آفَة
Āfat
التَّعْرِيفُ:
Definisi:
١ - الآْفَةُ لُغَةً: الْعَاهَةُ،
وَهِيَ الْعَرَضُ الْمُفْسِدُ لِمَا أَصَابَهُ. (١) وَالْفُقَهَاءُ
يَسْتَعْمِلُونَ الآْفَةَ بِنَفْسِ الْمَعْنَى، إِلاَّ أَنَّهُمْ غَالِبًا مَا
يُقَيِّدُونَهَا بِكَوْنِهَا سَمَاوِيَّةً، وَهِيَ مَا لاَ صُنْعَ لآِدَمِيٍّ
فِيهَا. (٢)
1 — Āfat secara bahasa berarti kerusakan atau bencana,
yaitu suatu keadaan yang menimpa sesuatu sehingga menyebabkan kerusakan pada
sesuatu tersebut. Para fuqaha menggunakan istilah āfat dengan makna yang sama,
hanya saja mereka biasanya membatasinya dengan sifat samāwiyyah
(berasal dari ketentuan Allah), yaitu sesuatu yang tidak ada
campur tangan manusia dalam terjadinya.
وَيَذْكُرُ
الْفُقَهَاءُ أَيْضًا أَنَّ الْجَائِحَةَ هِيَ الآْفَةُ الَّتِي تُصِيبُ الثَّمَرَ
أَوِ النَّبَاتَ، وَلاَ دَخْل لآِدَمِيٍّ فِيهَا (٣) .
Para fuqaha juga menjelaskan bahwa jā’iḥah adalah āfat (bencana/kerusakan) yang menimpa
buah-buahan atau tanaman, yang tidak ada campur tangan manusia dalam
terjadinya.
وَكَثِيرًا
مَا يَذْكُرُونَ الأَْلْفَاظَ الدَّالَّةَ عَلَى أَثَرِ الآْفَةِ مِنْ تَلَفٍ
وَهَلاَكٍ، وَيُفَرِّقُونَ فِي الْحُكْمِ بَيْنَ مَا هُوَ سَمَاوِيٌّ وَبَيْنَ
غَيْرِهِ.
Para fuqaha sering pula menyebut istilah-istilah yang menunjukkan dampak
yang ditimbulkan oleh āfat, seperti kerusakan (talaf) dan kebinasaan
(halāk). Mereka membedakan hukum antara kerusakan yang
bersifat samāwī (terjadi tanpa campur tangan manusia) dan kerusakan
yang bukan samāwī.
وَالأُْصُولِيُّونَ
يَذْكُرُونَ الآْفَةَ أَثْنَاءَ الْكَلاَمِ عَلَى عَوَارِضِ الأَْهْلِيَّةِ.
Para ahli usul fikih (ushuliyyun) juga membahas āfat ketika menjelaskan ‘awāriḍ
al-ahliyyah, yaitu faktor-faktor yang menjadi penghalang atau
memengaruhi kapasitas hukum seseorang.
وَيُقَسِّمُونَ
الْعَوَارِضَ إِلَى سَمَاوِيَّةٍ، وَهِيَ مَا كَانَتْ مِنْ قِبَل اللَّهِ تَعَالَى
بِلاَ اخْتِيَارٍ لِلْعَبْدِ فِيهَا، كَالْجُنُونِ وَالْعَتَهِ، وَإِلَى
مُكْتَسَبَةٍ، وَهِيَ مَا يَكُونُ لاِخْتِيَارِ الْعَبْدِ فِي حُصُولِهَا
مَدْخَلٌ، كَالْجَهْل وَالسَّفَهِ. (١)
Mereka membagi ‘awāriḍ (hal-hal
yang memengaruhi atau menghalangi ahliyyah) menjadi dua:
- ‘Awāriḍ Samāwiyyah,
yaitu hal-hal yang terjadi atas ketetapan Allah Ta‘ala tanpa adanya
pilihan manusia dalam terjadinya, seperti kegilaan (junūn) dan keterbelakangan
akal (‘atah).
- ‘Awāriḍ Muktasabah,
yaitu hal-hal yang dalam terjadinya terdapat campur tangan pilihan
manusia, seperti ketidaktahuan (jahl) dan kebodohan atau
ketidakcakapan dalam mengelola harta (safah).
وَالآْفَةُ
قَدْ تَكُونُ عَامَّةً، كَالْحَرِّ وَالْبَرْدِ الشَّدِيدَيْنِ، وَقَدْ تَكُونُ
خَاصَّةً، كَالْجُنُونِ.
Āfat dapat bersifat umum,
seperti panas dan dingin yang sangat ekstrem, dan dapat pula
bersifat khusus, seperti kegilaan.
الْحُكْمُ الإِْجْمَالِيُّ:
Hukum
Secara Umum:
٢ - يَخْتَلِفُ الْحُكْمُ الْوَضْعِيُّ
الْمُتَرَتِّبُ عَلَى مَا تُحْدِثُهُ الآْفَةُ بِاخْتِلاَفِ الْمَقْصُودِ مِمَّا
أَصَابَتْهُ، وَبِاخْتِلاَفِ مَا تُحْدِثُهُ مِنْ ضَرَرٍ.
2 — Hukum wad‘ī yang timbul akibat kerusakan
yang ditimbulkan oleh āfat berbeda-beda, sesuai dengan objek
yang terkena āfat
serta tingkat kerugian atau kerusakan yang ditimbulkannya.
فَلِلآْفَةِ
عِنْدَ الْفُقَهَاءِ أَثَرٌ فِي ثُبُوتِ الْخِيَارِ وَفِي الأَْرْشِ وَالْفَسْخِ
وَالرَّدِّ وَالْبُطْلاَنِ، وَفِي تَأْخِيرِ الْقِصَاصِ عِنْدَ الْخَوْفِ مِنْ
ضَرَرِ الآْفَةِ، وَفِي إِسْقَاطِ الزَّكَاةِ وَأَجْرِ الأَْجِيرِ. فَمِنْ
إِسْقَاطِهَا الزَّكَاةَ مَثَلاً تَلَفُ الثِّمَارِ بِآفَةٍ بَعْدَ وُجُوبِ
الزَّكَاةِ فِيهَا، وَمِنْ إِسْقَاطِهَا الْحَدَّ أَنْ يُجَنَّ الْجَانِي قَبْل
إِقَامَةِ الْحَدِّ عَلَيْهِ.
Bagi para fuqaha, āfat memiliki pengaruh terhadap penetapan
hak khiyār, ‘arsh (kompensasi/ganti rugi), fasakh,
pengembalian barang (radd), dan batalnya suatu akad.
Ia juga berpengaruh terhadap penundaan pelaksanaan qiṣāṣ
apabila dikhawatirkan akan timbul bahaya akibat āfah, serta terhadap gugurnya
kewajiban zakat dan upah pekerja.
Contoh āfah yang menyebabkan gugurnya zakat adalah rusaknya
buah-buahan akibat bencana setelah kewajiban zakat atas buah tersebut telah
berlaku. Adapun contoh āfah yang menyebabkan gugurnya hukuman
ḥadd adalah pelaku jarīmah menjadi gila sebelum hukuman ḥadd
dilaksanakan atasnya.
وَعَلَى
الْجُمْلَةِ فَهِيَ قَدْ تُسْقِطُ الضَّمَانَ، وَتُؤَثِّرُ فِي الْعِبَادَاتِ
إِسْقَاطًا أَوْ تَخْفِيفًا. (٢)
Secara umum, āfat terkadang dapat menggugurkan kewajiban ganti rugi
(ḍamān) dan dapat pula memengaruhi ibadah, baik
dengan menggugurkan kewajibannya maupun dengan memberikan
keringanan. (2)
مَوَاطِنُ الْبَحْثِ:
Tempat-Tempat
Pembahasan:
٣ -
يَأْتِي فِي كَلاَمِ الْفُقَهَاءِ ذِكْرُ الآْفَةِ وَمَا يُرَادِفُهَا لِبَيَانِ
الْحُكْمِ الْمُتَرَتِّبِ عَلَى أَثَرِ مَا تُحْدِثُهُ، فِي مَسَائِل مُتَعَدِّدَةِ
الْمَوَاطِنِ مُفَصَّلَةٍ فِيهَا الأَْحْكَامُ بِالنِّسْبَةِ لِكُل مَسْأَلَةٍ.
وَمِنْ ذَلِكَ: الْبَيْعُ وَالإِْجَارَةُ وَالرَّهْنُ وَالْوَدِيعَةُ
وَالْعَارِيَّةُ وَالْمُسَاقَاةُ وَالْغَصْبُ وَالنِّكَاحُ وَالزَّكَاةُ وَغَيْرُ
ذَلِكَ. وَيَأْتِي ذِكْرُهَا عِنْدَ الأُْصُولِيِّينَ فِي مَبْحَثِ
الأَْهْلِيَّةِ. وَيُنْظَرُ فِي الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ.
3 — Dalam pembahasan para fuqaha, istilah āfah
dan kata-kata yang semakna dengannya disebut untuk menjelaskan hukum
yang timbul akibat dampak yang ditimbulkannya. Pembahasannya tersebar
dalam berbagai persoalan fikih, dengan rincian hukum yang berbeda sesuai dengan
masing-masing persoalan.
Di antaranya adalah jual beli, sewa-menyewa, gadai, titipan,
pinjam-meminjam, musāqāh, ghasab, pernikahan, zakat, dan perkara-perkara
lainnya.
Adapun di kalangan ushuliyyun, āfah dibahas dalam bab
ahliyyah (kecakapan hukum). Untuk penjelasan lebih lanjut, dapat
merujuk pada pembahasan usul fikih yang terkait.
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Apa Makna Āli dalam Islam? Pengertian Secara Bahasa dan Fikih, Pendapat
Empat Mazhab, serta Makna Āli Muhammad ﷺ dalam Salawat
آفَة
Āfat
التَّعْرِيفُ:
Definisi:
١ - الآْفَةُ لُغَةً: الْعَاهَةُ،
وَهِيَ الْعَرَضُ الْمُفْسِدُ لِمَا أَصَابَهُ. (١) وَالْفُقَهَاءُ
يَسْتَعْمِلُونَ الآْفَةَ بِنَفْسِ الْمَعْنَى، إِلاَّ أَنَّهُمْ غَالِبًا مَا
يُقَيِّدُونَهَا بِكَوْنِهَا سَمَاوِيَّةً، وَهِيَ مَا لاَ صُنْعَ لآِدَمِيٍّ
فِيهَا. (٢)
1 — Āfat secara bahasa berarti kerusakan atau bencana,
yaitu suatu keadaan yang menimpa sesuatu sehingga menyebabkan kerusakan pada
sesuatu tersebut. Para fuqaha menggunakan istilah āfat dengan makna yang sama,
hanya saja mereka biasanya membatasinya dengan sifat samāwiyyah
(berasal dari ketentuan Allah), yaitu sesuatu yang tidak ada
campur tangan manusia dalam terjadinya.
وَيَذْكُرُ
الْفُقَهَاءُ أَيْضًا أَنَّ الْجَائِحَةَ هِيَ الآْفَةُ الَّتِي تُصِيبُ الثَّمَرَ
أَوِ النَّبَاتَ، وَلاَ دَخْل لآِدَمِيٍّ فِيهَا (٣) .
Para fuqaha juga menjelaskan bahwa jā’iḥah adalah āfat (bencana/kerusakan) yang menimpa
buah-buahan atau tanaman, yang tidak ada campur tangan manusia dalam
terjadinya.
وَكَثِيرًا
مَا يَذْكُرُونَ الأَْلْفَاظَ الدَّالَّةَ عَلَى أَثَرِ الآْفَةِ مِنْ تَلَفٍ
وَهَلاَكٍ، وَيُفَرِّقُونَ فِي الْحُكْمِ بَيْنَ مَا هُوَ سَمَاوِيٌّ وَبَيْنَ
غَيْرِهِ.
Para fuqaha sering pula menyebut istilah-istilah yang menunjukkan dampak
yang ditimbulkan oleh āfat, seperti kerusakan (talaf) dan kebinasaan
(halāk). Mereka membedakan hukum antara kerusakan yang
bersifat samāwī (terjadi tanpa campur tangan manusia) dan kerusakan
yang bukan samāwī.
وَالأُْصُولِيُّونَ
يَذْكُرُونَ الآْفَةَ أَثْنَاءَ الْكَلاَمِ عَلَى عَوَارِضِ الأَْهْلِيَّةِ.
Para ahli usul fikih (ushuliyyun) juga membahas āfat ketika menjelaskan ‘awāriḍ
al-ahliyyah, yaitu faktor-faktor yang menjadi penghalang atau
memengaruhi kapasitas hukum seseorang.
وَيُقَسِّمُونَ
الْعَوَارِضَ إِلَى سَمَاوِيَّةٍ، وَهِيَ مَا كَانَتْ مِنْ قِبَل اللَّهِ تَعَالَى
بِلاَ اخْتِيَارٍ لِلْعَبْدِ فِيهَا، كَالْجُنُونِ وَالْعَتَهِ، وَإِلَى
مُكْتَسَبَةٍ، وَهِيَ مَا يَكُونُ لاِخْتِيَارِ الْعَبْدِ فِي حُصُولِهَا
مَدْخَلٌ، كَالْجَهْل وَالسَّفَهِ. (١)
Mereka membagi ‘awāriḍ (hal-hal
yang memengaruhi atau menghalangi ahliyyah) menjadi dua:
- ‘Awāriḍ Samāwiyyah,
yaitu hal-hal yang terjadi atas ketetapan Allah Ta‘ala tanpa adanya
pilihan manusia dalam terjadinya, seperti kegilaan (junūn) dan keterbelakangan
akal (‘atah).
- ‘Awāriḍ Muktasabah,
yaitu hal-hal yang dalam terjadinya terdapat campur tangan pilihan
manusia, seperti ketidaktahuan (jahl) dan kebodohan atau
ketidakcakapan dalam mengelola harta (safah).
وَالآْفَةُ
قَدْ تَكُونُ عَامَّةً، كَالْحَرِّ وَالْبَرْدِ الشَّدِيدَيْنِ، وَقَدْ تَكُونُ
خَاصَّةً، كَالْجُنُونِ.
Āfat dapat bersifat umum,
seperti panas dan dingin yang sangat ekstrem, dan dapat pula
bersifat khusus, seperti kegilaan.
الْحُكْمُ الإِْجْمَالِيُّ:
Hukum
Secara Umum:
٢ - يَخْتَلِفُ الْحُكْمُ الْوَضْعِيُّ
الْمُتَرَتِّبُ عَلَى مَا تُحْدِثُهُ الآْفَةُ بِاخْتِلاَفِ الْمَقْصُودِ مِمَّا
أَصَابَتْهُ، وَبِاخْتِلاَفِ مَا تُحْدِثُهُ مِنْ ضَرَرٍ.
2 — Hukum wad‘ī yang timbul akibat kerusakan
yang ditimbulkan oleh āfat berbeda-beda, sesuai dengan objek
yang terkena āfat
serta tingkat kerugian atau kerusakan yang ditimbulkannya.
فَلِلآْفَةِ
عِنْدَ الْفُقَهَاءِ أَثَرٌ فِي ثُبُوتِ الْخِيَارِ وَفِي الأَْرْشِ وَالْفَسْخِ
وَالرَّدِّ وَالْبُطْلاَنِ، وَفِي تَأْخِيرِ الْقِصَاصِ عِنْدَ الْخَوْفِ مِنْ
ضَرَرِ الآْفَةِ، وَفِي إِسْقَاطِ الزَّكَاةِ وَأَجْرِ الأَْجِيرِ. فَمِنْ
إِسْقَاطِهَا الزَّكَاةَ مَثَلاً تَلَفُ الثِّمَارِ بِآفَةٍ بَعْدَ وُجُوبِ
الزَّكَاةِ فِيهَا، وَمِنْ إِسْقَاطِهَا الْحَدَّ أَنْ يُجَنَّ الْجَانِي قَبْل
إِقَامَةِ الْحَدِّ عَلَيْهِ.
Bagi para fuqaha, āfat memiliki pengaruh terhadap penetapan
hak khiyār, ‘arsh (kompensasi/ganti rugi), fasakh,
pengembalian barang (radd), dan batalnya suatu akad.
Ia juga berpengaruh terhadap penundaan pelaksanaan qiṣāṣ
apabila dikhawatirkan akan timbul bahaya akibat āfah, serta terhadap gugurnya
kewajiban zakat dan upah pekerja.
Contoh āfah yang menyebabkan gugurnya zakat adalah rusaknya
buah-buahan akibat bencana setelah kewajiban zakat atas buah tersebut telah
berlaku. Adapun contoh āfah yang menyebabkan gugurnya hukuman
ḥadd adalah pelaku jarīmah menjadi gila sebelum hukuman ḥadd
dilaksanakan atasnya.
وَعَلَى
الْجُمْلَةِ فَهِيَ قَدْ تُسْقِطُ الضَّمَانَ، وَتُؤَثِّرُ فِي الْعِبَادَاتِ
إِسْقَاطًا أَوْ تَخْفِيفًا. (٢)
Secara umum, āfat terkadang dapat menggugurkan kewajiban ganti rugi
(ḍamān) dan dapat pula memengaruhi ibadah, baik
dengan menggugurkan kewajibannya maupun dengan memberikan
keringanan. (2)
مَوَاطِنُ الْبَحْثِ:
Tempat-Tempat
Pembahasan:
٣ -
يَأْتِي فِي كَلاَمِ الْفُقَهَاءِ ذِكْرُ الآْفَةِ وَمَا يُرَادِفُهَا لِبَيَانِ
الْحُكْمِ الْمُتَرَتِّبِ عَلَى أَثَرِ مَا تُحْدِثُهُ، فِي مَسَائِل مُتَعَدِّدَةِ
الْمَوَاطِنِ مُفَصَّلَةٍ فِيهَا الأَْحْكَامُ بِالنِّسْبَةِ لِكُل مَسْأَلَةٍ.
وَمِنْ ذَلِكَ: الْبَيْعُ وَالإِْجَارَةُ وَالرَّهْنُ وَالْوَدِيعَةُ
وَالْعَارِيَّةُ وَالْمُسَاقَاةُ وَالْغَصْبُ وَالنِّكَاحُ وَالزَّكَاةُ وَغَيْرُ
ذَلِكَ. وَيَأْتِي ذِكْرُهَا عِنْدَ الأُْصُولِيِّينَ فِي مَبْحَثِ
الأَْهْلِيَّةِ. وَيُنْظَرُ فِي الْمُلْحَقِ الأُْصُولِيِّ.
3 — Dalam pembahasan para fuqaha, istilah āfah
dan kata-kata yang semakna dengannya disebut untuk menjelaskan hukum
yang timbul akibat dampak yang ditimbulkannya. Pembahasannya tersebar
dalam berbagai persoalan fikih, dengan rincian hukum yang berbeda sesuai dengan
masing-masing persoalan.
Di antaranya adalah jual beli, sewa-menyewa, gadai, titipan,
pinjam-meminjam, musāqāh, ghasab, pernikahan, zakat, dan perkara-perkara
lainnya.
Adapun di kalangan ushuliyyun, āfah dibahas dalam bab
ahliyyah (kecakapan hukum). Untuk penjelasan lebih lanjut, dapat
merujuk pada pembahasan usul fikih yang terkait.
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Apa Makna Āli dalam Islam? Pengertian Secara Bahasa dan Fikih, Pendapat
Empat Mazhab, serta Makna Āli Muhammad ﷺ dalam Salawat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar