آل
Āli
الْمَبْحَثُ الأَوَّل
Pembahasan Pertama
مَعْنَى الآْل لُغَةً وَاصْطِلاَحًا
Makna
Al-Āli secara Bahasa dan Istilah
التَّعْرِيفُ:
Definisi:
١ - مِنْ مَعَانِي الآْل فِي اللُّغَةِ
الأَْتْبَاعُ، يُقَال: آل الرَّجُل؛ أَيْ أَتْبَاعُهُ وَأَوْلِيَاؤُهُ.
وَيُسْتَعْمَل فِيمَا فِيهِ شَرَفٌ غَالِبًا، فَلاَ يُقَال: آل الإِْسْكَافِ،
كَمَا يُقَال أَهْلُهُ. (١)
1 — Di antara makna āl secara bahasa adalah para
pengikut. Dikatakan: “Ālu ar-rajul”, maksudnya adalah
para pengikut dan orang-orang yang dekat dengannya. Istilah
ini biasanya digunakan untuk sesuatu yang memiliki kemuliaan atau
kehormatan. Karena itu, tidak dikatakan “Ālu al-iskāf”
(keluarga tukang sepatu), sebagaimana dikatakan ahluhu
(keluarganya). (1)
وَقَدِ
اسْتُعْمِل لَفْظُ أَهْلٍ مُرَادِفًا لِلَفْظِ آلٍ، لَكِنْ قَدْ يَكُونُ لَفْظُ
أَهْلٍ أَخَصَّ إِذَا اسْتُعْمِل بِمَعْنَى زَوْجَةٍ، كَمَا فِي قَوْله تَعَالَى
خِطَابًا لِزَوْجَةِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ عِنْدَمَا قَالَتْ:
{أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ} (١) : {رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ
أَهْل الْبَيْتِ} (٢) وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ
خَيْرُكُمْ لأَِهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَِهْلِي (٣) وَالْمُرَادُ زَوْجَاتُهُ.
Istilah ahl terkadang digunakan sebagai sinonim dari
istilah āl. Namun, kata ahl terkadang
memiliki makna yang lebih khusus apabila digunakan dalam arti istri,
sebagaimana dalam firman Allah Ta‘ala ketika berbicara kepada istri Nabi
Ibrahim عليه السلام saat
ia berkata, “Apakah aku akan melahirkan, sedangkan aku sudah tua?”:
“Rahmat Allah dan keberkahan-Nya tercurah atas kalian, wahai
Ahlulbait.” (1)
Demikian pula sabda Nabi ﷺ:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya,
dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (3)
Yang dimaksud dengan keluarga beliau dalam hadis tersebut
adalah istri-istri beliau.
مَعْنَى الآْل فِي اصْطِلاَحِ الْفُقَهَاءِ:
Makna
al-Āli dalam Istilah Para Fuqaha:
٢ - لَمْ يَتَّفِقْ الْفُقَهَاءُ عَلَى
مَعْنَى الآْل، وَاخْتَلَفَتْ لِذَلِكَ الأَْحْكَامُ عِنْدَهُمْ.
2 — Para fuqaha tidak bersepakat mengenai makna al-Āli, sehingga hukum-hukum
yang mereka tetapkan pun berbeda-beda berdasarkan perbedaan pemaknaan
tersebut.
فَقَدْ
قَال الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ: إِنَّ الآْل وَالأَْهْل
بِمَعْنًى وَاحِدٍ، وَلَكِنَّ مَدْلُولَهُ عِنْدَ كُلٍّ مِنْهُمْ يَخْتَلِفُ.
Para ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah berpendapat
bahwa al-Āli dan ahl memiliki makna yang sama,
tetapi cakupan makna tersebut berbeda menurut masing-masing mazhab.
فَذَهَبَ
الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّ أَهْل بَيْتِ الرَّجُل وَآلَهُ وَجِنْسَهُ وَاحِدٌ.
وَهُوَ كُل مَنْ يُشَارِكُهُ فِي النَّسَبِ إِلَى أَقْصَى أَبٍ لَهُ فِي
الإِْسْلاَمِ، وَهُوَ الَّذِي أَدْرَكَ الإِْسْلاَمَ، أَسْلَمَ أَوْ لَمْ
يُسْلِمْ. (٤) وَقِيل: يُشْتَرَطُ إِسْلاَمُ الأَْبِ الأَْعْلَى. (٥) فَكُل مَنْ
يُنَاسِبُهُ إِلَى هَذَا الأَْبِ مِنَ الرِّجَال وَالنِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ
فَهُوَ مِنْ أَهْل بَيْتِهِ. (٦)
Menurut ulama Hanafiyah, ahl bait (keluarga)
seseorang, āl-nya, dan jins-nya memiliki makna yang sama.
Yaitu, setiap orang yang memiliki hubungan nasab dengannya hingga
kepada leluhur tertingginya yang mengalami masa Islam, yakni orang
yang hidup pada masa Islam, baik ia masuk Islam maupun tidak.
Menurut suatu pendapat, disyaratkan leluhur tertinggi tersebut
beragama Islam.
Dengan demikian, setiap orang yang memiliki hubungan nasab dengannya melalui
leluhur tersebut, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak,
termasuk dalam ahl bait-nya. (4–6)
وَقَال
الْمَالِكِيَّةُ: إِنَّ لَفْظَ الآْل يَتَنَاوَل الْعَصَبَةَ، وَيَتَنَاوَل كُل
امْرَأَةٍ لَوْ فُرِضَ أَنَّهَا رَجُلٌ كَانَ عَاصِبًا. (١)
Menurut ulama Malikiyah, istilah āl
mencakup kerabat ‘ashabah, dan juga mencakup setiap perempuan
yang seandainya dianggap sebagai laki-laki, niscaya ia termasuk ‘ashabah.
(1)
وَقَال
الْحَنَابِلَةُ: إِنَّ آل الشَّخْصِ وَأَهْل بَيْتِهِ وَقَوْمَهُ وَنُسَبَاءَهُ
وَقَرَابَتَهُ بِمَعْنًى وَاحِدٍ. (٢)
Menurut ulama Hanabilah, istilah āl seseorang,
ahl bait-nya, kaumnya, kerabat
nasabnya, dan sanak saudaranya memiliki satu
makna yang sama. (2)
وَقَال
الشَّافِعِيَّةُ: إِنَّ آل الرَّجُل أَقَارِبُهُ، وَأَهْلُهُ مَنْ تَلْزَمُهُ
نَفَقَتُهُمْ، وَأَهْل بَيْتِهِ أَقَارِبُهُ وَزَوْجَتُهُ. (٣)
Menurut ulama Syafi‘iyah, āl seseorang adalah para
kerabatnya, sedangkan ahl-nya adalah orang-orang yang
wajib ia nafkahi, dan ahl bait-nya adalah para
kerabat serta istrinya. (3)
وَلِلآْل
إِطْلاَقٌ خَاصٌّ فِي عِبَارَاتِ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ وَآلِهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَالأَْكْثَرُونَ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِهِمْ
قَرَابَتُهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الَّذِينَ حَرُمَتْ عَلَيْهِمُ
الصَّدَقَةُ. وَقِيل: هُمْ جَمِيعُ أُمَّةِ الإِْجَابَةِ، وَإِلَيْهِ مَال
مَالِكٌ، وَاخْتَارَهُ الأَْزْهَرِيُّ وَالنَّوَوِيُّ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ،
وَالْمُحَقِّقُونَ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ، (٤) وَهُوَ الْقَوْل الْمُقَدَّمُ عِنْدَ
الْحَنَابِلَةِ، وَعِبَارَةُ صَاحِبِ الْمُغْنِي: آل مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتْبَاعُهُ عَلَى دِينِهِ. (٥) .
Istilah āl memiliki penggunaan khusus dalam ungkapan doa
salawat kepada Nabi ﷺ, seperti: “ṣallallāhu
‘alā Muḥammadin wa ālihi” (semoga Allah mencurahkan salawat kepada
Nabi Muhammad dan keluarganya ﷺ).
Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan āl
dalam ungkapan tersebut adalah kerabat Nabi ﷺ
yang diharamkan menerima sedekah.
Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah seluruh
umat yang menerima dakwah Nabi ﷺ.
Pendapat ini dianut oleh Imam Malik, dipilih oleh al-Azhari
dan Imam an-Nawawi dari kalangan Syafi‘iyah, serta oleh para
ulama muḥaqqiq dari kalangan Hanafiyah. Pendapat ini juga merupakan pendapat
yang diutamakan dalam mazhab Hanabilah. (4)
Ungkapan pengarang kitab al-Mughnī:
“Āl Muhammad ﷺ adalah para
pengikutnya dalam agama beliau.” (5)
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Siapa yang Termasuk Āli dan Ahli dalam Fikih Islam: Definisi, Cakupan Āl
Muḥammad ﷺ, Hukum Zakat, Wakaf, Wasiat, Kafarat, Nazar, dan Sedekah
Menurut Empat Mazhab
آل
Āli
الْمَبْحَثُ الأَوَّل
Pembahasan Pertama
مَعْنَى الآْل لُغَةً وَاصْطِلاَحًا
Makna
Al-Āli secara Bahasa dan Istilah
التَّعْرِيفُ:
Definisi:
١ - مِنْ مَعَانِي الآْل فِي اللُّغَةِ
الأَْتْبَاعُ، يُقَال: آل الرَّجُل؛ أَيْ أَتْبَاعُهُ وَأَوْلِيَاؤُهُ.
وَيُسْتَعْمَل فِيمَا فِيهِ شَرَفٌ غَالِبًا، فَلاَ يُقَال: آل الإِْسْكَافِ،
كَمَا يُقَال أَهْلُهُ. (١)
1 — Di antara makna āl secara bahasa adalah para
pengikut. Dikatakan: “Ālu ar-rajul”, maksudnya adalah
para pengikut dan orang-orang yang dekat dengannya. Istilah
ini biasanya digunakan untuk sesuatu yang memiliki kemuliaan atau
kehormatan. Karena itu, tidak dikatakan “Ālu al-iskāf”
(keluarga tukang sepatu), sebagaimana dikatakan ahluhu
(keluarganya). (1)
وَقَدِ
اسْتُعْمِل لَفْظُ أَهْلٍ مُرَادِفًا لِلَفْظِ آلٍ، لَكِنْ قَدْ يَكُونُ لَفْظُ
أَهْلٍ أَخَصَّ إِذَا اسْتُعْمِل بِمَعْنَى زَوْجَةٍ، كَمَا فِي قَوْله تَعَالَى
خِطَابًا لِزَوْجَةِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ عِنْدَمَا قَالَتْ:
{أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ} (١) : {رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ
أَهْل الْبَيْتِ} (٢) وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ
خَيْرُكُمْ لأَِهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَِهْلِي (٣) وَالْمُرَادُ زَوْجَاتُهُ.
Istilah ahl terkadang digunakan sebagai sinonim dari
istilah āl. Namun, kata ahl terkadang
memiliki makna yang lebih khusus apabila digunakan dalam arti istri,
sebagaimana dalam firman Allah Ta‘ala ketika berbicara kepada istri Nabi
Ibrahim عليه السلام saat
ia berkata, “Apakah aku akan melahirkan, sedangkan aku sudah tua?”:
“Rahmat Allah dan keberkahan-Nya tercurah atas kalian, wahai
Ahlulbait.” (1)
Demikian pula sabda Nabi ﷺ:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya,
dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (3)
Yang dimaksud dengan keluarga beliau dalam hadis tersebut
adalah istri-istri beliau.
مَعْنَى الآْل فِي اصْطِلاَحِ الْفُقَهَاءِ:
Makna
al-Āli dalam Istilah Para Fuqaha:
٢ - لَمْ يَتَّفِقْ الْفُقَهَاءُ عَلَى
مَعْنَى الآْل، وَاخْتَلَفَتْ لِذَلِكَ الأَْحْكَامُ عِنْدَهُمْ.
2 — Para fuqaha tidak bersepakat mengenai makna al-Āli, sehingga hukum-hukum
yang mereka tetapkan pun berbeda-beda berdasarkan perbedaan pemaknaan
tersebut.
فَقَدْ
قَال الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ: إِنَّ الآْل وَالأَْهْل
بِمَعْنًى وَاحِدٍ، وَلَكِنَّ مَدْلُولَهُ عِنْدَ كُلٍّ مِنْهُمْ يَخْتَلِفُ.
Para ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah berpendapat
bahwa al-Āli dan ahl memiliki makna yang sama,
tetapi cakupan makna tersebut berbeda menurut masing-masing mazhab.
فَذَهَبَ
الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّ أَهْل بَيْتِ الرَّجُل وَآلَهُ وَجِنْسَهُ وَاحِدٌ.
وَهُوَ كُل مَنْ يُشَارِكُهُ فِي النَّسَبِ إِلَى أَقْصَى أَبٍ لَهُ فِي
الإِْسْلاَمِ، وَهُوَ الَّذِي أَدْرَكَ الإِْسْلاَمَ، أَسْلَمَ أَوْ لَمْ
يُسْلِمْ. (٤) وَقِيل: يُشْتَرَطُ إِسْلاَمُ الأَْبِ الأَْعْلَى. (٥) فَكُل مَنْ
يُنَاسِبُهُ إِلَى هَذَا الأَْبِ مِنَ الرِّجَال وَالنِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ
فَهُوَ مِنْ أَهْل بَيْتِهِ. (٦)
Menurut ulama Hanafiyah, ahl bait (keluarga)
seseorang, āl-nya, dan jins-nya memiliki makna yang sama.
Yaitu, setiap orang yang memiliki hubungan nasab dengannya hingga
kepada leluhur tertingginya yang mengalami masa Islam, yakni orang
yang hidup pada masa Islam, baik ia masuk Islam maupun tidak.
Menurut suatu pendapat, disyaratkan leluhur tertinggi tersebut
beragama Islam.
Dengan demikian, setiap orang yang memiliki hubungan nasab dengannya melalui
leluhur tersebut, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak,
termasuk dalam ahl bait-nya. (4–6)
وَقَال
الْمَالِكِيَّةُ: إِنَّ لَفْظَ الآْل يَتَنَاوَل الْعَصَبَةَ، وَيَتَنَاوَل كُل
امْرَأَةٍ لَوْ فُرِضَ أَنَّهَا رَجُلٌ كَانَ عَاصِبًا. (١)
Menurut ulama Malikiyah, istilah āl
mencakup kerabat ‘ashabah, dan juga mencakup setiap perempuan
yang seandainya dianggap sebagai laki-laki, niscaya ia termasuk ‘ashabah.
(1)
وَقَال
الْحَنَابِلَةُ: إِنَّ آل الشَّخْصِ وَأَهْل بَيْتِهِ وَقَوْمَهُ وَنُسَبَاءَهُ
وَقَرَابَتَهُ بِمَعْنًى وَاحِدٍ. (٢)
Menurut ulama Hanabilah, istilah āl seseorang,
ahl bait-nya, kaumnya, kerabat
nasabnya, dan sanak saudaranya memiliki satu
makna yang sama. (2)
وَقَال
الشَّافِعِيَّةُ: إِنَّ آل الرَّجُل أَقَارِبُهُ، وَأَهْلُهُ مَنْ تَلْزَمُهُ
نَفَقَتُهُمْ، وَأَهْل بَيْتِهِ أَقَارِبُهُ وَزَوْجَتُهُ. (٣)
Menurut ulama Syafi‘iyah, āl seseorang adalah para
kerabatnya, sedangkan ahl-nya adalah orang-orang yang
wajib ia nafkahi, dan ahl bait-nya adalah para
kerabat serta istrinya. (3)
وَلِلآْل
إِطْلاَقٌ خَاصٌّ فِي عِبَارَاتِ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ وَآلِهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَالأَْكْثَرُونَ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِهِمْ
قَرَابَتُهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الَّذِينَ حَرُمَتْ عَلَيْهِمُ
الصَّدَقَةُ. وَقِيل: هُمْ جَمِيعُ أُمَّةِ الإِْجَابَةِ، وَإِلَيْهِ مَال
مَالِكٌ، وَاخْتَارَهُ الأَْزْهَرِيُّ وَالنَّوَوِيُّ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ،
وَالْمُحَقِّقُونَ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ، (٤) وَهُوَ الْقَوْل الْمُقَدَّمُ عِنْدَ
الْحَنَابِلَةِ، وَعِبَارَةُ صَاحِبِ الْمُغْنِي: آل مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتْبَاعُهُ عَلَى دِينِهِ. (٥) .
Istilah āl memiliki penggunaan khusus dalam ungkapan doa
salawat kepada Nabi ﷺ, seperti: “ṣallallāhu
‘alā Muḥammadin wa ālihi” (semoga Allah mencurahkan salawat kepada
Nabi Muhammad dan keluarganya ﷺ).
Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan āl
dalam ungkapan tersebut adalah kerabat Nabi ﷺ
yang diharamkan menerima sedekah.
Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah seluruh
umat yang menerima dakwah Nabi ﷺ.
Pendapat ini dianut oleh Imam Malik, dipilih oleh al-Azhari
dan Imam an-Nawawi dari kalangan Syafi‘iyah, serta oleh para
ulama muḥaqqiq dari kalangan Hanafiyah. Pendapat ini juga merupakan pendapat
yang diutamakan dalam mazhab Hanabilah. (4)
Ungkapan pengarang kitab al-Mughnī:
“Āl Muhammad ﷺ adalah para
pengikutnya dalam agama beliau.” (5)
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Siapa yang Termasuk Āli dan Ahli dalam Fikih Islam: Definisi, Cakupan Āl
Muḥammad ﷺ, Hukum Zakat, Wakaf, Wasiat, Kafarat, Nazar, dan Sedekah
Menurut Empat Mazhab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar