Ādamī (Manusia) dalam Fikih Islam: Pengertian, Kemuliaan dan Kehormatan Manusia, Ahliyyah, Kesucian, Perlindungan Jiwa, Harta dan Kehormatan, serta Hukum Jenazah

آدَمِيّ

Ādamī

التَّعْرِيفُ:

Definisi:

١ - الآْدَمِيُّ مَنْسُوبٌ إِلَى آدَمَ أَبِي الْبَشَرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ، بِأَنْ يَكُونَ مِنْ أَوْلاَدِهِ. (٢)

1 — Ādamī adalah nisbah kepada Ādam, bapak seluruh manusia ‘alaihissalām, yaitu seseorang yang termasuk keturunannya.

وَالْفُقَهَاءُ يَسْتَعْمِلُونَهُ بِنَفْسِ الْمَعْنَى. وَيُرَادِفُهُ عِنْدَهُمْ: إِنْسَانٌ وَشَخْصٌ وَبَشَرٌ.

Para fuqaha menggunakan istilah tersebut dengan makna yang sama. Menurut mereka, istilah Ādamī bersinonim dengan insān (manusia), syakhṣ (seseorang/individu), dan basyar (manusia).

الْحُكْمُ الإِجْمَالِيُّ:

Hukum Secara Umum:

٢ - اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى وُجُوبِ تَكْرِيمِ الآْدَمِيِّ بِاعْتِبَارِهِ إِنْسَانًا، بِصَرْفِ النَّظَرِ عَمَّا يَتَّصِفُ بِهِ مِنْ ذُكُورَةٍ وَأُنُوثَةٍ، وَمِنْ إِسْلاَمٍ وَكُفْرٍ، وَمِنْ صِغَرٍ وَكِبَرٍ، وَذَلِكَ عَمَلاً بِقَوْل اللَّهِ تَعَالَى: {وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ} . (٣)

2 — Para fuqaha sepakat mengenai kewajiban memuliakan manusia (ādamī) sebagai manusia, tanpa memandang apakah ia laki-laki atau perempuan, Muslim atau kafir, anak-anak atau orang dewasa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala:

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isrā’: 70).

أَمَّا بِالنَّظَرِ إِلَيْهِ مَوْصُوفًا بِصِفَةٍ مَا فَإِنَّهُ يَتَعَلَّقُ بِهِ مَعَ الْحُكْمِ الْعَامِّ أَحْكَامٌ أُخْرَى تَتَّصِل بِهَذِهِ الصِّفَةِ.

Adapun jika manusia tersebut dipandang berdasarkan sifat tertentu yang melekat padanya, maka selain hukum umum tersebut, terdapat hukum-hukum lain yang berkaitan dengan sifat tersebut.

مَوَاطِنُ الْبَحْثِ:

Pokok-Pokok Pembahasan:

٣ - لِتَكْرِيمِ الآْدَمِيِّ فِي حَيَاتِهِ وَمَمَاتِهِ مَظَاهِرُ كَثِيرَةٌ، فِي مَوَاطِنَ مُتَعَدِّدَةٍ، تَتَعَلَّقُ بِهَا أَحْكَامٌ فِقْهِيَّةٌ تَدُورُ حَوْل تَسْمِيَتِهِ وَأَهْلِيَّتِهِ وَطَهَارَتِهِ وَعِصْمَةِ دَمِهِ وَمَالِهِ وَعِرْضِهِ وَدَفْنِهِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ.

3 — Pemuliaan terhadap manusia (ādamī), baik semasa hidup maupun setelah meninggal dunia, memiliki banyak bentuk dan terdapat dalam berbagai keadaan. Hal tersebut berkaitan dengan berbagai hukum fikih, yang mencakup persoalan penamaan, kecakapan hukum (ahliyyah), kesucian, perlindungan jiwa, harta, kehormatan, pemakaman, dan perkara-perkara lainnya.

وَيُفَصِّل الْفُقَهَاءُ أَحْكَامَ ذَلِكَ فِي مَبَاحِثِ الأَْنْجَاسِ، وَالطَّهَارَةِ، وَالْجِنَايَاتِ، وَالْحُدُودِ، وَالْجَنَائِزِ، وَفِي الأَْهْلِيَّةِ عِنْدَ الأُْصُولِيِّينَ.

Para fuqaha merinci hukum-hukum tersebut dalam pembahasan najis, taharah, jinayah, hudud, jenazah, serta dalam pembahasan ahliyyah (kecakapan hukum) menurut para ulama usul fikih.

Wallahu A’lam...

Baca juga:

Ādir (Penderita Udrah) dalamFikih: Definisi, Cacat pada Laki-Laki dan Perempuan, serta Pengaruhnya terhadapFasakh Nikah dan Khiyār al-‘Aib dalam Jual Beli

Air Ājin dalam Fikih: Definisi,Perubahan Sifat karena Lama Tergenang, Perbedaannya dengan Air Āsin, sertaHukum Kesucian dan Penggunaannya untuk Bersuci

Apa yang Dimaksud dengan Āfāqī dalam Haji? Pengertian, Batasannya, Miqat, Tawaf Wada‘ dan Qudum, serta Qirān dan Tamattu‘

آدَمِيّ

Ādamī

التَّعْرِيفُ:

Definisi:

١ - الآْدَمِيُّ مَنْسُوبٌ إِلَى آدَمَ أَبِي الْبَشَرِ عَلَيْهِ السَّلَامُ، بِأَنْ يَكُونَ مِنْ أَوْلاَدِهِ. (٢)

1 — Ādamī adalah nisbah kepada Ādam, bapak seluruh manusia ‘alaihissalām, yaitu seseorang yang termasuk keturunannya.

وَالْفُقَهَاءُ يَسْتَعْمِلُونَهُ بِنَفْسِ الْمَعْنَى. وَيُرَادِفُهُ عِنْدَهُمْ: إِنْسَانٌ وَشَخْصٌ وَبَشَرٌ.

Para fuqaha menggunakan istilah tersebut dengan makna yang sama. Menurut mereka, istilah Ādamī bersinonim dengan insān (manusia), syakhṣ (seseorang/individu), dan basyar (manusia).

الْحُكْمُ الإِجْمَالِيُّ:

Hukum Secara Umum:

٢ - اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى وُجُوبِ تَكْرِيمِ الآْدَمِيِّ بِاعْتِبَارِهِ إِنْسَانًا، بِصَرْفِ النَّظَرِ عَمَّا يَتَّصِفُ بِهِ مِنْ ذُكُورَةٍ وَأُنُوثَةٍ، وَمِنْ إِسْلاَمٍ وَكُفْرٍ، وَمِنْ صِغَرٍ وَكِبَرٍ، وَذَلِكَ عَمَلاً بِقَوْل اللَّهِ تَعَالَى: {وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ} . (٣)

2 — Para fuqaha sepakat mengenai kewajiban memuliakan manusia (ādamī) sebagai manusia, tanpa memandang apakah ia laki-laki atau perempuan, Muslim atau kafir, anak-anak atau orang dewasa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta‘ala:

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isrā’: 70).

أَمَّا بِالنَّظَرِ إِلَيْهِ مَوْصُوفًا بِصِفَةٍ مَا فَإِنَّهُ يَتَعَلَّقُ بِهِ مَعَ الْحُكْمِ الْعَامِّ أَحْكَامٌ أُخْرَى تَتَّصِل بِهَذِهِ الصِّفَةِ.

Adapun jika manusia tersebut dipandang berdasarkan sifat tertentu yang melekat padanya, maka selain hukum umum tersebut, terdapat hukum-hukum lain yang berkaitan dengan sifat tersebut.

مَوَاطِنُ الْبَحْثِ:

Pokok-Pokok Pembahasan:

٣ - لِتَكْرِيمِ الآْدَمِيِّ فِي حَيَاتِهِ وَمَمَاتِهِ مَظَاهِرُ كَثِيرَةٌ، فِي مَوَاطِنَ مُتَعَدِّدَةٍ، تَتَعَلَّقُ بِهَا أَحْكَامٌ فِقْهِيَّةٌ تَدُورُ حَوْل تَسْمِيَتِهِ وَأَهْلِيَّتِهِ وَطَهَارَتِهِ وَعِصْمَةِ دَمِهِ وَمَالِهِ وَعِرْضِهِ وَدَفْنِهِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ.

3 — Pemuliaan terhadap manusia (ādamī), baik semasa hidup maupun setelah meninggal dunia, memiliki banyak bentuk dan terdapat dalam berbagai keadaan. Hal tersebut berkaitan dengan berbagai hukum fikih, yang mencakup persoalan penamaan, kecakapan hukum (ahliyyah), kesucian, perlindungan jiwa, harta, kehormatan, pemakaman, dan perkara-perkara lainnya.

وَيُفَصِّل الْفُقَهَاءُ أَحْكَامَ ذَلِكَ فِي مَبَاحِثِ الأَْنْجَاسِ، وَالطَّهَارَةِ، وَالْجِنَايَاتِ، وَالْحُدُودِ، وَالْجَنَائِزِ، وَفِي الأَْهْلِيَّةِ عِنْدَ الأُْصُولِيِّينَ.

Para fuqaha merinci hukum-hukum tersebut dalam pembahasan najis, taharah, jinayah, hudud, jenazah, serta dalam pembahasan ahliyyah (kecakapan hukum) menurut para ulama usul fikih.

Wallahu A’lam...

Baca juga:

Ādir (Penderita Udrah) dalamFikih: Definisi, Cacat pada Laki-Laki dan Perempuan, serta Pengaruhnya terhadapFasakh Nikah dan Khiyār al-‘Aib dalam Jual Beli

Air Ājin dalam Fikih: Definisi,Perubahan Sifat karena Lama Tergenang, Perbedaannya dengan Air Āsin, sertaHukum Kesucian dan Penggunaannya untuk Bersuci

Apa yang Dimaksud dengan Āfāqī dalam Haji? Pengertian, Batasannya, Miqat, Tawaf Wada‘ dan Qudum, serta Qirān dan Tamattu‘

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Harta Haram yang Bercampur dengan Harta Halal: Cara Mengeluarkan Harta Haram Menurut Imam Al-Ghazali

Pendahuluan Ketika seseorang mengetahui bahwa sebagian hartanya haram tetapi tidak mengetahui secara pasti bagian mana yang haram, muncu...