Apa Makna Āli dalam Islam? Pengertian Secara Bahasa dan Fikih, Pendapat Empat Mazhab, serta Makna Āli Muhammad ﷺ dalam Salawat

آل

Āli

الْمَبْحَثُ الأَوَّل

Pembahasan Pertama

مَعْنَى الآْل لُغَةً وَاصْطِلاَحًا

Makna Al-Āli secara Bahasa dan Istilah

التَّعْرِيفُ:

Definisi:

١ - مِنْ مَعَانِي الآْل فِي اللُّغَةِ الأَْتْبَاعُ، يُقَال: آل الرَّجُل؛ أَيْ أَتْبَاعُهُ وَأَوْلِيَاؤُهُ. وَيُسْتَعْمَل فِيمَا فِيهِ شَرَفٌ غَالِبًا، فَلاَ يُقَال: آل الإِْسْكَافِ، كَمَا يُقَال أَهْلُهُ. (١)

1 — Di antara makna āl secara bahasa adalah para pengikut. Dikatakan: “Ālu ar-rajul”, maksudnya adalah para pengikut dan orang-orang yang dekat dengannya. Istilah ini biasanya digunakan untuk sesuatu yang memiliki kemuliaan atau kehormatan. Karena itu, tidak dikatakan “Ālu al-iskāf” (keluarga tukang sepatu), sebagaimana dikatakan ahluhu (keluarganya). (1)

وَقَدِ اسْتُعْمِل لَفْظُ أَهْلٍ مُرَادِفًا لِلَفْظِ آلٍ، لَكِنْ قَدْ يَكُونُ لَفْظُ أَهْلٍ أَخَصَّ إِذَا اسْتُعْمِل بِمَعْنَى زَوْجَةٍ، كَمَا فِي قَوْله تَعَالَى خِطَابًا لِزَوْجَةِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ عِنْدَمَا قَالَتْ: {أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ} (١) : {رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْل الْبَيْتِ} (٢) وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَِهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَِهْلِي (٣) وَالْمُرَادُ زَوْجَاتُهُ.

Istilah ahl terkadang digunakan sebagai sinonim dari istilah āl. Namun, kata ahl terkadang memiliki makna yang lebih khusus apabila digunakan dalam arti istri, sebagaimana dalam firman Allah Ta‘ala ketika berbicara kepada istri Nabi Ibrahim عليه السلام saat ia berkata, “Apakah aku akan melahirkan, sedangkan aku sudah tua?”:

“Rahmat Allah dan keberkahan-Nya tercurah atas kalian, wahai Ahlulbait.” (1)

Demikian pula sabda Nabi :

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (3)

Yang dimaksud dengan keluarga beliau dalam hadis tersebut adalah istri-istri beliau.

مَعْنَى الآْل فِي اصْطِلاَحِ الْفُقَهَاءِ:

Makna al-Āli dalam Istilah Para Fuqaha:

٢ - لَمْ يَتَّفِقْ الْفُقَهَاءُ عَلَى مَعْنَى الآْل، وَاخْتَلَفَتْ لِذَلِكَ الأَْحْكَامُ عِنْدَهُمْ.

2 — Para fuqaha tidak bersepakat mengenai makna al-Āli, sehingga hukum-hukum yang mereka tetapkan pun berbeda-beda berdasarkan perbedaan pemaknaan tersebut.

فَقَدْ قَال الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ: إِنَّ الآْل وَالأَْهْل بِمَعْنًى وَاحِدٍ، وَلَكِنَّ مَدْلُولَهُ عِنْدَ كُلٍّ مِنْهُمْ يَخْتَلِفُ.

Para ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah berpendapat bahwa al-Āli dan ahl memiliki makna yang sama, tetapi cakupan makna tersebut berbeda menurut masing-masing mazhab.

فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّ أَهْل بَيْتِ الرَّجُل وَآلَهُ وَجِنْسَهُ وَاحِدٌ. وَهُوَ كُل مَنْ يُشَارِكُهُ فِي النَّسَبِ إِلَى أَقْصَى أَبٍ لَهُ فِي الإِْسْلاَمِ، وَهُوَ الَّذِي أَدْرَكَ الإِْسْلاَمَ، أَسْلَمَ أَوْ لَمْ يُسْلِمْ. (٤) وَقِيل: يُشْتَرَطُ إِسْلاَمُ الأَْبِ الأَْعْلَى. (٥) فَكُل مَنْ يُنَاسِبُهُ إِلَى هَذَا الأَْبِ مِنَ الرِّجَال وَالنِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ فَهُوَ مِنْ أَهْل بَيْتِهِ. (٦)

Menurut ulama Hanafiyah, ahl bait (keluarga) seseorang, āl-nya, dan jins-nya memiliki makna yang sama. Yaitu, setiap orang yang memiliki hubungan nasab dengannya hingga kepada leluhur tertingginya yang mengalami masa Islam, yakni orang yang hidup pada masa Islam, baik ia masuk Islam maupun tidak.

Menurut suatu pendapat, disyaratkan leluhur tertinggi tersebut beragama Islam.

Dengan demikian, setiap orang yang memiliki hubungan nasab dengannya melalui leluhur tersebut, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, termasuk dalam ahl bait-nya. (4–6)

وَقَال الْمَالِكِيَّةُ: إِنَّ لَفْظَ الآْل يَتَنَاوَل الْعَصَبَةَ، وَيَتَنَاوَل كُل امْرَأَةٍ لَوْ فُرِضَ أَنَّهَا رَجُلٌ كَانَ عَاصِبًا. (١)

Menurut ulama Malikiyah, istilah āl mencakup kerabat ‘ashabah, dan juga mencakup setiap perempuan yang seandainya dianggap sebagai laki-laki, niscaya ia termasuk ‘ashabah. (1)

وَقَال الْحَنَابِلَةُ: إِنَّ آل الشَّخْصِ وَأَهْل بَيْتِهِ وَقَوْمَهُ وَنُسَبَاءَهُ وَقَرَابَتَهُ بِمَعْنًى وَاحِدٍ. (٢)

Menurut ulama Hanabilah, istilah āl seseorang, ahl bait-nya, kaumnya, kerabat nasabnya, dan sanak saudaranya memiliki satu makna yang sama. (2)

وَقَال الشَّافِعِيَّةُ: إِنَّ آل الرَّجُل أَقَارِبُهُ، وَأَهْلُهُ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُمْ، وَأَهْل بَيْتِهِ أَقَارِبُهُ وَزَوْجَتُهُ. (٣)

Menurut ulama Syafi‘iyah, āl seseorang adalah para kerabatnya, sedangkan ahl-nya adalah orang-orang yang wajib ia nafkahi, dan ahl bait-nya adalah para kerabat serta istrinya. (3)

وَلِلآْل إِطْلاَقٌ خَاصٌّ فِي عِبَارَاتِ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ وَآلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَالأَْكْثَرُونَ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِهِمْ قَرَابَتُهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الَّذِينَ حَرُمَتْ عَلَيْهِمُ الصَّدَقَةُ. وَقِيل: هُمْ جَمِيعُ أُمَّةِ الإِْجَابَةِ، وَإِلَيْهِ مَال مَالِكٌ، وَاخْتَارَهُ الأَْزْهَرِيُّ وَالنَّوَوِيُّ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ، وَالْمُحَقِّقُونَ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ، (٤) وَهُوَ الْقَوْل الْمُقَدَّمُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ، وَعِبَارَةُ صَاحِبِ الْمُغْنِي: آل مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتْبَاعُهُ عَلَى دِينِهِ. (٥) .

Istilah āl memiliki penggunaan khusus dalam ungkapan doa salawat kepada Nabi , seperti: “ṣallallāhu ‘alā Muḥammadin wa ālihi” (semoga Allah mencurahkan salawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya ).

Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan āl dalam ungkapan tersebut adalah kerabat Nabi yang diharamkan menerima sedekah.

Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah seluruh umat yang menerima dakwah Nabi . Pendapat ini dianut oleh Imam Malik, dipilih oleh al-Azhari dan Imam an-Nawawi dari kalangan Syafi‘iyah, serta oleh para ulama muḥaqqiq dari kalangan Hanafiyah. Pendapat ini juga merupakan pendapat yang diutamakan dalam mazhab Hanabilah. (4)

Ungkapan pengarang kitab al-Mughnī:

“Āl Muhammad adalah para pengikutnya dalam agama beliau.” (5)

Wallahu A’lam...

Baca juga:

Apa Itu Āfat dalam Fikih? Pengertian, Jenis, Dampak Hukum, danPengaruhnya terhadap Ibadah, Muamalah, Zakat, dan Ahliyyah

Apa yang Dimaksud dengan Āfāqī dalam Haji? Pengertian, Batasannya,Miqat, Tawaf Wada‘ dan Qudum, serta Qirān dan Tamattu‘

Siapa yang Termasuk Āli dan Ahli dalam Fikih Islam: Definisi, Cakupan Āl Muḥammad , Hukum Zakat, Wakaf, Wasiat, Kafarat, Nazar, dan Sedekah Menurut Empat Mazhab

آل

Āli

الْمَبْحَثُ الأَوَّل

Pembahasan Pertama

مَعْنَى الآْل لُغَةً وَاصْطِلاَحًا

Makna Al-Āli secara Bahasa dan Istilah

التَّعْرِيفُ:

Definisi:

١ - مِنْ مَعَانِي الآْل فِي اللُّغَةِ الأَْتْبَاعُ، يُقَال: آل الرَّجُل؛ أَيْ أَتْبَاعُهُ وَأَوْلِيَاؤُهُ. وَيُسْتَعْمَل فِيمَا فِيهِ شَرَفٌ غَالِبًا، فَلاَ يُقَال: آل الإِْسْكَافِ، كَمَا يُقَال أَهْلُهُ. (١)

1 — Di antara makna āl secara bahasa adalah para pengikut. Dikatakan: “Ālu ar-rajul”, maksudnya adalah para pengikut dan orang-orang yang dekat dengannya. Istilah ini biasanya digunakan untuk sesuatu yang memiliki kemuliaan atau kehormatan. Karena itu, tidak dikatakan “Ālu al-iskāf” (keluarga tukang sepatu), sebagaimana dikatakan ahluhu (keluarganya). (1)

وَقَدِ اسْتُعْمِل لَفْظُ أَهْلٍ مُرَادِفًا لِلَفْظِ آلٍ، لَكِنْ قَدْ يَكُونُ لَفْظُ أَهْلٍ أَخَصَّ إِذَا اسْتُعْمِل بِمَعْنَى زَوْجَةٍ، كَمَا فِي قَوْله تَعَالَى خِطَابًا لِزَوْجَةِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ عِنْدَمَا قَالَتْ: {أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ} (١) : {رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْل الْبَيْتِ} (٢) وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَِهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَِهْلِي (٣) وَالْمُرَادُ زَوْجَاتُهُ.

Istilah ahl terkadang digunakan sebagai sinonim dari istilah āl. Namun, kata ahl terkadang memiliki makna yang lebih khusus apabila digunakan dalam arti istri, sebagaimana dalam firman Allah Ta‘ala ketika berbicara kepada istri Nabi Ibrahim عليه السلام saat ia berkata, “Apakah aku akan melahirkan, sedangkan aku sudah tua?”:

“Rahmat Allah dan keberkahan-Nya tercurah atas kalian, wahai Ahlulbait.” (1)

Demikian pula sabda Nabi :

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (3)

Yang dimaksud dengan keluarga beliau dalam hadis tersebut adalah istri-istri beliau.

مَعْنَى الآْل فِي اصْطِلاَحِ الْفُقَهَاءِ:

Makna al-Āli dalam Istilah Para Fuqaha:

٢ - لَمْ يَتَّفِقْ الْفُقَهَاءُ عَلَى مَعْنَى الآْل، وَاخْتَلَفَتْ لِذَلِكَ الأَْحْكَامُ عِنْدَهُمْ.

2 — Para fuqaha tidak bersepakat mengenai makna al-Āli, sehingga hukum-hukum yang mereka tetapkan pun berbeda-beda berdasarkan perbedaan pemaknaan tersebut.

فَقَدْ قَال الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ: إِنَّ الآْل وَالأَْهْل بِمَعْنًى وَاحِدٍ، وَلَكِنَّ مَدْلُولَهُ عِنْدَ كُلٍّ مِنْهُمْ يَخْتَلِفُ.

Para ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah berpendapat bahwa al-Āli dan ahl memiliki makna yang sama, tetapi cakupan makna tersebut berbeda menurut masing-masing mazhab.

فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ إِلَى أَنَّ أَهْل بَيْتِ الرَّجُل وَآلَهُ وَجِنْسَهُ وَاحِدٌ. وَهُوَ كُل مَنْ يُشَارِكُهُ فِي النَّسَبِ إِلَى أَقْصَى أَبٍ لَهُ فِي الإِْسْلاَمِ، وَهُوَ الَّذِي أَدْرَكَ الإِْسْلاَمَ، أَسْلَمَ أَوْ لَمْ يُسْلِمْ. (٤) وَقِيل: يُشْتَرَطُ إِسْلاَمُ الأَْبِ الأَْعْلَى. (٥) فَكُل مَنْ يُنَاسِبُهُ إِلَى هَذَا الأَْبِ مِنَ الرِّجَال وَالنِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ فَهُوَ مِنْ أَهْل بَيْتِهِ. (٦)

Menurut ulama Hanafiyah, ahl bait (keluarga) seseorang, āl-nya, dan jins-nya memiliki makna yang sama. Yaitu, setiap orang yang memiliki hubungan nasab dengannya hingga kepada leluhur tertingginya yang mengalami masa Islam, yakni orang yang hidup pada masa Islam, baik ia masuk Islam maupun tidak.

Menurut suatu pendapat, disyaratkan leluhur tertinggi tersebut beragama Islam.

Dengan demikian, setiap orang yang memiliki hubungan nasab dengannya melalui leluhur tersebut, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, termasuk dalam ahl bait-nya. (4–6)

وَقَال الْمَالِكِيَّةُ: إِنَّ لَفْظَ الآْل يَتَنَاوَل الْعَصَبَةَ، وَيَتَنَاوَل كُل امْرَأَةٍ لَوْ فُرِضَ أَنَّهَا رَجُلٌ كَانَ عَاصِبًا. (١)

Menurut ulama Malikiyah, istilah āl mencakup kerabat ‘ashabah, dan juga mencakup setiap perempuan yang seandainya dianggap sebagai laki-laki, niscaya ia termasuk ‘ashabah. (1)

وَقَال الْحَنَابِلَةُ: إِنَّ آل الشَّخْصِ وَأَهْل بَيْتِهِ وَقَوْمَهُ وَنُسَبَاءَهُ وَقَرَابَتَهُ بِمَعْنًى وَاحِدٍ. (٢)

Menurut ulama Hanabilah, istilah āl seseorang, ahl bait-nya, kaumnya, kerabat nasabnya, dan sanak saudaranya memiliki satu makna yang sama. (2)

وَقَال الشَّافِعِيَّةُ: إِنَّ آل الرَّجُل أَقَارِبُهُ، وَأَهْلُهُ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُمْ، وَأَهْل بَيْتِهِ أَقَارِبُهُ وَزَوْجَتُهُ. (٣)

Menurut ulama Syafi‘iyah, āl seseorang adalah para kerabatnya, sedangkan ahl-nya adalah orang-orang yang wajib ia nafkahi, dan ahl bait-nya adalah para kerabat serta istrinya. (3)

وَلِلآْل إِطْلاَقٌ خَاصٌّ فِي عِبَارَاتِ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ وَآلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَالأَْكْثَرُونَ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِهِمْ قَرَابَتُهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الَّذِينَ حَرُمَتْ عَلَيْهِمُ الصَّدَقَةُ. وَقِيل: هُمْ جَمِيعُ أُمَّةِ الإِْجَابَةِ، وَإِلَيْهِ مَال مَالِكٌ، وَاخْتَارَهُ الأَْزْهَرِيُّ وَالنَّوَوِيُّ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ، وَالْمُحَقِّقُونَ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ، (٤) وَهُوَ الْقَوْل الْمُقَدَّمُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ، وَعِبَارَةُ صَاحِبِ الْمُغْنِي: آل مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتْبَاعُهُ عَلَى دِينِهِ. (٥) .

Istilah āl memiliki penggunaan khusus dalam ungkapan doa salawat kepada Nabi , seperti: “ṣallallāhu ‘alā Muḥammadin wa ālihi” (semoga Allah mencurahkan salawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya ).

Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan āl dalam ungkapan tersebut adalah kerabat Nabi yang diharamkan menerima sedekah.

Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah seluruh umat yang menerima dakwah Nabi . Pendapat ini dianut oleh Imam Malik, dipilih oleh al-Azhari dan Imam an-Nawawi dari kalangan Syafi‘iyah, serta oleh para ulama muḥaqqiq dari kalangan Hanafiyah. Pendapat ini juga merupakan pendapat yang diutamakan dalam mazhab Hanabilah. (4)

Ungkapan pengarang kitab al-Mughnī:

“Āl Muhammad adalah para pengikutnya dalam agama beliau.” (5)

Wallahu A’lam...

Baca juga:

Apa Itu Āfat dalam Fikih? Pengertian, Jenis, Dampak Hukum, danPengaruhnya terhadap Ibadah, Muamalah, Zakat, dan Ahliyyah

Apa yang Dimaksud dengan Āfāqī dalam Haji? Pengertian, Batasannya,Miqat, Tawaf Wada‘ dan Qudum, serta Qirān dan Tamattu‘

Siapa yang Termasuk Āli dan Ahli dalam Fikih Islam: Definisi, Cakupan Āl Muḥammad , Hukum Zakat, Wakaf, Wasiat, Kafarat, Nazar, dan Sedekah Menurut Empat Mazhab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Bacaan Āmīn dalam Fikih Islam: Pengertian, Hukum, Tata Cara Mengucapkan, dan Pembahasannya dalam Salat, Qunut, Khutbah, Istisqā’, serta Doa Setelah Salat

آمِينَ Āmīn مَعْنَاهُ، وَاللُّغَاتُ الَّتِي وَرَدَتْ فِيهِ : Makna dan Ragam Pengucapannya ١ - جُمْهُورُ أَهْل اللُّغَةِ عَلَى أ...