Cinta karena Manfaat Bukan Cinta karena Allah: Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Hakikat Cinta dalam Islam (02/05/23)

Mengapa mencintai seseorang karena manfaat belum tentu termasuk cinta karena Allah? Simak penjelasan Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin

Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering mencintai seseorang karena ada manfaat yang dapat diperoleh darinya. Ada yang menghormati gurunya karena ingin mendapatkan ilmu, ada yang mendekati orang kaya karena mengharapkan bantuan, bahkan ada pula yang menjalin hubungan demi memperoleh kedudukan dan popularitas.

Apakah bentuk cinta seperti ini termasuk cinta karena Allah?

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tidak semua cinta yang tampak baik memiliki nilai ibadah. Beliau membedakan antara mencintai seseorang sebagai tujuan utama dengan mencintainya sebagai sarana untuk mencapai tujuan lain. Perbedaan inilah yang menjadi dasar dalam memahami hakikat mahabbah fillah (cinta karena Allah).

Sumber

Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2

Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali

Tema : Cinta karena Manfaat dan Perbedaannya dengan Cinta karena Allah

Teks Arab

القسم الثاني أن يحبه لينال من ذاته غير ذاته ، فيكون وسيلة إلى محبوب غيره  ، والوسيلة إلى المحبوب محبوب وما يجب لغيره كان ذلك الغير هو المحبوب بالحقيقة .

ولكن الطريق إلى المحبوب محبوب ولذلك أحب الناس الذهب والفضة ، ولا غرض فيهما إذ لا يطعم ولا يلبس ، ولكنهما وسيلة إلى المحبوبات فمن الناس من يحب كما يحب الذهب والفضة من حيث إنه وسيلة إلى المقصود إذ يتوصل به إلى نيل جاه أو مال أو علم كما يحب الرجل سلطانا لانتفاعه بماله أو جاهه ويحب خواصه لتحسينهم حاله عنده وتمهيدهم أمره في قلبه فالمتوسل ، إليه إن كان مقصور الفائدة على الدنيا لم يكن حبه من جملة الحب في الله وإن لم يكن مقصور الفائدة على الدنيا ، ولكنه ليس يقصد به إلا الدنيا كحب التلميذ لأستاذه ، فهو أيضا خارج عن الحب لله فإنه إنما يحبه ليحصل منه العلم لنفسه فمحبوبه العلم ، فإذا كان لا يقصد العلم للتقرب إلى الله بل لينال به الجاه والمال والقبول عند الخلق ، فمحبوبه الجاه والقبول ، والعلم وسيلة إليه ، والأستاذ وسيلة إلى العلم فليس في شيء من ذلك حب لله إذ لا يتصور كل ذلك ممن لا يؤمن بالله تعالى أصلا .

Terjemahan Lengkap

Bagian kedua adalah seseorang mencintai orang lain agar memperoleh sesuatu dari dirinya selain dirinya sendiri. Dengan demikian, orang tersebut menjadi perantara untuk mencapai sesuatu yang lain yang dicintai.

Sarana menuju sesuatu yang dicintai juga ikut dicintai, sedangkan yang benar-benar dicintai pada hakikatnya adalah tujuan akhirnya.

Karena itulah manusia mencintai emas dan perak. Padahal keduanya tidak dapat dimakan dan tidak pula dipakai sebagai pakaian. Namun keduanya dicintai karena menjadi sarana untuk memperoleh berbagai hal yang diinginkan.

Demikian pula seseorang dapat mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai emas dan perak, yaitu karena orang tersebut menjadi jalan untuk mencapai kedudukan, harta, atau ilmu.

Seseorang mencintai seorang penguasa karena berharap memperoleh harta atau kedudukannya. Ia juga mencintai orang-orang dekat penguasa agar mereka memperbaiki citranya di hadapan sang penguasa dan memudahkan urusannya.

Apabila manfaat yang diharapkan dari perantara itu hanya terbatas pada urusan dunia, maka cinta tersebut tidak termasuk cinta karena Allah.

Bahkan jika manfaatnya tidak hanya berkaitan dengan dunia, tetapi tujuan akhirnya tetap semata-mata untuk kepentingan dunia, seperti seorang murid mencintai gurunya karena ingin memperoleh ilmu, maka cinta itu juga belum termasuk cinta karena Allah.

Sebab murid tersebut mencintai gurunya hanya agar mendapatkan ilmu untuk dirinya sendiri. Yang sebenarnya ia cintai adalah ilmu.

Apabila ilmu itu tidak diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi hanya untuk memperoleh kedudukan, harta, atau penerimaan manusia, maka yang sebenarnya dicintainya adalah kedudukan dan penghormatan manusia. Ilmu hanyalah sarana menuju tujuan tersebut, sedangkan guru hanyalah sarana memperoleh ilmu.

Dengan demikian, tidak ada satu pun dari bentuk cinta tersebut yang termasuk cinta karena Allah. Sebab semua itu juga dapat dilakukan oleh orang yang sama sekali tidak beriman kepada Allah.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa nilai sebuah cinta ditentukan oleh tujuan akhirnya.

Beliau menggunakan contoh emas dan perak. Orang mencintai emas bukan karena logam itu sendiri, melainkan karena apa yang dapat dibeli dengannya.

Demikian pula seseorang dapat mencintai orang lain bukan karena dirinya, tetapi karena manfaat yang dimilikinya. Selama manfaat tersebut hanya berorientasi pada kepentingan dunia, maka cinta itu masih bersifat duniawi dan belum termasuk ibadah.

Oleh sebab itu, Islam tidak hanya melihat perbuatan lahiriah, tetapi juga memperhatikan niat yang tersembunyi di dalam hati.

Artikel Pengembangan

1. Hakikat Cinta Mengikuti Tujuan Akhir

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa dalam banyak keadaan, manusia sebenarnya tidak mencintai perantara, tetapi mencintai tujuan yang berada di baliknya.

Seorang pegawai mungkin sangat menghormati atasannya karena berharap kenaikan jabatan. Seorang pedagang bersikap ramah kepada pelanggan demi keuntungan usaha. Selama hubungan itu dibangun atas dasar manfaat semata, maka manfaat itulah yang menjadi objek cinta sesungguhnya.

Karena itu, seorang muslim perlu bertanya kepada dirinya sendiri: Apa tujuan utama dari cintaku kepada seseorang?

2. Guru yang Dicintai karena Dunia

Contoh yang diberikan Imam Al-Ghazali sangat menarik.

Seorang murid mencintai gurunya karena ingin memperoleh ilmu. Sekilas hal ini tampak mulia.

Namun apabila ilmu tersebut hanya dijadikan alat untuk mengejar jabatan, kekayaan, atau pujian manusia, maka cinta kepada guru itu belum bernilai sebagai cinta karena Allah.

Sebaliknya, apabila ilmu dipelajari agar dapat mengamalkannya, menyebarkan kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Allah, maka hubungan antara murid dan guru memiliki dimensi ibadah.

3. Niat Menentukan Nilai Amal

Dalam Islam, dua orang dapat melakukan pekerjaan yang sama tetapi memperoleh nilai yang sangat berbeda di sisi Allah.

Keduanya belajar kepada guru yang sama.

  • Yang pertama belajar agar dikenal sebagai orang pintar.
  • Yang kedua belajar agar mampu mengajarkan agama dan mencari ridha Allah.

Perbuatannya sama, tetapi tujuan akhirnya berbeda. Karena itu, nilai cintanya pun berbeda.

4. Bahaya Menjadikan Dunia sebagai Tujuan

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa dunia boleh dijadikan sarana, tetapi tidak boleh menjadi tujuan tertinggi.

Ketika seluruh hubungan dibangun hanya demi keuntungan pribadi, manusia akan mudah kecewa saat manfaat itu hilang.

Sebaliknya, hubungan yang dibangun karena Allah akan tetap bertahan meskipun tidak lagi menghasilkan keuntungan dunia.

5. Cinta karena Allah Bersifat Abadi

Hubungan yang dibangun atas dasar iman tidak bergantung pada harta, jabatan, atau popularitas.

Seorang muslim tetap menghormati gurunya meskipun gurunya telah pensiun.

Ia tetap mencintai sahabatnya meskipun sahabat tersebut tidak lagi memiliki kekayaan.

Hal itu terjadi karena yang dicintai bukan manfaat duniawinya, melainkan keimanan, ilmu, dan kebaikan yang ada pada dirinya.

Inilah salah satu ciri cinta karena Allah yang diajarkan dalam Islam.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali mengajak kita untuk melakukan muhasabah terhadap seluruh hubungan yang kita miliki.

Apakah kita menghormati seseorang karena kedekatannya dengan Allah, atau hanya karena kedudukannya?

Apakah kita mencintai guru karena ilmunya yang membawa kepada hidayah, atau karena ilmu tersebut akan mengangkat status sosial kita?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menunjukkan apakah cinta kita masih berpusat pada dunia atau sudah mengarah kepada Allah.

Contoh

Seorang mahasiswa memilih dosen pembimbing yang terkenal agar peluang memperoleh pekerjaan lebih besar setelah lulus. Hubungan itu dibangun atas dasar manfaat duniawi.

Mahasiswa lain memilih dosen yang dikenal saleh dan berilmu karena ingin memperoleh ilmu yang bermanfaat, memperbaiki akhlak, serta mengamalkannya demi mencari ridha Allah.

Keduanya sama-sama menghormati dosennya, tetapi tujuan akhirnya berbeda. Perbedaan niat tersebut menjadikan nilai hubungan mereka di sisi Allah juga berbeda.

Contoh lain adalah seseorang yang berteman dengan pengusaha hanya untuk memperoleh proyek bisnis. Selama keuntungan menjadi tujuan utama, persahabatan itu bersifat transaksional. Namun jika ia tetap menghormatinya karena keimanan dan akhlaknya meskipun tidak mendapatkan keuntungan apa pun, maka hubungan itu lebih dekat kepada makna cinta karena Allah.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa seseorang dapat mencintai orang lain hanya sebagai sarana untuk memperoleh sesuatu yang lebih dicintainya. Dalam keadaan seperti itu, objek cinta yang sebenarnya bukanlah orang tersebut, melainkan manfaat yang diperoleh darinya.

Cinta seperti ini tidak termasuk cinta karena Allah apabila tujuan akhirnya hanya urusan dunia. Sebaliknya, apabila seluruh hubungan diarahkan untuk mencari ridha Allah dan membantu ketaatan kepada-Nya, maka cinta tersebut memiliki nilai ibadah yang tinggi.

Hikmah

  • Nilai cinta ditentukan oleh tujuan akhirnya.
  • Tidak semua hubungan yang tampak baik termasuk cinta karena Allah.
  • Niat menjadi penentu utama dalam setiap amal dan hubungan.
  • Ilmu yang dicari demi dunia tidak memiliki nilai seperti ilmu yang dicari demi ridha Allah.
  • Jadikan manusia sebagai jalan menuju ketaatan, bukan sekadar alat mencapai keuntungan dunia.
  • Hubungan yang dibangun karena Allah lebih kokoh dan lebih kekal daripada hubungan yang dibangun atas dasar kepentingan.

Penutup

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa hati manusia mudah tertipu oleh manfaat dunia. Seseorang dapat merasa sangat mencintai orang lain, padahal yang ia cintai hanyalah keuntungan yang diperoleh darinya. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya senantiasa meluruskan niat dalam belajar, bersahabat, bekerja, dan bergaul. Ketika Allah menjadi tujuan utama, maka seluruh hubungan akan bernilai ibadah, menghadirkan keberkahan di dunia, serta menjadi bekal kebahagiaan di akhirat.

Baca Juga :

Hukum MencintaiKeindahan Menurut Imam Al-Ghazali: Antara Fitrah, Syahwat, dan Cinta karenaAllah

Mengapa Kita MudahNyaman dengan Orang Tertentu? Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang KesesuaianJiwa dan Akhlak

Cinta karena Allah atau karena Dunia? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Perbedaan yang Sering Tidak Disadari

Mengapa mencintai seseorang karena manfaat belum tentu termasuk cinta karena Allah? Simak penjelasan Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin

Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering mencintai seseorang karena ada manfaat yang dapat diperoleh darinya. Ada yang menghormati gurunya karena ingin mendapatkan ilmu, ada yang mendekati orang kaya karena mengharapkan bantuan, bahkan ada pula yang menjalin hubungan demi memperoleh kedudukan dan popularitas.

Apakah bentuk cinta seperti ini termasuk cinta karena Allah?

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tidak semua cinta yang tampak baik memiliki nilai ibadah. Beliau membedakan antara mencintai seseorang sebagai tujuan utama dengan mencintainya sebagai sarana untuk mencapai tujuan lain. Perbedaan inilah yang menjadi dasar dalam memahami hakikat mahabbah fillah (cinta karena Allah).

Sumber

Kitab : Ihya' Ulumiddin Juz : 2

Pengarang : Imam Abu Hamid Al-Ghazali

Tema : Cinta karena Manfaat dan Perbedaannya dengan Cinta karena Allah

Teks Arab

القسم الثاني أن يحبه لينال من ذاته غير ذاته ، فيكون وسيلة إلى محبوب غيره  ، والوسيلة إلى المحبوب محبوب وما يجب لغيره كان ذلك الغير هو المحبوب بالحقيقة .

ولكن الطريق إلى المحبوب محبوب ولذلك أحب الناس الذهب والفضة ، ولا غرض فيهما إذ لا يطعم ولا يلبس ، ولكنهما وسيلة إلى المحبوبات فمن الناس من يحب كما يحب الذهب والفضة من حيث إنه وسيلة إلى المقصود إذ يتوصل به إلى نيل جاه أو مال أو علم كما يحب الرجل سلطانا لانتفاعه بماله أو جاهه ويحب خواصه لتحسينهم حاله عنده وتمهيدهم أمره في قلبه فالمتوسل ، إليه إن كان مقصور الفائدة على الدنيا لم يكن حبه من جملة الحب في الله وإن لم يكن مقصور الفائدة على الدنيا ، ولكنه ليس يقصد به إلا الدنيا كحب التلميذ لأستاذه ، فهو أيضا خارج عن الحب لله فإنه إنما يحبه ليحصل منه العلم لنفسه فمحبوبه العلم ، فإذا كان لا يقصد العلم للتقرب إلى الله بل لينال به الجاه والمال والقبول عند الخلق ، فمحبوبه الجاه والقبول ، والعلم وسيلة إليه ، والأستاذ وسيلة إلى العلم فليس في شيء من ذلك حب لله إذ لا يتصور كل ذلك ممن لا يؤمن بالله تعالى أصلا .

Terjemahan Lengkap

Bagian kedua adalah seseorang mencintai orang lain agar memperoleh sesuatu dari dirinya selain dirinya sendiri. Dengan demikian, orang tersebut menjadi perantara untuk mencapai sesuatu yang lain yang dicintai.

Sarana menuju sesuatu yang dicintai juga ikut dicintai, sedangkan yang benar-benar dicintai pada hakikatnya adalah tujuan akhirnya.

Karena itulah manusia mencintai emas dan perak. Padahal keduanya tidak dapat dimakan dan tidak pula dipakai sebagai pakaian. Namun keduanya dicintai karena menjadi sarana untuk memperoleh berbagai hal yang diinginkan.

Demikian pula seseorang dapat mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai emas dan perak, yaitu karena orang tersebut menjadi jalan untuk mencapai kedudukan, harta, atau ilmu.

Seseorang mencintai seorang penguasa karena berharap memperoleh harta atau kedudukannya. Ia juga mencintai orang-orang dekat penguasa agar mereka memperbaiki citranya di hadapan sang penguasa dan memudahkan urusannya.

Apabila manfaat yang diharapkan dari perantara itu hanya terbatas pada urusan dunia, maka cinta tersebut tidak termasuk cinta karena Allah.

Bahkan jika manfaatnya tidak hanya berkaitan dengan dunia, tetapi tujuan akhirnya tetap semata-mata untuk kepentingan dunia, seperti seorang murid mencintai gurunya karena ingin memperoleh ilmu, maka cinta itu juga belum termasuk cinta karena Allah.

Sebab murid tersebut mencintai gurunya hanya agar mendapatkan ilmu untuk dirinya sendiri. Yang sebenarnya ia cintai adalah ilmu.

Apabila ilmu itu tidak diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi hanya untuk memperoleh kedudukan, harta, atau penerimaan manusia, maka yang sebenarnya dicintainya adalah kedudukan dan penghormatan manusia. Ilmu hanyalah sarana menuju tujuan tersebut, sedangkan guru hanyalah sarana memperoleh ilmu.

Dengan demikian, tidak ada satu pun dari bentuk cinta tersebut yang termasuk cinta karena Allah. Sebab semua itu juga dapat dilakukan oleh orang yang sama sekali tidak beriman kepada Allah.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa nilai sebuah cinta ditentukan oleh tujuan akhirnya.

Beliau menggunakan contoh emas dan perak. Orang mencintai emas bukan karena logam itu sendiri, melainkan karena apa yang dapat dibeli dengannya.

Demikian pula seseorang dapat mencintai orang lain bukan karena dirinya, tetapi karena manfaat yang dimilikinya. Selama manfaat tersebut hanya berorientasi pada kepentingan dunia, maka cinta itu masih bersifat duniawi dan belum termasuk ibadah.

Oleh sebab itu, Islam tidak hanya melihat perbuatan lahiriah, tetapi juga memperhatikan niat yang tersembunyi di dalam hati.

Artikel Pengembangan

1. Hakikat Cinta Mengikuti Tujuan Akhir

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa dalam banyak keadaan, manusia sebenarnya tidak mencintai perantara, tetapi mencintai tujuan yang berada di baliknya.

Seorang pegawai mungkin sangat menghormati atasannya karena berharap kenaikan jabatan. Seorang pedagang bersikap ramah kepada pelanggan demi keuntungan usaha. Selama hubungan itu dibangun atas dasar manfaat semata, maka manfaat itulah yang menjadi objek cinta sesungguhnya.

Karena itu, seorang muslim perlu bertanya kepada dirinya sendiri: Apa tujuan utama dari cintaku kepada seseorang?

2. Guru yang Dicintai karena Dunia

Contoh yang diberikan Imam Al-Ghazali sangat menarik.

Seorang murid mencintai gurunya karena ingin memperoleh ilmu. Sekilas hal ini tampak mulia.

Namun apabila ilmu tersebut hanya dijadikan alat untuk mengejar jabatan, kekayaan, atau pujian manusia, maka cinta kepada guru itu belum bernilai sebagai cinta karena Allah.

Sebaliknya, apabila ilmu dipelajari agar dapat mengamalkannya, menyebarkan kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Allah, maka hubungan antara murid dan guru memiliki dimensi ibadah.

3. Niat Menentukan Nilai Amal

Dalam Islam, dua orang dapat melakukan pekerjaan yang sama tetapi memperoleh nilai yang sangat berbeda di sisi Allah.

Keduanya belajar kepada guru yang sama.

  • Yang pertama belajar agar dikenal sebagai orang pintar.
  • Yang kedua belajar agar mampu mengajarkan agama dan mencari ridha Allah.

Perbuatannya sama, tetapi tujuan akhirnya berbeda. Karena itu, nilai cintanya pun berbeda.

4. Bahaya Menjadikan Dunia sebagai Tujuan

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa dunia boleh dijadikan sarana, tetapi tidak boleh menjadi tujuan tertinggi.

Ketika seluruh hubungan dibangun hanya demi keuntungan pribadi, manusia akan mudah kecewa saat manfaat itu hilang.

Sebaliknya, hubungan yang dibangun karena Allah akan tetap bertahan meskipun tidak lagi menghasilkan keuntungan dunia.

5. Cinta karena Allah Bersifat Abadi

Hubungan yang dibangun atas dasar iman tidak bergantung pada harta, jabatan, atau popularitas.

Seorang muslim tetap menghormati gurunya meskipun gurunya telah pensiun.

Ia tetap mencintai sahabatnya meskipun sahabat tersebut tidak lagi memiliki kekayaan.

Hal itu terjadi karena yang dicintai bukan manfaat duniawinya, melainkan keimanan, ilmu, dan kebaikan yang ada pada dirinya.

Inilah salah satu ciri cinta karena Allah yang diajarkan dalam Islam.

Penjelasan

Imam Al-Ghazali mengajak kita untuk melakukan muhasabah terhadap seluruh hubungan yang kita miliki.

Apakah kita menghormati seseorang karena kedekatannya dengan Allah, atau hanya karena kedudukannya?

Apakah kita mencintai guru karena ilmunya yang membawa kepada hidayah, atau karena ilmu tersebut akan mengangkat status sosial kita?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menunjukkan apakah cinta kita masih berpusat pada dunia atau sudah mengarah kepada Allah.

Contoh

Seorang mahasiswa memilih dosen pembimbing yang terkenal agar peluang memperoleh pekerjaan lebih besar setelah lulus. Hubungan itu dibangun atas dasar manfaat duniawi.

Mahasiswa lain memilih dosen yang dikenal saleh dan berilmu karena ingin memperoleh ilmu yang bermanfaat, memperbaiki akhlak, serta mengamalkannya demi mencari ridha Allah.

Keduanya sama-sama menghormati dosennya, tetapi tujuan akhirnya berbeda. Perbedaan niat tersebut menjadikan nilai hubungan mereka di sisi Allah juga berbeda.

Contoh lain adalah seseorang yang berteman dengan pengusaha hanya untuk memperoleh proyek bisnis. Selama keuntungan menjadi tujuan utama, persahabatan itu bersifat transaksional. Namun jika ia tetap menghormatinya karena keimanan dan akhlaknya meskipun tidak mendapatkan keuntungan apa pun, maka hubungan itu lebih dekat kepada makna cinta karena Allah.

Kesimpulan

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa seseorang dapat mencintai orang lain hanya sebagai sarana untuk memperoleh sesuatu yang lebih dicintainya. Dalam keadaan seperti itu, objek cinta yang sebenarnya bukanlah orang tersebut, melainkan manfaat yang diperoleh darinya.

Cinta seperti ini tidak termasuk cinta karena Allah apabila tujuan akhirnya hanya urusan dunia. Sebaliknya, apabila seluruh hubungan diarahkan untuk mencari ridha Allah dan membantu ketaatan kepada-Nya, maka cinta tersebut memiliki nilai ibadah yang tinggi.

Hikmah

  • Nilai cinta ditentukan oleh tujuan akhirnya.
  • Tidak semua hubungan yang tampak baik termasuk cinta karena Allah.
  • Niat menjadi penentu utama dalam setiap amal dan hubungan.
  • Ilmu yang dicari demi dunia tidak memiliki nilai seperti ilmu yang dicari demi ridha Allah.
  • Jadikan manusia sebagai jalan menuju ketaatan, bukan sekadar alat mencapai keuntungan dunia.
  • Hubungan yang dibangun karena Allah lebih kokoh dan lebih kekal daripada hubungan yang dibangun atas dasar kepentingan.

Penutup

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa hati manusia mudah tertipu oleh manfaat dunia. Seseorang dapat merasa sangat mencintai orang lain, padahal yang ia cintai hanyalah keuntungan yang diperoleh darinya. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya senantiasa meluruskan niat dalam belajar, bersahabat, bekerja, dan bergaul. Ketika Allah menjadi tujuan utama, maka seluruh hubungan akan bernilai ibadah, menghadirkan keberkahan di dunia, serta menjadi bekal kebahagiaan di akhirat.

Baca Juga :

Hukum MencintaiKeindahan Menurut Imam Al-Ghazali: Antara Fitrah, Syahwat, dan Cinta karenaAllah

Mengapa Kita MudahNyaman dengan Orang Tertentu? Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang KesesuaianJiwa dan Akhlak

Cinta karena Allah atau karena Dunia? Imam Al-Ghazali Menjelaskan Perbedaan yang Sering Tidak Disadari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Cinta karena Manfaat Bukan Cinta karena Allah: Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Hakikat Cinta dalam Islam (02/05/23)

Pendahuluan Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering mencintai seseorang karena ada manfaat yang dapat diperoleh darinya. Ada yang me...

Interstisial : Kotak Cahaya : Pop : Dorongan Asli :