آجُرّ
Ājur
التَّعْرِيفُ:
Definisi:
١ - الآْجُرُّ لُغَةً: الطِّينُ
الْمَطْبُوخُ. (١) وَلاَ يَخْرُجُ اسْتِعْمَال الْفُقَهَاءِ عَنْ ذَلِكَ؛ إِذْ
قَالُوا: هُوَ اللَّبِنُ الْمُحَرَّقُ. (٢)
1 — Ājur secara bahasa berarti tanah liat
yang dibakar. Penggunaan istilah ini di kalangan fuqaha juga tidak
keluar dari makna tersebut. Mereka mengatakan bahwa ājur adalah batu
bata yang dibakar.
الأَلْفَاظُ ذَاتُ الصِّلَةِ:
Istilah-Istilah
yang Berkaitan:
٢ - الآْجُرُّ يُخَالِفُ الْحَجَرَ
وَالرَّمْل فِي أَنَّهُ خَرَجَ عَنْ أَصْلِهِ بِالطَّبْخِ وَالصَّنْعَةِ،
بِخِلاَفِهِمَا. وَيُخَالِفُ الْجِصَّ وَالْجِبْسَ أَيْضًا إِذْ هُمَا حَجَرٌ
مُحَرَّقٌ. (٣)
2 — Ājur berbeda dari batu
dan pasir, karena ia telah mengalami perubahan dari bentuk
asalnya melalui proses pembakaran dan pengolahan, berbeda
dengan keduanya.
Ājur juga berbeda dari jiss dan jibs,
karena keduanya merupakan batu yang dibakar.
الْحُكْمُ الإِجْمَالِيُّ وَمَوَاطِنُ الْبَحْثِ:
Hukum
Secara Umum dan Pokok-Pokok Pembahasan:
٣ - لاَ يَصِحُّ التَّيَمُّمُ
بِالآْجُرِّ إِلاَّ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ، وَيَصِحُّ الاِسْتِنْجَاءُ بِهِ عِنْدَ
الْجَمِيعِ. غَيْرَ أَنَّهُ مَعَ الصِّحَّةِ يُكْرَهُ تَحْرِيمًا إِنْ كَانَ ذَا
قِيمَةٍ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ دُونَ غَيْرِهِمْ. (٤)
3 — Tayamum dengan ājur tidak sah
menurut selain mazhab Hanafi, sedangkan menurut mazhab Hanafi, tayamum
dengannya sah. Adapun beristinja dengan ājur
sah menurut semua mazhab.
Namun, meskipun sah, penggunaannya untuk istinja makruh tahrim
apabila ājur tersebut memiliki nilai atau harga, menurut mazhab
Hanafi, sedangkan menurut mazhab lainnya tidak demikian.
وَلَوْ
عُجِنَ بِنَجِسٍ فَفِي طَهَارَتِهِ أَوْ نَجَاسَتِهِ خِلاَفٌ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ،
وَلَهُمْ فِي ذَلِكَ تَشْقِيقَاتٌ وَتَفْرِيعَاتٌ فِي مَبْحَثِ النَّجَاسَاتِ. (١)
Apabila ājur tersebut dibuat dengan campuran bahan najis,
maka terdapat perbedaan pendapat di kalangan fuqaha mengenai apakah ia tetap
suci atau menjadi najis. Dalam masalah ini, para fuqaha memiliki
berbagai rincian dan cabang pembahasan dalam bab najis.
وَعَلَى
الْحُكْمِ بِطَهَارَتِهِ وَنَجَاسَتِهِ يَتَرَتَّبُ صِحَّةُ بَيْعِهِ وَفَسَادُهُ.
وَمَحَل ذَلِكَ فِي الْبَيْعِ " شَرَائِطُ الْمَعْقُودِ عَلَيْهِ " (٢)
Berdasarkan hukum mengenai kesucian atau kenajisannya, maka
konsekuensinya adalah sah atau tidak sahnya jual beli ājur.
Pembahasan mengenai hal tersebut terdapat dalam bab jual beli, khususnya pada “Syarat-Syarat
Barang yang Menjadi Objek Akad.”
وَبِالإِضَافَةِ
إِلَى مَا تَقَدَّمَ يَتَنَاوَل الْفُقَهَاءُ (الآْجُرَّ) فِي الدَّفْنِ وَحَثْوِ
الْقَبْرِ بِهِ. (٣)
Selain pembahasan yang telah disebutkan, para fuqaha juga membahas penggunaan
ājur dalam pemakaman dan untuk menimbunkan
tanah pada kuburan dengannya.
وَفِي
السَّلَمِ عَنْ حُكْمِ السَّلَمِ فِيهِ. (٤)
Dan dalam pembahasan akad salam, para fuqaha membahas hukum
melakukan akad salam terhadap ājur.
وَفِي
الْغَصْبِ إِنْ جُعِل التُّرَابُ آجُرًّا.
Dan dalam pembahasan ghasab (perampasan), dibahas pula
hukumnya apabila tanah yang dirampas kemudian dijadikan ājur
(batu bata bakar).
Wallahu A’lam...
Baca juga:
آجُرّ
Ājur
التَّعْرِيفُ:
Definisi:
١ - الآْجُرُّ لُغَةً: الطِّينُ
الْمَطْبُوخُ. (١) وَلاَ يَخْرُجُ اسْتِعْمَال الْفُقَهَاءِ عَنْ ذَلِكَ؛ إِذْ
قَالُوا: هُوَ اللَّبِنُ الْمُحَرَّقُ. (٢)
1 — Ājur secara bahasa berarti tanah liat
yang dibakar. Penggunaan istilah ini di kalangan fuqaha juga tidak
keluar dari makna tersebut. Mereka mengatakan bahwa ājur adalah batu
bata yang dibakar.
الأَلْفَاظُ ذَاتُ الصِّلَةِ:
Istilah-Istilah
yang Berkaitan:
٢ - الآْجُرُّ يُخَالِفُ الْحَجَرَ
وَالرَّمْل فِي أَنَّهُ خَرَجَ عَنْ أَصْلِهِ بِالطَّبْخِ وَالصَّنْعَةِ،
بِخِلاَفِهِمَا. وَيُخَالِفُ الْجِصَّ وَالْجِبْسَ أَيْضًا إِذْ هُمَا حَجَرٌ
مُحَرَّقٌ. (٣)
2 — Ājur berbeda dari batu
dan pasir, karena ia telah mengalami perubahan dari bentuk
asalnya melalui proses pembakaran dan pengolahan, berbeda
dengan keduanya.
Ājur juga berbeda dari jiss dan jibs,
karena keduanya merupakan batu yang dibakar.
الْحُكْمُ الإِجْمَالِيُّ وَمَوَاطِنُ الْبَحْثِ:
Hukum
Secara Umum dan Pokok-Pokok Pembahasan:
٣ - لاَ يَصِحُّ التَّيَمُّمُ
بِالآْجُرِّ إِلاَّ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ، وَيَصِحُّ الاِسْتِنْجَاءُ بِهِ عِنْدَ
الْجَمِيعِ. غَيْرَ أَنَّهُ مَعَ الصِّحَّةِ يُكْرَهُ تَحْرِيمًا إِنْ كَانَ ذَا
قِيمَةٍ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ دُونَ غَيْرِهِمْ. (٤)
3 — Tayamum dengan ājur tidak sah
menurut selain mazhab Hanafi, sedangkan menurut mazhab Hanafi, tayamum
dengannya sah. Adapun beristinja dengan ājur
sah menurut semua mazhab.
Namun, meskipun sah, penggunaannya untuk istinja makruh tahrim
apabila ājur tersebut memiliki nilai atau harga, menurut mazhab
Hanafi, sedangkan menurut mazhab lainnya tidak demikian.
وَلَوْ
عُجِنَ بِنَجِسٍ فَفِي طَهَارَتِهِ أَوْ نَجَاسَتِهِ خِلاَفٌ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ،
وَلَهُمْ فِي ذَلِكَ تَشْقِيقَاتٌ وَتَفْرِيعَاتٌ فِي مَبْحَثِ النَّجَاسَاتِ. (١)
Apabila ājur tersebut dibuat dengan campuran bahan najis,
maka terdapat perbedaan pendapat di kalangan fuqaha mengenai apakah ia tetap
suci atau menjadi najis. Dalam masalah ini, para fuqaha memiliki
berbagai rincian dan cabang pembahasan dalam bab najis.
وَعَلَى
الْحُكْمِ بِطَهَارَتِهِ وَنَجَاسَتِهِ يَتَرَتَّبُ صِحَّةُ بَيْعِهِ وَفَسَادُهُ.
وَمَحَل ذَلِكَ فِي الْبَيْعِ " شَرَائِطُ الْمَعْقُودِ عَلَيْهِ " (٢)
Berdasarkan hukum mengenai kesucian atau kenajisannya, maka
konsekuensinya adalah sah atau tidak sahnya jual beli ājur.
Pembahasan mengenai hal tersebut terdapat dalam bab jual beli, khususnya pada “Syarat-Syarat
Barang yang Menjadi Objek Akad.”
وَبِالإِضَافَةِ
إِلَى مَا تَقَدَّمَ يَتَنَاوَل الْفُقَهَاءُ (الآْجُرَّ) فِي الدَّفْنِ وَحَثْوِ
الْقَبْرِ بِهِ. (٣)
Selain pembahasan yang telah disebutkan, para fuqaha juga membahas penggunaan
ājur dalam pemakaman dan untuk menimbunkan
tanah pada kuburan dengannya.
وَفِي
السَّلَمِ عَنْ حُكْمِ السَّلَمِ فِيهِ. (٤)
Dan dalam pembahasan akad salam, para fuqaha membahas hukum
melakukan akad salam terhadap ājur.
وَفِي
الْغَصْبِ إِنْ جُعِل التُّرَابُ آجُرًّا.
Dan dalam pembahasan ghasab (perampasan), dibahas pula
hukumnya apabila tanah yang dirampas kemudian dijadikan ājur
(batu bata bakar).
Wallahu A’lam...
Baca juga:
%20dalam%20Fikih%20Definisi,%20Perbedaan%20dengan%20Batu%20dan%20Bahan%20Sejenis,%20Hukum%20Tayamum%20dan%20Istinja,%20Kesucian,%20Jual%20Beli,%20Pemakaman,%20Akad%20Salam,%20serta%20Ghasab.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar