorang di dalam air tidak menyebabkan air menjadi najis, kecuali apabila kematian tersebut menyebabkan salah satu sifat air berubah secara nyata, yaitu perubahan warna, rasa, atau baunya.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi :

«الْمُؤْمِنُ لاَ يَنْجُسُ»
“Sesungguhnya orang mukmin tidaklah najis.” (2)

Selain itu, manusia tidak menjadi najis karena kematian, sebagaimana orang yang mati syahid. Sebab, seandainya manusia menjadi najis karena kematian, tentu ia tidak akan menjadi suci kembali dengan mandi jenazah.

Dalam masalah ini tidak ada perbedaan antara Muslim dan kafir, karena keduanya sama-sama termasuk manusia (آدمي). (3)

وَيَرَى الْحَنَفِيَّةُ نَزْحَ كُل مَاءِ الْبِئْرِ بِمَوْتِ الآْدَمِيِّ فِيهِ، إِذْ نَصُّوا عَلَى أَنَّهُ يُنْزَحُ مَاءُ الْبِئْرِ كُلُّهُ بِمَوْتِ سِنَّوْرَيْنِ أَوْ كَلْبٍ أَوْ شَاةٍ أَوْ آدَمِيٍّ. وَمَوْتُ الْكَلْبِ لَيْسَ بِشَرْطٍ حَتَّى لَوْ انْغَمَسَ وَأُخْرِجَ حَيًّا يُنْزَحُ جَمِيعُ الْمَاءِ. (٤)

Adapun ulama Hanafiyah berpendapat bahwa seluruh air sumur harus dikuras apabila seorang manusia meninggal di dalamnya. Mereka menegaskan bahwa seluruh air sumur harus dikuras apabila di dalam sumur mati dua ekor kucing, seekor anjing, seekor kambing, atau seorang manusia.

Kematian anjing bukan merupakan syarat. Bahkan, apabila seekor anjing masuk atau menyelam ke dalam sumur lalu dikeluarkan dalam keadaan masih hidup, seluruh air sumur tetap harus dikuras. (4)

٩ - وَيَقُول ابْنُ قُدَامَةَ الْحَنْبَلِيُّ: وَيُحْتَمَل أَنْ يُنَجِّسَ الْكَافِرُ الْمَاءَ بِانْغِمَاسِهِ؛ لأَِنَّ الْخَبَرَ وَرَدَ فِي الْمُسْلِمِ. (٥)

9. Ibnu Qudamah al-Hanbali berkata: “Ada kemungkinan bahwa orang kafir dapat menyebabkan air menjadi najis apabila ia menyelam ke dalamnya, karena riwayat yang ada berkaitan dengan orang Muslim.” (5)

وَإِذَا انْغَمَسَ فِي الْبِئْرِ مَنْ بِهِ نَجَاسَةٌ حُكْمِيَّةٌ، بِأَنْ كَانَ جُنُبًا أَوْ مُحْدِثًا، فَإِنَّهُ يُنْظَرُ: إِمَّا أَنْ يَكُونَ مَاءُ الْبِئْرِ كَثِيرًا أَوْ قَلِيلاً، وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ قَدْ نَوَى بِالاِنْغِمَاسِ رَفْعَ الْحَدَثِ، وَإِمَّا أَنْ يَكُونَ بِقَصْدِ التَّبَرُّدِ أَوْ إِحْضَارِ الدَّلْوِ.

Apabila seseorang yang memiliki hadas yang bersifat hukmi masuk atau menyelam ke dalam sumur—misalnya karena dalam keadaan junub atau berhadas—maka hukumnya perlu diperinci.

Keadaannya dapat dibedakan berdasarkan beberapa hal:

  • Apakah air sumur tersebut banyak atau sedikit.
  • Apakah orang tersebut ketika masuk ke dalam sumur berniat menghilangkan hadas.
  • Ataukah ia masuk ke dalamnya dengan tujuan mendinginkan badan atau mengambil timba.

فَإِنْ كَانَ الْبِئْرُ مَعِينًا - أَيْ مَاؤُهُ جَارٍ - فَإِنَّ انْغِمَاسَ الْجُنُبِ وَمَنْ فِي حُكْمِهِ لاَ يُنَجِّسُهُ عِنْدَ ابْنِ الْقَاسِمِ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ، وَهُوَ رِوَايَةُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكٍ. (١) وَهُوَ مَذْهَبُ الْحَنَابِلَةِ إِنْ لَمْ يَنْوِ رَفْعَ الْحَدَثِ. (٢) وَهُوَ اتِّجَاهُ مَنْ قَال مِنَ الْحَنَفِيَّةِ: إِنَّ الْمَاءَ الْمُسْتَعْمَل طَاهِرٌ لِغَلَبَةِ غَيْرِ الْمُسْتَعْمَل، أَوْ لأَِنَّ الاِنْغِمَاسَ لاَ يُصَيِّرُهُ مُسْتَعْمَلاً، وَعَلَى هَذَا فَلاَ يُنْزَحُ مِنْهُ شَيْءٌ. (٣)

Apabila sumur tersebut merupakan sumur ma‘in, yaitu sumur yang airnya mengalir, maka masuk atau menyelamnya orang junub dan orang yang memiliki keadaan serupa tidak menyebabkan airnya menjadi najis, menurut pendapat Ibnu al-Qasim dari kalangan Malikiyah. Pendapat ini juga merupakan salah satu riwayat Yahya bin Sa‘id dari Imam Malik. (1)

Pendapat tersebut juga merupakan mazhab Hanabilah, apabila orang yang masuk ke dalam sumur tidak berniat menghilangkan hadas. (2)

Pendapat ini juga sejalan dengan sebagian ulama Hanafiyah yang berpendapat bahwa air musta‘mal tetap suci, karena jumlah air yang belum digunakan lebih dominan, atau karena sekadar menyelam ke dalam air tidak menjadikannya sebagai air musta‘mal.

Berdasarkan pendapat ini, tidak ada bagian air sumur yang perlu dikuras. (3)

١٠ - وَيَرَى الشَّافِعِيَّةُ كَرَاهَةَ انْغِمَاسِ الْجُنُبِ وَمَنْ فِي حُكْمِهِ فِي الْبِئْرِ، وَإِنْ كَانَ مَعِينًا، لِخَبَرِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: لاَ يَغْتَسِل أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ. (٤) وَهُوَ رِوَايَةُ عَلِيِّ بْنِ زِيَادٍ عَنْ مَالِكٍ، (٥) وَهُوَ مَذْهَبُ الْحَنَابِلَةِ إِنْ نَوَى رَفْعَ الْحَدَثِ. (٦) وَإِلَى هَذَا يَتَّجِهُ مَنْ يَرَى مِنَ الْحَنَفِيَّةِ أَنَّ الْمَاءَ بِالاِنْغِمَاسِ يَصِيرُ مُسْتَعْمَلاً، وَيَرَى أَنَّ الْمَاءَ الْمُسْتَعْمَل نَجِسٌ يُنْزَحُ كُلُّهُ، وَعَنْ أَبِي حَنِيفَةَ يُنْزَحُ أَرْبَعُونَ دَلْوًا لَوْ كَانَ مُحْدِثًا، وَيُنْزَحُ جَمِيعُهُ لَوْ كَانَ جُنُبًا أَوْ كَافِرًا؛ لأَِنَّ بَدَنَ الْكَافِرِ لاَ يَخْلُو مِنْ نَجَاسَةٍ حَقِيقِيَّةٍ أَوْ حُكْمِيَّةٍ، إِلاَّ إِذَا تَثَبَّتْنَا مِنْ طَهَارَتِهِ وَقْتَ انْغِمَاسِهِ. (١)

10. Ulama Syafi‘iyah memandang makruh seseorang yang sedang junub atau orang yang memiliki keadaan yang sama dengannya untuk masuk atau menyelam ke dalam sumur, meskipun sumur tersebut merupakan sumur ma‘in (airnya mengalir). Hal ini berdasarkan riwayat Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda:

«لاَ يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ»
“Janganlah salah seorang di antara kalian mandi di dalam air yang tergenang ketika ia dalam keadaan junub.” (4)

Pendapat ini juga merupakan salah satu riwayat Ali bin Ziyad dari Imam Malik. (5)

Pendapat tersebut juga merupakan mazhab Hanabilah apabila orang yang masuk atau menyelam ke dalam sumur berniat menghilangkan hadas. (6)

Pendapat ini sejalan dengan sebagian ulama Hanafiyah yang berpandangan bahwa air menjadi air musta‘mal karena seseorang menyelam ke dalamnya, dan mereka yang berpendapat bahwa air musta‘mal adalah najis mengharuskan seluruh air sumur dikuras.

Adapun dari Abu Hanifah diriwayatkan bahwa apabila orang tersebut hanya dalam keadaan hadas, maka dikuras empat puluh timba. Namun, apabila ia dalam keadaan junub atau kafir, maka seluruh air sumur dikuras. Hal ini karena tubuh orang kafir dianggap tidak terlepas dari najis hakiki ataupun najis hukmi, kecuali apabila telah dipastikan bahwa tubuhnya dalam keadaan suci ketika ia masuk atau menyelam ke dalam sumur. (1)

١١ - وَإِذَا كَانَ مَاءُ الْبِئْرِ قَلِيلاً وَانْغَمَسَ فِيهِ بِغَيْرِ نِيَّةِ رَفْعِ الْحَدَثِ، فَالْمَالِكِيَّةُ عَلَى أَنَّ الْمَاءَ الْمُجَاوِرَ فَقَطْ يَصِيرُ مُسْتَعْمَلاً (٢) وَعِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ الْمَاءُ عَلَى طَهُورِيَّتِهِ. (٣) وَاخْتَلَفَ الْحَنَفِيَّةُ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْوَالٍ تَرْمِزُ لَهَا كُتُبُهُمْ " مَسْأَلَةُ الْبِئْرِ جحط " وَيَرْمِزُونَ بِالْجِيمِ إِلَى مَا قَالَهُ الإِْمَامُ مِنْ أَنَّ الْمَاءَ نَجِسٌ بِإِسْقَاطِ الْفَرْضِ عَنْ الْبَعْضِ بِأَوَّل الْمُلاَقَاةِ، وَالرَّجُل نَجِسٌ لِبَقَاءِ الْحَدَثِ فِي بَقِيَّةِ الأَْعْضَاءِ، أَوْ لِنَجَاسَةِ الْمَاءِ الْمُسْتَعْمَل، وَيَرْمِزُونَ بِالْحَاءِ لِرَأْيِ أَبِي يُوسُفَ مِنْ أَنَّ الرَّجُل عَلَى حَالِهِ مِنَ الْحَدَثِ، لِعَدَمِ الصَّبِّ، وَهُوَ شَرْطٌ عِنْدَهُ، وَالْمَاءُ عَلَى حَالِهِ لِعَدَمِ نِيَّةِ الْقُرْبَةِ، وَعَدَمِ إِزَالَةِ الْحَدَثِ. وَيَرْمِزُونَ بِالطَّاءِ لِرَأْيِ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ مِنْ أَنَّ الرَّجُل طَاهِرٌ لِعَدَمِ اشْتِرَاطِ الصَّبِّ، وَكَذَا الْمَاءُ، لِعَدَمِ نِيَّةِ الْقُرْبَةِ. (٤)

11. Apabila air sumur tersebut sedikit, kemudian seseorang yang berhadas menyelam ke dalamnya tanpa berniat menghilangkan hadas, maka menurut Malikiyah, hanya air yang berada di sekitar tubuh orang tersebut yang menjadi air musta‘mal. (2)

Menurut Syafi‘iyah dan Hanabilah, air tersebut tetap berada pada hukum asalnya sebagai air yang suci lagi menyucikan. (3)

Adapun Hanafiyah berbeda pendapat dalam masalah ini menjadi tiga pendapat yang dalam kitab-kitab mereka diringkas dengan istilah مسألة البئر جحط” (Mas’alat al-Bi’r Jihath).

  • Huruf ج (jim) menunjukkan pendapat Imam Abu Hanifah, yaitu bahwa air menjadi najis, karena dengan pertemuan pertama antara air dan anggota tubuh, kewajiban bersuci telah gugur dari sebagian anggota tubuh. Sementara orang tersebut masih dianggap najis karena hadas masih terdapat pada anggota tubuh lainnya, atau karena air musta‘mal dianggap najis.
  • Huruf ح (ha) menunjukkan pendapat Abu Yusuf, yaitu bahwa orang tersebut tetap berada dalam keadaan hadas, karena tidak terjadi proses penyiraman atau penuangan air (ṣabb), yang menurut Abu Yusuf merupakan salah satu syarat. Adapun air tetap pada keadaan semula karena tidak adanya niat ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah (qurbah) dan tidak adanya niat menghilangkan hadas.
  • Huruf ط (tha) menunjukkan pendapat Muhammad bin al-Hasan, yaitu bahwa orang tersebut tetap suci, karena ṣabb tidak disyaratkan. Demikian pula air tetap pada keadaan semula karena tidak adanya niat qurbah. (4)

١٢ - أَمَّا إِذَا انْغَمَسَ فِي الْمَاءِ الْقَلِيل بِنِيَّةِ رَفْعِ الْحَدَثِ، كَانَ الْمَاءُ كُلُّهُ مُسْتَعْمَلاً عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ، لَكِنْ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ يَبْقَى الْمَاءُ عَلَى طَهُورِيَّتِهِ وَلاَ يُرْفَعُ الْحَدَثُ. وَكَذَلِكَ يَكُونُ الْمَاءُ مُسْتَعْمَلاً عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ لَوْ تَدَلَّكَ وَلَوْ لَمْ يَنْوِ رَفْعَ الْحَدَثِ؛ لأَِنَّ التَّدَلُّكَ فِعْلٌ مِنْهُ يَقُومُ مَقَامَ نِيَّةِ رَفْعِ الْحَدَثِ. (٥)

12. Adapun apabila seseorang menyelam ke dalam air yang sedikit dengan niat menghilangkan hadas, maka menurut Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi‘iyah, seluruh air tersebut dihukumi sebagai air musta‘mal.

Namun, menurut Hanabilah, air tersebut tetap berada pada hukum asalnya sebagai air suci lagi menyucikan, sedangkan hadasnya tidak menjadi terangkat.

Demikian pula menurut Hanafiyah, air menjadi musta‘mal apabila seseorang menggosok-gosok tubuhnya (tadalluk), meskipun ia tidak berniat menghilangkan hadas. Hal itu karena tindakan menggosok tubuh tersebut dianggap sebagai suatu perbuatan yang dilakukannya dan menempati kedudukan niat menghilangkan hadas. (5)

١٣ - أَمَّا إِذَا انْغَمَسَ إِنْسَانٌ فِي مَاءِ الْبِئْرِ وَعَلَى بَدَنِهِ نَجَاسَةٌ حَقِيقِيَّةٌ، أَوْ أُلْقِيَ فِيهِ شَيْءٌ نَجِسٌ، فَمِنَ الْمُتَّفَقِ عَلَيْهِ أَنَّ الْمَاءَ الْكَثِيرَ لاَ يَتَنَجَّسُ بِشَيْءٍ، مَا لَمْ يَتَغَيَّرْ لَوْنُهُ أَوْ طَعْمُهُ أَوْ رِيحُهُ، عَلَى مَا سَبَقَ. (١)

13. Adapun apabila seseorang menyelam ke dalam air sumur, sementara pada tubuhnya terdapat najis hakiki, atau ada sesuatu yang najis dilemparkan ke dalam sumur tersebut, maka telah disepakati bahwa air yang banyak tidak menjadi najis karena sesuatu tersebut, selama warna, rasa, atau baunya tidak mengalami perubahan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. (1)

غَيْرَ أَنَّ الْحَنَابِلَةَ فِي أَشْهَرِ رِوَايَتَيْنِ عِنْدَهُمْ يَرَوْنَ أَنَّ مَا يُمْكِنُ نَزْحُهُ، إِذَا بَلَغَ قُلَّتَيْنِ فَلاَ يَتَنَجَّسُ بِشَيْءٍ مِنَ النَّجَاسَاتِ، إِلاَّ بِبَوْل الآْدَمِيِّينَ أَوْ عَذِرَتِهِمُ الْمَائِعَةِ. (٢) وَجْهُ ذَلِكَ مَا رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لاَ يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِل فِيهِ. (٣) وَكَذَلِكَ إِذَا مَا سَقَطَ فِيهِ شَيْءٌ نَجِسٌ، وَفِي مُقَابِل الْمَشْهُورِ فِي مَذْهَبِ أَحْمَدَ أَنَّ الْمَاءَ لاَ يَنْجُسُ إِلاَّ بِالتَّغَيُّرِ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ. (٤)

Namun, Hanabilah, berdasarkan salah satu dari dua riwayat yang paling masyhur dalam mazhab mereka, berpendapat bahwa air yang dapat dikuras, apabila jumlahnya mencapai dua qullah, tidak menjadi najis karena berbagai jenis najis, kecuali karena air kencing manusia atau kotoran manusia yang berbentuk cair. (2)

Dasar pendapat tersebut adalah riwayat dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda:

«لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لاَ يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِلْ فِيهِ»
“Janganlah salah seorang di antara kalian kencing di dalam air tergenang yang tidak mengalir, kemudian ia mandi di dalamnya.” (3)

Demikian pula apabila terdapat sesuatu yang najis yang jatuh ke dalam air tersebut.

Adapun pendapat yang menjadi riwayat lain yang berhadapan dengan pendapat masyhur dalam mazhab Imam Ahmad, menyatakan bahwa air tidak menjadi najis kecuali apabila terjadi perubahan pada sifatnya, baik air tersebut sedikit maupun banyak. (4)

١٤ - وَقَدْ فَصَّل الْحَنَفِيَّةُ هَذَا بِمَا لَمْ يُفَصِّلْهُ غَيْرُهُمْ، وَنَصُّوا عَلَى أَنَّ الْمَاءَ لاَ يَنْجُسُ بِخُرْءِ الْحَمَامِ وَالْعُصْفُورِ، وَلَوْ كَانَ كَثِيرًا؛ لأَِنَّهُ طَاهِرٌ اسْتِحْسَانًا، بِدَلاَلَةِ الإِْجْمَاعِ، فَإِنَّ الصَّدْرَ الأَْوَّل وَمَنْ بَعْدَهُمْ أَجْمَعُوا عَلَى جَوَازِ اقْتِنَاءِ الْحَمَامِ فِي الْمَسَاجِدِ، حَتَّى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، مَعَ وُرُودِ الأَْمْرِ بِتَطْهِيرِهَا. وَفِي ذَلِكَ دَلاَلَةٌ ظَاهِرَةٌ عَلَى عَدَمِ نَجَاسَتِهِ. وَخُرْءُ الْعُصْفُورِ كَخُرْءِ الْحَمَامَةِ، فَمَا يَدُل عَلَى طَهَارَةِ هَذَا يَدُل عَلَى طَهَارَةِ ذَاكَ. وَكَذَلِكَ خُرْءُ جَمِيعِ مَا يُؤْكَل لَحْمُهُ مِنَ الطُّيُورِ عَلَى الأَْرْجَحِ. (١)

14. Ulama Hanafiyah memberikan perincian dalam masalah ini yang tidak dijelaskan secara khusus oleh mazhab-mazhab lainnya. Mereka menegaskan bahwa air tidak menjadi najis karena kotoran burung merpati dan burung pipit, meskipun jumlahnya banyak. Hal itu karena kotoran tersebut dihukumi suci berdasarkan istihsan, yang didukung oleh adanya ijma‘.

Sebab, generasi awal umat Islam dan generasi setelah mereka telah bersepakat tentang bolehnya memelihara burung merpati di masjid, bahkan di Masjidil Haram, padahal terdapat perintah untuk menjaga dan menyucikan masjid. Hal tersebut menjadi petunjuk yang jelas bahwa kotoran burung merpati tidak dihukumi najis.

Kotoran burung pipit juga dihukumi seperti kotoran burung merpati. Dengan demikian, dalil yang menunjukkan kesucian kotoran burung merpati juga menunjukkan kesucian kotoran burung pipit.

Demikian pula, menurut pendapat yang lebih kuat, kotoran seluruh burung yang halal dimakan dagingnya juga dihukumi suci. (1)

Baca juga:

Hukum Menggali Sumur di Tanah Mati dan Hak Masyarakat atas Air SumurMenurut Fikih Islam

Lafadz Ābār (آبار): Pengertian Sumur dan Hukum Air Sumur dalam Fikih Islam

Apakah Jatuhnya Hewan yangTidak Memiliki Darah Mengalir ke Dalam Sumur Menyebabkan Air Menjadi Najis?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Cara Menyucikan Sumur yang Terkena Najis Menurut Empat Madzhab, Ketentuan Pengurasan dan Alatnya, serta Hukum Menimbunnya

الْمَبْحَثُ الْخَامِسُ Pembahasan Kelima تَطْهِيرُ الآْبَارِ وَحُكْمُ تَغْوِيرِهَا Menyucikan Sumur dan Hukum Menimbunnya ٢١ - ذ...