Hukum Menggali Sumur di Tanah Mati dan Hak Masyarakat atas Air Sumur Menurut Fikih Islam

الْمَبْحَثُ الثَّانِي

Pembahasan Kedua

حَفْرُ الآْبَارِ لإِحْيَاءِ الْمَوَاتِ وَتَعَلُّقُ حَقِّ النَّاسِ بِمَائِهَا

Penggalian Sumur untuk Menghidupkan Tanah Mati dan Keterkaitan Hak Masyarakat terhadap Airnya

أَوَّلاً: حَفْرُ الْبِئْرِ لإِِحْيَاءِ الْمَوَاتِ:

Pertama: Menggali Sumur untuk Menghidupkan Tanah Mati

٣ - حَفْرُ الْبِئْرِ وَخُرُوجُ الْمَاءِ مِنْهَا طَرِيقٌ مِنْ طُرُقِ الإِْحْيَاءِ. وَقَدْ أَجْمَعَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ إِذَا تَمَّ تَفْجِيرُ الْمَاءِ وَالاِنْتِفَاعُ بِهِ فِي الإِْنْبَاتِ، مَعَ نِيَّةِ التَّمَلُّكِ، يَتِمُّ بِهِ الإِْحْيَاءُ. وَذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ (الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ) إِلَى أَنَّ تَفْجِيرَ الْمَاءِ يَتِمُّ بِهِ الإِْحْيَاءُ فِي الْجُمْلَةِ، غَيْرَ أَنَّ الْمَالِكِيَّةَ يَشْتَرِطُونَ إِعْلاَنَ النِّيَّةِ إِذَا كَانَتِ الْبِئْرُ بِئْرَ مَاشِيَةٍ. وَالشَّافِعِيَّةُ فِي الصَّحِيحِ يَشْتَرِطُونَ الْغَرْسَ إِذَا كَانَتِ الْبِئْرُ لِبُسْتَانٍ، كَمَا يَشْتَرِطُونَ نِيَّةَ التَّمَلُّكِ. وَاشْتَرَطَ بَعْضُهُمْ طَيَّهَا (أَيْ بِنَاءَ جُدْرَانِهَا) إِذَا كَانَتْ فِي أَرْضٍ رَخْوَةٍ أَمَّا الْحَنَفِيَّةُ فَيَرَوْنَ أَنَّ الإِْحْيَاءَ لاَ يَتِمُّ بِتَفْجِيرِ الْمَاءِ وَحْدَهُ، وَإِنَّمَا بِالْحَفْرِ وَسَقْيِ الأَْرْضِ. (١)

3 – Menggali sumur dan keluarnya air dari sumur tersebut merupakan salah satu cara untuk menghidupkan tanah mati (iḥyā’ al-mawāt).

Para fuqaha sepakat bahwa apabila air berhasil dikeluarkan dan dimanfaatkan untuk menumbuhkan tanaman, disertai niat untuk memilikinya, maka dengan hal tersebut telah terwujud iḥyā’ (penghidupan tanah mati).

Mayoritas fuqaha (Malikiyah, Syafi‘iyah, dan Hanabilah) berpendapat bahwa mengeluarkan air dari dalam tanah pada prinsipnya sudah cukup untuk mewujudkan iḥyā’. Namun, Malikiyah mensyaratkan pengumuman niat apabila sumur tersebut merupakan sumur untuk kebutuhan hewan ternak.

Adapun Syafi‘iyah, menurut pendapat yang sahih, mensyaratkan penanaman apabila sumur tersebut dibuat untuk kebun, sebagaimana mereka juga mensyaratkan niat untuk memiliki.

Sebagian ulama juga mensyaratkan membangun dinding sumur (ṭayy), yaitu membangun dan memperkuat dinding-dindingnya, apabila sumur tersebut berada di tanah yang lunak.

Sedangkan Hanafiyah berpendapat bahwa iḥyā’ tidak terwujud hanya dengan mengeluarkan air semata, tetapi harus disertai dengan penggalian dan pengairan tanah.

وَلاَ خِلاَفَ فِي أَنَّ لِلْبِئْرِ فِي الأَْرْضِ الْمَوَاتِ حَرِيمًا، لِحَاجَةِ الْحَفْرِ وَالاِنْتِفَاعِ، حَتَّى لَوْ أَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَحْفِرَ بِئْرًا فِي حَرِيمِهِ لَهُ أَنْ يَمْنَعَهُ؛ لأَِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَعَل لِلْبِئْرِ حَرِيمًا (١) . وَاخْتَلَفُوا فِي الْمِقْدَارِ الَّذِي يُعْتَبَرُ حَرِيمًا، فَحَدَّدَهُ الْحَنَفِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ بِالأَْذْرُعِ حَسَبَ نَوْعِ الْبِئْرِ. وَيَسْتَنِدُ الْمَذْهَبَانِ فِي ذَلِكَ إِلَى مَا وَرَدَ مِنْ أَخْبَارٍ. أَمَّا الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ فَقَدَّرُوهُ بِمَا لاَ يَضِيقُ عَلَى الْوَارِدِ، وَلاَ عَلَى مُنَاخِ إِبِلِهَا، وَلاَ مَرَابِضِ مَوَاشِيهَا عِنْدَ الْوُرُودِ، وَلاَ يَضُرُّ بِمَاءِ الْبِئْرِ. (٢) وَتَفْصِيل ذَلِكَ فِي مُصْطَلَحِ " إِحْيَاءِ الْمَوَاتِ ".

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa sumur yang berada di tanah mati (al-arḍ al-mawāt) memiliki ḥarīm, yaitu kawasan sekitar yang diperlukan untuk kegiatan penggalian dan pemanfaatan sumur tersebut. Bahkan, apabila seseorang hendak menggali sumur lain di dalam kawasan ḥarīm sumur itu, pemilik atau pihak yang lebih dahulu menguasainya berhak melarangnya. Hal ini karena Nabi menetapkan adanya ḥarīm bagi sebuah sumur. (1)

Para fuqaha berbeda pendapat mengenai ukuran kawasan yang dianggap sebagai ḥarīm tersebut. Hanafiyah dan Hanabilah menetapkannya berdasarkan ukuran dzirā‘ (hasta), sesuai dengan jenis sumur. Kedua mazhab tersebut berlandaskan pada beberapa riwayat yang berkaitan dengan masalah ini.

Adapun Malikiyah dan Syafi‘iyah, mereka tidak menetapkan ukuran tertentu, tetapi mengukurnya berdasarkan kebutuhan, yaitu seluas kawasan yang tidak menyulitkan orang yang datang mengambil air, tidak mengganggu tempat unta beristirahat atau menderum, tidak mengganggu tempat ternak berdiam ketika datang ke sumur, serta tidak menimbulkan mudarat terhadap air sumur. (2)

Perincian mengenai masalah ini dibahas dalam istilah “Iḥyā’ al-Mawāt” (menghidupkan tanah mati).

ثَانِيًا: تَعَلُّقُ حَقِّ النَّاسِ بِمَاءِ الآْبَارِ:

Kedua: Keterkaitan Hak Masyarakat terhadap Air Sumur:

٤ - الأَْصْل فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ مَا رَوَاهُ الْخَلاَّل عَنْ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَنَّهُ قَال: النَّاسُ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ: الْمَاءِ وَالْكَلإِ وَالنَّارِ. (١) كَمَا رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْمَاءِ إِلاَّ مَا حُمِل مِنْهُ. (٢) وَالاِسْتِثْنَاءُ يَدُل عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالْمَاءِ فِي الْحَدِيثِ الأَْوَّل غَيْرُ الْمُحْرَزِ.

4 - Dasar dalam masalah ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh al-Khallāl dari Rasulullah , bahwa beliau bersabda:

“Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (1)

Diriwayatkan pula bahwa beliau melarang menjual air, kecuali air yang telah diambil atau dibawa dari tempatnya. (2)

Adanya pengecualian tersebut menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan air dalam hadis pertama adalah air yang belum dikuasai atau belum ditampung untuk kepentingan pribadi.

وَعَلَى هَذَا فَمِيَاهُ الآْبَارِ الْعَامَّةِ مُبَاحَةٌ وَلاَ مِلْكَ فِيهَا لأَِحَدٍ إِلاَّ بِالاِغْتِرَافِ. وَأَمَّا مِيَاهُ الآْبَارِ الْخَاصَّةِ فَإِنَّهَا خَرَجَتْ عَنْ الإِْبَاحَةِ الْعَامَّةِ. وَلَمَّا كَانَتْ حَاجَةُ الإِْنْسَانِ إِلَى الْمَاءِ لِشُرْبِهِ وَشُرْبِ حَيَوَانِهِ مِمَّا يُسَمِّيهِ الْفُقَهَاءُ بِحَقِّ الشَّفَةِ (٣) مَاسَّةً وَمُتَكَرِّرَةً، كَمَا أَنَّ أَصْل الْمَاءِ قَبْل جَرَيَانِهِ فِي الْمِلْكِ الْخَاصِّ مُبَاحٌ، وَأَنَّ مِيَاهَ الآْبَارِ فِي الأَْعَمِّ الأَْغْلَبِ مُتَّصِلَةٌ بِالْمَجْرَى الْعَامِّ، أَوْجَدَ ذَلِكَ شُبْهَةَ الإِْبَاحَةِ فِي مَاءِ الآْبَارِ الْخَاصَّةِ، لَكِنَّهَا إِبَاحَةٌ قَاصِرَةٌ عَلَى حَقِّ الشَّفَةِ دُونَ حَقِّ الشُّرْبِ. (٤)

Pada dasarnya, air sumur-sumur umum hukumnya mubah, dan tidak ada seorang pun yang memilikinya secara khusus, kecuali setelah air tersebut diambil dengan cara menimba atau mengambilnya.

Adapun air dari sumur-sumur pribadi, maka air tersebut telah keluar dari status kebolehan umum.

Karena kebutuhan manusia terhadap air untuk minum bagi dirinya dan untuk memberi minum hewannya—yang oleh para ahli fikih disebut ḥaqq asy-syufah (hak untuk minum)—merupakan kebutuhan yang mendesak dan berulang, sementara asal hukum air sebelum mengalir ke dalam kepemilikan pribadi adalah mubah, serta air sumur pada umumnya berhubungan dengan aliran air umum, maka hal tersebut menimbulkan adanya syubhat kebolehan pada air sumur pribadi.

Akan tetapi, kebolehan tersebut terbatas pada hak untuk minum (ḥaqq asy-syufah), bukan hak untuk mengambil atau menguasai air tersebut (ḥaqq asy-syurb).

٥ - وَاتِّجَاهَاتُ الْفُقَهَاءِ مُخْتَلِفَةٌ بِالنِّسْبَةِ لِمِلْكِيَّةِ مَاءِ آبَارِ الدُّورِ وَالأَْرَاضِي الْمَمْلُوكَةِ، وَتَعَلُّقِ حَقِّ النَّاسِ بِهَا. فَقِيل بِأَنَّ لِلنَّاسِ حَقًّا فِيهَا. وَهُوَ قَوْلٌ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ إِذَا لَمْ يُوجَدْ مَاءٌ قَرِيبٌ فِي غَيْرِ مِلْكِ أَحَدٍ، حَتَّى لَوْ لَمْ يَفِضْ عَنْ حَاجَتِهِ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ. وَقَيَّدَ أَكْثَرُ الْمَشَايِخِ ذَلِكَ بِمَا إِذَا كَانَ يَفِيضُ عَنْ حَاجَتِهِ (١) . وَهُوَ مَذْهَبُ الْحَنَابِلَةِ؛ لأَِنَّ الْبِئْرَ مَا وُضِعَ لِلإِْحْرَازِ، وَلأَِنَّ فِي بَقَاءِ حَقِّ الشَّفَةِ ضَرُورَةً، وَلأَِنَّ الْبِئْرَ تَتْبَعُ الأَْرْضَ دُونَ الْمَاءِ، وَلِخَبَرِ: النَّاسُ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ: الْمَاءِ وَالْكَلإَِ وَالنَّارِ. (٢) وَهَذَا هُوَ الظَّاهِرُ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيَّةِ إِذَا كَانَ حَفْرُ الْبِئْرِ بِقَصْدِ الاِنْتِفَاعِ بِالْمَاءِ، أَوْ حُفِرَ بِقَصْدِ التَّمَلُّكِ، وَهُوَ غَيْرُ الْمَشْهُورِ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ فِي غَيْرِ آبَارِ الدُّورِ وَالْحَوَائِطِ الْمُسَوَّرَةِ. وَقَيَّدَ ذَلِكَ ابْنُ رُشْدٍ بِمَا إِذَا كَانَتِ الْبِئْرُ فِي أَرْضٍ لاَ يَضُرُّهَا الدُّخُول فِيهَا. (٣)

5. Pendapat para fuqaha berbeda mengenai kepemilikan air sumur yang berada di rumah-rumah dan tanah-tanah milik, serta mengenai keterkaitan hak masyarakat terhadap air tersebut.

Ada yang berpendapat bahwa masyarakat mempunyai hak atas air tersebut. Ini merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Hanafi, apabila tidak terdapat sumber air lain yang dekat dan berada di luar kepemilikan seseorang. Bahkan menurut Abu Hanifah, hak tersebut tetap ada meskipun air yang tersedia tidak melebihi kebutuhan pemiliknya. Namun, kebanyakan ulama mazhab Hanafi membatasi hal itu apabila air tersebut masih melebihi kebutuhannya. (1)

Pendapat tersebut juga merupakan mazhab Hanbali, karena sumur pada dasarnya tidak dibuat untuk menjadikan airnya sebagai sesuatu yang tertutup dari orang lain; selain itu, tetap adanya hak untuk memperoleh air minum (ḥaqq asy-syuf‘ah) merupakan suatu kebutuhan yang mendesak. Hal itu juga karena sumur mengikuti kepemilikan tanah, bukan kepemilikan airnya, serta berdasarkan hadis:

“Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (2)

Pendapat ini juga merupakan pendapat yang tampak kuat dalam mazhab Syafi‘i, apabila sumur digali dengan tujuan memanfaatkan airnya, atau digali dengan tujuan memilikinya.

Adapun menurut mazhab Maliki, pendapat tersebut bukanlah pendapat yang masyhur, kecuali dalam kasus sumur yang berada di rumah-rumah dan halaman yang berpagar. Ibnu Rusyd memberikan batasan bahwa hal itu berlaku apabila sumur tersebut berada di tanah yang tidak menimbulkan bahaya bagi pemiliknya apabila orang lain masuk untuk mengambil air. (3)

الاِتِّجَاهُ الثَّانِي: أَنَّهُ لاَ يَتَعَلَّقُ بِهِ حَقُّ أَحَدٍ، وَمِلْكِيَّتُهُ خَالِصَةٌ لِصَاحِبِهِ. وَهُوَ قَوْلٌ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ، وَرِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ، وَمَذْهَبُ الْمَالِكِيَّةِ بِالنِّسْبَةِ لآِبَارِ الدُّورِ وَالْحَوَائِطِ الْمُسَوَّرَةِ، وَالْقَوْل الْمَشْهُورُ عِنْدَهُمْ بِالنِّسْبَةِ لِغَيْرِهَا مِنَ الآْبَارِ الْخَاصَّةِ فِي الأَْرَاضِيِ الْمَمْلُوكَةِ، وَالأَْصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ إِذَا كَانَ يَمْلِكُ الْمَنْبَعَ، أَوْ كَانَ حَفَرَهَا بِقَصْدِ التَّمَلُّكِ. فَلِصَاحِبِ الْبِئْرِ عَلَى هَذَا أَنْ يَمْنَعَ الْغَيْرَ مِنْ حَقِّ الشَّفَةِ أَيْضًا، وَأَنْ يَبِيعَ الْمَاءَ؛ لأَِنَّهُ فِي حُكْمِ الْمُحْرَزِ. وَيُقَيَّدُ الْمَنْعُ بِغَيْرِ مَنْ خِيفَ عَلَيْهِ الْهَلاَكُ؛ لأَِنَّهَا حَالَةُ ضَرُورَةٍ. (٤) وَفِي مَعْنَى الْمَاءِ الْمَعَادِنُ الْجَارِيَةُ فِي الأَْمْلاَكِ، كَالْقَارِ وَالنَّفْطِ. (١)

Pendapat Kedua: Tidak ada hak siapa pun yang berkaitan dengan air tersebut, dan kepemilikannya sepenuhnya menjadi milik pemilik sumur.

Pendapat ini merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Hanafi, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, serta merupakan mazhab Maliki mengenai sumur yang berada di dalam rumah dan halaman yang berpagar. Adapun untuk sumur-sumur khusus lainnya yang berada di tanah milik, pendapat ini merupakan pendapat yang masyhur dalam mazhab Maliki.

Menurut pendapat yang lebih sahih dalam mazhab Syafi‘i, hal tersebut berlaku apabila seseorang memiliki sumber airnya, atau ia menggali sumur tersebut dengan tujuan untuk memilikinya.

Berdasarkan pendapat ini, pemilik sumur berhak melarang orang lain, bahkan dari hak memperoleh air untuk minum (ḥaqq asy-syuf‘ah), dan ia juga berhak menjual air tersebut, karena air itu dihukumi sebagai sesuatu yang telah dikuasai dan diamankan (al-muḥraz).

Namun, larangan tersebut dibatasi: pemilik tidak boleh melarang orang yang dikhawatirkan akan mengalami kebinasaan atau kematian karena tidak memperoleh air, sebab kondisi demikian merupakan keadaan darurat. (4)

Yang termasuk dalam pengertian air dalam pembahasan ini adalah pula mineral-mineral yang mengalir di dalam tanah milik, seperti aspal alam (qar) dan minyak bumi. (1)

Baca juga:

Lafadz Ābār (آبار): Pengertian Sumur dan Hukum Air Sumur dalam Fikih Islam

Lafadz Ābā’ (آباء) dalam Fikih: Pengertian, Cakupan Ayah dan Kakek, serta Perbedaan Ulama

Batas Air Banyak dan Dampak Bercampurnya dengan Benda Suci atau NajisMenurut Empat Mazhab: Apakah Air Sumur Menjadi Najis Jika Dimasuki Manusia atauTercampur Najis?

الْمَبْحَثُ الثَّانِي

Pembahasan Kedua

حَفْرُ الآْبَارِ لإِحْيَاءِ الْمَوَاتِ وَتَعَلُّقُ حَقِّ النَّاسِ بِمَائِهَا

Penggalian Sumur untuk Menghidupkan Tanah Mati dan Keterkaitan Hak Masyarakat terhadap Airnya

أَوَّلاً: حَفْرُ الْبِئْرِ لإِِحْيَاءِ الْمَوَاتِ:

Pertama: Menggali Sumur untuk Menghidupkan Tanah Mati

٣ - حَفْرُ الْبِئْرِ وَخُرُوجُ الْمَاءِ مِنْهَا طَرِيقٌ مِنْ طُرُقِ الإِْحْيَاءِ. وَقَدْ أَجْمَعَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّهُ إِذَا تَمَّ تَفْجِيرُ الْمَاءِ وَالاِنْتِفَاعُ بِهِ فِي الإِْنْبَاتِ، مَعَ نِيَّةِ التَّمَلُّكِ، يَتِمُّ بِهِ الإِْحْيَاءُ. وَذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ (الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ) إِلَى أَنَّ تَفْجِيرَ الْمَاءِ يَتِمُّ بِهِ الإِْحْيَاءُ فِي الْجُمْلَةِ، غَيْرَ أَنَّ الْمَالِكِيَّةَ يَشْتَرِطُونَ إِعْلاَنَ النِّيَّةِ إِذَا كَانَتِ الْبِئْرُ بِئْرَ مَاشِيَةٍ. وَالشَّافِعِيَّةُ فِي الصَّحِيحِ يَشْتَرِطُونَ الْغَرْسَ إِذَا كَانَتِ الْبِئْرُ لِبُسْتَانٍ، كَمَا يَشْتَرِطُونَ نِيَّةَ التَّمَلُّكِ. وَاشْتَرَطَ بَعْضُهُمْ طَيَّهَا (أَيْ بِنَاءَ جُدْرَانِهَا) إِذَا كَانَتْ فِي أَرْضٍ رَخْوَةٍ أَمَّا الْحَنَفِيَّةُ فَيَرَوْنَ أَنَّ الإِْحْيَاءَ لاَ يَتِمُّ بِتَفْجِيرِ الْمَاءِ وَحْدَهُ، وَإِنَّمَا بِالْحَفْرِ وَسَقْيِ الأَْرْضِ. (١)

3 – Menggali sumur dan keluarnya air dari sumur tersebut merupakan salah satu cara untuk menghidupkan tanah mati (iḥyā’ al-mawāt).

Para fuqaha sepakat bahwa apabila air berhasil dikeluarkan dan dimanfaatkan untuk menumbuhkan tanaman, disertai niat untuk memilikinya, maka dengan hal tersebut telah terwujud iḥyā’ (penghidupan tanah mati).

Mayoritas fuqaha (Malikiyah, Syafi‘iyah, dan Hanabilah) berpendapat bahwa mengeluarkan air dari dalam tanah pada prinsipnya sudah cukup untuk mewujudkan iḥyā’. Namun, Malikiyah mensyaratkan pengumuman niat apabila sumur tersebut merupakan sumur untuk kebutuhan hewan ternak.

Adapun Syafi‘iyah, menurut pendapat yang sahih, mensyaratkan penanaman apabila sumur tersebut dibuat untuk kebun, sebagaimana mereka juga mensyaratkan niat untuk memiliki.

Sebagian ulama juga mensyaratkan membangun dinding sumur (ṭayy), yaitu membangun dan memperkuat dinding-dindingnya, apabila sumur tersebut berada di tanah yang lunak.

Sedangkan Hanafiyah berpendapat bahwa iḥyā’ tidak terwujud hanya dengan mengeluarkan air semata, tetapi harus disertai dengan penggalian dan pengairan tanah.

وَلاَ خِلاَفَ فِي أَنَّ لِلْبِئْرِ فِي الأَْرْضِ الْمَوَاتِ حَرِيمًا، لِحَاجَةِ الْحَفْرِ وَالاِنْتِفَاعِ، حَتَّى لَوْ أَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَحْفِرَ بِئْرًا فِي حَرِيمِهِ لَهُ أَنْ يَمْنَعَهُ؛ لأَِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَعَل لِلْبِئْرِ حَرِيمًا (١) . وَاخْتَلَفُوا فِي الْمِقْدَارِ الَّذِي يُعْتَبَرُ حَرِيمًا، فَحَدَّدَهُ الْحَنَفِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ بِالأَْذْرُعِ حَسَبَ نَوْعِ الْبِئْرِ. وَيَسْتَنِدُ الْمَذْهَبَانِ فِي ذَلِكَ إِلَى مَا وَرَدَ مِنْ أَخْبَارٍ. أَمَّا الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ فَقَدَّرُوهُ بِمَا لاَ يَضِيقُ عَلَى الْوَارِدِ، وَلاَ عَلَى مُنَاخِ إِبِلِهَا، وَلاَ مَرَابِضِ مَوَاشِيهَا عِنْدَ الْوُرُودِ، وَلاَ يَضُرُّ بِمَاءِ الْبِئْرِ. (٢) وَتَفْصِيل ذَلِكَ فِي مُصْطَلَحِ " إِحْيَاءِ الْمَوَاتِ ".

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa sumur yang berada di tanah mati (al-arḍ al-mawāt) memiliki ḥarīm, yaitu kawasan sekitar yang diperlukan untuk kegiatan penggalian dan pemanfaatan sumur tersebut. Bahkan, apabila seseorang hendak menggali sumur lain di dalam kawasan ḥarīm sumur itu, pemilik atau pihak yang lebih dahulu menguasainya berhak melarangnya. Hal ini karena Nabi menetapkan adanya ḥarīm bagi sebuah sumur. (1)

Para fuqaha berbeda pendapat mengenai ukuran kawasan yang dianggap sebagai ḥarīm tersebut. Hanafiyah dan Hanabilah menetapkannya berdasarkan ukuran dzirā‘ (hasta), sesuai dengan jenis sumur. Kedua mazhab tersebut berlandaskan pada beberapa riwayat yang berkaitan dengan masalah ini.

Adapun Malikiyah dan Syafi‘iyah, mereka tidak menetapkan ukuran tertentu, tetapi mengukurnya berdasarkan kebutuhan, yaitu seluas kawasan yang tidak menyulitkan orang yang datang mengambil air, tidak mengganggu tempat unta beristirahat atau menderum, tidak mengganggu tempat ternak berdiam ketika datang ke sumur, serta tidak menimbulkan mudarat terhadap air sumur. (2)

Perincian mengenai masalah ini dibahas dalam istilah “Iḥyā’ al-Mawāt” (menghidupkan tanah mati).

ثَانِيًا: تَعَلُّقُ حَقِّ النَّاسِ بِمَاءِ الآْبَارِ:

Kedua: Keterkaitan Hak Masyarakat terhadap Air Sumur:

٤ - الأَْصْل فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ مَا رَوَاهُ الْخَلاَّل عَنْ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَنَّهُ قَال: النَّاسُ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ: الْمَاءِ وَالْكَلإِ وَالنَّارِ. (١) كَمَا رُوِيَ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْمَاءِ إِلاَّ مَا حُمِل مِنْهُ. (٢) وَالاِسْتِثْنَاءُ يَدُل عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالْمَاءِ فِي الْحَدِيثِ الأَْوَّل غَيْرُ الْمُحْرَزِ.

4 - Dasar dalam masalah ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh al-Khallāl dari Rasulullah , bahwa beliau bersabda:

“Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (1)

Diriwayatkan pula bahwa beliau melarang menjual air, kecuali air yang telah diambil atau dibawa dari tempatnya. (2)

Adanya pengecualian tersebut menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan air dalam hadis pertama adalah air yang belum dikuasai atau belum ditampung untuk kepentingan pribadi.

وَعَلَى هَذَا فَمِيَاهُ الآْبَارِ الْعَامَّةِ مُبَاحَةٌ وَلاَ مِلْكَ فِيهَا لأَِحَدٍ إِلاَّ بِالاِغْتِرَافِ. وَأَمَّا مِيَاهُ الآْبَارِ الْخَاصَّةِ فَإِنَّهَا خَرَجَتْ عَنْ الإِْبَاحَةِ الْعَامَّةِ. وَلَمَّا كَانَتْ حَاجَةُ الإِْنْسَانِ إِلَى الْمَاءِ لِشُرْبِهِ وَشُرْبِ حَيَوَانِهِ مِمَّا يُسَمِّيهِ الْفُقَهَاءُ بِحَقِّ الشَّفَةِ (٣) مَاسَّةً وَمُتَكَرِّرَةً، كَمَا أَنَّ أَصْل الْمَاءِ قَبْل جَرَيَانِهِ فِي الْمِلْكِ الْخَاصِّ مُبَاحٌ، وَأَنَّ مِيَاهَ الآْبَارِ فِي الأَْعَمِّ الأَْغْلَبِ مُتَّصِلَةٌ بِالْمَجْرَى الْعَامِّ، أَوْجَدَ ذَلِكَ شُبْهَةَ الإِْبَاحَةِ فِي مَاءِ الآْبَارِ الْخَاصَّةِ، لَكِنَّهَا إِبَاحَةٌ قَاصِرَةٌ عَلَى حَقِّ الشَّفَةِ دُونَ حَقِّ الشُّرْبِ. (٤)

Pada dasarnya, air sumur-sumur umum hukumnya mubah, dan tidak ada seorang pun yang memilikinya secara khusus, kecuali setelah air tersebut diambil dengan cara menimba atau mengambilnya.

Adapun air dari sumur-sumur pribadi, maka air tersebut telah keluar dari status kebolehan umum.

Karena kebutuhan manusia terhadap air untuk minum bagi dirinya dan untuk memberi minum hewannya—yang oleh para ahli fikih disebut ḥaqq asy-syufah (hak untuk minum)—merupakan kebutuhan yang mendesak dan berulang, sementara asal hukum air sebelum mengalir ke dalam kepemilikan pribadi adalah mubah, serta air sumur pada umumnya berhubungan dengan aliran air umum, maka hal tersebut menimbulkan adanya syubhat kebolehan pada air sumur pribadi.

Akan tetapi, kebolehan tersebut terbatas pada hak untuk minum (ḥaqq asy-syufah), bukan hak untuk mengambil atau menguasai air tersebut (ḥaqq asy-syurb).

٥ - وَاتِّجَاهَاتُ الْفُقَهَاءِ مُخْتَلِفَةٌ بِالنِّسْبَةِ لِمِلْكِيَّةِ مَاءِ آبَارِ الدُّورِ وَالأَْرَاضِي الْمَمْلُوكَةِ، وَتَعَلُّقِ حَقِّ النَّاسِ بِهَا. فَقِيل بِأَنَّ لِلنَّاسِ حَقًّا فِيهَا. وَهُوَ قَوْلٌ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ إِذَا لَمْ يُوجَدْ مَاءٌ قَرِيبٌ فِي غَيْرِ مِلْكِ أَحَدٍ، حَتَّى لَوْ لَمْ يَفِضْ عَنْ حَاجَتِهِ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ. وَقَيَّدَ أَكْثَرُ الْمَشَايِخِ ذَلِكَ بِمَا إِذَا كَانَ يَفِيضُ عَنْ حَاجَتِهِ (١) . وَهُوَ مَذْهَبُ الْحَنَابِلَةِ؛ لأَِنَّ الْبِئْرَ مَا وُضِعَ لِلإِْحْرَازِ، وَلأَِنَّ فِي بَقَاءِ حَقِّ الشَّفَةِ ضَرُورَةً، وَلأَِنَّ الْبِئْرَ تَتْبَعُ الأَْرْضَ دُونَ الْمَاءِ، وَلِخَبَرِ: النَّاسُ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ: الْمَاءِ وَالْكَلإَِ وَالنَّارِ. (٢) وَهَذَا هُوَ الظَّاهِرُ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيَّةِ إِذَا كَانَ حَفْرُ الْبِئْرِ بِقَصْدِ الاِنْتِفَاعِ بِالْمَاءِ، أَوْ حُفِرَ بِقَصْدِ التَّمَلُّكِ، وَهُوَ غَيْرُ الْمَشْهُورِ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ فِي غَيْرِ آبَارِ الدُّورِ وَالْحَوَائِطِ الْمُسَوَّرَةِ. وَقَيَّدَ ذَلِكَ ابْنُ رُشْدٍ بِمَا إِذَا كَانَتِ الْبِئْرُ فِي أَرْضٍ لاَ يَضُرُّهَا الدُّخُول فِيهَا. (٣)

5. Pendapat para fuqaha berbeda mengenai kepemilikan air sumur yang berada di rumah-rumah dan tanah-tanah milik, serta mengenai keterkaitan hak masyarakat terhadap air tersebut.

Ada yang berpendapat bahwa masyarakat mempunyai hak atas air tersebut. Ini merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Hanafi, apabila tidak terdapat sumber air lain yang dekat dan berada di luar kepemilikan seseorang. Bahkan menurut Abu Hanifah, hak tersebut tetap ada meskipun air yang tersedia tidak melebihi kebutuhan pemiliknya. Namun, kebanyakan ulama mazhab Hanafi membatasi hal itu apabila air tersebut masih melebihi kebutuhannya. (1)

Pendapat tersebut juga merupakan mazhab Hanbali, karena sumur pada dasarnya tidak dibuat untuk menjadikan airnya sebagai sesuatu yang tertutup dari orang lain; selain itu, tetap adanya hak untuk memperoleh air minum (ḥaqq asy-syuf‘ah) merupakan suatu kebutuhan yang mendesak. Hal itu juga karena sumur mengikuti kepemilikan tanah, bukan kepemilikan airnya, serta berdasarkan hadis:

“Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (2)

Pendapat ini juga merupakan pendapat yang tampak kuat dalam mazhab Syafi‘i, apabila sumur digali dengan tujuan memanfaatkan airnya, atau digali dengan tujuan memilikinya.

Adapun menurut mazhab Maliki, pendapat tersebut bukanlah pendapat yang masyhur, kecuali dalam kasus sumur yang berada di rumah-rumah dan halaman yang berpagar. Ibnu Rusyd memberikan batasan bahwa hal itu berlaku apabila sumur tersebut berada di tanah yang tidak menimbulkan bahaya bagi pemiliknya apabila orang lain masuk untuk mengambil air. (3)

الاِتِّجَاهُ الثَّانِي: أَنَّهُ لاَ يَتَعَلَّقُ بِهِ حَقُّ أَحَدٍ، وَمِلْكِيَّتُهُ خَالِصَةٌ لِصَاحِبِهِ. وَهُوَ قَوْلٌ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ، وَرِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ، وَمَذْهَبُ الْمَالِكِيَّةِ بِالنِّسْبَةِ لآِبَارِ الدُّورِ وَالْحَوَائِطِ الْمُسَوَّرَةِ، وَالْقَوْل الْمَشْهُورُ عِنْدَهُمْ بِالنِّسْبَةِ لِغَيْرِهَا مِنَ الآْبَارِ الْخَاصَّةِ فِي الأَْرَاضِيِ الْمَمْلُوكَةِ، وَالأَْصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ إِذَا كَانَ يَمْلِكُ الْمَنْبَعَ، أَوْ كَانَ حَفَرَهَا بِقَصْدِ التَّمَلُّكِ. فَلِصَاحِبِ الْبِئْرِ عَلَى هَذَا أَنْ يَمْنَعَ الْغَيْرَ مِنْ حَقِّ الشَّفَةِ أَيْضًا، وَأَنْ يَبِيعَ الْمَاءَ؛ لأَِنَّهُ فِي حُكْمِ الْمُحْرَزِ. وَيُقَيَّدُ الْمَنْعُ بِغَيْرِ مَنْ خِيفَ عَلَيْهِ الْهَلاَكُ؛ لأَِنَّهَا حَالَةُ ضَرُورَةٍ. (٤) وَفِي مَعْنَى الْمَاءِ الْمَعَادِنُ الْجَارِيَةُ فِي الأَْمْلاَكِ، كَالْقَارِ وَالنَّفْطِ. (١)

Pendapat Kedua: Tidak ada hak siapa pun yang berkaitan dengan air tersebut, dan kepemilikannya sepenuhnya menjadi milik pemilik sumur.

Pendapat ini merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Hanafi, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, serta merupakan mazhab Maliki mengenai sumur yang berada di dalam rumah dan halaman yang berpagar. Adapun untuk sumur-sumur khusus lainnya yang berada di tanah milik, pendapat ini merupakan pendapat yang masyhur dalam mazhab Maliki.

Menurut pendapat yang lebih sahih dalam mazhab Syafi‘i, hal tersebut berlaku apabila seseorang memiliki sumber airnya, atau ia menggali sumur tersebut dengan tujuan untuk memilikinya.

Berdasarkan pendapat ini, pemilik sumur berhak melarang orang lain, bahkan dari hak memperoleh air untuk minum (ḥaqq asy-syuf‘ah), dan ia juga berhak menjual air tersebut, karena air itu dihukumi sebagai sesuatu yang telah dikuasai dan diamankan (al-muḥraz).

Namun, larangan tersebut dibatasi: pemilik tidak boleh melarang orang yang dikhawatirkan akan mengalami kebinasaan atau kematian karena tidak memperoleh air, sebab kondisi demikian merupakan keadaan darurat. (4)

Yang termasuk dalam pengertian air dalam pembahasan ini adalah pula mineral-mineral yang mengalir di dalam tanah milik, seperti aspal alam (qar) dan minyak bumi. (1)

Baca juga:

Lafadz Ābār (آبار): Pengertian Sumur dan Hukum Air Sumur dalam Fikih Islam

Lafadz Ābā’ (آباء) dalam Fikih: Pengertian, Cakupan Ayah dan Kakek, serta Perbedaan Ulama

Batas Air Banyak dan Dampak Bercampurnya dengan Benda Suci atau NajisMenurut Empat Mazhab: Apakah Air Sumur Menjadi Najis Jika Dimasuki Manusia atauTercampur Najis?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Cara Menyucikan Sumur yang Terkena Najis Menurut Empat Madzhab, Ketentuan Pengurasan dan Alatnya, serta Hukum Menimbunnya

الْمَبْحَثُ الْخَامِسُ Pembahasan Kelima تَطْهِيرُ الآْبَارِ وَحُكْمُ تَغْوِيرِهَا Menyucikan Sumur dan Hukum Menimbunnya ٢١ - ذ...