Pendahuluan
Setelah membahas kelompok Rafidhah
dan Khawarij, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini melanjutkan pembahasan
mengenai Qadariyah, yang dalam kitab ini diidentikkan dengan Mu'tazilah.
Dalam literatur ilmu kalam klasik Ahlus Sunnah, Mu'tazilah dipandang sebagai
salah satu kelompok besar yang memiliki banyak cabang akibat perbedaan pendapat
di antara para tokohnya.
Pada bagian ini, Imam Al-Isfarayini
menyebut nama-nama kelompok Mu'tazilah secara ringkas sebagai pengantar sebelum
menjelaskan ajaran masing-masing secara lebih rinci. Klasifikasi ini merupakan
bagian dari metode ilmu firqah yang berkembang pada abad ke-5 Hijriah dan
mencerminkan sudut pandang teologis penulis.
Sumber Rujukan
Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz
al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn
(التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق
الهالكين)
Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin
Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)
Tema
Pembagian Dua Puluh Dua Kelompok
Mu'tazilah (Qadariyah) Menurut Imam Al-Isfarayini
Terjemahan Lengkap
Adapun dua puluh dua kelompok
lainnya adalah Qadariyah, yaitu kelompok Mu'tazilah.
Menurut penulis, setiap kelompok
dari mereka saling menganggap kelompok lainnya kafir.
Kelompok-kelompok tersebut adalah:
- Washiliyah.
- Hudzailiyah.
- Amrawiyah.
- Nizhamiyah.
- Aswariyah.
- Muammariyah.
- Iskafiyah.
- Ja'fariyah.
- Bisyriyah.
- Murdariyah.
- Hisyamiyah.
- Tsumamiyah.
- Jahizhiyah.
- Khabithiyah.
- Himariyah.
- Khayyathiyah.
- Syahhamiyah.
- Pengikut Shalih Qubbah.
- Mu'nisiyah.
- Ka'biyah.
- Jubba'iyah.
- Bahsyamiyah.
Di antara seluruh kelompok tersebut,
menurut penulis, terdapat dua kelompok yang tidak termasuk golongan umat Islam,
yaitu:
- Khabithiyah.
- Himariyah.
Sebagaimana akan dijelaskan lebih
lanjut pada pembahasan berikutnya.
Artikel Pengembangan
Pada bagian ini, Imam Al-Isfarayini
mengelompokkan Mu'tazilah sebagai bagian dari Qadariyah, sesuai
dengan penggunaan istilah yang lazim dalam literatur Ahlus Sunnah klasik.
Beliau menyatakan bahwa kelompok ini terdiri atas dua puluh dua cabang yang
masing-masing berkembang melalui pemikiran tokoh-tokohnya.
Sebagian besar nama kelompok yang
disebutkan berasal dari nama pendiri atau tokoh yang berpengaruh dalam
perkembangan mazhab tersebut. Misalnya, Washiliyah dinisbatkan kepada Washil
bin Atha', yang dikenal sebagai tokoh awal Mu'tazilah, sedangkan Hudzailiyah
berasal dari Abu al-Hudzail al-Allaf, Nizhamiyah dari Ibrahim
an-Nazzham, Jubba'iyah dari Abu Ali al-Jubba'i, dan Bahsyamiyah
dari putranya, Abu Hasyim al-Jubba'i. Penamaan semacam ini merupakan
ciri umum dalam literatur ilmu kalam.
Imam Al-Isfarayini juga mencatat
bahwa kelompok-kelompok tersebut saling mengkritik bahkan saling menganggap
menyimpang. Pernyataan ini menggambarkan bahwa perbedaan di dalam Mu'tazilah
tidak hanya terjadi antara mereka dan kelompok lain, tetapi juga berkembang
menjadi perdebatan internal mengenai berbagai persoalan akidah, seperti
sifat-sifat Allah, kehendak bebas manusia, keadilan Ilahi, dan status pelaku
dosa besar.
Di akhir kutipan, Imam Al-Isfarayini
menyatakan bahwa Khabithiyah dan Himariyah tidak termasuk dalam
golongan umat Islam menurut penilaiannya. Sebagaimana pada bagian-bagian
sebelumnya, penilaian ini merupakan bagian dari kerangka teologis yang
digunakan oleh penulis dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Alasan rinci
mengenai penilaian tersebut belum dijelaskan pada bagian ini, tetapi akan
diterangkan pada pembahasan berikutnya.
Dari sudut pandang sejarah, daftar
ini memperlihatkan betapa beragamnya perkembangan pemikiran Mu'tazilah
sepanjang abad-abad awal Islam. Sebagian kelompok hanya dikenal melalui
karya-karya para penulis ilmu firqah, sedangkan sebagian lainnya memiliki
pengaruh yang cukup besar dalam perkembangan ilmu kalam dan filsafat Islam.
Oleh karena itu, pembacaan terhadap karya-karya seperti At-Tabṣīr fī ad-Dīn
perlu disertai pemahaman bahwa kitab ini merupakan karya polemis-teologis yang
bertujuan membela akidah Ahlus Sunnah sekaligus mengkritik kelompok-kelompok
yang dianggap menyimpang.
Hikmah
- Sejarah pemikiran Islam menunjukkan bahwa perbedaan
pendapat dapat melahirkan banyak cabang dalam satu kelompok.
- Mengenal sejarah ilmu kalam membantu memahami
perkembangan diskusi akidah pada masa-masa awal Islam.
- Membaca kitab-kitab klasik memerlukan pemahaman
terhadap konteks sejarah dan metodologi penulis.
- Penamaan kelompok dalam literatur klasik umumnya
dinisbatkan kepada tokoh yang menjadi pelopor pemikirannya.
- Kajian terhadap aliran-aliran Islam hendaknya dilakukan
secara ilmiah, adil, dan berdasarkan sumber yang dapat
dipertanggungjawabkan.
- Menambah wawasan sejarah dapat memperkuat kemampuan
untuk memahami perkembangan intelektual umat Islam secara lebih utuh.
Penutup
Pada bagian ini, Imam Al-Isfarayini
menyusun klasifikasi dua puluh dua kelompok Mu'tazilah yang beliau masukkan ke
dalam kategori Qadariyah. Penyebutan nama-nama kelompok tersebut menjadi
pengantar sebelum beliau membahas ajaran masing-masing secara lebih rinci pada
bab-bab berikutnya. Dengan memahami struktur klasifikasi ini, pembaca akan
lebih mudah mengikuti uraian selanjutnya mengenai sejarah, tokoh, dan perbedaan
pemikiran di antara berbagai cabang Mu'tazilah dalam kitab At-Tabṣīr fī
ad-Dīn.
Teks Arab :
وَعِشْرُونَ مِنْهُم الْقَدَرِيَّة الْمُعْتَزلَة كل
فريق مِنْهُم يكفر سَائِرهمْ وهم الواصلية والهذلية والعمروية والنظامية والأسوارية
والمعمرية والإسكافية والجعفرية والبشرية والمردارية والهشامية والثمامية
والجاحظية والخابطية والحمارية والخياطية والشحامية وَأَصْحَاب صَالح قبَّة
والمؤنسية والكعبية والجبائية والبهشمية وفرقتان من هَذِه الْجُمْلَة لَا يعدَّانِ
من فرق الاسلام وهما الخابطية والحمارية كَمَا نذكرهُ فِيمَا بعد
Baca juga:
7 Kelompok Murji'ah Menurut Imam Al-Isfarayini: Klasifikasi Murji'ah dalam Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn
Pendahuluan
Setelah membahas kelompok Rafidhah
dan Khawarij, Imam Abu al-Muzaffar al-Isfarayini melanjutkan pembahasan
mengenai Qadariyah, yang dalam kitab ini diidentikkan dengan Mu'tazilah.
Dalam literatur ilmu kalam klasik Ahlus Sunnah, Mu'tazilah dipandang sebagai
salah satu kelompok besar yang memiliki banyak cabang akibat perbedaan pendapat
di antara para tokohnya.
Pada bagian ini, Imam Al-Isfarayini
menyebut nama-nama kelompok Mu'tazilah secara ringkas sebagai pengantar sebelum
menjelaskan ajaran masing-masing secara lebih rinci. Klasifikasi ini merupakan
bagian dari metode ilmu firqah yang berkembang pada abad ke-5 Hijriah dan
mencerminkan sudut pandang teologis penulis.
Sumber Rujukan
Kitab:
At-Tabṣīr fī ad-Dīn wa Tamyīz
al-Firqah an-Nājiyah 'an al-Firaq al-Hālikīn
(التبصير في الدين وتمييز الفرقة الناجية عن الفرق
الهالكين)
Penulis:
Imam Abu al-Muzaffar Thahir bin
Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H)
Tema
Pembagian Dua Puluh Dua Kelompok
Mu'tazilah (Qadariyah) Menurut Imam Al-Isfarayini
Terjemahan Lengkap
Adapun dua puluh dua kelompok
lainnya adalah Qadariyah, yaitu kelompok Mu'tazilah.
Menurut penulis, setiap kelompok
dari mereka saling menganggap kelompok lainnya kafir.
Kelompok-kelompok tersebut adalah:
- Washiliyah.
- Hudzailiyah.
- Amrawiyah.
- Nizhamiyah.
- Aswariyah.
- Muammariyah.
- Iskafiyah.
- Ja'fariyah.
- Bisyriyah.
- Murdariyah.
- Hisyamiyah.
- Tsumamiyah.
- Jahizhiyah.
- Khabithiyah.
- Himariyah.
- Khayyathiyah.
- Syahhamiyah.
- Pengikut Shalih Qubbah.
- Mu'nisiyah.
- Ka'biyah.
- Jubba'iyah.
- Bahsyamiyah.
Di antara seluruh kelompok tersebut,
menurut penulis, terdapat dua kelompok yang tidak termasuk golongan umat Islam,
yaitu:
- Khabithiyah.
- Himariyah.
Sebagaimana akan dijelaskan lebih
lanjut pada pembahasan berikutnya.
Artikel Pengembangan
Pada bagian ini, Imam Al-Isfarayini
mengelompokkan Mu'tazilah sebagai bagian dari Qadariyah, sesuai
dengan penggunaan istilah yang lazim dalam literatur Ahlus Sunnah klasik.
Beliau menyatakan bahwa kelompok ini terdiri atas dua puluh dua cabang yang
masing-masing berkembang melalui pemikiran tokoh-tokohnya.
Sebagian besar nama kelompok yang
disebutkan berasal dari nama pendiri atau tokoh yang berpengaruh dalam
perkembangan mazhab tersebut. Misalnya, Washiliyah dinisbatkan kepada Washil
bin Atha', yang dikenal sebagai tokoh awal Mu'tazilah, sedangkan Hudzailiyah
berasal dari Abu al-Hudzail al-Allaf, Nizhamiyah dari Ibrahim
an-Nazzham, Jubba'iyah dari Abu Ali al-Jubba'i, dan Bahsyamiyah
dari putranya, Abu Hasyim al-Jubba'i. Penamaan semacam ini merupakan
ciri umum dalam literatur ilmu kalam.
Imam Al-Isfarayini juga mencatat
bahwa kelompok-kelompok tersebut saling mengkritik bahkan saling menganggap
menyimpang. Pernyataan ini menggambarkan bahwa perbedaan di dalam Mu'tazilah
tidak hanya terjadi antara mereka dan kelompok lain, tetapi juga berkembang
menjadi perdebatan internal mengenai berbagai persoalan akidah, seperti
sifat-sifat Allah, kehendak bebas manusia, keadilan Ilahi, dan status pelaku
dosa besar.
Di akhir kutipan, Imam Al-Isfarayini
menyatakan bahwa Khabithiyah dan Himariyah tidak termasuk dalam
golongan umat Islam menurut penilaiannya. Sebagaimana pada bagian-bagian
sebelumnya, penilaian ini merupakan bagian dari kerangka teologis yang
digunakan oleh penulis dalam kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn. Alasan rinci
mengenai penilaian tersebut belum dijelaskan pada bagian ini, tetapi akan
diterangkan pada pembahasan berikutnya.
Dari sudut pandang sejarah, daftar
ini memperlihatkan betapa beragamnya perkembangan pemikiran Mu'tazilah
sepanjang abad-abad awal Islam. Sebagian kelompok hanya dikenal melalui
karya-karya para penulis ilmu firqah, sedangkan sebagian lainnya memiliki
pengaruh yang cukup besar dalam perkembangan ilmu kalam dan filsafat Islam.
Oleh karena itu, pembacaan terhadap karya-karya seperti At-Tabṣīr fī ad-Dīn
perlu disertai pemahaman bahwa kitab ini merupakan karya polemis-teologis yang
bertujuan membela akidah Ahlus Sunnah sekaligus mengkritik kelompok-kelompok
yang dianggap menyimpang.
Hikmah
- Sejarah pemikiran Islam menunjukkan bahwa perbedaan
pendapat dapat melahirkan banyak cabang dalam satu kelompok.
- Mengenal sejarah ilmu kalam membantu memahami
perkembangan diskusi akidah pada masa-masa awal Islam.
- Membaca kitab-kitab klasik memerlukan pemahaman
terhadap konteks sejarah dan metodologi penulis.
- Penamaan kelompok dalam literatur klasik umumnya
dinisbatkan kepada tokoh yang menjadi pelopor pemikirannya.
- Kajian terhadap aliran-aliran Islam hendaknya dilakukan
secara ilmiah, adil, dan berdasarkan sumber yang dapat
dipertanggungjawabkan.
- Menambah wawasan sejarah dapat memperkuat kemampuan
untuk memahami perkembangan intelektual umat Islam secara lebih utuh.
Penutup
Pada bagian ini, Imam Al-Isfarayini
menyusun klasifikasi dua puluh dua kelompok Mu'tazilah yang beliau masukkan ke
dalam kategori Qadariyah. Penyebutan nama-nama kelompok tersebut menjadi
pengantar sebelum beliau membahas ajaran masing-masing secara lebih rinci pada
bab-bab berikutnya. Dengan memahami struktur klasifikasi ini, pembaca akan
lebih mudah mengikuti uraian selanjutnya mengenai sejarah, tokoh, dan perbedaan
pemikiran di antara berbagai cabang Mu'tazilah dalam kitab At-Tabṣīr fī
ad-Dīn.
Teks Arab :
وَعِشْرُونَ مِنْهُم الْقَدَرِيَّة الْمُعْتَزلَة كل
فريق مِنْهُم يكفر سَائِرهمْ وهم الواصلية والهذلية والعمروية والنظامية والأسوارية
والمعمرية والإسكافية والجعفرية والبشرية والمردارية والهشامية والثمامية
والجاحظية والخابطية والحمارية والخياطية والشحامية وَأَصْحَاب صَالح قبَّة
والمؤنسية والكعبية والجبائية والبهشمية وفرقتان من هَذِه الْجُمْلَة لَا يعدَّانِ
من فرق الاسلام وهما الخابطية والحمارية كَمَا نذكرهُ فِيمَا بعد
Baca juga:
7 Kelompok Murji'ah Menurut Imam Al-Isfarayini: Klasifikasi Murji'ah dalam Kitab At-Tabṣīr fī ad-Dīn

Tidak ada komentar:
Posting Komentar