آلَة
Ālat
(Alat)
التَّعْرِيفُ:
Definisi:
١ -
الآْلَةُ مَا اعْتَمَلْتَ بِهِ مِنْ أَدَاةٍ، يَكُونُ وَاحِدًا وَجَمْعًا.
1- Alat adalah sesuatu yang digunakan untuk melakukan suatu
pekerjaan dari berbagai macam perkakas. Kata ālah dapat digunakan untuk
bentuk tunggal maupun bentuk jamak.
وَلاَ
يَخْرُجُ اسْتِعْمَال الْفُقَهَاءِ عَنِ الْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ. (١)
Penggunaan istilah ālah (alat) oleh para ahli fikih tidak
keluar dari makna bahasanya (makna secara bahasa).
أَوَّلاً: الْحُكْمُ التَّكْلِيفِيُّ لاِسْتِعْمَال الآْلاَتِ:
Pertama:
Hukum Taklifi dalam Menggunakan Alat-Alat:
٢ - الأَْصْل فِي الآْلاَتِ
وَالأَْدَوَاتِ الَّتِي يَسْتَعْمِلُهَا الإِْنْسَانُ فِي قَضَاءِ مَآرِبِهِ أَنَّ
اسْتِعْمَالَهَا مُبَاحٌ. وَيَعْرِضُ لَهَا الْحَظْرُ أَوِ الْكَرَاهِيَةُ
بِاعْتِبَارَاتٍ، مِنْهَا:
2. Hukum asal berbagai alat dan perkakas yang digunakan
manusia untuk memenuhi keperluannya adalah mubah (boleh) digunakan.
Namun, penggunaan alat-alat tersebut dapat menjadi haram atau makruh
berdasarkan beberapa pertimbangan, di antaranya:
أ -
الْمَادَّةُ الْمَصْنُوعَةُ مِنْهَا الآْلَةُ: فَإِنْ كَانَتْ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ
فِضَّةٍ أَوْ مَطْلِيَّةً بِأَحَدِهِمَا كُرِهَ أَوْ حُرِّمَ اسْتِعْمَالُهَا؛
لأَِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الشُّرْبِ فِي
آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالأَْكْل فِي صِحَافِهِمَا. وَتَفْصِيل ذَلِكَ
فِي مَبَاحِثِ الآْنِيَةِ (٢) .
a. Bahan yang digunakan untuk membuat alat: Jika alat
tersebut terbuat dari emas atau perak, atau dilapisi dengan
salah satu dari keduanya, maka penggunaannya makruh atau haram,
karena Nabi ﷺ melarang minum
menggunakan bejana emas dan perak serta makan dari piring yang terbuat dari
keduanya. Penjelasan lebih rinci mengenai hal tersebut terdapat dalam
pembahasan tentang bejana dan peralatan makan (al-Āniyah).
ب -
الْغَرَضُ الَّذِي تُسْتَعْمَل لَهُ كَبَيْعِ السِّلاَحِ فِي الْفِتْنَةِ، (٣)
أَوْ لِلْكُفَّارِ، أَوْ مِمَّنْ يَسْتَعْمِلُهُ فِي الْحَرَامِ، وَكَبَيْعِ
آلاَتِ اللَّهْوِ.
b. Tujuan penggunaan alat tersebut: Misalnya menjual
senjata pada saat terjadi fitnah atau kekacauan, atau
menjualnya kepada orang-orang kafir, atau kepada orang yang
akan menggunakannya untuk perkara yang haram. Demikian pula
seperti menjual alat-alat hiburan yang melalaikan.
ج - مَا
تَخْتَصُّ بِهِ الآْلَةُ مِنْ أَثَرٍ قَدْ يَكُونُ شَدِيدَ الإِْيلاَمِ أَوْ
شَدِيدَ الْخُطُورَةِ، أَوْ يُؤَدِّي إِلَى مُحَرَّمٍ، فَيُمْنَعُ
اسْتِعْمَالُهَا، أَوْ يُكْرَهُ، كَالسُّمِّ فِي الصَّيْدِ أَوِ الْجِهَادِ، وَكَالآْلَةِ
الْكَالَّةِ لاَ تُسْتَعْمَل فِي اسْتِيفَاءِ الْقِصَاصِ أَوِ الْقَطْعِ فِي حَدِّ
السَّرِقَةِ، وَكَالْمُزَفَّتِ وَالْجِرَارِ يَمْنَعُ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ
اسْتِعْمَالَهَا فِي الاِنْتِبَاذِ لِئَلاَّ يُسَارِعَ إِلَيْهَا التَّخَمُّرُ.
c. Dampak atau karakteristik khusus yang dimiliki oleh alat
tersebut: Alat tertentu dapat menimbulkan rasa sakit yang sangat
berat, sangat berbahaya, atau menyebabkan terjadinya sesuatu yang haram. Karena
itu, penggunaannya dilarang atau dimakruhkan.
Contohnya adalah racun yang digunakan dalam berburu atau
berjihad. Demikian pula alat yang tumpul, tidak boleh
digunakan untuk melaksanakan qisas atau untuk memotong tangan dalam hukuman had
pencurian.
Contoh lainnya adalah bejana yang dilapisi ter (muzafaf)
dan tempayan-tempayan, yang menurut sebagian ahli fikih
dilarang digunakan untuk menyimpan minuman hasil perasan, agar minuman tersebut
tidak cepat mengalami fermentasi.
د -
التَّكْرِيمُ: كَمَنْعِ بَيْعِ آلَةِ الْعِلْمِ الشَّرْعِيِّ لِلْكَافِرِ (٤) .
d. Kemuliaan atau penghormatan: Misalnya, dilarang menjual alat
atau sarana untuk mempelajari ilmu syariat kepada orang kafir.
وَيُفَصِّل
الْفُقَهَاءُ أَحْكَامَ كُل آلَةٍ بِحَسَبِ مَا تُضَافُ إِلَيْهِ فِي
الاِسْتِعْمَال الْفِقْهِيِّ، فَآلَةُ الذَّبْحِ فِي مَبَاحِثِ الذَّبْحِ، وَآلَةُ
الْقِصَاصِ فِي مَبَاحِثِ الْجِنَايَاتِ. وَتَفْصِيل بَعْضِ ذَلِكَ فِيمَا يَلِي:
Para ahli fikih menjelaskan hukum setiap alat sesuai dengan fungsi
dan penggunaannya dalam pembahasan fikih. Alat untuk menyembelih
dibahas dalam pembahasan penyembelihan, sedangkan alat untuk
melaksanakan qisas dibahas dalam pembahasan jinayah
(tindak pidana). Adapun rincian sebagian dari hal tersebut adalah
sebagai berikut:
آلاَتُ اللَّهْوِ وَاللَّعِبِ:
Alat-Alat
Hiburan dan Permainan:
٣ - آلاَتُ اللَّهْوِ كَالطَّبْل وَالْمِزْمَارِ
وَالْعُودِ، وَآلاَتُ بَعْضِ الأَْلْعَابِ كَالشِّطْرَنْجِ وَالنَّرْدِ،
مُحَرَّمَةُ الاِسْتِعْمَال عِنْدَ الْفُقَهَاءِ مِنْ حَيْثُ الْجُمْلَةُ.
وَيُبَاحُ الطَّبْل لِغَيْرِ اللَّهْوِ كَالْعُرْسِ وَطَبْل الْغُزَاةِ.
3. Alat-alat hiburan seperti gendang, seruling,
dan alat musik ‘ūd, serta alat-alat permainan tertentu seperti catur
dan dadu, secara umum diharamkan penggunaannya menurut para
ahli fikih. Namun, gendang diperbolehkan apabila digunakan
bukan untuk hiburan, seperti dalam acara pernikahan dan
gendang yang digunakan oleh para pejuang dalam peperangan.
وَفِي
هَذِهِ الأَْحْكَامِ خِلاَفٌ وَتَفَاصِيل يَذْكُرُهَا الْفُقَهَاءُ فِي مَبَاحِثِ
الْبَيْعِ وَالإِْجَارَةِ وَالشَّهَادَةِ وَالْحُدُودِ وَالْحَظْرِ وَالإِْبَاحَةِ
(١) .
Dalam hukum-hukum tersebut terdapat perbedaan pendapat dan rincian
yang dijelaskan oleh para ahli fikih dalam pembahasan jual beli,
sewa-menyewa, kesaksian, hudud, serta perkara-perkara yang dilarang dan yang
diperbolehkan.
آلَةُ الذَّبْحِ وَآلَةُ الصَّيْدِ:
Alat
untuk Menyembelih dan Alat untuk Berburu:
٤ - اعْتَبَرَ الشَّرْعُ فِي آلَةِ
الذَّبْحِ وَآلَةِ الصَّيْدِ أَنْ تَكُونَ مُحَدَّدَةً، تَنْهَرُ الدَّمَ
وَتَفْرِي، وَأَلاَّ تَكُونَ سِنًّا وَلاَ ظُفُرًا، فَلاَ يَحِل مَا ذُبِحَ
بِهِمَا أَوْ صِيدَ بِهِمَا. وَفَرَّقَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ بَيْنَ السِّنِّ
وَالظُّفُرِ الْقَائِمَيْنِ فَمَنَعَ الذَّبْحَ بِهِمَا، بِخِلاَفِ
الْمَنْزُوعَيْنِ. وَلاَ يَحِل مَا أُزْهِقَتْ نَفْسُهُ بِمُثْقِلٍ كَالْحَجَرِ
وَنَحْوِهِ. وَيَنْبَغِي تَعَاهُدُ الآْلَةِ لِتَكُونَ مُحَدَّدَةً فَتُرِيحُ
الذَّبِيحَةَ.
4. Syariat menetapkan bahwa alat untuk
menyembelih dan alat untuk berburu harus berupa benda yang tajam,
yang dapat mengalirkan darah dan memotong dengan baik. Alat tersebut juga tidak
boleh berupa gigi atau kuku. Oleh karena itu, hewan yang disembelih
atau diburu dengan menggunakan keduanya tidak halal.
Sebagian ahli fikih membedakan antara gigi dan kuku yang masih
melekat dengan yang telah dicabut. Mereka melarang
penyembelihan menggunakan gigi dan kuku yang masih melekat, berbeda dengan gigi
dan kuku yang telah dicabut.
Demikian pula, tidak halal hewan yang mati karena terkena benda
tumpul yang berat, seperti batu dan semisalnya.
Hendaknya alat tersebut selalu dirawat dan dijaga ketajamannya,
agar dapat digunakan untuk menyembelih dengan baik sehingga meringankan
penderitaan hewan sembelihan.
وَإِنْ
كَانَ الْمَصِيدُ بِهِ حَيَوَانًا كَالْكَلْبِ وَالصَّقْرِ وَنَحْوِهِمَا
اعْتُبِرَ أَنْ يَكُونَ مُعَلَّمًا. وَمَعْنَى التَّعْلِيمِ فِي الْجَارِحَةِ أَنْ
تَصِيرَ بِحَيْثُ إِذَا أُرْسِلَتْ أَطَاعَتْ، وَإِذَا زُجِرَتِ انْزَجَرَتْ،
وَقِيل بِأَنْ تَتْرُكَ الأَْكْل مِنَ الصَّيْدِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ.
Jika hewan yang digunakan untuk berburu berupa hewan pemburu,
seperti anjing, burung elang, dan semisalnya, maka disyaratkan
hewan tersebut telah terlatih.
Makna pelatihan pada hewan pemburu adalah bahwa hewan tersebut
telah menjadi sedemikian rupa sehingga apabila dilepas, ia mematuhi
perintah, dan apabila dilarang, ia berhenti.
Ada pula yang berpendapat bahwa tanda pelatihannya adalah hewan
tersebut meninggalkan makan hasil buruannya sebanyak tiga kali.
وَيَذْكُرُ
الْفُقَهَاءُ تَفْصِيل ذَلِكَ وَالْخِلاَفُ فِيهِ فِي مَبَاحِثِ الصَّيْدِ
وَمَبَاحِثِ الذَّبْحِ (١) .
Para ahli fikih menjelaskan rincian hukum tersebut serta perbedaan
pendapat mengenainya dalam pembahasan tentang berburu
dan penyembelihan.
آلاَتُ الْجِهَادِ:
Alat-Alat
Jihad:
٥ - يَجِبُ إِعْدَادُ الْعُدَّةِ
لِلْجِهَادِ، وَتَجُوزُ مُقَاتَلَةُ الْعَدُوِّ بِالسِّلاَحِ الْمُنَاسِبِ لِكُل
عَصْرٍ، وَفِي تَحْرِيقِهِمْ بِالنَّارِ وَتَغْرِيقِهِمْ وَاسْتِعْمَال السَّمُومِ
تَفْصِيلٌ وَخِلاَفٌ يَذْكُرُهُ الْفُقَهَاءُ فِي مَبَاحِثِ الْجِهَادِ. وَيَجُوزُ
إِتْلاَفُ آلاَتِ الْعَدُوِّ فِي حَال الْقِتَال، عَلَى تَفْصِيلٍ لِلْفُقَهَاءِ
فِي مَبَاحِثِ الْجِهَادِ. (٢)
5. Wajib mempersiapkan perlengkapan untuk
berjihad. Diperbolehkan memerangi musuh dengan senjata yang
sesuai dengan setiap zaman. Adapun mengenai membakar mereka
dengan api, menenggelamkan mereka, dan menggunakan racun, terdapat
rincian dan perbedaan pendapat yang dijelaskan oleh para ahli fikih dalam
pembahasan jihad.
Diperbolehkan pula menghancurkan atau memusnahkan alat-alat milik
musuh ketika terjadi peperangan, dengan rincian sebagaimana dijelaskan
oleh para ahli fikih dalam pembahasan jihad.
آلاَتُ اسْتِيفَاءِ الْقِصَاصِ وَالْقَطْعِ فِي السَّرِقَةِ:
Alat-Alat
untuk Melaksanakan Qisas dan Memotong Tangan dalam Hukuman Pencurian:
٦ - يُسْتَوْفَى الْقِصَاصُ فِي
النَّفْسِ عِنْدَ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ بِالصِّفَةِ الَّتِي وَقَعَتْ بِهَا
الْجِنَايَةُ. وَعِنْدَ بَعْضِ الْعُلَمَاءِ لاَ يُسْتَوْفَى الْقِصَاصُ إِلاَّ
بِالسَّيْفِ.
6. Menurut mayoritas ulama, qisas
terhadap jiwa dilaksanakan dengan cara yang sama seperti cara kejahatan
tersebut dilakukan. Sementara itu, menurut sebagian ulama, qisas
tidak dilaksanakan kecuali dengan pedang.
وَلاَ
يُسْتَوْفَى الْقِصَاصُ فِيمَا دُونَ النَّفْسِ بِآلَةٍ يُخْشَى مِنْهَا
الزِّيَادَةُ.
Qisas terhadap anggota tubuh atau luka yang tidak sampai menghilangkan nyawa
tidak dilaksanakan dengan alat yang dikhawatirkan dapat menyebabkan
melebihi batas yang seharusnya.
وَكَذَلِكَ
الْقَطْعُ فِي السَّرِقَةِ.
Demikian pula halnya dengan pemotongan tangan sebagai hukuman atas
pencurian.
وَيُرْجَعُ
لِمَعْرِفَةِ تَفَاصِيل ذَلِكَ إِلَى مَبَاحِثِ الْقِصَاصِ وَحَدِّ السَّرِقَةِ (١) .
Untuk mengetahui rincian hukum tersebut, dapat merujuk
kepada pembahasan tentang qisas dan hukuman had pencurian.
آلاَتُ الْجَلْدِ فِي الْحُدُودِ وَالتَّعَازِيرِ:
Alat-Alat
untuk Mencambuk dalam Pelaksanaan Hudud dan Ta‘zir:
٧ - الْجَلْدُ فِي الْحُدُودِ يَكُونُ
بِالسَّوْطِ. عَلَى أَنَّهُ يَجُوزُ فِي حَدِّ الشُّرْبِ الضَّرْبُ بِالأَْيْدِي
أَوِ النِّعَال أَوْ أَطْرَافِ الثِّيَابِ.
7. Pencambukan dalam pelaksanaan hudud
dilakukan dengan cambuk. Namun, dalam hukuman had
karena minum minuman keras, diperbolehkan memukul dengan tangan,
sandal, atau ujung pakaian.
وَيُسْتَعْمَل
السَّوْطُ فِي إِقَامَةِ حَدِّ الزِّنَا عَلَى الْبِكْرِ. وَحَدِّ الْقَذْفِ،
وَحَدِّ شُرْبِ الْخَمْرِ. وَيُجْزِي مِنْهُ اسْتِعْمَال عُثْكَالٍ فِيهِ مِائَةُ
شِمْرَاخٍ فِي إِقَامَةِ حَدِّ الزِّنَا عَلَى الْبِكْرِ، إِنْ كَانَ لاَ
يَحْتَمِل الْجَلْدَ لِمَرَضٍ لاَ يُرْجَى بُرْؤُهُ.
Cambuk digunakan dalam pelaksanaan had zina bagi pezina yang belum
pernah menikah, had qadzaf (menuduh zina), dan had
minum khamar.
Sebagai gantinya, dalam pelaksanaan had zina bagi pezina yang belum pernah
menikah, boleh digunakan seikat dahan kurma yang terdiri dari seratus
ranting kecil, apabila orang tersebut tidak mampu menerima cambukan
karena suatu penyakit yang tidak diharapkan kesembuhannya.
وَيُلاَحَظُ
أَلاَّ يَكُونَ السَّوْطُ مِمَّا يُتْلِفُ، وَلِذَلِكَ قَال بَعْضُهُمْ: لاَ
يَكُونُ لَهُ ثَمَرَةٌ - يَعْنِي: عُقْدَةً فِي طَرَفِهِ - وَقَال بَعْضُهُمْ:
يَكُونُ بَيْنَ الْجَدِيدِ وَالْخَلِقِ.
Perlu diperhatikan bahwa cambuk tidak boleh berupa alat yang dapat
menyebabkan kerusakan atau kebinasaan. Oleh karena itu, sebagian ulama
mengatakan bahwa cambuk tersebut tidak memiliki ujung yang bercabang
atau simpul, yakni simpul pada bagian ujungnya. Sebagian ulama lainnya
mengatakan bahwa cambuk hendaknya berada di antara yang baru dan yang
sudah usang.
أَمَّا
الْجَلْدُ فِي التَّعْزِيرِ فَقَدْ يَكُونُ بِالسَّوْطِ، أَوْ بِمَا يَقُومُ
مَقَامَهُ مِمَّا يَرَاهُ وَلِيُّ الأَْمْرِ.
Adapun pencambukan dalam hukuman ta‘zir, maka dapat
dilakukan dengan cambuk, atau dengan alat lain yang dapat
menggantikannya, sesuai dengan apa yang dipandang tepat oleh wali
al-amr (penguasa).
وَفِي
كَثِيرٍ مِمَّا ذَكَرْنَاهُ هُنَا تَفْصِيلٌ وَخِلاَفٌ يَذْكُرُهُ الْفُقَهَاءُ
فِي مَسَائِل الْحُدُودِ وَالتَّعْزِيرِ. (٢)
Dalam banyak hal yang telah kami sebutkan di sini, terdapat rincian
dan perbedaan pendapat yang dijelaskan oleh para ahli fikih dalam
pembahasan masalah-masalah hudud dan ta‘zir.
ثَانِيًا: آلاَتُ الْعَمَل وَزَكَاتُهَا:
Kedua:
Alat-Alat Kerja dan Zakatnya:
٨ - لاَ
زَكَاةَ فِي آلاَتِ الْعَمَل لِلْمُحْتَرِفِينَ، سَوَاءٌ كَانَ مِمَّا لاَ
تُسْتَهْلَكُ عَيْنُهُ كَالْمِنْشَارِ وَالْقَدُّومِ، أَوْ مِمَّا تُسْتَهْلَكُ،
(٣) إِلاَّ أَنَّ الآْلاَتِ الَّتِي تُشْتَرَى فَتُسْتَعْمَل فِيمَا يُبَاعُ،
كَقَوَارِيرِ الْعَطَّارِينَ، إِنْ كَانَ مِنْ غَرَضِ الْمُشْتَرِي بَيْعُهَا
بِهَا فَفِيهَا الزَّكَاةُ عِنْدَ الْحَوْل.
8. Tidak ada zakat pada alat-alat kerja milik
para pekerja atau pengrajin, baik alat tersebut termasuk benda yang zatnya
tidak habis digunakan, seperti gergaji dan kapak,
maupun benda yang zatnya habis digunakan.
Namun, apabila alat-alat tersebut dibeli untuk digunakan dalam
sesuatu yang kemudian dijual, seperti botol-botol milik para
penjual minyak wangi, dan memang tujuan pembeli adalah menjual
botol-botol tersebut bersama barang yang ada di dalamnya, maka
alat-alat tersebut dikenai zakat setelah mencapai haul.
وَآلاَتُ
الْعَمَل لِلْمُحْتَرِفِينَ، الَّتِي هُمْ بِحَاجَةٍ إِلَيْهَا، لاَ تُبَاعُ
عَلَيْهِمْ فِي حَال الإِْفْلاَسِ. (١)
Dan alat-alat kerja milik para pekerja atau pengrajin yang
mereka butuhkan tidak boleh dijual untuk membayar utang mereka ketika
mereka mengalami kebangkrutan.
وَمَنْ
كَانَ مِنْهُمْ فَقِيرًا لاَ يَمْلِكُ آلاَتِ عَمَلِهِ، وَلاَ مَا يَشْتَرِيهَا
بِهِ، يَجُوزُ إِعْطَاؤُهُ مِنَ الزَّكَاةِ مَا يَشْتَرِيهَا بِهِ، عَلَى
تَفْصِيلٍ لِلْفُقَهَاءِ فِي مَبَاحِثِ الزَّكَاةِ وَالإِْفْلاَسِ (٢) .
Dan siapa di antara mereka yang fakir, tidak memiliki
alat-alat kerjanya dan tidak pula memiliki harta untuk membelinya, maka boleh
diberikan kepadanya harta zakat sebesar yang cukup untuk membeli
alat-alat kerja tersebut, dengan rincian sebagaimana dijelaskan oleh para ahli
fikih dalam pembahasan zakat dan kebangkrutan (iflas).
ثَالِثًا: آلَةُ الْعُدْوَانِ وَأَثَرُهَا فِي تَحْدِيدِ نَوْعِ
الْجِنَايَةِ:
Ketiga:
Alat untuk Melakukan Tindakan Kejahatan dan Pengaruhnya dalam Menentukan Jenis
Tindak Pidana:
٩ - جِنَايَةُ الْقَتْل لاَ يَجِبُ
بِهَا الْقِصَاصُ إِلاَّ إِنْ كَانَتْ مُتَعَمَّدَةً، وَلَمَّا كَانَ تَعَمُّدُ
الْقَتْل أَمْرًا خَفِيًّا يُنْظَرُ إِلَى الآْلَةِ، فَذَهَبَ أَبُو حَنِيفَةَ
إِلَى أَنَّهُ لاَ قِصَاصَ فِي قَتْل الْعَمْدِ إِلاَّ إِذَا كَانَ بِمُحَدَّدٍ،
وَأَمَّا مَا كَانَ بِغَيْرِهِ فَلَيْسَ بِعَمْدٍ، بَل هُوَ شِبْهُ عَمْدٍ إِذَا
تَعَمَّدَ الضَّرْبَ بِهِ، وَلاَ قِصَاصَ فِيهِ.
9. Tindak pidana pembunuhan tidak menyebabkan wajibnya qisas
kecuali apabila dilakukan secara sengaja. Karena kesengajaan
dalam pembunuhan merupakan perkara yang tersembunyi, maka alat yang
digunakan dijadikan sebagai salah satu pertimbangan.
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa qisas dalam pembunuhan
sengaja tidak diberlakukan kecuali apabila pembunuhan dilakukan dengan alat
yang tajam dan dapat melukai. Adapun pembunuhan yang dilakukan dengan
selain alat tersebut, maka tidak dianggap sebagai pembunuhan sengaja, melainkan
syibh ‘amd (semi-sengaja) apabila pelaku memang sengaja
memukul dengan alat tersebut. Oleh karena itu, tidak ada qisas
dalam kasus tersebut.
وَجُمْهُورُ
الْعُلَمَاءِ لَمْ يُوَافِقُوا أَبَا حَنِيفَةَ عَلَى ذَلِكَ، بَل يَثْبُتُ
الْعَمْدُ عِنْدَهُمْ فِي الْقَتْل بِمَا عَدَا الْمُحَدَّدِ، عَلَى تَفْصِيلٍ
وَخِلاَفٍ بَيْنَهُمْ فِي الضَّوَابِطِ الْمُعْتَبَرَةِ فِي ذَلِكَ، يُذْكَرُ فِي
مَسَائِل الْجِنَايَاتِ وَالْقِصَاصِ. (٣)
Mayoritas ulama tidak sependapat dengan Abu Hanifah dalam masalah
tersebut. Menurut mereka, pembunuhan tetap dapat dianggap sengaja
meskipun dilakukan dengan alat selain benda tajam, dengan adanya rincian dan
perbedaan pendapat di antara mereka mengenai kriteria yang menjadi
pertimbangan dalam menentukan hal tersebut. Pembahasan mengenai hal
ini dijelaskan dalam masalah-masalah jinayah dan qisas.
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Hukum Ahlul Bait dalam Islam: Shalawat, Imamah, Larangan Mencaci, dan
Hukum Mengaku Keturunan Nabi ﷺ
آلَة
Ālat
(Alat)
التَّعْرِيفُ:
Definisi:
١ -
الآْلَةُ مَا اعْتَمَلْتَ بِهِ مِنْ أَدَاةٍ، يَكُونُ وَاحِدًا وَجَمْعًا.
1- Alat adalah sesuatu yang digunakan untuk melakukan suatu
pekerjaan dari berbagai macam perkakas. Kata ālah dapat digunakan untuk
bentuk tunggal maupun bentuk jamak.
وَلاَ
يَخْرُجُ اسْتِعْمَال الْفُقَهَاءِ عَنِ الْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ. (١)
Penggunaan istilah ālah (alat) oleh para ahli fikih tidak
keluar dari makna bahasanya (makna secara bahasa).
أَوَّلاً: الْحُكْمُ التَّكْلِيفِيُّ لاِسْتِعْمَال الآْلاَتِ:
Pertama:
Hukum Taklifi dalam Menggunakan Alat-Alat:
٢ - الأَْصْل فِي الآْلاَتِ
وَالأَْدَوَاتِ الَّتِي يَسْتَعْمِلُهَا الإِْنْسَانُ فِي قَضَاءِ مَآرِبِهِ أَنَّ
اسْتِعْمَالَهَا مُبَاحٌ. وَيَعْرِضُ لَهَا الْحَظْرُ أَوِ الْكَرَاهِيَةُ
بِاعْتِبَارَاتٍ، مِنْهَا:
2. Hukum asal berbagai alat dan perkakas yang digunakan
manusia untuk memenuhi keperluannya adalah mubah (boleh) digunakan.
Namun, penggunaan alat-alat tersebut dapat menjadi haram atau makruh
berdasarkan beberapa pertimbangan, di antaranya:
أ -
الْمَادَّةُ الْمَصْنُوعَةُ مِنْهَا الآْلَةُ: فَإِنْ كَانَتْ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ
فِضَّةٍ أَوْ مَطْلِيَّةً بِأَحَدِهِمَا كُرِهَ أَوْ حُرِّمَ اسْتِعْمَالُهَا؛
لأَِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الشُّرْبِ فِي
آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالأَْكْل فِي صِحَافِهِمَا. وَتَفْصِيل ذَلِكَ
فِي مَبَاحِثِ الآْنِيَةِ (٢) .
a. Bahan yang digunakan untuk membuat alat: Jika alat
tersebut terbuat dari emas atau perak, atau dilapisi dengan
salah satu dari keduanya, maka penggunaannya makruh atau haram,
karena Nabi ﷺ melarang minum
menggunakan bejana emas dan perak serta makan dari piring yang terbuat dari
keduanya. Penjelasan lebih rinci mengenai hal tersebut terdapat dalam
pembahasan tentang bejana dan peralatan makan (al-Āniyah).
ب -
الْغَرَضُ الَّذِي تُسْتَعْمَل لَهُ كَبَيْعِ السِّلاَحِ فِي الْفِتْنَةِ، (٣)
أَوْ لِلْكُفَّارِ، أَوْ مِمَّنْ يَسْتَعْمِلُهُ فِي الْحَرَامِ، وَكَبَيْعِ
آلاَتِ اللَّهْوِ.
b. Tujuan penggunaan alat tersebut: Misalnya menjual
senjata pada saat terjadi fitnah atau kekacauan, atau
menjualnya kepada orang-orang kafir, atau kepada orang yang
akan menggunakannya untuk perkara yang haram. Demikian pula
seperti menjual alat-alat hiburan yang melalaikan.
ج - مَا
تَخْتَصُّ بِهِ الآْلَةُ مِنْ أَثَرٍ قَدْ يَكُونُ شَدِيدَ الإِْيلاَمِ أَوْ
شَدِيدَ الْخُطُورَةِ، أَوْ يُؤَدِّي إِلَى مُحَرَّمٍ، فَيُمْنَعُ
اسْتِعْمَالُهَا، أَوْ يُكْرَهُ، كَالسُّمِّ فِي الصَّيْدِ أَوِ الْجِهَادِ، وَكَالآْلَةِ
الْكَالَّةِ لاَ تُسْتَعْمَل فِي اسْتِيفَاءِ الْقِصَاصِ أَوِ الْقَطْعِ فِي حَدِّ
السَّرِقَةِ، وَكَالْمُزَفَّتِ وَالْجِرَارِ يَمْنَعُ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ
اسْتِعْمَالَهَا فِي الاِنْتِبَاذِ لِئَلاَّ يُسَارِعَ إِلَيْهَا التَّخَمُّرُ.
c. Dampak atau karakteristik khusus yang dimiliki oleh alat
tersebut: Alat tertentu dapat menimbulkan rasa sakit yang sangat
berat, sangat berbahaya, atau menyebabkan terjadinya sesuatu yang haram. Karena
itu, penggunaannya dilarang atau dimakruhkan.
Contohnya adalah racun yang digunakan dalam berburu atau
berjihad. Demikian pula alat yang tumpul, tidak boleh
digunakan untuk melaksanakan qisas atau untuk memotong tangan dalam hukuman had
pencurian.
Contoh lainnya adalah bejana yang dilapisi ter (muzafaf)
dan tempayan-tempayan, yang menurut sebagian ahli fikih
dilarang digunakan untuk menyimpan minuman hasil perasan, agar minuman tersebut
tidak cepat mengalami fermentasi.
د -
التَّكْرِيمُ: كَمَنْعِ بَيْعِ آلَةِ الْعِلْمِ الشَّرْعِيِّ لِلْكَافِرِ (٤) .
d. Kemuliaan atau penghormatan: Misalnya, dilarang menjual alat
atau sarana untuk mempelajari ilmu syariat kepada orang kafir.
وَيُفَصِّل
الْفُقَهَاءُ أَحْكَامَ كُل آلَةٍ بِحَسَبِ مَا تُضَافُ إِلَيْهِ فِي
الاِسْتِعْمَال الْفِقْهِيِّ، فَآلَةُ الذَّبْحِ فِي مَبَاحِثِ الذَّبْحِ، وَآلَةُ
الْقِصَاصِ فِي مَبَاحِثِ الْجِنَايَاتِ. وَتَفْصِيل بَعْضِ ذَلِكَ فِيمَا يَلِي:
Para ahli fikih menjelaskan hukum setiap alat sesuai dengan fungsi
dan penggunaannya dalam pembahasan fikih. Alat untuk menyembelih
dibahas dalam pembahasan penyembelihan, sedangkan alat untuk
melaksanakan qisas dibahas dalam pembahasan jinayah
(tindak pidana). Adapun rincian sebagian dari hal tersebut adalah
sebagai berikut:
آلاَتُ اللَّهْوِ وَاللَّعِبِ:
Alat-Alat
Hiburan dan Permainan:
٣ - آلاَتُ اللَّهْوِ كَالطَّبْل وَالْمِزْمَارِ
وَالْعُودِ، وَآلاَتُ بَعْضِ الأَْلْعَابِ كَالشِّطْرَنْجِ وَالنَّرْدِ،
مُحَرَّمَةُ الاِسْتِعْمَال عِنْدَ الْفُقَهَاءِ مِنْ حَيْثُ الْجُمْلَةُ.
وَيُبَاحُ الطَّبْل لِغَيْرِ اللَّهْوِ كَالْعُرْسِ وَطَبْل الْغُزَاةِ.
3. Alat-alat hiburan seperti gendang, seruling,
dan alat musik ‘ūd, serta alat-alat permainan tertentu seperti catur
dan dadu, secara umum diharamkan penggunaannya menurut para
ahli fikih. Namun, gendang diperbolehkan apabila digunakan
bukan untuk hiburan, seperti dalam acara pernikahan dan
gendang yang digunakan oleh para pejuang dalam peperangan.
وَفِي
هَذِهِ الأَْحْكَامِ خِلاَفٌ وَتَفَاصِيل يَذْكُرُهَا الْفُقَهَاءُ فِي مَبَاحِثِ
الْبَيْعِ وَالإِْجَارَةِ وَالشَّهَادَةِ وَالْحُدُودِ وَالْحَظْرِ وَالإِْبَاحَةِ
(١) .
Dalam hukum-hukum tersebut terdapat perbedaan pendapat dan rincian
yang dijelaskan oleh para ahli fikih dalam pembahasan jual beli,
sewa-menyewa, kesaksian, hudud, serta perkara-perkara yang dilarang dan yang
diperbolehkan.
آلَةُ الذَّبْحِ وَآلَةُ الصَّيْدِ:
Alat
untuk Menyembelih dan Alat untuk Berburu:
٤ - اعْتَبَرَ الشَّرْعُ فِي آلَةِ
الذَّبْحِ وَآلَةِ الصَّيْدِ أَنْ تَكُونَ مُحَدَّدَةً، تَنْهَرُ الدَّمَ
وَتَفْرِي، وَأَلاَّ تَكُونَ سِنًّا وَلاَ ظُفُرًا، فَلاَ يَحِل مَا ذُبِحَ
بِهِمَا أَوْ صِيدَ بِهِمَا. وَفَرَّقَ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ بَيْنَ السِّنِّ
وَالظُّفُرِ الْقَائِمَيْنِ فَمَنَعَ الذَّبْحَ بِهِمَا، بِخِلاَفِ
الْمَنْزُوعَيْنِ. وَلاَ يَحِل مَا أُزْهِقَتْ نَفْسُهُ بِمُثْقِلٍ كَالْحَجَرِ
وَنَحْوِهِ. وَيَنْبَغِي تَعَاهُدُ الآْلَةِ لِتَكُونَ مُحَدَّدَةً فَتُرِيحُ
الذَّبِيحَةَ.
4. Syariat menetapkan bahwa alat untuk
menyembelih dan alat untuk berburu harus berupa benda yang tajam,
yang dapat mengalirkan darah dan memotong dengan baik. Alat tersebut juga tidak
boleh berupa gigi atau kuku. Oleh karena itu, hewan yang disembelih
atau diburu dengan menggunakan keduanya tidak halal.
Sebagian ahli fikih membedakan antara gigi dan kuku yang masih
melekat dengan yang telah dicabut. Mereka melarang
penyembelihan menggunakan gigi dan kuku yang masih melekat, berbeda dengan gigi
dan kuku yang telah dicabut.
Demikian pula, tidak halal hewan yang mati karena terkena benda
tumpul yang berat, seperti batu dan semisalnya.
Hendaknya alat tersebut selalu dirawat dan dijaga ketajamannya,
agar dapat digunakan untuk menyembelih dengan baik sehingga meringankan
penderitaan hewan sembelihan.
وَإِنْ
كَانَ الْمَصِيدُ بِهِ حَيَوَانًا كَالْكَلْبِ وَالصَّقْرِ وَنَحْوِهِمَا
اعْتُبِرَ أَنْ يَكُونَ مُعَلَّمًا. وَمَعْنَى التَّعْلِيمِ فِي الْجَارِحَةِ أَنْ
تَصِيرَ بِحَيْثُ إِذَا أُرْسِلَتْ أَطَاعَتْ، وَإِذَا زُجِرَتِ انْزَجَرَتْ،
وَقِيل بِأَنْ تَتْرُكَ الأَْكْل مِنَ الصَّيْدِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ.
Jika hewan yang digunakan untuk berburu berupa hewan pemburu,
seperti anjing, burung elang, dan semisalnya, maka disyaratkan
hewan tersebut telah terlatih.
Makna pelatihan pada hewan pemburu adalah bahwa hewan tersebut
telah menjadi sedemikian rupa sehingga apabila dilepas, ia mematuhi
perintah, dan apabila dilarang, ia berhenti.
Ada pula yang berpendapat bahwa tanda pelatihannya adalah hewan
tersebut meninggalkan makan hasil buruannya sebanyak tiga kali.
وَيَذْكُرُ
الْفُقَهَاءُ تَفْصِيل ذَلِكَ وَالْخِلاَفُ فِيهِ فِي مَبَاحِثِ الصَّيْدِ
وَمَبَاحِثِ الذَّبْحِ (١) .
Para ahli fikih menjelaskan rincian hukum tersebut serta perbedaan
pendapat mengenainya dalam pembahasan tentang berburu
dan penyembelihan.
آلاَتُ الْجِهَادِ:
Alat-Alat
Jihad:
٥ - يَجِبُ إِعْدَادُ الْعُدَّةِ
لِلْجِهَادِ، وَتَجُوزُ مُقَاتَلَةُ الْعَدُوِّ بِالسِّلاَحِ الْمُنَاسِبِ لِكُل
عَصْرٍ، وَفِي تَحْرِيقِهِمْ بِالنَّارِ وَتَغْرِيقِهِمْ وَاسْتِعْمَال السَّمُومِ
تَفْصِيلٌ وَخِلاَفٌ يَذْكُرُهُ الْفُقَهَاءُ فِي مَبَاحِثِ الْجِهَادِ. وَيَجُوزُ
إِتْلاَفُ آلاَتِ الْعَدُوِّ فِي حَال الْقِتَال، عَلَى تَفْصِيلٍ لِلْفُقَهَاءِ
فِي مَبَاحِثِ الْجِهَادِ. (٢)
5. Wajib mempersiapkan perlengkapan untuk
berjihad. Diperbolehkan memerangi musuh dengan senjata yang
sesuai dengan setiap zaman. Adapun mengenai membakar mereka
dengan api, menenggelamkan mereka, dan menggunakan racun, terdapat
rincian dan perbedaan pendapat yang dijelaskan oleh para ahli fikih dalam
pembahasan jihad.
Diperbolehkan pula menghancurkan atau memusnahkan alat-alat milik
musuh ketika terjadi peperangan, dengan rincian sebagaimana dijelaskan
oleh para ahli fikih dalam pembahasan jihad.
آلاَتُ اسْتِيفَاءِ الْقِصَاصِ وَالْقَطْعِ فِي السَّرِقَةِ:
Alat-Alat
untuk Melaksanakan Qisas dan Memotong Tangan dalam Hukuman Pencurian:
٦ - يُسْتَوْفَى الْقِصَاصُ فِي
النَّفْسِ عِنْدَ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ بِالصِّفَةِ الَّتِي وَقَعَتْ بِهَا
الْجِنَايَةُ. وَعِنْدَ بَعْضِ الْعُلَمَاءِ لاَ يُسْتَوْفَى الْقِصَاصُ إِلاَّ
بِالسَّيْفِ.
6. Menurut mayoritas ulama, qisas
terhadap jiwa dilaksanakan dengan cara yang sama seperti cara kejahatan
tersebut dilakukan. Sementara itu, menurut sebagian ulama, qisas
tidak dilaksanakan kecuali dengan pedang.
وَلاَ
يُسْتَوْفَى الْقِصَاصُ فِيمَا دُونَ النَّفْسِ بِآلَةٍ يُخْشَى مِنْهَا
الزِّيَادَةُ.
Qisas terhadap anggota tubuh atau luka yang tidak sampai menghilangkan nyawa
tidak dilaksanakan dengan alat yang dikhawatirkan dapat menyebabkan
melebihi batas yang seharusnya.
وَكَذَلِكَ
الْقَطْعُ فِي السَّرِقَةِ.
Demikian pula halnya dengan pemotongan tangan sebagai hukuman atas
pencurian.
وَيُرْجَعُ
لِمَعْرِفَةِ تَفَاصِيل ذَلِكَ إِلَى مَبَاحِثِ الْقِصَاصِ وَحَدِّ السَّرِقَةِ (١) .
Untuk mengetahui rincian hukum tersebut, dapat merujuk
kepada pembahasan tentang qisas dan hukuman had pencurian.
آلاَتُ الْجَلْدِ فِي الْحُدُودِ وَالتَّعَازِيرِ:
Alat-Alat
untuk Mencambuk dalam Pelaksanaan Hudud dan Ta‘zir:
٧ - الْجَلْدُ فِي الْحُدُودِ يَكُونُ
بِالسَّوْطِ. عَلَى أَنَّهُ يَجُوزُ فِي حَدِّ الشُّرْبِ الضَّرْبُ بِالأَْيْدِي
أَوِ النِّعَال أَوْ أَطْرَافِ الثِّيَابِ.
7. Pencambukan dalam pelaksanaan hudud
dilakukan dengan cambuk. Namun, dalam hukuman had
karena minum minuman keras, diperbolehkan memukul dengan tangan,
sandal, atau ujung pakaian.
وَيُسْتَعْمَل
السَّوْطُ فِي إِقَامَةِ حَدِّ الزِّنَا عَلَى الْبِكْرِ. وَحَدِّ الْقَذْفِ،
وَحَدِّ شُرْبِ الْخَمْرِ. وَيُجْزِي مِنْهُ اسْتِعْمَال عُثْكَالٍ فِيهِ مِائَةُ
شِمْرَاخٍ فِي إِقَامَةِ حَدِّ الزِّنَا عَلَى الْبِكْرِ، إِنْ كَانَ لاَ
يَحْتَمِل الْجَلْدَ لِمَرَضٍ لاَ يُرْجَى بُرْؤُهُ.
Cambuk digunakan dalam pelaksanaan had zina bagi pezina yang belum
pernah menikah, had qadzaf (menuduh zina), dan had
minum khamar.
Sebagai gantinya, dalam pelaksanaan had zina bagi pezina yang belum pernah
menikah, boleh digunakan seikat dahan kurma yang terdiri dari seratus
ranting kecil, apabila orang tersebut tidak mampu menerima cambukan
karena suatu penyakit yang tidak diharapkan kesembuhannya.
وَيُلاَحَظُ
أَلاَّ يَكُونَ السَّوْطُ مِمَّا يُتْلِفُ، وَلِذَلِكَ قَال بَعْضُهُمْ: لاَ
يَكُونُ لَهُ ثَمَرَةٌ - يَعْنِي: عُقْدَةً فِي طَرَفِهِ - وَقَال بَعْضُهُمْ:
يَكُونُ بَيْنَ الْجَدِيدِ وَالْخَلِقِ.
Perlu diperhatikan bahwa cambuk tidak boleh berupa alat yang dapat
menyebabkan kerusakan atau kebinasaan. Oleh karena itu, sebagian ulama
mengatakan bahwa cambuk tersebut tidak memiliki ujung yang bercabang
atau simpul, yakni simpul pada bagian ujungnya. Sebagian ulama lainnya
mengatakan bahwa cambuk hendaknya berada di antara yang baru dan yang
sudah usang.
أَمَّا
الْجَلْدُ فِي التَّعْزِيرِ فَقَدْ يَكُونُ بِالسَّوْطِ، أَوْ بِمَا يَقُومُ
مَقَامَهُ مِمَّا يَرَاهُ وَلِيُّ الأَْمْرِ.
Adapun pencambukan dalam hukuman ta‘zir, maka dapat
dilakukan dengan cambuk, atau dengan alat lain yang dapat
menggantikannya, sesuai dengan apa yang dipandang tepat oleh wali
al-amr (penguasa).
وَفِي
كَثِيرٍ مِمَّا ذَكَرْنَاهُ هُنَا تَفْصِيلٌ وَخِلاَفٌ يَذْكُرُهُ الْفُقَهَاءُ
فِي مَسَائِل الْحُدُودِ وَالتَّعْزِيرِ. (٢)
Dalam banyak hal yang telah kami sebutkan di sini, terdapat rincian
dan perbedaan pendapat yang dijelaskan oleh para ahli fikih dalam
pembahasan masalah-masalah hudud dan ta‘zir.
ثَانِيًا: آلاَتُ الْعَمَل وَزَكَاتُهَا:
Kedua:
Alat-Alat Kerja dan Zakatnya:
٨ - لاَ
زَكَاةَ فِي آلاَتِ الْعَمَل لِلْمُحْتَرِفِينَ، سَوَاءٌ كَانَ مِمَّا لاَ
تُسْتَهْلَكُ عَيْنُهُ كَالْمِنْشَارِ وَالْقَدُّومِ، أَوْ مِمَّا تُسْتَهْلَكُ،
(٣) إِلاَّ أَنَّ الآْلاَتِ الَّتِي تُشْتَرَى فَتُسْتَعْمَل فِيمَا يُبَاعُ،
كَقَوَارِيرِ الْعَطَّارِينَ، إِنْ كَانَ مِنْ غَرَضِ الْمُشْتَرِي بَيْعُهَا
بِهَا فَفِيهَا الزَّكَاةُ عِنْدَ الْحَوْل.
8. Tidak ada zakat pada alat-alat kerja milik
para pekerja atau pengrajin, baik alat tersebut termasuk benda yang zatnya
tidak habis digunakan, seperti gergaji dan kapak,
maupun benda yang zatnya habis digunakan.
Namun, apabila alat-alat tersebut dibeli untuk digunakan dalam
sesuatu yang kemudian dijual, seperti botol-botol milik para
penjual minyak wangi, dan memang tujuan pembeli adalah menjual
botol-botol tersebut bersama barang yang ada di dalamnya, maka
alat-alat tersebut dikenai zakat setelah mencapai haul.
وَآلاَتُ
الْعَمَل لِلْمُحْتَرِفِينَ، الَّتِي هُمْ بِحَاجَةٍ إِلَيْهَا، لاَ تُبَاعُ
عَلَيْهِمْ فِي حَال الإِْفْلاَسِ. (١)
Dan alat-alat kerja milik para pekerja atau pengrajin yang
mereka butuhkan tidak boleh dijual untuk membayar utang mereka ketika
mereka mengalami kebangkrutan.
وَمَنْ
كَانَ مِنْهُمْ فَقِيرًا لاَ يَمْلِكُ آلاَتِ عَمَلِهِ، وَلاَ مَا يَشْتَرِيهَا
بِهِ، يَجُوزُ إِعْطَاؤُهُ مِنَ الزَّكَاةِ مَا يَشْتَرِيهَا بِهِ، عَلَى
تَفْصِيلٍ لِلْفُقَهَاءِ فِي مَبَاحِثِ الزَّكَاةِ وَالإِْفْلاَسِ (٢) .
Dan siapa di antara mereka yang fakir, tidak memiliki
alat-alat kerjanya dan tidak pula memiliki harta untuk membelinya, maka boleh
diberikan kepadanya harta zakat sebesar yang cukup untuk membeli
alat-alat kerja tersebut, dengan rincian sebagaimana dijelaskan oleh para ahli
fikih dalam pembahasan zakat dan kebangkrutan (iflas).
ثَالِثًا: آلَةُ الْعُدْوَانِ وَأَثَرُهَا فِي تَحْدِيدِ نَوْعِ
الْجِنَايَةِ:
Ketiga:
Alat untuk Melakukan Tindakan Kejahatan dan Pengaruhnya dalam Menentukan Jenis
Tindak Pidana:
٩ - جِنَايَةُ الْقَتْل لاَ يَجِبُ
بِهَا الْقِصَاصُ إِلاَّ إِنْ كَانَتْ مُتَعَمَّدَةً، وَلَمَّا كَانَ تَعَمُّدُ
الْقَتْل أَمْرًا خَفِيًّا يُنْظَرُ إِلَى الآْلَةِ، فَذَهَبَ أَبُو حَنِيفَةَ
إِلَى أَنَّهُ لاَ قِصَاصَ فِي قَتْل الْعَمْدِ إِلاَّ إِذَا كَانَ بِمُحَدَّدٍ،
وَأَمَّا مَا كَانَ بِغَيْرِهِ فَلَيْسَ بِعَمْدٍ، بَل هُوَ شِبْهُ عَمْدٍ إِذَا
تَعَمَّدَ الضَّرْبَ بِهِ، وَلاَ قِصَاصَ فِيهِ.
9. Tindak pidana pembunuhan tidak menyebabkan wajibnya qisas
kecuali apabila dilakukan secara sengaja. Karena kesengajaan
dalam pembunuhan merupakan perkara yang tersembunyi, maka alat yang
digunakan dijadikan sebagai salah satu pertimbangan.
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa qisas dalam pembunuhan
sengaja tidak diberlakukan kecuali apabila pembunuhan dilakukan dengan alat
yang tajam dan dapat melukai. Adapun pembunuhan yang dilakukan dengan
selain alat tersebut, maka tidak dianggap sebagai pembunuhan sengaja, melainkan
syibh ‘amd (semi-sengaja) apabila pelaku memang sengaja
memukul dengan alat tersebut. Oleh karena itu, tidak ada qisas
dalam kasus tersebut.
وَجُمْهُورُ
الْعُلَمَاءِ لَمْ يُوَافِقُوا أَبَا حَنِيفَةَ عَلَى ذَلِكَ، بَل يَثْبُتُ
الْعَمْدُ عِنْدَهُمْ فِي الْقَتْل بِمَا عَدَا الْمُحَدَّدِ، عَلَى تَفْصِيلٍ
وَخِلاَفٍ بَيْنَهُمْ فِي الضَّوَابِطِ الْمُعْتَبَرَةِ فِي ذَلِكَ، يُذْكَرُ فِي
مَسَائِل الْجِنَايَاتِ وَالْقِصَاصِ. (٣)
Mayoritas ulama tidak sependapat dengan Abu Hanifah dalam masalah
tersebut. Menurut mereka, pembunuhan tetap dapat dianggap sengaja
meskipun dilakukan dengan alat selain benda tajam, dengan adanya rincian dan
perbedaan pendapat di antara mereka mengenai kriteria yang menjadi
pertimbangan dalam menentukan hal tersebut. Pembahasan mengenai hal
ini dijelaskan dalam masalah-masalah jinayah dan qisas.
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Hukum Ahlul Bait dalam Islam: Shalawat, Imamah, Larangan Mencaci, dan
Hukum Mengaku Keturunan Nabi ﷺ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar