Apa yang Dimaksud dengan Āfāqī dalam Haji? Pengertian, Batasannya, Miqat, Tawaf Wada‘ dan Qudum, serta Qirān dan Tamattu‘

آفَاقِيّ

Āfāqī

التَّعْرِيفُ:

Definisi:

١ - الآْفَاقِيُّ لُغَةً نِسْبَةٌ إِلَى الآْفَاقِ، وَهِيَ جَمْعُ أُفُقٍ، وَهُوَ مَا يَظْهَرُ مِنْ نَوَاحِي الْفَلَكِ وَأَطْرَافِ الأَْرْضِ. وَالنِّسْبَةُ إِلَيْهِ أُفُقِيٌّ. (١) وَإِنَّمَا نَسَبَهُ الْفُقَهَاءُ إِلَى الْجَمْعِ لأَِنَّ الآْفَاقَ صَارَ كَالْعَلَمِ عَلَى مَا كَانَ خَارِجَ الْحَرَمِ مِنَ الْبِلاَدِ.

1 — Āfāqī secara bahasa merupakan kata nisbah kepada al-āfāq, yang merupakan bentuk jamak dari ufuq. Ufuq adalah bagian yang tampak dari berbagai sisi cakrawala dan ujung-ujung bumi. Bentuk nisbahnya adalah ufuqī.

Para fuqaha menisbahkannya kepada bentuk jamak (al-āfāq) karena istilah al-āfāq telah menjadi sebutan bagi negeri-negeri yang berada di luar kawasan Tanah Haram.

وَالْفُقَهَاءُ يُطْلِقُونَ هَذِهِ اللَّفْظَةَ عَلَى مَنْ كَانَ خَارِجَ الْمَوَاقِيتِ الْمَكَانِيَّةِ لِلإِْحْرَامِ، حَتَّى لَوْ كَانَ مَكِّيًّا.

Para fuqaha menggunakan istilah ini untuk menyebut orang yang berada di luar batas-batas miqat makani untuk ihram, meskipun orang tersebut adalah penduduk Makkah.

وَيُقَابِل الآْفَاقِيَّ الْحِلِّيُّ، وَقَدْ يُسَمَّى " الْبُسْتَانِيَّ " وَهُوَ مَنْ كَانَ دَاخِل الْمَوَاقِيتِ، وَخَارِجَ الْحَرَمِ، وَالْحَرَمِيَّ، وَهُوَ مَنْ كَانَ دَاخِل حُدُودِ حَرَمِ مَكَّةَ (١) .

Lawan dari istilah āfāqī adalah ḥillī, yang terkadang disebut juga bustānī, yaitu orang yang berada di dalam batas miqat, tetapi di luar Tanah Haram. Adapun ḥaramī adalah orang yang berada di dalam batas-batas Tanah Haram Makkah.

وَقَدْ يُطْلِقُ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ لَفْظَ " آفَاقِيٍّ " عَلَى مَنْ كَانَ خَارِجَ حُدُودِ حَرَمِ مَكَّةَ. (٢)

Sebagian fuqaha juga menggunakan istilah “āfāqī” untuk menyebut orang yang berada di luar batas-batas Tanah Haram Makkah.

الْحُكْمُ الإِْجْمَالِيُّ:

Hukum Secara Umum:

٢ - يَشْتَرِكُ الآْفَاقِيُّ مَعَ غَيْرِهِ فِي كُل مَا يَتَعَلَّقُ بِالْحَجِّ، مَا عَدَا ثَلاَثَةَ أَشْيَاءَ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهَا:

2 — Orang āfāqī memiliki ketentuan yang sama dengan orang lainnya dalam seluruh perkara yang berkaitan dengan ibadah haji, kecuali tiga hal dan perkara-perkara yang berkaitan dengannya:

الأَْوَّل: الإِْحْرَامُ مِنَ الْمِيقَاتِ:

Pertama: Berihram dari Miqat:

حَدَّدَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلآْفَاقِيِّ مَوَاقِيتَ وَضَّحَهَا الْفُقَهَاءُ لاَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَتَجَاوَزَهَا إِذَا قَصَدَ النُّسُكَ بِدُونِ إِحْرَامٍ، عَلَى تَفْصِيلٍ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي مَبَاحِثِ الإِْحْرَامِ وَالْمَوَاقِيتِ الْمَكَانِيَّةِ. (٣)

Rasulullah telah menetapkan miqat-miqat bagi orang āfāqī, yang telah dijelaskan secara terperinci oleh para fuqaha. Ia tidak boleh melewati miqat-miqat tersebut tanpa ihram apabila hendak melaksanakan ibadah haji atau umrah, dengan berbagai rincian yang pembahasannya dapat dirujuk dalam bab ihram dan miqat makani.

الثَّانِي: طَوَافُ الْوَدَاعِ وَطَوَافُ الْقُدُومِ:

Kedua: Tawaf Wada‘ dan Tawaf Qudum:

خُصَّ الآْفَاقِيُّ بِطَوَافِ الْوَدَاعِ وَطَوَافِ الْقُدُومِ؛ لأَِنَّهُ الْقَادِمُ إِلَى الْبَيْتِ وَالْمُوَدِّعُ لَهُ (٤) .

Orang āfāqī dikhususkan dengan Tawaf Wada‘ dan Tawaf Qudum, karena ia merupakan orang yang datang menuju Baitullah dan orang yang berpamitan untuk meninggalkannya.

الثَّالِثُ: الْقِرَانُ وَالتَّمَتُّعُ:

Ketiga: Haji Qirān dan Haji Tamattu‘:

خُصَّ الآْفَاقِيُّ بِالْقِرَانِ وَالتَّمَتُّعِ.

Orang āfāqī dikhususkan dengan haji qirān dan haji tamattu‘.

مَوَاطِنُ الْبَحْثِ:

Pokok-Pokok Pembahasan:

٣ - وَيُفَصِّل الْفُقَهَاءُ ذَلِكَ فِي مَبَاحِثِ الْقِرَانِ وَالتَّمَتُّعِ مِنْ أَحْكَامِ الْحَجِّ.

3 — Para fuqaha merinci ketentuan-ketentuan tersebut dalam pembahasan haji qirān dan haji tamattu‘ yang termasuk dalam hukum-hukum haji.

Wallahu A’lam...

Baca juga:

Ādamī (Manusia) dalam Fikih Islam: Pengertian, Kemuliaan dan KehormatanManusia, Ahliyyah, Kesucian, Perlindungan Jiwa, Harta dan Kehormatan, sertaHukum Jenazah

Ādir (Penderita Udrah) dalamFikih: Definisi, Cacat pada Laki-Laki dan Perempuan, serta Pengaruhnya terhadapFasakh Nikah dan Khiyār al-‘Aib dalam Jual Beli

Apa Itu Āfah (Afat) dalam Fikih? Pengertian, Jenis, Dampak Hukum, danPengaruhnya terhadap Ibadah, Muamalah, Zakat, dan Ahliyyah

آفَاقِيّ

Āfāqī

التَّعْرِيفُ:

Definisi:

١ - الآْفَاقِيُّ لُغَةً نِسْبَةٌ إِلَى الآْفَاقِ، وَهِيَ جَمْعُ أُفُقٍ، وَهُوَ مَا يَظْهَرُ مِنْ نَوَاحِي الْفَلَكِ وَأَطْرَافِ الأَْرْضِ. وَالنِّسْبَةُ إِلَيْهِ أُفُقِيٌّ. (١) وَإِنَّمَا نَسَبَهُ الْفُقَهَاءُ إِلَى الْجَمْعِ لأَِنَّ الآْفَاقَ صَارَ كَالْعَلَمِ عَلَى مَا كَانَ خَارِجَ الْحَرَمِ مِنَ الْبِلاَدِ.

1 — Āfāqī secara bahasa merupakan kata nisbah kepada al-āfāq, yang merupakan bentuk jamak dari ufuq. Ufuq adalah bagian yang tampak dari berbagai sisi cakrawala dan ujung-ujung bumi. Bentuk nisbahnya adalah ufuqī.

Para fuqaha menisbahkannya kepada bentuk jamak (al-āfāq) karena istilah al-āfāq telah menjadi sebutan bagi negeri-negeri yang berada di luar kawasan Tanah Haram.

وَالْفُقَهَاءُ يُطْلِقُونَ هَذِهِ اللَّفْظَةَ عَلَى مَنْ كَانَ خَارِجَ الْمَوَاقِيتِ الْمَكَانِيَّةِ لِلإِْحْرَامِ، حَتَّى لَوْ كَانَ مَكِّيًّا.

Para fuqaha menggunakan istilah ini untuk menyebut orang yang berada di luar batas-batas miqat makani untuk ihram, meskipun orang tersebut adalah penduduk Makkah.

وَيُقَابِل الآْفَاقِيَّ الْحِلِّيُّ، وَقَدْ يُسَمَّى " الْبُسْتَانِيَّ " وَهُوَ مَنْ كَانَ دَاخِل الْمَوَاقِيتِ، وَخَارِجَ الْحَرَمِ، وَالْحَرَمِيَّ، وَهُوَ مَنْ كَانَ دَاخِل حُدُودِ حَرَمِ مَكَّةَ (١) .

Lawan dari istilah āfāqī adalah ḥillī, yang terkadang disebut juga bustānī, yaitu orang yang berada di dalam batas miqat, tetapi di luar Tanah Haram. Adapun ḥaramī adalah orang yang berada di dalam batas-batas Tanah Haram Makkah.

وَقَدْ يُطْلِقُ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ لَفْظَ " آفَاقِيٍّ " عَلَى مَنْ كَانَ خَارِجَ حُدُودِ حَرَمِ مَكَّةَ. (٢)

Sebagian fuqaha juga menggunakan istilah “āfāqī” untuk menyebut orang yang berada di luar batas-batas Tanah Haram Makkah.

الْحُكْمُ الإِْجْمَالِيُّ:

Hukum Secara Umum:

٢ - يَشْتَرِكُ الآْفَاقِيُّ مَعَ غَيْرِهِ فِي كُل مَا يَتَعَلَّقُ بِالْحَجِّ، مَا عَدَا ثَلاَثَةَ أَشْيَاءَ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهَا:

2 — Orang āfāqī memiliki ketentuan yang sama dengan orang lainnya dalam seluruh perkara yang berkaitan dengan ibadah haji, kecuali tiga hal dan perkara-perkara yang berkaitan dengannya:

الأَْوَّل: الإِْحْرَامُ مِنَ الْمِيقَاتِ:

Pertama: Berihram dari Miqat:

حَدَّدَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلآْفَاقِيِّ مَوَاقِيتَ وَضَّحَهَا الْفُقَهَاءُ لاَ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَتَجَاوَزَهَا إِذَا قَصَدَ النُّسُكَ بِدُونِ إِحْرَامٍ، عَلَى تَفْصِيلٍ يُرْجَعُ إِلَيْهِ فِي مَبَاحِثِ الإِْحْرَامِ وَالْمَوَاقِيتِ الْمَكَانِيَّةِ. (٣)

Rasulullah telah menetapkan miqat-miqat bagi orang āfāqī, yang telah dijelaskan secara terperinci oleh para fuqaha. Ia tidak boleh melewati miqat-miqat tersebut tanpa ihram apabila hendak melaksanakan ibadah haji atau umrah, dengan berbagai rincian yang pembahasannya dapat dirujuk dalam bab ihram dan miqat makani.

الثَّانِي: طَوَافُ الْوَدَاعِ وَطَوَافُ الْقُدُومِ:

Kedua: Tawaf Wada‘ dan Tawaf Qudum:

خُصَّ الآْفَاقِيُّ بِطَوَافِ الْوَدَاعِ وَطَوَافِ الْقُدُومِ؛ لأَِنَّهُ الْقَادِمُ إِلَى الْبَيْتِ وَالْمُوَدِّعُ لَهُ (٤) .

Orang āfāqī dikhususkan dengan Tawaf Wada‘ dan Tawaf Qudum, karena ia merupakan orang yang datang menuju Baitullah dan orang yang berpamitan untuk meninggalkannya.

الثَّالِثُ: الْقِرَانُ وَالتَّمَتُّعُ:

Ketiga: Haji Qirān dan Haji Tamattu‘:

خُصَّ الآْفَاقِيُّ بِالْقِرَانِ وَالتَّمَتُّعِ.

Orang āfāqī dikhususkan dengan haji qirān dan haji tamattu‘.

مَوَاطِنُ الْبَحْثِ:

Pokok-Pokok Pembahasan:

٣ - وَيُفَصِّل الْفُقَهَاءُ ذَلِكَ فِي مَبَاحِثِ الْقِرَانِ وَالتَّمَتُّعِ مِنْ أَحْكَامِ الْحَجِّ.

3 — Para fuqaha merinci ketentuan-ketentuan tersebut dalam pembahasan haji qirān dan haji tamattu‘ yang termasuk dalam hukum-hukum haji.

Wallahu A’lam...

Baca juga:

Ādamī (Manusia) dalam Fikih Islam: Pengertian, Kemuliaan dan KehormatanManusia, Ahliyyah, Kesucian, Perlindungan Jiwa, Harta dan Kehormatan, sertaHukum Jenazah

Ādir (Penderita Udrah) dalamFikih: Definisi, Cacat pada Laki-Laki dan Perempuan, serta Pengaruhnya terhadapFasakh Nikah dan Khiyār al-‘Aib dalam Jual Beli

Apa Itu Āfah (Afat) dalam Fikih? Pengertian, Jenis, Dampak Hukum, danPengaruhnya terhadap Ibadah, Muamalah, Zakat, dan Ahliyyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kitab Mujarab

Hukum Bejana (Āniyah) dalam Fikih Islam Menurut 4 Mazhab: Jenis, Bahan, Penggunaan, Kepemilikan, Najis, Bejana Emas-Perak, dan Zakat

آنِيَة Āniyah (Bejana/Wadah) أَوَّلاً: التَّعْرِيفُ : Pertama: Definisi ١ - الآْنِيَةُ جَمْعُ إِنَاءٍ، وَالإِْنَاءُ الْوِعَاءُ، ...