Siapa yang Termasuk Āli dan Ahli dalam Fikih Islam: Definisi, Cakupan Āl Muḥammad ﷺ, Hukum Zakat, Wakaf, Wasiat, Kafarat, Nazar, dan Sedekah Menurut Empat Mazhab

الْمَبْحَثُ الثَّانِي

Pembahasan Kedua

أَحْكَامُ الآْل فِي الْوَقْفِ وَالْوَصِيَّةِ

Hukum Āli dalam Wakaf dan Wasiat

٣ - قَال الْحَنَفِيَّةُ: لَوْ قَال الْوَاقِفُ: أَرْضِي هَذِهِ صَدَقَةٌ مَوْقُوفَةٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَل أَبَدًا عَلَى أَهْل بَيْتِي، فَإِذَا انْقَرَضُوا فَهِيَ وَقْفٌ عَلَى الْمَسَاكِينِ - تَكُونُ الْغَلَّةُ لِلْفُقَرَاءِ وَالأَْغْنِيَاءِ مِنْ أَهْل بَيْتِهِ، وَيَدْخُل فِيهِ أَبُوهُ وَأَبُو أَبِيهِ وَإِنْ عَلاَ، وَوَلَدُهُ وَوَلَدُ وَلَدِهِ وَإِنْ سَفَل، الذُّكُورُ وَالإِْنَاثُ، وَالصِّغَارُ وَالْكِبَارُ، وَالأَْحْرَارُ وَالْعَبِيدُ فِيهِ سَوَاءٌ، وَالذِّمِّيُّ فِيهِ كَالْمُسْلِمِ. وَلاَ يَدْخُل فِيهِ الْوَاقِفُ، وَلاَ الأَْبُ الَّذِي أَدْرَكَ الإِْسْلاَمَ، وَلاَ الإِْنَاثُ مِنْ نَسْلِهِ إِنْ كَانَ آبَاؤُهُمْ مِنْ قَوْمٍ آخَرِينَ. وَإِنْ كَانَ آبَاؤُهُمْ مِمَّنْ يُنَاسِبُهُ إِلَى جَدِّهِ الَّذِي أَدْرَكَ الإِْسْلاَمَ فَهُمْ مِنْ أَهْل بَيْتِهِ.

3 — Ulama Hanafiyah menjelaskan bahwa apabila seorang pewakaf berkata:

“Tanahku ini adalah sedekah yang diwakafkan karena Allah ‘Azza wa Jalla untuk selamanya bagi ahl bait-ku. Apabila mereka telah punah, maka tanah tersebut menjadi wakaf bagi orang-orang miskin.”

Maka hasil atau manfaat wakaf tersebut diberikan kepada orang-orang fakir maupun orang-orang kaya dari kalangan ahl bait-nya.

Yang termasuk di dalamnya adalah:

  • ayahnya;
  • kakeknya dan seterusnya ke atas;
  • anak-anaknya dan keturunannya hingga ke bawah;
  • laki-laki maupun perempuan;
  • anak-anak maupun orang dewasa;
  • orang merdeka maupun budak.

Semuanya memiliki kedudukan yang sama dalam menerima manfaat wakaf. Bahkan orang dzimmi juga termasuk di dalamnya sebagaimana seorang Muslim.

Namun, pewakaf sendiri tidak termasuk dalam ahl bait yang dimaksud. Demikian pula ayah yang telah mengalami masa Islam tidak termasuk. Perempuan dari keturunannya juga tidak termasuk apabila ayah-ayah mereka berasal dari kaum atau nasab lain.

Adapun apabila ayah-ayah mereka termasuk orang yang memiliki hubungan nasab dengannya hingga kepada kakeknya yang mengalami masa Islam, maka mereka termasuk ahl bait-nya.

وَالآْل وَالأَْهْل بِمَعْنًى وَاحِدٍ عِنْدَهُمْ فِي الْوَصِيَّةِ أَيْضًا، فَلَوْ أَوْصَى لآِلِهِ أَوْ أَهْلِهِ، يَدْخُل فِيهِمْ مَنْ جَمَعَهُمْ أَقْصَى أَبٍ لَهُ فِي الإِْسْلاَمِ. وَيَدْخُل فِي الْوَصِيَّةِ لأَِهْل بَيْتِهِ أَبُوهُ وَجَدُّهُ مِمَّنْ لاَ يَرِثُ.

Menurut ulama Hanafiyah, āli dan ahli memiliki makna yang sama dalam masalah wasiat.

Oleh karena itu, apabila seseorang berwasiat untuk āli-nya atau ahli-nya, maka yang termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang memiliki hubungan nasab dengannya hingga kepada leluhur tertingginya yang mengalami masa Islam.

Adapun apabila seseorang berwasiat untuk ahli bait-nya, maka ayah dan kakeknya yang tidak termasuk ahli waris juga masuk dalam cakupan wasiat tersebut.

وَلَوْ أَوْصَى لأَِهْل فُلاَنٍ فَالْوَصِيَّةُ لِزَوْجَةِ فُلاَنٍ فِي قَوْل أَبِي حَنِيفَةَ وَعِنْدَ الصَّاحِبَيْنِ يَدْخُل فِيهِ جَمِيعُ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُمْ مِنَ الأَْحْرَارِ، فَيَدْخُل فِيهِ زَوْجَتُهُ وَالْيَتِيمُ فِي حِجْرِهِ، وَالْوَلَدُ إِذَا كَانَ يَعُولُهُ. فَإِنْ كَانَ كَبِيرًا قَدِ اعْتَزَل، أَوْ بِنْتًا قَدْ تَزَوَّجَتْ، فَلَيْسَ مِنْ أَهْلِهِ. وَلاَ يَدْخُل فِيهِ وَارِثُ الْمُوصِي وَلاَ الْمُوصَى لأَِهْلِهِ.

Apabila seseorang berwasiat “untuk keluarga si Fulan”, maka menurut Imam Abu Hanifah, wasiat tersebut diperuntukkan bagi istri si Fulan.

Sedangkan menurut Abu Yusuf dan Muhammad (ash-Shāhibān), yang termasuk dalam wasiat adalah semua orang merdeka yang menjadi tanggungan nafkah si Fulan, di antaranya:

  • istrinya;
  • anak yatim yang berada dalam pengasuhannya;
  • anaknya, apabila ia menanggung nafkah anak tersebut.

Adapun jika anak tersebut sudah dewasa dan telah hidup mandiri, atau seorang anak perempuan telah menikah, maka ia tidak termasuk dalam ahli-nya.

Selain itu, ahli waris orang yang berwasiat tidak termasuk dalam cakupan wasiat tersebut, demikian pula orang yang diwasiati untuk keluarganya tidak termasuk.

وَجْهُ قَوْل الصَّاحِبَيْنِ أَنَّ الأَْهْل عِبَارَةٌ عَمَّنْ يُنْفِقُ عَلَيْهِ. قَال اللَّهُ تَعَالَى خَبَرًا عَنْ سَيِّدِنَا نُوحٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ: {إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي} (١) وَقَال تَعَالَى فِي قِصَّةِ لُوطٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ: {فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ} (٢)

Alasan pendapat Abu Yusuf dan Muhammad (ash-Shāhibān) adalah bahwa istilah ahl merujuk kepada orang yang menjadi tanggungan nafkah seseorang.

Allah Ta‘ala berfirman ketika mengisahkan perkataan Nabi Nuh عليه السلام:

“Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku.” (QS. Hūd: 45)

Allah Ta‘ala juga berfirman dalam kisah Nabi Lūṭ عليه السلام:

“Lalu Kami menyelamatkan dia beserta keluarganya.” (QS. al-A‘rāf: 83)

Dengan demikian, menurut ash-Shāhibān, cakupan ahl dalam konteks ini tidak terbatas pada istri, tetapi mencakup orang-orang yang berada dalam tanggungan nafkahnya.

وَوَجْهُ قَوْل أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّ الأَْهْل عِنْدَ الإِْطْلاَقِ يُرَادُ بِهِ الزَّوْجَةُ فِي مُتَعَارَفِ النَّاسِ، يُقَال: فُلاَنٌ مُتَأَهِّلٌ، وَفُلاَنٌ لَمْ يَتَأَهَّل، وَفُلاَنٌ لَيْسَ لَهُ أَهْلٌ، وَيُرَادُ بِهِ الزَّوْجَةُ، فَتُحْمَل الْوَصِيَّةُ عَلَى ذَلِكَ. (٣)

Alasan pendapat Imam Abu Hanifah adalah bahwa apabila istilah ahl disebut secara mutlak dalam kebiasaan masyarakat, yang dimaksud biasanya adalah istri.

Hal ini tampak dalam ungkapan yang lazim digunakan, seperti:

  • “Fulan muta'ahhil” — Fulan telah berkeluarga/menikah.
  • “Fulan lam yata'ahhal” — Fulan belum menikah.
  • “Fulan laisa lahu ahl” — Fulan tidak memiliki keluarga.

Yang dimaksud dengan kata ahl dalam ungkapan-ungkapan tersebut adalah istri. Oleh karena itu, menurut Imam Abu Hanifah, wasiat dibawa kepada makna yang telah berlaku dalam kebiasaan tersebut. (3)

وَقَال الْمَالِكِيَّةُ: إِنَّ الْوَاقِفَ لَوْ وَقَفَ عَلَى آلِهِ أَوْ أَهْلِهِ شَمَل عَصَبَتَهُ مِنْ أَبٍ وَابْنٍ وَجَدٍّ وَإِخْوَةٍ وَأَعْمَامٍ وَبَنِيهِمُ الذُّكُورِ، وَشَمَل كُل امْرَأَةٍ لَوْ فُرِضَ أَنَّهَا رَجُلٌ كَانَ عَاصِبًا، سَوَاءٌ أَكَانَتْ قَبْل التَّقْدِيرِ عَصَبَةً بِغَيْرِهَا أَمْ مَعَ غَيْرِهَا، كَأُخْتٍ مَعَ أَخٍ أَوْ مَعَ بِنْتٍ، أَمْ كَانَتْ غَيْرَ عَاصِبَةٍ أَصْلاً، كَأُمٍّ وَجَدَّةٍ.

Menurut ulama Malikiyah, apabila seorang pewakaf mewakafkan hartanya untuk āl-nya atau ahl-nya, maka cakupannya meliputi:

  • Kerabat ‘ashabah laki-laki, seperti ayah, anak laki-laki, kakek, saudara laki-laki, paman, serta anak laki-laki dari paman.
  • Setiap perempuan yang apabila dianggap sebagai laki-laki akan menjadi ‘ashabah.

Perempuan tersebut tetap termasuk, baik sebelum pengandaian ia memang berstatus ‘ashabah karena bersama laki-laki lain maupun karena bersama perempuan lain, seperti saudara perempuan yang menjadi ‘ashabah bersama saudara laki-lakinya atau bersama anak perempuan.

Bahkan, termasuk pula perempuan yang pada asalnya bukan ‘ashabah sama sekali, seperti ibu dan nenek.

وَإِذَا قَال: أَوْصَيْتُ لأَِهْلِي بِكَذَا، اخْتَصَّ بِالْوَصِيَّةِ أَقَارِبَهُ لأُِمِّهِ؛ لأَِنَّهُمْ غَيْرُ وَرَثَةٍ لِلْمُوصِي، وَلاَ يَدْخُل أَقَارِبُهُ لأَِبِيهِ حَيْثُ كَانُوا يَرِثُونَهُ. وَهَذَا إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَقَارِبُ لأَِبِيهِ لاَ يَرِثُونَهُ. فَإِنْ وُجِدُوا اخْتُصُّوا بِالْوَصِيَّةِ، وَلاَ يَدْخُل مَعَهُمْ أَقَارِبُهُ لأُِمِّهِ. وَهَذَا قَوْل ابْنِ الْقَاسِمِ فِي الْوَصِيَّةِ وَالْوَقْفِ. وَقَال غَيْرُهُ بِدُخُول أَقَارِبِ الأُْمِّ مَعَ أَقَارِبِ الأَْبِ فِيهِمَا. (١)

Apabila seseorang berkata, “Aku berwasiat kepada keluargaku dengan sekian,” maka menurut pendapat ini, yang secara khusus berhak menerima wasiat adalah kerabat dari pihak ibu, karena mereka bukan termasuk ahli waris bagi orang yang berwasiat. Adapun kerabat dari pihak ayah tidak termasuk apabila mereka merupakan ahli warisnya.

Ketentuan ini berlaku apabila ia tidak memiliki kerabat dari pihak ayah yang tidak mewarisinya. Jika terdapat kerabat dari pihak ayah yang tidak menjadi ahli warisnya, maka mereka secara khusus yang berhak menerima wasiat, sedangkan kerabat dari pihak ibu tidak turut masuk bersama mereka.

Pendapat ini merupakan pendapat Ibnu al-Qāsim dalam masalah wasiat dan wakaf.

Sementara itu, ulama lainnya berpendapat bahwa kerabat dari pihak ibu tetap masuk bersama kerabat dari pihak ayah, baik dalam masalah wasiat maupun wakaf. (1)

وَقَال الشَّافِعِيَّةُ: إِنْ أَوْصَى الْمُوصِي لآِل غَيْرِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَحَّتِ الْوَصِيَّةُ، وَحُمِل عَلَى الْقَرَابَةِ لاَ عَلَى أَهْل الدِّينِ فِي أَوْجَهِ الْوَجْهَيْنِ، وَلاَ يُفَوَّضُ إِلَى اجْتِهَادِ الْحَاكِمِ. وَأَهْل الْبَيْتِ كَالآْل. وَتَدْخُل الزَّوْجَةُ فِي أَهْل الْبَيْتِ أَيْضًا. وَإِنْ أَوْصَى لأَِهْلِهِ مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ الْبَيْتِ دَخَل كُل مَنْ تَلْزَمُهُ مَئُونَتُهُ. (٢)

Menurut ulama Syafi‘iyah, apabila seseorang berwasiat kepada āl selain āl Nabi , maka wasiat tersebut sah. Menurut pendapat yang paling kuat dari dua pendapat yang ada, istilah āl dalam konteks ini ditafsirkan sebagai kerabat, bukan seluruh orang yang berada dalam satu agama. Penentuannya juga tidak diserahkan kepada ijtihad hakim.

Istilah ahl bait memiliki cakupan yang sama dengan āl, dan istri juga termasuk dalam ahl bait.

Adapun apabila seseorang berwasiat kepada ahl-nya tanpa menyebut kata ahl bait, maka yang termasuk adalah setiap orang yang menjadi tanggungan nafkahnya. (2)

وَقَال الْحَنَابِلَةُ: لَوْ أَوْصَى لآِلِهِ أَوْ أَهْلِهِ خَرَجَ الْوَارِثُونَ مِنْهُمْ، إِذْ لاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ، وَدَخَل مِنْ آلِهِ مَنْ لاَ يَرِثُ. (١)

Menurut ulama Hanabilah, apabila seseorang berwasiat untuk āl-nya atau ahl-nya, maka para ahli waris tidak termasuk dalam wasiat tersebut, karena berlaku kaidah “tidak ada wasiat bagi ahli waris.”

Adapun dari kalangan āl-nya, orang-orang yang tidak termasuk ahli warisnya tetap masuk dalam cakupan wasiat. (1)

الْمُرَادُ بِآل مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَّةً:

Yang Dimaksud dengan Āli Muhammad Secara Umum:

٤ - آل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُمْ آل عَلِيٍّ، وَآل عَبَّاسٍ، وَآل جَعْفَرٍ، وَآل عَقِيلٍ، وَآل الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَآل أَبِي لَهَبٍ.

4Āl Nabi secara umum mencakup Āl ‘Ali, Āl ‘Abbas, Āl Ja‘far, Āl ‘Aqil, Āl al-Harits bin ‘Abd al-Muththalib, dan Āl Abu Lahab.

فَإِنَّ عَبْدَ مَنَافٍ وَهُوَ الأَْبُ الرَّابِعُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْقَبَ أَرْبَعَةً، وَهُمْ هَاشِمٌ وَالْمُطَّلِبُ وَنَوْفَلٌ وَعَبْدُ شَمْسٍ. ثُمَّ إِنَّ هَاشِمًا أَعْقَبَ أَرْبَعَةً، انْقَطَعَ نَسَبُهُمْ إِلاَّ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ، فَإِنَّهُ أَعْقَبَ اثْنَيْ عَشَرَ. (٢)

Sebabnya, ‘Abd Manāf, yang merupakan leluhur keempat Nabi , memiliki empat orang keturunan, yaitu Hāsyim, al-Muththalib, Nawfal, dan ‘Abd Syams.

Kemudian, Hāsyim memiliki empat orang keturunan, tetapi nasab mereka terputus kecuali ‘Abd al-Muththalib. Adapun ‘Abd al-Muththalib memiliki dua belas orang keturunan. (2)

آل مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِينَ لَهُمْ أَحْكَامٌ خَاصَّةٌ:

Āli Muhammad yang Memiliki Hukum-Hukum Khusus:

٥ - هُمْ آل عَلِيٍّ، وَآل عَبَّاسٍ، وَآل جَعْفَرٍ، وَآل عَقِيلٍ، وَآل الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَمَوَالِيهِمْ، خِلاَفًا لاِبْنِ الْقَاسِمِ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ وَمَعَهُ أَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ (٣) حَيْثُ لَمْ يَعُدُّوا الْمَوَالِيَ مِنَ الآْل. أَمَّا أَزْوَاجُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَبُو الْحَسَنِ بْنُ بَطَّالٍ فِي شَرْحِ الْبُخَارِيِّ أَنَّ الْفُقَهَاءَ كَافَّةً اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ أَزْوَاجَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لاَ يَدْخُلْنَ فِي آلِهِ الَّذِينَ حَرُمَتْ عَلَيْهِمُ الصَّدَقَةُ، (٤) لَكِنْ فِي الْمُغْنِي عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مَا يُخَالِفُ ذَلِكَ. قَال: رَوَى الْخَلاَّل بِإِسْنَادِهِ عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ أَنَّ خَالِدَ بْنَ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ بَعَثَ إِلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا سُفْرَةً مِنَ الصَّدَقَةِ، فَرَدَّتْهَا، وَقَالَتْ: إِنَّا آل مُحَمَّدٍ لاَ تَحِل لَنَا الصَّدَقَةُ. قَال صَاحِبُ الْمُغْنِي: وَهَذَا يَدُل عَلَى أَنَّهُنَّ مِنْ أَهْل بَيْتِهِ فِي تَحْرِيمِ الزَّكَاةِ. وَذَكَرَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ أَنَّهُ يَحْرُمُ عَلَيْهِنَّ الصَّدَقَةُ وَأَنَّهُنَّ مِنْ أَهْل بَيْتِهِ فِي أَصَحِّ الرِّوَايَتَيْنِ. (١)

5 — Yang dimaksud dengan Āl Muhammad yang memiliki hukum-hukum khusus adalah Āl ‘Ali, Āl ‘Abbas, Āl Ja‘far, Āl ‘Aqil, Āl al-Harits bin ‘Abd al-Muththalib, serta para mawālī mereka.

Pendapat ini berbeda dengan pendapat Ibnu al-Qāsim dari kalangan Malikiyah dan mayoritas ulama, yang tidak memasukkan para mawālī sebagai bagian dari āl. (3)

Adapun istri-istri Nabi , Abū al-Hasan bin Baththāl dalam Syarḥ al-Bukhārī menyebutkan bahwa seluruh fuqaha sepakat bahwa para istri Nabi tidak termasuk āl yang diharamkan menerima sedekah. (4)

Namun, dalam al-Mughnī terdapat riwayat dari ‘Aisyah رضي الله عنها yang menunjukkan pendapat berbeda. Al-Khallāl meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abī Mulaikah bahwa Khālid bin Sa‘id bin al-‘Āsh pernah mengirimkan hidangan yang berasal dari sedekah kepada ‘Aisyah رضي الله عنها. ‘Aisyah mengembalikannya seraya berkata:

“Sesungguhnya kami adalah Āl Muhammad; sedekah tidak halal bagi kami.”

Pengarang al-Mughnī menjelaskan bahwa riwayat ini menunjukkan para istri Nabi termasuk ahl bait beliau dalam hal keharaman menerima zakat.

Syaikh Taqiyuddin juga menyebutkan bahwa sedekah haram bagi para istri Nabi , dan bahwa mereka termasuk ahl bait beliau menurut riwayat yang paling sahih dari dua riwayat. (1)

حُكْمُ أَخْذِ آل الْبَيْتِ مِنْ الصَّدَقَةِ الْمَفْرُوضَةِ:

Hukum Keluarga Nabi (Āl al-Bait) Menerima Sedekah Wajib (Zakat):

٦ - إِنَّ آل مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَذْكُورِينَ لاَ يَجُوزُ دَفْعُ الزَّكَاةِ الْمَفْرُوضَةِ إِلَيْهِمْ بِاتِّفَاقِ فُقَهَاءِ الْمَذَاهِبِ الأَْرْبَعَةِ، لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: يَا بَنِي هَاشِمٍ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى حَرَّمَ عَلَيْكُمْ غُسَالَةَ النَّاسِ وَأَوْسَاخَهُمْ، وَعَوَّضَكُمْ عَنْهَا بِخُمُسِ الْخُمُسِ (٢)

6 — Sesungguhnya Āl Muhammad yang telah disebutkan sebelumnya tidak boleh diberikan zakat wajib. Hal ini disepakati oleh para fuqaha dari empat mazhab.

Dasarnya adalah sabda Nabi :

“Wahai Bani Hasyim, sesungguhnya Allah Ta‘ala mengharamkan bagi kalian sisa-sisa kotoran dan sesuatu yang dianggap kotor dari harta manusia, dan Dia menggantinya bagi kalian dengan seperlima dari seperlima (khumus).” (2)

Dengan demikian, zakat wajib tidak boleh diserahkan kepada Āl Muhammad yang termasuk dalam golongan Ahlulbait yang memiliki ketentuan khusus.

وَالَّذِينَ ذُكِرُوا يُنْسَبُونَ إِلَى هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ، وَنِسْبَةُ الْقَبِيلَةِ إِلَيْهِ.

Orang-orang yang telah disebutkan tersebut dinisbatkan kepada Hāsyim bin ‘Abd Manāf, dan penyebutan nisbah kepada kabilah mereka juga dikaitkan dengan beliau.

وَخَرَجَ أَبُو لَهَبٍ - وَإِنْ كَانَ مِنَ الآْل - فَيَجُوزُ الدَّفْعُ إِلَى بَنِيهِ؛ لأَِنَّ النَّصَّ أَبْطَل قَرَابَتَهُ، وَهُوَ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ قَرَابَةَ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي لَهَبٍ، فَإِنَّهُ آثَرَ عَلَيْنَا الأَْفْجَرِينَ (١) وَلأَِنَّ حُرْمَةَ الصَّدَقَةِ عَلَى بَنِي هَاشِمٍ كَرَامَةٌ مِنَ اللَّهِ لَهُمْ وَلِذُرِّيَّتِهِمْ، حَيْثُ نَصَرُوهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَاهِلِيَّتِهِمْ وَفِي إِسْلاَمِهِمْ. وَأَبُو لَهَبٍ كَانَ حَرِيصًا عَلَى أَذَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمْ يَسْتَحِقَّهَا بَنُوهُ. وَهَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ عِنْدَ كُلٍّ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ. وَفِي قَوْلٍ آخَرَ فِي كِلاَ الْمَذْهَبَيْنِ: يَحْرُمُ إِعْطَاءُ مَنْ أَسْلَمَ مِنْ آل أَبِي لَهَبٍ؛ لأَِنَّ مَنَاطَ الْحُكْمِ كَوْنُهُمْ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ (٢) .

Abu Lahab dikecualikan. Meskipun ia secara nasab termasuk Āl, zakat boleh diberikan kepada anak keturunannya. Alasannya, nash telah menggugurkan hubungan kekerabatannya dengan Nabi . Hal ini berdasarkan sabda beliau :

“Tidak ada hubungan kekerabatan antara aku dan Abu Lahab, karena ia lebih memilih orang-orang yang paling durhaka daripada kami.” (1)

Selain itu, keharaman menerima sedekah bagi Bani Hasyim merupakan bentuk kemuliaan dari Allah bagi mereka dan keturunan mereka, karena mereka dahulu membela Nabi , baik pada masa jahiliah maupun setelah masuk Islam. Adapun Abu Lahab justru sangat bersungguh-sungguh menyakiti Nabi , sehingga ia tidak berhak memperoleh kemuliaan tersebut, dan anak keturunannya pun tidak mendapatkannya.

Pendapat inilah yang menjadi mazhab Hanafiyah dan Hanabilah.

Namun, terdapat pendapat lain dalam kedua mazhab tersebut yang menyatakan bahwa orang yang telah masuk Islam dari kalangan Āl Abu Lahab tetap haram menerima zakat, karena dasar hukum yang menjadi pertimbangan adalah status mereka sebagai Bani Hasyim. (2)

٧ - وَاخْتُلِفَ فِي بَنِي الْمُطَّلِبِ أَخِي هَاشِمٍ هَل تُدْفَعُ الزَّكَاةُ إِلَيْهِمْ؟

7 — Para ulama berbeda pendapat mengenai Bani al-Muththalib, saudara Hasyim: apakah zakat boleh diberikan kepada mereka atau tidak?

فَمَذْهَبُ الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَشْهُورُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ، وَإِحْدَى رِوَايَتَيْنِ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ، أَنَّهُمْ يَأْخُذُونَ مِنَ الزَّكَاةِ؛ لأَِنَّهُمْ دَخَلُوا فِي عُمُومِ قَوْله تَعَالَى {إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ} (٣) لَكِنْ خَرَجَ بَنُو هَاشِمٍ لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الصَّدَقَةَ لاَ تَنْبَغِي لآِل مُحَمَّدٍ (٤) فَيَجِبُ أَنْ يَخْتَصَّ الْمَنْعُ بِهِمْ.

Menurut mazhab Hanafiyah, pendapat yang masyhur dalam Malikiyah, serta salah satu dari dua riwayat dalam Hanabilah, Bani al-Muththalib boleh menerima zakat.

Alasannya, mereka termasuk dalam keumuman firman Allah Ta‘ala:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir dan orang-orang miskin...” (QS. at-Taubah: 60). (3)

Adapun Bani Hasyim dikecualikan dari ketentuan umum tersebut berdasarkan sabda Nabi :

“Sesungguhnya sedekah tidak layak bagi Āl Muhammad.” (4)

Karena itu, menurut pendapat ini, larangan menerima zakat hanya berlaku secara khusus bagi Bani Hasyim, sedangkan Bani al-Muththalib tetap berada dalam keumuman hukum penerima zakat.

وَلاَ يَصِحُّ قِيَاسُ بَنِي الْمُطَّلِبِ عَلَى بَنِي هَاشِمٍ؛ لأَِنَّ بَنِي هَاشِمٍ أَقْرَبُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَشْرَفُ، وَهُمْ آل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمُشَارَكَةُ بَنِي الْمُطَّلِبِ لَهُمْ فِي خُمُسِ الْخُمُسِ لَمْ يَسْتَحِقُّوهُ بِمُجَرَّدِ الْقَرَابَةِ، بِدَلِيل أَنَّ بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ وَبَنِي نَوْفَلٍ يُسَاوُونَهُمْ فِي الْقَرَابَةِ وَلَمْ يُعْطَوْا شَيْئًا، وَإِنَّمَا شَارَكُوهُمْ بِالنُّصْرَةِ، أَوْ بِهِمَا جَمِيعًا، وَالنُّصْرَةُ لاَ تَقْتَضِي مَنْعَ الزَّكَاةِ. (١)

Tidak tepat menganalogikan Bani al-Muththalib dengan Bani Hasyim dalam masalah larangan menerima zakat. Sebab, Bani Hasyim lebih dekat nasabnya kepada Nabi dan lebih mulia kedudukannya; mereka termasuk Āl Nabi .

Adapun keikutsertaan Bani al-Muththalib bersama Bani Hasyim dalam memperoleh seperlima dari seperlima (khumus al-khumus) bukan semata-mata karena hubungan kekerabatan. Buktinya, Bani ‘Abd Syams dan Bani Nawfal memiliki hubungan kekerabatan yang setara dengan mereka, tetapi mereka tidak mendapatkan bagian tersebut.

Bani al-Muththalib memperoleh bagian itu karena jasa pembelaan dan pertolongan mereka kepada Nabi , atau karena gabungan faktor kekerabatan dan pembelaan.

Sedangkan jasa pembelaan semata tidak mengharuskan seseorang dilarang menerima zakat. (1)

وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ وَالْقَوْل غَيْرُ الْمَشْهُورِ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَإِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنِ الْحَنَابِلَةِ، أَنَّهُ لَيْسَ لِبَنِي الْمُطَّلِبِ الأَْخْذُ مِنَ الزَّكَاةِ، لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّا وَبَنُو الْمُطَّلِبِ لَمْ نَفْتَرِقْ فِي جَاهِلِيَّةٍ وَلاَ إِسْلاَمٍ. إِنَّمَا نَحْنُ وَهُمْ شَيْءٌ وَاحِدٌ وَفِي رِوَايَةٍ إِنَّمَا بَنُو هَاشِمٍ وَبَنُو الْمُطَّلِبِ شَيْءٌ وَاحِدٌ. وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ (٢) وَلأَِنَّهُمْ يَسْتَحِقُّونَ مِنْ خُمُسِ الْخُمُسِ، فَلَمْ يَكُنْ لَهُمُ الأَْخْذُ، كَبَنِي هَاشِمٍ. وَقَدْ أَكَّدَ ذَلِكَ مَا رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّل مَنْعَهُمُ الصَّدَقَةَ بِاسْتِغْنَائِهِمْ عَنْهَا بِخُمُسِ الْخُمُسِ، فَقَال صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَيْسَ فِي خُمُسِ الْخُمُسِ مَا يُغْنِيكُمْ؟ (١)

Adapun mazhab Syafi‘iyah, pendapat yang tidak masyhur dalam Malikiyah, serta salah satu dari dua riwayat dalam Hanabilah, menyatakan bahwa Bani al-Muththalib tidak boleh menerima zakat.

Dalilnya adalah sabda Nabi :

“Sesungguhnya kami dan Bani al-Muththalib tidak pernah berpisah, baik pada masa jahiliah maupun Islam. Sesungguhnya kami dan mereka adalah satu.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib adalah satu.”

Kemudian Nabi menjalinkan jari-jari tangannya sebagai gambaran eratnya hubungan mereka. (2)

Selain itu, Bani al-Muththalib juga memperoleh bagian dari seperlima dari seperlima (khumus al-khumus), sehingga mereka tidak boleh menerima zakat sebagaimana Bani Hasyim.

Hal ini semakin ditegaskan oleh riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi menjelaskan alasan larangan memberikan sedekah kepada mereka adalah karena mereka telah memiliki kecukupan melalui bagian khumus al-khumus. Beliau bersabda:

“Bukankah dalam khumus al-khumus sudah terdapat sesuatu yang mencukupi kalian?” (1)

٨ - هَذَا وَقَدْ رَوَى أَبُو عِصْمَةَ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهُ يَجُوزُ الدَّفْعُ إِلَى بَنِي هَاشِمٍ فِي زَمَانِهِ. (٢)

8 — Selain itu, Abu ‘Iṣmah meriwayatkan dari Imam Abu Hanifah bahwa boleh memberikan zakat kepada Bani Hasyim pada masa beliau. (2)

وَالْمَشْهُورُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ أَنَّ مَحَل عَدَمِ إِعْطَاءِ بَنِي هَاشِمٍ مِنَ الزَّكَاةِ إِذَا أُعْطُوا مَا يَسْتَحِقُّونَهُ مِنْ بَيْتِ الْمَال، فَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا، وَأَضَرَّ بِهِمُ الْفَقْرُ أُعْطُوا مِنْهَا. وَإِعْطَاؤُهُمْ حِينَئِذٍ أَفْضَل مِنْ إِعْطَاءِ غَيْرِهِمْ.

Menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab Malikiyah, larangan memberikan zakat kepada Bani Hasyim berlaku apabila mereka telah mendapatkan bagian yang menjadi hak mereka dari Baitulmal.

Namun, apabila mereka tidak memperoleh hak tersebut dan kemiskinan menyebabkan mereka mengalami kesulitan, maka boleh diberikan zakat kepada mereka.

Bahkan, dalam kondisi seperti itu, memberikan zakat kepada Bani Hasyim lebih utama daripada memberikannya kepada orang lain.

وَقَيَّدَهُ الْبَاجِيُّ بِمَا إِذَا وَصَلُوا إِلَى حَالَةٍ يُبَاحُ لَهُمْ فِيهَا أَكْل الْمَيْتَةِ، لاَ مُجَرَّدُ ضَرَرٍ. وَالظَّاهِرُ خِلاَفُهُ وَأَنَّهُمْ يُعْطَوْنَ عِنْدَ الاِحْتِيَاجِ وَلَوْ لَمْ يَصِلُوا إِلَى حَالَةِ إِبَاحَةِ أَكْل الْمَيْتَةِ، إِذْ إِعْطَاؤُهُمْ أَفْضَل مِنْ خِدْمَتِهِمْ لِذِمِّيٍّ أَوْ ظَالِمٍ. (٣)

Al-Bājī memberikan batasan bahwa Bani Hasyim baru boleh menerima zakat apabila mereka telah mencapai kondisi darurat yang membolehkan mereka memakan bangkai, bukan sekadar mengalami kesulitan atau penderitaan.

Namun, pendapat yang lebih kuat tampaknya berbeda dari pembatasan al-Bājī tersebut. Mereka boleh diberikan zakat ketika mengalami kebutuhan, meskipun kebutuhan itu belum mencapai tingkat darurat yang membolehkan memakan bangkai.

Sebab, memberikan zakat kepada mereka dalam kondisi membutuhkan lebih utama daripada membiarkan mereka harus melayani seorang dzimmi atau orang zalim. (3)

وَقَال الشَّافِعِيَّةُ: إِنَّهُ لاَ يَحِل لآِل مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةُ، وَإِنْ حُبِسَ عَنْهُمُ الْخُمُسُ، إِذْ لَيْسَ مَنْعُهُمْ مِنْهُ يُحِل لَهُمْ مَا حَرُمَ عَلَيْهِمْ مِنَ الصَّدَقَةِ، (٤) خِلاَفًا لأَِبِي سَعِيدٍ الإِْصْطَخْرِيِّ الَّذِي قَال: إِنْ مُنِعُوا حَقَّهُمْ مِنَ الْخُمُسِ جَازَ الدَّفْعُ إِلَيْهِمْ؛ لأَِنَّهُمْ إِنَّمَا حُرِمُوا الزَّكَاةَ لِحَقِّهِمْ فِي الْخُمُسِ، فَإِذَا مُنِعُوا مِنْهُ وَجَبَ أَنْ يُدْفَعَ إِلَيْهِمْ. (٥)

Menurut ulama Syafi‘iyah, Āl Muhammad tidak halal menerima zakat, meskipun bagian khumus yang menjadi hak mereka tidak diberikan kepada mereka. Sebab, tidak diberikannya hak mereka dari khumus tidak menjadikan sesuatu yang sebelumnya diharamkan bagi mereka—yaitu sedekah/zakat—menjadi halal. (4)

Pendapat ini berbeda dengan Abu Sa‘id al-Iṣṭakhrī, yang berpendapat bahwa apabila Āl Muhammad dihalangi dari menerima hak mereka dalam khumus, maka boleh memberikan zakat kepada mereka.

Alasannya, menurut Abu Sa‘id, mereka dilarang menerima zakat karena mereka memiliki hak atas khumus. Maka, apabila hak tersebut tidak diberikan kepada mereka, zakat boleh diberikan sebagai gantinya. (5)

وَالظَّاهِرُ مِنْ إِطْلاَقِ الْمَنْعِ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَنَّهُ تَحْرُمُ عَلَى الآْل الصَّدَقَةُ وَإِنْ مُنِعُوا حَقَّهُمْ فِي الْخُمُسِ.

Menurut makna yang tampak dari pernyataan mutlak dalam mazhab Hanabilah, Āl Muhammad tetap haram menerima sedekah/zakat, meskipun mereka tidak mendapatkan bagian hak mereka dari khumus.

Dengan demikian, tidak diberikannya hak mereka dari khumus tidak mengubah hukum asal berupa keharaman menerima zakat bagi Āl Muhammad .

أَخْذُ الآْل مِنْ الْكَفَّارَاتِ وَالنُّذُورِ وَجَزَاءِ الصَّيْدِ وَعُشْرِ الأَْرْضِ وَغَلَّةِ الْوَقْفِ:

Hukum Āli Muhammad Menerima Kafarat, Nazar, Denda Berburu, ‘Usyr Tanah, dan Hasil Wakaf:

٩ - ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَحِل لآِل مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الأَْخْذُ مِنْ كَفَّارَةِ الْيَمِينِ وَالظِّهَارِ وَالْقَتْل وَجَزَاءِ الصَّيْدِ وَعُشْرِ الأَْرْضِ وَغَلَّةِ الْوَقْفِ. وَهُوَ رِوَايَةٌ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ فِي الْكَفَّارَاتِ؛ لأَِنَّهَا أَشْبَهَتْ الزَّكَاةَ. وَعَنْ أَبِي يُوسُفَ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ أَنَّهُ يَجُوزُ لَهُمْ أَخْذُ غَلَّةِ الْوَقْفِ إِذَا كَانَ الْوَقْفُ عَلَيْهِمْ؛ لأَِنَّ الْوَقْفَ عَلَيْهِمْ حِينَئِذٍ بِمَنْزِلَةِ الْوَقْفِ عَلَى الأَْغْنِيَاءِ.

9 — Mazhab Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi‘iyah berpendapat bahwa Āl Muhammad tidak boleh menerima:

  • kafarat sumpah,
  • kafarat ẓihār,
  • kafarat pembunuhan,
  • denda (jazā’) karena berburu,
  • ‘usyur tanah,
  • serta hasil dari harta wakaf.

Dalam masalah kafarat, pendapat ini juga merupakan salah satu riwayat dari Hanabilah, karena kafarat dipandang memiliki kemiripan dengan zakat.

Namun, dari Abu Yusuf dari kalangan Hanafiyah diriwayatkan pendapat bahwa Āl Muhammad boleh menerima hasil wakaf, apabila wakaf tersebut memang diperuntukkan bagi mereka. Sebab, wakaf yang diperuntukkan secara khusus bagi mereka dalam kondisi tersebut berkedudukan seperti wakaf yang diperuntukkan bagi orang-orang kaya, bukan seperti zakat.

فَإِنْ كَانَ عَلَى الْفُقَرَاءِ، وَلَمْ يُسَمِّ بَنِي هَاشِمٍ، لاَ يَجُوزُ.

Jika wakaf tersebut diperuntukkan bagi orang-orang fakir secara umum, dan pewakaf tidak secara khusus menyebut Bani Hasyim, maka Āl Muhammad tidak boleh menerima hasil wakaf tersebut.

وَصَرَّحَ فِي " الْكَافِي " بِدَفْعِ صَدَقَةِ الْوَقْفِ إِلَيْهِمْ عَلَى أَنَّهُ بَيَانُ الْمَذْهَبِ مِنْ غَيْرِ نَقْل خِلاَفٍ، فَقَال: وَأَمَّا التَّطَوُّعُ وَالْوَقْفُ، فَيَجُوزُ الصَّرْفُ إِلَيْهِمْ؛ لأَِنَّ الْمُؤَدَّى فِي الْوَاجِبِ يُطَهِّرُ نَفْسَهُ بِإِسْقَاطِ الْفَرْضِ، فَيَتَدَنَّسُ الْمَال الْمُؤَدَّى، كَالْمَاءِ الْمُسْتَعْمَل، وَفِي النَّفْل يَتَبَرَّعُ بِمَا لَيْسَ عَلَيْهِ، فَلاَ يَتَدَنَّسُ بِهِ الْمُؤَدَّى. اهـ.

Dalam kitab al-Kāfī, dinyatakan secara tegas bahwa sedekah yang berasal dari wakaf boleh diberikan kepada Āl Muhammad . Pernyataan tersebut dikemukakan sebagai penjelasan mengenai pendapat mazhab, tanpa menyebut adanya perbedaan pendapat.

Alasannya, sedekah wajib digunakan seseorang untuk menunaikan kewajiban dan membebaskan dirinya dari tuntutan fardu. Karena itu, harta yang dikeluarkan tersebut dipandang memiliki sifat yang tidak layak bagi Āl Muhammad , sebagaimana air yang telah digunakan untuk bersuci.

Sedangkan dalam sedekah sunah dan wakaf, seseorang memberikan harta secara sukarela, bukan untuk menggugurkan kewajiban yang dibebankan kepadanya. Oleh karena itu, harta yang diberikan tidak menjadi tercemar oleh sifat tersebut, sehingga boleh disalurkan kepada Āl Muhammad .

قَال صَاحِبُ فَتْحِ الْقَدِيرِ: وَالْحَقُّ الَّذِي يَقْتَضِيهِ النَّظَرُ إِجْرَاءُ صَدَقَةِ الْوَقْفِ مَجْرَى النَّافِلَةِ، فَإِنْ ثَبَتَ فِي النَّافِلَةِ جَوَازُ الدَّفْعِ، يَجِبُ دَفْعُ الْوَقْفِ، وَإِلاَّ فَلاَ؛ إِذْ لاَ شَكَّ فِي أَنَّ الْوَاقِفَ مُتَبَرِّعٌ بِتَصَدُّقِهِ بِالْوَقْفِ، إِذْ لاَ إِيقَافَ وَاجِبٌ. (١)

Pengarang Fatḥ al-Qadīr berkata bahwa pendapat yang lebih kuat berdasarkan pertimbangan adalah menyamakan sedekah wakaf dengan sedekah sunah.

Jika telah terbukti bahwa sedekah sunah boleh diberikan kepada Āl Muhammad , maka hasil atau sedekah wakaf juga boleh diberikan kepada mereka. Sebaliknya, jika sedekah sunah tidak boleh diberikan kepada mereka, maka sedekah wakaf pun tidak boleh.

Sebab, tidak diragukan bahwa orang yang mewakafkan hartanya adalah seorang yang bersedekah secara sukarela, karena pada dasarnya mewakafkan harta bukanlah kewajiban. (1)

وَذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ إِلَى جَوَازِ أَخْذِ الآْل مِنَ الْوَصَايَا لأَِنَّهَا تَطَوُّعٌ، وَكَذَا النُّذُورُ؛ لأَِنَّهَا فِي الأَْصْل تَطَوُّعٌ، فَأَشْبَهَ مَا لَوْ وَصَّى لَهُمْ. وَعَلَى ذَلِكَ يَجُوزُ لَهُمُ الأَْخْذُ مِنْهُمَا.

Menurut mazhab Hanabilah, Āl Muhammad boleh menerima harta dari wasiat, karena wasiat termasuk bentuk pemberian sukarela (tathawwu‘).

Demikian pula, mereka boleh menerima harta dari nazar, karena pada dasarnya nazar juga merupakan bentuk amal sukarela. Dalam hal ini, nazar dianalogikan dengan wasiat yang memang diperuntukkan bagi mereka.

Dengan demikian, menurut Hanabilah, Āl Muhammad boleh menerima harta yang berasal dari wasiat maupun nazar.

وَفِي الْكَفَّارَةِ عِنْدَهُمْ وَجْهٌ آخَرُ بِالْجَوَازِ، لأَِنَّهَا لَيْسَتْ بِزَكَاةٍ وَلاَ هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ، فَأَشْبَهَتْ صَدَقَةَ التَّطَوُّعِ.

Dalam masalah kafarat, menurut Hanabilah terdapat pendapat lain yang membolehkan Āl Muhammad menerimanya. Alasannya, kafarat bukan zakat dan bukan pula “kotoran harta manusia” yang menjadi sebab diharamkannya zakat bagi Ahlulbait. Karena itu, kafarat dianalogikan dengan sedekah sunah (ṣadaqah al-taṭawwu‘).

حُكْمُ أَخْذِ الآْل مِنْ صَدَقَةِ التَّطَوُّعِ:

Hukum Āli Muhammad Menerima Sedekah Sunah (Sedekah Sukarela):

١٠ - لِلْفُقَهَاءِ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ ثَلاَثَةُ اتِّجَاهَاتٍ:

10 — Para fuqaha memiliki tiga pendapat utama dalam masalah hukum Āli Muhammad menerima sedekah sunah (ṣadaqah al-taṭawwu‘).

الأَْوَّل: الْجَوَازُ مُطْلَقًا، وَهُوَ قَوْلٌ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ، وَرِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ؛ لأَِنَّهَا لَيْسَتْ مِنْ أَوْسَاخِ النَّاسِ، تَشْبِيهًا لَهَا بِالْوُضُوءِ عَلَى الْوُضُوءِ.

Pertama: Boleh secara mutlak.

Ini merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Hanafiyah dan Syafi‘iyah, serta salah satu riwayat dari Imam Ahmad.

Alasannya, sedekah sunah bukan termasuk “kotoran harta manusia” yang menjadi sebab larangan bagi Āl Muhammad . Sedekah sunah berbeda dari zakat wajib karena diberikan secara sukarela, bukan sebagai kewajiban yang harus ditunaikan.

Pendapat ini dianalogikan dengan berwudu di atas wudu (al-wuḍū’ ‘ala al-wuḍū’), yakni sesuatu yang pada dasarnya sudah suci dan tidak menjadi tercemar karena dilakukan kembali.

الثَّانِي: الْمَنْعُ مُطْلَقًا، وَهُوَ قَوْلٌ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ، وَرِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ أَيْضًا، وَهِيَ الأَْظْهَرُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ؛ لأَِنَّ النُّصُوصَ الْوَارِدَةَ فِي النَّهْيِ عَنْ أَخْذِ آل الْبَيْتِ مِنَ الصَّدَقَةِ عَامَّةٌ، فَتَشْمَل الْمَفْرُوضَةَ وَالنَّافِلَةَ.

Kedua: Tidak boleh secara mutlak.

Ini merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Hanafiyah dan Syafi‘iyah, serta salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Pendapat ini juga merupakan pendapat yang lebih kuat dalam mazhab Hanabilah.

Alasannya, dalil-dalil yang melarang Āl al-Bait menerima sedekah bersifat umum. Larangan tersebut tidak hanya mencakup sedekah wajib (zakat), tetapi juga sedekah sunah.

Dengan demikian, berdasarkan pendapat ini, Āl Muhammad tidak boleh menerima sedekah dalam bentuk apa pun, baik yang wajib maupun yang sunah.

الثَّالِثُ: الْجَوَازُ مَعَ الْكَرَاهَةِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الْمَالِكِيَّةِ، جَمْعًا بَيْنَ الأَْدِلَّةِ. (١)

Ketiga: Boleh, tetapi makruh.

Ini merupakan mazhab Malikiyah, sebagai bentuk kompromi antara berbagai dalil yang berkaitan dengan hukum Āl Muhammad menerima sedekah. (1)

Dengan pendapat ini, Āl Muhammad boleh menerima sedekah sunah, tetapi penerimaannya makruh, sehingga meninggalkannya lebih utama apabila tidak ada kebutuhan.

Wallahu A’lam...

Baca juga:

Apa Makna Āli dalam Islam? Pengertian Secara Bahasa dan Fikih, Pendapat Empat Mazhab, serta Makna Āli Muhammad dalam Salawat

Apa Itu Āfat dalam Fikih? Pengertian, Jenis, Dampak Hukum, danPengaruhnya terhadap Ibadah, Muamalah, Zakat, dan Ahliyyah

Mawali Ahlul Bait, Zakat Sesama Hasyimi, dan Amil Zakat dari BaniHasyim: Perspektif Empat Mazhab

الْمَبْحَثُ الثَّانِي

Pembahasan Kedua

أَحْكَامُ الآْل فِي الْوَقْفِ وَالْوَصِيَّةِ

Hukum Āli dalam Wakaf dan Wasiat

٣ - قَال الْحَنَفِيَّةُ: لَوْ قَال الْوَاقِفُ: أَرْضِي هَذِهِ صَدَقَةٌ مَوْقُوفَةٌ لِلَّهِ عَزَّ وَجَل أَبَدًا عَلَى أَهْل بَيْتِي، فَإِذَا انْقَرَضُوا فَهِيَ وَقْفٌ عَلَى الْمَسَاكِينِ - تَكُونُ الْغَلَّةُ لِلْفُقَرَاءِ وَالأَْغْنِيَاءِ مِنْ أَهْل بَيْتِهِ، وَيَدْخُل فِيهِ أَبُوهُ وَأَبُو أَبِيهِ وَإِنْ عَلاَ، وَوَلَدُهُ وَوَلَدُ وَلَدِهِ وَإِنْ سَفَل، الذُّكُورُ وَالإِْنَاثُ، وَالصِّغَارُ وَالْكِبَارُ، وَالأَْحْرَارُ وَالْعَبِيدُ فِيهِ سَوَاءٌ، وَالذِّمِّيُّ فِيهِ كَالْمُسْلِمِ. وَلاَ يَدْخُل فِيهِ الْوَاقِفُ، وَلاَ الأَْبُ الَّذِي أَدْرَكَ الإِْسْلاَمَ، وَلاَ الإِْنَاثُ مِنْ نَسْلِهِ إِنْ كَانَ آبَاؤُهُمْ مِنْ قَوْمٍ آخَرِينَ. وَإِنْ كَانَ آبَاؤُهُمْ مِمَّنْ يُنَاسِبُهُ إِلَى جَدِّهِ الَّذِي أَدْرَكَ الإِْسْلاَمَ فَهُمْ مِنْ أَهْل بَيْتِهِ.

3 — Ulama Hanafiyah menjelaskan bahwa apabila seorang pewakaf berkata:

“Tanahku ini adalah sedekah yang diwakafkan karena Allah ‘Azza wa Jalla untuk selamanya bagi ahl bait-ku. Apabila mereka telah punah, maka tanah tersebut menjadi wakaf bagi orang-orang miskin.”

Maka hasil atau manfaat wakaf tersebut diberikan kepada orang-orang fakir maupun orang-orang kaya dari kalangan ahl bait-nya.

Yang termasuk di dalamnya adalah:

  • ayahnya;
  • kakeknya dan seterusnya ke atas;
  • anak-anaknya dan keturunannya hingga ke bawah;
  • laki-laki maupun perempuan;
  • anak-anak maupun orang dewasa;
  • orang merdeka maupun budak.

Semuanya memiliki kedudukan yang sama dalam menerima manfaat wakaf. Bahkan orang dzimmi juga termasuk di dalamnya sebagaimana seorang Muslim.

Namun, pewakaf sendiri tidak termasuk dalam ahl bait yang dimaksud. Demikian pula ayah yang telah mengalami masa Islam tidak termasuk. Perempuan dari keturunannya juga tidak termasuk apabila ayah-ayah mereka berasal dari kaum atau nasab lain.

Adapun apabila ayah-ayah mereka termasuk orang yang memiliki hubungan nasab dengannya hingga kepada kakeknya yang mengalami masa Islam, maka mereka termasuk ahl bait-nya.

وَالآْل وَالأَْهْل بِمَعْنًى وَاحِدٍ عِنْدَهُمْ فِي الْوَصِيَّةِ أَيْضًا، فَلَوْ أَوْصَى لآِلِهِ أَوْ أَهْلِهِ، يَدْخُل فِيهِمْ مَنْ جَمَعَهُمْ أَقْصَى أَبٍ لَهُ فِي الإِْسْلاَمِ. وَيَدْخُل فِي الْوَصِيَّةِ لأَِهْل بَيْتِهِ أَبُوهُ وَجَدُّهُ مِمَّنْ لاَ يَرِثُ.

Menurut ulama Hanafiyah, āli dan ahli memiliki makna yang sama dalam masalah wasiat.

Oleh karena itu, apabila seseorang berwasiat untuk āli-nya atau ahli-nya, maka yang termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang memiliki hubungan nasab dengannya hingga kepada leluhur tertingginya yang mengalami masa Islam.

Adapun apabila seseorang berwasiat untuk ahli bait-nya, maka ayah dan kakeknya yang tidak termasuk ahli waris juga masuk dalam cakupan wasiat tersebut.

وَلَوْ أَوْصَى لأَِهْل فُلاَنٍ فَالْوَصِيَّةُ لِزَوْجَةِ فُلاَنٍ فِي قَوْل أَبِي حَنِيفَةَ وَعِنْدَ الصَّاحِبَيْنِ يَدْخُل فِيهِ جَمِيعُ مَنْ تَلْزَمُهُ نَفَقَتُهُمْ مِنَ الأَْحْرَارِ، فَيَدْخُل فِيهِ زَوْجَتُهُ وَالْيَتِيمُ فِي حِجْرِهِ، وَالْوَلَدُ إِذَا كَانَ يَعُولُهُ. فَإِنْ كَانَ كَبِيرًا قَدِ اعْتَزَل، أَوْ بِنْتًا قَدْ تَزَوَّجَتْ، فَلَيْسَ مِنْ أَهْلِهِ. وَلاَ يَدْخُل فِيهِ وَارِثُ الْمُوصِي وَلاَ الْمُوصَى لأَِهْلِهِ.

Apabila seseorang berwasiat “untuk keluarga si Fulan”, maka menurut Imam Abu Hanifah, wasiat tersebut diperuntukkan bagi istri si Fulan.

Sedangkan menurut Abu Yusuf dan Muhammad (ash-Shāhibān), yang termasuk dalam wasiat adalah semua orang merdeka yang menjadi tanggungan nafkah si Fulan, di antaranya:

  • istrinya;
  • anak yatim yang berada dalam pengasuhannya;
  • anaknya, apabila ia menanggung nafkah anak tersebut.

Adapun jika anak tersebut sudah dewasa dan telah hidup mandiri, atau seorang anak perempuan telah menikah, maka ia tidak termasuk dalam ahli-nya.

Selain itu, ahli waris orang yang berwasiat tidak termasuk dalam cakupan wasiat tersebut, demikian pula orang yang diwasiati untuk keluarganya tidak termasuk.

وَجْهُ قَوْل الصَّاحِبَيْنِ أَنَّ الأَْهْل عِبَارَةٌ عَمَّنْ يُنْفِقُ عَلَيْهِ. قَال اللَّهُ تَعَالَى خَبَرًا عَنْ سَيِّدِنَا نُوحٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ: {إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي} (١) وَقَال تَعَالَى فِي قِصَّةِ لُوطٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ: {فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ} (٢)

Alasan pendapat Abu Yusuf dan Muhammad (ash-Shāhibān) adalah bahwa istilah ahl merujuk kepada orang yang menjadi tanggungan nafkah seseorang.

Allah Ta‘ala berfirman ketika mengisahkan perkataan Nabi Nuh عليه السلام:

“Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku.” (QS. Hūd: 45)

Allah Ta‘ala juga berfirman dalam kisah Nabi Lūṭ عليه السلام:

“Lalu Kami menyelamatkan dia beserta keluarganya.” (QS. al-A‘rāf: 83)

Dengan demikian, menurut ash-Shāhibān, cakupan ahl dalam konteks ini tidak terbatas pada istri, tetapi mencakup orang-orang yang berada dalam tanggungan nafkahnya.

وَوَجْهُ قَوْل أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّ الأَْهْل عِنْدَ الإِْطْلاَقِ يُرَادُ بِهِ الزَّوْجَةُ فِي مُتَعَارَفِ النَّاسِ، يُقَال: فُلاَنٌ مُتَأَهِّلٌ، وَفُلاَنٌ لَمْ يَتَأَهَّل، وَفُلاَنٌ لَيْسَ لَهُ أَهْلٌ، وَيُرَادُ بِهِ الزَّوْجَةُ، فَتُحْمَل الْوَصِيَّةُ عَلَى ذَلِكَ. (٣)

Alasan pendapat Imam Abu Hanifah adalah bahwa apabila istilah ahl disebut secara mutlak dalam kebiasaan masyarakat, yang dimaksud biasanya adalah istri.

Hal ini tampak dalam ungkapan yang lazim digunakan, seperti:

  • “Fulan muta'ahhil” — Fulan telah berkeluarga/menikah.
  • “Fulan lam yata'ahhal” — Fulan belum menikah.
  • “Fulan laisa lahu ahl” — Fulan tidak memiliki keluarga.

Yang dimaksud dengan kata ahl dalam ungkapan-ungkapan tersebut adalah istri. Oleh karena itu, menurut Imam Abu Hanifah, wasiat dibawa kepada makna yang telah berlaku dalam kebiasaan tersebut. (3)

وَقَال الْمَالِكِيَّةُ: إِنَّ الْوَاقِفَ لَوْ وَقَفَ عَلَى آلِهِ أَوْ أَهْلِهِ شَمَل عَصَبَتَهُ مِنْ أَبٍ وَابْنٍ وَجَدٍّ وَإِخْوَةٍ وَأَعْمَامٍ وَبَنِيهِمُ الذُّكُورِ، وَشَمَل كُل امْرَأَةٍ لَوْ فُرِضَ أَنَّهَا رَجُلٌ كَانَ عَاصِبًا، سَوَاءٌ أَكَانَتْ قَبْل التَّقْدِيرِ عَصَبَةً بِغَيْرِهَا أَمْ مَعَ غَيْرِهَا، كَأُخْتٍ مَعَ أَخٍ أَوْ مَعَ بِنْتٍ، أَمْ كَانَتْ غَيْرَ عَاصِبَةٍ أَصْلاً، كَأُمٍّ وَجَدَّةٍ.

Menurut ulama Malikiyah, apabila seorang pewakaf mewakafkan hartanya untuk āl-nya atau ahl-nya, maka cakupannya meliputi:

  • Kerabat ‘ashabah laki-laki, seperti ayah, anak laki-laki, kakek, saudara laki-laki, paman, serta anak laki-laki dari paman.
  • Setiap perempuan yang apabila dianggap sebagai laki-laki akan menjadi ‘ashabah.

Perempuan tersebut tetap termasuk, baik sebelum pengandaian ia memang berstatus ‘ashabah karena bersama laki-laki lain maupun karena bersama perempuan lain, seperti saudara perempuan yang menjadi ‘ashabah bersama saudara laki-lakinya atau bersama anak perempuan.

Bahkan, termasuk pula perempuan yang pada asalnya bukan ‘ashabah sama sekali, seperti ibu dan nenek.

وَإِذَا قَال: أَوْصَيْتُ لأَِهْلِي بِكَذَا، اخْتَصَّ بِالْوَصِيَّةِ أَقَارِبَهُ لأُِمِّهِ؛ لأَِنَّهُمْ غَيْرُ وَرَثَةٍ لِلْمُوصِي، وَلاَ يَدْخُل أَقَارِبُهُ لأَِبِيهِ حَيْثُ كَانُوا يَرِثُونَهُ. وَهَذَا إِذَا لَمْ يَكُنْ لَهُ أَقَارِبُ لأَِبِيهِ لاَ يَرِثُونَهُ. فَإِنْ وُجِدُوا اخْتُصُّوا بِالْوَصِيَّةِ، وَلاَ يَدْخُل مَعَهُمْ أَقَارِبُهُ لأُِمِّهِ. وَهَذَا قَوْل ابْنِ الْقَاسِمِ فِي الْوَصِيَّةِ وَالْوَقْفِ. وَقَال غَيْرُهُ بِدُخُول أَقَارِبِ الأُْمِّ مَعَ أَقَارِبِ الأَْبِ فِيهِمَا. (١)

Apabila seseorang berkata, “Aku berwasiat kepada keluargaku dengan sekian,” maka menurut pendapat ini, yang secara khusus berhak menerima wasiat adalah kerabat dari pihak ibu, karena mereka bukan termasuk ahli waris bagi orang yang berwasiat. Adapun kerabat dari pihak ayah tidak termasuk apabila mereka merupakan ahli warisnya.

Ketentuan ini berlaku apabila ia tidak memiliki kerabat dari pihak ayah yang tidak mewarisinya. Jika terdapat kerabat dari pihak ayah yang tidak menjadi ahli warisnya, maka mereka secara khusus yang berhak menerima wasiat, sedangkan kerabat dari pihak ibu tidak turut masuk bersama mereka.

Pendapat ini merupakan pendapat Ibnu al-Qāsim dalam masalah wasiat dan wakaf.

Sementara itu, ulama lainnya berpendapat bahwa kerabat dari pihak ibu tetap masuk bersama kerabat dari pihak ayah, baik dalam masalah wasiat maupun wakaf. (1)

وَقَال الشَّافِعِيَّةُ: إِنْ أَوْصَى الْمُوصِي لآِل غَيْرِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَحَّتِ الْوَصِيَّةُ، وَحُمِل عَلَى الْقَرَابَةِ لاَ عَلَى أَهْل الدِّينِ فِي أَوْجَهِ الْوَجْهَيْنِ، وَلاَ يُفَوَّضُ إِلَى اجْتِهَادِ الْحَاكِمِ. وَأَهْل الْبَيْتِ كَالآْل. وَتَدْخُل الزَّوْجَةُ فِي أَهْل الْبَيْتِ أَيْضًا. وَإِنْ أَوْصَى لأَِهْلِهِ مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ الْبَيْتِ دَخَل كُل مَنْ تَلْزَمُهُ مَئُونَتُهُ. (٢)

Menurut ulama Syafi‘iyah, apabila seseorang berwasiat kepada āl selain āl Nabi , maka wasiat tersebut sah. Menurut pendapat yang paling kuat dari dua pendapat yang ada, istilah āl dalam konteks ini ditafsirkan sebagai kerabat, bukan seluruh orang yang berada dalam satu agama. Penentuannya juga tidak diserahkan kepada ijtihad hakim.

Istilah ahl bait memiliki cakupan yang sama dengan āl, dan istri juga termasuk dalam ahl bait.

Adapun apabila seseorang berwasiat kepada ahl-nya tanpa menyebut kata ahl bait, maka yang termasuk adalah setiap orang yang menjadi tanggungan nafkahnya. (2)

وَقَال الْحَنَابِلَةُ: لَوْ أَوْصَى لآِلِهِ أَوْ أَهْلِهِ خَرَجَ الْوَارِثُونَ مِنْهُمْ، إِذْ لاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ، وَدَخَل مِنْ آلِهِ مَنْ لاَ يَرِثُ. (١)

Menurut ulama Hanabilah, apabila seseorang berwasiat untuk āl-nya atau ahl-nya, maka para ahli waris tidak termasuk dalam wasiat tersebut, karena berlaku kaidah “tidak ada wasiat bagi ahli waris.”

Adapun dari kalangan āl-nya, orang-orang yang tidak termasuk ahli warisnya tetap masuk dalam cakupan wasiat. (1)

الْمُرَادُ بِآل مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَّةً:

Yang Dimaksud dengan Āli Muhammad Secara Umum:

٤ - آل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُمْ آل عَلِيٍّ، وَآل عَبَّاسٍ، وَآل جَعْفَرٍ، وَآل عَقِيلٍ، وَآل الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَآل أَبِي لَهَبٍ.

4Āl Nabi secara umum mencakup Āl ‘Ali, Āl ‘Abbas, Āl Ja‘far, Āl ‘Aqil, Āl al-Harits bin ‘Abd al-Muththalib, dan Āl Abu Lahab.

فَإِنَّ عَبْدَ مَنَافٍ وَهُوَ الأَْبُ الرَّابِعُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْقَبَ أَرْبَعَةً، وَهُمْ هَاشِمٌ وَالْمُطَّلِبُ وَنَوْفَلٌ وَعَبْدُ شَمْسٍ. ثُمَّ إِنَّ هَاشِمًا أَعْقَبَ أَرْبَعَةً، انْقَطَعَ نَسَبُهُمْ إِلاَّ عَبْدَ الْمُطَّلِبِ، فَإِنَّهُ أَعْقَبَ اثْنَيْ عَشَرَ. (٢)

Sebabnya, ‘Abd Manāf, yang merupakan leluhur keempat Nabi , memiliki empat orang keturunan, yaitu Hāsyim, al-Muththalib, Nawfal, dan ‘Abd Syams.

Kemudian, Hāsyim memiliki empat orang keturunan, tetapi nasab mereka terputus kecuali ‘Abd al-Muththalib. Adapun ‘Abd al-Muththalib memiliki dua belas orang keturunan. (2)

آل مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِينَ لَهُمْ أَحْكَامٌ خَاصَّةٌ:

Āli Muhammad yang Memiliki Hukum-Hukum Khusus:

٥ - هُمْ آل عَلِيٍّ، وَآل عَبَّاسٍ، وَآل جَعْفَرٍ، وَآل عَقِيلٍ، وَآل الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَمَوَالِيهِمْ، خِلاَفًا لاِبْنِ الْقَاسِمِ مِنَ الْمَالِكِيَّةِ وَمَعَهُ أَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ (٣) حَيْثُ لَمْ يَعُدُّوا الْمَوَالِيَ مِنَ الآْل. أَمَّا أَزْوَاجُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَبُو الْحَسَنِ بْنُ بَطَّالٍ فِي شَرْحِ الْبُخَارِيِّ أَنَّ الْفُقَهَاءَ كَافَّةً اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ أَزْوَاجَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لاَ يَدْخُلْنَ فِي آلِهِ الَّذِينَ حَرُمَتْ عَلَيْهِمُ الصَّدَقَةُ، (٤) لَكِنْ فِي الْمُغْنِي عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا مَا يُخَالِفُ ذَلِكَ. قَال: رَوَى الْخَلاَّل بِإِسْنَادِهِ عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ أَنَّ خَالِدَ بْنَ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِ بَعَثَ إِلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا سُفْرَةً مِنَ الصَّدَقَةِ، فَرَدَّتْهَا، وَقَالَتْ: إِنَّا آل مُحَمَّدٍ لاَ تَحِل لَنَا الصَّدَقَةُ. قَال صَاحِبُ الْمُغْنِي: وَهَذَا يَدُل عَلَى أَنَّهُنَّ مِنْ أَهْل بَيْتِهِ فِي تَحْرِيمِ الزَّكَاةِ. وَذَكَرَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ أَنَّهُ يَحْرُمُ عَلَيْهِنَّ الصَّدَقَةُ وَأَنَّهُنَّ مِنْ أَهْل بَيْتِهِ فِي أَصَحِّ الرِّوَايَتَيْنِ. (١)

5 — Yang dimaksud dengan Āl Muhammad yang memiliki hukum-hukum khusus adalah Āl ‘Ali, Āl ‘Abbas, Āl Ja‘far, Āl ‘Aqil, Āl al-Harits bin ‘Abd al-Muththalib, serta para mawālī mereka.

Pendapat ini berbeda dengan pendapat Ibnu al-Qāsim dari kalangan Malikiyah dan mayoritas ulama, yang tidak memasukkan para mawālī sebagai bagian dari āl. (3)

Adapun istri-istri Nabi , Abū al-Hasan bin Baththāl dalam Syarḥ al-Bukhārī menyebutkan bahwa seluruh fuqaha sepakat bahwa para istri Nabi tidak termasuk āl yang diharamkan menerima sedekah. (4)

Namun, dalam al-Mughnī terdapat riwayat dari ‘Aisyah رضي الله عنها yang menunjukkan pendapat berbeda. Al-Khallāl meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abī Mulaikah bahwa Khālid bin Sa‘id bin al-‘Āsh pernah mengirimkan hidangan yang berasal dari sedekah kepada ‘Aisyah رضي الله عنها. ‘Aisyah mengembalikannya seraya berkata:

“Sesungguhnya kami adalah Āl Muhammad; sedekah tidak halal bagi kami.”

Pengarang al-Mughnī menjelaskan bahwa riwayat ini menunjukkan para istri Nabi termasuk ahl bait beliau dalam hal keharaman menerima zakat.

Syaikh Taqiyuddin juga menyebutkan bahwa sedekah haram bagi para istri Nabi , dan bahwa mereka termasuk ahl bait beliau menurut riwayat yang paling sahih dari dua riwayat. (1)

حُكْمُ أَخْذِ آل الْبَيْتِ مِنْ الصَّدَقَةِ الْمَفْرُوضَةِ:

Hukum Keluarga Nabi (Āl al-Bait) Menerima Sedekah Wajib (Zakat):

٦ - إِنَّ آل مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَذْكُورِينَ لاَ يَجُوزُ دَفْعُ الزَّكَاةِ الْمَفْرُوضَةِ إِلَيْهِمْ بِاتِّفَاقِ فُقَهَاءِ الْمَذَاهِبِ الأَْرْبَعَةِ، لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: يَا بَنِي هَاشِمٍ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى حَرَّمَ عَلَيْكُمْ غُسَالَةَ النَّاسِ وَأَوْسَاخَهُمْ، وَعَوَّضَكُمْ عَنْهَا بِخُمُسِ الْخُمُسِ (٢)

6 — Sesungguhnya Āl Muhammad yang telah disebutkan sebelumnya tidak boleh diberikan zakat wajib. Hal ini disepakati oleh para fuqaha dari empat mazhab.

Dasarnya adalah sabda Nabi :

“Wahai Bani Hasyim, sesungguhnya Allah Ta‘ala mengharamkan bagi kalian sisa-sisa kotoran dan sesuatu yang dianggap kotor dari harta manusia, dan Dia menggantinya bagi kalian dengan seperlima dari seperlima (khumus).” (2)

Dengan demikian, zakat wajib tidak boleh diserahkan kepada Āl Muhammad yang termasuk dalam golongan Ahlulbait yang memiliki ketentuan khusus.

وَالَّذِينَ ذُكِرُوا يُنْسَبُونَ إِلَى هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ، وَنِسْبَةُ الْقَبِيلَةِ إِلَيْهِ.

Orang-orang yang telah disebutkan tersebut dinisbatkan kepada Hāsyim bin ‘Abd Manāf, dan penyebutan nisbah kepada kabilah mereka juga dikaitkan dengan beliau.

وَخَرَجَ أَبُو لَهَبٍ - وَإِنْ كَانَ مِنَ الآْل - فَيَجُوزُ الدَّفْعُ إِلَى بَنِيهِ؛ لأَِنَّ النَّصَّ أَبْطَل قَرَابَتَهُ، وَهُوَ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ قَرَابَةَ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي لَهَبٍ، فَإِنَّهُ آثَرَ عَلَيْنَا الأَْفْجَرِينَ (١) وَلأَِنَّ حُرْمَةَ الصَّدَقَةِ عَلَى بَنِي هَاشِمٍ كَرَامَةٌ مِنَ اللَّهِ لَهُمْ وَلِذُرِّيَّتِهِمْ، حَيْثُ نَصَرُوهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَاهِلِيَّتِهِمْ وَفِي إِسْلاَمِهِمْ. وَأَبُو لَهَبٍ كَانَ حَرِيصًا عَلَى أَذَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمْ يَسْتَحِقَّهَا بَنُوهُ. وَهَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ عِنْدَ كُلٍّ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ. وَفِي قَوْلٍ آخَرَ فِي كِلاَ الْمَذْهَبَيْنِ: يَحْرُمُ إِعْطَاءُ مَنْ أَسْلَمَ مِنْ آل أَبِي لَهَبٍ؛ لأَِنَّ مَنَاطَ الْحُكْمِ كَوْنُهُمْ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ (٢) .

Abu Lahab dikecualikan. Meskipun ia secara nasab termasuk Āl, zakat boleh diberikan kepada anak keturunannya. Alasannya, nash telah menggugurkan hubungan kekerabatannya dengan Nabi . Hal ini berdasarkan sabda beliau :

“Tidak ada hubungan kekerabatan antara aku dan Abu Lahab, karena ia lebih memilih orang-orang yang paling durhaka daripada kami.” (1)

Selain itu, keharaman menerima sedekah bagi Bani Hasyim merupakan bentuk kemuliaan dari Allah bagi mereka dan keturunan mereka, karena mereka dahulu membela Nabi , baik pada masa jahiliah maupun setelah masuk Islam. Adapun Abu Lahab justru sangat bersungguh-sungguh menyakiti Nabi , sehingga ia tidak berhak memperoleh kemuliaan tersebut, dan anak keturunannya pun tidak mendapatkannya.

Pendapat inilah yang menjadi mazhab Hanafiyah dan Hanabilah.

Namun, terdapat pendapat lain dalam kedua mazhab tersebut yang menyatakan bahwa orang yang telah masuk Islam dari kalangan Āl Abu Lahab tetap haram menerima zakat, karena dasar hukum yang menjadi pertimbangan adalah status mereka sebagai Bani Hasyim. (2)

٧ - وَاخْتُلِفَ فِي بَنِي الْمُطَّلِبِ أَخِي هَاشِمٍ هَل تُدْفَعُ الزَّكَاةُ إِلَيْهِمْ؟

7 — Para ulama berbeda pendapat mengenai Bani al-Muththalib, saudara Hasyim: apakah zakat boleh diberikan kepada mereka atau tidak?

فَمَذْهَبُ الْحَنَفِيَّةِ، وَالْمَشْهُورُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ، وَإِحْدَى رِوَايَتَيْنِ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ، أَنَّهُمْ يَأْخُذُونَ مِنَ الزَّكَاةِ؛ لأَِنَّهُمْ دَخَلُوا فِي عُمُومِ قَوْله تَعَالَى {إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ} (٣) لَكِنْ خَرَجَ بَنُو هَاشِمٍ لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الصَّدَقَةَ لاَ تَنْبَغِي لآِل مُحَمَّدٍ (٤) فَيَجِبُ أَنْ يَخْتَصَّ الْمَنْعُ بِهِمْ.

Menurut mazhab Hanafiyah, pendapat yang masyhur dalam Malikiyah, serta salah satu dari dua riwayat dalam Hanabilah, Bani al-Muththalib boleh menerima zakat.

Alasannya, mereka termasuk dalam keumuman firman Allah Ta‘ala:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir dan orang-orang miskin...” (QS. at-Taubah: 60). (3)

Adapun Bani Hasyim dikecualikan dari ketentuan umum tersebut berdasarkan sabda Nabi :

“Sesungguhnya sedekah tidak layak bagi Āl Muhammad.” (4)

Karena itu, menurut pendapat ini, larangan menerima zakat hanya berlaku secara khusus bagi Bani Hasyim, sedangkan Bani al-Muththalib tetap berada dalam keumuman hukum penerima zakat.

وَلاَ يَصِحُّ قِيَاسُ بَنِي الْمُطَّلِبِ عَلَى بَنِي هَاشِمٍ؛ لأَِنَّ بَنِي هَاشِمٍ أَقْرَبُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَشْرَفُ، وَهُمْ آل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمُشَارَكَةُ بَنِي الْمُطَّلِبِ لَهُمْ فِي خُمُسِ الْخُمُسِ لَمْ يَسْتَحِقُّوهُ بِمُجَرَّدِ الْقَرَابَةِ، بِدَلِيل أَنَّ بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ وَبَنِي نَوْفَلٍ يُسَاوُونَهُمْ فِي الْقَرَابَةِ وَلَمْ يُعْطَوْا شَيْئًا، وَإِنَّمَا شَارَكُوهُمْ بِالنُّصْرَةِ، أَوْ بِهِمَا جَمِيعًا، وَالنُّصْرَةُ لاَ تَقْتَضِي مَنْعَ الزَّكَاةِ. (١)

Tidak tepat menganalogikan Bani al-Muththalib dengan Bani Hasyim dalam masalah larangan menerima zakat. Sebab, Bani Hasyim lebih dekat nasabnya kepada Nabi dan lebih mulia kedudukannya; mereka termasuk Āl Nabi .

Adapun keikutsertaan Bani al-Muththalib bersama Bani Hasyim dalam memperoleh seperlima dari seperlima (khumus al-khumus) bukan semata-mata karena hubungan kekerabatan. Buktinya, Bani ‘Abd Syams dan Bani Nawfal memiliki hubungan kekerabatan yang setara dengan mereka, tetapi mereka tidak mendapatkan bagian tersebut.

Bani al-Muththalib memperoleh bagian itu karena jasa pembelaan dan pertolongan mereka kepada Nabi , atau karena gabungan faktor kekerabatan dan pembelaan.

Sedangkan jasa pembelaan semata tidak mengharuskan seseorang dilarang menerima zakat. (1)

وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ وَالْقَوْل غَيْرُ الْمَشْهُورِ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَإِحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ عَنِ الْحَنَابِلَةِ، أَنَّهُ لَيْسَ لِبَنِي الْمُطَّلِبِ الأَْخْذُ مِنَ الزَّكَاةِ، لِقَوْل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّا وَبَنُو الْمُطَّلِبِ لَمْ نَفْتَرِقْ فِي جَاهِلِيَّةٍ وَلاَ إِسْلاَمٍ. إِنَّمَا نَحْنُ وَهُمْ شَيْءٌ وَاحِدٌ وَفِي رِوَايَةٍ إِنَّمَا بَنُو هَاشِمٍ وَبَنُو الْمُطَّلِبِ شَيْءٌ وَاحِدٌ. وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ (٢) وَلأَِنَّهُمْ يَسْتَحِقُّونَ مِنْ خُمُسِ الْخُمُسِ، فَلَمْ يَكُنْ لَهُمُ الأَْخْذُ، كَبَنِي هَاشِمٍ. وَقَدْ أَكَّدَ ذَلِكَ مَا رُوِيَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّل مَنْعَهُمُ الصَّدَقَةَ بِاسْتِغْنَائِهِمْ عَنْهَا بِخُمُسِ الْخُمُسِ، فَقَال صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلَيْسَ فِي خُمُسِ الْخُمُسِ مَا يُغْنِيكُمْ؟ (١)

Adapun mazhab Syafi‘iyah, pendapat yang tidak masyhur dalam Malikiyah, serta salah satu dari dua riwayat dalam Hanabilah, menyatakan bahwa Bani al-Muththalib tidak boleh menerima zakat.

Dalilnya adalah sabda Nabi :

“Sesungguhnya kami dan Bani al-Muththalib tidak pernah berpisah, baik pada masa jahiliah maupun Islam. Sesungguhnya kami dan mereka adalah satu.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Bani Hasyim dan Bani al-Muththalib adalah satu.”

Kemudian Nabi menjalinkan jari-jari tangannya sebagai gambaran eratnya hubungan mereka. (2)

Selain itu, Bani al-Muththalib juga memperoleh bagian dari seperlima dari seperlima (khumus al-khumus), sehingga mereka tidak boleh menerima zakat sebagaimana Bani Hasyim.

Hal ini semakin ditegaskan oleh riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi menjelaskan alasan larangan memberikan sedekah kepada mereka adalah karena mereka telah memiliki kecukupan melalui bagian khumus al-khumus. Beliau bersabda:

“Bukankah dalam khumus al-khumus sudah terdapat sesuatu yang mencukupi kalian?” (1)

٨ - هَذَا وَقَدْ رَوَى أَبُو عِصْمَةَ عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهُ يَجُوزُ الدَّفْعُ إِلَى بَنِي هَاشِمٍ فِي زَمَانِهِ. (٢)

8 — Selain itu, Abu ‘Iṣmah meriwayatkan dari Imam Abu Hanifah bahwa boleh memberikan zakat kepada Bani Hasyim pada masa beliau. (2)

وَالْمَشْهُورُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ أَنَّ مَحَل عَدَمِ إِعْطَاءِ بَنِي هَاشِمٍ مِنَ الزَّكَاةِ إِذَا أُعْطُوا مَا يَسْتَحِقُّونَهُ مِنْ بَيْتِ الْمَال، فَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا، وَأَضَرَّ بِهِمُ الْفَقْرُ أُعْطُوا مِنْهَا. وَإِعْطَاؤُهُمْ حِينَئِذٍ أَفْضَل مِنْ إِعْطَاءِ غَيْرِهِمْ.

Menurut pendapat yang masyhur dalam mazhab Malikiyah, larangan memberikan zakat kepada Bani Hasyim berlaku apabila mereka telah mendapatkan bagian yang menjadi hak mereka dari Baitulmal.

Namun, apabila mereka tidak memperoleh hak tersebut dan kemiskinan menyebabkan mereka mengalami kesulitan, maka boleh diberikan zakat kepada mereka.

Bahkan, dalam kondisi seperti itu, memberikan zakat kepada Bani Hasyim lebih utama daripada memberikannya kepada orang lain.

وَقَيَّدَهُ الْبَاجِيُّ بِمَا إِذَا وَصَلُوا إِلَى حَالَةٍ يُبَاحُ لَهُمْ فِيهَا أَكْل الْمَيْتَةِ، لاَ مُجَرَّدُ ضَرَرٍ. وَالظَّاهِرُ خِلاَفُهُ وَأَنَّهُمْ يُعْطَوْنَ عِنْدَ الاِحْتِيَاجِ وَلَوْ لَمْ يَصِلُوا إِلَى حَالَةِ إِبَاحَةِ أَكْل الْمَيْتَةِ، إِذْ إِعْطَاؤُهُمْ أَفْضَل مِنْ خِدْمَتِهِمْ لِذِمِّيٍّ أَوْ ظَالِمٍ. (٣)

Al-Bājī memberikan batasan bahwa Bani Hasyim baru boleh menerima zakat apabila mereka telah mencapai kondisi darurat yang membolehkan mereka memakan bangkai, bukan sekadar mengalami kesulitan atau penderitaan.

Namun, pendapat yang lebih kuat tampaknya berbeda dari pembatasan al-Bājī tersebut. Mereka boleh diberikan zakat ketika mengalami kebutuhan, meskipun kebutuhan itu belum mencapai tingkat darurat yang membolehkan memakan bangkai.

Sebab, memberikan zakat kepada mereka dalam kondisi membutuhkan lebih utama daripada membiarkan mereka harus melayani seorang dzimmi atau orang zalim. (3)

وَقَال الشَّافِعِيَّةُ: إِنَّهُ لاَ يَحِل لآِل مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةُ، وَإِنْ حُبِسَ عَنْهُمُ الْخُمُسُ، إِذْ لَيْسَ مَنْعُهُمْ مِنْهُ يُحِل لَهُمْ مَا حَرُمَ عَلَيْهِمْ مِنَ الصَّدَقَةِ، (٤) خِلاَفًا لأَِبِي سَعِيدٍ الإِْصْطَخْرِيِّ الَّذِي قَال: إِنْ مُنِعُوا حَقَّهُمْ مِنَ الْخُمُسِ جَازَ الدَّفْعُ إِلَيْهِمْ؛ لأَِنَّهُمْ إِنَّمَا حُرِمُوا الزَّكَاةَ لِحَقِّهِمْ فِي الْخُمُسِ، فَإِذَا مُنِعُوا مِنْهُ وَجَبَ أَنْ يُدْفَعَ إِلَيْهِمْ. (٥)

Menurut ulama Syafi‘iyah, Āl Muhammad tidak halal menerima zakat, meskipun bagian khumus yang menjadi hak mereka tidak diberikan kepada mereka. Sebab, tidak diberikannya hak mereka dari khumus tidak menjadikan sesuatu yang sebelumnya diharamkan bagi mereka—yaitu sedekah/zakat—menjadi halal. (4)

Pendapat ini berbeda dengan Abu Sa‘id al-Iṣṭakhrī, yang berpendapat bahwa apabila Āl Muhammad dihalangi dari menerima hak mereka dalam khumus, maka boleh memberikan zakat kepada mereka.

Alasannya, menurut Abu Sa‘id, mereka dilarang menerima zakat karena mereka memiliki hak atas khumus. Maka, apabila hak tersebut tidak diberikan kepada mereka, zakat boleh diberikan sebagai gantinya. (5)

وَالظَّاهِرُ مِنْ إِطْلاَقِ الْمَنْعِ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَنَّهُ تَحْرُمُ عَلَى الآْل الصَّدَقَةُ وَإِنْ مُنِعُوا حَقَّهُمْ فِي الْخُمُسِ.

Menurut makna yang tampak dari pernyataan mutlak dalam mazhab Hanabilah, Āl Muhammad tetap haram menerima sedekah/zakat, meskipun mereka tidak mendapatkan bagian hak mereka dari khumus.

Dengan demikian, tidak diberikannya hak mereka dari khumus tidak mengubah hukum asal berupa keharaman menerima zakat bagi Āl Muhammad .

أَخْذُ الآْل مِنْ الْكَفَّارَاتِ وَالنُّذُورِ وَجَزَاءِ الصَّيْدِ وَعُشْرِ الأَْرْضِ وَغَلَّةِ الْوَقْفِ:

Hukum Āli Muhammad Menerima Kafarat, Nazar, Denda Berburu, ‘Usyr Tanah, dan Hasil Wakaf:

٩ - ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَحِل لآِل مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الأَْخْذُ مِنْ كَفَّارَةِ الْيَمِينِ وَالظِّهَارِ وَالْقَتْل وَجَزَاءِ الصَّيْدِ وَعُشْرِ الأَْرْضِ وَغَلَّةِ الْوَقْفِ. وَهُوَ رِوَايَةٌ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ فِي الْكَفَّارَاتِ؛ لأَِنَّهَا أَشْبَهَتْ الزَّكَاةَ. وَعَنْ أَبِي يُوسُفَ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ أَنَّهُ يَجُوزُ لَهُمْ أَخْذُ غَلَّةِ الْوَقْفِ إِذَا كَانَ الْوَقْفُ عَلَيْهِمْ؛ لأَِنَّ الْوَقْفَ عَلَيْهِمْ حِينَئِذٍ بِمَنْزِلَةِ الْوَقْفِ عَلَى الأَْغْنِيَاءِ.

9 — Mazhab Hanafiyah, Malikiyah, dan Syafi‘iyah berpendapat bahwa Āl Muhammad tidak boleh menerima:

  • kafarat sumpah,
  • kafarat ẓihār,
  • kafarat pembunuhan,
  • denda (jazā’) karena berburu,
  • ‘usyur tanah,
  • serta hasil dari harta wakaf.

Dalam masalah kafarat, pendapat ini juga merupakan salah satu riwayat dari Hanabilah, karena kafarat dipandang memiliki kemiripan dengan zakat.

Namun, dari Abu Yusuf dari kalangan Hanafiyah diriwayatkan pendapat bahwa Āl Muhammad boleh menerima hasil wakaf, apabila wakaf tersebut memang diperuntukkan bagi mereka. Sebab, wakaf yang diperuntukkan secara khusus bagi mereka dalam kondisi tersebut berkedudukan seperti wakaf yang diperuntukkan bagi orang-orang kaya, bukan seperti zakat.

فَإِنْ كَانَ عَلَى الْفُقَرَاءِ، وَلَمْ يُسَمِّ بَنِي هَاشِمٍ، لاَ يَجُوزُ.

Jika wakaf tersebut diperuntukkan bagi orang-orang fakir secara umum, dan pewakaf tidak secara khusus menyebut Bani Hasyim, maka Āl Muhammad tidak boleh menerima hasil wakaf tersebut.

وَصَرَّحَ فِي " الْكَافِي " بِدَفْعِ صَدَقَةِ الْوَقْفِ إِلَيْهِمْ عَلَى أَنَّهُ بَيَانُ الْمَذْهَبِ مِنْ غَيْرِ نَقْل خِلاَفٍ، فَقَال: وَأَمَّا التَّطَوُّعُ وَالْوَقْفُ، فَيَجُوزُ الصَّرْفُ إِلَيْهِمْ؛ لأَِنَّ الْمُؤَدَّى فِي الْوَاجِبِ يُطَهِّرُ نَفْسَهُ بِإِسْقَاطِ الْفَرْضِ، فَيَتَدَنَّسُ الْمَال الْمُؤَدَّى، كَالْمَاءِ الْمُسْتَعْمَل، وَفِي النَّفْل يَتَبَرَّعُ بِمَا لَيْسَ عَلَيْهِ، فَلاَ يَتَدَنَّسُ بِهِ الْمُؤَدَّى. اهـ.

Dalam kitab al-Kāfī, dinyatakan secara tegas bahwa sedekah yang berasal dari wakaf boleh diberikan kepada Āl Muhammad . Pernyataan tersebut dikemukakan sebagai penjelasan mengenai pendapat mazhab, tanpa menyebut adanya perbedaan pendapat.

Alasannya, sedekah wajib digunakan seseorang untuk menunaikan kewajiban dan membebaskan dirinya dari tuntutan fardu. Karena itu, harta yang dikeluarkan tersebut dipandang memiliki sifat yang tidak layak bagi Āl Muhammad , sebagaimana air yang telah digunakan untuk bersuci.

Sedangkan dalam sedekah sunah dan wakaf, seseorang memberikan harta secara sukarela, bukan untuk menggugurkan kewajiban yang dibebankan kepadanya. Oleh karena itu, harta yang diberikan tidak menjadi tercemar oleh sifat tersebut, sehingga boleh disalurkan kepada Āl Muhammad .

قَال صَاحِبُ فَتْحِ الْقَدِيرِ: وَالْحَقُّ الَّذِي يَقْتَضِيهِ النَّظَرُ إِجْرَاءُ صَدَقَةِ الْوَقْفِ مَجْرَى النَّافِلَةِ، فَإِنْ ثَبَتَ فِي النَّافِلَةِ جَوَازُ الدَّفْعِ، يَجِبُ دَفْعُ الْوَقْفِ، وَإِلاَّ فَلاَ؛ إِذْ لاَ شَكَّ فِي أَنَّ الْوَاقِفَ مُتَبَرِّعٌ بِتَصَدُّقِهِ بِالْوَقْفِ، إِذْ لاَ إِيقَافَ وَاجِبٌ. (١)

Pengarang Fatḥ al-Qadīr berkata bahwa pendapat yang lebih kuat berdasarkan pertimbangan adalah menyamakan sedekah wakaf dengan sedekah sunah.

Jika telah terbukti bahwa sedekah sunah boleh diberikan kepada Āl Muhammad , maka hasil atau sedekah wakaf juga boleh diberikan kepada mereka. Sebaliknya, jika sedekah sunah tidak boleh diberikan kepada mereka, maka sedekah wakaf pun tidak boleh.

Sebab, tidak diragukan bahwa orang yang mewakafkan hartanya adalah seorang yang bersedekah secara sukarela, karena pada dasarnya mewakafkan harta bukanlah kewajiban. (1)

وَذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ إِلَى جَوَازِ أَخْذِ الآْل مِنَ الْوَصَايَا لأَِنَّهَا تَطَوُّعٌ، وَكَذَا النُّذُورُ؛ لأَِنَّهَا فِي الأَْصْل تَطَوُّعٌ، فَأَشْبَهَ مَا لَوْ وَصَّى لَهُمْ. وَعَلَى ذَلِكَ يَجُوزُ لَهُمُ الأَْخْذُ مِنْهُمَا.

Menurut mazhab Hanabilah, Āl Muhammad boleh menerima harta dari wasiat, karena wasiat termasuk bentuk pemberian sukarela (tathawwu‘).

Demikian pula, mereka boleh menerima harta dari nazar, karena pada dasarnya nazar juga merupakan bentuk amal sukarela. Dalam hal ini, nazar dianalogikan dengan wasiat yang memang diperuntukkan bagi mereka.

Dengan demikian, menurut Hanabilah, Āl Muhammad boleh menerima harta yang berasal dari wasiat maupun nazar.

وَفِي الْكَفَّارَةِ عِنْدَهُمْ وَجْهٌ آخَرُ بِالْجَوَازِ، لأَِنَّهَا لَيْسَتْ بِزَكَاةٍ وَلاَ هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ، فَأَشْبَهَتْ صَدَقَةَ التَّطَوُّعِ.

Dalam masalah kafarat, menurut Hanabilah terdapat pendapat lain yang membolehkan Āl Muhammad menerimanya. Alasannya, kafarat bukan zakat dan bukan pula “kotoran harta manusia” yang menjadi sebab diharamkannya zakat bagi Ahlulbait. Karena itu, kafarat dianalogikan dengan sedekah sunah (ṣadaqah al-taṭawwu‘).

حُكْمُ أَخْذِ الآْل مِنْ صَدَقَةِ التَّطَوُّعِ:

Hukum Āli Muhammad Menerima Sedekah Sunah (Sedekah Sukarela):

١٠ - لِلْفُقَهَاءِ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ ثَلاَثَةُ اتِّجَاهَاتٍ:

10 — Para fuqaha memiliki tiga pendapat utama dalam masalah hukum Āli Muhammad menerima sedekah sunah (ṣadaqah al-taṭawwu‘).

الأَْوَّل: الْجَوَازُ مُطْلَقًا، وَهُوَ قَوْلٌ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ، وَرِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ؛ لأَِنَّهَا لَيْسَتْ مِنْ أَوْسَاخِ النَّاسِ، تَشْبِيهًا لَهَا بِالْوُضُوءِ عَلَى الْوُضُوءِ.

Pertama: Boleh secara mutlak.

Ini merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Hanafiyah dan Syafi‘iyah, serta salah satu riwayat dari Imam Ahmad.

Alasannya, sedekah sunah bukan termasuk “kotoran harta manusia” yang menjadi sebab larangan bagi Āl Muhammad . Sedekah sunah berbeda dari zakat wajib karena diberikan secara sukarela, bukan sebagai kewajiban yang harus ditunaikan.

Pendapat ini dianalogikan dengan berwudu di atas wudu (al-wuḍū’ ‘ala al-wuḍū’), yakni sesuatu yang pada dasarnya sudah suci dan tidak menjadi tercemar karena dilakukan kembali.

الثَّانِي: الْمَنْعُ مُطْلَقًا، وَهُوَ قَوْلٌ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ، وَرِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ أَيْضًا، وَهِيَ الأَْظْهَرُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ؛ لأَِنَّ النُّصُوصَ الْوَارِدَةَ فِي النَّهْيِ عَنْ أَخْذِ آل الْبَيْتِ مِنَ الصَّدَقَةِ عَامَّةٌ، فَتَشْمَل الْمَفْرُوضَةَ وَالنَّافِلَةَ.

Kedua: Tidak boleh secara mutlak.

Ini merupakan salah satu pendapat dalam mazhab Hanafiyah dan Syafi‘iyah, serta salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Pendapat ini juga merupakan pendapat yang lebih kuat dalam mazhab Hanabilah.

Alasannya, dalil-dalil yang melarang Āl al-Bait menerima sedekah bersifat umum. Larangan tersebut tidak hanya mencakup sedekah wajib (zakat), tetapi juga sedekah sunah.

Dengan demikian, berdasarkan pendapat ini, Āl Muhammad tidak boleh menerima sedekah dalam bentuk apa pun, baik yang wajib maupun yang sunah.

الثَّالِثُ: الْجَوَازُ مَعَ الْكَرَاهَةِ، وَهُوَ مَذْهَبُ الْمَالِكِيَّةِ، جَمْعًا بَيْنَ الأَْدِلَّةِ. (١)

Ketiga: Boleh, tetapi makruh.

Ini merupakan mazhab Malikiyah, sebagai bentuk kompromi antara berbagai dalil yang berkaitan dengan hukum Āl Muhammad menerima sedekah. (1)

Dengan pendapat ini, Āl Muhammad boleh menerima sedekah sunah, tetapi penerimaannya makruh, sehingga meninggalkannya lebih utama apabila tidak ada kebutuhan.

Wallahu A’lam...

Baca juga:

Apa Makna Āli dalam Islam? Pengertian Secara Bahasa dan Fikih, Pendapat Empat Mazhab, serta Makna Āli Muhammad dalam Salawat

Apa Itu Āfat dalam Fikih? Pengertian, Jenis, Dampak Hukum, danPengaruhnya terhadap Ibadah, Muamalah, Zakat, dan Ahliyyah

Mawali Ahlul Bait, Zakat Sesama Hasyimi, dan Amil Zakat dari BaniHasyim: Perspektif Empat Mazhab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Hukum Bejana (Āniyah) dalam Fikih Islam Menurut 4 Mazhab: Jenis, Bahan, Penggunaan, Kepemilikan, Najis, Bejana Emas-Perak, dan Zakat

آنِيَة Āniyah (Bejana/Wadah) أَوَّلاً: التَّعْرِيفُ : Pertama: Definisi ١ - الآْنِيَةُ جَمْعُ إِنَاءٍ، وَالإِْنَاءُ الْوِعَاءُ، ...