آمَّة
Āmmah (الْآمَّة)
التَّعْرِيفُ:
Definisi:
١ - الآْمَّةُ
لُغَةً: شَجَّةٌ تَبْلُغُ أُمَّ الرَّأْسِ، (١) وَهِيَ جِلْدَةٌ تَجْمَعُ
الدِّمَاغَ. وَشَجَّةٌ آمَّةٌ وَمَأْمُومَةٌ، بِمَعْنًى وَاحِدٍ. وَاسْتَعْمَل
الْفُقَهَاءُ اللَّفْظَيْنِ بِنَفْسِ الْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ. (٢)
1. Āmmah (الْآمَّةُ)
secara bahasa adalah luka pada kepala yang mencapai Ummu ar-Ra’s (أُمُّ الرَّأْسِ), yaitu selaput atau kulit yang
membungkus dan menghimpun otak.
Dikatakan pula syajjah āmmāh (شَجَّةٌ آمَّةٌ) dan ma’mūmah (مَأْمُومَةٌ), keduanya memiliki makna yang sama.
Para fuqaha juga menggunakan kedua
istilah tersebut dengan makna yang sama seperti makna kebahasaannya.
الأَلْفَاظُ
ذَاتُ الصِّلَةِ:
Lafaz-Lafaz yang Berkaitan
٢ - هُنَاكَ
أَلْفَاظٌ وَرَدَتْ فِي شَجِّ الرَّأْسِ، كَالْمُوضِحَةِ وَالْهَاشِمَةِ
وَالْمُنَقِّلَةِ وَالدَّامِغَةِ إِلاَّ أَنَّ لِكُلٍّ مِنْهَا حُكْمَهَا
الْخَاصَّ. وَتَفْصِيل ذَلِكَ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ فِي الْقِصَاصِ وَالدِّيَاتِ.
2. Terdapat beberapa istilah yang digunakan berkaitan dengan luka
pada kepala, seperti al-Mūḍiḥah (الْمُوضِحَةُ),
al-Hāsyimah (الْهَاشِمَةُ), al-Munaqqilah
(الْمُنَقِّلَةُ), dan ad-Dāmighah
(الدَّامِغَةُ). Akan tetapi, masing-masing
istilah tersebut memiliki hukum tersendiri.
Penjelasan secara terperinci
mengenai hal tersebut dibahas oleh para fuqaha dalam pembahasan qiṣāṣ dan
diyat.
الْحُكْمُ
الإِجْمَالِيُّ:
Hukum Secara Umum
٣ - أَجْمَعَ
الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّ فِي الآْمَّةِ ثُلُثَ الدِّيَةِ. (٣)
3. Para fuqaha telah bersepakat bahwa pada luka āmmāh (الْآمَّةُ) wajib dikenakan diyat sebesar sepertiga
dari diyat penuh.
مَوَاطِنُ
الْبَحْثِ:
Tempat-Tempat Pembahasan
٤ - يُفَصِّل الْفُقَهَاءُ
أَحْكَامَ الآْمَّةِ فِي مَبَاحِثِ الْجِنَايَةِ عَلَى مَا دُونَ النَّفْسِ، وَفِي
مَبَاحِثِ الدِّيَاتِ. كَمَا فَصَّلُوا فِي مَبَاحِثِ الصَّوْمِ مَسْأَلَةَ
الْفِطْرِ بِوُصُول شَيْءٍ إِلَى الآْمَّةِ.
4. Para fuqaha menjelaskan secara terperinci hukum-hukum
mengenai āmmāh (الْآمَّةُ) dalam pembahasan
tindak pidana atau penganiayaan terhadap anggota tubuh selain jiwa (الْجِنَايَةُ عَلَى مَا دُونَ النَّفْسِ) serta dalam
pembahasan diyat.
Selain itu, mereka juga menjelaskan
secara terperinci dalam pembahasan puasa mengenai masalah batalnya
puasa karena masuknya sesuatu hingga mencapai āmmāh (selaput yang membungkus
otak).
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Hukum Ahlul Bait dalam Islam: Shalawat, Imamah, Larangan Mencaci, dan Hukum Mengaku Keturunan Nabi ﷺ
آمَّة
Āmmah (الْآمَّة)
التَّعْرِيفُ:
Definisi:
١ - الآْمَّةُ
لُغَةً: شَجَّةٌ تَبْلُغُ أُمَّ الرَّأْسِ، (١) وَهِيَ جِلْدَةٌ تَجْمَعُ
الدِّمَاغَ. وَشَجَّةٌ آمَّةٌ وَمَأْمُومَةٌ، بِمَعْنًى وَاحِدٍ. وَاسْتَعْمَل
الْفُقَهَاءُ اللَّفْظَيْنِ بِنَفْسِ الْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ. (٢)
1. Āmmah (الْآمَّةُ)
secara bahasa adalah luka pada kepala yang mencapai Ummu ar-Ra’s (أُمُّ الرَّأْسِ), yaitu selaput atau kulit yang
membungkus dan menghimpun otak.
Dikatakan pula syajjah āmmāh (شَجَّةٌ آمَّةٌ) dan ma’mūmah (مَأْمُومَةٌ), keduanya memiliki makna yang sama.
Para fuqaha juga menggunakan kedua
istilah tersebut dengan makna yang sama seperti makna kebahasaannya.
الأَلْفَاظُ
ذَاتُ الصِّلَةِ:
Lafaz-Lafaz yang Berkaitan
٢ - هُنَاكَ
أَلْفَاظٌ وَرَدَتْ فِي شَجِّ الرَّأْسِ، كَالْمُوضِحَةِ وَالْهَاشِمَةِ
وَالْمُنَقِّلَةِ وَالدَّامِغَةِ إِلاَّ أَنَّ لِكُلٍّ مِنْهَا حُكْمَهَا
الْخَاصَّ. وَتَفْصِيل ذَلِكَ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ فِي الْقِصَاصِ وَالدِّيَاتِ.
2. Terdapat beberapa istilah yang digunakan berkaitan dengan luka
pada kepala, seperti al-Mūḍiḥah (الْمُوضِحَةُ),
al-Hāsyimah (الْهَاشِمَةُ), al-Munaqqilah
(الْمُنَقِّلَةُ), dan ad-Dāmighah
(الدَّامِغَةُ). Akan tetapi, masing-masing
istilah tersebut memiliki hukum tersendiri.
Penjelasan secara terperinci
mengenai hal tersebut dibahas oleh para fuqaha dalam pembahasan qiṣāṣ dan
diyat.
الْحُكْمُ
الإِجْمَالِيُّ:
Hukum Secara Umum
٣ - أَجْمَعَ
الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّ فِي الآْمَّةِ ثُلُثَ الدِّيَةِ. (٣)
3. Para fuqaha telah bersepakat bahwa pada luka āmmāh (الْآمَّةُ) wajib dikenakan diyat sebesar sepertiga
dari diyat penuh.
مَوَاطِنُ
الْبَحْثِ:
Tempat-Tempat Pembahasan
٤ - يُفَصِّل الْفُقَهَاءُ
أَحْكَامَ الآْمَّةِ فِي مَبَاحِثِ الْجِنَايَةِ عَلَى مَا دُونَ النَّفْسِ، وَفِي
مَبَاحِثِ الدِّيَاتِ. كَمَا فَصَّلُوا فِي مَبَاحِثِ الصَّوْمِ مَسْأَلَةَ
الْفِطْرِ بِوُصُول شَيْءٍ إِلَى الآْمَّةِ.
4. Para fuqaha menjelaskan secara terperinci hukum-hukum
mengenai āmmāh (الْآمَّةُ) dalam pembahasan
tindak pidana atau penganiayaan terhadap anggota tubuh selain jiwa (الْجِنَايَةُ عَلَى مَا دُونَ النَّفْسِ) serta dalam
pembahasan diyat.
Selain itu, mereka juga menjelaskan
secara terperinci dalam pembahasan puasa mengenai masalah batalnya
puasa karena masuknya sesuatu hingga mencapai āmmāh (selaput yang membungkus
otak).
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Hukum Ahlul Bait dalam Islam: Shalawat, Imamah, Larangan Mencaci, dan Hukum Mengaku Keturunan Nabi ﷺ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar