Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia
sering mencintai seseorang karena ada manfaat yang dapat diperoleh darinya. Ada
yang menghormati gurunya karena ingin mendapatkan ilmu, ada yang mendekati
orang kaya karena mengharapkan bantuan, bahkan ada pula yang menjalin hubungan
demi memperoleh kedudukan dan popularitas.
Apakah bentuk cinta seperti ini
termasuk cinta karena Allah?
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
tidak semua cinta yang tampak baik memiliki nilai ibadah. Beliau membedakan
antara mencintai seseorang sebagai tujuan utama dengan mencintainya sebagai
sarana untuk mencapai tujuan lain. Perbedaan inilah yang menjadi dasar dalam
memahami hakikat mahabbah fillah (cinta karena Allah).
Sumber
Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Tema : Cinta karena Manfaat dan Perbedaannya dengan Cinta karena
Allah
Teks Arab
القسم
الثاني أن يحبه لينال من ذاته غير ذاته ، فيكون وسيلة إلى محبوب غيره ، والوسيلة إلى المحبوب محبوب وما يجب لغيره
كان ذلك الغير هو المحبوب بالحقيقة .
ولكن
الطريق إلى المحبوب محبوب ولذلك أحب الناس الذهب والفضة ، ولا غرض فيهما إذ لا
يطعم ولا يلبس ، ولكنهما وسيلة إلى المحبوبات فمن الناس من يحب كما يحب الذهب
والفضة من حيث إنه وسيلة إلى المقصود إذ يتوصل به إلى نيل جاه أو مال أو علم كما
يحب الرجل سلطانا لانتفاعه بماله أو جاهه ويحب خواصه لتحسينهم حاله عنده وتمهيدهم
أمره في قلبه فالمتوسل ، إليه إن كان مقصور الفائدة على الدنيا لم يكن حبه من جملة
الحب في الله وإن لم يكن مقصور الفائدة على الدنيا ، ولكنه ليس يقصد به إلا الدنيا
كحب التلميذ لأستاذه ، فهو أيضا خارج عن الحب لله فإنه إنما يحبه ليحصل منه العلم
لنفسه فمحبوبه العلم ، فإذا كان لا يقصد العلم للتقرب إلى الله بل لينال به الجاه
والمال والقبول عند الخلق ، فمحبوبه الجاه والقبول ، والعلم وسيلة إليه ، والأستاذ
وسيلة إلى العلم فليس في شيء من ذلك حب لله إذ لا يتصور كل ذلك ممن لا يؤمن بالله
تعالى أصلا
.
Terjemahan Lengkap
Bagian kedua adalah seseorang
mencintai orang lain agar memperoleh sesuatu dari dirinya selain dirinya
sendiri. Dengan demikian, orang tersebut menjadi perantara untuk mencapai
sesuatu yang lain yang dicintai.
Sarana menuju sesuatu yang dicintai
juga ikut dicintai, sedangkan yang benar-benar dicintai pada hakikatnya adalah
tujuan akhirnya.
Karena itulah manusia mencintai emas
dan perak. Padahal keduanya tidak dapat dimakan dan tidak pula dipakai sebagai
pakaian. Namun keduanya dicintai karena menjadi sarana untuk memperoleh
berbagai hal yang diinginkan.
Demikian pula seseorang dapat
mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai emas dan perak, yaitu karena
orang tersebut menjadi jalan untuk mencapai kedudukan, harta, atau ilmu.
Seseorang mencintai seorang penguasa
karena berharap memperoleh harta atau kedudukannya. Ia juga mencintai
orang-orang dekat penguasa agar mereka memperbaiki citranya di hadapan sang
penguasa dan memudahkan urusannya.
Apabila manfaat yang diharapkan dari
perantara itu hanya terbatas pada urusan dunia, maka cinta tersebut tidak
termasuk cinta karena Allah.
Bahkan jika manfaatnya tidak hanya
berkaitan dengan dunia, tetapi tujuan akhirnya tetap semata-mata untuk
kepentingan dunia, seperti seorang murid mencintai gurunya karena ingin
memperoleh ilmu, maka cinta itu juga belum termasuk cinta karena Allah.
Sebab murid tersebut mencintai
gurunya hanya agar mendapatkan ilmu untuk dirinya sendiri. Yang sebenarnya ia
cintai adalah ilmu.
Apabila ilmu itu tidak diniatkan
untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi hanya untuk memperoleh kedudukan,
harta, atau penerimaan manusia, maka yang sebenarnya dicintainya adalah
kedudukan dan penghormatan manusia. Ilmu hanyalah sarana menuju tujuan
tersebut, sedangkan guru hanyalah sarana memperoleh ilmu.
Dengan demikian, tidak ada satu pun
dari bentuk cinta tersebut yang termasuk cinta karena Allah. Sebab semua itu
juga dapat dilakukan oleh orang yang sama sekali tidak beriman kepada Allah.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
nilai sebuah cinta ditentukan oleh tujuan akhirnya.
Beliau menggunakan contoh emas dan
perak. Orang mencintai emas bukan karena logam itu sendiri, melainkan karena
apa yang dapat dibeli dengannya.
Demikian pula seseorang dapat
mencintai orang lain bukan karena dirinya, tetapi karena manfaat yang
dimilikinya. Selama manfaat tersebut hanya berorientasi pada kepentingan dunia,
maka cinta itu masih bersifat duniawi dan belum termasuk ibadah.
Oleh sebab itu, Islam tidak hanya
melihat perbuatan lahiriah, tetapi juga memperhatikan niat yang tersembunyi di
dalam hati.
Artikel Pengembangan
1.
Hakikat Cinta Mengikuti Tujuan Akhir
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
dalam banyak keadaan, manusia sebenarnya tidak mencintai perantara, tetapi
mencintai tujuan yang berada di baliknya.
Seorang pegawai mungkin sangat
menghormati atasannya karena berharap kenaikan jabatan. Seorang pedagang
bersikap ramah kepada pelanggan demi keuntungan usaha. Selama hubungan itu
dibangun atas dasar manfaat semata, maka manfaat itulah yang menjadi objek
cinta sesungguhnya.
Karena itu, seorang muslim perlu
bertanya kepada dirinya sendiri: Apa tujuan utama dari cintaku kepada
seseorang?
2.
Guru yang Dicintai karena Dunia
Contoh yang diberikan Imam
Al-Ghazali sangat menarik.
Seorang murid mencintai gurunya
karena ingin memperoleh ilmu. Sekilas hal ini tampak mulia.
Namun apabila ilmu tersebut hanya
dijadikan alat untuk mengejar jabatan, kekayaan, atau pujian manusia, maka
cinta kepada guru itu belum bernilai sebagai cinta karena Allah.
Sebaliknya, apabila ilmu dipelajari
agar dapat mengamalkannya, menyebarkan kebaikan, dan mendekatkan diri kepada
Allah, maka hubungan antara murid dan guru memiliki dimensi ibadah.
3.
Niat Menentukan Nilai Amal
Dalam Islam, dua orang dapat
melakukan pekerjaan yang sama tetapi memperoleh nilai yang sangat berbeda di
sisi Allah.
Keduanya belajar kepada guru yang
sama.
- Yang pertama belajar agar dikenal sebagai orang pintar.
- Yang kedua belajar agar mampu mengajarkan agama dan
mencari ridha Allah.
Perbuatannya sama, tetapi tujuan
akhirnya berbeda. Karena itu, nilai cintanya pun berbeda.
4.
Bahaya Menjadikan Dunia sebagai Tujuan
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa
dunia boleh dijadikan sarana, tetapi tidak boleh menjadi tujuan tertinggi.
Ketika seluruh hubungan dibangun
hanya demi keuntungan pribadi, manusia akan mudah kecewa saat manfaat itu
hilang.
Sebaliknya, hubungan yang dibangun
karena Allah akan tetap bertahan meskipun tidak lagi menghasilkan keuntungan
dunia.
5.
Cinta karena Allah Bersifat Abadi
Hubungan yang dibangun atas dasar
iman tidak bergantung pada harta, jabatan, atau popularitas.
Seorang muslim tetap menghormati
gurunya meskipun gurunya telah pensiun.
Ia tetap mencintai sahabatnya
meskipun sahabat tersebut tidak lagi memiliki kekayaan.
Hal itu terjadi karena yang dicintai
bukan manfaat duniawinya, melainkan keimanan, ilmu, dan kebaikan yang ada pada
dirinya.
Inilah salah satu ciri cinta karena
Allah yang diajarkan dalam Islam.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali mengajak kita untuk
melakukan muhasabah terhadap seluruh hubungan yang kita miliki.
Apakah kita menghormati seseorang
karena kedekatannya dengan Allah, atau hanya karena kedudukannya?
Apakah kita mencintai guru karena
ilmunya yang membawa kepada hidayah, atau karena ilmu tersebut akan mengangkat
status sosial kita?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini
akan menunjukkan apakah cinta kita masih berpusat pada dunia atau sudah
mengarah kepada Allah.
Contoh
Seorang mahasiswa memilih dosen
pembimbing yang terkenal agar peluang memperoleh pekerjaan lebih besar setelah
lulus. Hubungan itu dibangun atas dasar manfaat duniawi.
Mahasiswa lain memilih dosen yang
dikenal saleh dan berilmu karena ingin memperoleh ilmu yang bermanfaat,
memperbaiki akhlak, serta mengamalkannya demi mencari ridha Allah.
Keduanya sama-sama menghormati
dosennya, tetapi tujuan akhirnya berbeda. Perbedaan niat tersebut menjadikan
nilai hubungan mereka di sisi Allah juga berbeda.
Contoh lain adalah seseorang yang
berteman dengan pengusaha hanya untuk memperoleh proyek bisnis. Selama
keuntungan menjadi tujuan utama, persahabatan itu bersifat transaksional. Namun
jika ia tetap menghormatinya karena keimanan dan akhlaknya meskipun tidak
mendapatkan keuntungan apa pun, maka hubungan itu lebih dekat kepada makna
cinta karena Allah.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
seseorang dapat mencintai orang lain hanya sebagai sarana untuk memperoleh
sesuatu yang lebih dicintainya. Dalam keadaan seperti itu, objek cinta yang
sebenarnya bukanlah orang tersebut, melainkan manfaat yang diperoleh darinya.
Cinta seperti ini tidak termasuk
cinta karena Allah apabila tujuan akhirnya hanya urusan dunia. Sebaliknya,
apabila seluruh hubungan diarahkan untuk mencari ridha Allah dan membantu
ketaatan kepada-Nya, maka cinta tersebut memiliki nilai ibadah yang tinggi.
Hikmah
- Nilai cinta ditentukan oleh tujuan akhirnya.
- Tidak semua hubungan yang tampak baik termasuk cinta
karena Allah.
- Niat menjadi penentu utama dalam setiap amal dan
hubungan.
- Ilmu yang dicari demi dunia tidak memiliki nilai
seperti ilmu yang dicari demi ridha Allah.
- Jadikan manusia sebagai jalan menuju ketaatan, bukan
sekadar alat mencapai keuntungan dunia.
- Hubungan yang dibangun karena Allah lebih kokoh dan
lebih kekal daripada hubungan yang dibangun atas dasar kepentingan.
Penutup
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa
hati manusia mudah tertipu oleh manfaat dunia. Seseorang dapat merasa sangat
mencintai orang lain, padahal yang ia cintai hanyalah keuntungan yang diperoleh
darinya. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya senantiasa meluruskan niat
dalam belajar, bersahabat, bekerja, dan bergaul. Ketika Allah menjadi tujuan
utama, maka seluruh hubungan akan bernilai ibadah, menghadirkan keberkahan di
dunia, serta menjadi bekal kebahagiaan di akhirat.
Baca Juga :
Hukum MencintaiKeindahan Menurut Imam Al-Ghazali: Antara Fitrah, Syahwat, dan Cinta karenaAllah
Cinta karena Allah
atau karena Dunia? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Perbedaan yang Sering Tidak
Disadari
Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia
sering mencintai seseorang karena ada manfaat yang dapat diperoleh darinya. Ada
yang menghormati gurunya karena ingin mendapatkan ilmu, ada yang mendekati
orang kaya karena mengharapkan bantuan, bahkan ada pula yang menjalin hubungan
demi memperoleh kedudukan dan popularitas.
Apakah bentuk cinta seperti ini
termasuk cinta karena Allah?
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
tidak semua cinta yang tampak baik memiliki nilai ibadah. Beliau membedakan
antara mencintai seseorang sebagai tujuan utama dengan mencintainya sebagai
sarana untuk mencapai tujuan lain. Perbedaan inilah yang menjadi dasar dalam
memahami hakikat mahabbah fillah (cinta karena Allah).
Sumber
Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2
Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali
Tema : Cinta karena Manfaat dan Perbedaannya dengan Cinta karena
Allah
Teks Arab
القسم
الثاني أن يحبه لينال من ذاته غير ذاته ، فيكون وسيلة إلى محبوب غيره ، والوسيلة إلى المحبوب محبوب وما يجب لغيره
كان ذلك الغير هو المحبوب بالحقيقة .
ولكن
الطريق إلى المحبوب محبوب ولذلك أحب الناس الذهب والفضة ، ولا غرض فيهما إذ لا
يطعم ولا يلبس ، ولكنهما وسيلة إلى المحبوبات فمن الناس من يحب كما يحب الذهب
والفضة من حيث إنه وسيلة إلى المقصود إذ يتوصل به إلى نيل جاه أو مال أو علم كما
يحب الرجل سلطانا لانتفاعه بماله أو جاهه ويحب خواصه لتحسينهم حاله عنده وتمهيدهم
أمره في قلبه فالمتوسل ، إليه إن كان مقصور الفائدة على الدنيا لم يكن حبه من جملة
الحب في الله وإن لم يكن مقصور الفائدة على الدنيا ، ولكنه ليس يقصد به إلا الدنيا
كحب التلميذ لأستاذه ، فهو أيضا خارج عن الحب لله فإنه إنما يحبه ليحصل منه العلم
لنفسه فمحبوبه العلم ، فإذا كان لا يقصد العلم للتقرب إلى الله بل لينال به الجاه
والمال والقبول عند الخلق ، فمحبوبه الجاه والقبول ، والعلم وسيلة إليه ، والأستاذ
وسيلة إلى العلم فليس في شيء من ذلك حب لله إذ لا يتصور كل ذلك ممن لا يؤمن بالله
تعالى أصلا
.
Terjemahan Lengkap
Bagian kedua adalah seseorang
mencintai orang lain agar memperoleh sesuatu dari dirinya selain dirinya
sendiri. Dengan demikian, orang tersebut menjadi perantara untuk mencapai
sesuatu yang lain yang dicintai.
Sarana menuju sesuatu yang dicintai
juga ikut dicintai, sedangkan yang benar-benar dicintai pada hakikatnya adalah
tujuan akhirnya.
Karena itulah manusia mencintai emas
dan perak. Padahal keduanya tidak dapat dimakan dan tidak pula dipakai sebagai
pakaian. Namun keduanya dicintai karena menjadi sarana untuk memperoleh
berbagai hal yang diinginkan.
Demikian pula seseorang dapat
mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai emas dan perak, yaitu karena
orang tersebut menjadi jalan untuk mencapai kedudukan, harta, atau ilmu.
Seseorang mencintai seorang penguasa
karena berharap memperoleh harta atau kedudukannya. Ia juga mencintai
orang-orang dekat penguasa agar mereka memperbaiki citranya di hadapan sang
penguasa dan memudahkan urusannya.
Apabila manfaat yang diharapkan dari
perantara itu hanya terbatas pada urusan dunia, maka cinta tersebut tidak
termasuk cinta karena Allah.
Bahkan jika manfaatnya tidak hanya
berkaitan dengan dunia, tetapi tujuan akhirnya tetap semata-mata untuk
kepentingan dunia, seperti seorang murid mencintai gurunya karena ingin
memperoleh ilmu, maka cinta itu juga belum termasuk cinta karena Allah.
Sebab murid tersebut mencintai
gurunya hanya agar mendapatkan ilmu untuk dirinya sendiri. Yang sebenarnya ia
cintai adalah ilmu.
Apabila ilmu itu tidak diniatkan
untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi hanya untuk memperoleh kedudukan,
harta, atau penerimaan manusia, maka yang sebenarnya dicintainya adalah
kedudukan dan penghormatan manusia. Ilmu hanyalah sarana menuju tujuan
tersebut, sedangkan guru hanyalah sarana memperoleh ilmu.
Dengan demikian, tidak ada satu pun
dari bentuk cinta tersebut yang termasuk cinta karena Allah. Sebab semua itu
juga dapat dilakukan oleh orang yang sama sekali tidak beriman kepada Allah.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa
nilai sebuah cinta ditentukan oleh tujuan akhirnya.
Beliau menggunakan contoh emas dan
perak. Orang mencintai emas bukan karena logam itu sendiri, melainkan karena
apa yang dapat dibeli dengannya.
Demikian pula seseorang dapat
mencintai orang lain bukan karena dirinya, tetapi karena manfaat yang
dimilikinya. Selama manfaat tersebut hanya berorientasi pada kepentingan dunia,
maka cinta itu masih bersifat duniawi dan belum termasuk ibadah.
Oleh sebab itu, Islam tidak hanya
melihat perbuatan lahiriah, tetapi juga memperhatikan niat yang tersembunyi di
dalam hati.
Artikel Pengembangan
1.
Hakikat Cinta Mengikuti Tujuan Akhir
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
dalam banyak keadaan, manusia sebenarnya tidak mencintai perantara, tetapi
mencintai tujuan yang berada di baliknya.
Seorang pegawai mungkin sangat
menghormati atasannya karena berharap kenaikan jabatan. Seorang pedagang
bersikap ramah kepada pelanggan demi keuntungan usaha. Selama hubungan itu
dibangun atas dasar manfaat semata, maka manfaat itulah yang menjadi objek
cinta sesungguhnya.
Karena itu, seorang muslim perlu
bertanya kepada dirinya sendiri: Apa tujuan utama dari cintaku kepada
seseorang?
2.
Guru yang Dicintai karena Dunia
Contoh yang diberikan Imam
Al-Ghazali sangat menarik.
Seorang murid mencintai gurunya
karena ingin memperoleh ilmu. Sekilas hal ini tampak mulia.
Namun apabila ilmu tersebut hanya
dijadikan alat untuk mengejar jabatan, kekayaan, atau pujian manusia, maka
cinta kepada guru itu belum bernilai sebagai cinta karena Allah.
Sebaliknya, apabila ilmu dipelajari
agar dapat mengamalkannya, menyebarkan kebaikan, dan mendekatkan diri kepada
Allah, maka hubungan antara murid dan guru memiliki dimensi ibadah.
3.
Niat Menentukan Nilai Amal
Dalam Islam, dua orang dapat
melakukan pekerjaan yang sama tetapi memperoleh nilai yang sangat berbeda di
sisi Allah.
Keduanya belajar kepada guru yang
sama.
- Yang pertama belajar agar dikenal sebagai orang pintar.
- Yang kedua belajar agar mampu mengajarkan agama dan
mencari ridha Allah.
Perbuatannya sama, tetapi tujuan
akhirnya berbeda. Karena itu, nilai cintanya pun berbeda.
4.
Bahaya Menjadikan Dunia sebagai Tujuan
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa
dunia boleh dijadikan sarana, tetapi tidak boleh menjadi tujuan tertinggi.
Ketika seluruh hubungan dibangun
hanya demi keuntungan pribadi, manusia akan mudah kecewa saat manfaat itu
hilang.
Sebaliknya, hubungan yang dibangun
karena Allah akan tetap bertahan meskipun tidak lagi menghasilkan keuntungan
dunia.
5.
Cinta karena Allah Bersifat Abadi
Hubungan yang dibangun atas dasar
iman tidak bergantung pada harta, jabatan, atau popularitas.
Seorang muslim tetap menghormati
gurunya meskipun gurunya telah pensiun.
Ia tetap mencintai sahabatnya
meskipun sahabat tersebut tidak lagi memiliki kekayaan.
Hal itu terjadi karena yang dicintai
bukan manfaat duniawinya, melainkan keimanan, ilmu, dan kebaikan yang ada pada
dirinya.
Inilah salah satu ciri cinta karena
Allah yang diajarkan dalam Islam.
Penjelasan
Imam Al-Ghazali mengajak kita untuk
melakukan muhasabah terhadap seluruh hubungan yang kita miliki.
Apakah kita menghormati seseorang
karena kedekatannya dengan Allah, atau hanya karena kedudukannya?
Apakah kita mencintai guru karena
ilmunya yang membawa kepada hidayah, atau karena ilmu tersebut akan mengangkat
status sosial kita?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini
akan menunjukkan apakah cinta kita masih berpusat pada dunia atau sudah
mengarah kepada Allah.
Contoh
Seorang mahasiswa memilih dosen
pembimbing yang terkenal agar peluang memperoleh pekerjaan lebih besar setelah
lulus. Hubungan itu dibangun atas dasar manfaat duniawi.
Mahasiswa lain memilih dosen yang
dikenal saleh dan berilmu karena ingin memperoleh ilmu yang bermanfaat,
memperbaiki akhlak, serta mengamalkannya demi mencari ridha Allah.
Keduanya sama-sama menghormati
dosennya, tetapi tujuan akhirnya berbeda. Perbedaan niat tersebut menjadikan
nilai hubungan mereka di sisi Allah juga berbeda.
Contoh lain adalah seseorang yang
berteman dengan pengusaha hanya untuk memperoleh proyek bisnis. Selama
keuntungan menjadi tujuan utama, persahabatan itu bersifat transaksional. Namun
jika ia tetap menghormatinya karena keimanan dan akhlaknya meskipun tidak
mendapatkan keuntungan apa pun, maka hubungan itu lebih dekat kepada makna
cinta karena Allah.
Kesimpulan
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa
seseorang dapat mencintai orang lain hanya sebagai sarana untuk memperoleh
sesuatu yang lebih dicintainya. Dalam keadaan seperti itu, objek cinta yang
sebenarnya bukanlah orang tersebut, melainkan manfaat yang diperoleh darinya.
Cinta seperti ini tidak termasuk
cinta karena Allah apabila tujuan akhirnya hanya urusan dunia. Sebaliknya,
apabila seluruh hubungan diarahkan untuk mencari ridha Allah dan membantu
ketaatan kepada-Nya, maka cinta tersebut memiliki nilai ibadah yang tinggi.
Hikmah
- Nilai cinta ditentukan oleh tujuan akhirnya.
- Tidak semua hubungan yang tampak baik termasuk cinta
karena Allah.
- Niat menjadi penentu utama dalam setiap amal dan
hubungan.
- Ilmu yang dicari demi dunia tidak memiliki nilai
seperti ilmu yang dicari demi ridha Allah.
- Jadikan manusia sebagai jalan menuju ketaatan, bukan
sekadar alat mencapai keuntungan dunia.
- Hubungan yang dibangun karena Allah lebih kokoh dan
lebih kekal daripada hubungan yang dibangun atas dasar kepentingan.
Penutup
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa
hati manusia mudah tertipu oleh manfaat dunia. Seseorang dapat merasa sangat
mencintai orang lain, padahal yang ia cintai hanyalah keuntungan yang diperoleh
darinya. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya senantiasa meluruskan niat
dalam belajar, bersahabat, bekerja, dan bergaul. Ketika Allah menjadi tujuan
utama, maka seluruh hubungan akan bernilai ibadah, menghadirkan keberkahan di
dunia, serta menjadi bekal kebahagiaan di akhirat.
Baca Juga :
Hukum MencintaiKeindahan Menurut Imam Al-Ghazali: Antara Fitrah, Syahwat, dan Cinta karenaAllah
Cinta karena Allah
atau karena Dunia? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Perbedaan yang Sering Tidak
Disadari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar