Mawali Ahlul Bait, Zakat Sesama Hasyimi, dan Amil Zakat dari Bani Hasyim: Perspektif Empat Mazhab

الْمَبْحَثُ الثَّالِثُ

Pembahasan Ketiga

مَوَالِي آل الْبَيْتِ وَالصَّدَقَاتُ

Para Mawali Ahlul Bait dan Sedekah

١١ - قَال الْحَنَفِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ، وَهُوَ الأَْصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَقَوْلٌ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ: إِنَّ مَوَالِيَ آل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ مَنْ أَعْتَقَهُمْ هَاشِمِيٌّ أَوْ مُطَّلِبِيٌّ، حَسَبَ الْخِلاَفِ السَّابِقِ، لاَ يُعْطَوْنَ مِنَ الزَّكَاةِ، مُسْتَدِلِّينَ بِمَا رَوَى أَبُو رَافِعٍ أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلاً مِنْ بَنِي مَخْزُومٍ عَلَى الصَّدَقَةِ، فَقَال لأَِبِي رَافِعٍ: اصْحَبْنِي كَيْمَا تُصِيبَ مِنْهَا. فَقَال: لاَ، حَتَّى آتِيَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْأَلَهُ، فَانْطَلَقَ إِلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ، فَقَال: إِنَّا لاَ تَحِل لَنَا الصَّدَقَةُ، وَإِنَّ مَوْلَى الْقَوْمِ مِنْهُمْ (١) وَلأَِنَّهُمْ مِمَّنْ يَرِثُهُمْ بَنُو هَاشِمٍ بِالتَّعْصِيبِ، فَلَمْ يَجُزْ دَفْعُ الصَّدَقَةِ إِلَيْهِمْ كَبَنِي هَاشِمٍ وَهُمْ بِمَنْزِلَةِ الْقَرَابَةِ، بِدَلِيل قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَلاَءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ (٢) وَثَبَتَ لَهُمْ حُكْمُ الْقَرَابَةِ مِنَ الإِْرْثِ وَالْعَقْل (١) وَالنَّفَقَةِ، فَلاَ يَمْتَنِعُ تَحْرِيمُ الصَّدَقَةِ عَلَيْهِمْ. وَإِذَا حَرُمَتِ الصَّدَقَةُ عَلَى مَوَالِي الآْل، فَأَرِقَّاؤُهُمْ وَمُكَاتَبُوهُمْ أَوْلَى بِالْمَنْعِ؛ لأَِنَّ تَمْلِيكَ الرَّقِيقِ يَقَعُ لِمَوْلاَهُ، بِخِلاَفِ الْعَتِيقِ. (٢)

11 – Mazhab Hanafi dan Hanbali, pendapat yang paling sahih menurut Syafi‘iyah, serta salah satu pendapat dalam mazhab Malikiyah menyatakan bahwa para mawali keluarga Nabi —yaitu orang-orang yang dimerdekakan oleh seorang keturunan Bani Hasyim atau Bani al-Muththalib, sesuai dengan perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya—tidak boleh diberi zakat.

Mereka berdalil dengan riwayat Abu Rafi‘ bahwa Rasulullah mengutus seorang laki-laki dari Bani Makhzum untuk mengurus sedekah. Orang tersebut berkata kepada Abu Rafi‘, “Ikutlah bersamaku agar engkau memperoleh bagian darinya.” Abu Rafi‘ menjawab, “Tidak, sampai aku datang kepada Rasulullah dan menanyakannya kepada beliau.”

Kemudian Abu Rafi‘ pergi menemui Rasulullah dan bertanya kepada beliau. Beliau menjawab:

“Sesungguhnya sedekah tidak halal bagi kami, dan sesungguhnya mawla suatu kaum termasuk bagian dari mereka.” (1)

Selain itu, mereka juga beralasan bahwa para mawali tersebut termasuk orang-orang yang dapat diwarisi oleh Bani Hasyim melalui jalur ‘aṣabah. Karena itu, tidak boleh memberikan sedekah kepada mereka sebagaimana tidak boleh memberikannya kepada Bani Hasyim. Kedudukan mereka disamakan dengan kerabat, berdasarkan sabda Nabi :

“Wala’ adalah ikatan sebagaimana ikatan nasab.” (2)

Para mawali juga mendapatkan beberapa hukum yang berkaitan dengan kekerabatan, seperti hak waris, diyat (‘aql), dan nafkah. Oleh sebab itu, tidaklah mustahil apabila sedekah juga diharamkan bagi mereka. (1)

Apabila sedekah diharamkan bagi para mawali Ahlul Bait, maka para budak milik mereka dan para mukātab mereka lebih utama untuk tidak diberi sedekah, karena kepemilikan yang diberikan kepada seorang budak pada hakikatnya kembali kepada tuannya, berbeda dengan orang yang telah dimerdekakan. (2)

وَالْمُعْتَمَدُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ جَوَازُ دَفْعِ الصَّدَقَةِ لِمَوَالِي آل الْبَيْتِ؛ لأَِنَّهُمْ لَيْسُوا بِقَرَابَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُمْنَعُوا الصَّدَقَةَ، كَسَائِرِ النَّاسِ، وَلأَِنَّهُمْ لَمْ يُعَوَّضُوا عَنْهَا بِخُمُسِ الْخُمُسِ، فَإِنَّهُمْ لاَ يُعْطَوْنَ مِنْهُ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُحْرَمُوهَا، كَسَائِرِ النَّاسِ. (٣)

Pendapat yang menjadi pegangan dalam mazhab Malikiyah adalah bolehnya memberikan sedekah kepada para mawali Ahlul Bait, karena mereka bukan termasuk kerabat Nabi . Oleh karena itu, mereka tidak dilarang menerima sedekah, sebagaimana orang-orang lainnya.

Selain itu, mereka tidak mendapatkan pengganti dari sedekah tersebut melalui bagian seperlima dari seperlima (khumus al-khumus), sebab mereka tidak diberi bagian darinya. Maka, tidak boleh mereka sekaligus dilarang menerima sedekah, sebagaimana orang-orang lainnya. (3)

دَفْعُ الْهَاشِمِيِّ زَكَاتَهُ لِهَاشِمِيٍّ:

Memberikan Zakat Seorang Hasyimi kepada Hasyimi Lainnya:

١٢ - يَرَى أَبُو يُوسُفَ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ، وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ الإِْمَامِ، أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْهَاشِمِيِّ أَنْ يَدْفَعَ زَكَاتَهُ إِلَى هَاشِمِيٍّ مِثْلِهِ، قَائِلِينَ: إِنَّ قَوْلَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَا بَنِي هَاشِمٍ، إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ غُسَالَةَ أَيْدِي النَّاسِ وَأَوْسَاخَهُمْ، وَعَوَّضَكُمْ مِنْهَا بِخُمُسِ الْخُمُسِ (٤) لاَ يَنْفِيهِ، لِلْقَطْعِ بِأَنَّ الْمُرَادَ مِنْ " النَّاسِ " غَيْرُهُمْ لأَِنَّهُمْ الْمُخَاطَبُونَ بِالْخِطَابِ الْمَذْكُورِ، وَالتَّعْوِيضُ بِخُمُسِ الْخُمُسِ عَنْ صَدَقَاتِ النَّاسِ لاَ يَسْتَلْزِمُ كَوْنَهُ عِوَضًا عَنْ صَدَقَاتِ أَنْفُسِهِمْ. (٥)

12 – Abu Yusuf dari kalangan Hanafiyah, dan pendapat ini juga merupakan salah satu riwayat dari Imam Abu Hanifah, berpendapat bahwa seorang Hasyimi boleh memberikan zakatnya kepada Hasyimi lainnya.

Mereka berpendapat bahwa sabda Nabi :

“Wahai Bani Hasyim, sesungguhnya Allah tidak menyukai bagi kalian kotoran dari tangan-tangan manusia dan kotoran mereka, dan Dia menggantinya bagi kalian dengan seperlima dari seperlima.” (4)

tidak meniadakan kebolehan tersebut. Sebab, sudah pasti bahwa yang dimaksud dengan “manusia” (an-nās) dalam hadis tersebut adalah orang-orang selain Bani Hasyim, karena Bani Hasyim-lah yang menjadi pihak yang diajak bicara dalam sabda tersebut.

Demikian pula, penggantian sedekah yang berasal dari orang lain dengan seperlima dari seperlima tidak mesti berarti bahwa bagian tersebut merupakan pengganti dari sedekah yang berasal dari sesama Bani Hasyim. (5)

وَلَمْ نَهْتَدِ إِلَى حُكْمِ ذَلِكَ فِي غَيْرِ مَذْهَبِ الْحَنَفِيَّةِ.

Kami belum menemukan ketentuan mengenai masalah tersebut dalam mazhab selain mazhab Hanafiyah.

عِمَالَةُ الْهَاشِمِيِّ عَلَى الصَّدَقَةِ بِأَجْرٍ مِنْهَا:

Menjadikan Seorang Hasyimi sebagai Amil Zakat dengan Upah yang Diambil dari Zakat:

١٣ - قَال الْحَنَفِيَّةُ فِي الأَْصَحِّ عِنْدَهُمْ، وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَبَعْضُ الْحَنَابِلَةِ، وَهُوَ ظَاهِرُ قَوْل الْخِرَقِيِّ: إِنَّهُ لاَ يَحِل لِلْهَاشِمِيِّ أَنْ يَكُونَ عَامِلاً عَلَى الصَّدَقَاتِ بِأَجْرٍ مِنْهَا، تَنْزِيهًا لِقَرَابَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شُبْهَةِ الْوَسَخِ، وَلِمَا رَوَى عَبْدُ الْمُطَّلِبِ بْنُ رَبِيعَةَ بْنِ الْحَارِثِ أَنَّهُ اجْتَمَعَ رَبِيعَةُ وَالْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، فَقَالاَ: لَوْ بَعَثْنَا هَذَيْنِ الْغُلاَمَيْنِ لِي وَلِلْفَضْل بْنِ الْعَبَّاسِ إِلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّرَهُمَا عَلَى الصَّدَقَةِ، فَأَصَابَا مِنْهَا كَمَا يُصِيبُ النَّاسُ. فَقَال عَلِيٌّ: لاَ تُرْسِلُوهُمَا. فَانْطَلَقْنَا حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَوْمَئِذٍ عِنْدَ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ، فَقُلْنَا: يَا رَسُول اللَّهِ، قَدْ بَلَغْنَا النِّكَاحَ وَأَنْتَ أَبَرُّ النَّاسِ وَأَوْصَل النَّاسِ، وَجِئْنَاكَ لِتُؤَمِّرَنَا عَلَى هَذِهِ الصَّدَقَاتِ، فَنُؤَدِّيَ إِلَيْكَ كَمَا يُؤَدِّي النَّاسُ، وَنُصِيبُ كَمَا يُصِيبُونَ. قَال: فَسَكَتَ طَوِيلاً، ثُمَّ قَال: إِنَّ الصَّدَقَةَ لاَ تَنْبَغِي لآِل مُحَمَّدٍ، إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ. (١)

13 – Mazhab Hanafiyah menurut pendapat yang paling sahih di kalangan mereka, Malikiyah, Syafi‘iyah, sebagian Hanabilah, dan pendapat yang tampak dari pernyataan al-Khiraqi, menyatakan bahwa seorang Hasyimi tidak halal menjadi amil zakat dengan menerima upah yang diambil dari zakat tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kehormatan kerabat Nabi dari segala sesuatu yang menyerupai kotoran, serta berdasarkan riwayat dari ‘Abdul-Muththalib bin Rabi‘ah bin al-Harits bahwa Rabi‘ah dan al-‘Abbas bin ‘Abdul-Muththalib pernah berkumpul dan berkata:

“Seandainya kita mengutus kedua anak ini—aku dan al-Fadhl bin al-‘Abbas—kepada Rasulullah , lalu beliau mengangkat keduanya sebagai petugas zakat, sehingga keduanya mendapatkan bagian dari zakat sebagaimana orang-orang lain mendapatkannya.”

Kemudian ‘Ali berkata, “Jangan kalian utus keduanya.”

Lalu kami pergi hingga menemui Rasulullah , yang pada waktu itu berada di rumah Zainab binti Jahsy. Kami berkata:

“Wahai Rasulullah, kami telah mencapai usia menikah. Engkau adalah manusia yang paling baik dan paling banyak menyambung silaturahmi. Kami datang kepadamu agar engkau mengangkat kami sebagai petugas untuk mengelola zakat-zakat ini. Kami akan menyerahkannya kepadamu sebagaimana orang-orang lain menyerahkannya, dan kami akan mendapatkan bagian sebagaimana mereka mendapatkannya.”

Perawi berkata: Beliau terdiam cukup lama, kemudian bersabda:

“Sesungguhnya sedekah tidak patut diberikan kepada keluarga Muhammad. Sedekah itu hanyalah kotoran manusia.” (1)

وَفِي قَوْلٍ لِلْحَنَفِيَّةِ: إِنَّ أَخْذَ الْهَاشِمِيِّ الْعَامِل عَلَى الصَّدَقَاتِ مَكْرُوهٌ تَحْرِيمًا لاَ حَرَامٌ. (٢)

Menurut salah satu pendapat dalam mazhab Hanafiyah, seorang Hasyimi yang menjadi amil zakat makruh tahrim menerima upah dari zakat tersebut, bukan haram secara mutlak. (2)

وَجَوَّزَ الشَّافِعِيَّةُ أَنْ يَكُونَ الْحَمَّال وَالْكَيَّال وَالْوَزَّانُ وَالْحَافِظُ هَاشِمِيًّا أَوْ مُطَّلِبِيًّا. (٣)

Mazhab Syafi‘iyah membolehkan seorang Hasyimi atau Muththalibi menjadi petugas yang bertugas sebagai pengangkut, pengukur, penimbang, atau penjaga zakat. (3)

وَأَكْثَرُ الْحَنَابِلَةِ عَلَى أَنَّهُ يُبَاحُ لِلآْل الأَْخْذُ مِنَ الزَّكَاةِ عِمَالَةً، لأَِنَّ مَا يَأْخُذُونَهُ أَجْرٌ، فَجَازَ لَهُمْ أَخْذُهُ، كَالْحَمَّال وَصَاحِبِ الْمَخْزَنِ إِذَا آجَرَهُمْ مَخْزَنَهُ. (١)

Mayoritas ulama Hanabilah berpendapat bahwa Ahlul Bait boleh menerima zakat sebagai imbalan atas pekerjaan mereka sebagai amil, karena apa yang mereka terima merupakan upah (ujrah). Oleh karena itu, mereka boleh mengambilnya, sebagaimana seorang pengangkut barang atau pemilik gudang yang menyewakan gudangnya kepada pihak yang mengelola zakat. (1)

Wallahu A’lam...

Baca juga:

Siapa yang Termasuk Āli dan Ahli dalam Fikih Islam: Definisi, Cakupan Āl Muḥammad , Hukum Zakat, Wakaf, Wasiat, Kafarat, Nazar, dan Sedekah Menurut Empat Mazhab

Apa Makna Āli dalam Islam? Pengertian Secara Bahasa dan Fikih, Pendapat Empat Mazhab, serta Makna Āli Muhammad dalam Salawat

Hukum Ghanimah dan Fai’ serta Hak Ahlul Bait: Pembagian Khumus, SahamDzawil Qurba, Mustahik, dan Perbedaan Pendapat Empat Mazhab

الْمَبْحَثُ الثَّالِثُ

Pembahasan Ketiga

مَوَالِي آل الْبَيْتِ وَالصَّدَقَاتُ

Para Mawali Ahlul Bait dan Sedekah

١١ - قَال الْحَنَفِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ، وَهُوَ الأَْصَحُّ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَقَوْلٌ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ: إِنَّ مَوَالِيَ آل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ مَنْ أَعْتَقَهُمْ هَاشِمِيٌّ أَوْ مُطَّلِبِيٌّ، حَسَبَ الْخِلاَفِ السَّابِقِ، لاَ يُعْطَوْنَ مِنَ الزَّكَاةِ، مُسْتَدِلِّينَ بِمَا رَوَى أَبُو رَافِعٍ أَنَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلاً مِنْ بَنِي مَخْزُومٍ عَلَى الصَّدَقَةِ، فَقَال لأَِبِي رَافِعٍ: اصْحَبْنِي كَيْمَا تُصِيبَ مِنْهَا. فَقَال: لاَ، حَتَّى آتِيَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْأَلَهُ، فَانْطَلَقَ إِلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ، فَقَال: إِنَّا لاَ تَحِل لَنَا الصَّدَقَةُ، وَإِنَّ مَوْلَى الْقَوْمِ مِنْهُمْ (١) وَلأَِنَّهُمْ مِمَّنْ يَرِثُهُمْ بَنُو هَاشِمٍ بِالتَّعْصِيبِ، فَلَمْ يَجُزْ دَفْعُ الصَّدَقَةِ إِلَيْهِمْ كَبَنِي هَاشِمٍ وَهُمْ بِمَنْزِلَةِ الْقَرَابَةِ، بِدَلِيل قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَلاَءُ لُحْمَةٌ كَلُحْمَةِ النَّسَبِ (٢) وَثَبَتَ لَهُمْ حُكْمُ الْقَرَابَةِ مِنَ الإِْرْثِ وَالْعَقْل (١) وَالنَّفَقَةِ، فَلاَ يَمْتَنِعُ تَحْرِيمُ الصَّدَقَةِ عَلَيْهِمْ. وَإِذَا حَرُمَتِ الصَّدَقَةُ عَلَى مَوَالِي الآْل، فَأَرِقَّاؤُهُمْ وَمُكَاتَبُوهُمْ أَوْلَى بِالْمَنْعِ؛ لأَِنَّ تَمْلِيكَ الرَّقِيقِ يَقَعُ لِمَوْلاَهُ، بِخِلاَفِ الْعَتِيقِ. (٢)

11 – Mazhab Hanafi dan Hanbali, pendapat yang paling sahih menurut Syafi‘iyah, serta salah satu pendapat dalam mazhab Malikiyah menyatakan bahwa para mawali keluarga Nabi —yaitu orang-orang yang dimerdekakan oleh seorang keturunan Bani Hasyim atau Bani al-Muththalib, sesuai dengan perbedaan pendapat yang telah disebutkan sebelumnya—tidak boleh diberi zakat.

Mereka berdalil dengan riwayat Abu Rafi‘ bahwa Rasulullah mengutus seorang laki-laki dari Bani Makhzum untuk mengurus sedekah. Orang tersebut berkata kepada Abu Rafi‘, “Ikutlah bersamaku agar engkau memperoleh bagian darinya.” Abu Rafi‘ menjawab, “Tidak, sampai aku datang kepada Rasulullah dan menanyakannya kepada beliau.”

Kemudian Abu Rafi‘ pergi menemui Rasulullah dan bertanya kepada beliau. Beliau menjawab:

“Sesungguhnya sedekah tidak halal bagi kami, dan sesungguhnya mawla suatu kaum termasuk bagian dari mereka.” (1)

Selain itu, mereka juga beralasan bahwa para mawali tersebut termasuk orang-orang yang dapat diwarisi oleh Bani Hasyim melalui jalur ‘aṣabah. Karena itu, tidak boleh memberikan sedekah kepada mereka sebagaimana tidak boleh memberikannya kepada Bani Hasyim. Kedudukan mereka disamakan dengan kerabat, berdasarkan sabda Nabi :

“Wala’ adalah ikatan sebagaimana ikatan nasab.” (2)

Para mawali juga mendapatkan beberapa hukum yang berkaitan dengan kekerabatan, seperti hak waris, diyat (‘aql), dan nafkah. Oleh sebab itu, tidaklah mustahil apabila sedekah juga diharamkan bagi mereka. (1)

Apabila sedekah diharamkan bagi para mawali Ahlul Bait, maka para budak milik mereka dan para mukātab mereka lebih utama untuk tidak diberi sedekah, karena kepemilikan yang diberikan kepada seorang budak pada hakikatnya kembali kepada tuannya, berbeda dengan orang yang telah dimerdekakan. (2)

وَالْمُعْتَمَدُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ جَوَازُ دَفْعِ الصَّدَقَةِ لِمَوَالِي آل الْبَيْتِ؛ لأَِنَّهُمْ لَيْسُوا بِقَرَابَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُمْنَعُوا الصَّدَقَةَ، كَسَائِرِ النَّاسِ، وَلأَِنَّهُمْ لَمْ يُعَوَّضُوا عَنْهَا بِخُمُسِ الْخُمُسِ، فَإِنَّهُمْ لاَ يُعْطَوْنَ مِنْهُ، فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُحْرَمُوهَا، كَسَائِرِ النَّاسِ. (٣)

Pendapat yang menjadi pegangan dalam mazhab Malikiyah adalah bolehnya memberikan sedekah kepada para mawali Ahlul Bait, karena mereka bukan termasuk kerabat Nabi . Oleh karena itu, mereka tidak dilarang menerima sedekah, sebagaimana orang-orang lainnya.

Selain itu, mereka tidak mendapatkan pengganti dari sedekah tersebut melalui bagian seperlima dari seperlima (khumus al-khumus), sebab mereka tidak diberi bagian darinya. Maka, tidak boleh mereka sekaligus dilarang menerima sedekah, sebagaimana orang-orang lainnya. (3)

دَفْعُ الْهَاشِمِيِّ زَكَاتَهُ لِهَاشِمِيٍّ:

Memberikan Zakat Seorang Hasyimi kepada Hasyimi Lainnya:

١٢ - يَرَى أَبُو يُوسُفَ مِنَ الْحَنَفِيَّةِ، وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ الإِْمَامِ، أَنَّهُ يَجُوزُ لِلْهَاشِمِيِّ أَنْ يَدْفَعَ زَكَاتَهُ إِلَى هَاشِمِيٍّ مِثْلِهِ، قَائِلِينَ: إِنَّ قَوْلَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَا بَنِي هَاشِمٍ، إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ غُسَالَةَ أَيْدِي النَّاسِ وَأَوْسَاخَهُمْ، وَعَوَّضَكُمْ مِنْهَا بِخُمُسِ الْخُمُسِ (٤) لاَ يَنْفِيهِ، لِلْقَطْعِ بِأَنَّ الْمُرَادَ مِنْ " النَّاسِ " غَيْرُهُمْ لأَِنَّهُمْ الْمُخَاطَبُونَ بِالْخِطَابِ الْمَذْكُورِ، وَالتَّعْوِيضُ بِخُمُسِ الْخُمُسِ عَنْ صَدَقَاتِ النَّاسِ لاَ يَسْتَلْزِمُ كَوْنَهُ عِوَضًا عَنْ صَدَقَاتِ أَنْفُسِهِمْ. (٥)

12 – Abu Yusuf dari kalangan Hanafiyah, dan pendapat ini juga merupakan salah satu riwayat dari Imam Abu Hanifah, berpendapat bahwa seorang Hasyimi boleh memberikan zakatnya kepada Hasyimi lainnya.

Mereka berpendapat bahwa sabda Nabi :

“Wahai Bani Hasyim, sesungguhnya Allah tidak menyukai bagi kalian kotoran dari tangan-tangan manusia dan kotoran mereka, dan Dia menggantinya bagi kalian dengan seperlima dari seperlima.” (4)

tidak meniadakan kebolehan tersebut. Sebab, sudah pasti bahwa yang dimaksud dengan “manusia” (an-nās) dalam hadis tersebut adalah orang-orang selain Bani Hasyim, karena Bani Hasyim-lah yang menjadi pihak yang diajak bicara dalam sabda tersebut.

Demikian pula, penggantian sedekah yang berasal dari orang lain dengan seperlima dari seperlima tidak mesti berarti bahwa bagian tersebut merupakan pengganti dari sedekah yang berasal dari sesama Bani Hasyim. (5)

وَلَمْ نَهْتَدِ إِلَى حُكْمِ ذَلِكَ فِي غَيْرِ مَذْهَبِ الْحَنَفِيَّةِ.

Kami belum menemukan ketentuan mengenai masalah tersebut dalam mazhab selain mazhab Hanafiyah.

عِمَالَةُ الْهَاشِمِيِّ عَلَى الصَّدَقَةِ بِأَجْرٍ مِنْهَا:

Menjadikan Seorang Hasyimi sebagai Amil Zakat dengan Upah yang Diambil dari Zakat:

١٣ - قَال الْحَنَفِيَّةُ فِي الأَْصَحِّ عِنْدَهُمْ، وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَبَعْضُ الْحَنَابِلَةِ، وَهُوَ ظَاهِرُ قَوْل الْخِرَقِيِّ: إِنَّهُ لاَ يَحِل لِلْهَاشِمِيِّ أَنْ يَكُونَ عَامِلاً عَلَى الصَّدَقَاتِ بِأَجْرٍ مِنْهَا، تَنْزِيهًا لِقَرَابَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شُبْهَةِ الْوَسَخِ، وَلِمَا رَوَى عَبْدُ الْمُطَّلِبِ بْنُ رَبِيعَةَ بْنِ الْحَارِثِ أَنَّهُ اجْتَمَعَ رَبِيعَةُ وَالْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، فَقَالاَ: لَوْ بَعَثْنَا هَذَيْنِ الْغُلاَمَيْنِ لِي وَلِلْفَضْل بْنِ الْعَبَّاسِ إِلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّرَهُمَا عَلَى الصَّدَقَةِ، فَأَصَابَا مِنْهَا كَمَا يُصِيبُ النَّاسُ. فَقَال عَلِيٌّ: لاَ تُرْسِلُوهُمَا. فَانْطَلَقْنَا حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَوْمَئِذٍ عِنْدَ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ، فَقُلْنَا: يَا رَسُول اللَّهِ، قَدْ بَلَغْنَا النِّكَاحَ وَأَنْتَ أَبَرُّ النَّاسِ وَأَوْصَل النَّاسِ، وَجِئْنَاكَ لِتُؤَمِّرَنَا عَلَى هَذِهِ الصَّدَقَاتِ، فَنُؤَدِّيَ إِلَيْكَ كَمَا يُؤَدِّي النَّاسُ، وَنُصِيبُ كَمَا يُصِيبُونَ. قَال: فَسَكَتَ طَوِيلاً، ثُمَّ قَال: إِنَّ الصَّدَقَةَ لاَ تَنْبَغِي لآِل مُحَمَّدٍ، إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ. (١)

13 – Mazhab Hanafiyah menurut pendapat yang paling sahih di kalangan mereka, Malikiyah, Syafi‘iyah, sebagian Hanabilah, dan pendapat yang tampak dari pernyataan al-Khiraqi, menyatakan bahwa seorang Hasyimi tidak halal menjadi amil zakat dengan menerima upah yang diambil dari zakat tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kehormatan kerabat Nabi dari segala sesuatu yang menyerupai kotoran, serta berdasarkan riwayat dari ‘Abdul-Muththalib bin Rabi‘ah bin al-Harits bahwa Rabi‘ah dan al-‘Abbas bin ‘Abdul-Muththalib pernah berkumpul dan berkata:

“Seandainya kita mengutus kedua anak ini—aku dan al-Fadhl bin al-‘Abbas—kepada Rasulullah , lalu beliau mengangkat keduanya sebagai petugas zakat, sehingga keduanya mendapatkan bagian dari zakat sebagaimana orang-orang lain mendapatkannya.”

Kemudian ‘Ali berkata, “Jangan kalian utus keduanya.”

Lalu kami pergi hingga menemui Rasulullah , yang pada waktu itu berada di rumah Zainab binti Jahsy. Kami berkata:

“Wahai Rasulullah, kami telah mencapai usia menikah. Engkau adalah manusia yang paling baik dan paling banyak menyambung silaturahmi. Kami datang kepadamu agar engkau mengangkat kami sebagai petugas untuk mengelola zakat-zakat ini. Kami akan menyerahkannya kepadamu sebagaimana orang-orang lain menyerahkannya, dan kami akan mendapatkan bagian sebagaimana mereka mendapatkannya.”

Perawi berkata: Beliau terdiam cukup lama, kemudian bersabda:

“Sesungguhnya sedekah tidak patut diberikan kepada keluarga Muhammad. Sedekah itu hanyalah kotoran manusia.” (1)

وَفِي قَوْلٍ لِلْحَنَفِيَّةِ: إِنَّ أَخْذَ الْهَاشِمِيِّ الْعَامِل عَلَى الصَّدَقَاتِ مَكْرُوهٌ تَحْرِيمًا لاَ حَرَامٌ. (٢)

Menurut salah satu pendapat dalam mazhab Hanafiyah, seorang Hasyimi yang menjadi amil zakat makruh tahrim menerima upah dari zakat tersebut, bukan haram secara mutlak. (2)

وَجَوَّزَ الشَّافِعِيَّةُ أَنْ يَكُونَ الْحَمَّال وَالْكَيَّال وَالْوَزَّانُ وَالْحَافِظُ هَاشِمِيًّا أَوْ مُطَّلِبِيًّا. (٣)

Mazhab Syafi‘iyah membolehkan seorang Hasyimi atau Muththalibi menjadi petugas yang bertugas sebagai pengangkut, pengukur, penimbang, atau penjaga zakat. (3)

وَأَكْثَرُ الْحَنَابِلَةِ عَلَى أَنَّهُ يُبَاحُ لِلآْل الأَْخْذُ مِنَ الزَّكَاةِ عِمَالَةً، لأَِنَّ مَا يَأْخُذُونَهُ أَجْرٌ، فَجَازَ لَهُمْ أَخْذُهُ، كَالْحَمَّال وَصَاحِبِ الْمَخْزَنِ إِذَا آجَرَهُمْ مَخْزَنَهُ. (١)

Mayoritas ulama Hanabilah berpendapat bahwa Ahlul Bait boleh menerima zakat sebagai imbalan atas pekerjaan mereka sebagai amil, karena apa yang mereka terima merupakan upah (ujrah). Oleh karena itu, mereka boleh mengambilnya, sebagaimana seorang pengangkut barang atau pemilik gudang yang menyewakan gudangnya kepada pihak yang mengelola zakat. (1)

Wallahu A’lam...

Baca juga:

Siapa yang Termasuk Āli dan Ahli dalam Fikih Islam: Definisi, Cakupan Āl Muḥammad , Hukum Zakat, Wakaf, Wasiat, Kafarat, Nazar, dan Sedekah Menurut Empat Mazhab

Apa Makna Āli dalam Islam? Pengertian Secara Bahasa dan Fikih, Pendapat Empat Mazhab, serta Makna Āli Muhammad dalam Salawat

Hukum Ghanimah dan Fai’ serta Hak Ahlul Bait: Pembagian Khumus, SahamDzawil Qurba, Mustahik, dan Perbedaan Pendapat Empat Mazhab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Hukum Bejana (Āniyah) dalam Fikih Islam Menurut 4 Mazhab: Jenis, Bahan, Penggunaan, Kepemilikan, Najis, Bejana Emas-Perak, dan Zakat

آنِيَة Āniyah (Bejana/Wadah) أَوَّلاً: التَّعْرِيفُ : Pertama: Definisi ١ - الآْنِيَةُ جَمْعُ إِنَاءٍ، وَالإِْنَاءُ الْوِعَاءُ، ...