Pendahuluan
Dalam pembahasan pertama Tahafut
al-Falasifah, Imam Al-Ghazali masih menukil keberatan lanjutan dari para
filsuf terhadap pendapat bahwa alam diciptakan oleh kehendak Allah yang
azali. Setelah mengemukakan prinsip sebab-akibat, mereka kini menggunakan
contoh dari pengalaman sehari-hari untuk memperkuat argumentasi.
Menurut mereka, dalam kehidupan
manusia, sesuatu yang benar-benar dikehendaki tidak akan tertunda selama
kemampuan telah ada dan tidak terdapat penghalang. Dengan analogi tersebut,
mereka berusaha menunjukkan bahwa jika kehendak Allah bersifat azali, maka alam
seharusnya juga telah ada sejak azali. Al-Ghazali memaparkan argumen ini secara
utuh sebelum memberikan jawabannya pada bagian berikutnya.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Tujuan
yang Dikehendaki Tidak Akan Tertunda Kecuali Karena Ada Penghalang
Adapun dalam kebiasaan yang kita alami,
sesuatu yang menjadi tujuan kehendak kita tidak akan tertunda dari kehendak
tersebut kecuali karena adanya suatu penghalang.
Apabila kehendak telah benar-benar
ada, kemampuan telah sempurna, dan semua penghalang telah hilang, maka tidak
dapat dipahami mengapa tujuan yang dikehendaki masih tertunda.
Yang mungkin mengalami penundaan
hanyalah tekad (azam).
Sebab, tekad saja belum cukup untuk
mewujudkan suatu perbuatan.
Seseorang yang telah bertekad untuk
menulis tidak otomatis langsung menulis, sampai muncul suatu kehendak yang
benar-benar menggerakkan dirinya pada saat melakukan perbuatan itu.
Apabila kehendak Allah yang azali
disamakan dengan kehendak kita ketika melakukan suatu perbuatan, maka tujuan
yang dikehendaki tidak mungkin tertunda kecuali karena adanya penghalang.
Sebaliknya, jika kehendak Allah yang
azali disamakan dengan azam kita, maka azam itu sendiri tidak cukup
untuk mewujudkan perbuatan.
Masih diperlukan kehendak baru yang
muncul ketika tindakan dilakukan.
Konsekuensinya, hal itu berarti
menetapkan adanya perubahan pada Zat Yang Azali.
Artikel Pengembangan
Analogi
Kehendak Manusia
Para filsuf menggunakan pengalaman
manusia sebagai ilustrasi.
Menurut mereka, apabila seseorang
benar-benar menghendaki suatu tindakan, memiliki kemampuan untuk melakukannya,
dan tidak ada hambatan, maka tindakan tersebut akan segera terlaksana.
Karena itu, mereka mempertanyakan
kemungkinan adanya kehendak yang telah ada sejak azali tetapi baru menghasilkan
penciptaan pada waktu tertentu.
Perbedaan
antara Azam dan Kehendak
Dalam argumen ini, para filsuf
membedakan antara azam dan kehendak aktual.
Azam dipahami sebagai niat atau
ketetapan untuk melakukan sesuatu di masa depan.
Sementara itu, kehendak aktual
adalah dorongan yang benar-benar melahirkan tindakan pada saat tindakan
tersebut dilakukan.
Menurut mereka, apabila kehendak
Allah hanya menyerupai azam, maka harus ada kehendak baru ketika penciptaan
berlangsung. Inilah yang mereka anggap mustahil karena berarti terjadi
perubahan pada Zat Allah.
Dasar
Argumen Mereka
Argumen para filsuf dibangun atas
tiga premis utama:
- Kehendak yang sempurna langsung menghasilkan tindakan.
- Penundaan tindakan menunjukkan adanya sesuatu yang
belum sempurna atau adanya penghalang.
- Allah Mahasempurna dan tidak mengalami perubahan.
Dari ketiga premis tersebut mereka
menyimpulkan bahwa penciptaan alam tidak mungkin tertunda setelah adanya
kehendak yang azali.
Posisi
Al-Ghazali
Sebagaimana bagian-bagian
sebelumnya, Al-Ghazali belum memberikan jawaban terhadap analogi ini.
Beliau sengaja menampilkan argumen
lawan secara lengkap agar pembaca memahami seluruh dasar pemikiran mereka
sebelum memasuki tahap bantahan.
Metode seperti ini memperlihatkan
ketelitian beliau dalam berdialog secara ilmiah dan adil.
Pelajaran
Metodologi
Pembahasan ini menunjukkan
pentingnya membedakan antara analogi dan pembuktian.
Sebuah analogi dapat membantu
menjelaskan suatu gagasan, tetapi belum tentu cukup untuk membuktikan bahwa dua
hal benar-benar identik dalam seluruh aspeknya.
Dalam diskusi filsafat dan ilmu kalam,
kemampuan membedakan keduanya merupakan bagian penting dari berpikir kritis.
Hikmah
- Analogi dapat mempermudah pemahaman, tetapi tidak
selalu menjadi bukti yang menentukan.
- Perdebatan ilmiah menuntut analisis terhadap premis
yang digunakan dalam setiap argumen.
- Imam Al-Ghazali memberikan teladan untuk memahami
pendapat lawan secara utuh sebelum membantahnya.
- Ketelitian dalam membedakan niat, kehendak, dan
tindakan membantu menghindari kekeliruan dalam berpikir.
- Tradisi keilmuan Islam mengajarkan keseimbangan antara
penggunaan akal dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip akidah.
- Dialog yang objektif lahir dari kesediaan menguji
setiap argumen berdasarkan kekuatan logikanya.
Penutup
Dalam bagian ini, para filsuf
berusaha memperkuat pendapat mereka dengan analogi dari pengalaman manusia,
yaitu bahwa tujuan yang benar-benar dikehendaki tidak akan tertunda apabila
kemampuan telah sempurna dan tidak ada penghalang. Berdasarkan analogi
tersebut, mereka menyimpulkan bahwa kehendak Allah yang azali seharusnya melahirkan
penciptaan alam sejak azali pula. Imam Al-Ghazali memaparkan argumentasi ini
secara utuh sebagai bagian dari metode ilmiahnya, sebelum kemudian menunjukkan
kelemahan analogi tersebut pada pembahasan selanjutnya. Melalui cara ini,
beliau mengajarkan bahwa pencarian kebenaran harus diawali dengan pemahaman
yang menyeluruh terhadap argumen yang sedang dikaji.
Teks Arab :
المقصود فعله لا يتأخر إلا بمانع
وأما في العادات فما يحصل بقصدنا لا يتأخر عن القصد، مع
وجود القصد إليه، إلا بمانع، فإن تحقيق القصد والقدرة وارتفعت الموانع لم يعقل
تأخر المقصود، وإنما يتصور ذلك في العزم لأن العزم غير كاف في وجود الفعل، بل
العزم على الكتابة لا يوقع الكتابة ما لم يتجدد قصد هو انبعاث في الإنسان متجدد
حال الفعل، فإن كانت الإرادة القديمة في حكم قصدنا إلى الفعل فلا يتصور تأخر المقصود
إلا بمانع، ولا يتصور تقدم القصد، فلا يعقل قصد في اليوم
إلى قيام في الغد إلا بطريق العزم. وإن كانت الإرادة
القديمة في حكم عزمنا فليس ذلك كافيًا في وقوع المعزوم عليه، بل لا بد من تجدد
انبعاث قصدي عند الإيجاد، وفيه قول بتغير القديم.
Baca juga:
Imam Al-Ghazali Menjawab Argumen Sebab-Akibat Filsuf: Apakah AkibatSelalu Harus Langsung Terjadi?
Jawaban Imam Al-Ghazali:Mengapa Alam Dapat Diciptakan dengan Kehendak Allah yang Azali?
Imam Al-Ghazali Mengutip Keberatan Filsuf: Mengapa Kehendak Baru Muncul
pada Waktu Tertentu?
Pendahuluan
Dalam pembahasan pertama Tahafut
al-Falasifah, Imam Al-Ghazali masih menukil keberatan lanjutan dari para
filsuf terhadap pendapat bahwa alam diciptakan oleh kehendak Allah yang
azali. Setelah mengemukakan prinsip sebab-akibat, mereka kini menggunakan
contoh dari pengalaman sehari-hari untuk memperkuat argumentasi.
Menurut mereka, dalam kehidupan
manusia, sesuatu yang benar-benar dikehendaki tidak akan tertunda selama
kemampuan telah ada dan tidak terdapat penghalang. Dengan analogi tersebut,
mereka berusaha menunjukkan bahwa jika kehendak Allah bersifat azali, maka alam
seharusnya juga telah ada sejak azali. Al-Ghazali memaparkan argumen ini secara
utuh sebelum memberikan jawabannya pada bagian berikutnya.
Sumber Rujukan
Kitab: Tahāfut al-Falāsifah (تهافت
الفلاسفة)
Pembahasan: Masalah Pertama – Bantahan terhadap Pendapat tentang
Keazalian Alam
Penulis
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi (450–505 H / 1058–1111 M)
Terjemahan Lengkap
Tujuan
yang Dikehendaki Tidak Akan Tertunda Kecuali Karena Ada Penghalang
Adapun dalam kebiasaan yang kita alami,
sesuatu yang menjadi tujuan kehendak kita tidak akan tertunda dari kehendak
tersebut kecuali karena adanya suatu penghalang.
Apabila kehendak telah benar-benar
ada, kemampuan telah sempurna, dan semua penghalang telah hilang, maka tidak
dapat dipahami mengapa tujuan yang dikehendaki masih tertunda.
Yang mungkin mengalami penundaan
hanyalah tekad (azam).
Sebab, tekad saja belum cukup untuk
mewujudkan suatu perbuatan.
Seseorang yang telah bertekad untuk
menulis tidak otomatis langsung menulis, sampai muncul suatu kehendak yang
benar-benar menggerakkan dirinya pada saat melakukan perbuatan itu.
Apabila kehendak Allah yang azali
disamakan dengan kehendak kita ketika melakukan suatu perbuatan, maka tujuan
yang dikehendaki tidak mungkin tertunda kecuali karena adanya penghalang.
Sebaliknya, jika kehendak Allah yang
azali disamakan dengan azam kita, maka azam itu sendiri tidak cukup
untuk mewujudkan perbuatan.
Masih diperlukan kehendak baru yang
muncul ketika tindakan dilakukan.
Konsekuensinya, hal itu berarti
menetapkan adanya perubahan pada Zat Yang Azali.
Artikel Pengembangan
Analogi
Kehendak Manusia
Para filsuf menggunakan pengalaman
manusia sebagai ilustrasi.
Menurut mereka, apabila seseorang
benar-benar menghendaki suatu tindakan, memiliki kemampuan untuk melakukannya,
dan tidak ada hambatan, maka tindakan tersebut akan segera terlaksana.
Karena itu, mereka mempertanyakan
kemungkinan adanya kehendak yang telah ada sejak azali tetapi baru menghasilkan
penciptaan pada waktu tertentu.
Perbedaan
antara Azam dan Kehendak
Dalam argumen ini, para filsuf
membedakan antara azam dan kehendak aktual.
Azam dipahami sebagai niat atau
ketetapan untuk melakukan sesuatu di masa depan.
Sementara itu, kehendak aktual
adalah dorongan yang benar-benar melahirkan tindakan pada saat tindakan
tersebut dilakukan.
Menurut mereka, apabila kehendak
Allah hanya menyerupai azam, maka harus ada kehendak baru ketika penciptaan
berlangsung. Inilah yang mereka anggap mustahil karena berarti terjadi
perubahan pada Zat Allah.
Dasar
Argumen Mereka
Argumen para filsuf dibangun atas
tiga premis utama:
- Kehendak yang sempurna langsung menghasilkan tindakan.
- Penundaan tindakan menunjukkan adanya sesuatu yang
belum sempurna atau adanya penghalang.
- Allah Mahasempurna dan tidak mengalami perubahan.
Dari ketiga premis tersebut mereka
menyimpulkan bahwa penciptaan alam tidak mungkin tertunda setelah adanya
kehendak yang azali.
Posisi
Al-Ghazali
Sebagaimana bagian-bagian
sebelumnya, Al-Ghazali belum memberikan jawaban terhadap analogi ini.
Beliau sengaja menampilkan argumen
lawan secara lengkap agar pembaca memahami seluruh dasar pemikiran mereka
sebelum memasuki tahap bantahan.
Metode seperti ini memperlihatkan
ketelitian beliau dalam berdialog secara ilmiah dan adil.
Pelajaran
Metodologi
Pembahasan ini menunjukkan
pentingnya membedakan antara analogi dan pembuktian.
Sebuah analogi dapat membantu
menjelaskan suatu gagasan, tetapi belum tentu cukup untuk membuktikan bahwa dua
hal benar-benar identik dalam seluruh aspeknya.
Dalam diskusi filsafat dan ilmu kalam,
kemampuan membedakan keduanya merupakan bagian penting dari berpikir kritis.
Hikmah
- Analogi dapat mempermudah pemahaman, tetapi tidak
selalu menjadi bukti yang menentukan.
- Perdebatan ilmiah menuntut analisis terhadap premis
yang digunakan dalam setiap argumen.
- Imam Al-Ghazali memberikan teladan untuk memahami
pendapat lawan secara utuh sebelum membantahnya.
- Ketelitian dalam membedakan niat, kehendak, dan
tindakan membantu menghindari kekeliruan dalam berpikir.
- Tradisi keilmuan Islam mengajarkan keseimbangan antara
penggunaan akal dan penghormatan terhadap prinsip-prinsip akidah.
- Dialog yang objektif lahir dari kesediaan menguji
setiap argumen berdasarkan kekuatan logikanya.
Penutup
Dalam bagian ini, para filsuf
berusaha memperkuat pendapat mereka dengan analogi dari pengalaman manusia,
yaitu bahwa tujuan yang benar-benar dikehendaki tidak akan tertunda apabila
kemampuan telah sempurna dan tidak ada penghalang. Berdasarkan analogi
tersebut, mereka menyimpulkan bahwa kehendak Allah yang azali seharusnya melahirkan
penciptaan alam sejak azali pula. Imam Al-Ghazali memaparkan argumentasi ini
secara utuh sebagai bagian dari metode ilmiahnya, sebelum kemudian menunjukkan
kelemahan analogi tersebut pada pembahasan selanjutnya. Melalui cara ini,
beliau mengajarkan bahwa pencarian kebenaran harus diawali dengan pemahaman
yang menyeluruh terhadap argumen yang sedang dikaji.
Teks Arab :
المقصود فعله لا يتأخر إلا بمانع
وأما في العادات فما يحصل بقصدنا لا يتأخر عن القصد، مع
وجود القصد إليه، إلا بمانع، فإن تحقيق القصد والقدرة وارتفعت الموانع لم يعقل
تأخر المقصود، وإنما يتصور ذلك في العزم لأن العزم غير كاف في وجود الفعل، بل
العزم على الكتابة لا يوقع الكتابة ما لم يتجدد قصد هو انبعاث في الإنسان متجدد
حال الفعل، فإن كانت الإرادة القديمة في حكم قصدنا إلى الفعل فلا يتصور تأخر المقصود
إلا بمانع، ولا يتصور تقدم القصد، فلا يعقل قصد في اليوم
إلى قيام في الغد إلا بطريق العزم. وإن كانت الإرادة
القديمة في حكم عزمنا فليس ذلك كافيًا في وقوع المعزوم عليه، بل لا بد من تجدد
انبعاث قصدي عند الإيجاد، وفيه قول بتغير القديم.
Baca juga:
Imam Al-Ghazali Menjawab Argumen Sebab-Akibat Filsuf: Apakah AkibatSelalu Harus Langsung Terjadi?
Jawaban Imam Al-Ghazali:Mengapa Alam Dapat Diciptakan dengan Kehendak Allah yang Azali?
Imam Al-Ghazali Mengutip Keberatan Filsuf: Mengapa Kehendak Baru Muncul
pada Waktu Tertentu?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar