الْمَبْحَثُ الْخَامِسُ
Pembahasan
Kelima
الصَّلاَةُ عَلَى آل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Salawat
kepada Ali (Keluarga) Nabi ﷺ.
١٥ - الْفُقَهَاءُ فِي الْمَذَاهِبِ الأَْرْبَعَةِ
مُجْمِعُونَ عَلَى أَنَّهُ لاَ يُصَلَّى عَلَى غَيْرِ الأَْنْبِيَاءِ
وَالْمَلاَئِكَةِ إِلاَّ تَبَعًا، لَكِنَّهُمُ اخْتَلَفُوا فِي حُكْمِ الصَّلاَةِ
عَلَى الآْل تَبَعًا.
15- Para fuqaha dari empat mazhab sepakat bahwa tidak
diperbolehkan mengucapkan salawat kepada selain para nabi dan malaikat kecuali
sebagai pengikut (dalam rangkaian salawat). Namun, mereka berbeda
pendapat mengenai hukum bersalawat kepada keluarga Nabi ﷺ sebagai
pengikut (dalam rangkaian salawat).
فَأَحَدُ
رَأْيَيْنِ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ أَنَّ الصَّلاَةَ عَلَى الآْل
فِي الصَّلاَةِ وَاجِبَةٌ، تَبَعًا لِلصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَدِلِّينَ بِمَا رُوِيَ مِنْ حَدِيثِ كَعْبِ بْنِ
عُجْرَةَ قَال: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ
عَلَيْنَا فَقُلْنَا: يَا رَسُول اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ
عَلَيْكَ، فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟ قَال: قُولُوا: اللَّهُمَّ صَل عَلَى
مُحَمَّدٍ وَآل مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآل إِبْرَاهِيمَ.
(٤) فَقَدْ أَمَرَ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالصَّلاَةِ
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ، وَالأَْمْرُ يَقْتَضِي الْوُجُوبَ (١) .
Salah satu pendapat dalam mazhab Syafi‘iyah dan Hanabilah menyatakan bahwa bersalawat kepada keluarga Nabi ﷺ dalam salat hukumnya wajib, sebagai bentuk pengiring terhadap salawat kepada Nabi ﷺ.
Mereka berdalil dengan hadis yang diriwayatkan dari Ka‘b bin ‘Ujrah, ia berkata: Nabi ﷺ keluar menemui kami. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui bagaimana mengucapkan salam kepadamu. Lalu, bagaimana kami bersalawat kepadamu?” Beliau ﷺ bersabda:
“Ucapkanlah: Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad, kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ali Ibrahim (Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan salawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim).”
Dengan demikian, Rasulullah ﷺ memerintahkan
untuk bersalawat kepada beliau dan kepada keluarganya. Sedangkan suatu
perintah pada dasarnya menunjukkan kewajiban.
وَالرِّوَايَةُ
الأُْخْرَى فِي الْمَذْهَبَيْنِ أَنَّهَا سُنَّةٌ، وَهُوَ قَوْل الْحَنَفِيَّةِ،
وَأَحَدُ قَوْلَيْنِ لِلْمَالِكِيَّةِ، وَاسْتَدَلُّوا بِحَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَهُ التَّشَهُّدَ ثُمَّ
قَال: إِذَا قُلْتَ هَذَا - أَوْ: قَضَيْتَ هَذَا - فَقَدْ تَمَّتْ صَلاَتُكَ
وَفِي لَفْظٍ: فَقَدْ قَضَيْتَ صَلاَتَكَ، فَإِنْ شِئْتَ أَنْ تَقُومَ فَقُمْ (٢)
Pendapat lain dalam kedua mazhab tersebut menyatakan bahwa bersalawat kepada keluarga Nabi ﷺ hukumnya sunah. Pendapat ini juga merupakan pendapat Hanafiyah dan salah satu dari dua pendapat Malikiyah.
Mereka berdalil dengan hadis dari Ibnu Mas‘ud bahwa Nabi ﷺ mengajarkan kepadanya bacaan tasyahud, kemudian beliau ﷺ bersabda:
“Apabila engkau telah mengucapkan ini”—atau dalam suatu riwayat: “Apabila engkau telah menyelesaikan ini”—“maka salatmu telah sempurna.” Dalam lafaz lain: “Engkau telah menyelesaikan salatmu. Jika engkau ingin berdiri, maka berdirilah.”
Hadis tersebut dijadikan dalil bahwa salawat kepada keluarga Nabi ﷺ tidak
termasuk kewajiban dalam salat, melainkan sunah.
وَالرَّأْيُ
الآْخَرُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ أَنَّ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالآْل تَبَعًا، فَضِيلَةٌ (٣) .
Pendapat lain dalam mazhab Malikiyah menyatakan bahwa bersalawat
kepada Nabi ﷺ dan keluarga beliau secara bersamaan sebagai pengiring hukumnya
adalah fadhilah (keutamaan).
آل الْبَيْتِ وَالإِْمَامَةُ الْكُبْرَى وَالصُّغْرَى:
Ahlul
Bait dan Kepemimpinan Besar serta Kepemimpinan Kecil:
١٦ - لَمْ يَشْتَرِطْ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ أَنْ يَكُونَ
إِمَامُ الْمُسْلِمِينَ (الْخَلِيفَةُ) مِنْ آل بَيْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَيَسْتَدِلُّونَ عَلَى ذَلِكَ بِأَنَّ الْخُلَفَاءَ أَبَا
بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ لَمْ يَكُونُوا مِنْ أَهْل الْبَيْتِ، بَل كَانُوا
مِنْ قُرَيْشٍ (٤) .
16- Mayoritas fuqaha tidak mensyaratkan bahwa imam kaum Muslimin (khalifah) harus berasal dari Ahlul Bait Nabi ﷺ.
Mereka berdalil bahwa para khalifah, yaitu Abu Bakar, Umar, dan
Utsman, bukan berasal dari Ahlul Bait, melainkan mereka berasal dari suku
Quraisy.
وَمُقْتَضَى
مُرَاعَاةِ شَرَفِ النَّسَبِ أَنَّهُ فِي الإِْمَامَةِ الصُّغْرَى إِنْ اسْتَوَوْا
هُمْ وَغَيْرُهُمْ فِي الصِّفَاتِ قُدِّمُوا بِاعْتِبَارِهِمْ أَشْرَفَ نَسَبًا (١) .
Konsekuensi dari mempertimbangkan kemuliaan nasab adalah
bahwa dalam imamah kecil (kepemimpinan dalam salat), apabila
mereka dan orang lain memiliki kesamaan dalam sifat-sifat yang dipersyaratkan,
maka Ahlul Bait didahulukan karena mereka memiliki nasab yang
lebih mulia.
حُكْمُ سَبِّ آل الْبَيْتِ:
Hukum
Mencela Ahlul Bait:
١٧ - أَجْمَعَ فُقَهَاءُ الْمَذَاهِبِ عَلَى أَنَّ مَنْ
شَتَمَ أَحَدًا مِنْ آلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْل مُشَاتَمَةِ
النَّاسِ، فَإِنَّهُ يُضْرَبُ ضَرْبًا شَدِيدًا وَيُنَكَّل بِهِ، وَلاَ يَصِيرُ
كَافِرًا بِالشَّتْمِ. (٢)
17 - Para fuqaha dari berbagai mazhab bersepakat
bahwa siapa saja yang mencaci salah seorang dari Ahlul Bait Nabi ﷺ,
sebagaimana mencaci orang lain, maka ia diberi hukuman cambuk yang
berat dan dikenai tindakan disipliner (ta‘zir). Namun, orang
tersebut tidak menjadi kafir hanya karena cacian tersebut.
الاِنْتِسَابُ إِلَى آل الْبَيْتِ كَذِبًا:
Mengaku
sebagai Ahlul Bait Secara Dusta:
١٨ - مَنْ انْتَسَبَ كَاذِبًا إِلَى آل النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضْرَبُ ضَرْبًا وَجِيعًا، وَيُحْبَسُ طَوِيلاً
حَتَّى تَظْهَرَ تَوْبَتُهُ؛ لأَِنَّهُ اسْتِخْفَافٌ بِحَقِّ رَسُول اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (٣)
18 – Barang siapa mengaku secara dusta sebagai bagian dari keluarga Nabi ﷺ, maka ia dipukul dengan pukulan yang menyakitkan dan dipenjara dalam waktu yang lama, hingga tampak jelas tobatnya. Hal itu karena perbuatan tersebut merupakan bentuk meremehkan hak dan kehormatan Rasulullah ﷺ. (3)
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Mawali Ahlul Bait, Zakat Sesama Hasyimi, dan Amil Zakat dari BaniHasyim: Perspektif Empat Mazhab
الْمَبْحَثُ الْخَامِسُ
Pembahasan
Kelima
الصَّلاَةُ عَلَى آل النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Salawat
kepada Ali (Keluarga) Nabi ﷺ.
١٥ - الْفُقَهَاءُ فِي الْمَذَاهِبِ الأَْرْبَعَةِ
مُجْمِعُونَ عَلَى أَنَّهُ لاَ يُصَلَّى عَلَى غَيْرِ الأَْنْبِيَاءِ
وَالْمَلاَئِكَةِ إِلاَّ تَبَعًا، لَكِنَّهُمُ اخْتَلَفُوا فِي حُكْمِ الصَّلاَةِ
عَلَى الآْل تَبَعًا.
15- Para fuqaha dari empat mazhab sepakat bahwa tidak
diperbolehkan mengucapkan salawat kepada selain para nabi dan malaikat kecuali
sebagai pengikut (dalam rangkaian salawat). Namun, mereka berbeda
pendapat mengenai hukum bersalawat kepada keluarga Nabi ﷺ sebagai
pengikut (dalam rangkaian salawat).
فَأَحَدُ
رَأْيَيْنِ عِنْدَ الشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ أَنَّ الصَّلاَةَ عَلَى الآْل
فِي الصَّلاَةِ وَاجِبَةٌ، تَبَعًا لِلصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْتَدِلِّينَ بِمَا رُوِيَ مِنْ حَدِيثِ كَعْبِ بْنِ
عُجْرَةَ قَال: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ
عَلَيْنَا فَقُلْنَا: يَا رَسُول اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ
عَلَيْكَ، فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟ قَال: قُولُوا: اللَّهُمَّ صَل عَلَى
مُحَمَّدٍ وَآل مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآل إِبْرَاهِيمَ.
(٤) فَقَدْ أَمَرَ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالصَّلاَةِ
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ، وَالأَْمْرُ يَقْتَضِي الْوُجُوبَ (١) .
Salah satu pendapat dalam mazhab Syafi‘iyah dan Hanabilah menyatakan bahwa bersalawat kepada keluarga Nabi ﷺ dalam salat hukumnya wajib, sebagai bentuk pengiring terhadap salawat kepada Nabi ﷺ.
Mereka berdalil dengan hadis yang diriwayatkan dari Ka‘b bin ‘Ujrah, ia berkata: Nabi ﷺ keluar menemui kami. Kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui bagaimana mengucapkan salam kepadamu. Lalu, bagaimana kami bersalawat kepadamu?” Beliau ﷺ bersabda:
“Ucapkanlah: Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali Muhammad, kama shallaita ‘ala Ibrahim wa ali Ibrahim (Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan salawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim).”
Dengan demikian, Rasulullah ﷺ memerintahkan
untuk bersalawat kepada beliau dan kepada keluarganya. Sedangkan suatu
perintah pada dasarnya menunjukkan kewajiban.
وَالرِّوَايَةُ
الأُْخْرَى فِي الْمَذْهَبَيْنِ أَنَّهَا سُنَّةٌ، وَهُوَ قَوْل الْحَنَفِيَّةِ،
وَأَحَدُ قَوْلَيْنِ لِلْمَالِكِيَّةِ، وَاسْتَدَلُّوا بِحَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَهُ التَّشَهُّدَ ثُمَّ
قَال: إِذَا قُلْتَ هَذَا - أَوْ: قَضَيْتَ هَذَا - فَقَدْ تَمَّتْ صَلاَتُكَ
وَفِي لَفْظٍ: فَقَدْ قَضَيْتَ صَلاَتَكَ، فَإِنْ شِئْتَ أَنْ تَقُومَ فَقُمْ (٢)
Pendapat lain dalam kedua mazhab tersebut menyatakan bahwa bersalawat kepada keluarga Nabi ﷺ hukumnya sunah. Pendapat ini juga merupakan pendapat Hanafiyah dan salah satu dari dua pendapat Malikiyah.
Mereka berdalil dengan hadis dari Ibnu Mas‘ud bahwa Nabi ﷺ mengajarkan kepadanya bacaan tasyahud, kemudian beliau ﷺ bersabda:
“Apabila engkau telah mengucapkan ini”—atau dalam suatu riwayat: “Apabila engkau telah menyelesaikan ini”—“maka salatmu telah sempurna.” Dalam lafaz lain: “Engkau telah menyelesaikan salatmu. Jika engkau ingin berdiri, maka berdirilah.”
Hadis tersebut dijadikan dalil bahwa salawat kepada keluarga Nabi ﷺ tidak
termasuk kewajiban dalam salat, melainkan sunah.
وَالرَّأْيُ
الآْخَرُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ أَنَّ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالآْل تَبَعًا، فَضِيلَةٌ (٣) .
Pendapat lain dalam mazhab Malikiyah menyatakan bahwa bersalawat
kepada Nabi ﷺ dan keluarga beliau secara bersamaan sebagai pengiring hukumnya
adalah fadhilah (keutamaan).
آل الْبَيْتِ وَالإِْمَامَةُ الْكُبْرَى وَالصُّغْرَى:
Ahlul
Bait dan Kepemimpinan Besar serta Kepemimpinan Kecil:
١٦ - لَمْ يَشْتَرِطْ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ أَنْ يَكُونَ
إِمَامُ الْمُسْلِمِينَ (الْخَلِيفَةُ) مِنْ آل بَيْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَيَسْتَدِلُّونَ عَلَى ذَلِكَ بِأَنَّ الْخُلَفَاءَ أَبَا
بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ لَمْ يَكُونُوا مِنْ أَهْل الْبَيْتِ، بَل كَانُوا
مِنْ قُرَيْشٍ (٤) .
16- Mayoritas fuqaha tidak mensyaratkan bahwa imam kaum Muslimin (khalifah) harus berasal dari Ahlul Bait Nabi ﷺ.
Mereka berdalil bahwa para khalifah, yaitu Abu Bakar, Umar, dan
Utsman, bukan berasal dari Ahlul Bait, melainkan mereka berasal dari suku
Quraisy.
وَمُقْتَضَى
مُرَاعَاةِ شَرَفِ النَّسَبِ أَنَّهُ فِي الإِْمَامَةِ الصُّغْرَى إِنْ اسْتَوَوْا
هُمْ وَغَيْرُهُمْ فِي الصِّفَاتِ قُدِّمُوا بِاعْتِبَارِهِمْ أَشْرَفَ نَسَبًا (١) .
Konsekuensi dari mempertimbangkan kemuliaan nasab adalah
bahwa dalam imamah kecil (kepemimpinan dalam salat), apabila
mereka dan orang lain memiliki kesamaan dalam sifat-sifat yang dipersyaratkan,
maka Ahlul Bait didahulukan karena mereka memiliki nasab yang
lebih mulia.
حُكْمُ سَبِّ آل الْبَيْتِ:
Hukum
Mencela Ahlul Bait:
١٧ - أَجْمَعَ فُقَهَاءُ الْمَذَاهِبِ عَلَى أَنَّ مَنْ
شَتَمَ أَحَدًا مِنْ آلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْل مُشَاتَمَةِ
النَّاسِ، فَإِنَّهُ يُضْرَبُ ضَرْبًا شَدِيدًا وَيُنَكَّل بِهِ، وَلاَ يَصِيرُ
كَافِرًا بِالشَّتْمِ. (٢)
17 - Para fuqaha dari berbagai mazhab bersepakat
bahwa siapa saja yang mencaci salah seorang dari Ahlul Bait Nabi ﷺ,
sebagaimana mencaci orang lain, maka ia diberi hukuman cambuk yang
berat dan dikenai tindakan disipliner (ta‘zir). Namun, orang
tersebut tidak menjadi kafir hanya karena cacian tersebut.
الاِنْتِسَابُ إِلَى آل الْبَيْتِ كَذِبًا:
Mengaku
sebagai Ahlul Bait Secara Dusta:
١٨ - مَنْ انْتَسَبَ كَاذِبًا إِلَى آل النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضْرَبُ ضَرْبًا وَجِيعًا، وَيُحْبَسُ طَوِيلاً
حَتَّى تَظْهَرَ تَوْبَتُهُ؛ لأَِنَّهُ اسْتِخْفَافٌ بِحَقِّ رَسُول اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (٣)
18 – Barang siapa mengaku secara dusta sebagai bagian dari keluarga Nabi ﷺ, maka ia dipukul dengan pukulan yang menyakitkan dan dipenjara dalam waktu yang lama, hingga tampak jelas tobatnya. Hal itu karena perbuatan tersebut merupakan bentuk meremehkan hak dan kehormatan Rasulullah ﷺ. (3)
Wallahu A’lam...
Baca juga:
Mawali Ahlul Bait, Zakat Sesama Hasyimi, dan Amil Zakat dari BaniHasyim: Perspektif Empat Mazhab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar