الْمَبْحَثُ
السَّادِسُ
Pembahasan
Keenam
آبَارٌ
لَهَا أَحْكَامٌ خَاصَّةٌ
Sumur-Sumur yang Memiliki Hukum-Hukum Khusus
آبَارُ
أَرْضِ الْعَذَابِ (٣) وَحُكْمُ التَّطَهُّرِ وَالتَّطْهِيرِ بِمَائِهَا:
Sumur-Sumur
di Tanah Adzab
dan Hukum Bersuci serta Menyucikan dengan Airnya:
٣٢ - ذَهَبَ
الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى صِحَّةِ التَّطَهُّرِ وَالتَّطْهِيرِ
بِمَائِهَا مَعَ الْكَرَاهَةِ. وَاسْتَظْهَرَ الأَُجْهُورِيُّ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ
هَذَا الرَّأْيَ. وَهُوَ رِوَايَةٌ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ، لَكِنَّهَا غَيْرُ
ظَاهِرِ الْقَوْل. وَدَلِيلُهُمْ عَلَى صِحَّةِ التَّطْهِيرِ بِمَائِهَا
الْعُمُومَاتُ الدَّالَّةُ عَلَى طَهَارَةِ جَمِيعِ الْمِيَاهِ مَا لَمْ
تَتَنَجَّسْ أَوْ يَتَغَيَّرْ أَحَدُ أَوْصَافِ الْمَاءِ، وَالدَّلِيل عَلَى
الْكَرَاهِيَةِ أَنَّهُ يُخْشَى أَنْ يُصَابَ مُسْتَعْمِلُهُ بِأَذًى لأَِنَّهَا
مَظِنَّةُ الْعَذَابِ.
32 — Madzhab
Hanafiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa bersuci dan menyucikan
dengan air dari sumur-sumur tersebut adalah sah, meskipun makruh.
Al-Ajhūrī dari kalangan Malikiyah menguatkan pendapat ini. Pendapat tersebut
juga merupakan salah satu riwayat dalam mazhab Hanabilah, namun riwayat itu
bukan pendapat yang tampak atau masyhur dalam madzhab.
Dalil mereka mengenai sahnya menyucikan dengan air tersebut adalah keumuman
dalil-dalil yang menunjukkan kesucian seluruh air, selama air
itu tidak terkena najis atau tidak berubah salah satu sifatnya.
Adapun dalil mengenai kemakruhannya adalah karena dikhawatirkan orang yang
menggunakannya akan tertimpa suatu bahaya atau gangguan, sebab tempat tersebut
merupakan tempat yang diduga atau berpotensi sebagai lokasi turunnya adzab.
وَيَنْقُل الْعَدَوِيُّ مِنَ
الْمَالِكِيَّةِ أَنَّ غَيْرَ الأَُجْهُورِيِّ جَزَمَ بِعَدَمِ صِحَّةِ
التَّطْهِيرِ بِمَاءِ هَذِهِ الآْبَارِ. وَهِيَ الرِّوَايَةُ الظَّاهِرَةُ عِنْدَ
الْحَنَابِلَةِ فِي آبَارِ أَرْضِ ثَمُودَ، كَبِئْرِ ذِي أَرْوَانَ (١) وَبِئْرِ
بَرَهُوتَ (٢) ، عَدَا بِئْرِ النَّاقَةِ (٣) .
Dan Al-‘Adawī dari kalangan Malikiyah menukil bahwa selain Al-Ajhūrī secara
tegas berpendapat bahwa tidak sah bersuci atau menyucikan dengan air
sumur-sumur tersebut.
Pendapat ini merupakan riwayat yang tampak dalam mazhab Hanabilah mengenai sumur-sumur
di tanah kaum Tsamud, seperti Sumur Dzī Arwān dan Sumur
Barahūt, kecuali Sumur Naqah.
وَالدَّلِيل عَلَى عَدَمِ
صِحَّةِ التَّطْهِيرِ بِمَاءِ هَذِهِ الآْبَارِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِإِهْرَاقِ الْمَاءِ الَّذِي اسْتَقَاهُ أَصْحَابُهُ
مِنْ آبَارِ أَرْضِ ثَمُودَ، فَإِنَّ أَمْرَهُ بِإِهْرَاقِهَا يَدُل عَلَى أَنَّ
مَاءَهَا لاَ يَصِحُّ التَّطْهِيرُ بِهِ. وَهَذَا النَّهْيُ وَإِنْ كَانَ وَارِدًا
فِي الآْبَارِ الْمَوْجُودَةِ بِأَرْضِ ثَمُودَ إِلاَّ أَنَّ غَيْرَهَا مِنَ
الآْبَارِ الْمَوْجُودَةِ بِأَرْضٍ غَضِبَ اللَّهُ عَلَى أَهْلِهَا يَأْخُذُ
حُكْمَهَا بِالْقِيَاسِ عَلَيْهَا بِجَامِعِ أَنَّ كُلًّا مِنْهَا مَوْجُودٌ فِي
أَرْضٍ نَزَل الْعَذَابُ بِأَهْلِهَا.
Dan dalil mengenai tidak sahnya bersuci atau menyucikan dengan air
dari sumur-sumur tersebut adalah bahwa Nabi ﷺ
memerintahkan untuk menumpahkan air yang telah ditimba oleh para sahabatnya
dari sumur-sumur di tanah kaum Tsamud. Sebab, perintah beliau untuk menumpahkan
air tersebut menunjukkan bahwa airnya tidak sah digunakan untuk bersuci
atau menyucikan.
Larangan ini, meskipun datang berkenaan dengan sumur-sumur yang terdapat di
tanah kaum Tsamud, namun sumur-sumur lain yang berada di suatu negeri yang
Allah murka kepada penduduknya juga memperoleh hukum yang sama melalui qiyas
terhadap sumur-sumur tersebut. Hal itu karena adanya kesamaan ‘illat, yaitu
bahwa masing-masing sumur tersebut berada di suatu negeri yang azab
telah diturunkan kepada penduduknya.
أَمَّا الْحَنَابِلَةُ فَقَدْ
أَبْقَوْا مَا وَرَاءَ أَرْضِ ثَمُودَ عَلَى الْقَوْل بِطَهَارَتِهَا، وَحَمَلُوا
النَّهْيَ عَلَى الْكَرَاهَةِ، وَكَذَلِكَ حَكَمُوا بِالْكَرَاهَةِ عَلَى
الآْبَارِ الْمَوْجُودَةِ بِالْمَقَابِرِ، وَالآْبَارِ فِي الأَْرْضِ
الْمَغْصُوبَةِ، وَالَّتِي حُفِرَتْ بِمَالٍ مَغْصُوبٍ. (١)
Adapun mazhab Hanabilah, mereka tetap berpendapat bahwa air sumur
selain yang berada di tanah kaum Tsamud adalah suci, dan mereka
memahami larangan tersebut sebagai makruh.
Demikian pula, mereka menetapkan hukum makruh terhadap sumur-sumur
yang berada di area pemakaman, sumur-sumur yang terdapat di
tanah yang dirampas, serta sumur-sumur yang digali dengan
menggunakan harta hasil rampasan.
الْبِئْرُ
الَّتِي خُصَّتْ بِالْفَضْل:
Sumur
yang Dikhususkan dengan Keutamaan:
٣٣ - بِئْرُ
زَمْزَمَ بِمَكَّةَ (٢) لَهَا مَكَانَةٌ إِسْلاَمِيَّةٌ. رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ
أَنَّ رَسُول اللَّهِ قَال: خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْهِ الأَْرْضِ زَمْزَمُ. (٣)
وَعَنْهُ أَنَّ رَسُول اللَّهِ قَال: مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ، إِنْ
شَرِبْتَهُ تَسْتَشْفِي بِهِ شَفَاكَ اللَّهُ، وَإِنْ شَرِبْتَهُ لِقَطْعِ
ظَمَئِكَ قَطَعَهُ اللَّهُ. (٤)
33 — Sumur Zamzam di Makkah memiliki kedudukan yang
istimewa dalam Islam. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik air di muka bumi adalah air Zamzam.”
Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Air Zamzam sesuai dengan tujuan orang yang meminumnya. Jika engkau
meminumnya dengan maksud memohon kesembuhan, Allah akan menyembuhkanmu. Dan
jika engkau meminumnya untuk menghilangkan rasa hausmu, Allah akan
menghilangkan rasa hausmu.”
وَلِلشُّرْبِ مِنْهُ
وَاسْتِعْمَالِهِ آدَابٌ نَصَّ عَلَيْهَا الْفُقَهَاءُ. فَقَالُوا: إِنَّهُ
يُسْتَحَبُّ لِشَارِبِهِ أَنْ يَسْتَقْبِل الْقِبْلَةَ، وَيَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ
تَعَالَى، وَيَتَنَفَّسَ ثَلاَثًا، وَيَتَضَلَّعَ مِنْهُ، وَيَحْمَدَ اللَّهَ
تَعَالَى، وَيَدْعُوَ بِمَا كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَدْعُو بِهِ إِذَا شَرِبَ مِنْهُ:
" اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا
وَشِفَاءً مِنْ كُل دَاءٍ (١) . " وَيَقُول: " اللَّهُمَّ إِنَّهُ
بَلَغَنِي عَنْ نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ مَاءَ زَمْزَمَ
لِمَا شُرِبَ لَهُ وَأَنَا أَشْرَبُهُ لِكَذَا. "
Adapun adab meminum dan menggunakan air Zamzam, para fuqaha
telah menjelaskan beberapa adabnya. Mereka mengatakan bahwa orang yang
meminumnya disunnahkan menghadap kiblat, menyebut nama Allah
Ta‘ala, bernapas sebanyak tiga kali, meminumnya hingga merasa
puas, lalu memuji Allah Ta‘ala.
Ia juga dianjurkan berdoa dengan doa yang biasa dipanjatkan oleh Ibnu Abbas
ketika meminum air Zamzam:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat,
rezeki yang luas, dan kesembuhan dari segala penyakit.”
Kemudian ia mengucapkan:
“Ya Allah, sesungguhnya telah sampai kepadaku dari Nabi-Mu ﷺ bahwa air Zamzam sesuai dengan tujuan ia
diminum. Dan aku meminumnya untuk tujuan demikian.”
(٢) ٣٤ - وَيَجُوزُ
بِالاِتِّفَاقِ نَقْل شَيْءٍ مِنْ مَائِهَا. وَالأَْصْل فِي جَوَازِ نَقْلِهِ مَا
جَاءَ فِي جَامِعِ التِّرْمِذِيِّ عَنِ السَّيِّدَةِ عَائِشَةِ أَنَّهَا حَمَلَتْ
مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ فِي الْقَوَارِيرِ، وَقَالَتْ: حَمَل رَسُول اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا. وَكَانَ يَصُبُّ عَلَى الْمَرْضَى وَيَسْقِيهِمْ
(٣) . وَرَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُول اللَّهِ اسْتَهْدَى سُهَيْل بْنَ
عَمْرٍو مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ (٤) .
34 — Diperbolehkan berdasarkan kesepakatan untuk membawa
atau memindahkan sebagian air Zamzam. Dasar kebolehan membawanya adalah riwayat
yang terdapat dalam Jāmi‘ at-Tirmidzi dari Sayyidah ‘Aisyah bahwa
beliau membawa air Zamzam di dalam botol-botol. Beliau berkata:
“Rasulullah ﷺ juga membawanya dari
sana.”
Beliau ﷺ biasa menuangkan air tersebut
kepada orang-orang yang sakit dan memberikannya kepada mereka untuk diminum.
Ibnu Abbas juga meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ meminta hadiah air Zamzam kepada Suhail bin ‘Amr.
كَمَا اتَّفَقُوا عَلَى
عَدَمِ اسْتِعْمَالِهِ فِي مَوَاضِعِ الاِمْتِهَانِ، كَإِزَالَةِ النَّجَاسَةِ
الْحَقِيقِيَّةِ. وَيَجْزِمُ الْمُحِبُّ الطَّبَرِيُّ الشَّافِعِيُّ بِتَحْرِيمِ
ذَلِكَ. وَهُوَ مَا يَحْتَمِلُهُ كَلاَمُ ابْنِ شَعْبَانَ الْمَالِكِيِّ، وَمَا
رَوَاهُ ابْنُ عَابِدِينَ عَنْ بَعْضِ الْحَنَفِيَّةِ، لَكِنَّ أَصْل الْمَذْهَبِ
الْحَنَفِيِّ وَالْمَذْهَبِ الْمَالِكِيِّ الْكَرَاهَةُ، وَهُوَ مَا عَبَّرَ بِهِ
الرُّويَانِيُّ الشَّافِعِيُّ فِي " الْحِلْيَةِ "، وَصَرَّحَ بِهِ
الْبَيْجُورِيُّ، وَاسْتَظْهَرَهُ الْقَاضِي زَكَرِيَّا، وَقَال: إِنَّ الْمَنْعَ
عَلَى وَجْهِ الأَْدَبِ، وَهُوَ الْمُعَبَّرُ عَنْهُ هُنَا مِنْ بَعْضِ فُقَهَاءِ
الشَّافِعِيَّةِ بِخِلاَفِ الأَْوْلَى. (١)
Sebagaimana mereka juga sepakat mengenai tidak bolehnya menggunakan
air Zamzam pada tempat-tempat yang mengandung unsur penghinaan atau
merendahkannya, seperti untuk menghilangkan najis yang
bersifat nyata (najāsah ḥaqīqiyyah).
Al-Muḥibb ath-Ṭabarī, seorang ulama Syafi‘iyah, dengan tegas menyatakan
bahwa hal tersebut haram. Pendapat ini juga dapat dipahami
dari perkataan Ibnu Sya‘bān dari kalangan Malikiyah, serta dari apa yang
dinukil Ibnu ‘Ābidīn dari sebagian ulama Hanafiyah.
Namun, pendapat dasar dalam mazhab Hanafi dan mazhab Maliki adalah
makruh. Pendapat inilah yang diungkapkan oleh Ar-Rūyānī, ulama
Syafi‘iyah, dalam kitab Al-Ḥilyah. Al-Bājūrī juga menegaskannya, dan
Al-Qāḍī Zakariyyā menganggap pendapat ini lebih kuat. Ia berkata bahwa larangan
tersebut berlaku dalam rangka menjaga adab.
Hal ini pula yang diungkapkan oleh sebagian fuqaha Syafi‘iyah dengan istilah
khilāf al-awlā, yaitu suatu perbuatan yang tidak haram, tetapi
lebih utama untuk ditinggalkan.
وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّهُ
لاَ يَنْبَغِي أَنْ يُغَسَّل بِهِ مَيِّتٌ ابْتِدَاءً. وَنَقَل الْفَاكِهِيُّ
أَنَّ أَهْل مَكَّةَ يُغَسِّلُونَ مَوْتَاهُمْ بِمَاءِ زَمْزَمَ إِذَا فَرَغُوا
مِنْ غَسْل الْمَيِّتِ وَتَنْظِيفِهِ، تَبَرُّكًا بِهِ، وَأَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ
أَبِي بَكْرٍ غَسَّلَتِ ابْنَهَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ بِمَاءِ
زَمْزَمَ (٢) .
Mereka juga sepakat bahwa tidak sepantasnya sejak awal memandikan
jenazah dengan air Zamzam.
Al-Fākihī menukil bahwa penduduk Makkah memandikan jenazah mereka
dengan air Zamzam setelah selesai memandikan dan membersihkan jenazah tersebut,
sebagai bentuk tabarruk (mengharap keberkahan) dengannya.
Disebutkan pula bahwa Asmā’ binti Abī Bakr memandikan putranya,
‘Abdullāh bin az-Zubair, dengan air Zamzam.
٣٥ - وَلاَ خِلاَفَ مُعْتَبَرًا
فِي جَوَازِ الْوُضُوءِ وَالْغُسْل بِهِ لِمَنْ كَانَ طَاهِرَ الأَْعْضَاءِ، (٣)
بَل صَرَّحَ الْبَعْضُ بِاسْتِحْبَابِ ذَلِكَ. وَلاَ يُعَوَّل عَلَى الْقَوْل
بِالْكَرَاهَةِ اعْتِمَادًا عَلَى أَنَّهُ طَعَامٌ، لِمَا رُوِيَ عَنْ الرَّسُول
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ قَوْلِهِ: هُوَ طَعَامٌ. . . (١) وَيَدُل
عَلَى عَدَمِ الْكَرَاهَةِ مَا رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ دَعَا بِسَجْلٍ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ فَشَرِبَ مِنْهُ وَتَوَضَّأَ (٢) .
وَيَقُول الْفَاسِيُّ الْمَالِكِيُّ: التَّطْهِيرُ بِمَاءِ زَمْزَمَ صَحِيحٌ
بِالإِْجْمَاعِ، عَلَى مَا ذَكَرَهُ الْمَاوَرْدِيُّ فِي حَاوِيهِ، وَالنَّوَوِيُّ
فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ. وَمُقْتَضَى مَا ذَكَرَهُ ابْنُ حَبِيبٍ الْمَالِكِيُّ
اسْتِحْبَابُ التَّوَضُّؤِ بِهِ. (٣) وَكَوْنُهُ مُبَارَكًا لاَ يَمْنَعُ
الْوُضُوءَ بِهِ، كَالْمَاءِ الَّذِي وَضَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَدَهُ فِيهِ. (٤)
35 — Tidak terdapat perbedaan pendapat yang معتبر mengenai bolehnya berwudu dan
mandi dengan air Zamzam bagi orang yang anggota tubuhnya dalam keadaan
suci. Bahkan, sebagian ulama secara tegas menyatakan bahwa hal tersebut dianjurkan.
Pendapat yang menyatakan makruh tidak dapat dijadikan pegangan dengan alasan
bahwa air Zamzam merupakan makanan, berdasarkan riwayat dari Rasulullah ﷺ yang bersabda:
“Air Zamzam adalah makanan...”
Dalil yang menunjukkan tidak adanya kemakruhan adalah riwayat bahwa Nabi
ﷺ meminta seember air Zamzam, kemudian
beliau meminumnya dan berwudu dengannya.
Al-Fāsī dari kalangan Malikiyah berkata:
“Bersuci dengan air Zamzam adalah sah berdasarkan ijmak,”
sebagaimana disebutkan oleh Al-Māwardī dalam Ḥāwī-nya dan An-Nawawī
dalam Syarḥ al-Muhadzdzab.
Adapun berdasarkan apa yang disebutkan oleh Ibnu Ḥabīb,
seorang ulama Malikiyah, maka hal tersebut menunjukkan dianjurkannya
berwudu dengan air Zamzam.
Dan statusnya sebagai air yang diberkahi tidak menghalangi
penggunaannya untuk berwudu, sebagaimana air yang pernah dicelupi
tangan Nabi ﷺ
ke dalamnya.
وَقَدْ صَرَّحَ
الشَّافِعِيَّةُ بِجَوَازِ اسْتِعْمَال مَاءِ زَمْزَمَ فِي الْحَدَثِ دُونَ
الْخَبَثِ. (٥) وَهُوَ مَا يُفِيدُهُ عُمُومُ قَوْل الْحَنَابِلَةِ: وَلاَ
يُكْرَهُ الْوُضُوءُ وَالْغُسْل بِمَاءِ زَمْزَمَ عَلَى مَا هُوَ الأَْوْلَى فِي
الْمَذْهَبِ. (٦) أَمَّا الْحَنَفِيَّةُ فَقَدْ صَرَّحُوا بِأَنَّهُ لاَ يَغْتَسِل
بِهِ جُنُبٌ وَلاَ مُحْدِثٌ. (٧) .
Ulama Syafi‘iyah secara tegas menyatakan bolehnya menggunakan air
Zamzam untuk bersuci dari hadas, tetapi tidak untuk menghilangkan najis
(khabats).
Hal ini juga tercakup dalam keumuman pendapat ulama Hanabilah: “Tidak
dimakruhkan berwudu dan mandi dengan air Zamzam,” dan inilah pendapat
yang lebih utama dalam mazhab.
Adapun ulama Hanafiyah, mereka secara tegas menyatakan bahwa orang
yang sedang junub maupun orang yang berhadas tidak boleh mandi dengan air
Zamzam.
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Ābid dalam Perspektif Fikih: Hewan Liar, Hewan Jinak yang Melarikan
Diri, Hukum Perburuan dan Penyembelihan, serta Status Kepemilikannya dan Luqaṭah
الْمَبْحَثُ
السَّادِسُ
Pembahasan
Keenam
آبَارٌ
لَهَا أَحْكَامٌ خَاصَّةٌ
Sumur-Sumur yang Memiliki Hukum-Hukum Khusus
آبَارُ
أَرْضِ الْعَذَابِ (٣) وَحُكْمُ التَّطَهُّرِ وَالتَّطْهِيرِ بِمَائِهَا:
Sumur-Sumur
di Tanah Adzab
dan Hukum Bersuci serta Menyucikan dengan Airnya:
٣٢ - ذَهَبَ
الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى صِحَّةِ التَّطَهُّرِ وَالتَّطْهِيرِ
بِمَائِهَا مَعَ الْكَرَاهَةِ. وَاسْتَظْهَرَ الأَُجْهُورِيُّ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ
هَذَا الرَّأْيَ. وَهُوَ رِوَايَةٌ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ، لَكِنَّهَا غَيْرُ
ظَاهِرِ الْقَوْل. وَدَلِيلُهُمْ عَلَى صِحَّةِ التَّطْهِيرِ بِمَائِهَا
الْعُمُومَاتُ الدَّالَّةُ عَلَى طَهَارَةِ جَمِيعِ الْمِيَاهِ مَا لَمْ
تَتَنَجَّسْ أَوْ يَتَغَيَّرْ أَحَدُ أَوْصَافِ الْمَاءِ، وَالدَّلِيل عَلَى
الْكَرَاهِيَةِ أَنَّهُ يُخْشَى أَنْ يُصَابَ مُسْتَعْمِلُهُ بِأَذًى لأَِنَّهَا
مَظِنَّةُ الْعَذَابِ.
32 — Madzhab
Hanafiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa bersuci dan menyucikan
dengan air dari sumur-sumur tersebut adalah sah, meskipun makruh.
Al-Ajhūrī dari kalangan Malikiyah menguatkan pendapat ini. Pendapat tersebut
juga merupakan salah satu riwayat dalam mazhab Hanabilah, namun riwayat itu
bukan pendapat yang tampak atau masyhur dalam madzhab.
Dalil mereka mengenai sahnya menyucikan dengan air tersebut adalah keumuman
dalil-dalil yang menunjukkan kesucian seluruh air, selama air
itu tidak terkena najis atau tidak berubah salah satu sifatnya.
Adapun dalil mengenai kemakruhannya adalah karena dikhawatirkan orang yang
menggunakannya akan tertimpa suatu bahaya atau gangguan, sebab tempat tersebut
merupakan tempat yang diduga atau berpotensi sebagai lokasi turunnya adzab.
وَيَنْقُل الْعَدَوِيُّ مِنَ
الْمَالِكِيَّةِ أَنَّ غَيْرَ الأَُجْهُورِيِّ جَزَمَ بِعَدَمِ صِحَّةِ
التَّطْهِيرِ بِمَاءِ هَذِهِ الآْبَارِ. وَهِيَ الرِّوَايَةُ الظَّاهِرَةُ عِنْدَ
الْحَنَابِلَةِ فِي آبَارِ أَرْضِ ثَمُودَ، كَبِئْرِ ذِي أَرْوَانَ (١) وَبِئْرِ
بَرَهُوتَ (٢) ، عَدَا بِئْرِ النَّاقَةِ (٣) .
Dan Al-‘Adawī dari kalangan Malikiyah menukil bahwa selain Al-Ajhūrī secara
tegas berpendapat bahwa tidak sah bersuci atau menyucikan dengan air
sumur-sumur tersebut.
Pendapat ini merupakan riwayat yang tampak dalam mazhab Hanabilah mengenai sumur-sumur
di tanah kaum Tsamud, seperti Sumur Dzī Arwān dan Sumur
Barahūt, kecuali Sumur Naqah.
وَالدَّلِيل عَلَى عَدَمِ
صِحَّةِ التَّطْهِيرِ بِمَاءِ هَذِهِ الآْبَارِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِإِهْرَاقِ الْمَاءِ الَّذِي اسْتَقَاهُ أَصْحَابُهُ
مِنْ آبَارِ أَرْضِ ثَمُودَ، فَإِنَّ أَمْرَهُ بِإِهْرَاقِهَا يَدُل عَلَى أَنَّ
مَاءَهَا لاَ يَصِحُّ التَّطْهِيرُ بِهِ. وَهَذَا النَّهْيُ وَإِنْ كَانَ وَارِدًا
فِي الآْبَارِ الْمَوْجُودَةِ بِأَرْضِ ثَمُودَ إِلاَّ أَنَّ غَيْرَهَا مِنَ
الآْبَارِ الْمَوْجُودَةِ بِأَرْضٍ غَضِبَ اللَّهُ عَلَى أَهْلِهَا يَأْخُذُ
حُكْمَهَا بِالْقِيَاسِ عَلَيْهَا بِجَامِعِ أَنَّ كُلًّا مِنْهَا مَوْجُودٌ فِي
أَرْضٍ نَزَل الْعَذَابُ بِأَهْلِهَا.
Dan dalil mengenai tidak sahnya bersuci atau menyucikan dengan air
dari sumur-sumur tersebut adalah bahwa Nabi ﷺ
memerintahkan untuk menumpahkan air yang telah ditimba oleh para sahabatnya
dari sumur-sumur di tanah kaum Tsamud. Sebab, perintah beliau untuk menumpahkan
air tersebut menunjukkan bahwa airnya tidak sah digunakan untuk bersuci
atau menyucikan.
Larangan ini, meskipun datang berkenaan dengan sumur-sumur yang terdapat di
tanah kaum Tsamud, namun sumur-sumur lain yang berada di suatu negeri yang
Allah murka kepada penduduknya juga memperoleh hukum yang sama melalui qiyas
terhadap sumur-sumur tersebut. Hal itu karena adanya kesamaan ‘illat, yaitu
bahwa masing-masing sumur tersebut berada di suatu negeri yang azab
telah diturunkan kepada penduduknya.
أَمَّا الْحَنَابِلَةُ فَقَدْ
أَبْقَوْا مَا وَرَاءَ أَرْضِ ثَمُودَ عَلَى الْقَوْل بِطَهَارَتِهَا، وَحَمَلُوا
النَّهْيَ عَلَى الْكَرَاهَةِ، وَكَذَلِكَ حَكَمُوا بِالْكَرَاهَةِ عَلَى
الآْبَارِ الْمَوْجُودَةِ بِالْمَقَابِرِ، وَالآْبَارِ فِي الأَْرْضِ
الْمَغْصُوبَةِ، وَالَّتِي حُفِرَتْ بِمَالٍ مَغْصُوبٍ. (١)
Adapun mazhab Hanabilah, mereka tetap berpendapat bahwa air sumur
selain yang berada di tanah kaum Tsamud adalah suci, dan mereka
memahami larangan tersebut sebagai makruh.
Demikian pula, mereka menetapkan hukum makruh terhadap sumur-sumur
yang berada di area pemakaman, sumur-sumur yang terdapat di
tanah yang dirampas, serta sumur-sumur yang digali dengan
menggunakan harta hasil rampasan.
الْبِئْرُ
الَّتِي خُصَّتْ بِالْفَضْل:
Sumur
yang Dikhususkan dengan Keutamaan:
٣٣ - بِئْرُ
زَمْزَمَ بِمَكَّةَ (٢) لَهَا مَكَانَةٌ إِسْلاَمِيَّةٌ. رَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ
أَنَّ رَسُول اللَّهِ قَال: خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْهِ الأَْرْضِ زَمْزَمُ. (٣)
وَعَنْهُ أَنَّ رَسُول اللَّهِ قَال: مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ، إِنْ
شَرِبْتَهُ تَسْتَشْفِي بِهِ شَفَاكَ اللَّهُ، وَإِنْ شَرِبْتَهُ لِقَطْعِ
ظَمَئِكَ قَطَعَهُ اللَّهُ. (٤)
33 — Sumur Zamzam di Makkah memiliki kedudukan yang
istimewa dalam Islam. Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik air di muka bumi adalah air Zamzam.”
Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
“Air Zamzam sesuai dengan tujuan orang yang meminumnya. Jika engkau
meminumnya dengan maksud memohon kesembuhan, Allah akan menyembuhkanmu. Dan
jika engkau meminumnya untuk menghilangkan rasa hausmu, Allah akan
menghilangkan rasa hausmu.”
وَلِلشُّرْبِ مِنْهُ
وَاسْتِعْمَالِهِ آدَابٌ نَصَّ عَلَيْهَا الْفُقَهَاءُ. فَقَالُوا: إِنَّهُ
يُسْتَحَبُّ لِشَارِبِهِ أَنْ يَسْتَقْبِل الْقِبْلَةَ، وَيَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ
تَعَالَى، وَيَتَنَفَّسَ ثَلاَثًا، وَيَتَضَلَّعَ مِنْهُ، وَيَحْمَدَ اللَّهَ
تَعَالَى، وَيَدْعُوَ بِمَا كَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَدْعُو بِهِ إِذَا شَرِبَ مِنْهُ:
" اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا وَاسِعًا
وَشِفَاءً مِنْ كُل دَاءٍ (١) . " وَيَقُول: " اللَّهُمَّ إِنَّهُ
بَلَغَنِي عَنْ نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ مَاءَ زَمْزَمَ
لِمَا شُرِبَ لَهُ وَأَنَا أَشْرَبُهُ لِكَذَا. "
Adapun adab meminum dan menggunakan air Zamzam, para fuqaha
telah menjelaskan beberapa adabnya. Mereka mengatakan bahwa orang yang
meminumnya disunnahkan menghadap kiblat, menyebut nama Allah
Ta‘ala, bernapas sebanyak tiga kali, meminumnya hingga merasa
puas, lalu memuji Allah Ta‘ala.
Ia juga dianjurkan berdoa dengan doa yang biasa dipanjatkan oleh Ibnu Abbas
ketika meminum air Zamzam:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat,
rezeki yang luas, dan kesembuhan dari segala penyakit.”
Kemudian ia mengucapkan:
“Ya Allah, sesungguhnya telah sampai kepadaku dari Nabi-Mu ﷺ bahwa air Zamzam sesuai dengan tujuan ia
diminum. Dan aku meminumnya untuk tujuan demikian.”
(٢) ٣٤ - وَيَجُوزُ
بِالاِتِّفَاقِ نَقْل شَيْءٍ مِنْ مَائِهَا. وَالأَْصْل فِي جَوَازِ نَقْلِهِ مَا
جَاءَ فِي جَامِعِ التِّرْمِذِيِّ عَنِ السَّيِّدَةِ عَائِشَةِ أَنَّهَا حَمَلَتْ
مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ فِي الْقَوَارِيرِ، وَقَالَتْ: حَمَل رَسُول اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا. وَكَانَ يَصُبُّ عَلَى الْمَرْضَى وَيَسْقِيهِمْ
(٣) . وَرَوَى ابْنُ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُول اللَّهِ اسْتَهْدَى سُهَيْل بْنَ
عَمْرٍو مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ (٤) .
34 — Diperbolehkan berdasarkan kesepakatan untuk membawa
atau memindahkan sebagian air Zamzam. Dasar kebolehan membawanya adalah riwayat
yang terdapat dalam Jāmi‘ at-Tirmidzi dari Sayyidah ‘Aisyah bahwa
beliau membawa air Zamzam di dalam botol-botol. Beliau berkata:
“Rasulullah ﷺ juga membawanya dari
sana.”
Beliau ﷺ biasa menuangkan air tersebut
kepada orang-orang yang sakit dan memberikannya kepada mereka untuk diminum.
Ibnu Abbas juga meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ meminta hadiah air Zamzam kepada Suhail bin ‘Amr.
كَمَا اتَّفَقُوا عَلَى
عَدَمِ اسْتِعْمَالِهِ فِي مَوَاضِعِ الاِمْتِهَانِ، كَإِزَالَةِ النَّجَاسَةِ
الْحَقِيقِيَّةِ. وَيَجْزِمُ الْمُحِبُّ الطَّبَرِيُّ الشَّافِعِيُّ بِتَحْرِيمِ
ذَلِكَ. وَهُوَ مَا يَحْتَمِلُهُ كَلاَمُ ابْنِ شَعْبَانَ الْمَالِكِيِّ، وَمَا
رَوَاهُ ابْنُ عَابِدِينَ عَنْ بَعْضِ الْحَنَفِيَّةِ، لَكِنَّ أَصْل الْمَذْهَبِ
الْحَنَفِيِّ وَالْمَذْهَبِ الْمَالِكِيِّ الْكَرَاهَةُ، وَهُوَ مَا عَبَّرَ بِهِ
الرُّويَانِيُّ الشَّافِعِيُّ فِي " الْحِلْيَةِ "، وَصَرَّحَ بِهِ
الْبَيْجُورِيُّ، وَاسْتَظْهَرَهُ الْقَاضِي زَكَرِيَّا، وَقَال: إِنَّ الْمَنْعَ
عَلَى وَجْهِ الأَْدَبِ، وَهُوَ الْمُعَبَّرُ عَنْهُ هُنَا مِنْ بَعْضِ فُقَهَاءِ
الشَّافِعِيَّةِ بِخِلاَفِ الأَْوْلَى. (١)
Sebagaimana mereka juga sepakat mengenai tidak bolehnya menggunakan
air Zamzam pada tempat-tempat yang mengandung unsur penghinaan atau
merendahkannya, seperti untuk menghilangkan najis yang
bersifat nyata (najāsah ḥaqīqiyyah).
Al-Muḥibb ath-Ṭabarī, seorang ulama Syafi‘iyah, dengan tegas menyatakan
bahwa hal tersebut haram. Pendapat ini juga dapat dipahami
dari perkataan Ibnu Sya‘bān dari kalangan Malikiyah, serta dari apa yang
dinukil Ibnu ‘Ābidīn dari sebagian ulama Hanafiyah.
Namun, pendapat dasar dalam mazhab Hanafi dan mazhab Maliki adalah
makruh. Pendapat inilah yang diungkapkan oleh Ar-Rūyānī, ulama
Syafi‘iyah, dalam kitab Al-Ḥilyah. Al-Bājūrī juga menegaskannya, dan
Al-Qāḍī Zakariyyā menganggap pendapat ini lebih kuat. Ia berkata bahwa larangan
tersebut berlaku dalam rangka menjaga adab.
Hal ini pula yang diungkapkan oleh sebagian fuqaha Syafi‘iyah dengan istilah
khilāf al-awlā, yaitu suatu perbuatan yang tidak haram, tetapi
lebih utama untuk ditinggalkan.
وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّهُ
لاَ يَنْبَغِي أَنْ يُغَسَّل بِهِ مَيِّتٌ ابْتِدَاءً. وَنَقَل الْفَاكِهِيُّ
أَنَّ أَهْل مَكَّةَ يُغَسِّلُونَ مَوْتَاهُمْ بِمَاءِ زَمْزَمَ إِذَا فَرَغُوا
مِنْ غَسْل الْمَيِّتِ وَتَنْظِيفِهِ، تَبَرُّكًا بِهِ، وَأَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ
أَبِي بَكْرٍ غَسَّلَتِ ابْنَهَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ بِمَاءِ
زَمْزَمَ (٢) .
Mereka juga sepakat bahwa tidak sepantasnya sejak awal memandikan
jenazah dengan air Zamzam.
Al-Fākihī menukil bahwa penduduk Makkah memandikan jenazah mereka
dengan air Zamzam setelah selesai memandikan dan membersihkan jenazah tersebut,
sebagai bentuk tabarruk (mengharap keberkahan) dengannya.
Disebutkan pula bahwa Asmā’ binti Abī Bakr memandikan putranya,
‘Abdullāh bin az-Zubair, dengan air Zamzam.
٣٥ - وَلاَ خِلاَفَ مُعْتَبَرًا
فِي جَوَازِ الْوُضُوءِ وَالْغُسْل بِهِ لِمَنْ كَانَ طَاهِرَ الأَْعْضَاءِ، (٣)
بَل صَرَّحَ الْبَعْضُ بِاسْتِحْبَابِ ذَلِكَ. وَلاَ يُعَوَّل عَلَى الْقَوْل
بِالْكَرَاهَةِ اعْتِمَادًا عَلَى أَنَّهُ طَعَامٌ، لِمَا رُوِيَ عَنْ الرَّسُول
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ قَوْلِهِ: هُوَ طَعَامٌ. . . (١) وَيَدُل
عَلَى عَدَمِ الْكَرَاهَةِ مَا رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ دَعَا بِسَجْلٍ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ فَشَرِبَ مِنْهُ وَتَوَضَّأَ (٢) .
وَيَقُول الْفَاسِيُّ الْمَالِكِيُّ: التَّطْهِيرُ بِمَاءِ زَمْزَمَ صَحِيحٌ
بِالإِْجْمَاعِ، عَلَى مَا ذَكَرَهُ الْمَاوَرْدِيُّ فِي حَاوِيهِ، وَالنَّوَوِيُّ
فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ. وَمُقْتَضَى مَا ذَكَرَهُ ابْنُ حَبِيبٍ الْمَالِكِيُّ
اسْتِحْبَابُ التَّوَضُّؤِ بِهِ. (٣) وَكَوْنُهُ مُبَارَكًا لاَ يَمْنَعُ
الْوُضُوءَ بِهِ، كَالْمَاءِ الَّذِي وَضَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَدَهُ فِيهِ. (٤)
35 — Tidak terdapat perbedaan pendapat yang معتبر mengenai bolehnya berwudu dan
mandi dengan air Zamzam bagi orang yang anggota tubuhnya dalam keadaan
suci. Bahkan, sebagian ulama secara tegas menyatakan bahwa hal tersebut dianjurkan.
Pendapat yang menyatakan makruh tidak dapat dijadikan pegangan dengan alasan
bahwa air Zamzam merupakan makanan, berdasarkan riwayat dari Rasulullah ﷺ yang bersabda:
“Air Zamzam adalah makanan...”
Dalil yang menunjukkan tidak adanya kemakruhan adalah riwayat bahwa Nabi
ﷺ meminta seember air Zamzam, kemudian
beliau meminumnya dan berwudu dengannya.
Al-Fāsī dari kalangan Malikiyah berkata:
“Bersuci dengan air Zamzam adalah sah berdasarkan ijmak,”
sebagaimana disebutkan oleh Al-Māwardī dalam Ḥāwī-nya dan An-Nawawī
dalam Syarḥ al-Muhadzdzab.
Adapun berdasarkan apa yang disebutkan oleh Ibnu Ḥabīb,
seorang ulama Malikiyah, maka hal tersebut menunjukkan dianjurkannya
berwudu dengan air Zamzam.
Dan statusnya sebagai air yang diberkahi tidak menghalangi
penggunaannya untuk berwudu, sebagaimana air yang pernah dicelupi
tangan Nabi ﷺ
ke dalamnya.
وَقَدْ صَرَّحَ
الشَّافِعِيَّةُ بِجَوَازِ اسْتِعْمَال مَاءِ زَمْزَمَ فِي الْحَدَثِ دُونَ
الْخَبَثِ. (٥) وَهُوَ مَا يُفِيدُهُ عُمُومُ قَوْل الْحَنَابِلَةِ: وَلاَ
يُكْرَهُ الْوُضُوءُ وَالْغُسْل بِمَاءِ زَمْزَمَ عَلَى مَا هُوَ الأَْوْلَى فِي
الْمَذْهَبِ. (٦) أَمَّا الْحَنَفِيَّةُ فَقَدْ صَرَّحُوا بِأَنَّهُ لاَ يَغْتَسِل
بِهِ جُنُبٌ وَلاَ مُحْدِثٌ. (٧) .
Ulama Syafi‘iyah secara tegas menyatakan bolehnya menggunakan air
Zamzam untuk bersuci dari hadas, tetapi tidak untuk menghilangkan najis
(khabats).
Hal ini juga tercakup dalam keumuman pendapat ulama Hanabilah: “Tidak
dimakruhkan berwudu dan mandi dengan air Zamzam,” dan inilah pendapat
yang lebih utama dalam mazhab.
Adapun ulama Hanafiyah, mereka secara tegas menyatakan bahwa orang
yang sedang junub maupun orang yang berhadas tidak boleh mandi dengan air
Zamzam.
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Ābid dalam Perspektif Fikih: Hewan Liar, Hewan Jinak yang Melarikan
Diri, Hukum Perburuan dan Penyembelihan, serta Status Kepemilikannya dan Luqaṭah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar