آبَارٌ
Ābār
الْمَبْحَثُ
الأَوَّل
Pembahasan Pertama
تَعْرِيفُ
الآْبَارِ وَبَيَانُ أَحْكَامِهَا الْعَامَّةِ
Definisi
Sumur dan Penjelasan Hukum-Hukum Umumnya
١ - الآْبَارُ جَمْعُ بِئْرٍ، مَأْخُوذٌ مِنْ " بَأَرَ
" أَيْ حَفَرَ. وَيُجْمَعُ أَيْضًا جَمْعَ قِلَّةٍ عَلَى أَبُورٍ وَآبُرٍ.
وَجَمْعُ الْكَثْرَةِ مِنْهُ بِئَارٌ. (١)
1 – Ābār (الآبار)
adalah bentuk jamak dari bi’r (بئر),
yang berasal dari kata “ba’ara” (بَأَرَ),
yang berarti menggali.
Bentuk jamak bi’r yang menunjukkan jumlah sedikit (jam‘ qalīl)
juga adalah abūr (أَبُور) dan ābur
(آبُر). Adapun bentuk jamak yang
menunjukkan jumlah banyak (jam‘ kathrah) adalah bi’ār (بِئَار).
وَيَنْقُل ابْنُ عَابِدِينَ
فِي حَاشِيَتِهِ عَنْ " النُّتَفِ ": الْبِئْرُ هِيَ الَّتِي لَهَا
مَوَادُّ مِنْ أَسْفَلِهَا، أَيْ لَهَا مِيَاهٌ تَمُدُّهَا وَتَنْبُعُ مِنْ
أَسْفَلِهَا. وَقَال: وَلاَ يَخْفَى أَنَّهُ عَلَى هَذَا التَّعْرِيفِ يَخْرُجُ
الصِّهْرِيجُ وَالْجُبُّ وَالآْبَارُ الَّتِي تُمْلأَُ مِنَ الْمَطَرِ، (٢) أَوْ
مِنَ الأَْنْهَارِ، وَالَّتِي يُطْلَقُ عَلَيْهَا اسْمُ الرَّكِيَّةِ (عَلَى
وَزْنِ عَطِيَّةٍ) كَمَا هُوَ الْعُرْفُ، إِذِ الرَّكِيَّةُ هِيَ الْبِئْرُ، كَمَا
فِي الْقَامُوسِ. لَكِنْ فِي الْعُرْفِ هِيَ بِئْرٌ يَجْتَمِعُ مَاؤُهَا مِنَ
الْمَطَرِ، فَهِيَ بِمَعْنَى الصِّهْرِيجِ. وَفِي حَاشِيَةِ الْبُجَيْرِمِيِّ
عَلَى شَرْحِ الْخَطِيبِ أَنَّ " الْبِئْرَ " قَدْ تُطْلَقُ عَلَى
الْمَكَانِ الَّذِي يَنْزِل فِيهِ الْبَوْل وَالْغَائِطُ، وَهِيَ الْحَاصِل
الَّذِي تَحْتَ بَيْتِ الرَّاحَةِ. وَيُسَمَّى الآْنَ بِالْخَزَّانِ. وَيُقَال
عَنْ هَذِهِ الْبِئْرِ: بِئْرُ الْحُشِّ، وَالْحُشُّ هُوَ بَيْتُ الْخَلاَءِ. (٣)
Ibnu ‘Ābidīn menukil dalam Hāsyiyah-nya dari kitab an-Nutaf:
“Sumur (al-bi’r) adalah tempat yang mempunyai sumber air dari bagian
bawahnya, yakni memiliki air yang menyuplai dan memancar dari dasar sumur.”
Ia berkata:
“Tidaklah samar bahwa berdasarkan definisi ini, maka ṣihrīj, jubb,
dan sumur-sumur yang diisi oleh air hujan atau air sungai tidak termasuk di
dalamnya.”
Sumur-sumur tersebut disebut ar-rakiyyah (الرَّكِيَّة),
dengan pola seperti ‘aṭiyyah (عطية),
sebagaimana yang dikenal dalam kebiasaan masyarakat. Sebab, ar-rakiyyah
berarti sumur, sebagaimana disebutkan dalam al-Qāmūs.
Akan tetapi, dalam penggunaan umum masyarakat, ar-rakiyyah adalah sumur
yang airnya terkumpul dari air hujan, sehingga maknanya sama dengan ṣihrīj,
yaitu tempat penampungan air.
Dalam Hāsyiyah al-Bujairimī atas Syarḥ al-Khaṭīb
disebutkan bahwa istilah “al-bi’r” (البئر)
terkadang juga digunakan untuk menyebut tempat mengalirnya air kencing
dan kotoran, yaitu tempat penampungan yang berada di bawah jamban.
Sekarang tempat tersebut disebut tangki penampungan (الخزّان).
Sumur semacam ini disebut “bi’r al-ḥusy” (بئر
الحُشّ), sedangkan al-ḥusy (الحُشّ)
adalah tempat buang air (jamban).
٢ - وَالأَْصْل فِي مَاءِ
الآْبَارِ الطَّهُورِيَّةُ (أَيْ كَوْنُهُ طَاهِرًا فِي نَفْسِهِ مُطَهِّرًا
لِغَيْرِهِ) ، فَيَصِحُّ التَّطْهِيرُ بِهِ اتِّفَاقًا، إِلاَّ إِذَا تَنَجَّسَ
الْمَاءُ أَوْ تَغَيَّرَ أَحَدُ أَوْصَافِهِ عَلَى تَفْصِيلٍ فِي التَّغَيُّرِ
يُعْرَفُ فِي أَحْكَامِ الْمِيَاهِ. غَيْرَ أَنَّ هُنَاكَ آبَارًا تَكَلَّمَ
الْفُقَهَاءُ عَنْ كَرَاهَةِ التَّطْهِيرِ بِمَائِهَا لأَِنَّهَا فِي أَرْضٍ
مَغْضُوبٍ عَلَيْهَا. وَهُنَاكَ مِنَ الآْبَارِ مَا نَصَّ الْفُقَهَاءُ عَلَى
اخْتِصَاصِهَا بِالْفَضْل، وَرَتَّبُوا عَلَى ذَلِكَ بَعْضَ الأَْحْكَامِ.
2 – Hukum asal air sumur adalah ṭahūr
(suci pada dirinya sendiri dan dapat menyucikan yang lain). Oleh karena itu, bersuci
dengan air sumur sah menurut kesepakatan ulama, kecuali apabila air
tersebut terkena najis atau salah satu sifatnya mengalami perubahan. Rincian
mengenai perubahan sifat air dapat diketahui dalam pembahasan hukum-hukum
air.
Namun, terdapat beberapa sumur yang dibahas oleh para fuqaha mengenai makruhnya
bersuci dengan airnya, karena sumur tersebut berada di tanah yang
dirampas (arḍ maghṣūbah).
Selain itu, terdapat pula beberapa sumur yang secara khusus dinyatakan oleh
para fuqaha memiliki keutamaan (faḍl), dan berdasarkan
keutamaan tersebut mereka menetapkan beberapa hukum tertentu.
Baca juga:
Lafadz Ābā’ (آباء) dalam Fikih: Pengertian, Cakupan Ayah dan Kakek, serta
Perbedaan Ulama
Imam dalam Islam: Hukum Mengikuti Ijtihad Madzhab, Imamah, Talfiq, danHadits Mursal
Hukum Menggali Sumur di Tanah Mati dan Hak Masyarakat atas Air Sumur MenurutFikih Islam
آبَارٌ
Ābār
الْمَبْحَثُ
الأَوَّل
Pembahasan Pertama
تَعْرِيفُ
الآْبَارِ وَبَيَانُ أَحْكَامِهَا الْعَامَّةِ
Definisi
Sumur dan Penjelasan Hukum-Hukum Umumnya
١ - الآْبَارُ جَمْعُ بِئْرٍ، مَأْخُوذٌ مِنْ " بَأَرَ
" أَيْ حَفَرَ. وَيُجْمَعُ أَيْضًا جَمْعَ قِلَّةٍ عَلَى أَبُورٍ وَآبُرٍ.
وَجَمْعُ الْكَثْرَةِ مِنْهُ بِئَارٌ. (١)
1 – Ābār (الآبار)
adalah bentuk jamak dari bi’r (بئر),
yang berasal dari kata “ba’ara” (بَأَرَ),
yang berarti menggali.
Bentuk jamak bi’r yang menunjukkan jumlah sedikit (jam‘ qalīl)
juga adalah abūr (أَبُور) dan ābur
(آبُر). Adapun bentuk jamak yang
menunjukkan jumlah banyak (jam‘ kathrah) adalah bi’ār (بِئَار).
وَيَنْقُل ابْنُ عَابِدِينَ
فِي حَاشِيَتِهِ عَنْ " النُّتَفِ ": الْبِئْرُ هِيَ الَّتِي لَهَا
مَوَادُّ مِنْ أَسْفَلِهَا، أَيْ لَهَا مِيَاهٌ تَمُدُّهَا وَتَنْبُعُ مِنْ
أَسْفَلِهَا. وَقَال: وَلاَ يَخْفَى أَنَّهُ عَلَى هَذَا التَّعْرِيفِ يَخْرُجُ
الصِّهْرِيجُ وَالْجُبُّ وَالآْبَارُ الَّتِي تُمْلأَُ مِنَ الْمَطَرِ، (٢) أَوْ
مِنَ الأَْنْهَارِ، وَالَّتِي يُطْلَقُ عَلَيْهَا اسْمُ الرَّكِيَّةِ (عَلَى
وَزْنِ عَطِيَّةٍ) كَمَا هُوَ الْعُرْفُ، إِذِ الرَّكِيَّةُ هِيَ الْبِئْرُ، كَمَا
فِي الْقَامُوسِ. لَكِنْ فِي الْعُرْفِ هِيَ بِئْرٌ يَجْتَمِعُ مَاؤُهَا مِنَ
الْمَطَرِ، فَهِيَ بِمَعْنَى الصِّهْرِيجِ. وَفِي حَاشِيَةِ الْبُجَيْرِمِيِّ
عَلَى شَرْحِ الْخَطِيبِ أَنَّ " الْبِئْرَ " قَدْ تُطْلَقُ عَلَى
الْمَكَانِ الَّذِي يَنْزِل فِيهِ الْبَوْل وَالْغَائِطُ، وَهِيَ الْحَاصِل
الَّذِي تَحْتَ بَيْتِ الرَّاحَةِ. وَيُسَمَّى الآْنَ بِالْخَزَّانِ. وَيُقَال
عَنْ هَذِهِ الْبِئْرِ: بِئْرُ الْحُشِّ، وَالْحُشُّ هُوَ بَيْتُ الْخَلاَءِ. (٣)
Ibnu ‘Ābidīn menukil dalam Hāsyiyah-nya dari kitab an-Nutaf:
“Sumur (al-bi’r) adalah tempat yang mempunyai sumber air dari bagian
bawahnya, yakni memiliki air yang menyuplai dan memancar dari dasar sumur.”
Ia berkata:
“Tidaklah samar bahwa berdasarkan definisi ini, maka ṣihrīj, jubb,
dan sumur-sumur yang diisi oleh air hujan atau air sungai tidak termasuk di
dalamnya.”
Sumur-sumur tersebut disebut ar-rakiyyah (الرَّكِيَّة),
dengan pola seperti ‘aṭiyyah (عطية),
sebagaimana yang dikenal dalam kebiasaan masyarakat. Sebab, ar-rakiyyah
berarti sumur, sebagaimana disebutkan dalam al-Qāmūs.
Akan tetapi, dalam penggunaan umum masyarakat, ar-rakiyyah adalah sumur
yang airnya terkumpul dari air hujan, sehingga maknanya sama dengan ṣihrīj,
yaitu tempat penampungan air.
Dalam Hāsyiyah al-Bujairimī atas Syarḥ al-Khaṭīb
disebutkan bahwa istilah “al-bi’r” (البئر)
terkadang juga digunakan untuk menyebut tempat mengalirnya air kencing
dan kotoran, yaitu tempat penampungan yang berada di bawah jamban.
Sekarang tempat tersebut disebut tangki penampungan (الخزّان).
Sumur semacam ini disebut “bi’r al-ḥusy” (بئر
الحُشّ), sedangkan al-ḥusy (الحُشّ)
adalah tempat buang air (jamban).
٢ - وَالأَْصْل فِي مَاءِ
الآْبَارِ الطَّهُورِيَّةُ (أَيْ كَوْنُهُ طَاهِرًا فِي نَفْسِهِ مُطَهِّرًا
لِغَيْرِهِ) ، فَيَصِحُّ التَّطْهِيرُ بِهِ اتِّفَاقًا، إِلاَّ إِذَا تَنَجَّسَ
الْمَاءُ أَوْ تَغَيَّرَ أَحَدُ أَوْصَافِهِ عَلَى تَفْصِيلٍ فِي التَّغَيُّرِ
يُعْرَفُ فِي أَحْكَامِ الْمِيَاهِ. غَيْرَ أَنَّ هُنَاكَ آبَارًا تَكَلَّمَ
الْفُقَهَاءُ عَنْ كَرَاهَةِ التَّطْهِيرِ بِمَائِهَا لأَِنَّهَا فِي أَرْضٍ
مَغْضُوبٍ عَلَيْهَا. وَهُنَاكَ مِنَ الآْبَارِ مَا نَصَّ الْفُقَهَاءُ عَلَى
اخْتِصَاصِهَا بِالْفَضْل، وَرَتَّبُوا عَلَى ذَلِكَ بَعْضَ الأَْحْكَامِ.
2 – Hukum asal air sumur adalah ṭahūr
(suci pada dirinya sendiri dan dapat menyucikan yang lain). Oleh karena itu, bersuci
dengan air sumur sah menurut kesepakatan ulama, kecuali apabila air
tersebut terkena najis atau salah satu sifatnya mengalami perubahan. Rincian
mengenai perubahan sifat air dapat diketahui dalam pembahasan hukum-hukum
air.
Namun, terdapat beberapa sumur yang dibahas oleh para fuqaha mengenai makruhnya
bersuci dengan airnya, karena sumur tersebut berada di tanah yang
dirampas (arḍ maghṣūbah).
Selain itu, terdapat pula beberapa sumur yang secara khusus dinyatakan oleh
para fuqaha memiliki keutamaan (faḍl), dan berdasarkan
keutamaan tersebut mereka menetapkan beberapa hukum tertentu.
Baca juga:
Lafadz Ābā’ (آباء) dalam Fikih: Pengertian, Cakupan Ayah dan Kakek, serta
Perbedaan Ulama
Imam dalam Islam: Hukum Mengikuti Ijtihad Madzhab, Imamah, Talfiq, danHadits Mursal
Hukum Menggali Sumur di Tanah Mati dan Hak Masyarakat atas Air Sumur MenurutFikih Islam
%20Pengertian%20Sumur%20dan%20Hukum%20Air%20Sumur%20dalam%20Fikih%20Islam.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar